[Parapat – Medan] Tjong A Fie Mansion

 

Day 3: Senin, 12 Oktober 2015

Kesepakatan pada malam sebelumnya sih kami akan dijemput oleh Kak Nelly dan Uci pada pukul 9, tapi hingga lebih dari pukul 9:30, sepupu dan keponakan itu belum terdengar pula logat Medan Melayunya. Gw mulai bete. Dalam khasanah dolanan, gw emang paling nggak suka berangkat siang karena bagi gw itu termasuk pembuangan waktu. Ya kan ceritanya lagi di kota orang nih, jadi ya marilah memanfaatkan waktu untuk eksplorasi semaksimal mungkin. Kalo mau tidur mah di rumah juga bisa *mulai galak*

Mendekati pukul 10 barulah kami turun ke lobby hotel setelah mendapat telepon dari Kak Nelly. Tujuan pertama adalah menemani gw sarapan karena gw nggak dapet jatah sarapan dari hotel yang memang hanya menyediakan free breakfast untuk 2 orang/kamar. Sambil menyantap hidangan yang konon legendaris juga bagi trio tante, sepupu, dan keponakan, itu gw ngobrol-ngobrol dengan Uci mengenai rencana keliling Medan hari itu.

Ada 3 tempat tujuan utama: Tjong A Fie Mansion, Istana Maimon, dan Masjid Raya Medan. Buat gw, highlight hari itu nggak lain dan nggak bukan adalah Tjong A Fie Mansion. Tapi sebelum kita cerita-cerita soal salah satu landmark bersejarah di kota Medan itu, gw mau nulis sedikit soal Istana Maimon dan Masjid Raya Medan.

Istana Maimun

Kejayaan ekonomi Kesultanan Deli yang didapat dari hasil perkebunan tembakau membuat Sultan Deli ke-IX, Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, memindahkan ibukota kerajaan ke Medan. Dalam masa pemerintahan Sultan Deli ke-IX inilah Istana Maimun dibangun, dan pada masanya berfungsi selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat perkembangan kebudayaan dan dakwah Islam.

Istana Maimun, dikenal juga dengan nama Istana Putri Hijau, mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891 (sumber lainnya menyebutkan pembangunan istana selesai pada 25 Agustus 1888), dengan memadukan gaya arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda, dan Melayu. Istana terdiri dari dua lantai dan didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran Kesultanan Deli.

Mengapa istana ini disebut juga sebagai Istana Putri Hijau, karena erat hubungannya dengan legenda Putri Hijau, yang konon dipinang oleh Raja Aceh, namun pinangan itu ditolak oleh kedua saudara laki-laki Sang Putri hingga membuat Raja Aceh marah dan menyerang kerajaan. Konon kegagalan rencana perkawinan ini membuat Sang Putri bersumpah bahwa setiap laki-laki maupun perempuan yang belum menikah memasuki istana akan sulit menemukan jodoh mereka atau bahkan tidak menikah seumur hidup. Kepercayaan pada ‘kutukan’ itu membuat Kak Nelly melarang kami singgah di tempat bersejarah itu, khawatir terhadap nasib Uci dan gw. Gw sendiri nggak percaya sama mitos itu, karena yang namanya jodoh itu kan udah ada ketentuannya sejak di Lauhul Mahfuz, dan karenanya kecewa dengan gagalnya rencana menyambangi Istana Maimun. Tapi Nyonya Besar menyarankan lebih baik ikuti saja apa kata tuan rumah, maka gw pun turun dari mobil hanya untuk mengambil gambar istana cantik itu dari luar gerbangnya.

SAMSUNG CSC

Konon, karena belum menikah, gw dan Uci tidak diperbolehkan memasuki area Istana ini. Padahal penasaran banget dalamnya kayak apa *sekaligus gatel pengen pake baju-baju ala putri-putri Kesultanan Melayu*

Masjid Raya Medan

Tidak jauh dari Istana Maimun, berdiri satu bangunan bersejarah lainnya. Masjid Raya Al-Mashun, atau mungkin lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Medan, pada awalnya menjadi satu dengan komplek Istana Maimun. Masjid ini dibangun dengan bentuk simetris segi delapan dengan perpaduan gaya beragam budaya; Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah. Beberapa material untuk keindahan interior didatangkan dari negeri asing. Marmer didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Cina, dan lampu gantung dari Prancis.

Begitu memasuki gerbang masjid, pengunjung akan langsung disambut oleh deretan peminta-minta dan seorang bapak yang duduk di belakang meja menjaga buku tamu. Melihat Uci, Kak Nelly, dan si tante yang tidak berjilbab, sekonyong-konyong bapak tadi langsung menyembur galak. Omelannya semakin panjang ketika kami tidak memberikan donasi. Hmm… gw agak menyesalkan kejadian ini. Sebenarnya maksudnya mungkin bagus, mengingatkan pengunjung untuk menutup aurat dengan baik, tapi sepertinya ada lack of communication skills yang perlu diperbaiki.

SAMSUNG CSCSAMSUNG CSC

Tjong A Fie Mansion

Ini dia highlight jalan-jalan hari ke-3! Seusai menemani gw menyantap mie balap *sebagai pengguna extra bed, gw merelakan jatah sarapan gw untuk para nyonya*, kami langsung menyambangi Tjong A Fie Mansion di kawasan kota tua Medan. Suasana jalan di depan bangunan ini cukup hiruk pikuk, selain jalan yang tidak terlalu lebar, kadang ada saja bus besar membawa rombongan wisatawan, yang kebanyakan wisatawan mancanegara.

SAMSUNG CSC

Gerbang Tjong A Fie Mansion dari depan

SAMSUNG CSC

Tjong A Fie Mansion, tampak serong depan

SAMSUNG CSC

Prasasti di sebelah kanan gerbang masuk

Tjong A Fie, seorang usahawan sukses yang legendaris dari Medan, lahir di Guangdong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam pada tahun 1860. Dengan maksud mengubah nasib, dia merantau ke Medan dalam usia belasan tahun. Di tanah Sumatera dia mulai membangun bisnis di beberapa bidang, yang menonjol adalah perkebunan dan bank; Tjong A Fie memiliki 3 buah bank, yaitu Batavia Bank, Deli Bank, dan Bank Kesawan yang kini diambil alih oleh QNB dan berganti nama menjadi Bank QNB Indonesia. Tapi mengenai Bank Kesawan ini, informasi lain yang gw baca justru mengatakan bahwa Bank Kesawan didirikan oleh Khoe Tjin Tek dan Owh Chooi Eng melalui NV Chunghwa Shangyeh dengan nama Bank Chunghwa Shangyeh, dan berganti nama menjadi Bank Kesawan pada tahun 1965.

Salah satu bukti bahwa Tjong A Fie adalah seorang pebisnis sukses pada masanya adalah dia bahkan memiliki lebih dari 10.000 karyawan. Suatu jumlah yang besar bahkan untuk ukuran saat ini… hmm.. apalagi apada zaman itu ya? Nggak heran sebagai salah satu bukti kesuksesannya (sekaligus mungkin sebagai tanda cintanya) dia membangun Mansion yang diperuntukkan bagi istri ketiganya yang berasal dari Binjai. Mansion dua lantai ini dibangun di atas lahan seluas 6000 m2 di daerah Kesawan, mulai tahun 1895 dan rampung tahun 1900.

Dalam rumahnya yang bagaikan istana kecil itu, Tjong A Fie menerima tamu-tamunya yang berasal dari berbagai kalangan. Dia bahkan memiliki beberapa ruangan untuk para tamunya; ada ruangan khusus untuk menerima tamu dari golongan Tionghoa yang terletak di sisi kanan, sementara ruangan untuk menerima Sultan Deli yang memang terkenal dekat dengan Tjong A Fie terletak di sisi kiri. Ada juga ruangan untuk menerima tamu dari kalangan Belanda, dan kalangan lainnya. Furniture dan tata ruang disesuaikan dengan peruntukan ruangan. Ruang untuk Sultan Deli ditata dengan gaya Melayu dan Timur Tengah, sementara ruang untuk tamu-tamu Tionghoa didominasi warna merah.

SAMSUNG CSC

Ketuk pintu dulu sebelum masuk

SAMSUNG CSC

Pertama kali masuk rumah, disambut foto ini di sisi kiri. Foto saat perayaan ulang tahun Tjong A Fie ke 60

SAMSUNG CSC

Ruang tamu khusus untuk Sultan Deli

SAMSUNG CSC

Ruang untuk menerima tamu selain Sultan Deli dan kaum Tionghoa

SAMSUNG CSC

Ruang Piano yang terletak di sisi kanan pintu masuk

SAMSUNG CSC

Assalamu’alaikum!

SAMSUNG CSC

Lampu gantung di lobby rumah

Kamar tidur Tjong A Fie dan keluarganya pun sangat luas dan terhitung lengkap layaknya kamar hotel, sampe ada mini bar-nya berikut bermacam ragam wine. Satu-satunya yang tidak ada di dalam kamar adalah kamar mandi. Kamar mandi terletak di bagian belakang rumah, berdekatan dengan dapur. Gw tergelitik bertanya soal urusan buang hajat ini. Menurut Desi, pada zaman itu, para penghuni rumah melakukan buang hajat di kamar, kemudian keesokan paginya, tugas para pembantu lah membawa pispot atau semacamnya ke kamar mandi dan membersihkannya. Jadi… silakan disimpulkan sendiri *lap keringet*

Oke, kembali ke kamar dan ruangan-ruangan lainnya, yang membuat gw berdecak kagum adalah, Tjong A Fie tampaknya tidak main-main dalam membangun dan memperindah rumahnya itu. Furniture-furniture didatangkan langsung dari negeri asing; tempat tidur dan lemari Tjong A Fie, misalnya, diimpor dari Yunani. Lampu gantung-lampu gantung yang menghiasi ballroom di lantai dua, didatangkan langsung dari Austria. Lukisan-lukisan yang menghiasi langit-langit rumah dilukis langsung oleh seniman Italia. Tegel kunci yang cantik dijadikan lantai rumah. Pokoknya usahanya maksimal banget, dan menurut gw sih, dia sukses membuat rumahnya tampil kece dan mentereng, bahkan hingga saat ini, lebih dari 100 tahun sejak pertama ditempati. Gw suka sekali melihat buku-buku bacaan Tjong A Fie, sudah menguning dan penuh dengan aksara Cina, belum lagi pakaian Tjong A Fie dan Nyonya yang dipajang, juga koper besar kuno yang sangat kokoh dan pastinya… berat!

Dan yang paling gw suka adalah peralatan makan dari porselen ala Cina Peranakan; cantik-cantik banget! Gw mencoba membayangkan betapa besar usahanya mendatangkan perabot dan perkakas rumahnya dari luar negeri; bayangkan barang-barang besar dan berat yang dibuat dari material pilihan dikirim lewat laut.

SAMSUNG CSC

Kamar tidur utama: peraduan Tjong A Fie dan Nyonya

SAMSUNG CSC

Pakaian Tjong A Fie dan Nyonya, beserta koper yang ia bawa saat merantau dari tanah Tiongkok ke Medan

SAMSUNG CSC

Buku-buku Tjong A Fie semasa hidup

SAMSUNG CSC

Tegel kunci di ruang altar *altar gw blur hitam karena nggak boleh di foto*

SAMSUNG CSC

Hand made-painting di langit-langit ruang altar

SAMSUNG CSC

Another hand made-painting

SAMSUNG CSC

Salah satu papan sekat ruangan

SAMSUNG CSC

Ruang makan dan ruang bersantai. Rantang makanan di zaman itu pun luar biasa beratnya

SAMSUNG CSC

Meja makan di ruang belakang

SAMSUNG CSC

Always love the pink-tosca combination!

SAMSUNG CSC

Tangga menuju lantai 2

SAMSUNG CSC

Ballroom di lantai 2 yang digunakan untuk penyelenggaraan pesta kala itu

SAMSUNG CSC

Lantai 2

SAMSUNG CSC

Gerbang Tjong A Fie Mansion dilihat dari lantai 2; terbayang nggak seperti megahnya di awal abad ke-20 dan bagaimana keadaan sekitarnya saat itu?

SAMSUNG CSC

Kamar tidur salah satu anak Tjong A Fie

SAMSUNG CSC

Salah satu lampu gantung yang menghias langit-langit rumah

Kesuksesan Tjong A Fie membuatnya menjadi salah satu orang terkaya se-Asia Tenggara pada jamannya; tapi tidak hanya kaya, Tjong A Fie terkenal dengan sifatnya yang dermawan, sampai-sampai ia mendapat gelar dari Ratu Belanda, yang untuk bisa menerima gelar khusus tersebut, seseorang haruslah sudah terbukti pengabdian dirinya bagi masyarakat.

Tjong A Fie di angkat menjadi Kapitan Cina pada tahun 1911 menggantikan kakaknya; Kapitan Cina adalah wakil tertinggi golongan Tionghoa. Ia wafat pada tahun 1921, saat pemakamannya ribuan orang ikut mengantar, tak sedikit dari para pelayat itu yang datang dari Singapura dan Malaysia.

SAMSUNG CSC

Potret iring-iringan jenazah saat pemakaman Tjong A Fie

SAMSUNG CSC

Wasiat Tjong A Fie ditulis dalam Bahasa Belanda

SAMSUNG CSC

Silsilah

Tjong A Fie mungkin bisa dibilang sebagai simbol sukses imigran Tionghoa yang memegang teguh nilai-nilai leluhur dan keluhuran, sambil tak lupa berbaur, saling menghargai dan membantu dengan masyarakat lokal tempatnya hidup.

Itu sekelumit cerita tentang Tjong A Fie yang gw dengar dari Desi, tour guide yang menceritakan kisah hidup sosok dermawan asal Medan sambil berkeliling Mansion megah yang dipenuhi barang-barang antik nan mewah, masih asli dari jamannya.

Bagi para pecinta sejarah rasanya kunjungan ke Tjong A Fie Mansion adalah suatu hal yang tidak boleh dilewatkan. Bangunan yang masih terjaga dengan cukup baik dan tata ruang yang masih apik, juga penjelasan dari tour guide bisa dibilang sepadan dengan harga tiket yang kita bayar, apalagi kita bebas foto-foto di ruangan-ruangan yang kita singgahi, kecuali area altar di lantai 1 dan lantai 2. Gw senang sekali akhirnya salah satu tempat dalam bucket list kunjungan ke Medan ini bisa dicoret dengan sempurna. Satu-satunya hal yang gw masih belum cukup puas adalah gw belum puas foto-foto! Apa daya pergi berombongan dengan para tetua, anak bawang mah apa atuh, harus nurut ketika beliau-beliau memanggil meminta menyudahi kunjungan, karena mereka sudah mati gaya menunggu gw dan Uci.

So that’s the highlight for the third day. The rest of the day was spending here and there, termasuk ketemu saudara-saudara dan berburu oleh-oleh.

Pengeluaran di luar makanan & minuman:

  • Tjong A Fie Mansion’s entrance fee IDR 35.000

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s