[Flores – Sail Komodo] Day 3 & 4: Waerebo

Selasa, 27 September 2016

Saya, Didit, dan Vika membuka mata saat matahari sudah mulai memperlihatkan diri. Setelah shalat subuh yang kesiangan dan selesai mandi, kami segera berkemas-kemas. Medan hari ini sepertinya cukup menantang, kami harus pintar-pintar memisahkan apa yang perlu dibawa dan apa yang bisa ditinggal. Awalnya, saya, Didit, dan Vika akan membawa sendiri keperluan masing-masing. Namun mungkin karena Anet melihat 3 cewek ini agak lemah gemulai tak bertenaga dan bawaannya sudah seperti mau nginep seminggu, diapun mengusulkan agar kami menggunakan jasa porter.

Yang beruntung terpilih adalah Pak Cornelius, yang merangkap sebagai guide kami selama 2 hari ke depan. Kami pun kembali membongkar carrier masing-masing. Semuanya dimasukkan ke dalam carrier Didit, kecuali perlengkapan perang seperti kamera, ransum, air minum, obat-obatan, dan –khusus saya- peralatan menghalau lintah. Sejak sebelum berangkat ke Flores, Anet beberapa kali mengatakan ada kemungkinan kami bertemu lintah dalam perjalanan menuju destinasi hari ini. Saya –sebagai manusia yang takut pada segala yang bergerak secara melata- segera mencari tau apa yang bisa menghalau lintah. Maka selain membalurkan lotion anti nyamuk sebanyak-banyaknya, menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuh rapat-rapat, saya pun menyiapkan tembakau kering yang bisa dibalurkan dengan air jika tim lintah datang menyerbu.

Seharusnya sarapan dimulai pukul 8 pagi, tapi molor hingga pukul 08:30. Setelah menyantap nasi goreng dan telur dadar, kembali kami memeriksa perlengkapan masing-masing, menitipkan koper dan tas yang tidak dibawa, dan akhirnya mobil meninggalkan penginapan pukul 09:15.

vika-waerebo-1

but first, breakfast…

***

Waerebo

This is time for Waerebo.

Pernah dengar Waerebo? Jujur, sebelum berangkat ke Flores, saya belum pernah mendengar nama itu. Waerebo adalah sebuah kampung tradisional Manggarai –bagian dari Desa Satar Lenda- yang letaknya cukup tersembunyi di lembah yang dikelilingi pegunungan. Walaupun sepertinya kurang pamor di kalangan wisatawan lokal, kampung tradisonal yang mendunia karena rumah berbentuk kerucutnya dan eksotismenya ini ternyata populer di kalangan wisatawan asing, khususnya bagi pejalan-pejalan Eropa.

Selain desa Dintor tempat kami bermalam, ada desa lain yang cukup dekat dengan Waerebo, yaitu Desa Denge yang merupakan desa terakhir yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Jarak dari Desa Denge ke Waerebo ada di angka 8 hingga 9 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi itu dulu, saat ini mobil sudah bisa melaju sekitar 3 kilometer lebih jauh lagi, sehingga pejalan tinggal menyelesaikan 5 hingga 6 kilometer sisanya.

Saat itu sedang ada perbaikan jalan, maka Pak Gusti mengantar kami hanya setengah jalan, dan dilanjutkan dengan ojek motor ke titik trekking dimulai. Saya melihat jam. Tepat pukul 10:15, setelah mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa lagi dengan Pak Gusti dan Mister Steve, kami –didampingi Pak Cornelius yang membawa carrier Didito- mulai berjalan kaki.

Yang pertama menyambut kami didepan mata adalah sebuah sungai kecil dengan batu-batu besar dan arus air yang cukup deras. Setelah itu jalan akan terus menanjak dan mulai menyempit hingga hanya bisa dilalui 1 orang; kalau ada orang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi sedikit supaya yang lainnya bisa terus melaju. Sepertinya baru 10 atau 15 menit kami mendaki, tapi nafas sudah ngos-ngosan dan pergerakanpun secara drastic mulai melambat. Fitri bahkan harus berhenti cukup lama karena pandangan yang mulai kabur. Ditemani Welly dan Pak Cornelius, dia pun beristirahat sejenak, sementara kami tetap melanjutkan perjalanan. Bisa dimaklumi jika Fitri langsung drop. Begitu mulai berjalan kami langsung dihadapkan pada medan mendaki yang lumayan menguras tenaga, apalagi tanahnya pun cukup licin dan berbatu-batu, tentu ada effort lebih yang dikeluarkan; tubuh harus bekerja keras menyesuaikan dengan kegiatan yang tidak biasa ini, terutama bagi yang jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga.

Sebenarnya ada 3 titik peristirahatan selama trekking ke Waerebo, yaitu Sungai Wae Lomba, Pocoroko, dan Nampe Bakok. Sungai Wae Lomba sepertinya sungai yang pertama menyambut kami seturunnya dari ojek. Dari situ hingga ke Pocoroko –karena kami sering berhenti untuk mengembalikan nafas dan mengikuti prinsip “pelan-pelan aja ya yang penting sampai” dengan dalih menunggu Fitri, Welly, dan Pak Cornelius yang masih di belakang- kami membutuhkan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Apalagi medan hingga ke Pocoroko memang menanjak diatas tanah licin dan harus melipir ke bukit karena sisi satunya adalah jurang.

Di tengah-tengah perjalanan, setiap kali melihat mata air, kami pasti berhenti dan menyempatkan diri untuk membasuh muka dan mengisi botol air. Rasa air dari sumbernya langsung memang berbeda. Sungguh segar dan rasanya benar-benar memulihkan tenaga. Kami juga sering berpapasan dengan penduduk Waerebo yang sedang “turun kampung” karena ada keperluan di “kota”. Berbeda dengan kami yang bersepatu gunung atau sandal gunung yang “menggigit”, penduduk Waerebo, tak peduli para mama atau bapa –seperti juga Pak Cornelius- hanya bersendal jepit atau bahkan bertelanjang kaki. Urusan trekking sekian jam sekian kilometer ini jelas-jelas bukan perkara besar bagi mereka.

Selepas titik Pocoroko medan trekking sudah lebih mudah karena mulai landai bahkan kadang menurun. Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Rumah Kasih, sebuah pos pemantau yang atapnya terbuat dari ijuk. Kami semua termasuk Pak Cornelius naik ke pos tersebut. Rasa lelah terbayar saat kami melihat hamparan dataran hijau dan rumah-rumah kerucut dikejauhan. Akhirnya kami sampai. Di pos pemantau ini, Pak Cornelius membunyikan kentongan, memberi tanda pada warga kampung Waerebo bahwa ada tamu yang datang. Kami mencoba membunyikan kentongan juga satu persatu, namun suara yang dihasilkan tidak seperkasa Pak Cornelius. Sepertinya tenaga kami cukup terkuras selama trekking tadi.

Sebelum melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi, Pak Cornelius berkali-kali mengingatkan agar kami tidak mengambil foto di sekitar kampung terlebih dahulu sebelum bertemu dan sowan dengan sesepuh kampung.

Tak lama kami di pos pemantau, kami segera berjalan cukup cepat, tak sabar untuk sampai ke Waerebo.

welly-waerebo-7

and the journey begins…

welly-waerebo-8

mendaki bukit, ku takut lintah…

dhana-2

tak selamanya perjalanan mendaki, nyatanya sesekali menurun juga…

vika-waerebo-2

Sura, Dhana, Didito, saya, Vika

vika-waerebo-3

Titik kedua peristirahatan: menunggu kedatangan Welly, Fitri, dan Pak Cornelius. And no, Didito didn’t get paid by Beng-beng…

welly-waerebo-9

yeay! sebentar lagi sampai!

welly-waerebo-1

Rumah Kasih, taken by Pak Cornelius

DCIM100GOPROG0210159.

wefie!

vika-waerebo-13

and finally!

13:30 – Senyum benar-benar terkembang dan kebahagiaan kami terpancar saat kami mempercepat langkah melintasi kebun kopi di kiri kanan kami. Pak Cornelius berjalan paling depan, memimpin garnisun yang mulai kelewat riang ini. Berjalan lurus menuju rumah kerucut yang paling besar yang terletak di tengah-tengah. Setelah melepas alas kaki dan meletakkan tongkat kayu penyangga, kami masuk ke dalam rumah dan duduk bersila bersebelah-sebelahan, dengan Pak Cornelius duduk di tengah di dekat tiang yang diatasnya tampak tergantung benda-benda seperti gendang. Dua orang sesepuh kampung berwajah ramah sudah siap menyambut, duduk berhadap-hadapan dengan kami.

Pak Cornelius membuka percakapan –memulai “upacara” penyambutan kami. Mereka sepertinya berbicara dalam bahasa setempat. Dua bapak itu bernama Pak Rafael (90 tahun) dan Pak Rofinus (78 tahun), warga paling senior yang berdiam di Waerebo. Dengan diterjemahkan Pak Cornelius, Pak Rafael dan Pak Rofinus menjelaskan secara singkat mengenai Mbaru Tembong alias rumah induk tempat kami disambut saat itu. Acara penyambutan diakhiri dengan kata-kata Pak Rafael dan Pak Rofinus, bahwa sejak saat itu hingga esok hari saat kami pulang, kami dianggap sebagai warga asli Waerebo. Maka anggaplah Waerebo sebagai rumah sendiri dengan tetap memperhatikan nilai budaya dan etika yang berlaku di situ.

DCIM100GOPROGOPR0168.

sesaat setelah upacara penyambutan di dalam Mbaru Tembong

welly-waerebo-11

…and outside

Dari Mbaru Tembong, kami dibawa ke rumah lain tempat kami menginap malam itu. Di rumah lain tersebut sudah terhampar sekitar 30 tikar untuk alas tidur. Kami tamu pertama yang tiba, maka kamipun memilih tempat tidur sesuka hati. Setelah menaruh bawaan dan meregangkan tubuh, kamipun duduk ngeriung mendengarkan cerita Pak Cornelius, ditemani secangkir kopi sebagai ucapan selamat datang.

Waerebo terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, terkenal dengan rumah beratap ijuk berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang yang berjumlah 7 buah, tidak kurang dan tidak lebih karena begitulah adat istiadat menentukan. Penduduk Waerebo konon memiliki nenek moyang dari tanah Minang. Entah kenapa dan entah bagaimana caranya orang-orang dari daratan Andalas bisa sampai ke tanah Manggarai dan beranak-pinak hingga melahirkan Waerebo.

Selain ukurannya yang sepertinya lebih besar, Mbaru Tembong maupun Mbaru Niang sebenarnya sama; namun kenapa rumah induk dinamai Mbaru Tembong adalah karena di rumah induklah diletakkan tembong –alias alat-alat musik semacam kendang yang digunakan untuk upacara adat.

Baik Mbaru Niang maupun Mbaru Tembong terdiri dari 5 tingkat yang masing-masing memiliki nama dan fungsinya sendiri-sendiri. Tingkat pertama –tempat pengunjung menginap- adalah lutur atau tenda, tingkat kedua disebut lobo atau loteng tempat menyimpan bahan makanan dan keperluan sehari-hari, tempat ketiga dinamai lentar yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan sehari-hari, tingkat keempat adalah lempa rae yang berfungsi untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan atau gagal panen, dan tingkat lima adalah hekang kode –tempat menyimpan langkar, yaitu anyaman bambu untuk menyimpan sesajian yang digunakan untuk persembahan kepada leluhur.

Yang membedakan Mbaru Tembong dan Mbaru Niang adalah jumlah kamar didalamnya. Mbaru Niang biasanya memiliki 5 hingga 6 kamar, sementara Mbaru Tembong memiliki 8 kamar; masing-masing kamarnya dihuni oleh anak laki-laki tertua dan keluarganya. Selain anak laki-laki tertua semuanya tinggal di Mbaru Niang yang ada di sisi kanan dan kiri Mbaru Tembong, ada juga yang keluar kampung dan menetap di Desa Kombo, salah satu desa yang berdekatan dengan Desa Dintor dan Desa Denge.

Jika ada rumah kerucut yang rusak dan membutuhkan perbaikan, masyarakat akan mengerjakannya secara bergotong-royong. Kayu yang digunakan untuk membangun Mbaru Niang adalah kayu borok yang dijalin satu dan lainnya menggunakan rotan. Atap rumah terbuat dari alang-alang yang dilapisi ijuk dibagian dalamnya. Dengan cara seperti ini, suhu udara didalam rumah tetap nyaman dalam keadaan cuaca apapun. Alang-alang dan ijuk dibeli dari Manggarai dan dijalin saat masih di bawah; jadi saat sampai di Waerebo tinggal dipasang saja. Walaupun materialnya terlihat sederhana, ternyata renovasi Mbaru Niang memakan biaya besar hingga mencapai angka 300 juta rupiah.

Kebersamaan masyarakat Waerebo juga terlihat di dapur. Di Mbaru Tembong, misalnya, ada 8 tungku untuk 8 keluarga. Sudah turun temurun seperti itu dan tidak pernah terjadi keributan karena walaupun memasak bersama-sama, masing-masing tetap menghargai ruang privasi tiap keluarga.

Di Waerebo tidak ada sinyal -jadi singkirkan gadgetmu untuk sementara- dan listrik hanya menyala pukul 6 sore hingga 10 malam. Maka ketika ada tanda listrik menyala, semua perlengkapan segera di-charge. Untuk mandi, ada 2 pilihan: mandi di pancuran bersama penduduk setempat atau di kamar mandi yang memang sengaja dibangun untuk memudahkan wisatawan. Saya pernah membaca bahwa jika berkunjung ke Waerebo alangkah baiknya kita membawa buku-buku bacaan untuk anak-anak yang diserahkan langsung ke perpustakaan di sana. Namun menurut Anet, sebenarnya yang lebih mereka butuhkan adalah tenaga relawan untuk tinggal beberapa waktu lamanya agar bisa mengajar anak-anak Waerebo membaca dan menulis. Memang tidak ada sarana pendidikan di Waerebo. Itulah sebabnya, setiap anak yang memasuki usia sekolah akan turun dan tinggal di Desa Kombo, tempat terdekat dimana ada sekolah. Anak-anak itu akan tinggal dengan saudara-saudara mereka dan pulang saat musim liburan tiba; tentu ditempuh dengan berjalan kaki. Ohya, jika kita ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak di sana, sebaiknya berikan pada orangtuanya instead of memberikan langsung ke anak-anak tersebut; ini untuk menghindari mental peminta-minta pada diri mereka. Larangan-larangan dan anjuran-anjuran lainnya bisa dilihat di banner yang dipasang di Rumah Kasih. Satu yang saya ingat: dilarang mempertontonkan kemesraan di muka umum, dan ini juga berlaku untuk suami istri. Sebagai seorang posesif-baper, saya sangat menghargai nilai budaya ini.

Di Waerebo juga tidak ada fasilitas kesehatan. Karena itu para ibu hamil yang akan melahirkan juga akan turun ke Desa Kombo dimana ada puskesmas keliling, sekitar 1 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir. Bagaimana caranya? Tentu, dengan berjalan kaki. Mereka percaya cara itu justru memudahkan persalinan.

Letak Waerebo yang dikelilingi pegunungan membuat udara selalu sejuk dengan kabut yang cepat turun. Sekitar pukul 5 sore saat kami bermain-main diluar rumah, kabut sudah menyelimuti kampung dan tak lama hujan pun turun walau tak deras. Selepas mandi dan shalat Isya, para mama mulai menyajikan makan malam. Saat itu, selain kami, ada 2 orang wisatawan asal Jerman –Mischa dan Daniela- dan sepasang suami istri asal Spanyol. Ada juga beberapa orang LSM yang katanya akan rapat dengan warga kampung terkait pengembangan potensi pariwisata Waerebo. Suasana yang tadinya kaku mulai mencair sejak Dhana dan Sura mulai berbincang-bincang mengenai pilkada Jakarta –Ahok sungguh terkenal di Waerebo- dengan para pemuda setempat merangkap pemandu yang memandu Mischa dan Daniela serta pemandunya pasangan suami istri Spanyol itu. Dan benar-benar cair ketika Sura dan pasangan Spanyol mempercakapkan klub bola kebanggaan masing-masing; Sura sang Madridista sejati memuji-muji Real Madrid, dan pasangan Spanyol asli urang Catalunya itu membalasnya dengan menyanyikan mars Barcelona sepenuh jiwa. Sepakbola memang mencairkan semuanya.

Sebenarnya mata belum lagi ingin dipejam, tapi pukul 10 malam listrik akan dimatikan total, maka tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Karena tidur hanya beralaskan tikar, selimut yang disediakan pun beralih fungsi menjadi seprai supaya lebih empuk, dan jaket pun kami kenakan untuk menahan dingin. Sebelum tidur, saya tak lupa berdoa supaya tidak ingin ke belakang di malam hari.

vika-waerebo-22

our bedroom for a night!

vika-waerebo-4

taken by Dhana from Mbaru Niang’s 2nd floor

welly-waerebo-6

welly-waerebo-10

vika-waerebo-6

tangga menuju lantai-lantai selanjutnya

welly-waerebo-5

vika-waerebo-5

vika-waerebo-7

vika-waerebo-11

saat kabut masih tinggi…

vika-waerebo-12

…dan saat mulai menyelimuti

vika-waerebo-8

vika-waerebo-9

para bapa from left to right: Pak Cornelius, Pak Rafael, dan Pak Rofinus

vika-waerebo-10

vika-waerebo-17

dinner time!

Rabu, 28 September 2016

Setelah berkali-kali terbangun di malam hari dan menemukan tak ada satupun di antara kami yang bergeming, akhirnya saya benar-benar terjaga sekitar pukul 5 pagi. Matahari sudah menampakkan diri dan beberapa kasur di sebelah saya sudah kosong. Sayup-sayup terdengar suara Welly, Dhana, Sura, Fitri, dan Anet di luar; rupanya mereka mengejar sunrise dan sibuk berfoto. Para bapa berbalut kain khas Waerebo ramai bercengkerama di lapangan rumput di depan Mbaru Niang.

Pukul 07:15 semua orang menghentikan kegiatan masing-masing dan berkumpul untuk menikmati menu sederhana yang disediakan para mama. Walaupun sederhana, sarapan ini penting sebagai tenaga untuk trekking kembali ke “kota” nanti.

Selain sarapan, ternyata ada acara dadakan spesial hari itu. Pak Cornelius berulangtahun! Kontan saja tanpa dikomando semua yang ada di dalam Mbaru Niang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, tak ketinggalan para bule yang turut cengar-cengir dan bertepuk tangan.

08:15 – setelah berpamitan dan menyempatkan diri ‘foto keluarga’ di depan hamparan biji kopi yang sedang dijemur, berbekal tongkat kayu kami pun memulai trekking turun. Oya, tongkat dari dahan pepohonan yang dipilih Pak Cornelius secara seksama di awal perjalanan ini sangat membantu menjaga keseimbangan tubuh lho, selain itu tongkat ini juga membantu ‘menambah’ tenaga saat kita merasa mulai lelah dan berat melangkah.

Berbeda dengan saat kedatangan, perjalanan pulang terasa lebih mudah dan ditempuh dalam waktu 1 jam lebih cepat. Perbedaan lainnya, selama perjalanan kami berpapasan dengan penduduk lokal dan turis-turis asing lebih sering, banyak diantara para turis tersebut sudah berusia separuh baya.

10:30 – Akhirnya kami melihat Pak Gusti dan Mr. Steve lagi. Mereka menjemput kami di titik yang sama dengan saat kami diturunkan saat akan trekking sehari yang lalu. Pukul 11 kami tiba di penginapan dan langsung mandi, packing, shalat, dan makan siang. Pukul 13:00 tepat kami berpisah dengan Pak Cornelius, meninggalkan Desa Dintor, menuju Labuan Bajo.

SAMSUNG CSC

para bapa rumpi pagi

dhana-1

ngopi dulu lah, biar nggak slek *eh

vika-waerebo-18

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Mr. Cornelius!

welly-waerebo-12

wefie with Daniela and Mischa; guess where we met them again?

vika-waerebo-21

lalala yeyeye ~ the boys di depan Waerebo Lodge, left to right: Welly, Sura, Dhana

vika-waerebo-19

Our lodge at Desa Dintor

vika-waerebo-20

Pulau Molas di kejauhan; Molas means ‘beautiful’

vika-waerebo-15

teras penginapan dan cucian kami

anet-1

Pak Cornelius with his favorite man: Sura

vika-waerebo-16

good bye, Mr. Cornelius! good bye, Desa Dintor! good bye, Waerebo!

Let’s have a look on our journey to Labuan Bajo:

vika-spyder-web

Awalnya Anet sempat meminta untuk dimampirkan ke Cancar untuk memperlihatkan sawah jaring laba-laba pada kami; tapi Pak Gusti mengatakan kalau harus ke Cancar maka perjalanan akan memutar jauh dan akibatnya kami akan tiba di Labuan Bajo sangat larut. Sebagai gantinya Pak Gusti berhenti sebentar di satu daerah yang memang kami lewati yang juga memiliki sawah jaring laba-laba

SAMSUNG CSC

a closer, wide enough-look

anet-3

pardon me for the typo; it should be ‘spider’ instead of ‘spyder’ huhuhu…

anet-4

but first, INDOMI selalu di hati ~ i know, i know, we are truly deeply Indonesian

And some additional photos of my favorite:

vika-waerebo-14

good bye, Waerebo! keep shining!

anet-2

JUMP! a mandatory shot of happiness!

vika-waerebo-23

the three that being left

welly-waerebo-3

…and see you again, Waerebo!

Advertisements

4 thoughts on “[Flores – Sail Komodo] Day 3 & 4: Waerebo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s