[Mujigae]

Nggak tau kesambet apa-apa tiba-tiba gw kangen si Vika. Alhamdulillah nggak bertepuk sebelah tangan karena si Vika pun ternyata kangen sama gw *eh* *yakan di mana-mana yang namanya ditolak itu nggak enak ya mbaksist*
Jadilah kami mengatur waktu untuk mabuk-mabukan. Tak lupa Didito dan Dani diikutsertakan.

Gw yang paling bersemangat segera bergerak menentukan meeting point, yang seperti biasa hampir pasti selalu di Depok. Ya mau gimana lagi, kantor kami berempat berjauhan, agak susah kalau mau ketemu di Jakarta. Paling mudah memang bertemu di wilayah Depok yang memang sudah jadi wilayah jajahan masing-masing sedari orok. Pilihan kali ini jatuh pada makanan Korea. Maka marilah kita menyambangi Mujigae, yang terhitung baru membuka gerainya di Margo City, mall paling heitz se-Depok Raya.

Begitu memasuki tempat, pelayan langsung menyapa kami dengan salam khas Korea. “Annyeonghasimnika!”

Inside #1

Inside #1

Inside #2

Inside #2

Inside #3

Inside #3

Setelah kami duduk, mbak-mbak pelayan dengan sigap memberikan buku menu dan menerangkan tata cara pemesanan yang sungguh canggih, di setiap meja disediakan iPad dimana pengunjung tinggal memilih menu yang ingin dipesan beserta jumlahnya. Tinggal klik klik klik, order terkirim dan tunggu beberapa menit, pesanan pun segera terhidang di meja. Nggak perlu mencari-cari mbakmas pelayan dan nggak perlu merasa nggak enak kalau lama memilih menu. Efektif dan efisien.

Menu, masih konvensional

Menu, masih konvensional

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Didito on 'How to Order Your Food'

Didito on ‘How to Order Your Food’

Vika on 'How to Order Your Food'

Vika on ‘How to Order Your Food’

Sejak menentukan Mujigae sebagai meeting point, kami langsung kasak-kusuk cari tau soal menu. Nggak heran kami tidak perlu berlama-lama memilih makan malam saat itu. Didito langsung memesan Bulgogi Bibimbap untuk makanannya dan Lemon Sea Salt sebagai minumannya. Vika memilih Classic Ramyeon dan mencoba Choco Banana Milk with Nutella Pudding untuk melepas dahaga. Gw mantap memilih Bibimyeon feat. Tokochi dan ended up dengan Banana Milk with Matcha Pudding untuk minumannya. Kami pun sepakat memesan Original Tteokbokki sebagai cemilan.

Sekitar 10 menit menunggu, pesanan pun datang. So here we go.

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Tteokbokki mungkin bisa dibilang sebagai salah satu cemilan paling terkenal dari Korea. Terbuat dari tepung beras dan disajikan bersama odeng alias fish cake dan saus pedas manis yang kental, enaknya disantap panas-panas.

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Bibimbap adalah makanan khas Korea dimana nasi dihidangkan bersama soy sauce, diberi topping daging yang dicincang, sayur-sayuran, telur ayam setengah matang, dan yang paling penting: gochujang, pasta sambal yang fungsinya membuat enak si bibimbap. Satu lagi yang khas dari Bibimbap adalah cara makannya. Semua diaduk rata jadi satu.

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Sama seperti bibimbap, Bibimyeon dimakan dengan cara mencampur dan mengaduk rata semua yang terhidang di mangkuk. Bedanya, dasar dari bibimbap adalah nasi, sementara dasar bibimyeon adalah mie. Selain itu, pada bibimbap, gochujang adalah elemen penting, sementara bibimyeon tidak menggunakan gochujang. Selain cacahan daging sapi cincang, ada pula topping sayuran, fish cake yang dipotong tipis-tipis dan digoreng garing, dan telur rebus yang dibalut tepung dan digoreng. Sebagai side dish, disajikan tokochi, yaitu kue beras yang digoreng garing. Hmm… I prefer the original tteokbokki to tokochi.

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Bagi gw, Ramyeon tidak ada bedanya dengan mie tektek. Di beberapa tempat di Korea, dalam Ramyeon dimasukkan juga kue beras. Disajikan dalam panci aluminium, Ramyeon nikmat disantap saat dingin. Sayangnya, menurut Vika, Ramyeon pilihannya itu agak sedikit lodoh.

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091" width="768" height="419" /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091″ width=”768″ height=”419″ /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Baik choco banana milk ataupun banana milk, bagi gw rasa susu dan buahnya kurang mantap. Sementara Lemon Sea Salt-nya… menurut Didito, rasanya unik. Asam lemonnya pas dan enak, tapi butiran kasar sea salt-nya sungguh asin. Dan yang mana sea salt-nya? Itu lho, yang menyerupai krim berwarna kuning, yang kami salah duga sebagai es krim pada mulanya.

Dani yang terlambat datang hanya memesan Korean Tea dan memilih menghabiskan tteokbokki kami. Mungkin karena sedang berbahagia, Dani yang biasanya harus makan makanan berat kali ini tidak terlalu ramai soal makanan, dan tetap tampak berseri-seri *silakan ditanyakan langsung ya kenapa-kenapanya*. Terus gimana rasa Korea Tea-nya?
Seruput pertama membuat Dani mengernyit. “Kayak air putih,” katanya. Lalu gelas besar berwarna hijau berisi air sedikit keruh itu pun bergilir pada Didito, Vika, dan terakhir gw.
“Rasanya nggak jelas, aneh!,” bingung si Didito.
“Air perasan daun sirsak,” kata Vika.
“Seperti kuah popmie rasa baso sapi,” gw berpendapat.
“Lah lo dulu apa nggak minum beginian?” tanya mereka bertiga.
“Ya maap, gw bukan penggemar teh. Selama di sana gw cuma minum air putih dan kopi, paling jauh minum banana uyu.” :mrgreen:

Well ya, secara garis besar, Mujigae yang dilengkapi dengan 2 layar tembak dari proyektor yang tak henti menayangkan girl band dan boyband asal Korea, bisa dibilang cukup nyaman sebagai tempat kumpul-kumpul. Harganya masih wajar dan pelayannya pun cukup ramah dan cekatan dalam menjelaskan segala sesuatunya. Mengenai rasa makanannya, I assume rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. It’s lighter yet somehow tastier. No fancy taste yet nice and acceptable. Kimchi yang selalu ada dan dihidangkan sebagai side dish di setiap menu disediakan dalam porsi kecil, dengan rasa asam yang sepertinya lagi-lagi sudah disesuaikan dengan cita rasa lokal.
However, I would like to go back there to taste another menu.

All price are subject to service charge and tax.

Advertisements

[LOOBIE LOBSTER] Lobsters & Shrimps

The Lobster greets you, beauty! *eh*

The Lobster greets you, beauty! *eh*


Hello! Finally a ‘proper’ writing! :mrgreen:

Couple months ago, Pichu and Adedi celebrated their birthday and brought us to eat out. They chose LOOBIE LOBSTER at Gunawarman and there we were at this minimalist white and blue restaurant.

SAMSUNG CSC

The Platter

The Platter


And this was what we got with Whole Lobster Platter 250 – 300 gr: Grilled Lobster *of course!* | Fried Calamari | Sambal Garlic & their signature Sambal Matah | IDR 115.000

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:


I’m a diehard fans of Milo, so here was my drink | IDR 17.500

Fin!

Fin!


The food was good, there was nothing so special though. Yet, the affordable price which makes lobster is for everyone, well that one really hits the crowd. Best deal for a tasty and creamy Borneo’s lobster, I must say.

Just try to come earlier before lunch time to avoid the line. We arrived several minutes to 11 am, which they were about to open, and we were the first customer came at the time.
Well, the place is tiny and they serve approximately 20 seats so that’s the one that makes line and not because of any other causes. And the ambience itself surely not for you who want to sit back and relax.
Finish your meal and grab your belongings and go. There are people waiting for your seat.

A gentleman & para shalihah

A gentleman & para shalihah


The Lobster Eater: Didito | Adedi | Tante Cantik #1 | Pichu | Ninong feat. Fathar

Thank you, Tante Ikan & Tante Cantik #2!

LOOBIE LOBSTER
http://www.loobielobster.com | Jl. Gunawarman No. 32 Jakarta Selatan | Open 11:00 – 22:00

[Milan Pizzeria Cafe]

About centuries ago, when dinosaurs still playing soccer with mammoth, I and Pichu tried a new chill out place at Margonda. Yeah we grew up in Depok so where else would we go? 😆
Nice ambience, good location with affordable price, yet no fancy taste.

Pictures only, please. Bear with me :mrgreen:

???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
??????????????????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????

[Koffie Warung Tinggi] d/h Tek Soen Hoo

Assalamu’alaykum!

I’m back with a super late post. Oh finally. And yet, no my computer is still broken, jadi gw menulis seadanya saja mencuri senggangnya office’s PC bisa dibajak sejenak untuk posting ini itu *plus, writing mood gw yang nggak balik-balik ya, seolah berbanding lurus dengan lamanya opname si laptop*.

***
Hampir 6 bulan yang lalu, gw dan Nyonya Besar berkesempatan mengunjungi sebuah warung kopi yang lagi happening banget di Jakarta. Koffie Warung Tinggi baru saja memang menjejakkan kaki di mall yang nyaman dan sejuk hasil pendingin udara, tapi warung kopi yang satu ini ternyata sudah eksis sejak tahun 1878 dan merupakan warung kopi tertua di Indonesia. Wow! Berdiri sejak lebih dari satu abad yang lalu dan masih bertahan hingga saat ini, bahkan berkembang dari warung kopi tradisional biasa menjadi warung kopi yang dikemas secara modern dan berkelas, they must have something really good!

Koffie Warung Tinggi d/h Tek Soen Hoo

Koffie Warung Tinggi d/h Tek Soen Hoo

Coffee Bar sekaligus tempat menghirup aroma harum biji kopi, dan tempat memesan makanan

Coffee Bar sekaligus tempat menghirup aroma harum biji kopi, dan tempat memesan makanan

??????????????????????image-2045″ />
Pada awal pendiriannya, Koffie Warung Tinggi bernama Tek Soen Hoo, bertempat di Jalan Moolen Vhiet Oost atau sekarang dikenal dengan nama Jalan Hayam Wuruk. Dalam perjalanannya, penamaan dalam bahasa asing menemui kendala sehingga Tek Soen Hoo pun mengubah nama mereka menjadi Warung Tinggi dikarenakan letak toko mereka saat itu lebih tinggi dibandingkan bangunan lain disekitarnya. Sekarang, mereka bahkan punya situs sendiri. Silakan menjelajahi warungtinggi.com

Koffie Warung Tinggi kini dibuka di Grand Indonesia, West Mall lantai 5, berdekatan dengan mushala. Jadilah ketika Nyonya Besar shalat, gw masuk duluan dan mengambil tempat duduk, lalu mulai mengarahkan kamera ke beberapa sudut menarik.

Koffie Warung Tinggi menempati area yang cukup luas dan terbagi menjadi smoking area dan non smoking area, di mana non smoking area ditempatkan didepan coffee bar. Sayang, tidak ada penyekat antara smoking dan non smoking area, sehingga asap rokok masih tercium dengan jelas di non smoking area.

Kedua area didesain dengan mempertahankan suasana tempo dulu, dipadu dengan sedikit sentuhan modern. Sofa-sofa minimalis, lemari kayu antik berisikan piring-piring porselen masa lalu, rak-rak kopi dari elemen kayu, penggiling kopi tradisional, semuanya menimbulkan nuansa vintage dan klasik yang cantik, apalagi dipadukan dengan penerangan yang temaram dan elemen kayu yang digunakan pada jendela dan pintu. Suasana yang dihadirkan memang menimbulkan rasa nyaman, cocok untuk bersantai-santai bersama teman dan keluarga.

antique

antique

keep down to earth and drink good coffee

keep down to earth and drink good coffee

???????????

topping price list

topping price list

it's limited!

it’s limited!

Mungkin, hal ini pula yang mempengaruhi menu yang ditawarkan. Selain mengusung kopi sebagai jagoannya, Koffie Warung Tinggi juga menawarkan makanan-makanan ringan dari masa kecil, seperti kue cubit, atau kudapan yang sudah mendapat citarasa eropa seperti pannekoek dengan berbagai topping dan bitterballen, juga yang sudah mendapat sentuhan cina, apalagi kalau bukan martabak. Karena kue cubitnya naik level masuk ke mall, harganya pun tentu di upgrade juga. Memang selain penganan ringan, disediakan pula makanan ’berat’. Tapi pilihannya memang tidak terlalu banyak.

Untuk memesan makanan dan minuman, pengunjung dapat langsung mendatangi coffee bar. Di coffee bar juga diletakkan berbagai macam jenis biji kopi dengan disertai pula penjelasannya, dan biji kopi-biji kopi ini untuk dijual lho. Mereka bahkan menerima pesanan biji kopi customized sesuai permintaan pelanggan. Banyaknya variasi minuman dari kopi yang ditawarkan membuat gw sempat bingung ketika akan memesan minuman. Berdasarkan rekomendasi dari pelayan, gw pun memesan Snickers Mochaccino yang merupakan signature drink mereka. Untuk Nyonya Besar, gw memesankan Juice Orange kesukaannya.

Selain itu, gw pun memesan Nasi Goreng Kampung dan dua buah Martabak Manis Plain ukuran kecil berdiameter sekitar 10-12 cm, masing-masing diberi topping pilihan gw, yaitu durian dan ovomaltine.

So here we go!

Nasi Goreng Kampung

Nasi Goreng Kampung

Nasi Goreng Kampung yang dibandrol harga IDR 48.000 ini porsinya pas, dan rasanya pun enak. Simply nasi goreng kampung ala rumahan tanpa rasa yang aneh-aneh, lengkap dengan telur mata sapi, acar timun dan kerupuk melarat, namun entah bagaimana semua bumbu dan bahan sepertinya diracik dan menyatu dengan sempurna. One thing my mom couldn’t stop complaining about was, she thought it was overpriced. Yeah, I’m agree.
Sementara, Juice Orange yang asam tapi menyegarkan, selayaknya juice orange pada umumnya, dibuat benar-benar dari jeruk asli, bahkan bulir-bulirnya pun ada. IDR 34.000, still overpriced. We thought.

Snickers Mochaccino

Snickers Mochaccino

Snickers Mochaccino. This one is good! IDR 38.000 and totally worth it! Kopi, whipped cream, aroma moka, dan cacahan halus biji kopi, ditambah potongan-potongan snickers… endeuuuuusss kakak! I want more!

Your Highness MARTABAK DURIAN

Your Highness MARTABAK DURIAN

Martabak Manis dengan topping Durian. Martabak manis plain ukuran kecil dihargai IDR 15.000 dan topping duriannya dihargai IDR 35.000. Total jadi IDR 50.000 tapi gw nggak peduli karena ini E.N.A.K B.A.N.G.E.T sumpah! Martabaknya lembut, topping duriannya benar-benar tebal dan manis dan itu dibuat dari daging buah durian asli! Hhhmmmm.. bukan sekedar ekstrak dan aroma. Surgawi!

Save the Best: MARTABAK OVOMALTINE

Save the Best: MARTABAK OVOMALTINE

Martabak Manis dengan topping Ovomaltine, yang konon limited edition. Sama seperti martabak manis durian, martabak manis plain ukuran kecil dihargai IDR 15.000 dan topping Ovomaltine dihargai IDR 40.000. IDR 55.000 untuk sepotong kecil martabak, overpriced yes tapi bodo amat karena ini E.N.A.K.N.Y.A K.E.L.E.W.A.T.A.N. Selain martabaknya yang udah lembut, coklatnya si ovomaltine kan maniiiiisss dan lekoh banget dan crunchy-crunchy-nya itu lho astagaaaaa… Must try. Banget! Tapi bagi yang kurang suka makanan manis, atau mengidap diabetes, sebaiknya hindari saja ya.

***
Overall, walaupun ada keluhan overpriced disana-sini dan keluarnya martabak yang lamaaaaa banget *Nasi Goreng Kampung-nya Nyonya Besar udah ludes dan martabak gw belum terhidang!* it was a good experience of tasting good food. Pelayannya ramah dan cukup menguasai menu, suasana nyaman, makanan minuman ENAAAKK *penting*, sangat direkomendasikan untuk kembali lagi. Dan bagi yang belum berkesempatan mencicipi, sangat disarankan untuk mengunjungi.

[Sunny Side Up] Perfect Eggs Everytime!

Such a late post!
Alasannya, karena ingin menamatkan cerita Hong Kong Trip dulu kan… tapi seperti biasa, ketika lagi semangat-semangatnya menulis, eh ya ndilalah laptop akika ngambek. Layarnya mati tiba-tiba dan tak hidup-hidup lagi hingga kini. Bapak-bapak ahli servis segala jenis kerusakan komputer yang biasa datang ke kantor, entah kenapa mendadak jadi susah sekali dihubungi. Jadilah banyak calon tulisan terlantar. Sampai-sampai skype pun lewat hape lho bok! *kode*

Dan karena terlalu lama hiatus menulis, mood Hong Kong Trip ikut menguap diterjang legal review dan pelototan si Bapak *alesyaaaaannn*
Yaudindeh, kita coba aja cerita soal tempat makan yang gw coba bersama Nyonya Besar sebelum gw capcus ke Hong Kong. Motif lain selain makan-makan adalah, membiasakan diri dengan baby S, maksudnya supaya saat di Hong Kong gw bisa menghasilkan foto yang ciamik :mrgreen:

Tapiiiii… karena acara memamah biak ini pun sudah berlalu cukup lama, mohon maaf gw tidak bisa bawel seperti biasanya karena daya ingat gw mulai melemah *uhuk!*. Sedikit foto dan keterangan seadanya saja ya!

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal. Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan  Omega-3  lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat. Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal.
Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan Omega-3 lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat.
Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk... dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk… dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Ouch!

Ouch!

The Menu. Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah. Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, karena dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung.

The Menu.
Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah.
Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, namun dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging.

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500 Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef's recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500
Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef’s recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

My Mom's: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000 Ini juga salah satu chef's recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

My Mom’s: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000
Verdict: ini juga salah satu chef’s recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000 Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya... tapi porsinya sungguh mantab lah!

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000
Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya… tapi porsinya sungguh mantab lah!

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000 Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk... trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah... mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa :lol: Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm... Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa... keliatan kan dari gelasnya *hihihi* Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000
Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk… trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah… mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa 😆
Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm… Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa… keliatan kan dari gelasnya *hihihi*
Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.

[Marugame Udon] Udon & Tempura

Asal muasalnya adalah ketika sepulang gw mengadopsi baby S, gw dan Vika memutuskan untuk cari makan di mall terdekat sambil cuci mata, ya siapa tau ada yang lain yang bisa diadopsi gitu kan. Nah sementara Vika shalat, gw melihat-lihat sekeliling mencari-cari tempat makan karena emang udah waktunya makan siang. Sekonyong-konyong mata gw tertumbuk pada satu gerai yang terlihat rame banget. Antriannya mengular naga panjangnya and when it comes to food, queue should be a good sign, iya nggak sih? Iya aja lah kakak… :mrgreen:

Sempat terpikir apa mau makan di tempat itu aja, tapi karena pas nanya Vika sebagai ratu mall dan ternyata dia juga belum pernah makan di sana, niat itu gw urungkan. Tapi satu hal jelas, sepulangnya gw langsung cari info sana-sini, kasak-kusuk di internet dan menemukan banyak review yang buagus banget dan menggiurkan soal si tempat itu. Bahkan tempat itu sampai digadang-gadang sebagai the best place to eat that kind of … *sengaja dikosongin biar penasaran* *yakaleee penasaran* 😆
Nah… jadi kepikiran kan, makin mupeng kan… *so easy to seduce me yaaa*

Kesempatan datang ketika gw dan Nyonya Besar cari-cari bahan di Mayestik. Dari sebelum berangkat gw emang udah meminta Nyonya Besar untuk makan di sana.
Doh! Emangnya makan apa sih Ke? Kok ribet banget prolognya? :mrgreen:

Makan ini lhooo…
.
.
.
.
.
*hening*
*ditinggal pembaca* *yakalo ada* *kalo ada yang ninggalin, maksudnya*
.
.
.
.
.
Oke, sebelumnya kita lihat dulu apa kata Wikipedia mengenai santapan kali ini.

Udon (饂飩?, usually written as うどん) is a type of thick wheat flour noodle of Japanese cuisine.Udon is often served hot as a noodle soup in its simplest form, as kake udon, in a mildly flavoured broth called kakejiru, which is made of dashi, soy sauce (shōyu), and mirin. It is usually topped with thinly chopped scallions. Other common toppings include tempura, often prawn or kakiage (a type of mixed tempura fritter), or aburaage, a type of deep-fried tofu pockets seasoned with sugar, mirin, and soy sauce. A thin slice of kamaboko, a halfmoon-shaped fish cake, is often added. Shichimi can be added to taste.

Dan melihat bentuk mie-nya yang tebal, gw teringat pada jjambbong atau champong, salah satu hidangan Korea berupa mie yang disajikan dengan kuah merah yang pedas dengan beberapa jenis makanan laut dan sedikit sayuran didalamnya. Hanya sepertinya tekstur mie pada udon lebih tebal dan kenyal. Jjambbong sendiri diperkirakan berasal dari Jepang, masuk ke Korea dan mendapat pengaruh dari Cina.
Jadi jelas dong makan apa gw dan Nyonya Besar kali ini. Dan di mana lagi makannya kalo bukan di meja makan tempat makan udon paling hip di jagat Jakarta!

???????????

Kebetulan gw masuk dari South Gate-nya Gandaria City, jadi begitu masuk langsung naik eskalator di sisi kanan kita dan sampailah kita di Upper Ground. Begitu menjejakkan kaki di Upper Ground, tanpa perlu mencari-cari kita bisa langsung menemukan posisi Marugame Udon karena letaknya yang memang mencolok mata. Tepat di tengah, dan dengan huruf-huruf neon ukuran besar yang berpendar terang benderang. Dari jauh terlihat antrian pengunjung yang ingin memesan makanan.
Dan ternyata, kalo gw nggak salah membandingkan dengan tempat lainnya yang sejenis di sana, Marugame Udon menempati area yang lebih luas. Konsepnya open kitchen, dimana pengunjuang harus memesan terlebih dahulu baru boleh memilih tempat duduk. Itupun ditentukan, ada area untuk pengunjung yang datang hanya berdua dan area lain untuk pengunjung yang datang dengan kelompok lebih dari dua orang. Pengunjung yang hanya dua orang ditempatkan di depan open kitchen. Jadi sambil makan, kita bisa melihat lalu lalang orang dengan leluasa, juga melihat-lihat ada apa di Ground Floor.

???????????
???????????
???????????

Konsep open kitchen ini entah bagaimana memberikan energi dan semangat tersendiri bagi pengunjung, paling tidak itu yang saya rasakan. Melihat para petugas meracik makanan dengan sigap di belakang tumpukan mangkok, panci berisi kuah panas, ataupun barisan tempura, membuat kita merasa senang dan bersemangat juga. Sikap cekatan mereka membuat saya berpikir bahwa mereka well trained dan nggak hanya itu, mereka juga melayani dengan hati. They smiled, nggak ada tuh yang namanya cemberut. Bahkan mereka menjelaskan dengan sabar hal-hal yang ditanyakan pengunjung. Wajar kan konsumen ingin tau tentang segala sesuatu yang dibelinya? Dan jempol juga buat pengunjung lain yang antri, nggak ada yang mengomel karena antrian jadi berjalan pelan.

Kami melihat-lihat menu yang terbagi menjadi dua bagian besar yang terdiri dari 8 pilihan udon dan 4 pilihan nasi dengan harga tertinggi ada di angka IDR 50.000. Nyonya Besar memilih Tori Baitang Udon [IDR 40.909], udon yang disajikan dengan kuah kaldu kental berwarna putih pucat dan tiga buah bola-bola ayam dengan ukuran yang cukup besar. Sementara gw dari awal tak tergoyahkan memesan Mentai Kamatama Udon [IDR 45.455], udon yang disajikan dengan saus spesial, diberi topping telur ikan mentaiko dan telur ayam ½ matang *kayaknya banyakan mentahnya sebenarnya* yang dipecahkan didepan gw. Nyonya Besar mengernyit.

???????????

Untuk minumannya, yang jelas tertera ada 3 pilihan. Ocha dingin, ocha panas, dan air mineral. Tapi ada juga pilihan minuman soda kalengan, yang ini gw tau begitu melihat isi lemari pendingin didepan kasir. Ocha dingin dan sebotol kecil air mineral sama-sama dihargai IDR 9.091, dan khusus untuk ocha kita bisa refill sesuka hati.

Sebagai pelengkap makanan utama, kita bisa memilih Inari *sejenis nasi dipadatkan trus dibungkus tofu goreng gitu ya* dan Tempura yang tersedia dalam berbagai varian. Mulai dari kakiage alias tempura sayur, broccoli tempura, ebi tempura, cuttlefish tempura alias tempura sotong, tori tempura alias tempura ayam, dan lainnya. Ada 2 harga yang dibandrol untuk inaki dan tempura ini, yang dibedakan dari warna papan nama yang ditaruh di depan tempura-tempura itu. Kecuali Inari yang papan namanya berwarna putih dan dihargai kisaran IDR 10.000, tempura terbagi menjadi tempura dengan papan nama warna hitam dan warna merah. Mungkin papan hitam itu kelas premium ya, karena dihargai lebih mahal daripada yang papan merah. Tempura berpapan nama warna hitam, seperti ebi tempura dihargai kisaran IDR 12.000/pieces, sementara tempura berpapan nama warna merah, seperti broccoli tempura dihargai IDR 10.000/pieces. Kami memilih 1 buah ebi tempura [IDR 12.727], 1 buah tori tempura [IDR 10.909], dan 1 buah cuttlefish tempura [IDR 10.909].

???????????

Poin plusnya, gw pernah baca pada suatu sumber, konon katanya, tempura yang dihidangkan sangat-sangat segar ‘baru matang dari penggorengan’. Jadi kalau sudah lewat beberapa menit sesuai standar mereka dan tidak ada yang mengambil tempura tersebut, tempura itu akan dikembalikan ke dalam dan tidak akan dihidangkan.
Nah setelah kelar urusan pesan makanan comot tempura dan bayar-membayar, kita bisa menambahkan topping sesuai keinginan. Mulai dari wijen, cacahan jahe, sampai irisan cabe, lengkap disediakan di satu konter berbarengan dengan sumpit dan sendok.

Lalu gimana rasa si udon? Is the udon really that good?
Something claimed really good usually turned out that it wasn’t that good.

But not for this one.
Honestly, the udon is really GOOD!!!

???????????
???????????
Enough speaking. The review said it right. Mentai Kamatama Udon pilihan gw was superb! S.U.P.E.R.B.
Walaupun setengah matang, tapi nggak ada amis-amisnya sama sekali. Oh, cara makannya, you ask? Di aduk jadi satu dong, sehingga merata semuanya. Dan ya, disantap panas-panas. I assume kalo rasa lezatnya mungkin akan berkurang sedikit kalau dimakan saat sudah mendingin. Sementara Tori Baitang Udon-nya Nyonya Besar juga mantaaaaappp!!! Kuah kaldunya gurih dan bola-bola daging ayamnya pun cihui. Apalagi porsinya juga mengenyangkan. Sampe makan tempuranya pun harus pelan-pelan saking kenyangnya :mrgreen:

Dan apa kabar tempura?
???????????
Kebetulan saus khusus tempura disediakan di tiap meja. Kalo gw dan Nyonya Besar kan makan tempura sebagai makanan penutup, jadi setelah udon habis, tiba waktunya makan gorengan yang dicocol ke saus tersebut. And it was good! Tempuranya besar-besar dan itu memang tempura, maksud gw, bukan tepung goreng ala tempura-tempuraan dimana yang tebel itu justru tepungnya :mrgreen:

Tapi teteuplah, paling juara itu udonnya.
Sekarang jadi ketagihan, dan pengen ke sana lagi buat nyobain varian lainnya. Marugame Udon the best place to eat udon they said…

???????????
???????????

They said the truth 😉

[Warung Pasta]

Sekonyong-konyong tanpa ada api ataupun asap, Neng Erma menghubungi gw dan mengajak bertemu. It was a surprised to be frank, karena gw melihat si Neng yang satu ini bagai tenggelam dalam indahnya mahligai cinta setelah berstatus sebagai istri orang *dikekep Neng Erma*
Neng Erma bilang mau traktir, tentunya penawaran ini pantang ditolak dong. Setelah ada titik temu, pada hari yang ditentukan gw pun melenggang tenggo dari kantor. Dan dari kata-kata ‘tenggo’, bisa ditebak ya kalo saat itu si Bapak tentu tak nampak kehadirannya di kantor *sungkem sama Bapake* :mrgreen:

Ini kesannya kok kayak gw nggak bisa keluar kantor sesuai kontrak kerja ya selama si Bapak ada di tempat? Hmm… ya sebenernya bisa nggak bisa sih. Dan banyakan nggak bisanya karena, seperti yang pernah gw tulis beberapa waktu lalu, entah kenapa di zaman Sang Pemimpin Muda yang konon hanif ini kok rasanya seluruh perhatian dan pikiran gw tersita ke pekerjaan, seolah-olah tiba-tiba gw ditimbun dokumen-dokumen dan rapat-rapat yang tak berkesudahan. Maka ketika si Bapak out of office, gw kadang turut melemaskan otot sejenak.

***
“Ke Warung Pasta aja ya,” Neng Erma menentukan tujuan. Maka gw pun menyetop angkot Kalapa-Dago dari perempatan karapitan, dan turun tak jauh dari Warung Pasta. Ketika sampai, Neng Erma ternyata sudah menunggu di meja dekat toilet *penting ya penting ditulis* 😆

Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke sini, tapi baru kali ini berkesempatan mengabadikan dalam bentuk gambar sehingga akhirnya yaaa akhirnya bisa mejeng di blog *penting banget emang* :mrgreen:
menu warung pasta

Neng Erma memesan Baked Meat Lovers ukuran medium dengan pilihan pasta penne, sementara gw memesan Mac n Cheese. Salah satu keunikan makan di Warung Pasta memang pengunjung bisa memilih jenis pasta yang akan digunakan dalam olahan dan ukuran porsi itu sendiri, ada yang medium atau bisa juga pilih large. Tapi dalam kasus gw kali ini, karena gw memilih Mac n Cheese, ya jenis pastanya nggak bisa dipilih lagi karena udah disesuaikan dengan judul makanan, yaitu macaroni.
Untuk cemilan bersama, kami memilih BBQ Crusty Pizza, homemade pizza dengan adonan roti yang tipis dan topping yang cukup crunchy, dan Durian Calzone sebagai pencuci mulut.

erma meatlovers
my mac n cheese
Atas: Baked Meat Lovers-Penne [IDR 25.000, medium size], konon pasta yang dipanggang bersama saus daging, sosis, dan smoked beef. Menurut Neng Erma, rasanya lebih gurih dan lebih ‘ramai’ daripada Bawah: Mac n Cheese [IDR 33.500], pasta yang dicampur dan dipanggang bersama smoked beef, sosis, keju cheddar dan mozzarella. Mac n Cheese sangat ‘keju’ dan ‘creamy’.

beverages and the pizza
Our drinks: Lemon Mint Splash [IDR 17.500], frozen mix dari jus lemon, daun mint, dan es. Banana Milkshake [IDR 15.000]. Entah kenapa setiap kali ke Warung Pasta, gw selalu memesan Banana Milkshake ini. Buat gw rasanya pas, nggak terlalu manis dan rasa pisangnya juga nggak terlalu berat.

bbq crunchy pizza
durian calzone
BBQ Crusty Pizza [IDR 29.900] yang jadi cemilan kali ini adalah thin pizza dengan topping daging ayam asap dicampur saus bbq dan sedikit keju cheddar dan mozzarella sebagai taburan penambah gurih cita rasa. Rasanya average, not that good tapi acceptable. Sementara Durian Calzone [IDR 19.500] si pencuci mulut adalah calzone yang divariasikan lain. Kalau biasanya kita mengenal calzone dengan isi daging atau sayur, kali ini vla durian yang jadi jagoannya. Dan ketika gw bilang ‘vla’, rasanya memang seperti kue sus, lezat daging duriannya kurang terasa. Jadi kayak makan kue sus biasa dengan vla durian.

Varian lain dari calzone yang ditawarkan adalah Cheese Calzone [IDR 21.000]: pastel panggang isi keju cheddar, mozzarella, dan cream cheese. Pertemuan berbagai jenis keju ini membuatnya terasa sangat ‘creamy’, sangat ‘keju’, tapi juga ‘plain’ di satu sisi. Dan… walaupun terlihat ‘gemuk’ seperti ini, tapi sesungguhnya si Cheese Calzone ini sangat ngempos.
cheese calzone

Ngomong-ngomong, selain salad yang biasa jadi hidangan pembuka, boleh juga dicoba Cheese Ball [IDR 15.000]. Satu porsi Cheese Ball terdiri dari 3 buah nasi yang dibentuk seperti bola, digoreng dengan tepung panir, dengan isi keju mozzarella yang meleleh di dalam.
cheese ball

Well then, menurut gw rasa dan harga yang ditawarkan Warung Pasta berada dalam garis lurus yang seimbang, dalam arti, rasa yang ditawarkan cukup sesuai dengan harga yang dipatok. Dengan harga yang sepertinya disesuaikan dengan kantong mahasiswa, pengunjung juga jangan berharap terlalu banyak lah atas rasa yang tersaji. Poin pentingnya kan tetap tercapai kalo menurut gw sih… bisa kumpul berlama-lama bersama sahabat dan teman, entah sekedar cerita atau mengerjakan tugas, ditemani makanan dan minuman dengan rasa yang lumayan dan harga yang nyaman di dompet masing-masing. Apalagi, Warung Pasta sepertinya sering juga mengadakan program promo. Guess that’s enough?

Oiya… dapet salam dari Manten Baru 😆
???????????

[Gampoeng Aceh]

Ada yang kangen sama gw setelah beberapa tulisan terakhir mostly gw protect? Nggak ada? Ya nggak apa-apa juga sih… *terpuruk*
Tapi mari bersyukur, gw akhirnya bisa kembali menulis setelah akhir-akhir ini merasa sangaaaaattt…terkuras habis energinya hilang moodnya terbang semangatnya dan pengennya cuma meriksa dokumen-dokumen trus leyeh-leyeh begitu sampe kos *lirik si Bapak* *abaikan* :mrgreen:

***
Awalnya, senin pagi menjelang siang, gw menghubungi seorang rekan sesama caleg dari partai dugem alias dunia gembul alias lagi dudul & gembira *krik krik krik*. Seperti biasa kalo lagi sok sedih, gw langsung cari teman untuk melampiaskan perasaan yang berkecamuk di hati *eciyeciyeee*.
Btw kenapa gw sedih lo tanya?
Gara-garanya di senin pagi itu terjadilah sesuatu peristiwa yang membuat gw bersenandung, “and you treat me like a stranger and that feels so rough…” sambil sesegukan di kubikal. Ujung-ujungnya ketebak kan, gw pun whatsapp Neng Erma.
“Cuuuyy… gw lagi sedih nih. Mabok-mabokan yuk!”
Neng Erma yang tumben-tumbennya lumayan prompt response dalam membalas whatsapp pun mengusulkan hari kamis sebagai hari mabok-mabokan. Tentu gw setujui seketika.
“Cucok bo! Kamis Bapake nggak ada” *tipikal karyawan teladan* :mrgreen:

Tapi karena gw ‘cheap and freak and obvious like that’, masih dalam hari yang sama gw kembali bergembira. Walaupun rabu pagi menjelang siang, hati gw kembali drop, tapiiiii ya karena gw ‘cheap and freak and obvious like that’, rabu sore gw kembali cerah ceria.
Ditambah lagi, kamis siang gw berhasil menelepon si Papih. Padahal kangen juga nggak sih 😆 *denial* *nooo!!!*

Daaann karena lagi seneng, rencana mabok-mabokan pun berubah menjadi… mabok-mabokan karena lagi gumbira *eh* dan dengan jumawanya gw berkata pada Neng Erma, “on me ya!”, hanya untuk menemukan setelahnya, tempat yang kami tuju… tutup!!! 😆

Stick to our itinerary, kami pun mampir ke riau junction. Neng Erma mencari baju, sementara gw karena lagi ganjen dan lagi niat melet orang, ended up dengan kantong etude house ditangan.
Lihat-lihat foodcourt-nya, kayaknya kok tidak memancing salero basamo. Akhirnya Neng Erma mengusulkan agar kami makan di…

???????????
Gampoeng Aceh
Jl. Ir. H. Djuanda No. 37 Dago
Salah satu yang kami incar sejak lama sebenarnya, hanya saja entah kenapa selalu disalip oleh tempat makan lainnya dan malah keduluan nyicipin Kedai Aceh Cie RASA Loom

Gampoeng Aceh didesain semi terbuka, tampak mukanya memperlihatkan berderet-deret meja dan kursi yang disediakan bagi pengunjung untuk menyantap makanan. Kursinya seperti kursi-kursi di pesta pernikahan; kursi besi dengan bantalan merah. Nama sebuah produk rokok terpampang besar-besar di beberapa bagian dinding. Sepertinya tidak ada pemisahan bagian smoking dan non smoking, karena kami melihat beberapa pengunjung bebas merokok dimanapun. Hampir sama dengan Kedai Aceh Cie RASA Loom, interior Gampoeng Aceh didominasi warna merah dengan cahaya temaram.
???????????
???????????

Neng Erma memutuskan untuk memesan Mie Rebus Biasa [IDR 15.000] dan segelas Es Timun [IDR 9.000] kesukaannya. Sementara gw memesan Mie Goreng Biasa [IDR 15.000] dan segelas Teh Tarik dingin [IDR 15.000]. Tadinya kami ingin mencicipi cane durian, sayang saat itu segala sesuatu yang mengandung durian sedang habis. Akhirnya kami memesan Cane Keju Susu [IDR 20.000] sebagai selingan.
???????????
???????????
???????????
???????????

Entah karena kami saat itu sangat lapar atau memang citarasa hidangan yang disajikan memang enak, tapi baik gw maupun Neng Erma merasa makanan dan minuman yang kami pesan sungguh pas rasanya di lidah kami. Bumbu mie rebus dan mie gorengnya pas, rempahnya terasa dan pedasnya menyatu dengan baik. Sementara es timun dan teh tarik dingin pun sungguh menyegarkan dahaga. Tidak terlalu manis, tidak terlalu machtig… gw memang menyukai teh tarik dingin yang light, yang tidak terlalu pekat rasa susunya.
Jangan ditanya mana yang lebih enak, Kedai Aceh Cie RASA Loom atau Gampoeng Aceh, karena kami sudah lupa citarasa di tempat yang pertama.
Gw cuma bisa bilang, gw dan Neng Erma suka dengan Gampoeng Aceh ini. Makanan dan minumannya pas dengan indera pencecap kami, porsinya pas tidak kurang dan tidak berlebih, harganya bersahabat dan tanpa pajak. Mengenai tempatnya? Yah… ini kan bukan café tempat nongkrong berlama-lama, jadi interiornya pun seadanya. Selama bersih sih gw nggak masalah.

Ow… hampir lupa satu hal.
Cane Keju Susu-nya punya tampilan yang sama dengan cane keju susu di Kedai Aceh Cie RASA Loom. Sama –sama diberi topping keju cheddar parut dan didampingi satu gelas kecil seukuran gelas sloki berisi susu kental manis. Hanya saja, topping keju di Gampoeng Aceh lebih murah hati, dan kami lebih menyukai Cane Keju Susu keluaran Gampoeng Aceh daripada yang kami coba di Kedai Aceh Cie RASA Loom.
???????????
***
Seperti biasa, acara mabok-mabokan selalu kami isi dengan bertukar cerita. Dan saat itu *sampai sekarang juga sih* gw sedang semangat-semangatnya berceloteh tentang apa-apa yang baru dalam hidup gw. Dan itu membuat Neng Erma melontarkan pernyataan yang membekas di pikiran gw.

“Aku senang melihat kamu sedih bukan karena dia, Ke”

Super sekali, Neng Erma!

Tapi tapi tapi…
Ini sedihnya lebih nggak bener lagi, Maaa!!! :mrgreen:

[Daebak] Experience Korean Taste

Awalnya gw nanya-nanya soal sop durian di pertigaan ramanda yang konon lagi femeus-femeusnya karena rasanya yang nyam-nyam banget dan duriannya yang nendang. Eh pichunotes malah ngajak gw untuk nyoba sop durian itu. Eh ndilalah kok malah jadi end up di tempat ini :mrgreen:
Nggak juga sih… bisa sampai ke tempat ini juga atas usul gw.
Sebenernya gw melemparkan opsi pada Vika, mau makanan arab atau korea. Ternyata Vika preferred Korean taste, dan gw, karena emang udah lama pengen nyoba tempat ini, ya hayuk aja lah.

Terletak persis diseberang perumahan Pesona Khayangan di jalan Margonda nomor 239, Daebak Fan Café tampil tidak mencolok dibandingkan dengan ruko-ruko di sisi kanan dan kirinya.
Daebak sendiri bisa dibilang merupakan bahasa korea slang untuk mengungkapkan kekaguman. Kira-kira bisa diartikan sebagai ‘wow!’ atau ‘awesome!’

tampak depan

front banner

Dipintu masuk, dipasang banner yang sepertinya memuat hampir seluruh informasi mengenai Daebak. Dan disitu ditulis juga kalo mau makan atau takeaway, langsung aja naik ke lantai dua. Bener aja, begitu buka pintu, langsung ketemu sama lorong sempit. Kenapa sempit, karena sebagian besar ruangan digunakan sebagai dapur. Jadi, dapur tempat menyiapkan makanan ada di lantai satu, sementara tempat menyantap ada di lantai dua.

Lantai dua sendiri terbagi menjadi dua ruangan, yaitu Hongdae room dan Bukchon room. Tidak ada yang membedakan kedua ruangan itu, kecuali hiburan yang disuguhkan di masing-masing TV yang dipasang diujung ruangan. Namapun café korea ya, yang dipertontonkan ya nggak jauh-jauh dari boyband dan girlband yang, dalam pandangan mata gw, mukanya sama semua *ya maap deh Korean fans*

daebak inside

bukcheon room

Kalaupun ada perbedaan lain, itu adalah interior kedua ruangan. Bukchon room lebih kalem dan damai dengan gambar-gambar alam dan kuil-kuil korea menghiasi dinding, sementara Hongdae room jauh lebih berwarna, penuh dengan poster artis korea dan tempelan post it dengan warna-warni mencolok mata. Post it-nya sendiri berisi macam-macam pesan, mulai dari yang biasa berisi testimoni tentang Daebak, sampai yang abege banget yang berisi salam penuh cinta untuk artis-artis korea *yang percayalah, dibaca juga nggak sama si artis… ya menurut ngana???*, bahkan ada juga yang menulis menagih janji dinikahi oleh pacarnya, minta dilamar, dan lain sebagainya yang bikin gw dan Vika ngakak miris membacanya. Maklumlah kalo banyak ucapan-ucapan untuk para mega bintang korea, konon Daebak memang café pertama di Indonesia yang dijadikan *atau menjadikan diri sendiri?* base bagi para pemuja K-pop.

doh! ababil to the max

wallcover

Yah… baik gw maupun Vika mengakui bahwa cewek-cewek Korea memang cantik-cantik, dengan penampilan yang begitu seragam. Tubuh semampai, kaki panjang, kulit berkilau bagai porselen, rambut panjang terurai, dan make up melapisi wajah tanpa cela. Mereka semua bagai boneka yang dengan mudah ditemui di mana saja. Di mal, di dalam subway, di area pendidikan…
Cowok-cowoknya pun cantik. Iya, cantik, bukan ganteng. Tak terhitung berapa banyak lapisan yang mereka pakai untuk melapisi wajah. Cowok korea pun senang berdandan. Gw jarang sekali menemukan cowok korea yang ‘cowok’ banget tampilannya. Mengamini Vika, gw setuju ketika dia bilang bahwa kalau mau melihat wajah asli artis korea, lihatlah ketika mereka masih kecil. Itulah wajah asli mereka.

Gw dan Vika memilih duduk di pojok Hongdae room. Selain kami, saat itu dua meja lain terisi dengan remaja-remaja perempuan yang ramai menyantap hidangan sambil berfoto. Gaya berfotonya? Pastinya dengan gaya yang dianggap akan membuat mereka terlihat ‘imut’ dan ‘lucu’.

Kami melihat-lihat buku menu, yang sama seperti post it yang menutupi dinding, juga penuh warna. Menu yang ditawarkan adalah menu yang cukup populer, seperti kimchi, ramyeon, yukgaejang, sundubu jjigae, bibimbab, kimbab, tteokpokki, kimchi jeon, dan kimchi jigae.
Gw mencari albab diantara menu-menu itu, dan tidak menemukannya. Nggak terlalu heran juga sih, lha di korea aja agak sulit menemukan rumah makan yang menyediakan albab.

menu1

menu

Membaca daftar makanan yang tertera di buku menu, gw jadi tersenyum-senyum sendiri dalam hati. Konon, kimchi, ramyeon, yukgaejang, kimchi jeon, dan tteokpokki adalah hidangan yang paling populer diantara pengujung Daebak. Gw mencoba mengingat rasa makanan-makanan tersebut di negeri asalnya. Gw pernah mencicipi ramyeon yang enak di daerah byeokje, rasanya persis seperti mie tek-tek, hanya ada tambahan potongan kue beras dan kue ikan didalamnya. Tak lama sesudah itu, gw mendengar bahwa bahan yang digunakan untuk membuat mie pada ramyeon mengandung sesuatu yang kehalalannya diragukan. Sejak itu gw tidak lagi makan ramyeon.

Cafeteria kampus dulu sering sekali menyediakan masakan berbahan dasar daging babi. Maka pilihan makanan gw jatuh pada sayur-sayurannya, plus sebungkus gim atau nori, alias lembaran rumput laut yang dikeringkan dan bercita rasa gurih. Kadang gw makan hanya kimchi jeon dan nori, atau miyeokguk dan nori. Kimchi jeon itu semacam pancake atau omelet tipis ala korea, disajikan dengan saus asam gurih encer seperti pada saus pendamping sushi, sementara miyeokguk adalah sup bening dengan rumput laut dengan rasa yang cenderung hambar.

Lalu tteokpokki, ah… kue beras dan sedikit potongan kue ikan dengan saus pedas dan sedikit rasa manis, gw tidak terlalu menggilainya. Biasa saja, bagi gw tidak terlalu istimewa. Sementara kimchi, kimchi selalu ada disediakan di restoran korea dan seinget gw, kita tidak perlu membayar untuk menikmati kimchi ini.

Kemudian yukgaejang, sup pedas gurih berisi daging sapi, jamur, dan somyeon yang dimasak dengan kaldu sapi, gw ingat ini adalah makanan ‘spesial’ yang disediakan oleh cafeteria saat kami wisuda.

Ada pula jjampong. Jjampong, selain albab, punya tempat tersendiri di hati gw. Walau hanya satu kali makan jjampong di daerah konkuk, tapi nostalgianya luar biasa.

Vika memesan sundubu jjigae, atau sup tahu semacam tahu sutra, dimasak dengan kaldu sapi, dan didalamnya ada telur yang tidak terlalu matang. Gw mencoba sedikit makanan Vika. Kuah sundubu jjigae-nya segar, gurih kaldunya terasa dan lebih ‘nendang’ daripada yang pernah gw coba di negara asal. Gw cukup yakin cita rasa makanan korea di Daebak ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia yang terbiasa dengan makanan berbumbu ‘berani’. Sejauh yang gw ingat, cita rasa makanan korea yang sebenarnya jauh lebih hambar.
Sejak awal, gw berniat memesan chamci kimbab alias kimbab isi tuna. Ternyata Daebak menyediakan hanya kimbab biasa berisi sayuran. Satu porsi terdiri dari 11 potong kimbab. Bersama-sama dengan sundubu jjigae, chamci kimbab termasuk makanan ‘aman’ yang sering juga gw pesan saat sedang jalan ke downtown Seoul.

sundubu jjigae & kimbab

korean tea peach & apple
atas: Sundubu Jjigae IDR 34.545 | Kimbab IDR 26.363
bawah: Korean Tea Peach IDR 16.363 | Korean Tea Apple IDR 16.363
and all are subject to 10% tax

Untuk minumannya sendiri, ada Korean Tea dengan berbagai pilihan rasa, Choco Uyu alias susu coklat, cappuccino, Patbingsu yang berubah nama jadi Podengbinsu karena disajikan dengan es podeng asli Indonesia, dan ada yang unik yang dinamakan fandom punch, minuman racikan yang hanya Daebak yang punya. Sayang, dengan fandom punch yang cukup banyak ragamnya itu, tidak satupun yang diberikan deskripsi, minuman ini dibuat dari campuran apa atau bagaimana rasanya.
Vika memesan Korean Tea dengan rasa peach, sementara gw memesan Korean Tea dengan rasa apel. Rasanya sungguh segar, apalagi dengan adanya potongan buah asli didalamnya.

Menurut gw, rasa makanannya so-so, tapi masih worth the price kok. Tempatnya pun demikian. Biarpun ada AC, tapi ruangan tetap terasa gerah. Yang dingin hanya bagian dibawah AC saja. Walaupun tidak terlalu spesial, pecinta Kpop pasti senang berada di sini. Mungkin, poster sang idola yang menutupi dinding akan membuatnya merasa berada di negara yang sama dengan yang dipuja.

Eniho, nge-date sama Vika ini membuatku merasa minder. Yaabeeess… biasa kan kalo sama Neng Erma, I’m the one who controlled everything, I’m such a control freak, you know…terutama dalam hal foto-memfoto, walaupun gw amateur. Tapi kali ini gw jalan sama Vika, boookk… yang emang beneran fotografer dengan peralatan perang yang juga canggih *elus-elus kamera saku gw* 😆

pichu
ini si pichu

[Le Marly]

Kami berpelukan ketika bertemu. Rasanya seperti sudah lamaaaaa sekali tidak berjumpa, padahal mungkin baru satu bulan yang lalu kami terakhir bertemu. Tapi ini pertama kalinya kami bertemu lagi sejak dia menikah. Dan bahkan sebelumnya, saat gw mendengar kabar darinya bahwa dia akan segera menikah, gw sudah menyadari sepenuhnya, waktu kami untuk bermain bersama akan jadi sangat sangat sangat berkurang atau mungkin juga hilang. Pelan-pelan, gw merasa ketakutan itu menjadi kenyataan. Dan karenanya gw menahan diri untuk tidak menanyakan kapan kami bisa bertemu karena gw khawatir kecewa kalau ternyata dia tidak bisa.
Maka ketika pagi hari sebelum berangkat gw membaca pesan darinya, gw langsung menyanggupi. Sore hari sepulang kerja, setelah kembali sebentar ke kos, gw pun berjalan ke jalan veteran dengan diiringi rintik hujan, dan kemudian menaiki angkot hijau jurusan sadang serang, dan turun persis didepan masjid istiqomah.

***
Kesannya gw shalihah banget ya, mainnya ke masjid 😮
Padahal tujuan utamanya terletak tepat di depan masjid, lebih tepat lagi di jalan citarum nomor 70. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya gw ke sini. Tapi gw nggak bawa kamera ketika kunjungan perdana itu, apalagi perginya pun sama rekan-rekan kerja. Jadi diniatin lah, harus ke sini lagi. Alasannya dua; makanan dan minumannya enak-enak dan interiornya keren banget. Bagi fotografer amatir macam gw yang hanya bisa menghasilkan foto ciamik kalau objek fotonya juga cantik, ruangan yang ditata apik menarik sungguh sangat penting untuk bisa pamer foto yang lumayan kinclong dimari :mrgreen:

***
Sambil menunggu yang ditunggu datang, gw pun berkeliling sambil sibuk mengarahkan kamera ke sudut-sudut yang menarik perhatian. Para pelayannya sungguh baik dan ramah. Mereka sepertinya memahami kenorakan gw meneliti tiap sudut, dan hanya mengangguk sopan sambil melempar senyum saat gw asyik beterbangan ke sana kemari.

Le Marly ini memang cantik sekali. Didominasi warna bumi seperti coklat, merah bata, hijau, dipadu kursi kayu bercat putih bergaya shabby chic dan sofa empuk, interior ruangan ditata sangat nyaman, membuat pengunjung betah berlama-lama.
Pertama kali melangkah masuk, kita sudah bisa melihat dapur tempat para koki menyediakan hidangan. Konsepnya memang open kitchen, dan konsep ini disajikan dengan baik sekali karena terpadu dengan ruang makan tapi nggak bikin suasana makan jadi terganggu.
Sebagian dinding ruangan dihias dengan botol-botol minuman yang ditata sedemikian rupa hingga tampil menarik. Sebagian lagi digunakan untuk menaruh peralatan-peralatan dapur, ditata semenarik mungkin. Selain peralatan dapur, ada juga botol-botol selai, minuman kaleng, bahkan kue-kue kering yang dijual juga dijadikan pemanis ruangan. Ada juga quotes yang dipajang di dinding, bahkan ada peta jalur metro kota paris dipasang disana. Keren dan niat banget deh desainnya! Kalo nggak inget batere kamera yang udah kelap-kelip sakaratul maut, rasanya gw masih akan lompat sana lompat sini untuk mengabadikan tempat yang satu ini.
le marly inside

le marly inside 2

le marly inside 4

le marly inside 5

le marly inside 3

***
Menjelang maghrib, yang ditunggu tiba. Dan kami berpelukan erat, seperti bertahun-tahun tak bersua.
Langsung melihat-lihat menu yang memang sudah disiapkan di meja sejak gw datang. Pada papan menu tertulis hanya makanan.

menu

Menu minumannya mana?
Satu lagi yang unik nih. Pilihan minuman ditaruh di botol minuman yang ada diatas meja. Kreatif deh! Kepikiran aja gitu bikin menu misah-misah gini.

Senada dengan namanya, Le Marly menyediakan menu ala western, mulai dari salad, sup, pasta, pizza, hingga pancake dan waffle. Menu nasi ada, tapi tetap dalam citarasa barat alias disajikan dalam bentuk butter rice dengan berbagai pilihan topping. Sementara untuk pilihan minuman didominasi oleh banyaknya pilihan mojito, kopi, dan milkshake.

Kamipun memesan beberapa makanan yang disebut-sebut sebagai chef’s recommendation. Sambil menunggu pesanan datang, kami bergantian shalat maghrib.

***
Bertambah lagi nilai plus Le Marly. Setelah interior yang menawan, toiletnya ternyata cukup bersih *walaupun nggak ada tisu ya* dan yang lebih penting dari itu, mereka menyediakan mushala. Padahal mereka terletak tepat di depan masjid, tapi mereka tetap menyediakan mushala dan yang bikin gw kaget-kaget bergembira nih, mushalanya nyaman banget! Ada tempat wudhunya yang bersih dan tak berbau, mushala yang cukup luas, sajadah yang bersih dan empuk, perlengkapan shalat yang wangi… baru kali ini ada café dengan mushala yang patut diacungi jempol. Ini poin plus banget, terutama buat gw yang ribet kalo udah urusan shalat. Memang deh ya, orang itu kalo mau bikin usaha, nggak boleh tanggung-tanggung. Harus fokus *kenapa gw pilih kata-kata ini sih?*, total, total, dan total.

***
Please take a note: all price are subject to 15% tax and service charge

our dinner
Pizza Bianchi Russo IDR 43.000 – smoked beef, beef sausage, pineapple, mushroom, mozzarella | Butter Rice IDR 39.000 – with prawn and dori fish in pesto
Satu loyang pizza terdiri dari 8 potong pizza tipis yang renyah dengan topping melimpah. Puas deh makannya karena bukan kenyang makan tepung tapi kenyang makan topping. Sementara butter rice-nya itu rasa ‘creamy’-nya seolah meleleh di lidah tapi nggak bikin eneg. Gurihnya pas, nggak berlebihan. Paduan yang oke banget dengan udang dan ikan dori-nya. Dan rasanya? Dua-duanya enak! Suka suka sukaaaaa!!!

nutty hazelnut and peach mojito
Cold Coffe – Nutty Hazelnut IDR 23.000 | Peach Mojito IDR 23.000
Siapa pesen apa udah bisa ditebak dong ya… gw pasti pesan kopi, biarpun gw udah ngopi pas pagi hari di kantor, tapi pembelaan gw bahwa gw puasa keesokan harinya jadi dasar pembenar gw untuk minum kopi LAGI dalam satu hari yang sama. Dan gw suka suka sukaaa Nutty Hazelnut ini. Kombinasinya *walaupun gw nggak tau kombinasi apa aja* rasanya pas banget. Nggak terlalu ‘kopi’, rasa manis yang pas, rasa ‘creamy’ yang nggak bikin eneg, rasa dan aroma kacang yang lembut… kekurangannya cuma satu; kurang banyak! 😆
Sementara Peach Mojito-nya, kata si pecinta mojito, pun enak. Untuk mojito, pengunjung bisa memilih apakah buahnya mau diblended atau disajikan utuh. Ngaruh soalnya… ngaruh ke harga :mrgreen: buah yang disajikan utuh dihargai lebih mahal. Contohnya si Peach Mojito ini, yang peach-nya diblended dihargai IDR 20.000 saja.

nutty green tea pancake
Nutty Green Tea IDR 28.000 – pancake or waffle, nutty, green tea sauce, green tea ice cream
Ini dessert yang ketika dihidangkan oleh sang pelayan, membuat dahi kami berkerut karena antara tampilannya dan warna piringnya itu… nggak matching! Penting ya? penting dooooonnngg…
Dengan warna hijau es krim green tea bertabur almond dan sejumput nutella, kenapa disajikan diatas piring berwarna biru begini sih?
Kenapa bukan piring berwarna baby pink, atau warna khaki, atau warna putih sekalian?
Anyway, es krim green tea-nya sih green tea abis lah, ya aromanya, ya pahit-pahitnya… pas di lidah ketika dipadu dengan nutella. Sayangnya, pancake kurang lembut.

Selain yang kami pesan itu, menu Tarantasca dan Creamy Caramel juga nggak kalah enak. Tarantasca itu semacam fettucine carbonara, kayak saudara kembar gitu lah. Sementara Creamy Caramel cocok bagi pecinta kopi dan pecinta yang manis-manis. Gw suka sih creamy caramel, tapi somehow rasanya terlalu manis aja buat gw. Kalo bicara preferensi, gw lebih memilih Nutty Hazelnut daripada Creamy Caramel.
Oiya, untuk Tarantasca dan Creamy Caramel nggak ada fotonya karena… ya yang tadi gw bilang di paragraf awal.

***
Kesimpulannya?
Harga bolehlah disebut premium, tapi it really worth every penny kok. Good food, good interior, good ambience, quite nice restroom, and surprisingly clean and neat mushala… Le Marly is very much recommended!

***
“Udah hamil belom?”
“Rasanya aneh, Ke, ngomongin hamil sama dirimu. Soalnya kalo lagi bareng gini aku tuh berasanya masih single aja. Padahal udah nggak perawan”
*eh*

Jadi, ke mana kita berikutnya, Neng Erma?

[DAKKEN] Coffee & Steak

beautiful dakken
DAKKEN, sekitar pukul 20:30

DAKKEN was on our top list and finally, mission accomplished! *tebar confetti*

DAKKEN Coffee and Steak

Sebenernya udah lama banget kan pengen main ke Dakken, tapi selalu aja jadwalnya nggak pernah match antara gw dan si Neng Erma, yang sekarang udah ganti kulit jadi Calon Mempelai Wanita *tembakan meriam 7 kali*
Biasalah ya, gilaran Neng Erma bisa, gw ketahan di kantor. Pas gw-nya sumangat, Neng Erma-nya ada kegiatan lain. Makanya pas akhirnya bisa janjian, langsung aja deh di gelar itu bachelorette party-nya.

Maka sampailah gw lebih dulu di Dakken ketika hujan rintik-rintik masih membasahi Bandung. Dakken terletak di Jl. RE Martadinata No. 67, persis di sebelah Cascade, berseberangan dengan julia’r, kuyagaya, dan shihlin. Konon, bangunan bergaya kolonial tempat Dakken berada ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Bandung, sehingga dipertahankan bentuk aslinya, yang pada zamannya mungkin berfungsi sebagai rumah tinggal.
Dakken memang memiliki banyak ruangan besar dengan dinding sebagai penyekat. Sepertinya ruangan-ruangan itu dulu mungkin berfungsi sebagai kamar-kamar, dan sekarang dengan adanya Dakken, berubah menjadi ruang-ruang privat untuk pengunjung yang datang berkelompok.

Karena gw cuma berdua sama Neng Erma, gw pun berjalan terus ke bagian belakang Dakken, mencari spot yang masih kosong. Dari bagian depan sampai belakang sudah penuh terisi pengunjung. Mungkin hujan membuat sore itu cukup dingin hingga banyak orang memilih melipir sebentar untuk menyeruput segelas kopi.

Gw memperhatikan sekeliling. Interiornya terasa hangat dan nyaman. Pencahayaannya redup, dan sofa-sofa empuk yang mendominasi ruangan membuat pengunjung betah berlama-lama duduk.
Teras belakang pun menyegarkan mata dengan rumput hijau dan pohon bambunya. Ada 3 gazebo bernuansa putih dipinggir halaman. Itu juga sudah penuh. Akhirnya gw duduk di dekat dapur. Para mahasiswa serius mengerjakan tugas mereka. Dakken memang terkenal sebagai tempat ngumpul, baik sekedar ngobrol, meeting, atau mengerjakan tugas. Ambience-nya memang sangat mengundang untuk merebahkan kepala diatas bantal kursi dan menyelonjorkan kaki.

backyard dakken

ambience inside

Nggak lama Neng Erma pun tiba, dan kami segera melihat-lihat buku menu.

menu

Dakken menawarkan cukup banyak pilihan makanan mulai dari appetizer hingga dessert, dimana hidangan didominasi citarasa barat. Untuk hidangan utama, misalnya, ada steak dan pasta. Sementara berbagai jenis cake ditawarkan sebagai hidangan pencuci mulut. Minumannya sendiri seperti biasa, ada kopi, teh, milkshake, dan jenis lainnya. Tapi ada juga pilihan beberapa menu asia. Sop buntut dan nasi goreng juga bisa dipesan disini.
Jagoan Dakken adalah kopi dan steak-nya. Namun kali ini kami ingin mencoba hidangan lain yang jarang-jarang ditemui.

crunchy caramel macchiato & dark chocolate iced cino
Crunchy Caramel Machiato IDR 18.000 & Dark Chocolate Iced Cino IDR 19.000 | karena Neng Erma berpuasa Tasu’a, jadi kami minta supaya minuman dikeluarkan lebih dulu. Crunchy Caramel Macchiato itu sebenernya macchiato yang dikasih cream dan cacahan kecil caramel. Awalnya terasa manis banget! Eh ternyata ya karena belum diaduk :mrgreen: enak sih rasanya, gak kopi banget dan cacahan karamelnya bikin kita ngerasa krenyes-krenyes kayak lagi makan permen yang meledak di dalam mulut itu lho *eh* Sementara Dark Chocolate Iced Cino itu sebenarnya mochaccino atau cappuccino *lupa* yang diblend sama cream dan dark chocolate. Menurut gw sih lebih enak Crunchy ya. Dark chocolate di Iced Cino itu gak kerasa banget.

cheese churros
Cheese Churros IDR 20.000 | Shredded cheddar, cream cheese dip. Ini salah satu appetizer yang kami pesan. Beda dengan churros yang pada umumnya berbentuk panjang kayak cakwe *eh*,Cheese Churros punya Dakken ini dibentuk benar-benar seperti arti namanya, ya itu berbentuk donat. Hanya si churros ini adalah donat yang lebih keras dan renyah dibandingkan donat biasa. Sementara dip-nya, biasanya churos kan pake hot chocolate atau café au lait sebagai dip-nya. Kali ini yang jadi dip-nya adalah cream cheese yang sangat creamy dan kerasa banget gurih kejunya.

mushroom fritters
Mushroom Fritters IDR 25.000 | Mozzarella stuffing, garlic cream sauce. Selain cheese churros, gw dan Neng Erma juga memesan jamur goreng yang diisi keju mozzarella didalamnya ini sebagai appetizer. Disajikan dengan garlic cream sauce sebagai saus pendamping, gw sukaaaaa gorengan ini :mrgreen: karena yaaa terdiri dari dua hal yang memang gw suka: jamur dan keju. Enak dimakan panas-panas, kejunya melted *yum*

spaghetti bolognaise
Spaghetti Bolognaise IDR 30.000 | Al dente spaghetti, traditional bolognaise meat sauce, shaved parmesan. Ini hidangan utama pilihan Neng Erma karena… karena ini makanan kesukaannya. Hihihi… dan menurut Neng Erma, rasanya ya seperti rasa spaghetti bolognaise pada umumnya *tepuk tangan untuk Neng Erma* Enak, tapi nggak istimewa. Enak, tapi masih lebih enak spaghetti-nya Brussel Spring. Maaf ya Dakken, ini pengakuan jujur konsumen lho 😉

lasagna smoked beef & cheese
Lasagna Smoked Beef & Cheese IDR 30.000 | Fresh pasta, smoked beef strips, béchamel, melted mozzarella, parmesan. Nah yang ini pesenan gw karena… karena gw pecinta lasagna. Dan karena steak mihil boookk… jadi pesen pasta aja ya :mrgreen: Pandangan pertama, wuiiiiihhh porsi besar nih. Suapan pertama… baru kali ini gw makan lasagna yang sangat sangat sangat… lembek. Jadi kayak makan bubur tapi lebih solid sedikit gitu lho. Dan sangat sangat creamy. Mungkin creamy dan lembeknya itu karena pake béchamel sauce alias white sauce ya. Béchamel sauce ini katanya dibuat dari butter sebagai bahan utamanya dan merupakan salah satu saus utama dalam kuliner prancis, dan konon digunakan pada resep orisinil lasagna. Pantaslah lasagna gw ini sangat creamy, buttery. Lasagna gaya béchamel ini merupakan hal yang baru bagi gw, dan it tasted good so yes, gw menikmati setiap sendok suapannya.

All in all, hidangannya enak-enak walaupun tidak istimewa. Ditambah ambience dan interior yang apik menarik ciamik, the price *with 10% tax and 5,5% service charge* sungguh worth the price. Gw mau deh balik lagi untuk mencoba appetizer yang lain beserta steak-nya. Oya, gw dan Neng Erma nggak coba cakes-nya karena semua cakes yang ditawarkan punya kandungan rhum didalamnya.

Bachelorette party kali ini bener-bener diisi dengan ngobrol panjang ngalor-ngidul dengan Neng Erma, sampai-sampai ketika kami menyudahi kunjungan, Dakken sudah sepi dari pengunjung. Tapi itu poin keberuntungan gw karena akhirnya gw bisa bebas mengambil gambar disetiap sudut, sampe ke toilet-toiletnya juga! Karena, surprisingly, mereka punya toilet bersih dan nyaman. Bukan cuma itu, toiletnya pun diberi sentuhan cantik. Suatu hal yang jarang dimiliki café-café. Seneng deh kalo banyak cafe antik cantik begini 😉

DAKKEN toilet
Special pictures of the restroom! Lampunya lucuuu… terus itu foto hitam putih dipasangnya di dalam bilik toilet lho, seriously.

Dan, nilai tambah lainnya, mushalanya *yang terletak di dekat parkiran motor* walaupun kecil, tapi cukup bersih. Satu-satunya mukena yang tersedia pun wangi.

welcome to dakken

mirror

dakken inside

family room

inside dakken

to the backyard

mushroom fritters & cheese churros
Cheese Churros and Mushroom Fritters taken by Calon Mempelai Wanita

Gw dan Neng Erma memisahkan diri di depan BIP, diiringi doa dari Calon Mempelai Wanita yang akan melangsungkan pernikahannya minggu pagi besok *in syaa Allaah ya bok*

“Semoga cepet ketemu tambatan hati ya”
“Lho, kalo tambatan hati kan akyu udah punyaaa”
“Eh… maksudnya yang nggak bertepuk sebelah tangan…”

Makjleb! *langsung kirim pelet pake FedEx* 😆 😆 😆

[Red Bean]

Another weekend with Nyonya Besar, and we decided to eat another peranakan Chinese cuisine, again, dan pilihan kali ini jatuh kepada Red Bean.

red bean

Berbeda dengan Rice Bowl yang cenderung remang-remang, pencahayaan di Red Bean lebih terang sehingga lebih mendukung mendapatkan gambar yang bagus *atau emang gw-nya aja sih yang kurang kemampuan sebagai fotografer amatir* :mrgreen:

Dan seperti juga Rice Bowl, tanpa banyak cakap kami langsung membaca deretan menu yang dimiliki restoran yang didominasi warna merah-oranye-kuning ini. Hidangan yang ditawarkan jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan Rice Bowl. Mulai dari menu sayur, ayam, ikan, udang, cumi-cumi, sampai berbagai jenis minuman. Hanya, Red Bean tidak memiliki pilihan appetizer cemilan kecil seperti Rice Bowl. Jadi nggak ada siomay, mantau, gyoza, atau apapun jenis hidangan sampingan lainnya. Sebagai gantinya, mereka menawarkan berbagai jenis bubur dan sup. Gw dan Nyonya Besar langsung memesan seporsi Sup Kepiting Asparagus yang dibandrol seharga IDR 42.900.
Untuk ukuran restoran yang, menurut gw, menyasar kalangan menengah, harga segitu dirasa mahal juga ya? Tenang, jangan panik dulu. Harganya sebanding dengan rasanya, dan yang jelas, dengan porsinya.
Satu mangkuk Sup Kepiting Asparagus itu ternyata besar lho! Gw rasa cukup untuk 5 hingga 6 orang kalau masing-masing ambil semangkuk tanpa nambah. Maklum, seperti juga Rice Bowl, sepertinya red Bean juga memang diperuntukan untuk makan besar kala kumpul keluarga.

Dan memang, bukan hanya Sup Kepiting Asparagus-nya yang berporsi mantap, tapi juga hidangan lainnya. Satu mangkuk nasi putih seharga IDR 6.950 saja sangat padat, apalagi nasinya pulen. Sangat mengenyangkan.

pokcoy jamur enoki
Pokcoy Siram Jamur Enoki & Jamur Shimeji IDR 44.900 | Seperti biasa, sayur mayur adalah santapan kesukaan Nyonya Besar. Dan, gw yang biasanya harus dipaksa-paksa dulu buat makan sayur *kecuali sayur sop* *jadi inget jaman di Korea dulu kalo lagi main sama Mr. Engineer ya* *modus banget deh bawa-bawa Mr. Engineer* kali ini dengan sukarela turut memamah hidangan ini. Pokcoy-nya krenyes-krenyes. Kuahnya yang sedikit itu juga pas sedapnya…kayaknya sih pake saus tiram ya… jamurnya juga enak *ya secara gw juga pecinta jejamuran sih*

cumi goreng madu
Cumi Goreng Madu IDR 53.900 | gw jarang makan cumi karena…suka gak tahan sama rasanya. Tapi untuk cumi yang digoreng garing, itu pengecualian. Nah dari sekian banyak pilihan menu cumi-cumi, gw dan Nyonya Besar memilih Cumi Goreng Madu ini simply karena… kelihatannya enak. Ya Alhamdulillaah ternyata emang enak. Cuminya lumayan kriuk-kriuk, tapi ya teteup… sebaiknya dimakan panas-panas.

chicken with lemaon sauce
Chicken with Lemon Sauce IDR 46.000 | sama kayak cumi-cumi, pilih ini pun karena kelihatan yummy… dan agak jarang juga kan Ayam Saus Lemon, jadi penasaran lah sama rasanya. Dan verdict-nya? Lemonnya kerasa bangeeeeettt… pait-pait asem gitu. Fillet ayamnya lumayan renyah sih, dipotong kecil-kecil dan disiram saus lemon. Ada potongan buah lemonnya juga.

terong udang
Terong Isi Udang Saus Szechuan IDR 47.900 | nah ceritanya kan gw demen bener sama terong goreng ya, jadilah pengen nyoba varian menu terong yang satu ini. Apalagi tampilannya menggiurkan, trus dikasih tau juga kalo dikasih topping daging udang yang dicincang kan… so yes it sounds delicioso. And it was! Terutama saus szechuannya yang disiram seadanya ke atas terong. Somehow it tastes really good. Daaann… porsinya beneran banyak. Satu piring berisi 6 potong terong yang gw rasa berasal dari 3 buah terong yang dipotong jadi 2.

jus timunanas
Our drinks: Mized Juice Ketimun Nanas IDR 23.900 & Frappe Green Tea IDR 25.900 | sebenernya ini yang pertama kali mendarat di meja kami. Frappe Green tea-nya muaniiiiisss pisaaann… tapi green tea-nya kerasa sih. Sementara Mixed Juice Ketimun Nanas-nya beneran unik dan seger banget, manisnya pas, cuma lama-lama ampas timunnya ngumpul di bagian bawah gelas.

Banyak ya makannya gw dan Nyonya Besar? Iya banget, dan jelas nggak akan habis. Nyonya Besar kan makannya sedikit sementara gw kan suka sok diet gitu. Jadilah makanan-makanan itu dibungkus, lumayan buat makan malem 😆

Jadi, kalau dibandingkan dengan Rice Bowl, kalo dari segi rasa hidangan mereka berdua ini sama-sama enak. Cuma Red Bean harganya memang lebih premium daripada Rice Bowl, tapi bisa dimengerti sih karena porsi yang mereka berikan juga lebih besar daripada Rice Bowl.
Terus, Rice Bowl masih mengenakan service charge 5%, sementara Red Bean nggak. Jadi cukup tambahkan komponen pajak 10% tanpa service charge.

All in all, it’s quite a good place to gather with our beloved ones, to share laugh and to have a nice homey-food 😉

the whole package
The whole package *YUM YUM* Alhamdulillaah…

[Rice Bowl] Family Restaurant

Beberapa minggu yang lalu, sepulangnya dari fitting kebaya *ini penting banget ya ditulis?* *padahal sih kebaya buat nikahan sepupu* *ngumpet di pojokan*, gw dan Nyonya Besar mampir ke satu-satunya mall paling hits di Depok. Tujuannya satu, mau makan siang. Lebih tepatnya sih makan siang yang sangat terlambat karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Oh, salahkan penjahit yang membuat kami menunggu sangat lama untuk fitting. Wanprestasi dia :mrgreen:

Nggak pake mikir lama, kami sudah duduk dan melihat-lihat menu di Rice Bowl. Pilihan menunya cukup banyak, dan yang ditawarkan adalah makanan yang sebenarnya adalah lauk pauk yang bisa dijumpai di meja makan rumahan sehari-hari. Sepertinya, menu-menu yang disediakan lebih berat ke cita rasa kuliner Tionghoa peranakan.

Gw dan Nyonya Besar memilih menu dengan komposisi yang diusahakan cukup lengkap. Maksudnya, harus ada sayuran hijau, ada makanan laut, ada daging… konsep 4 sehat 5 sempurna minus susu. Susu diganti sama Ice Lemon Tea seharga IDR 13.900 dan Es Teh Tarik seharga IDR 13.900. Keduanya sama-sama segar. Gw suka es teh tariknya, manisnya pas dan blend susu dan tehnya juga pas banget.

Selain memesan 2 mangkuk nasi yang masing-masing dihargai IDR 5.900, gw dan Nyonya Besar pun memesan makanan lain. Oya, nasinya pulen dan porsinya pun pas buat kami. Nggak terlalu banyak, tapi juga tidak sedikit.

gyoza
Gyoza IDR 13.900 | Ini makanan pembuka yang kami pesan. Kayaknya isiannya itu cacahan udang ya. Satu piring berisi 4 buah gyoza. Enak!

kungpao chicken
Kungpao Chicken IDR 34.900 | Konon termasuk salah satu jagoannya Rice Bowl. Memang enak, tapi ya gitu aja…maksud gw, bukan yang enak-enak buanget.

shrimp with salted egg
Shrimp with Salted Egg IDR 43.900 | alias Udang Telur Asin. Udangnya digoreng cukup renyah, tapi menurut gw telur asinnya kurang terasa.

seafood and tofu claypot
Seafood & Tofu Claypot IDR 42.900 | satu-satunya makanan berkuah yang kami pesan. Makannya harus panas-panas dan dikasih sambal supaya lebih pedas, baru deh nikmat disantap. Sesuai namanya, didalamnya ada beberapa hewan laut, seperti udang kecil dan potongan cumi.

brocoli with beef
Broccoli with Beef IDR 39.900 | Ini kesukaannya Nyonya Besar yang emang hobi makan sayur. Porsi brokolinya lebih banyak daripada potongan daging sapinya. Iya lah, kalo banyakan dagingnya berarti bukan broccoli with beef tapi beef with broccoli. Beef slicesnya empuk dan nggak alot, diiris tipis-tipis dan bumbunya meresap pas. Brokolinya juga kriuk-kriuk. Nyum!

Overall, pelayanan di Rice Bowl ini cukup sigap dan ramah. Areanya juga cukup luas, walaupun pencahayaannya sedikit redup sehingga kurang bagus untuk mengambil gambar *ya sampeyan niatnya mau makan atau pepotoan sih?* :mrgreen:
Dan menurut gw sih harganya reasonable dan worth it sama rasanya. Tapi jangan lupa ya tambahkan komponen pajak 10% dan service 5%. Patut lah dipertimbangkan sebagai tempat kumpul keluarga. Cocok sama tagline mereka. Rice Bowl: Family Restaurant.

[Mamak Kitchen] Thai – Malaysian – Singaporean Food | All in One Kitchen!

Kali ini awal ceritanya agak lain. Kalau biasanya gw denger-denger info tempat jajan baru itu hasil nguping rekan sekantor atau memang lewat tempatnya tanpa sengaja, tempat nongkrong kali ini gw temukan via internet ketika gw, seperti biasa, membuka-buka situs groupon disdus untuk melihat-lihat siapa tau ada promo atau diskonan menarik.
Pertama kali baca promonya kan ngerasa…lumayan juga ya diskon sampe 50% gitu. Trus kalo lihat tampilan makanan di foto-fotonya kan tampak menggugah salero, apalagi menu yang ditawarkan termasuk salah satu menu-menu favorit gw dan Neng Erma *bawa-bawa Neng Erma, cari pembelaan* :mrgreen:
Udah gitu lokasinya strategis pula, di tengah kota Bandung, termasuk dekat dari kantor.

Long story short, setelah menimbang ini itu, gw beli lah dua voucher groupon disdus itu. Satu voucher untuk paket B, dan satu lagi untuk paket D. Maksudnya ya supaya lengkap, ada cemilan, makanan utama, minuman, dan bubble tea. Maka pada suatu sore pada hari dimana gw mengenakan seragam abu-abu, bersualah gw dan Neng Erma di Mamak Kitchen.
Mamak Kitchen ini terletak di Jl. Riau No. 63, menempati sebagian kecil tempat di Heritage FO. Heritage FO itu sendiri terletak persis ditikungan, berhadapan dengan Stamp FO dan Kantor Pos. Mamak Kitchen ini terhitung baru, mereka menawarkan makanan-makanan ala peranakan Melayu dan Tionghoa, juga makanan-makanan khas Thailand.

Gw sampai terlebih dahulu dan setelah menghubungi Neng Erma yang masih betah di Gramedia, gw pun untuk memesan makanan lebih dulu. Oke, berdasarkan voucher yang gw beli, gw berhak atas 2 jenis cemilan, 2 jenis makanan utama, 2 jenis minuman yang pilihannya terdiri dari Thai Tea dan Teh Tarik, dan 2 jenis varian bubble tea.
Namapun pemanfaatan voucher diskonan ya cyiiiiinnn… menu yang bisa gw pilih pun terbatas. Tapi gak masalah, karena gw tetap bisa memilih hidangan-hidangan yang, katanya, merupakan recommended dishes atau best seller.

Maka inilah yang gw pesan *oya, gw tulis juga ya harga asli makan-minum ini, exclude taxes*

this is it

Roti Canai Egg IDR 22.000 | Roti Canai Banana Cheese IDR 26.000 | Nasi Lemak with Chicken Curry IDR 35.000 | Spicy Basil Chicken Rice IDR 36.000 | Ice Thai Milk Tea IDR 14.000 | Tarik Ice Tea IDR 15.000 | Taro Milk Bubble Tea IDR 22.000 | Chocolate Hazelnut Milk Tea IDR 21.000

foodism peranakan ceunah

menu + minuman

Nasi Lemak Chicken Curry jadi bagian Neng Erma, sementara gw mengambil alih Spicy Basil Chicken Rice. Nasi Lemaknya gak beda sama nasi uduk, dan lauknya yang terdiri dari ayam dengan kuah kari kental, sedikit ikan, dan setengah butir telur, menurut Neng Erma, biasa aja rasanya. Nothing special.
Spicy Basil Chicken Rice yang gw santap, selain sayuran hijau dan daging ayam, juga ada telur mata sapi yang gak well done. Kebetulan gw gak terlalu suka sama telur mata sapi yang pas ditusuk bagian kuningnya jadi meleleh, jadilah makan telurnya agak-agak sambil mengernyitkan dahi gitu. Rasa nasi dan lauk pauknya pun biasa. Daging ayamnya gak terlalu banyak, justru sayurnya yang mendominasi. Pengiritan kali, ya?

Abis makanan utama, kita mulai potek-potekin roti canai si cemilan. Gw pesan roti canai egg karena menurut mbak pelayannya, it tasted good. Roti canai egg itu sendiri disajikan dengan kuah kari. Pas dicoba… yah… biasa banget qaqaaa… malah cenderung hambar. Kuah karinya juga kami rasakan kurang berani bumbu. Roti canai banana cheese-nya juga sami mawon. Banana-nya gak kerasa dan kejunya pelit banget. Tekstur roti canainya pun cenderung kering, plain, dan tipis. Bukannya membandingkan ya, tapi roti canai Mamak Kitchen sama sekali bukan tandingan roti canai-nya Hayuda yang lekker luar biasa dengan topping melimpah itu, juga sama sekali gak sebanding sama roti canai yang kami cicipi saat di Penang.

Sambil makan, tentunya minuman di seruput dikit-dikit lah ya…
Penyajian es teh tariknya sih lucu, wadahnya semacam jar gitu. Tapi apakah rasanya selucu tampilannya?
Gak, qaqaaa… baik Ice Thai Milk Tea maupun Es Teh Tarik-nya, lagi-lagi kurang mantap rasanya. Lebih tepatnya, susunya kurang terasa, dan secara keseluruhan, kurang manis! Harusnya jangan dikasih judul teh tarik, tapi teh susu. Gak ada blenek-bleneknya teh tarik sama sekali. Itu cuma kayak teh dikasih susu terus dituang air. Udah.

Niatnya mau pulang sebelum waktu Isya, tapi saat itu hujan tiba-tiba mengguyur cukup deras. Jadilah si bubble tea, yang tadinya diniatin mau diminum di rumah aja, didaulat jadi minuman penutup sambil menunggu hujan reda.
Dan ya… Taro Milk Bubble Tea-nya lumayan, sedikit lebih baik dari Chocolate Hazelnut Milk Tea. Yang disebut terakhir ini, entah kenapa sama seperti pendahulu-pendahulunya. Terlalu biasa, terlalu plain, pelit ingredients tampaknya.

Jadi, verdict gw dan Neng Erma?
Dua review yang gw temukan di TripAdvisor bilang kalo Mamak Kitchen ini very good and recommended, but i don’t know… Mungkin gw dan Neng Erma memang bukan ahli icip-icip atau lidah kami yang mati rasa, but just let’s find another place with better taste and worth price.
Untuuuuunnnggg gw ke sana modal voucher diskon groupon disdus… each voucher valued IDR 50.000, dua voucher berarti IDR 100.000.

I just think that it wouldn’t be fair enough to pay up to IDR 200.000 for the taste they offered.

Mohon maaf lahir batin ya, monggo diterima sebagai kritik membangun 😉

[Sop Konro Marannu]

Sekitar dua hari sebelum datangnya Ramadhan yang lalu, seperti biasa gw dan rekan-rekan kerja mulai bingung mau makan apa karena bosan dengan makanan sekitar kantor yang itu-itu saja. Sekonyong-konyong tanpa diduga, si Papih datang ke ruangan kami dan mengajak makan diluar. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengiyakan dan selanjutnya mengekor ke mana si Papih pergi.
Ternyata si Papih membawa kami ke tempat makan makanan dari daerah asalnya nun jauh di Bugis sana. Papih memang orang asli Makassar, dan hari itu manusia sekantor kekenyangan ditraktir masakan Makassar, plus dibekali satu porsi es pisang ijo masing-masing orang ketika pulangnya.

Baru pertama kali itu gw makan makanan Makassar, dan langsung terkesima dengan rasanya yang menurut gw… endang bambang gurindang mantab surantab. Belom lagi porsinya yang dalam penglihatan gw kala itu, sungguh memuaskan. Pendek kata, emejing lah :mrgreen:

Tapi karena gw bersenang-senang bersama kolega dan tanpa direncanakan sebelumnya, itu berarti gw gak bisa pepotoan. Dengan modus ini, gw pun kontek-kontek Neng Erma. “Ada makanan enak, deket Bawean. Coba yuk!”
Dan rencana itu akhirnya baru terlaksana beberapa hari yang lalu.

nyam theend tamat finish
Sisa-sisa kegarangan nyedot iga hingga titik bumbu terakhir

Saat gw dan Neng Erma sampai, langit masih terang. Masih sekitar 30 menit lagi menuju maghrib. Terletak di jalan Riau, berhadapan dengan CIMB Niaga, bersebelahan dengan Circle K, kurang dari lima menit berjalan kaki dari Taman Pramuka. Disebelah-agak menyerong-depannya ada tukang duren mangkal.

sop konro marannu
Sop Konro Marannu
Jl. Riau No. 189, Bandung
Tempat ini direkomendasikan sebagai tempat makan konro dengan cita rasa yang paling mendekati nikmatnya cita rasa asli kuliner Makassar. Siapa yang rekomen? Ya si Papih dan seorang notaris yang asli orang sana juga.
Jam buka mulai menjelang jam makan siang (sekitar jam sebelasan gitu…) sampe sekitar jam sepuluh malem, kalo gak salah…

owner supervised the cook
Dapurnya terletak dibagian depan. Lihat pojok kanan bawah, bapak-bapak yang lagi duduk itu dia owner-nya. Asli Makassar (kata anak buahnya)

inside marannu
Area makan. Sederhana, gak ada pemisahan smoking dan non smoking room.

Tanpa melihat menu *karena udah tau mau pesen apa*, gw dan Neng Erma langsung memesan masing-masing satu porsi konro bakar. Untuk minumannya tentu standar orang Indonesia, apapun makanannya minumnya tetap teh botol sosrooo… kami juga memesan seporsi es pisang ijo.

Sesuai dengan namanya, tempat ini memang gak menyediakan makanan Makassar sekomplit-komplitnya. Yang tertulis di daftar menu adalah Sop Konro [IDR 48.000], Konro Bakar [IDR 49.000], Coto Makassar [IDR 23.500], Mie Titi [IDR 29.000], Nasi Goreng Merah [IDR 28.000], Nasi Goreng biasa, Buras dan Ketupat [masing-masing IDR 2000/piece], dan ada lagi deh sedikit… akika lupita 😆
Sementara untuk minuman khas Makassar tentu es pisang ijo [IDR 17.000] dan es palu butung gak boleh ketinggalan, dan satu botol teh sosro dihargai IDR 4500.
Oh tapi terinfo dari seorang rekan kerja lain yang juga berasal dari Makassar, yang bener-bener asli banget tradisional Makassar itu ya sop konro dan coto Makassar. Menurut dia, konro bakar itu hanyalah bentuk customized dari hidangan khas Makassar.

Oya, menu mereka tidak mencantumkan harga lho, harga-harga diatas gw dapatkan dari hasil interogasi berkelanjutan sama mas-mas pelayan di sana.
Selain soal harga, gw juga tanya-tanya soal makanan-makanan yang ditawarkan. Seperti misalnya, gw baru tau kalau nasi goreng merah adalah makanan khas Makassar. Sesuai namanya, nasi goreng tersbeut berwarna merah, yang didapatkan dari tomat, sehingga nasi gorengnya juga memiliki rasa asam-asam kecut manis selayaknya rasa tomat.

Terus, soal perbedaan es pisang ijo dan es palu butung. Secara umum kan sama-sama aja sebenernya mereka itu. Sama-sama pisang dikukus terus dihidangkan dengan bubur sumsum dan sirup, cuma kalo es pisang ijo sih pisangnya dibalut adonan tepung yang diberi pewarna hijau dan air daun suji, sementara pada es palu butung, pisangnya dibiarin ‘telanjang’ begitu saja. Tapi ternyata jenis pisang yang digunakan untuk kedua es itu yang berbeda.
Es pisang ijo menggunakan pisang raja, sementara es palu butung menggunakan pisang tanduk.

buras ketupat
Selama ini gw taunya ayam buras. Ternyata ada juga makanan yang judulnya buras. Ini dia, masih sodara sama lontong kayaknya ya…

Jadi Buras ini merupakan makanan khas Makassar yang sering dijadikan teman makanan berkuah seperti coto, sop konro, dan palubasa. Bentuknya mirip lontong, suma si buras ini lebih pipih dan kalo di Marannu ini sih kecil-kecil ukurannya.
Dan karena udah ada buras, gw dan Neng Erma gak pesen nasi. Lagipula makan konro bakar itu emang nikmatnya dengan diselingi makan buras yang dicelup ke dalam kuah konronya itu. Maaaaakkk… sumpah enak banget itu 😆

Gak pake lama, paling sekitar 10 menit, pesanan kami pun datang.
Konro bakarnya masih tetap seenak pertama kali gw datang ke sini. Cuma kok gw merasa porsinya jadi lebih kecil dibandingkan makan rame-rame sama orang kantor itu. Kalo gak inget isi dompet rasanya mau deh nambah lagi :mrgreen:
Dan yang jelas, makan konro bakar begini gak nikmat kalo masih merhatiin table manner. Singkirkan pisau dan garpu, pake tangan aja terus tarik daging iganya sambil disedot-sedot tulangnya dan diseruput-seruput bumbunya. Superb bok! LEKKER!

Buat yang lagi ngidam konro bakar *yakalo ada* nih gw pajangin fotonya deh, mudah-mudahan sih bisa nahan… anggap aja latihan menahan hawa nafsu 😆 😆 😆

epic konro bakar
THE MOUTHWATERING KONRO BAKAR! Kenikmatannya membuat gw dan Neng Erma mengurungkan niat untuk nongkrong sambil ngemut duren setelahnya *karena udah kenyang, puas bisa tidur sambil elus-elus perut*

Alhamdulillaah…