[Flores – Sail Komodo] Day 1: Desa Moni

Pada suatu hari entah kapan, Vika yang sepertinya sedang gundah gulana saat itu melempar wacana pada saya dan Didito, disertai dengan foto-foto nan kece aduhai sebagai pemanis ajakan jalan-jalan. Ke Flores yuk! katanya. Kami tidak punya agenda year-end traveling, maka tanpa menunggu lama, saya dan Didito meng-iyakan ajakan itu.

SAMSUNG CSC

Flores, dalam bahasa Portugis berarti “bunga”. Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Flores termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat. Konon nama Flores berawal dari seorang pelaut Portugis bernama Antonio de Abreu yang melihat bunga flamboyant berwarna merah bermekaran saat ia menginjakkan kaki di tanah Flores. Tersebutlah daratan itu dengan nama Cabo das Flores atau Tanjung Bunga. Tahun 1636, Hendrik Brouwer –Gubernur Hindia Belanda saat itu- mengesahkan nama Flores untuk pulau ini.

Perjalanan kali ini berbau semi-open trip. Itinerary dan semua urusan diatur oleh Anet, teman Vika sekaligus tour leader. Jadilah saya dan Didito hanya menyetor sejumlah dana dan duduk manis menunggu hingga waktu keberangkatan. Oh ya, saya mungkin yang paling akhir melakukan pembayaran, karena masih maju mundur apakah jadi ikut atau nggak, mengingat di bulan-bulan Oktober biasanya ada acara kantor yang tidak boleh tidak diikuti.

But being me, suka gatel-gatel nggak jelas kalau nggak browsing ini itu. Berdasarkan itinerary dasar berupa daftar tempat yang akan kami kunjungi, gw pun melakukan riset kecil-kecilan di universtas google. Aneh rasanya, jika mengunjungi suatu tempat tanpa mengetahui apapun mengenai tempat tersebut.

Dalam masa menunggu keberangkatan itu, Anet pun membentuk grup WA berisi 5 orang perempuan peserta trip: Anet, Vika, Didito, Fitri, dan saya. Fitri adalah teman Vika semasa bersekolah di Pontianak, dan ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengan saya. Saat hari H semakin dekat, Anet mengabarkan bahwa seorang temannya laki-laki akan bergabung. Beberapa hari kemudian kembali datang berita, teman dari temannya itu ingin turut pula. Terakhir, peserta bertambah seorang lagi: saudaranya si temannya Anet itu ikut memeriahkan trip kali ini.

the-squad

Formasi lengkap feat. Pak Cornelius

Minggu, 25 September 2016

04:45 – Segera setelah shalat subuh, saya meninggalkan rumah menuju meeting point. Didit, Vika, dan Fitri ternyata sudah sampai lebih dulu. Fitri yang berdomisili di Pontianak memang menginap di rumah Vika dan kami berangkat bersama ke bandara dengan menumpang mobil seorang teman yang berprofesi sampingan sebagai driver Uber. Pukul 05:45 kami tiba di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta dan bertemu dengan Anet yang sudah menunggu 2 jam lebih lama *iya, dia memang kuncennya bandara*. Setelah melakukan ritual drop baggage seperti biasa, kami langsung masuk ke boarding room.

07:15 – Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 438 yang akan membawa kami ke Kupang lepas landas tepat waktu. Pukul 09:00, pesawat transit sekitar 30 menit di Bandara Ngurah Rai Bali untuk menaikturunkan penumpang sekaligus mengisi bahan bakar. Kursi-kursi yang tadinya kosong langsung penuh terisi oleh orang-orang yang naik dari Denpasar. Sebagian besar penumpang yang baru naik berperawakan orang-orang dari Indonesia bagian timur, sebagian kecilnya adalah para bule berambut pirang yang kami duga akan berlibur di tempat tujuan.

12:30 – Dari jendela pesawat terlihat tanah kecoklatan yang kering dan tandus. Tapi laut dipinggirnya sungguh cantik dengan warna biru yang jernih dan pasir halus berwarna pink. Setelah penerbangan selama 1,5 jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional El Tari Kupang.

Perjalanan belum berakhir. Kupang hanya menjadi tempat transit kami selama 2 jam hingga penerbangan berikutnya. Jangan bayangkan bandara megah dan dingin. Bandara El Tari Kupang kecil dan sederhana, tanpa pendingin ruangan dan saat kami tiba, hiruk pikuk tentara dengan ransel-ranselnya menyambut kami. Tapi kebersihan toilet dan mushalanya cukup untuk diacungi jempol untuk ukuran bandara sekecil itu. Toiletnya bersih, tidak berbau bahkan wangi aromaterapi, air juga mengalir dengan baik.

14:15 – Harusnya kami terbang ke Ende, tapi terjadi delay selama 1 jam. Pesawat Trans Nusa dengan nomor penerbangan IN 9517 baru lepas landas pukul 15:15. Sepertinya pesawat kami ngebut, hanya dalam waktu 30 menit kami sudah mendarat di Bandara H. Hasan Aboeroesman di Ende, satu gedung sederhana dengan satu conveyor belt. Udara panas dan kering yang lembap menyergap begitu turun pesawat, sungguh berbeda dengan Kupang yang diguyur hujan saat lepas landas tadi.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Preparing for landing at Ende

SAMSUNG CSC

Getting closer – i amazed with the rich color!

SAMSUNG CSC

…and closer – the landscape is simply beautiful!

SAMSUNG CSC

a second before touchdown

***

Sambil menunggu conveyor belt mengalirkan koper-koper kami, saya memandang sekeliling. Di luar terlihat 3 orang laki-laki yang nampak berbeda dari penduduk lokal. Itu pasti mereka. Setelah berkenalan, our first prejudice was… nih cowok-cowok tipikal anak gaul ibukota, apalagi yang berkulit putih dengan paras sedikit menyerupai orang-orang timur tengah. Kami sekilas melihat, sepertinya dia membawa lemari pakaiannya. Kopernya besar sekali!

Pak Agustinus –yang meminta dipanggil ‘Gusti’ instead of ‘Agus’- dengan ramah menyambut 8 orang turis ini dan mengantar kami ke mobil yang akan kami pakai selama di Flores. Ada 2 mobil disediakan, dan secara otomatis terbagilah mobil 1 ditumpangi Anet, Vika, Didito, dan saya, sementara Fitri pasrah ditempatkan bersama 3 cowok yang salah satunya membawa lemari. Tapi Fitri bahagia, kami tau itu *lalu saya dibekep Fitri*

Rencananya kami akan singgah di rumah pengasingan Bung Karno, tapi mungkin karena saat itu hari minggu, pagar rumah tampak terkunci. Akhirnya kami singgah di rumah makan padang “Roda Baru” untuk makan siang yang sangat terlambat, dan segera melanjutkan perjalanan untuk bermalam di Desa Moni.

***

19:00 – tepat pukul 7 malam, setelah melewati jalan berkelok-kelok akhirnya kami tiba di Desa Moni dan langsung masuk kamar. Anet tidur bersama Fitri, sementara saya pastinya bersama Vika dan Didito. Jangan membayangkan penginapan ala hotel atau bahkan hostel. Tempat kami beristirahat malam itu adalah kamar-kamar yang dibangun warga Desa Moni di sebelah rumah tempat tinggal mereka menjadi semacam homestay sederhana. Tapi jangan salah, kamarnya bersih dan cukup nyaman. Kamar mandi sekaligus wc ada di dalam kamar, memang tanpa pintu tapi tetap aman dan terlindungi. Ada air panas dan yang terpenting, airnya bersih dan berlimpah. Informasi yang kami terima dari Anet, harga kamar di penginapan “Pondok Hidayah” ini adalah Rp.350.000,- per malam untuk 2 orang, sementara extra bed dihargai Rp.100.000,- per malam.

Desa Moni yang terletak di kaki Gunung Kelimutu ini memang merupakan tempat persinggahan bagi para pejalan yang ingin melihat sunrise di Kelimutu. Sebenarnya ada air terjun juga disini, yang menjadi tempat mandi penduduk desa. Namun karena kami tiba di malam hari, rasanya sudah tidak memungkinkan untuk mengunjungi air terjun tersebut.

Setelah mandi, kami kembali berkumpul untuk makan malam. Udara cukup dingin, berbalut jaket kami menikmati nasi goreng ala Desa Moni yang dimasak dengan daun jeruk. Rasanya unik, tapi segar dan tentu saja enak!

Bintang bertaburan di langit Desa Moni, tampak jelas bersinar terang, tampak seolah dekat sekali dengan bumi. Walau sudah mulai terbuka obrolan, suasana masih belum terlalu cair antara 8 orang pejalan ini. Tapi kami masih punya waktu banyak. Berteman butuh kesabaran.

desa-moni-4

‘sign board’ of our home-stay at Desa Moni – Vika took this picture before we leave for good

desa-moni

Who’s sleeping here? – Vika and Didito and i

desa-moni-2

‘no-door’ toilet

desa-moni-3

foto diambil sepulangnya dari Kelimutu – menikmati suguhan pancake dan buah potong sebagai sarapan kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s