[Flores – Sail Komodo] Day 2: Kelimutu, Rumah Pengasingan Bung Karno, Kampung Bena Bajawa & Desa Dintor

Senin, 26 September 2016

Sebelum pergi tidur, Anet mengingatkan bahwa kami akan memulai perjalanan pukul 4 pagi esok hari. Saya dan Didito pun memilih mandi sebelum tidur dan berniat tidak mandi esok pagi, sementara Vika adalah tipe orang yang selalu mandi apapun yang terjadi.

Kami bangun pukul 03:15 dini hari dan bersiap-siap. Pak Agustinus alias Pak Gusti dan Pak Stefanus alias Mister Steve sudah menunggu di depan penginapan. Saat itulah kami melihat seorang cowok bule tampak kebingungan. Rupanya ojek yang dia pesan untuk ke Kelimutu tak juga menampakkan batang hidungnya. Kami setuju untuk mengajak cowok itu menumpang salah satu mobil. Seorang asing datang ke Flores dan ingin ke Kelimutu di subuh hari, dia pasti sama seperti kami, sama-sama mengincar pemandangan matahari terbit dari Danau Kelimutu. Kasihan kalau sampai terlewat. Akhirnya Vincent –nama bule Prancis itu- setuju untuk nebeng di mobil para perempuan. Tentu saja, dia langsung akrab –bukan dengan kami, tapi dengan si cowok pembawa lemari. Oya, saya belum mengenalkan si pria lemari. Namanya Dhana.

04:00 – Dua mobil berjalan menembus gelapnya malam, meninggalkan Desa Moni. 38 menit kemudian, sampailah kami di pelataran parkir tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Untuk menuju Danau Kelimutu kami masih harus berjalan kaki 30 hingga 40 menit. Keadaan sekitar masih gelap, udara pun masih dingin walau tidak menggigit; kecuali bagi Vincent –dia sempat mengeluh kegerahan saat itu *colek Vincent pake cobek*.

Kami turun dari mobil, merapatkan jaket dan menyiapkan senter, tak ketinggalan kamera dan perbekalan untuk mengisi perut dan menghilangkan dahaga. Bagi yang muslim tentu perlu juga membawa perlengkapan shalat, karena kita akan menunaikan shalat subuh saat sampai ditujuan.

Medan pendakian menuju Kelimutu sebenarnya terbilang mudah karena masih cukup landai dan sebagiannya sudah tidak lagi berupa tanah, tapi sudah dibuat jalan setapak dan diberi pagar pengaman di salah satu sisinya. Tapi saya ini sungguh-sungguh bukan olahragawati –kalau olahraga batin mah sering *mulai galau detected* jadi perkara menaklukkan pendakian ke Danau Kelimutu ini lumayan bikin ngos-ngosan setelah 15 menit pertama dan di 15 menit terakhir. Untungnya kami beramai-ramai, jadi bisa mengobrol untuk melupakan rasa lelah. Bagi yang butuh toilet juga jangan khawatir, ada toilet umum di sepanjang rute perjalanan. Hampir tidak ada cahaya terlihat di sekeliling, jadi membawa senter atau alat penerangan lainnya memang suatu keharusan. Saat kami tiba di puncak, langit pun masih sedikit mengeluarkan semburat cahaya.

Saat itu waktu baru menunjukkan sekitar pukul 05:15, tapi sudah cukup banyak pengunjung –sebagian besarnya adalah turis asing- yang duduk setia menunggu kemunculan matahari terbit, ditemani para penjaja popmi dan kopi instan yang dengan ramah menawarkan dagangan mereka. Ketika langit berubah warna perlahan-lahan, mulailah kami para turis domestik ini heboh berfoto di setiap sudut yang memungkinkan. Ini mungkin salah satu perbedaan mencolok antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara dari ras kaukasia. Saat mengunjungi satu tempat, kita cenderung sibuk mengabadikannya dengan kamera, mengambil gambar sebanyak-banyaknya; sementara mereka lebih memilih untuk duduk tenang meresapi semua yang terbentang didepan mata, menikmati momen, menyimpan kenangan –kalaupun mengambil gambar sepertinya tidak sebanyak kita para turis lokal.

Ketika sinar matahari sudah cukup terang, terlihatlah 3 warna Danau Kelimutu pagi itu: hijau lumut muda, biru tosca, dan hitam. Keindahan Danau Kelimutu berpadu kontras dengan kontur berbukit-bukit, sedikit pepohonan dan warna tanah yang coklat tandus. Diamnya air danau menimbulkan kesan mistis sendiri. Kenapa ia begitu tenang?

vika-kelimutu-1

vika-kelimutu-4

vika-kelimutu-3

SAMSUNG CSC

vika-kelimutu-5

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

anet-kelimutu

vika-kelimutu-6

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Kelimutu sebenarnya adalah danau kawah di puncak Gunung Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut. Ditemukan tahun 1915 oleh seorang Belanda bernama B Van Such Telen dan populer melalui tulisan Y Bouman pada 1929. Ada 3 danau dengan warna air yang bisa berubah-ubah, yaitu Tiwu Awa Mbupu (dihuni oleh roh orang tua yang telah meninggal; luasnya 4,5 hektar dengan kedalaman 67 meter), Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (dihuni oleh roh muda-mudi yang berbuat baik semasa hidupnya; luasnya 5,5 hektar dengan kedalaman 127 meter), dan Tiwu Ata Polo (dihuni oleh roh orang yang berbuat jahat semasa hidupnya; luasnya 4 hektar dengan kedalaman 64 meter). Gunung Kelimutu terakhir meletus tahun 1968. Perubahan warna air ketiga danaunya terjadi sejak tahun 1886, yang hingga kini tidak diketahui apa penyebab berubah-ubahnya warna air tersebut.

vika-kelimutu-2

06:30 – Setelah *memaksakan diri* puas berfoto, Anet memutuskan sudah waktunya kami kembali ke tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Dalam 30 menit perjalanan turun kami beberapa kali bertemu turis lain maupun penduduk lokal. Satu hal yang saya suka dan sangat appreciate selama Flores Trip ini adalah penduduk lokal yang murah senyum dan luar biasa ramah. Sapaan-sapaan adalah hal yang selalu keluar dari mulut mereka. Dan entah bagaimana sepertinya hal ini menular pada turis-turis asing –yang kebanyakan yang kami temui datang dari benua biru-  mereka juga tak kalah senangnya berbincang-bincang atau sekedar menebar senyum.

Pukul 07:45 kami tiba di penginapan. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Vincent, kami bersiap-siap packing dan menikmati suguhan yang disajikan. Selembar pancake tebal dan potongan buah pisang, mangga, dan pepaya, menjadi sarapan kami pagi itu.

08:30 – Waktunya melanjutkan perjalanan!

Hari ini kami akan menuju Desa Dintor, tempat bermalam berikutnya. Dalam perjalanan, rencananya kami akan mampir di beberapa tempat. Setelah 1 jam, perjalanan sempat terhenti sebentar karena ada perbaikan jalan dan karenanya diberlakukan sistem buka tutup arus kendaraan. Hampir 30 menit menunggu, akhirnya mobil kembali berjalan. Pukul 11:40 kami sampai di destinasi yang tertunda.

Rumah Pengasingan Bung Karno

vika-rumah-bk

anet-rumah-bk

vika-rumah-bk-2

Pintu didekat sumur itu adalah pintu kamar mandi | Sepertinya kamar mandi tersebut, jika merunut cerita Bung Karno dalam buku karya Cindy Adams, belum ada saat Bung Karno menjalani masa pembuangannya

Tak lama kami berada di rumah tempat Bung Karno dibuang penjajah Belanda. Rumah pengasingan yang beralamat di Jalan Perwira itu tampak sederhana dengan dominasi cat warna putih. Hanya ada dua kamar tidur di rumah itu. Satu kamar ditempati Bung Karno dan Ibu Inggit  Garnasih, sementara kamar lainnya ditempati ibu mertua Bung Karno dan Ratna Djuami, anak angkat sang proklamator. Di rumah itu dipamerkan benda-benda yang digunakan Bung Karno selama masa pembuangannya. Mulai dari biola yang pernah beliau mainkan hingga lukisannya yang turut di pajang di ruang utama.

Bung Karno dibawa ke Ende dengan menggunakan Kapal Jan van Riebeeck dari Surabaya, Jawa Timur pada awal tahun 1934. Di sana beliau diasingkan selama 4 tahun. Pada masa pembuangannya, tidak ada listrik dan air di rumah itu. Jika Bung Karno ingin mandi, beliau akan membawa sabun ke Sungai Wola Wona. Saat itu, rumah pengasingan tersebut dikelilingi kebun pisang, pohon-pohon kelapa, dan jagung. Ende benar-benar kampong nelayan yang terbelakang ditahun 1930-an itu. Tidak ada telepon, tidak ada kantor telegraf. Jika ingin berkabar dengan dunia luar, yang bisa diandalkan hanyalah 2 kapal pos yang masing-masing datang sekali sebulan.

Selama masa pembuangan itu, Bung Karno mengalami banyak hal. Ibu mertuanya, Ibu Amsi meninggal dunia di sana. Bung Karno juga rajin menulis naskah sandiwara dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan. Naskah sandiwara pertamanya berjudul Dr. Setan, terilhami dari Frankenstein karya Mary Shelley. Beliau pun mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi sutradaranya. Setiap pentasnya dihadiri banyak sekali penonton, termasuk orang-orang Belanda. Hasil penjualan karcis digunakan untuk membayar sewa gudang dari gereja yang sengaja disewa Bung Karno untuk mengadakan pertunjukan sandiwara.

Di rumah itu Bung Karno pun terkena malaria. Itulah mengapa Hindia Belanda kemudian memindahkan pembuangannya ke Bengkulu. Pukul 11:00 kami meninggalkan Rumah Pengasingan Bung Karno dan kembali menikmati kelok-kelok jalanan Flores.

DCIM100GOPROG0040043.

15:30 – Setelah mampir ke suatu pantai *yang sayangnya saya lupa namanya* dan makan siang –oya, di sepanjang perjalanan, sejauh yang saya ingat dan saya lihat, agak jarang kami bertemu rumah makan; jadi ketika ada warung kecil tanpa pikir panjang kami pun mampir, apalagi saat itu sudah hampir pukul 14… selain badan sudah pegal-pegal akibat duduk lama di mobil, perut pun sudah menjerit minta diisi- kami tiba di tujuan selanjutnya.

pantai-apa-ini-ya

Perhentian 10 menit ~sekaligus menenangkan Fitri yang mabuk darat

panorama-1

Dari suatu bukit…

Kampung Bena Bajawa

Kampung Bena Bajawa adalah suatu perkampungan tradisional yang ditengarai sudah ada sejak zaman megalitikum 1200 tahun silam. Terletak di Kabupaten Ngada, Kecamatan Aimere, Desa Tiwuriwu, 17,5 kilometer dari Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Di Kampung Bena Bajawa berdiri 45 rumah tradisional dan didalamnya berdiam 9 suku: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Sementara itu Suku Bena, karena dianggap sebagai suku yang paling tua dan pendiri kampung, berada di tengah-tengah kampung. Dan karena itu pulalah, Bena menjadi nama kampung ini.

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dalam pandangan pertama

Rumah-rumahnya berdiri berjejer berhadap-hadapan dengan banyak tanduk kerbau, rahang, dan taring babi dipajang menggantung didepannya sebagai lambang status sosial, di tengah-tengah perkampungan berdiri Bhaga dan Ngadhu. Bhaga yang menyerupai miniatur rumah merupakan representasi perempuan nenek moyang, sementara Ngadhu yang menyerupai payung merupakan representasi laki-laki nenek moyang. Di tiang Ngadhu juga sering diletakkan hewan-hewan kurban persembahan dalam upacara adat. Didekatnya ada susunan batu makam leluhur mereka.

Penduduk Kampung Bena merupakan penganut Katolik dan bermata pencaharian sebagai petani untuk kaum laki-laki, sementara kaum perempuannya wajib memiliki kemampuan menenun. Kain tenun dengan motif kuda dan gajah sebagai ciri khasnya ini digantung didepan rumah mereka dan pengunjung bisa membelinya.

Masyarakat setempat percaya di puncak Gunung Inerie bersemayam Zeta atau Yeta yang dipercaya sebagai dewa pelindung mereka. Gunung Inerie yang berada di ketinggian 2245 mdpl dianggap sebagai ibu, sementara Gunung Surulaki dianggap sebagai ayah. Gunung Inerie sendiri pernah meletus di tahun 1882 dan tahun 1970.

SAMSUNG CSC

Bhaga -representasi perempuan nenek moyang

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

vika-bena-1

vika-bena-2

SAMSUNG CSC

Kapel di ujung kampung | Saat kami datang, ada seorang bapak tua duduk didekatnya dan terus bernyanyi tanpa henti

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dari depan kapel

SAMSUNG CSC

vika-bena-3

vika-bena-4

Kampung Bena Bajawa terbuka untuk dikunjungi sejak pukul 08:00 hingga pukul 17:00. Setiap pengunjung yang datang wajib mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Harap diingat jika ingin memberikan donasi, berikan uang kertas karena penduduk setempat tidak menggunakan uang logam. Setelah mengisi buku tamu, setiap pengunjung akan diberikan semacam tenunan syal atau ikat kepala kecil untuk dipakai sebagai tanda bahwa kita adalah tamu di desa itu. Tanda pengenal ini tentu harus dikembalikan saat kita menyudahi kunjungan, tapi jika ingin kita bisa membelinya.

Saat kami tiba, tampak para laki-laki sedang bergotong-royong membangun entah apa. Gotong-royong memang nilai budaya yang tetap dipegang teguh masyarakat Kampung Bena Bajawa. Sementara para mama duduk-duduk di serambi rumah; entah sekedar bersantai atau sibuk menenun. Anak-anak kecil bermain bola bertelanjang kaki. Anjing-anjing menikmati tidur siang di kolong rumah. Untuk kepentingan pengunjung, telah tersedia toilet umum di ujung tengah kampung.

Sudah 1 jam kami berjalan menyusuri setiap sudut kampung. Pak Gusti mengingatkan agar kami segera menyudahi kunjungan karena perjalanan masih jauh. Masih 10 jam lagi, katanya. Saya tertawa kecil mendengarnya; tidak percaya Desa Dintor sedemikian jauhnya.

anet-bena-1

all the ladies -Anet, Fitri, Vika, saya, Didito

19:00 – Dua setengah jam sejak pukul 16:30 diisi dengan tidur-tidur ayam karena jalannya mobil yang meliuk-liuk mengikuti jalanan yang berkelok-kelok tajam. Setibanya di Kabupaten Manggarai Timur, kami mengisi bahan bakar dan makan malam. Pak Gusti mengatakan agar siapapun yang ingin ke toilet, sebaiknya segera menunaikan hajatnya karena setelah makan malam bisa dipastikan akan kesulitan bagi kami untuk menemukan toilet. Pukul 20:00 kami kembali melanjutkan perjalanan dan saya mencoba memejamkan mata.

Tapi tidak bisa; berjam-jam setelahnya perut seperti dikocok-kocok akibat kontur jalan yang sepertinya buruk. Saya tidak bisa melihat sekeliling karena gelap gulita. Tidak ada penerangan lampu jalan. Penerangan hanya berasal dari mobil. Jalan yang dilalui sepertinya kecil, hanya muat satu mobil dan dikiri-kanannya sepertinya dikelilingi pepohonan. Sungguh sepi dan agak mengerikan. Sungguh membutuhkan keahlian dan pengalaman untuk bisa mengarungi medan itu.

Setiap beberapa saat sekali saya melirik jam, kadang juga mengganti posisi duduk-tidur-duduk-tidur dengan harapan bisa terlelap lebih nyenyak. Jilbab sepertinya sudah berantakan, badan rasanya sudah lepek dan mulutpun rasanya pahit.

***

Waktu terus berjalan. Pukul 21, pukul 22… saya membuang pandangan keluar jendela. Tidak ada perubahan. Tetap gelap, mobil tetap melaju diatas jalan berbatu yang sepertinya rusak parah, kadang disertai kelokan tajam.

Pukul 23… belum, belum ada tanda-tanda perubahan. Saya mulai berpikir, sepertinya Pak Gusti tadi tidak bercanda. Jangan-jangan kami memang akan sampai di Desa Dintor esok subuh!

Pukul 24… keadaan masih tetap sama. Tak ada tanda-tanda kami akan menepi; Pak Gusti terus mengemudi dalam sunyi. Tak terbayang lelahnya beliau. Kami yang duduk manis saja capek, apalagi Pak Gusti. Vika, Didito, dan Anet juga tidur-tidur ayam. Saya antara pasrah dan gelisah memikirkan apakah kami bisa menunaikan agenda esok hari yang sepertinya akan banyak menguras energi.

Dan haripun berganti. Sudah tanggal 27 September, dan kami masih ditengah gulitanya malam di timur Indonesia. Hingga tiba-tiba mobil berhenti. Entah dimana. Sekeliling tetap gelap gulita, benar-benar gelap. Ternyata kami telah sampai. Saya menyempatkan diri melihat jam.

00:20 – Berbekal senter, kami menurunkan barang-barang dan mulai membiasakan diri dengan pekatnya sekeliling. Kami memijak jalan berbatu, berhati-hati hingga ke penginapan. Tidak ada listrik, maka berbekal senter yang terus dinyalakanlah kami membersihkan diri. Untungnya, kamar mandi terletak di dalam kamar.

Drama perjalanan dari Desa Moni di Kabupaten Ende ke Desa Dintor di Kabupaten Manggarai ditutup dengan tidur kami pukul 01:30 dini hari itu.

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “[Flores – Sail Komodo] Day 2: Kelimutu, Rumah Pengasingan Bung Karno, Kampung Bena Bajawa & Desa Dintor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s