[Malacca] 41 Hours of Escapade – Before Coming Home

“Hari 3: tanggal 26 Desember adalah hari terakhir sekaligus hari kepulangan ke Indonesia, jadi waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Then the route would be St. Paul’s HillA FamosaMenara Taming SariBaba Nyonya Heritage HouseKampung Morten”

Sabtu, 26 Desember 2015

Sebagian tempat yang ada dalam daftar kunjungan hari ketiga kami tukar menjadi di hari kedua, dan sebagai gantinya di hari ketiga inilah tempat-tempat yang belum dijamah harus dituntaskan. Dengan pemikiran bahwa kawasan Dutch Square mungkin masih lengang di pagi hari, kami sepakat untuk meninggalkan hostel pukul 8 pagi.

08:30     :

Kenyataannya, kami baru melangkah keluar hostel pukul 08:30, seperti biasa karena gw menggelar acara mandi paling lama *sungkem sama Vika dan Dani*

Tujuan hari ini adalah Dutch Square, A Famosa, dan Baba Nyonya Heritage House. Kampung Morten, yang ternyata cukup jauh dan tidak bisa dikunjungi dalam waktu singkat, sudah dicoret dari itinerary. Sayang sekali, padahal Kampung Morten adalah satu-satunya perkampungan tempat tinggal suku Melayu yang masih mempertahankan adat budaya mereka, terutama bentuk rumah tinggal yang masih berupa rumah panggung.

Dengan harapan kawasan Dutch Square belum padat pengunjung, kami memulai pelancongan hari itu. Tapi ternyata, pukul 08:30 pun komplek bangunan merah bata itu sudah ramai dengan wisatawan dan, tentu saja, becak hias. Harap maklum, Dutch Square mungkin memang tempat wisata paling terkenal di Melaka. Kompleks bersejarah yang dibangun dalam kurun waktu tahun 1660 hingga 1700 inilah yang menjadi magnet wisatawan datang berduyun-duyun setiap harinya tanpa kenal waktu.

Di Dutch Square ini berdiri beberapa landmark Melaka; yang paling terkenal tentu saja Stadthuys, Christ Church, Queen Victoria’s Fountain, dan Menara Jam Tan Beng Swee didepannya.

Stadthuys, dibangun antara tahun 1641 dan 1660, pada awalnya merupakan rumah dinas gubernur jenderal Belanda, dan pada masa penjajahan Inggris dialihfungsikan menjadi alun-alun kota. Sejak tahun 1980, Stadthuys kembali dialihfungsikan menjadi tempat berdirinya berbagai macam museum, seperti Islamic Museum, Architecture Museum, History & Ethnography Museum, dan People’s Museum.

Christ Church, dibangun tahun 1753 untuk memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Melaka, sekaligus menggantikan reruntuhan gereja Portugis saat itu, karena saat pertama kali mendarat di Melaka, Belanda tidak punya tempat untuk beribadah kecuali gereja St. Paul. Pembangunan Christ Church, yang bata merahnya didatangkan langsung dari Belanda, juga menandakan pembangunan gereja Protestan pertama di Malaysia.

Tan Beng Swee Clocktower dibangun tahun 1886 oleh Tan Jiak Kim, putra dari Tan Beng Swee, untuk mengenang sang ayah yang seorang usahawan sukses nan dermawan. Somehow mengingatkan gw pada kisah Tjong A Fie, saudagar asal Medan yang hidup di awal abad ke-20.

dutch square 2

Cita-cita mengunjungi dan hunting foto di Dutch Square pada pagi hari akhirnya terwujud – tapi pukul setengah 9 lewat sedikit pun sudah banyak pengunjung, mungkin perlu datang lebih awal lagi kalau ingin mendapatkan gambar yang tourist-free

dutch square 3

Christ Church di kejauhan – dan Melaka walaupun masih pagi tapi sudah panas menyengat

SAMSUNG CSC

Dutch Square dari sudut pandang lain

queen victorias fountain

Menara Jam Tan Beng Swee & Queen Victoria’s Fountain

christ church 2

Christ Church #1

christ church

Christ Church #2

red wall 2

Red!

red wall 4

Red wall along the way

SAMSUNG CSC

Papan nama jalan

SAMSUNG CSC

Old white window & red door

red wall 3

The stairs & red-white combination

SAMSUNG CSC

Yang berjaga di sekitar Dutch Square

with vika

and still… pose!

09:20     :

Meninggalkan Dutch Square tanpa menginjakkan kaki ke dalam bangunan-bangunannya, kami sampai di A Famosa, benteng pertahanan yang dibangun oleh Alfonso Albuquerque dengan mengerahkan 1500 orang budak, walaupun yang tersisa sekarang hanyalah puing-puing salah satu gerbangnya; Porta de Santiago.

Pada awalnya, A Famosa meliputi pula rumah sakit dan lima bangunan gereja, lengkap dengan benteng yang memagari kota dan empat menara penjaga. Saat ini, pengunjung dapat melihat beberapa meriam di depan reruntuhan Porta de Santiago.

a famosa

Forta de Santiago – sebagian kecil dari sisa-sisa A Famosa

meriam a famosa

[bukan] meriam si jagur

10:30     :

Pembicaraan malam sebelumnya dengan Ms. Lian sang resepsionis hostel tentang kepulangan kami menunjukkan bahwa Mahkota Medical Centre, pick up point bus yang akan membawa kami ke KLIA, terletak di belakang Mahkota Mall, dan dia menyarankan kami untuk datang langsung ke sana untuk bertanya lebih jelas tentang tiket dan jadwal keberangkatan bus.

Dari beberapa blog yang gw baca, bus yang menuju KLIA berangkat dari Mahkota Medical Centre dan Melaka Sentral. Begitu mendengar bahwa Mahkota Medical Centre ternyata masih dalam walking distance yang masuk akal, kami memutuskan untuk naik bus dari Mahkota Medical Centre saja.

Dari A Famosa, kami langsung ke Mahkota Medical Centre. Untuk sampai ke tempat pemesanan tiket bus, masuk saja lewat pintu di sebelah Seven Eleven. Ternyata hanya ada dua bus yang buka konter di rumah sakit ini: Transnasional dan StarMart Express. Sayangnya tidak ada yang menjaga loket Transnasional. Melihat perbedaan harga yang sangat tipis dan mengingat bus StarMart yang kami tumpangi sebelumnya cukup nyaman sementara kami belum tau seperti apa rupa bus Transnasional, kami putuskan untuk membeli tiket StarMart seharga RM 25 per orang.

Sebenernya gw agak gatel pengen tanya kenapa harganya berbeda dengan rute dari KLIA ke Melaka Sentral, tapi gw urungkan.

Penerbangan kami pukul 22:00, maka kami berniat memesan bus untuk keberangkatan pukul 16:00. Dengan estimasi perjalanan memakan waktu 3 jam, masih cukup waktu untuk menyelesaikan proses keberangkatan dan sejenak bersantai di KLIA. Tapi mbak penjaga konter menyarankan kami untuk mengambil bus keberangkatan pukul 13:00, karena saat long weekend seperti ini lalu lintas dan keadaan jalan tidak dapat ditebak, katanya, dikhawatirkan terjadi kemacetan yang berujung ketinggalan pesawat jika kami mengambil bus pukul 16:00. Dia bahkan tidak menyarankan bus pukul 14:00 dengan alasan yang sama. Dengan semboyan locals know best, kami pun patuh kata-katanya. Dan itu berarti mencoret BABA NYONYA HERITAGE HOUSE dari itinerary siang itu, karena rumah khas peranakan itu tutup pukul 11:30 dan kembali buka pukul 14:00.

SAMSUNG CSC

Dan setelah melewati Dutch Square, A Famosa, Dataran Pahlawan Mega Mall, terlihatlah Mahkota Medical Centre – pick up point bus rute Melaka – KLIA

mahkota medical center 2

Lihat tangga kecil itu? Itu pintu masuk menuju konter penjualan tiket bus, letak pintunya persis di sebelah Seven Eleven

jadwal bus 2

Jadwal Bus Transnasional – tapi konter mereka selalu kosong tanpa ada yang melayani

jadwal bus

Jadwal bus Starmart Express – konter bus ini adalah satu-satunya yang ada penjaganya di antara 3 konter yang ada di Mahkota Medical Centre (konter Starmart Express, konter Transnasional, konter Malindo Air)

tiket

The ticket!

Selesai dengan urusan tiket, kami masih berusaha melipir sebentar untuk foto-foto dengan sisa waktu yang ada. Di gabung dengan hasil hunting sekeluarnya dari hostel sebelum ke Dutch Square, inilah sedikit dari apa yang kami lihat sepanjang kaki melangkah:

melaka river 1

Sungai Melaka di pagi hari

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka di pagi hari, di ambil dari jalan kecil di belakang hostel

SAMSUNG CSC

masih Sungai Melaka

SAMSUNG CSC

Sidani – ketika bedak masih menempel sempurna

melaka river 6

sisi lain Sungai Melaka

melaka river 4

Casa del Rio – konon hotel paling mahal seantero Melaka

SAMSUNG CSC

Kincir air Kesultanan Melayu Melaka

SAMSUNG CSC

Heeren House di seberang – salah satu historical place di Melaka

SAMSUNG CSC

Lorong Hang Jebat

dutch square 4

Ducth Square menjelang tengah hari

melaka river 3

Kembali lagi menyusuri jalan kecil di belakang hostel

ala haji lane

satu lorong ala Singapore Haji Lane’s mural

11:30     :

Sesampainya di hostel, kami langsung meminta tolong pada resepsionis untuk memesankan satu taksi. Walaupun jarak ke Mahkota Medical Centre bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi mengingat bawaan kami yang cukup berat, rasanya naik taksi merupakan pilihan bijak, apalagi di siang hari bolong seperti itu. Jadilah resepsionis memesankan taksi untuk kami, sekaligus menetapkan harga, RM 20 untuk sampai ke Mahkota Medical Centre. Gw menegaskan sekali lagi bahwa tujuan kami adalah Mahkota Medical Centre dan bukannya Melaka Sentral.

Mepet dengan pukul 12, kami check out dan segera berhamburan ke dalam taksi. Kali ini seorang paman bermata sipit yang mengemudi, orangnya cukup ramah dan ramai bercerita ini itu. Setelah cukup lama berjalan, gw dalam hati merasa sangsi, kenapa belum sampai juga? Bukankah untuk sampai di Mahkota Medical Centre itu seharusnya tidak perlu berjalan sejauh ini? Belum gw lontarkan keheranan gw, Vika yang duduk di kursi belakang bertanya meyakinkan, “kita ke Mahkota kan, Ke?”

Pertanyaan yang sama langsung gw lempar pada paman supir. Dan dia terkejut. Sempat mengomel sedikit karena kami tidak menyebutkan tempat tujuan, tapi gw membela diri bahwa gw sudah menjelaskan tempat tujuan berkali-kali pada resepsionis yang memesan taksi. Paman supir pun menelpon si resepsionis, dari nada bicaranya gw menangkap bahwa kesalahan memang terletak pada resepsionis. Paman supir akhirnya mencoba mencairkan suasana dan menenangkan kami bahwa masih cukup waktu untuk mengejar bus kami.

Pukul setengah satu lebih beberapa menit, kami sampai di Mahkota Medical Centre. Kami sepakat untuk menambah RM 5 karena si paman bersedia mengantar kami tanpa bersungut-sungut, jadilah ongkos taksi itu RM 25 keseluruhan. Paman taksi tampak terkejut menerima kelebihan RM 5, tapi dia tertawa-tawa juga.

Sekitar 20 menit waktu yang kami punya kami gunakan untuk makan siang di kafetaria rumah sakit itu, tak lupa membeli cemilan bekal di perjalanan. Gw ingin ke toilet tapi jarum jam sudah menunjukkan pukul 13. Kami bergegas ke tempat menunggu bus di halte depan rumah sakit.

13:30     :

Sudah 30 menit lewat dari waktu yang dijanjikan, tapi bakal bus kami belum juga menunjukkan spionnya. Gw dan Vika kadang saling meyakinkan bahwa kami belum ditinggal bus, dan Vika juga sama seperti gw: ingin ke kamar kecil. Kami ragu-ragu untuk mengasingkan diri ke tandas karena khawatir bus akan datang tiba-tiba. Bus jarak jauh ini bukan tipe setia menunggu penumpang, sepertinya.

Dalam keresahan menunggu bus yang tak kunjung muncul, sekonyong-konyong muncul mbak penjaga konter tiket bus dan meminta kami untuk menunggu di dalam rumah sakit saja. Belum ada kepastian jam berapa bus akan tiba, katanya, karena kemacetan di mana-mana. Kembali ke kafetaria rumah sakit, gw langsung terbang ke toilet dan Vika menunaikan shalat. Tapi di kamar kecil pun gw tak tenang karena khawatir bus datang tiba-tiba.

halte bus

Halte bus di depan Mahkota Medical Centre – disinilah sebenarnya tempat kami menunggu bus Starmart Express

14:15     :

Akhirnya StarMart Express tiba juga, dan sesuai perkiraan kami, tak sampai satu menit bus berhenti, hanya untuk menaikkan penumpang yang terdiri dari kami bertiga dan seorang bapak berusia lanjut. Sesampainya di Melaka Sentral, bus juga hanya berhenti sebentar, dan menaikkan seorang penumpang lagi. Total hanya ada 5 orang penumpang dalam perjalanan Melaka – KLIA.

starmart express 2

inside the bus Starmart Express – seandainya bus antar kota di Indonesia senyaman ini

starmart express

inside the bus Starmart Express – still cozy

17:00     :

Setelah menurunkan 2 penumpang di KLIA 2, supir bus tampak heran melihat kami masih berada di bus. “No AirAsia? No AirAsia?” tanyanya. “No,” we replied. Dia tampak bingung dan sangsi. “Then what’s your flight?”

“Malaysia Airlines”

Dia tampak tak yakin. Mungkin tampang lusuh kami tidak cukup meyakinkannya kami mampu membeli tiket maskapai satu itu *which, with all due respect, I personally don’t want to experience it again*

Begitu menjejakkan kaki di KLIA, hal pertama yang kami lakukan adalah makan. Nooodles menjadi pilihan. Gw, yang masih bertahan ingin mencari Laneige, tidak ikut makan demi mempertahankan lembar-lembar terakhir ringgit, apalagi kami masih akan menghabiskan beberapa jam di bandara ini, yang berarti masih ada kemungkinan kami akan kembali mencari pengganjal perut hingga tiba saatnya lepas landas.

Usai makan, sambil menunggu dibukanya konter check in, gw dan Vika berjalan hilir mudik di sekitar island tempat check in. Gw heran melihat pesawat yang sudah mepet waktu terbang tapi konter check in-nya tak kunjung di buka, bahkan gate-nya sudah closed. Penasaran, gw akhirnya menemukan petunjuk bahwa calon penumpang harus melakukan self-check in.

Prosesi selanjutnya adalah drop baggage di island C, dan melenggang lah kami ke Perlepasan Antara Bangsa. Selesai urusan imigrasi, kami melipir sebentar ke mushala yang letaknya tersembunyi di belakang konter Bank Islam. Sementara Vika menunaikan shalat, gw berjalan hilir mudik mencari makanan pengganjal perut. Waktu masih menunjukkan pukul 20:30, masih panjang penantian kami hingga lepas landas pukul 22.

Saat Vika dan Dani bergabung dengan gw yang menyantap cemilan malam di depan gate H2, satu SMS masuk ke HP gw.

Penerbangan kami ditunda menjadi pukul 23:00.

SAMSUNG CSC

a little view of KLIA – when we got bored to death while waiting for the flight

22:20     :

Setelah kebosanan yang mendera cukup lama, kami memutuskan untuk masuk boarding room. Nothing more to do, bandara ini tidak terlalu mengasyikkan untuk di eksplorasi. Beberapa menit menjelang pukul 23:00, calon penumpang dipanggil masuk pesawat.

5 menit menjelang pergantian hari, kami mendarat di Jakarta. Mungkin karena penerbangan kami termasuk dalam penerbangan paling akhir, segala urusan imigrasi dan pengambilan bagasi selesai dalam waktu 30 menit. Pukul 00:30 taksi membawa kami membelah jalanan ibukota.

It’s finally home again, after quite a mess trip :mrgreen:

Alhamdulillah.

SAMSUNG CSC

and thanks to Sipikah whose pictures i use a lot in my posts

Pengeluaran:

.StarMart Express from Mahkota Medical Centre to KLIA RM 25
.Cemilan di Sevel RM 2,30
.Taksi from hostel ke Mahkota Medical Centre RM 25/3 persons
.Paratha Chicken & Hot Milo RM 10,40
.Taksi dari Soetta ke rumah masing-masing IDR 294.000 (includes surcharge zone IDR 7.500 & highway fee)

Advertisements

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 2

“Hari 2: tanggal 25 Desember harus dimulai dengan semangat membara. Lagi di negeri orang, it’s time to explore! So it should be bangun super pagi dan sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah – Dutch Square – the Stadhuyst – Christ Church – Queen Victoria’s Fountain – souvenir shopping at Hard Rock Café, San Shun Gong, Starbucks, dan Orang Utan House – menimba ilmu di Cheng Ho Cultural – makan lalu shalat di Masjid Kampung Kling – Cheng Hoon Teng Temple – menikmati matahari terbenam dengan menyusuri sungai Melaka lewat Melaka River Cruise – dan menghabiskan malam di Jonker Street Night Market”

peta malaka

Peta Melaka – Map of Historical Site and Tourism Spot in Malacca

Jumat, 25 Desember 2015
Katanya itinerary sih… di hari kedua ini kami harus “bangun super pagi” dan mengacu pada timeline yang gw buat, itu berarti kami harus bangun pukul 6 pagi untuk shalat subuh dan kegiatan lainnya. Sarapan? Wayfarer Guest House tidak menyediakan free breakfast, jadi kami harus mencari sarapan sendiri di kedai makan yang banyak bertebaran di sekitar hostel. Cocok banget sama cita-cita kami yang pengen wisata kuliner makanan local.
Tapiiiii… ketika alarm HP Vika berbunyi nyaring selama satu menit pada pukul 6, alih-alih ada yang bangun, Vika malah tetap terlelap sampai akhirnya si alarm capek sendiri. Gw memaksakan diri bangkit dari peraduan sekitar pukul 8, mencoba membangunkan Vika dan mendapat balasan, “suka-suka lo deh, Ke,” dari yang bersangkutan sambil masih berbalut selimut. Patah hatiku. Ini gimana mau eksplor Melaka? Jam 8 masih pada meringkuk semua. Duh… maklumlah kami memang semakin dewasa.
Dengan mata setengah terpejam, gw turun ke lantai 1 kamar kami. Mandi.

10:00 :
Jadi jam berapa kami mulai keluar hostel, wahai para pembaca?
Yes, jam 10. Mundur 2 jam dari itinerary. Ahey. Uhuhuhu. Ihiks. Sedap jeh.
Lalu apa kabar “sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah”? Kedai Kopi Chung Wah mungkin merupakan kedai paling terkenal di Melaka dalam dunia chicken rice ball. Apalagi letaknya sangat dekat dengan hostel kami, hanya 5 menit berjalan kaki. Konon kelezatan rasanya mampu membuat orang berduyun-duyun datang dan rela mengantri demi menikmati kepalan-kepalan nasi ayam nan gurih. Kami pun demikian. Tapi itu sebelum gw membaca review-review di internet yang mengindikasikan bahwa kehalalan chicken rice ball Kedai Kopi Chung Wah diragukan. Setelah menginformasikan hal itu kepada Vika dan Dani, kami pun putar haluan, melupakan si nasi ayam. Lagipula ini sudah lewat dari waktu sarapan. Ini bukan lagi lunch, tapi sudah jadi brunch.

Saat celingak-celinguk mencari tempat makan yang di rasa aman, mata kami tertumbuk pada satu kedai penuh barang antik yang menawarkan nasi lemak, kaya toast, dan laksa. Namanya SAYYID ANTIQUE. Sebagaimana namanya, kedai makan ini dipenuhi barang-barang antik dari jaman yang sudah lama berlalu. Mulai dari majalah-majalah musik dan film sekian dekade yang lalu, hingga radio transistor tua yang menemani kami menyantap hidangan, tak henti mendendangkan lagu-lagu Melayu tempo dulu. Sepasang laki-laki dan perempuan setengah baya yang kami duga sebagai sepasang suami istri, melayani pembeli. Si laki-laki mencatat pesanan, sementara sang perempuan berjilbab meracik bumbu dan menyiapkan makanan. Vika dan Dani sama-sama memesan nasi lemak, dan memilih teh tarik serta ais milo sebagai minuman masing-masing. Sementara gw memesan laksa dan ais milo. Cukup lama kami menunggu pesanan datang. Dan ketika terhidang, yang nampak bukanlah ais milo, tapi milo hangat. Gw dan Dani berpandang-pandangan. Ah sudahlah, rasanya tak tega kalau harus protes atas kesalahan pesanan ini.

Rasa nasi lemaknya tidak istimewa, tapi baik Vika maupun Dani setuju bahwa ikan asinnya yang disajikan sebagai hidangan pendamping rasanya enak. Sementara untuk laksanya… overall gw sih suka. Kuahnya light, tidak terlalu kental tapi pas, segar. Porsi mie kuning dan mie putihnya juga cukup, tidak terlalu sedikit tapi juga tidak berlebih. Vika ikut mencicipi dan langsung menyukai kerang yang cukup banyak dimasukkan sebagai campuran laksa. Kesulitan mencari makanan *yang sepertinya* halal di titik-titik wisata membuat kami sepakat untuk kembali ke kedai ini saat waktu makan berikutnya.

sayyid brunch 2

SAMSUNG CSC

sayyid brunch 4

sayyid brunch 1

10:40 :
Hanya beberapa langkah dari SAYYID ANTIQUE, berdiri CHENG HO CULTURAL MUSEUM yang menjadi salah satu tujuan kami.
It is believed that the present Museum is situated on the original site of Guan Chang built by Cheng Ho, the Ming Grand eunuch, about 600 years ago. His mighty fleet of several hundred ships sailed seven times to the Western Ocean from China from 1405 to 1433.
Sayangnya, Vika dan Dani sedang tidak berminat pada sejarah. Mendengar kami perlu mengeluarkan RM 10 untuk bisa menikmati museum yang dipercaya sebagai kawasan pergudangan yang dibangun oleh Cheng Ho sekitar 600 tahun lalu, Vika dan Dani menyarankan agar kami mencoret bangunan tua bergaya Tiongkok itu dari daftar kunjungan.

Melanjutkan langkah kaki, kami melihat THE ORANG UTAN HOUSE, sebuah toko yang menjual t-shirt dan poster hasil karya seniman Charles Cham sebagai souvenir dari kunjungan ke Melaka. Gw langsung saja menggeret Vika dan Dani, meminta saran mereka desain mana yang oke untuk adik gw si Bayi Gorilla.
T-shirt yang ditawarkan didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, dengan desain sablon yang cukup menarik dan kualitas kaus yang cukup baik, tersedia dalam berbagai ukuran. Selembar t-shirt dihargai RM 39, kecuali untuk ukuran XL diberi harga khusus yaitu RM 42, sementara kaus anak-anak dibanderol RM 20.
Laki-laki berperawakan gemuk yang menjaga toko melayani pengunjung dengan ramah. Jika membeli 10 t-shirt dalam satu struk pembelian akan mendapat gratis 1 t-shirt, katanya. Hehehe… sayangnya tidak banyak orang yang masuk dalam daftar oleh-oleh gw.
Dengan satu t-shirt sebagai buah tangan, kami meninggalkan The Orang Utan House yang mudah dikenali dari jauh lewat lukisan orang utan berwarna oranye didindingnya yang berwarna kuning.

orang utan house

The Orang Utan House | 59, Lorong Hang Jebat, opening hours 10:00 – 18:00, taking photos is not allowed

Di perempatan jalan, berdiri bangunan merah 4 lantai di sisi kanan yang dikenal dengan nama SAN SHU GONG, pusat oleh-oleh makanan khas Melaka, mulai dari dodol rasa durian, selai kaya, selai durian, pineapple tarts, sampai yang katanya must-try food: cendol durian. Gw perhatikan, toko ini tidak pernah sepi pengunjung dan setiap orang yang keluar dari toko ini bisa dipastikan membawa berkantung-kantung belanjaan… kecuali kami, mungkin. Gw, Vika, dan Dani, yang penasaran pun masuk ke dalam, berkeliling sebentar, dan segera keluar lagi karena tidak ada yang menarik hati. Padahal toko ini termasuk ke dalam top list para turis saat akan berburu buah tangan.

Di sisi kiri perempatan, berdiri satu kedai sederhana berjudul KEDAI KOPI CHUNG WAH. Ah… ini tempat yang tadinya jadi target operasi kami! D, seorang rekan kerja gw, sampai mewanti-wanti supaya datang pagi-pagi dan tidak melewatkan chicken rice ball-nya Kedai Kopi Chung Wah ini. Kalau tidak, siap-siap saja kehabisan atau paling bagus harus ikut bersabar dan mengantri dengan calon pembeli lain yang mengular hingga ke depan Hard Rock Café yang terletak disebelahnya.

SAMSUNG CSC

the Red Storey Building: San Shu Gong | 33, Jalan Hang Jebat, opening hours 10:00 – 22:00

san shu gong chung wah

Kedai Kopi Chung Wah: the one which is very very very famous for its chicken rice ball – that able to make people stand in line

11:15 :
Matahari yang semakin tinggi dan garang memaksa kami mempercepat langkah. Vika mengusulkan untuk mengubah itinerary, yang tadinya akan mengunjungi Dutch Square menjadi St. Paul’s Hill. Pertimbangannya, hari sudah sangat siang sehingga Dutch Square pasti sudah penuh sesak. Memang, mungkin karena di Melaka juga sedang musim liburan, ketika melewati Dutch Square kami melihat komplek bangunan merah itu dipenuhi manusia dan becak hias dengan hingar bingar musik yang berdandan begitu rupa. Sering sekali terdengar lirik lagu Cita Citata di mana-mana, “sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku.” Makjleb bener kakaaakk… niat mau piknik kenapa jadi bikin galau begini :mrgreen:

Sebelum mendaki St. Paul’s Hill, dengan sedikit berat hati kami mampir membeli 3 buah topi untuk melindungi wajah dan kepala dari sengatan matahari. Memang pandai si tukang topi ini, dia menggelar dagangannya tepat di pintu masuk St. Paul’s Hill.
Harapan bahwa St. Paul’s Hill akan lebih sepi daripada Dutch Square pupus sudah. Terik matahari sepertinya tidak menghalangi orang-orang datang berduyun-duyun untuk melihat reruntuhan komplek gereja ini.

St. Paul’s Hill memiliki kaitan sejarah dengan zaman kolonialisme Portugis dan Belanda beberapa abad silam. Gereja yang dibangun oleh bangsa Portugis di puncak bukit ini didedikasikan untuk Saint Paul, satu dari 12 Apostles. Di depan gereja didirikan pula patungnya yang berwarna putih. Bagian luar reruntuhan memperlihatkan gaya arsitektur Portugis. Didirikan pada tahun 1521, membuat gereja St. Paul ini sebagai gereja tertua di Asia Tenggara.
Informasi lain mengatakan bahwa gereja ini diperuntukkan bagi Virgin Mary, dibangun oleh Duarte Coelho, seorang bangsawan Portugis, sebagai rasa syukurnya telah selamat dari badai yang menimpanya di Laut Cina Selatan.
Di bagian dalam reruntuhan terletak banyak batu nisan dari tahun 1650-an. Tak mengherankan karena pada tahun 1592 di buka pula komplek pemakaman di bukit ini.

dutch square

Dutch Square yang indah menawan dan tampak anggun bersejarah itu… terhalangi becak hias yang berseliweran ~Huhuhu… remuk bayangan gw akan sebuah kota tua romantis!

SAMSUNG CSC

Another view of Dutch Square

bukit st paul 4

Bukit St. Paul & Gerejanya

bukit st paul 1

Gereja St. Paul, dan disekitarnya bertebaran bangunan tua yang dialihfungsikan menjadi museum

bukit st paul 3

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani ala ala Eropah

gereja st paul

Sipikah, Sidani, dan Sicantik *kalo diliat dari Monas dan didempul Camera360*

SAMSUNG CSC

Next stop! Sutet *eh*

12:30 :
Dari puncak St. Paul’s hill kita dapat menikmati pemandangan Melaka dan di kejauhan terlihat MENARA TAMING SARI. Memperkirakan jarak dari St. Paul’s Hill ke Menara Taming Sari tidak terlalu jauh, Vika dan Dani setuju untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut.
Dan memang, mungkin hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Menara Taming Sari. Sebagaimana tempat wisata lain di Melaka saat itu, Menara Taming Sari pun dipenuhi pengunjung. Kami pun berbagi tugas: Vika dan Dani membeli tiket sementara gw mengantri untuk masuk ke dalam si gelas kaca. Dengan harga tiket RM 20, pengunjung mendapatkan satu botol kecil air mineral dan satu cup kecil muffin dengan chocolate chips yang ternyata… endeeeuusss sodara-sodara!

Setelah mengantri sekitar 10 hingga 15 menit, akhirnya tiba juga giliran kami memasuki si gelas kaca. Gelas kaca mulai bergerak mengitari tiang menara hingga ke atas, dan kemudian turun lagi, dan itu dilakukan hanya dalam waktu 5 menit! Jadi lebih lama ngantrinya daripada menikmati pemandangan Melaka dari ketinggian. Bandingkan dengan Singapore Flyer yang memberikan waktu 30 menit untuk melihat Singapura dari udara *yaudahsih nggak usah dibandingin*

menara taming sari

Kita mau naik ini. Menara TVRI! *ehbukanyak*

menara taming sari 2

menara taming sari 3

menara taming sari 4

menara taming sari 1

Inside the Menara

menara taming sari 5

Dan di negara orang pun tetap gagal menebar pesona *sicowoklebihmilihngekerpemandangandaripadangekerkita-kita*

menara taming sari view 3

View from the Menara #1

menara taming sari view 4

View from the Menara #2

SAMSUNG CSC

View from the Menara #3

SAMSUNG CSC

View from the Menara #4

Dari Menara Taming Sari, kami memutuskan untuk makan siang. Sejauh mata memandang, menu yang terpampang di hampir semua rumah makan adalah asam pedas dan nasi campur. Kembali gamang dengan pilihan makanan, kami mencoba masuk ke dalam satu kedai makan bernama Asam Pedas Selera Kampung yang tampak sangat ramai sampai-sampai kami harus pasang mata dan berebut tempat duduk dengan pengunjung lain. Asam Pedas Selera Kampung ini menggunakan sistem self-service, jadi satu orang menunggu meja, sementara lainnya mengambil nasi, lauk pauk, dan minuman. Urusan pembayaran dilakukan nanti setelah selesai makan.

Sesuai namanya, yang jadi andalan adalah menu asam pedas ikannya. Sebenarnya asam pedas itu sama saja dengan asam padeh-nya urang awak. Begitu pelayan menuangkan asam pedas ke dalam wajan saji, langsung ludes seketika. Anyway, gw sih merasa ayam goreng yang gw makan biasa-biasa aja tuh rasanya. Mungkin pengaruh makan terburu-buru juga ya saking penuhnya tempat ini.
Satu hal yang menarik, seluruh perempuan pelayan di kedai ini menggunakan gamis dan jilbab panjang berwarna hitam, sebagian diantaranya bahkan bercadar. Gw dan Vika meyakini, yang bercadar pasti cantik. Keliatan dari tangannya *eh*

V: “Ke, yang bercadar tadi pasti cantik deh”
U: “Kayaknya begitu Vik, keliatan dari tangannya. Keren ya, tangannya aja udah kece begitu”
V: “Sepertinya memang cadar yang menutupi wajah itu bikin orang makin penasaran ya”
U: “Hmm.. apa perlu pake cadar aja kita? Siapa tau ada yang mau…”
***
U: “Ah tapi nanti malah takut ketipu suami-suami kita, kirain cantik eh nggak taunyaaa…”
Huhuhu…

Sekelumit percakapan gw dan Vika di depan cermin sambil membersihkan wajah masing-masing sebelum pergi tidur. Please don’t get offended, no bad intention. Sangat absurd, sangat perlu dikesampingkan :mrgreen:

asam pedas 1

Asam Pedas Selera Kampung

14:00 :
Bersebelahan dengan Asam Pedas Selera Kampung, ada sentra oleh-oleh bernama Pahlawan Walk. Ke sana lah kami melipir, siapa tau ada apa gitu yang bisa di bawa pulang. Setelah memilih-milih, kunjungan singkat mendadak itupun menghasilkan beberapa magnet kulkas sebagai souvenir bagi orang-orang di tanah air.

pahlawan walk

Mampir sebentar setelah makan – semacam sentra oleh-oleh Melaka

pahlawan walk 1

Lumayan bagi yang cari-cari magnet kulkas di sini ~cukup variatif

 

14:45 :
Vika memutuskan untuk shalat di hostel. Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan mencicipi coconut shake yang dijajakan di depan San Shu Gong dan kemudian mampir sebentar ke Hard Rock Café. Sempat tergoda untuk membeli gelas cantik dan magnet *yang sungguh keliatan banget ‘harga’nya dibandingkan magnet RM 3 yang kami beli di Pahlawan Walk*, tapi dalam hati masih berpikir ulang dan berharap ada Starbucks di Melaka.

16:15 :
Kembali ke jalanan! Dan kembali menyimpang dari itinerary *sobek-sobek itinerary*
Demi tumbler Starbucks dan lontong instan titipan Nyonya Besar, kami rela berjalan lebih jauh ke dua mall yang ada di jagat Melaka. Mall pertama yang kami sambangi adalah Dataran Pahlawan Mega Mall. Sukses mendapatkan tumbler Starbucks dan diberi kartu keanggotaan Starbucks berbentuk gelas kertas sebagai kenang-kenangan *mbak-mbak Starbucks-nya sungguh ramah! Tapi sejauh ini gw memang belum pernah menemukan orang-orang Starbucks yang jutek sih… thumbs up!*, kami melanjutkan ke Mahkota Mall yang terletak diseberangnya. Tujuan utama adalah Giant, tempat di mana kita bisa menemukan lontong instan dan cemilan lainnya. Untuk sampai ke Giant, kita harus masuk melalui Parkson dan turun dengan eskalator. Sampai di Giant kami langsung kalap mengambil ini itu, dan dengan gembira membawa belanjaan kami ke kasir. Kenapa kah cemilan Malaysia itu enak-enak? Huhuhu…

Kegembiraan itu sirna seketika saat kasir memberi tahu bahwa tidak ada kantung plastik untuk membawa belanjaan. Eh?
Iya, adanya kardus. Dan kita membereskan sendiri belanjaan-belanjaan kita ke dalam kardus. Tidak ada bantuan, tidak ada tali rafia, tidak ada selotip atau isolasi atau gunting apalah apalah. Kami terbengong-bengong. Jadilah kami menenteng kardus dari Giant hingga hostel. Lumayan juga berjalan sekitar 20 menit sambil menggotong-gotong kardus berat. Kami sama sekali tak tampak seperti turis.
Jadi, yang mau belanja di Giant Melaka, siapkan tas belanja sendiri ya!

giant

Mbak Dani sibuk mengatur belanjaan – setelah cemberut sebelumnya

18:45 :
Balada gotong-gotong kardus menyebabkan kami yang tadinya berniat langsung menyusuri Jonker Street dan berlayar mengarungi Sungai Melaka, menjadi kembali lagi ke hotel hanya untuk menaruh belanjaan.
Konon, belum sah ke Melaka kalau belum menikmati akhir pekan di Jalan Hang Jebat… atau yang lebih dikenal dengan nama Jonker Street.

Jonker Street yang merupakan pusat dari kawasan Chinatown terkenal dengan deretan toko-toko yang menjual barang-barang antik, kini telah menjelma menjadi satu kawasan wisata yang mengundang siapapun untuk datang. Setiap akhir pekan, pada Jumat dan Sabtu malam, Jonker Street berubah menjadi kawasan car-free sejak sore; tempat para wisatawan berbaur dengan penduduk lokal, tempat orang-orang menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan dan menjajakan mulai dari makanan hingga barang-barang elektronik. Sudah bisa ditebak, pada saat itu Jonker Street sangat padat hingga untuk berjalan pun susah; kami harus berjalan perlahan-lahan, sambil menikmati keriuhan di sisi kiri dan kanan jalan dan mencari tempat untuk mengisi perut. Kami belum makan malam. Lupakan rencana street photography. Berada di tengah-tengah lautan manusia membuat kami hampir tidak bisa bergerak dan lebih fokus menjaga harta benda masing-masing.

Berjalan dari ujung ke ujung, bukan para penjual yang menarik hati kami, tapi beberapa tempat berarsitektur cina dengan ukiran naga, yang di dalamnya terdapat warga lokal berusia lanjut yang menari dan menyanyi dengan penuh percaya diri. Jangan bayangkan satu ballroom megah atau kamar-kamar karaoke. Tempat menari dan menyanyi itu hanya berupa ruangan yang meja dan benda-benda lainnya dipinggirkan ke dinding. Kursi-kursi plastik ditaruh seadanya untuk menonton para kakek bernyanyi.
Walaupun di sepanjang jalan banyak bertebaran kedai makan, tapi mencari yang halal merupakan kesulitan tersendiri. Kami sempat mampir ke Masjid Kampung Kling, namun disekitarnya pun tidak ada tempat makan. Agak putus asa, kami mampir ke Seven Eleven dan membeli cup noodles untuk diseduh sesampainya kami di hostel nanti.
Ketika Vika mampir ke tandas awam, dia sempat bertanya tempat makan yang halal. Ternyata ada satu tenda kaki lima di belakang makam Hang Kasturi, satu dari 5 bersaudara pahlawan Melayu. Gw tidak berselera melihat nasi lemak dan lauk pauk yang ditawarkan, jadi gw hanya menemani Vika dan Dani menghabiskan makan malam mereka.

22:30 :
Akhirnya kami mencoret Melaka River Cruise dari agenda malam itu. Lepas dari kepadatan Jonker Street, kami memutuskan menyusuri Sungai Melaka lewat jalan kecil di belakang penginapan-penginapan di pinggir sungai. Malam pun ditutup dengan mengemasi barang-barang, besok sudah waktunya kami meninggalkan Melaka.

Dan itinerary pun bubar jalan.

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night 1

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Setelah berjalan menyisiri tepian Sungai Melaka – this is Lorong Hang Jebat, where our hostel took place

Btw, dapet salam dari yang manis… 😆 😆 😆

 

 

 

Pengeluaran:
.Laksa at Sayyid Antique RM 5
.Milo at Sayyid Antique RM 2
.Orangutan House’s t-shirt size XL RM 42
.Topi RM 10
.Tiket Menara Taming Sari RM 20
.Lunch at Asam Pedas Selera Kampung RM 12
.Magnet RM 10/3 pieces
.Coconut Shake RM 4
.Tumbler Starbucks RM 55
.Bourjois Rouge Edition Velvet each RM 39,80
.Shopping at Giant RM 81
.Cemilan at Seven Eleven RM 7,20
Total pengeluaran hari kedua: RM 327,80

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 1

“Hari 1: tanggal 24 Desember akan habis hanya untuk perjalanan, apalagi mengingat yang akan berangkat ini adalah para manula, maka gw nggak memasukkan tujuan apapun di hari pertama ini. Pokoknya begitu sampe hostel, langsung tidur aja lah kita ya bok! Remuk pasti badan ini, seremuk hatiku *maap nyampah*”

Kamis, 24 Desember 2015.
Hari ini merupakan hari pertama libur panjang di Indonesia. Keadaan jalanan Jakarta dan sekitarnya hampir bisa ditebak pasti mengalami kemacetan yang lebih mengesalkan daripada biasanya. Menjaga kemungkinan terjebak kemungkinan terburuk, Vika menyarankan agar kami berangkat lebih pagi dari jadwal semula. Gw dan Vika berangkat menggunakan HIBA Bandara, sedangkan Dani diantar temannya *penting banget di bikin italic yes* :mrgreen:

07:10 :
Gw berangkat diantar Bayi Gorilla ke pick up point HIBA Bandara di pintu tol Cijago. Perjalanan terbilang cukup lancar. Pukul 07:25, setelah membeli tiket bus seharga Rp.60.000, gw sudah menunggu datangnya bus.
07:50 :
HIBA Bandara tiba dan menaikkan beberapa penumpang. HIBA Bandara ini berangkat pukul 07:30 dari terminal Depok dan mengambil penumpang di dua pick up point-nya, yaitu di Hotel Bumi Wiyata dan pintu tol Cijago. Ada untungnya juga berangkat sedikit lebih awal. Begitu mendekati tol Cibubur dan JORR, jalanan sudah ramai dan kendaraan sesekali berjalan merayap.
09:10 :
Kami tiba di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan langsung menuju konter check in untuk baggage drop. Sebelumnya gw sudah melakukan web check in, tapi karena Dani belum dan Vika bermasalah dengan web check in sebelumnya, jadilah gw check in ulang untuk bisa duduk bersama-sama mereka. Kursi gw yang tadinya 8F berubah menjadi 21F, sementara Vika dan Dani masing-masing duduk di kursi 21D dan 21E.
10:00 :
Karena lapar, sambil menunggu waktu terbang yang masih 2 jam lagi, kami pun memutuskan untuk makan dulu. Tempatnya tak lain dan tak bukan, warung BGM yang paling tersohor di dunia perbakmian dan perpangsitgorengan.
11:00 :
Seusai makan, urusan berikutnya adalah melewati imigrasi. Dari situ kami langsung menuju Gate D5 menunggu waktu boarding. Pukul 11:45 kami belum bisa memasuki boarding room karena masih ada antrian penumpang untuk penerbangan sebelumnya. Muncul sedikit kekhawatiran bahwa penerbangan kami yang dijadwalkan pukul 12:15 akan mengalami keterlambatan.
12:00 :
Tanpa melalui proses menunggu di boarding room, para penumpang MH 716 dipanggil untuk menaiki pesawat. Tepat pukul 12:15 pesawat lepas landas dengan hentakan yang tidak halus sama sekali.

SAMSUNG CSC

Off we go! Malaysia Airlines for the first time ~

15:30 :
MH 716 mendarat di KLIA, lagi-lagi dengan guncangan yang kasar. Setelah melewati rangkaian pemeriksaan imigrasi, pengambilan bagasi, dan shalat, kami langsung mencari bus tujuan Melaka. Caranya, dari area arrival di lantai 3, kami turun ke lantai 2 dan mengikuti arah “Stesen Bas ke Terminal KLIA 2/Destinasi lain”. Sampai di Stesen Bas, ada beberapa konter tiket bus, tapi yang menawarkan rute ke Melaka hanya satu, yaitu StarMart Express. Jadwal keberangkatan terdekat saat itu ada di pukul 17:00. Karena tidak ada pilihan, kami pun membeli 3 tiket seharga RM 28/orang.
Gw agak bingung juga saat itu, kenapa tidak ada bus Transnasional di sana, padahal kalau gw baca-baca di internet, bus Transnasional adalah bus paling terkenal yang membawa penumpang dari Kuala Lumpur ke Melaka. Di tengah kebingungan itu, gw melihat satu bus Transnasional datang memasuki platform-nya. Dari hasil wawancara dengan pak supir yang langsung gw berondong pertanyaan, ternyata bus Transnasional memang tidak buka konter tiket di KLIA, tapi penumpang bisa langsung menaiki bus, nah dari KLIA bus akan mengambil penumpang di KLIA 2. Saat di KLIA 2 itulah supir akan mencetak tiket untuk penumpang yang naik dari KLIA.
17:00 :
Bus StarMart Express datang dan kami bertiga segera memasuki bus. Menurut tiket, kursi kami adalah kursi nomor 1, 2, dan 3. Tapi sepertinya nomor kursi itu hanya tulisan biasa tanpa kekuatan hukum apapun, terbukti ketika kami naik, kursi-kursi tersebut sudah ditempati orang lain, sehingga kami harus menerima nasib duduk terisah-pisah di kursi paling belakang.
Bus-nya sendiri sangat nyaman dengan formasi bangku 1 – 2. Total ada 24 kursi dalam satu bus. Kursinya lebar dan empuk, juga bisa di-recline sehingga kita bisa beristirahat dengan nyaman. Hanya AC-nya saja yang terlalu dingin. Karena tidak menyiapkan jaket, gw menghangatkan badan dengan meringkuk sambil memeluk ransel.

SAMSUNG CSC

Ready to landing with ‘kelapa sawit’ everywhere

SAMSUNG CSC

Kuala Lumpur International Airport

SAMSUNG CSC

Spotted Vika & Dani waiting for our baggage

KLIA conveyor belt 2

neat!

kaunter tiket bas

Tempat pembelian tiket bus antar kota antar propinsi

SAMSUNG CSC

Ruang tunggu nan sederhana – bus diparkir sesuai platform masing-masing

jadwal bas

Jadwal StarMart Express – quite on time, i must say

SAMSUNG CSC

Inside the comfy – yet super cold – bus

19:40 :
Akhirnya sampai juga di Melaka Sentral, semacam terminal bus antar kota di Melaka. Kami mengikuti petunjuk untuk sampai ke pangkalan taksi, dengan harapan mendapatkan taksi berargo. Tapi janji tinggal janji, taksi argo hanya mimpi. Nggak ada taksi berargo, ini Malaysia, Bung! Semua main tembak-tembakan dan kami tidak punya pilihan lain. Seketika gw merindukan taksi-taksi Jakarta. Huhuhu…
20:00 :
Setelah di tembak di harga RM 25 untuk sampai di tujuan kami di Lorong Hang Jebat, akhirnya kami mengikuti seorang bapak separuh baya dari ras Melayu. Mobilnya tentu saja sejenis sedan tua yang sempit dan masih kotak-kotak sudut-sudutnya. Sepanjang perjalanan dia banyak bertanya pada kami, termasuk menasehati gw untuk segera menikah *sumpe yaaa diomongin gitu sama orang yang baru pertama ketemu itu rasanyaaa…* *dan diketawain sama Vika dan Dani yang duduk di kursi belakang. Pait, pait, pait…*
Sebenarnya si pak supir taksi ini sudah menunjukkan gejala kurang menyenangkan, dia sepertinya enggan mengantarkan kami sampai ke penginapan. Tapi karena gw langsung pasang tampang memelas, akhirnya dia mau juga mengantar kami sesuai perjanjian awal, walaupun disertai nada-nada tidak ikhlas.
20:30 :
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di depan penginapan. Sebenarnya jarak dari Melaka Sentral ke Lorong Hang Jebat tidaklah jauh. Hanya saja karena untuk sampai ke Wayfarer Guest House kami harus melewati Jonker Street yang kecil dan dipenuhi manusia lalu-lalang, taksi pun tidak bisa melaju kencang.
Kami disambut Mrs. Lian yang ramah namun tegas dan langsung menerangkan peraturan penginapan dan memberikan kunci kamar. Tidak lupa dia juga mengembalikan deposit pembayaran kamar yang berlebih.
Kamar kami terletak di lantai dua dan setelah menaruh koper serta beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam, sekaligus melihat-lihat sekitar penginapan.
21:30 :
Setelah berputar-putar di kawasan Dutch Square yang malam itu tampak berkilauan karena banyaknya becak hias berseliweran, kami berjalan menyusuri Sungai Melaka sambil pasang mata kira-kira mau makan di mana. Bingung menentukan tempat makan, akhirnya kami malah melipir ke satu rumah makan India di kawasan Little India. Makan malam pertama ini tidak bisa dibilang sukses. Rasa makanannya terbilang biasa-biasa saja. Bahkan Milo Malaysia yang terkenal mantap rasa coklatnya pun tidak gw temui. Selepas makan, ternyata sudah pukul 22:00. Mengingat besok kami sudah berencana untuk menjelajahi Melaka habis-habisan, sepertinya lebih baik jika kami kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga yang lelah ini.

baru sampai!

Arrived at hostel happily!

SAMSUNG CSC

a little sneak peak on our hostel *wink*

SAMSUNG CSC

Semacam gerbang memasuki kawasan Little India

dinner

Indian style dinner ~ with Milo ais

SAMSUNG CSC

Our first sight – Dutch Square yang bagai pasar malam saja ramainya

 

SAMSUNG CSC

Another first sight ~ on Melaka River

Nampak seperti hari pertama yang cukup oke dan sangat sesuai dengan itinerary, yes? :mrgreen:

Pengeluaran:
.HIBA Depok – Bandara Rp.60.000,-
.Malaysia Airlines Round Trip Ticket CGK – KLIA Rp.1.920.650,-
.Bakmi GM Rp.42.500,-
.Bus StarMart Express KLIA – Melaka Sentral RM 28/orang
.Jajan Pokka Milk Tea RM 4,75
.Taksi Melaka Sentral – Lorong Hang Jebat RM 25 (approximately RM 8,5/orang)
.Wayfarer Guest House – RM 400/room for 2 nights (approximately RM 134/orang)
.Dinner RM 5

Total pengeluaran hari pertama: Rp.2.023.150,- dan RM 180,25 (Kurs RM 1 equal to IDR 3.200)

[Malacca] Prep Session

SAMSUNG CSC

Setelah trip pertama ke Siem Reap yang bisa di bilang cukup sukses di penghujung tahun lalu *walaupun kami melewatkan beberapa pohon-pohon legendaris di Ta Phrom*, gw, Vika, Didito, dan Dani sepakat untuk kembali menghabiskan libur panjang Natal dengan traveling ke… entah ke mana :mrgreen:
Seperti biasa, gw dan Vika saling melempar ide, dari mulai yang masuk akal sampai yang penuh khayalan, sementara Didito dan Dani menjadi pendengar dan pengikut setia. Setelah sesi brainstorming berhari-hari disertai pencarian tiket promo oleh Vika, akhirnya disepakatilah untuk jalan-jalan ke tempat yang deket-deket aja yaaa… yang sepertinya sih tidak memakan banyak waktu dan pastinya, biaya.

Vika, yang paling rajin kilik-kilik internet, menemukan bahwa Malaysia Airlines sedang memberikan tiket promo. Kami, mendengar nama maskapai yang saat itu sedang dirundung kemalangan bertubi-tubi, terus terang tidak bersemangat untuk melakukan perjalanan menggunakan maskapai nasional negara tetangga tersebut. Setelah merenung dan berkonsultasi dengan orang-orang yang wajib diminta restunya, dengan mengucap basmalah kami pun menerima tawaran Vika. Pertimbangan kami, yang namanya ajal bisa datang kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun. Jadi bukan karena Malaysia Airlines-nya, tapi karena sudah ditulis seperti itu di Lauhul Mahfudz *benerin kopiah* *keselek tasbeh*

Vika langsung bergerak, gesit seperti biasa kalo udah menyangkut urusan traveling. Tanggal 6 Mei, tiket dipesan, namun ternyata tersisa hanya 2 kursi untuk tiket promo di harga Rp.1.415.700/orang, yang diambil Vika dan Didito. Keesokan harinya tanggal 7 Mei, Didito memesankan tiket untuk gw dan Dani, bukan tiket promo sehingga harganya berbeda jauh, Rp.2.425.600/orang.
Atas nama pertemanan dan toleransi, Vika dan Didito bersedia menyumbang sebagian harga tiket, sehingga masing-masing membayar Rp.1.920.650 untuk round trip Jakarta – Kuala Lumpur.
Dengan demikian, selesai lah urusan transportasi. 4 round trip ticket sudah di tangan. Masing-masing untuk keberangkatan tanggal 24 Desember 2015 dan kepulangan tanggal 26 Desember 2015.

Setelah tiket, selanjutnya giliran pencarian penginapan. Baca review sana-sini, gw melempar nama “Wayfarer Guest House” ke forum, dan ditindaklanjuti oleh Didito. Tanggal 30 Juli, Didito, yang dipercaya sebagai orang dengan kemampuan matematika dan bahasa asing paling mumpuni, segera menghubungi calon penginapan kami dan memesan 2 kamar berjendela yang menghadap sungai.

Di lain pihak, gw kembali bertugas sebagai penyusun itinerary, dan sejak tiket dipesan sudah mulai mengumpulkan data dan membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi. Dari hasil melototin internet, terciptalah itinerary seperti ini:

– Hari 1: tanggal 24 Desember akan habis hanya untuk perjalanan, apalagi mengingat yang akan berangkat ini adalah para manula, maka gw nggak memasukkan tujuan apapun di hari pertama ini. Pokoknya begitu sampe hostel, langsung tidur aja lah kita ya bok! Remuk pasti badan ini, seremuk hatiku *maap nyampah*

– Hari 2: tanggal 25 Desember harus dimulai dengan semangat membara. Lagi di negeri orang, it’s time to explore! So it should be bangun super pagi dan sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah – Dutch Square – the Stadhuyst – Christ Church – Queen Victoria’s Fountain – souvenir shopping at Hard Rock Café, San Shun Gong, Starbucks, dan Orang Utan House – menimba ilmu di Cheng Ho Cultural – makan lalu shalat di Masjid Kampung Kling – Cheng Hoon Teng Temple – menikmati matahari terbenam dengan menyusuri sungai Melaka lewat Melaka River Cruise – dan menghabiskan malam di Jonker Street Night Market

– Hari 3: tanggal 26 Desember adalah hari terakhir sekaligus hari kepulangan ke Indonesia, jadi waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Then the route would be St. Paul’s Hill – A Famosa – Menara Taming Sari – Baba Nyonya Heritage House – Kampung Morten

Itinerary yang disusun secara membabi buta dan penuh semangat membara pun selesai beberapa hari menjelang keberangkatan, dan langsung disebarkan kepada para pelancong.

para pemeran

Oh yeah, our Malacca Trip would be so much fun and splendid!

why melacca

…or at least that was what we tought

Kuala Lumpur: Day 1 – Merdeka Square, KL City Gallery, Suria KLCC, Petronas Twin Towers

Dalam beberapa kali kesempatan, gw dan Vika sering berandai-andai ingin kembali traveling bersama setelah perjalanan pertama kami ke Singapura awal tahun 2014. Gw menawarkan banyak destinasi impian gw, tapi seringkali ditolak mentah-mentah oleh Vika. Alasannya antara tiga hal, kalo nggak dia yang fakir cuti, ya dia udah pernah ke sana, atau merasa bisa ke sana dalam rangka dinas kantor. Lha iya dia sih udah hampir mengunjungi semua opsi yang gw ajukan, sementara gw? Aku mah apa atuh da, hanya butiran Legal Officer yang hampir nggak pernah dinas ke tempat-tempat kece. Kalau diajak meninjau usaha debitur pun paling jauh cuma investigasi kandang ayam di daerah Cianjur *bukan curcol, cuma menceritakan kenyataan hidup :mrgreen:*

Dari sekian banyak tempat yang kami diskusikan, ketemulah satu tempat yang sepertinya cukup menarik untuk dieksplorasi. Untuk menghindari pengambilan jatah cuti yang terbatas, gw dan Vika memilih untuk pergi pada akhir tahun, memanfaatkan long weekend momen Natal selama 4 hari. Sebagai ahli dalam bidang perjalan-jalanan, Vika langsung bergerak sigap mencari tiket promo sejak awal Mei, setelah menghubungi dua pemeran lainnya yang akan gw perkenalkan di bawah ini: seorang ahli matematika dan seorang calon notaris.

Kenapa bulan Mei? Karena kami berusaha mendapatkan tiket dengan harga serendah mungkin. Kami akan terbang pada peak season di mana harga tiket pasti lagi mahal-mahalnya. Dan bagi gw, sejujurnya traveling di akhir tahun tidak masuk ke dalam rencana tahunan gw dimana itu berarti I had no budget for that. Jadi, sangat perlu bagi kami untuk mengatur rencana budget perjalanan secara matang dan ditekan sekecil-kecilnya. Selain tiket pesawat, kami mulai lirik-lirik penginapan dan cari tau soal biaya hidup di negara tujuan. Vika dan gw bekerja sama membuat itinerary lengkap dengan perkiraan biaya dan meneruskannya ke Didito dan Dani.

Rancangan itinerary yang bolak-balik antara anggota trip membuat pembelian tiket agak tersendat. Vika mulai khawatir karena harga tiket beranjak naik. Dengan kemampuannya nge-push orang, akhir Mei, Vika pun membuat kami sepakat dengan satu dari beberapa budget yang dirancang. Tiket dibeli, tugas selanjutnya pun turun pada gw: membuat itinerary secara detail. Sementara Didito mengambil peran sebagai pencari penginapan. Sekitar Agustus atau September, penginapan pun dipesan, sementara gw berhenti sejenak dari berkutat dengan itinerary.

Di saat yang bersamaan, menyisihkan uang tiap bulannya pun mulai dilakukan. Berdasarkan proyeksi asal-asalan gw, sepertinya cash flow bulanan gw tidak terlalu terganggu dan rencana trip kali ini bisa dilaksanakan dengan baik. Semuanya tampak oke sampai pertengahan Desember ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah tajam, sementara gw harus menukar uang untuk bekal bertahan hidup di negeri orang. Budget menjadi terganggu dan cash flow gw pun terguncang *lebaaaaayyy*

Sekitar satu atau dua minggu sebelum keberangkatan, the Funtastic Four mengadakan rapat kecil-kecilan. Salah satu hasil rapat adalah menugaskan Dani untuk melakukan web check in. Kenapa Dani? Karena selain dia yang belum dapat beban moral, Dani juga TERNYATA YA TERNYATA nggak tau gimana caranya web check in. Alhamdulillah ya Dan, sekarang jadi tau kan caranya web check in 😆

Dan sungguh betapa bertanggung-jawabnya Dani, masing-masing boarding pass dilipat rapih dan dimasukkan ke dalam empat amplop terpisah, dibubuhkan nama masing-masing diatasnya, dan diberikan dengan penuh khidmat diatas bus HIBA Depok-Bandara yang membawa kami menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 25 Desember 2014 *kecup Dani*

***

Belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu, menjelang keberangkatan biasanya ada saja hal-hal yang sedikit banyak bisa menghambat kelancaran acara. Menimbang hal itu gw pun memutuskan untuk mengajukan cuti selama 2 hari, masing-masing 1 hari sebelum dan sesudah perjalanan. Again being si Papih’s legal officer, mantan bos gw di Bandung yang sekarang balik lagi jadi bos gw di Kelapa Gading, cuti disetujui dengan mulus. Dan kali ini tanpa embel-embel “kalo kamu cutinya buat kawin, baru saya izinin.” Tau aja deh si Papih kalo cari jodoh itu ternyata tidak semudah yang gw kira walaupun dulu kuliah di tempat di mana 9 dari 11 fakultas ngumpul jadi satu *apa sih* 😆

Pukul 04:30 pagi, dengan diantar bayi gorilla gw pun diantar ke terminal Depok. Tepat pukul 5 bus HIBA Depok-Bandara meninggalkan terminal, dan 1 jam kemudian all the ladies sudah tiba di Soekarno Hatta. Tanpa check in karena sudah web check in sebelumnya, kami langsung menuju satu kedai yang paling kesohor di dunia perbakmian dan perpangsitan. Setelah memenuhi hak perut masing-masing, kami pun memulai rentetan prosedur yang harus dilalui untuk keluar dari perbatasan negara. Pemeriksaan paspor, bayar airport tax, periksa tiket, dan akhirnya masuk boarding room. Sesampainya di boarding room, secara bergiliran kami langsung menuntaskan hajat hidup masing-masing. Tepat saat Vika sedang ‘mencairkan deposito’-nya, terdengar suara petugas Air Asia mengaung-ngaung di udara, memanggil-manggil Vika untuk segera menghadap penghulu petugas maskapai. Ada apa nih? Penuh rasa penasaran dan sambil harap-harap cemas semoga tidak ada masalah dengan penerbangan, gw dan Didito mendekati petugas maskapai, menggantikan Vika yang masih konsentrasi di toilet.

Hasil tatap muka dengan petugas maskapai berakhir dengan persetujuan kami untuk berpindah tempat duduk demi persatuan satu keluarga *eh*

Sebenernya ini blessing in disguise juga sih. Awalnya kami duduk terpisah, tapi karena perubahan tempat duduk malah bisa jadi duduk bareng. Hanya Didito yang terpisah, itu pun masih dalam deret yang sama. So I have my seat changed from 28E to 12B.

Long story short, setelah penantian boarding yang seolah tiada akhir, kami memasuki pesawat. Air Asia AK 383 lepas landas tepat waktu pada pukul 08:30. Foto-foto, take off, tidur, foto-foto lagi, tidur lagi, landing, jalan kaki lamaaaaa sekali mengarungi KLIA 2 yang ternyata keren dan luas sekali, melewati proses imigrasi, so here we were… Malaysia!

Untuk mencapai downtown Kuala Lumpur, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan, tentunya. Ada bus, taksi, KLIA Transit dan KLIA Ekspres. Mengingat budget yang makin terbatas, opsi taksi bahkan tak pernah terpikir dalam benak kami. Untuk menghemat waktu, kami sepakat untuk mengggunakan KLIA Ekspres yang mampu mencapai KL Sentral dalam waktu 33 menit. Penginapan kami memang terletak di KL Sentral, sengaja memilih lokasi tersebut untuk memudahkan mobilitas dari dan ke KLIA 2. Setelah membeli tiket KLIA EKspres seharga RM 35, kami kembali disibukkan dengan persoalan toilet. Berganti-ganti Vika, Didito, dan Dani keluar masuk toilet dan membuat gw cukup senewen juga karena jam sudah menunjukkan pukul 12:30, hanya 5 menit lagi hingga KLIA Ekspres tiba.

Turun ke Platform A, kurang dari satu menit KLIA Ekspres pun tiba. Interiornya sungguh nyaman, kereta api luar kota yang kita punya pun tentu masih kalah jauh 😦

Selain bersih dan kursi yang nyaman, KLIA Ekspres juga menyediakan tempat khusus penyimpanan koper. Dan benar saja, berangkat dari KLIA 2 pukul 12:35, pukul 13:10 kami sudah tiba di KL Sentral. Cukup akurat lama perjalanannya. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa dilirik-lirik www.kliaekspres.com

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

KL Sentral #1

KL Sentral #1


KL Sentral #2

KL Sentral #2

KL Sentral #3

KL Sentral #3

KL Sentral #4

KL Sentral #4

Stasiun KL Sentral di Kuala Lumpur ini mungkin seperti Stasiun Gambir atau Stasiun Manggarai di Jakarta. Namun KL Sentral terasa lebih modern dan dinamis, juga lebih bersih dan tentunya lebih canggih. Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Ada begitu banyak pilihan tempat makan yang membuat kami bingung mau makan apa, dan begitu melihat kedai ayam penyet, Dani serta merta mengajak makan di situ, yang sekonyong-konyong ditolak mentah-mentah dan penuh ketegasan oleh Didito. Rule #1 No fast food dan Rule #2 No makanan yang ada di Indonesia. Tentu saja gw dan Vika mengamini pernyataan Didito ini *kecup Didito*

Walaupun akhirnya kami ended up di satu kedai bernama Meal’s Station dan menyantap makanan yang sebenarnya bisa ditemui juga di Indonesia, tapi paling nggak, nggak seumum ayam penyet lah :mrgreen:

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

Rasa makanannya sih standar, entah karena saat itu gw lapar atau memang sandwichnya enak, tapi buat gw makanannya enak-enak aja. Gw emang sengaja pesan sandwich karena nggak terlalu doyan makanan santan-santanan yang ditawarkan di buku menu. Dan selain itu gw akhirnya berhasil menambah semangat dengan cara… minum kopi, yang rasa kopinya cukup mantap, which is I like it so much 🙂

Beres urusan perut, kini giliran urusan bobo-bobo ayam malam nanti. Langsung ke My Hotel @Sentral yang ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit, karena sudah pukul 14:00 kami pun bisa langsung check in. Karena pemilihan siapa tidur sama siapa sudah dilakukan secara membabi-buta jauh-jauh hari, kami pun langsung menyimpan koper, ransel dan segala antek-anteknya di kamar. Bersih-bersih seadanya lalu shalat, pukul 15:30 kami kembali melanjutkan perjalanan tidak sesuai itinerary :mrgreen:

***
Kenapa tidak sesuai itinerary? Karena gw sebagai perancang itinerary dan pencinta museum memasukkan Muzium Negara sebagai tempat pemberhentian pertama. Namun melihat sempitnya waktu, akhirnya kami sepakat untuk meniadakan rencana tersebut dan langsung ke tujuan kedua yang sudah lama diidam-idamkan Vika.

Untuk mencapai Dataran Merdeka, dari KL Sentral kami menumpang Kelana Jaya Line LRT dan turun di stasiun Masjid Jamek.  Sebelumnya tentu kita harus membeli tiket perjalanan. Kami membeli single tiket seharga RM 1,3 di mesin penjualan tiket. Mesin penjualan tiket dengan layar sentuh ini merupakan sesuatu yang baru bagi gw, tapi pengoperasiannya cukup mudah kok. Cukup tentukan stasiun tujuan dan jumlah tiket yang akan dibeli, masukkan uang ke dalam mesin dan keluarlah token berwarna biru. Tokennya berbentuk seperti koin plastik dalam permainan othelo. Untuk penggunaannya, cukup tempelkan token tersebut pada pintu gate dan ketika akan keluar di stasiun tujuan, masukkan token ke dalam gate. Jadi, tokennya nggak bisa dikoleksi sebagai cindera mata bukti bahwa kita sudah ke Kuala Lumpur *gagal fokus*

Yang mau tau lebih lanjut soal moda transportasi di Malaysia lengkap dengan ongkosnya bisa dilihat di www.myrapid.com.my

Dengan mengikuti petunjuk arah menuju pintu keluar ke Dataran Merdeka atau Masjid Jamek, diseberang kita akan melihat Masjid Jamek. Seberangi jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Tun Perak itu, berjalan ke arah kanan menyusuri jalan dan pada lampu merah pertama berbeloklah ke kiri. Itulah Jalan Raja. Sederetan bangunan tua langsung terlihat disisi kiri jalan, sementara Dataran Merdeka berumput hijau ada di sisi kanan. Lampu-lampu jalan berhias Bunga Raya berkelopak merah berdiri di kedua sisi jalan.

Bagi pecinta sejarah dan bangunan tua, rasanya wajib mengunjungi tempat ini. Dan sepertinya Dataran Merdeka ini memang menjadi salah satu spot wajib kunjung bagi para turis, selain sebagai meeting point warga lokal. Selain Dataran Merdeka, tourism spot lainnya adalah Kuala Lumpur City Gallery yang terkenal dengan tulisan raksasa I LOVE KL berwarna merah didepannya. Nah untuk sampai ke KL City Gallery, kita terlebih dahulu akan melewati bangunan-bangunan bersejarah tadi. Berturut-turut di sisi kiri jalan terdapat Old Sessions & Magistrates Court Building yang dibangun pada tahun 1910, kemudian Panggung Bandaraya KL yang dulunya dikenal sebagai the Old City Hall, lalu Former High Court Building yang dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, selanjutnya Sultan Abdul Samad Building yang kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan, dan Government Office yang terletak persis sebelum perempatan jalan.

Sementara di sisi kanan terbentang Dataran Merdeka dengan tiang bendera setinggi 100 meter, the Cathedral of St. Mary –gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan Royal Selangor Club. Tidak ketinggalan Victoria Fountain yang sudah berusia 100 tahun lebih, berdiri di dekat mural para Bapak Malaysia.

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

the Uninuna

the Uninuna

Heading KL City Gallery

Heading KL City Gallery

KL City Gallery

KL City Gallery

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

PROBLEM?!

PROBLEM?!

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

Mengunjungi KL City Gallery ini sebenarnya tidak dipungut biaya. Tapi kalau kita mau menyaksikan the Spectacular City Model Show, kita harus membeli tiket seharga RM 5. Nantinya tiket ini bisa digunakan untuk membeli sesuatu di toko souvenir Arch atau di café nya. Berhubung seinget gw nggak ada benda seharga RM 5 atau kurang di toko itu, ya paling nggak RM 5 nya bisa dipake untuk diskon dari harga sebenarnya deh. And that’s what I did with the fridge magnet I bought for myself.

Untuk mengelilingi KL City Gallery tidak diperlukan banyak waktu. Sepertinya 1 jam sudah cukup untuk mengetahui sejarah Kuala Lumpur sekaligus melihat the Spectacular City Model Show. Memang didalam galeri ini tidak banyak yang bisa dilihat. Selain sejarah Kuala Lumpur, ada juga penjelasan mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di sekitar Dataran Merdeka lengkap dengan miniatur bangunannya, juga kisah mengenai Dataran Merdeka itu sendiri.

Setelah itu pengunjung bisa langsung menuju ke lantai 2 tempat show diadakan. The Spectacular City Model Show itu sendiri merupakan pertunjukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit yang ditata demikian cantik dan apik yang bercerita tentang perkembangan Kuala Lumpur sejak dulu dan rencana pengembangan di masa depan.

Di depan para pengunjung terhampar miniatur Kuala Lumpur yang terdiri lebih dari 5000 bangunan dengan skala 1:1500, kemudian pertunjukan pun dimulai dengan kecanggihan teknologi, perpaduan permainan lampu dan efek suara yang mampu membuat gw iri terhadap pesatnya kemajuan negara serumpun itu.

Kunjungan ke KL City Gallery kami tutup dengan mendatangi toko souvenir di lantai 1. Ditata dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung, suvenir-suvenir yang ditawarkan pun cukup beragam dan semuanya dibuat dengan detail yang rumit yang gw yakini memerlukan keahlian tingkat tinggi para pengrajinnya. KL City Gallery ini buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 6:30 petang. Lengkapnya bisa dibaca di http://www.klcitygallery.com

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Craftmen Center

Craftmen Center

History of ARCH

History of ARCH

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

Sekitar Merdeka Square

“Bahasa Melayu | I just love it somehow”

 

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #3

ARCH Souvenir Shop #3

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends :lol:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends 😆

A very important photo: Legs | Seriously, we're in Kuala Lumpur!

A very important photo: Legs | Seriously, we’re in Kuala Lumpur!

Selepasnya dari KL City Gallery, kami masih sempat bermain-main sejenak di Dataran Merdeka. Sekitar pukul 5 barulah kami benar-benar meninggalkan kawasan itu. Itu pun masih harus saling mengingatkan satu sama lain agar jangan terlalu lama mengambil foro karena kami masih punya destinasi lainnya.

Kami kembali ke stasiun Masjid Jamek dan kembali mengambil jalur Kelana Jaya Line untuk sampai ke tujuan berikutnya: Petronas Twin Towers. Setelah membeli single tiket seharga RM 1,6 per orang, kami segera menaiki kereta dan turun di stasiun KLCC. Stasiun KLCC penuh sesak dan itu sempat membuat gw terpisah dari rombongan. Untunglah gw segera kembali ke jalan yang benar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan ke Suria KLCC.

Kenapa Suria KLCC? Jawabannya singkat: karena Suria KLCC merupakan shopping mall dan konon saat itu sedang diadakan sale besar-besaran. Namapun perempuan ya bok, denger kata ‘sale’ radar kami langsung mencuat, kecuali radarnya Didito yang sepertinya lebih mencuat kalau menghadapi rumus-rumus matematika. Dan tepat seperti perkiraan gw, saat gw berniat belanja justru saat itu lah gw tidak tertarik pada barang-barang yang ditawarkan, selain karena udah pusing juga melihat padatnya manusia. So it came up I didn’t by anything there.

Selain itu semua orang pasti tau lah kenapa almost all tourist goes to KLCC. Selain Suria KLCC, dibagian atasnya terdapat Petronas Twin Towers, lalu ada Aquaria KLCC, KLCC Park, dan KL Convention Centre, yang saat itu semuanya dipenuhi lautan manusia yang sepertinya memanfaatkan momen natal untuk berlibur.

Menyadari tidak ada yang menarik hati, kami pun memutuskan untuk mencari makan malam dan memilih food court agar dapat memilih makanan sesuai selera masing-masing. Mengitari seluruh kedai makanan yang ada, gw dan Dani ended up dengan makanan ala Italia, sementara Vika dan Didito memilih makanan yang tampak lebih sehat: laksa dan mie organik.

Gw membandingkan harga dan rasa makanan di food court itu dengan harga dan makanan di food court mal-mal di Jakarta. Gelar bahwa Jakarta merupakan salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi sepertinya benar. Harga makanan di food court Suria KLCC lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di food court mal-mal di Jakarta. Rata-rata harga berada di kisaran RM 8 hingga RM 15. Silakan dikonversi ke rupiah. Terbilang masuk akal dan sebanding dengan rasa yang diberikan. Rasanya lumayan enak dan yang jelas porsinya besar. Sementara food court di Jakarta, yaa… harga mungkin sama tapi soal rasa dan porsi, silakan bandingkan sendiri.

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Dengan perut penuh, kami menuju KLCC Park untuk mengabadikan Petronas Twin Towers. Nggak didalam mal, nggak di food court, nggak di taman, rasanya seluruh warga Kuala Lumpur plus turis tumpah ruah malam itu. KLCC Park benar-benar ramai. Pohon natal yang sengaja dipasang sebagai dekorasi dekat pintu keluar mal, juga area sekitar kolam air mancur dipadati pengunjung. Sebagian besar tentu sibuk berfoto ria. Kami beringsut menjauhi keramaian, berusaha mendapatkan spot yang bagus untuk mendapatkan Si Kembar yang menawan.

Masing-masing pengunjung asyik dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sekedar duduk-duduk, ada yang berasyik masyuk, ada yang berpiknik, ada yang penuh keseriusan dan kesabaran duduk dekat tripodnya, siap membidik Menara Kembar. Gw, Vika, dan Didito mulai beraksi dengan kamera masing-masing, sementara Dani, selain sibuk dengan kameranya, juga langsung mengeluarkan senjata andalannya: kertas minyak, bedak tabur, dan tentu saja… gincu.

Sebagai veteran perang, tentu saja Vika sudah sangat berpengalaman mengambil foto pada malam hari. Sementara gw masih dalam tahap mengambil hati anak orang *eh*
Jadilah hasil jepretan gw nggak ada apa-apanya dibandingkan Ibu Pejabat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia *eh* *uhuk*

Pada saat yang bersamaan dengan berpendarnya Petronas Twin Tower yang membuat langit disekitarnya ikut menyala, berlangsung pertunjukan Dancing Fountain. Air mancur menari mengikuti irama lagu disertai warna-warni yang berganti-ganti, merah, hijau, ungu, biru, kuning. Tidak sepanjang hari kita bisa menyaksikan pertunjukan ini, hanya pada pukul 12:00 sampai pukul 14:00 dan pukul 18:00 sampai pukul 23:00 pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan dan hari libur besar, pertunjukan diadakan mulai pukul 10:00 hingga pukul 00:00.

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3


***

Hujan turun sangat deras saat kami kembali ke penginapan dengan menggunakan jalur Kelana Jaya Line, sekitar pukul 9 malam. Untungnya penginapan kami sangat dekat dari stasiun KL Sentral. Sambil berlari-lari di tengah guyuran hujan, dalam 5 menit kami sudah tiba di hotel.

My Hotel @Sentral adalah hotel yang Vika pilih. Hmm… bukankah diatas disebutkan Didito yang in charge soal hotel? Iya, betul, tapi itu untuk hotel di tempat lain, bukan di Kuala Lumpur ini *sok misterius*

My Hotel sendiri merupakan salah satu budget hotel yang terdapat pada beberapa titik di Kuala Lumpur. Selain terletak di lokasi strategis, harga yang terjangkau dengan fasilitas yang cukup nyaman membuat hotel ini menjadi favorit dan pilihan banyak flashpacker. Kami memesan 2 kamar tipe My Twin yang didalamnya terdapat twin bed, lemari, meja rias, sofa dan meja kecil, dan tentu saja toilet lengkap dengan sabun, sampo, dan air panas. Disediakan juga teh, kopi, air mineral, juga mini safe deposit box. My Hotel cukup bersih dan yang jelas dekat dengan kawasan Little India yang terkenal dengan keramaian dan gemerlap lampunya. Di sekitar hotel juga terdapat beberapa restoran yang buka 24 jam. Overall, gw puas dengan hotel ini.

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

Resepsionis

Resepsionis

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

No fancy, yet clean and comfortable toilet

No fancy, yet clean and comfortable toilet


***

How many times I’ve said that I am a fetish for fridge magnet? *belum pernah brooohh, baru kali ini lo ngaku :mrgreen:*

Jadi ke mana pun gw pergi gw selalu mencoba untuk mendapatkan magnet kulkas khas suatu negara. Sebenarnya kebiasaan ini justru baru dimulai ketika gw mulai traveling dengan uang sendiri, sepulangnya dari Korea. Jadi koleksinya memang belum terlalu banyak :mrgreen: dan gw menghindari membeli magnet negeri-negeri asing itu di Indonesia, walaupun gw tau di Mangga Dua juga ada yang menjual magnet kulkas dari berbagai negara.

Dan untuk petualangan di Kuala Lumpur kali ini, gw memutuskan untuk mengoleh-olehi diri sendiri satu buah magnet kulkas seharga RM 4 yang gw beli di Arch, toko souvenir yang terletak di dalam KL City Gallery. Sebenarnya harga sebuah magnet ini adalah RM 9, namun karena gw sudah membeli tiket untuk melihat KL Model seharga RM 5, untuk mendapatkan magnet ini gw cukup menambah RM 4 saja.

Hal lain yang gw suka dari magnet ini, selain detailnya yang cantik dan ciamik, adalah informasi yang disertakan di bagian belakang plastik pembungkusnya. Seperti magnet yang gw beli ini, terdiri dari Bunga R

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

aya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, dan KL Tower.

Bunga Raya, nama lokal dari hibiscus, adalah bunga nasional Malaysia, yang diperkirakan telah dikenalkan sebelum Abad ke 12 dari tempat asalnya di Cina, Jepang, dan Kepulauan Pasifik. Petronas Twin Towers, diperkenalkan sebagai the world’s tallest twin towers dengan tinggi mencapai 452 meter yang kedua menaranya dihubungkan dengan skybridge sepanjang 58 meter. Sultan Abdul Samad Building, yang dibuka secara resmi pada April 1897 oleh Sir Frank Swettenham untuk digunakan sebagai gedung administrasi pemerintahan dan kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan. Yang terakhir, KL Tower, selesai dibangun pada 1996 dan merupakan the world’s fourth tallest tower dengan tinggi 421 meter.

See what you got buying the magnet? Knowledge *ehm* *benerin jilbab*

***
Gw memaksakan diri mandi sebelum tidur malam itu. Kalo diikutin sih sebenernya udah capek banget dan rasanya pengen banget langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tapiiiii mengingat pilihannya adalah mandi malam atau mandi keesokan hari, gw memilih mandi malam aja deh *buka aib sendiri*

Perkiraan gw bahwa setelah mandi justru gw malah akan segar bugar, ternyata benar. Bukannya langsung tidur, gw dan Didito malah sibuk ber-whatsapp ria dengan… Vika dan Dani *etdaaaaahhh* *yaabis yang itu nggak bisa di whatsapp… gimana dooonnngg* juga dengan Nina yang kami tinggal di tanah air. Kami benar-benar tumbang menjelang pergantian hari, disertai keheranan gw melihat Didito yang tidur dengan kaki di atas.

So this is it, all the first day story. Didito and I went to sleep around midnight since we need to catch up for the next day’s adventure. Oh yeah, we really lack of good sleep at the time 😉

Pengeluaran:
.Tiket pesawat Jakarta – Kuala Lumpur pp IDR 1.679.500
.HIBA Depok – Bandara IDR 50.000
.Bakmi GM Bakso IDR 42.000
.Airport tax IDR 150.000
.KLIA Ekspres RM 35
.Hazelnut White Coffee RM 4,3
.Sandwich Tuna Mayo RM 8,5
.My Hotel @Sentral RM 60
.Kelana Jaya Rapid KL St. KL Sentral to St. Masjid Jamek RM 1,3
.Tiket KL Model at KL City Gallery RM 5
.Arch fridge magnet RM 4
.Kelana Jaya Rapid KL St. Masjid Jamek to St. KLCC RM 1,6
.Beef Lasagna RM 8,5
.Iced Milo, regular RM 3
.Kelana Jaya Rapid KL St. KLCC to St. KL Sentral RM 1,6

See You In Court!

Cerita jalan-jalan Penang-KL udah tamat ya kakak :mrgreen: tapi masih ada satu yang pantas dibahas. Gak lain dan gak bukan, tempat kita melepas penat dan lelah, nyelonjorin kaki, numpang tidur, numpang mandi, gosok gigi, dan cuci baju, sampe bisa dapet kenalan baru. Yes, kali ini ada sedikit cerita tentang penginapan yang beruntung diinapi kami saat di Penang dan di KL.

***
Beberapa bulan sebelum keberangkatan, seperti biasa saya sudah mulai mencari dan memilah-milah penginapan. Syarat masih sama seperti dulu. Standar lah. Murah, lokasi strategis, kamar nyaman, kamar mandi bersih, dan toilet ada airnya. Hihihi…
Tapi kali ini agak berbeda sedikit. Karena saya pergi bersama Erma, persyaratan jadi sedikit lebih ketat dari sebelumnya. Bagaimanapun juga saya kan berpergian dengan orang lain, jadi harus mempertimbangkan kebutuhannya juga dong. Jangan disamakan dengan saya yang masih bisa cuek tidur sekamar rame-rame dengan orang asing :mrgreen:

Pilih sana, pilih sini. Sortir ini, sortir itu. Ditambah hasil ngobrol dengan Vika dan ngegugel testimoni-testimoni dari para traveler seantero jagad raya, dengan mengucapkan bismillaah saya pun memilih…

Red Inn Court
35B&C, Jalan Masjid Kapitan Keling, atau dengan kata lain Pitt Street, Penang, Malaysia
Stayed here for two nights from May 17th – 19th
We booked standard two bed mixed dorm with shared bath room through HostelWorld and we paid RM70/person for two nights. RM1 equals IDR3.000, approximately
Hop on Rapid Penang #401 from Sungai Nibong Bas Terminal

Dan Alhamdulillaah, pilihan saya terbukti akurat. Tidak ada penyesalan sama sekali telah memilih Red Inn Court sebagai tempat menginap selama dua malam di Penang.
Lokasi strategis? Tentu! Red Inn Court terletak di Jalan Masjid Kapitan Keling yang merupakan salah satu jalan utama di George Town, dan dilewati oleh bus gratis yang bisa ditunggu di halte St. George’s Church yang hanya sepelemparan batu dari penginapan.
Dekat dengan tourism attractions? Definitely! Mau ke mana-mana tinggal jalan kaki. Mau menikmati matahari terbenam dari pinggir Esplanade juga ayo!
Friendly service? Yup! And they open 24 hours. Jadi, jangan takut kalo sampe sana udah tengah malem buat dalam keadaan lepek dan muka berminyak. Akan tetap disambut secara ramah kok!
Kamarnya? Bagi saya, standard two bed mixed dorm yang kami tempati itu cukup nyaman. Memang kecil, hanya 2,2 x 3 meter, tempat tidur bertingkat, dan tanpa jendela, tapi ber-AC, bersih, dan kasurnya sungguh nyaman. Itu sudah lebih dari cukup.
Kamar mandi? Sepengamatan saya, ada empat kamar mandi yang semuanya terletak di lantai dua. Tiga terpisah dari toilet, dan satu sisanya menjadi satu dengan toilet. Jelaslah yang mana yang selalu saya gunakan kan? Tentu yang berada dalam satu ruangan dengan toiletnya :mrgreen:
Oya, kamar mandinya pun besar, bersih, dan ada air panasnya. Lampunya menyala otomatis bila pintu ditutup. Tips: bangun subuh, langsung mandi. Dijamin bisa jadi raja deh, soalnya turis-turis bule belom ada yang bangun jam segitu, jadi gak perlu rebutan kamar mandi.
Toilet? Sejauh yang saya tau, ada lima toilet. Empat di lantai dua, satu di lantai satu, tepat di depan kamar kami. Eh tapi yang dilantai satu ini sempit banget bo’…cukup sekali deh di situ pas kebelet banget ketika baru nyampe, besok-besoknya setiap pengen ketemu toilet pasti manjat ke lantai dua.
Lalu, apakah disediakan sarapan? Oh iya tentu saja. Menunya pun menu tradisional Melayu. Gak mau bilang Malaysia soalnya Indonesia juga punya ya bo’. Ya iya lah… lha yang dihidangkan itu dadar gulung, pastel, kwetiaw… gak beda sama sekali sama yang di tanah air. Ah tapi mungkin kalo saya punya penginapan, menu sarapan itu kemungkinannya indomi rebus pake telor dadar dan irisan cengek, atau nasi goreng, atau bubur ayam, atau bubur kacang ijo, ketoprak, lontong sayur padang, gorengan… hihihi. Btw, kami gak menyentuh sarapannya, karena selalu bertekad makan roti canai di luar. Kalo makan di hostel kan malu ya ngambil banyak-banyak, nanti tamu lain gak kebagian dong 😆

Selain sarapan, Red Inn Court juga menyewakan sepeda untuk keliling Penang dan menyediakan peta gratis. Nilai tambah yang membuat kami semakin jatuh cinta dengan tempat ini adalah interiornya yang khas dan cantik. Furniture-nya antik, dengan mesin jahit tua dan alat makan tempo dulu yang turut memperindah suasana.

Jadi, kesimpulannya? Yups! Saya dan Erma sangat-sangat merekomendasikan tempat ini. Thumbs up! It’s really worth to stay!

***

BackHome KL

30, Jalan Tun H.S. Lee, Kuala Lumpur, Malaysia
Stayed here for one night from May 19th – 20th
We booked double bed private with shared bath room through HostelWorld and we paid RM55/person for one night. Deposit RM30 each person that will be paid back to you upon your leaving. RM1 equals IDR3.000, approximately
10 minutes walking distance from both Pudu Sentral and Masjid Jamek station

Terus terang, bagi saya lebih mudah memilih penginapan di Penang ketimbang di KL. Maka ketika D, salah seorang rekan kerja menyarankan tempatnya menginap ketika dia berkunjung ke KL, tanpa ragu saya langsung memesan sebuah kamar di penginapan tersebut. BackHome KL.

Dan lagi-lagi, baik saya maupun Erma merasa sangat puas dengan pilihan kami.
Fasad bangunan boleh lah terlihat kusam, tapi tunggu hingga masuk ke dalam. Suasananya sungguh nyaman, homey, dengan resepsionis yang menyambut hangat dan ramah. Para staf di sana bukan hanya ramah, tapi juga rela berkorban. Buktinya mereka mau basah-basahan dibawah derasnya hujan demi mencarikan taksi untuk saya dan Erma ketika kami harus berkejaran dengan waktu menuju KL Sentral.

Kamar yang kami tempati sungguh besar dan nyaman. Tempat tidur besar, lemari pakaian yang besar, bahkan sampai ada wastafel dan cermin di tiap kamar. Kami benar-benar merasa senang menginap di sini. Kamar mandinya pun bersih dan seperti biasa, terpisah dari toiletnya, yang juga bersih.
Bicara soal lokasi, biarpun terletak dekat dengan jalan besar, tapi daerah sekitar hostel cukup sepi, yang bagi kami justru bagus karena kondusif untuk beristirahat. Dan sepi di sini bukan berarti tidak aman lho, Alhamdulillaah kalo masalah keamanan sih aman-aman saja tuh.
Lalu, bagaimana dengan sarapan? Ya, sarapan juga disediakan, dengan menu standar seperti roti panggang dan kopi serta teh. Di sini kita tidak diperbolehkan membawa makanan ataupun minuman dari luar. Makanya mereka juga menjual mi instan dalam bentuk cup seharga RM3/cup. Di living room yang nyaman juga tersedia komputer bagi yang ingin mengakses internet *tapi bayar ya…lupa berapa tarifnya* atau tumpukan buku mengenai traveling bagi yang ingin mengisi waktu bersantai dengan membaca.
Berbeda dengan Red Inn Court yang menata interiornya dengan desain oriental artistik tempo dulu, BackHome KL mengambil tema desain modern minimalis.

Nah, dari sedikit penjelasan di atas udah tau dong apa kesimpulan kami mengenai BackHome KL?
Totally recommended, pastinya. Sama seperti Red Inn Court di Penang, BackHome KL pun really worth to stay!

***
Mumpung masih cerita soal penginapan, sekalian aja cerita tentang penemuan teman baru #eh# yang semakin mengukuhkan pandangan bahwa dunia itu sempit, Indonesia aja yang kelewat luas :mrgreen:

Alkisah pada minggu pagi, 20 Mei 2012, saya dan Erma sedang menyeruput teh di living room-nya BackHome KL, sambil mengoceh dalam bahasa Indonesia. Di dekat kami saat itu beredar seorang cowok berbadan besar, sibuk dengan ransel dan kamera canggihnya. Cowok itu kemudian ikut duduk di sofa, dan menyapa,

“dari Indonesia, mbak?”

Selanjutnya, tentu saja saling bercerita tentang perjalanan masing-masing. Bahwa ternyata dia berpergian dengan teman-temannya. Bahwa dia sebenarnya bingung dengan apa yang bisa di eksplor di KL karena menurutnya kurang eksotis dibandingkan negara-negara indocina. Bahwa KL sebenarnya hanya tempat transit saja setelah sebelumnya dia berpetualang di Penang dan Langkawi.
Eh… sebentar… Penang?

“Iya, di sana tempat nginepnya juga bagus dan murah. Namanya Red Inn Court”

Red Inn Court?

Pikiran saya dan Erma serta merta terbang ke Penang.
Saat itu, pagi sekitar pukul 6 waktu Malaysia, dengan mata setengah terbuka karena masih sangat mengantuk, kami menaiki tangga ke lantai dua Red Inn Court untuk membasuh diri. Tepat ketika saya sampai di kamar mandi favorit saya, dari dalamnya keluar seorang cowok berwajah Asia.

“Jangan-jangan, lo cowok yang di kamar mandi itu ya?”

Erma, yang selesai berpakaian terlebih dahulu, masuk ke kamar dan bicara pada saya.

“Ke, itu di depan ada cowok-cowok orang kita tuh.”
“Kok tau orang kita?”
“Mereka ngomong pake bahasa Jawa”

Dan setelah itu Erma beberapa kali keluar masuk kamar, kebetulan kamar kami terletak di depan tangga, bersisian dengan ruang makan penginapan.

Cowok itu tampak terkejut dengan pertanyaan saya.

“Oh? Lo berdua tuh cewek-cewek yang nginep di kamar di depan tangga ya?”

Ini juga salah satu hal yang membuat saya senang traveling as is alias seadanya. Menjalin pertemanan dan persahabatan baru adalah hal sederhana namun luar biasa yang tak ternilai harganya. Tau rasanya susah, saling memberikan ide, bertukar pikiran, berbagi tips dan pengalaman… sepertinya bukan hal yang bisa didapat jika kita berpergian dalam satu rombongan tur yang terikat jadwal dan duduk selalu di dalam bus wisata yang sama.

Dan kemarin, baru saja saya ngobrol dengan Akhyaarul, cowok itu, bicara tanpa arah tentang cita-cita kami menuntaskan kunjungan ke negeri-negeri indocina 😉

Kuala Lumpur All In

Akhirnya ya akhirnya, menulis tentang pelesir ke KL tempo hari lagi. Setelah sekian lama tertunda ya… Oya, peringatan sebelumnya ya kakak, ini akan jadi post yang sangaaaaaattt panjang. Dan ada beberapa foto yang kurang oke. Ihik. Bear with me, dear, bear with me :mrgreen:

***
Saya dan Erma masih punya waktu beberapa jam sebelum kami akhirnya harus kembali ke Bandung. Entah kenapa, kami merasa tidak terlalu bersemangat untuk mengeksplorasi KL, dan ini berimbas pada semangat kami membidik objek foto. Saya masih sedikit lebih baik karena saya berusaha untuk tetap memotret sekeliling, walaupun minat saya yang biasanya ada pada detail, hilang menguap entah ke mana. Erma malah gak semangat sama sekali baik, baik untuk memotret ataupun dipotret. Dia hanya ingin berjalan menikmati KL tanpa melakukan apapun. Mungkin tenaga kami sudah terkuras di Penang. Entahlah.

***

Pagi itu setelah selesai packing dan sarapan, kami mencoba untuk melakukan eksplorasi kecil-kecilan daerah sekitar hostel. Tentu saja dengan berjalan kaki seperti yang selalu kami lakukan di Penang.
Minggu pagi itu begitu sepi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8.
Keluar dari hostel, kami berjalan ke kanan hingga ke ujung Jalan Tun HS Lee yang ada Muzeum Telekom, berbelok ke kiri, kemudian berbelok ke kiri lagi hingga bertemu Bank Muamalat dan stasiun Rapid KL Masjid Jamek.
Dari situ kami menyusuri Jalan Perak kemudian menyeberang dan… voila!!! Sampailah kami di kawasan Jalan Raja di mana terletak Dataran Merdeka!

Menurut buku petunjuk yang dikeluarkan oleh Tourism Malaysia, Dataran Merdeka adalah starting point yang bagus untuk mengeksplorasi KL. Dataran Merdeka itu sendiri, sesuai dengan namanya, adalah sebuah lapangan besar yang digunakan untuk memperingati kemerdekaan setiap tahunnya, selain digunakan juga untuk berbagai pertandingan olahraga seperti cricket, hockey, tennis, dan rugby. Di tengah-tengah lapangan berdiri tiang bendera setinggi 100 meter, di klaim sebagai tiang bendera tertinggi di dunia, di mana terpasang bendera Malaysia.

Sebelum kita bisa menemukan Dataran Merdeka, mata kita akan terpaku terlebih dahulu pada sebuah gedung yang memanjang di sisi jalan. Gedung cantik tersebut berasitektur khas Moor, lengkap dengan menara jam dan atap berbentuk kubah. Itulah gedung Sultan Abdul Samad. Baik dalam peta maupun buku petunjuk wisata, gedung Sultan Abdul Samad tersebut diinformasikan sebagai Mahkamah Tinggi dan Mahkamah Agung-nya Malaysia. Tapi saat kami ke sana, tulisan yang ada berkata bahwa gedung tersebut berfungsi sebagai Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia.

Di sisi Dataran Merdeka terdapat Royal Selangor Club yang didirikan oleh Kolonial Inggris pada tahun 1884 sebagai tempat berkumpulnya kaum berpendidikan dan pejabat tinggi dari kalangan Inggris. Walaupun demikian, keanggotaan klub ini lebih diprioritaskan pada jenjang pendidikan dan strata social, dan bukan pada ras ataupun kewarganegaraan.


Gedung Sultan Abdul Samad yang berfungsi either sebagai High Court atau sebagai Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia

Saat berjalan menyusuri Jalan Raja, kami berpapasan dengan serombongan turis yang turun dari bus mereka dan kemudian sibuk berpose. Hanya sebentar, karena setelahnya mereka terburu-buru kembali ke dalam bus. Saya dan Erma mempertanyakan esensi berwisata mereka. Semata-mata berfoto tanpa mau mengenal lebih dekat sudut kota atau entah apa, tapi tentu masing-masing orang mempunyai preferensi yang pasti berbeda satu dengan lainnya. Kami tidak punya hak menghakimi orang lain kan? Kebetulan saja kami lebih memilih untuk mengayunkan langkah kaki, memaksa betis kami hingga berkonde menelisik kota.

Dari Dataran Merdeka, kami berbelok ke kiri keLebuh Pasar Besar dan menyeberangi sebuah jembatan diatas sungai Klang, mencari jalan kea rah Masjid Jamek, tujuan kami berikutnya. Ketika berada diatas jembatan, kami menengok ke kiri, dan melihat sebuah bangunan terhalang pepohonan. Penasaran apakah itu Masjid Jamek atau bukan, biarpun sempat ragu kami pun masuk ke jalan kecil yang tampaknya mengarah ke bangunan tersebut.

Eh… ternyata beneran Masjid Jamek. Kami pun memutuskan untuk mampir sejenak dan mendapat sambutan yang, menurut saya, seadanya. Hanya mungkin karena kami berjilbab dan bilang mau shalat, kami dipersilakan meneruskan langkah melihat-lihat. Kami tidak bohong ketika mengatakan mau shalat. Erma, yang baru saja bersih, ingin menunaikan shalat Dhuha. Saya pun menunggu di tepian, sementara Erma melaksanakan shalat di bagian luar Masjid setelah sebelumnya diwanti-wanti oleh seorang ibu supaya shalat di luar saja dan tidak terlalu lama.
Oya, selayaknya memasuki tempat ibadah, bagi turis lain yang dirasa berpakaian kurang pantas dan tetap ingin melihat-lihat Masjid pun sudah disediakan gamis dan kerudung.


Masjid ini dibangun pada 1909 dan merupakan masjid tertua di kota Kualalumpur.Terletak di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak, tempat asal muasal kota Kuala Lumpur.
Masjid indah dengan arsitektur khas Moghul India ini dibuka secara resmi sebagai Masjid Negara pada 1965.


Neng Erma si muslimah shalihah anti galau #eh

Selesai shalat, karena jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk check out. Maksudnya sih supaya ketika di Petronas nanti kami tidak terburu-buru.
Malam sebelumnya, ketika berkunjung ke Central Market, kami menyempatkan diri melihat-lihat majalah Malaysia. Tak jarang kami terkikik geli melihat nama majalah atau headline-nya.Semata karena bahasa Melayu yang memang berbeda dengan bahasa Indonesia.

Tapiiiii… gak ada yang ngalahin ini nih, yang kami temui di lapak koran dekat hostel:


Dan apakah misteri siapa Bubu sebenarnya terkuak? *cium tangan Syahrini* 😆

Setelah menyelesaikan urusan check out, saya dan Erma kembali lagi ke jalan. Tujuan kali ini, Menara Kembar Petronas, yang kalau menurut peta, cukup dekat dari hostel sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Website hostel pun seia sekata. Dalam website mereka berpromosi hanya 20 menit berjalan kaki untuk mencapai Twin Towers.

Setelah dijalani, ditambah nyasar karena tiba-tiba berubah tujuan mau ke Pavilion Mall dulu, ternyata 20 menit itu perlu dikali 2 sehingga jadi 40 menit berjalan kaki. Tapi karena hari belum terlalu siang dan sepanjang jalan yang kami lalui dipenuhi pohon rindang, perjalanan jadi terasa tidak terlalu melelahkan. Nikmati saja pemandangan sekitar. Kapan lagi bisa berjalan santai di sepanjang jalan protokol tanpa harus khawatir diseruduk motor? *nyinyir abiiiss*


Gereja cantik dan rindang: salah satu pemandangan menuju Petronas Twin Towers

Tujuan pertama adalah Suria KLCC, yang isinya gak beda jauh sama Pondok Indah Mall 2. Saya bermaksud mencari beberapa benda untuk Nyonya Besar. Yang pertama disasar adalah outlet Vincci, salah satu brand asli Malaysia yang menawarkan ragam apparel dengan harga terjangkau. Sesampainya didalam gedung, kami celingak-celinguk, berkali-kali berjalan dari ujung ke ujung, tapi kok ya gak ketemu juga gerai yang dimaksud. Setelah bertanya pada Pak Satpam, akhirnya ketemu juga tokonya Vincci. Oya, selain menunjukkan arah, Pak Satpam pun tak lupa mengingatkan agar kami berhati-hati dengan barang bawaan kami.

Mungkin saat itu bukan waktu yang pas bagi saya untuk belanja. Tak ada satu pun barang yang dipajang di situ yang menarik hati saya. Padahal udah dilama-lamain, satu benda dipelototin lamaaa…maksudnya sih biar naksir terus beli, eh tapi tetep dong ah gak tertarik. Malah bingung karena di mata saya kok warna-warna neon itu terlihat…ehm…norak dan berlebihan :mrgreen:
Padahal sebagai alay nasional, saya biasanya juga norak dan kampungan. Tapi entah kenapa all those Vincci things kelihatan biasa aja saat itu. Dan saya cukup yakin, kalau Nyonya Besar juga gak akan suka sama benda-benda itu, karena biasanya Nyonya Besar selalu nurut sama apa yang saya pilihkan *anak durjana* :mrgreen:

Tanpa diduga, malah Erma yang akhirnya membeli sepasang sepatu. Saya yang putus asa *eh…agak berlebihan ya? Hihihi…* bergerak ke gerai Charles & Keith yang terletak disebelahnya, dan lagi-lagi tidak menemukan sesuatu yang istimewa.
Dalam kebingungan itu, tiba-tiba sebuah lampu bohlam menyala dalam kepala saya. Tring!!! Saya melihat Sephora! Iya ya, kenapa tidak saya bawakan saja sebotol parfum untuk Nyonya Besar? Nyonya Besar, sebagaimana perempuan pada umumnya, senang menggunakan parfum. Tentunya eau de parfum digunakan hanya pada momen khusus, sehari-hari body mist sudah cukup menyegarkan badan beliau.

Baiklah, mari kita tinjau sephora ini. Saya, yang tidak biasa menggunakan lapisan-lapisan kosmetik ataupun perawatan tubuh kecuali dalam jenis yang paling sederhana, langsung berjalan lurus ke konter parfum. Saya melihat j’adore-nya Dior, parfum yang sudah lama saya impikan sejak saya pertama kali melihatnya di Paris tahun 2008 silam, dan tentu saja, harganya masih selangit, sehingga bisa dipastikan, hingga saat ini saya belum mampu membelinya :mrgreen:
Oke, usut punya usut, setelah kusut membaui berbagai macam parfum sehingga saya bahkan tidak bisa membedakan wangi yang satu dengan yang lain, akhirnya saya menenteng satu kotak kecil Chloe, dan sebuah kartu sephora dengan doa saya akan sering menggunakannya *aamiin* hihihi…

Baik saya maupun Erma merasa tenang karena target awal telah terpenuhi. Target berikutnya adalah makan-mahal-sekali-saja. Kami memang mencanangkan agenda makan-mahal-sekali-saja dalam agenda perjalanan hemat ini. Kere-kere belagu 😆


The BackpackGirls dalam makan-mewah mereka :mrgreen:

Secret Recipe jadi pilihan kami. Di Indonesia juga ada sih ini, tapi ya gak ada salahnya juga kan mencicipi langsung di negeri asalnya? Siapa tau ada perbedaan-perbedaan tertentu?

Dan ya, perbedaan itu ada *alah bahasanya ya booo’ :lol:*
Yang paling kelihatan oleh mata kami adalah: perbedaan porsi dan pelayanan.
Secret Recipe di KL ini menyajikan hidangan dalam porsi jumbo, dan di sini juga pertama kalinya saya makan lasagna yang disajikan bersama dengan sepotong roti bantal.
Pelayanannya pun cukup cepat, dibandingkan dengan Secret Recipe di Pejaten Village. Pesanan segera dating tak lama setelah kami memesannya, dan hebatnya, para pelayan di sini tidak memerlukan notes untuk mencatat pesanan para pengunjung, seolah-olah mereka hafal diluar kepala dan memang begitulah tampaknya!
Dan yang terpenting dalam acara makan memakan kali ini adalah, terpuaskannya hasrat Erma memamah tom yam kung, setelah makan hati selama di Penang ngikutin kemauan saya menyantap roti canai lagi dan lagi *sungkem sama Erma*

Menyadari waktu yang terus merangkak naik, segera setelah perut terisi kami pun melangkah keluar dari Suria KLCC, dan pemandangan KLCC Park serta merta menyambut kami.
Sambil terus mencari spot foto yang oke dengan latar belakang the famous twin towers, baik saya maupun Erma beberapa kali dimintai tolong oleh orang-orang untuk memotret mereka. Ternyata berpergian berdua pun, tetap saja kami dimintai pertolongan. Mungkin aura malaikat terpancar jelas dari wajah kami *dilempar batako*

Sejujurnya, ketika keluar dari Suria KLCC dan menatap Twin Tower, saat itu juga kami merasa, oh…ini ya twin towers yang jadi landmark KL itu? Terus apa? Tiba-tiba perasaan istimewa yang menggebu-gebu hilang menguap begitu saja. Entah karena langit mendung saat itu sehingga twin towers terlihat begitu biasa, atau karena kami memang kehilangan semangat, tapi ketika kami mendongakkan kepala ke atas, menatap puncak twin towers, yang jelas kami merasa alangkah baiknya jika kami ke sini pada malam hari, dengan kamera DSLR yang canggih, memuaskan diri mengambil ratusan gambar menara kembar yang bermandikan cahaya dan pasti tampak sangat indah.

Ah tapi, jika kami ke sana pada malam hari, bagaimana kami dapat menikmati segarnya pemandangan hijau KLCC Park yang membentang memanjakan mata? Dan mungkin pula kami tidak akan melihat anak-anak kecil yang bermain di kolam renangnya, atau mendengar serombongan TKI yang ribut bergerombol, saling berteriak memanggil rekannya dalam bahasa Jawa, dengan rambut gondrong dan aksesoris yang mengatakan seolah-olah mereka itu preman, atau kaum perempuannya dengan dandanan menor dan selera berpakaian yang kurang…hmm…ya gitu deh. Kok ya gak enak ngomongin bangsa sendiri. Saya dan Erma dengan agak sedih memperhatikan mereka. Kami teringat dengan seorang mbak asal Jawa di Penang yang kami temui dalam bis, yang menyebut ‘Indonesia’ dengan ‘indon’. Saya terhenyak saat itu. Walaupun dalam nada bercanda, saya tidak bisa menerima dan memahami penyebutan tersebut 🙂

***
Kami melirik jam. Sudah pukul 2. Sudah waktunya kembali ke hostel untuk seterusnya melanjutkan perjalanan ke bandara. Saya dan Erma melangkah terburu-buru, mencari stasiun KLCC, dan dalam ketergesaan membeli tiket rapid KL. Wow! Kami surprised dengan ticketing system Rapid KL ini. Sungguh jauh lebih maju daripada Jakarta!
Dengan ketidaktahuan akan cara kerja si mesin dan rasa takjub dan kagum yang tergambar jelas di wajah kami, kami memencet-mencet layar sentuh, memilih titik keberangkatan dan destinasi, berapa tiket yang kami perlukan, dan memasukkan uang sebesar tarif yang tertera. Setelah sentuhan terakhir, voila!!! Keluarlah dua buah koin plastik berwarna biru, persis seperti koin mainan untuk main otelo atau halma :mrgreen:

Dengan noraknya, kami mengamati koin tersebut lekat-lekat. Lalu nanti koin ini untuk apa ya? Untuk koin menaiki Rapid KL, tentu. Tapi bagaimana cara penggunaannya?
Kami go with the flow saja. Ketika ada benda yang tampaknya jodoh dengan si koin, kami pun memasukkan koin tersebut ke dalamnya. Dan yup! Kami sukses masuk ke peron Rapid KL :mrgreen:

Dalam perjalanan singkat dengan Rapid KL tersebut, kami melihat sepasang muda-mudi yang tampaknya sedang dalam masa pendekatan. Kebetulan mereka turun di stasiun Masjid Jamek, sama seperti saya dan Erma. Kontan saja kami melakukan permainan kesukaan: dubbing pasangan tersebut. Saya jadi yang cowok, yang kebetulan tampak macho dengan rambut kriwil gondrongnya, Erma jadi yang cewek, yang berjilbab warna pastel. Sepanjang jalan ke hostel, kami ngikik-ngikik dengan lelucon kami sendiri, sampai-sampai kami cukup yakin, pasangan itu tau bahwa mereka diikuti 😆

Mungkin kualat terhadap pasangan tersebut, tak lama sesampainya di hostel turun hujan sangat deras. Bingung pun menghinggapi kami, karena waktu yang semakin mendesak membuat kami mau tak mau harus berangkat saat itu juga ke KL Sentral untuk kemudian dari sana melanjutkan lagi ke LCCT. Hujan sangat deras sehingga agak berisiko jika kami harus berlari-lari hingga stasiun Masjid Jamek ataupun terminal Puduraya.
Alhamdulillaah petugas resepsionis hostel sangat baik hati dan berjiwa penolong. Dengan rela hati, dia bersama rekannya nongkrong dipinggir jalan, memayungi diri dari derasnya hujan dan cipratan air dari setiap kendaraan yang lewat, menyetop setiap taksi yang terlihat sementara saya dan Erma duduk ongkang-ongkang kaki di dalam hostel.
Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya ada juga taksi yang bersedia mengangkut kami ke KL Sentral. Setelah negosiasi harga dengan si supir *taksi di Penang maupun KL semuanya spesialis argo tembak*, akhirnya saya dan Erma duduk tenang di dalam taksi, mendengarkan celoteh supir taksi yang kecewa dengan kebijakan pemerintahnya yang membedakan perlakuan kepada pendatang berdarah Melayu dan Asia Selatan.

Kami sampai di KL Sentral tepat pada saat Sky Bus yang menuju LCCT akan berangkat. Kami melompat naik dan seperti biasa, tak henti-hentinya mengobrol selama perjalanan sambil sesekali mengamati dua orang abang-abang bule yang duduk di kursi sebelah, tak lain dan tak bukan karena mereka termasuk ke dalam kategori tampan :mrgreen:

Sampai di LCCT, segera kami kembali berlari-lari untuk urusan imigrasi dan… makan. Ya! Kami kembali lapar! Maka kami melompat ke dalam McD, terburu-buru memesan, terburu-buru makan, dan lagi-lagi berlari menuju ruang tunggu.

Seperti biasa, Air Asia berangkat tepat waktu pukul 18:26 local time…

…dan sampai tepat waktu pukul 19:30 local time. Kami kembali satu pesawat dengan Sammy, si anak kecil yang ketakutan saat take off dan langsung asyik dengan playstationnya setelah pesawat mengudara.

***
Suatu ketika, akibat sifat pecicilan saya yang suka sok akrab sama orang asing *dalam hal ini supir taksi gemah ripah* saya pun mendapatkan informasi berharga. Tidak ada taksi berargo yang boleh mangkal di bandara Husein Sastranegara!
Saya pun bengong mendengarnya. Benar, tidak ada taksi yang boleh mengambil penumpang dari bandara itu selain taksi milik Angkatan Udara yang jelas-jelas tidak menggunakan argo. Gak beda sama taksi Penang dan KL, mereka pun menggunakan argo tembak. Lima puluh ribu rupiah dari bandara ke Lengkong Besar. Lalu bagaimana bila kami ingin naik taksi dengan tarif yang masuk kantong?

Jadi, menurut pak supir taksi gemah ripah, setelah sampai di pintu keluar bandara, ya kita tinggal berjalan kaki ke jalan pajajaran, sambil menelpon gemah ripah dan mengabarkan,

“halo, saya si anu, mau pesan taksi ya Pak, saya gupai-gupai di pinggir jalan pajajaran di pintu bandara”

And it definitely works. Itulah yang saya dan Erma lakukan. Sambil menggeret koper, kami mengikuti kekeraskepalaan kami menolak taksi-taksi berargo tembak, berjalan ke jalan pajajaran *kalo kata Mr. Engineer, “gak sekalian aja lo jalan sampe kos lo?” :mrgreen:* dan di sanaaa… tak lama taksi pun menepi. Hasil gupai-gupai via telepon.

Lalu apa yang kami dapat saat ke KL?
Banyak!
Tapi kami menangkap kesederhanaan masyarakat KL dalam menjalani keseharian kehidupan mereka. KL dan Jakarta sama-sama menyandang predikat sebagai ibukota negara, sama-sama metropolis, sama-sama megah dengan landmark-nya masing-masing.
Tapi entah kenapa, beberapa jam di KL membuat kami berkesimpulan bahwa mereka tidak sebegitu hiruk pikuk seperti Jakarta. Paling tidak, kami melihatnya dari jenis mobil yang melaju di jalan-jalan protokol mereka. Sebagian besar mobil-mobil sederhana, bukan tipe yang macam-macam yang mungkin sering kami temui di Jakarta atau Bandung.
Dan kami pun menduga, mereka mungkin menjunjung tinggi transparansi. Kami hampir tidak pernah melihat mobil dengan kaca film. Semua seperti aquarium. Kami bisa melihat jelas isi mobilnya.
Dan sepeda motor? Oh… mereka menaruh sebuah keranjang pada sepeda motor mereka, persis seperti keranjang sepeda. Mungkin ini terlihat sederhana, atau tidak penting, tapi kami justru memperhatikan detail seperti itu.

Kita memang tidak jauh berbeda dengan mereka, tapi harus diakui, sistem transportasi mereka jauh, jauh kebih baik daripada yang kita punya.

Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa kita perbuat agar negara kita, atau paling tidak, tempat tinggal kita menjadi lebih baik untuk warganya? *tiba-tiba serius 😆 tapi, saya memang serius. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya beberapa minggu terakhir ini*

See you in the next post! *kecup*

Expenses:
– Makan siang di Secret Recipe Suria Mall KLCC RM 25
– Chloe EDP 30 ml RM 190
– Rapid KL ke stesen Masjid Jamek RM 1,60
– Taksi ke KL Sentral RM 15 (berdua sama Erma jadi each RM 7,50)
– Tiket Sky Bus KL Sentral ke LCCT RM 10
– Karena lapar, makan lagi di McD LCCT RM 14,25
– Taksi ke kos (agak muter ke jalan Aceh karena nge-drop Erma dulu) IDR 20.000

A Night at A Corner of Kuala Lumpur

Perjalanan cukup panjang yang saya dan Erma isi dengan berbagai macam obrolan dan disuguhi pemandangan alami bebatuan kapur dan kelapa sawit di sisi jalan akhirnya berakhir di Pudu Sentral.

Touchdown Kuala Lumpur!!! Yeaaaaayyy!!! *senam tulang setelah lima jam meringkuk di kursi bus*

***

Ini kedua kalinya kami mendatangi Pudu Sentral, setelah sebelumnya hanya singgah untuk mencari bus menuju Pulau Penang. Sebagai terminal, Pudu Sentral ini cukup rapih, bersih, dan teratur. Tidak semrawut dan kotor seperti terminal-terminal di Indonesia. Jadwal keberangkatan bus juga tampaknya telah tersistemisasi dengan baik. Ada layar khusus yang menginformasikan tujuan dan jam keberangkatan dari bus-bus yang ada. Agak sedikit canggung bagi kami untuk memperhatikan jadwal bus di layar datar tersebut, selain karena jadwal berganti agak cepat sehingga tidak sempat terbaca, mungkin juga karena kami terbiasa dengan jadwal bus ala Indonesia. Kalau mau tau bus apa menuju ke mana dan kapan berangkatnya, tinggal tanya saja pada calo yang banyak bertebaran di terminal. Tapi di Pudu Sentral ini kita dituntut untuk mandiri, dan jika mau bertanya sebaiknya tanya langsung pada supir, tentunya kita juga sudah membekali diri dengan informasi yang didapat dari internet ya.

Jika sebelumnya kami hanya ke bagian bawah terminal, di mana bus-bus menunggu para calon penumpang, kali ini kami tentu ke lantai atas karena kami harus keluar menuju penginapan. Saat itu sore hari, sekitar pukul 18:00, Kuala Lumpur sedang diguyur hujan. Karena tidak ada pilihan, kami memutuskan untuk tetap keluar dari terminal dan mencari penginapan kami dengan berjalan kaki karena, jika dilihat dalam peta, penginapan kami yang terletak di Jalan Tun HS Lee tampak cukup dekat dengan Pudu Sentral.
Benar saja. Hanya 10 menit waktu yang diperlukan untuk sampai di penginapan. Kami berjalan di tepi Jalan Tun Perak, jalan pertama yang ada di sisi kanan adalah Jalan Raja Chulan Changkat, kemudian setelahnya adalah Jalan Hang Lekiu. Karena penginapan kami katanya terletak di ujung Jalan Tun HS Lee, dekat dengan Telekom Museum, kami memutuskan untuk masuk ke Jalan Hang Lekiu. Berjalan terus hingga ujung jalan, berbelok ke kiri, kemudian belok kiri lagi, kami sudah ada di Jalan Tun HS Lee.

Bangunan yang ada di kedua sisi jalan sangat tipikal bangunan ruko, yang sepertinya memang dimanfaatkan untuk usaha, seperti rumah makan, misalnya. Jalan Tun HS Lee ini, walaupun dekat dengan Jalan Perak yang merupakan jalan raya maupun dengan stasiun Rapid KL Masjid Jamek, tapi selalu tampak sepi. Bahkan di akhir pekan pun sepi.
Kami celingak-celinguk, dan melihat bangunan bercat putih yang tampak kusam entah karena usia atau memang sengaja dicat seperti itu, dengan kain berwarna merah kusam semacam bendera yang bertuliskan nama tempat itu. Itu dia tempat kami menumpang tidur semalam saja di Kuala Lumpur. BackHome KL.

***
Kami hanya menaruh tas dan sedikit membasuh muka saja di BackHome, dan seterusnya mencoba menikmati daerah sekitar hostel pada malam hari. Kami memilih untuk mengunjungi Central Market dan Petaling Street. Karena berdasarkan yang kami tau, Central Market itu tutup pada pukul 22:00, kami memutuskan untuk mengunjunginya terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, kami mendapati bahwa sebenarnya Kuala Lumpur gak jauh berbeda dengan Jakarta kok. Bus-bus besar berjejeran dipinggir jalan, ditingkahi suara kernet bus berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Tapi bus-bus tersebut berhenti memang di tempat yang disediakan untuk mereka. Ukuran bus juga lebih besar daripada Kopaja dan secara fisik pun sedikit lebih baik dari yang Jakarta punya. Kebanyakan bus-bus tersebut adalah bus yang menempuh trayek cukup jauh, seperti ke Genting.

Cahaya disepanjang jalan pun agak sedikit remang-remang, banyak lorong gelap dimana banyak pula orang India keling nongkrong di situ karena memang banyak rumah makan menjual roti canai bertebaran di sisi jalan. Jalanan agak basah sisa hujan sore tadi. Dalam perjalanan pulang, kami melihat beberapa lelaki berseragam ala militer tampak menciduk seorang lelaki berperawakan India.

Central Market terletak tak jauh dari hostel kami, kurang lebih hanya 15 menit berjalan kaki. Di sini kita bisa menemukan banyak pilihan barang untuk dijadikan oleh-oleh. Mulai dari pernak-pernik ‘common’ seperti keychain atau magnet, hingga mainan edukatif untuk anak-anak seperti puzzle atau pesawat terbang rakitan. Kios-kiosnya teratur rapih, terletak di dalam gedung berpendingin ruangan dengan tampilan fasad yang modern. Harga yang dibandrol sudah merupakan harga mati, tapi biasanya dapat diskon sedikit jika membeli dalam jumlah banyak atau membeli beberapa jenis barang. Saya dan Erma berkeliling, dan mendapati banyak sekali barang produksi Thailand di sini. Dan barang-barang tersebut khas Thailand pula, penuh dengan sulaman benang warna-warni dan bentuk gajah di mana-mana. Kami jadi berpikir, kami ini ke Malaysia atau ke Thailand sebenarnya?

Sebenarnya saya sudah mendapatkan beberapa barang yang dijadikan target operasi untuk dijadikan oleh-oleh, tapi saya masih menunda untuk membeli karena ingin membandingkan dengan Petaling Street.

Petaling Street itu sendiri mirip dengan Pasar Baru di Jakarta. Area pedestrian yang semakin lama semakin sempit karena dipenuhi oleh banyak lapak yang menjual beragam barang. Jadi Petaling Street ini udah bukan sentra oleh-oleh khas Malaysia lagi karena barang-barangnya bukan hanya barang-barang khas mereka tapi juga barang-barang KW yang biasa kita temukan di Mangga Dua dan harganya pun bisa dinegosiasikan. Hanya Mangga Dua tentu punya lebih banyak variasi.
Setelah melihat-lihat dan menyusuri sepanjang jalan Petaling Street yang dihiasi lampion-lampion merah, saya dan Erma memutuskan untuk kembali ke Central Market dan membeli oleh-oleh kami di sana. Kebetulan kalau untuk pernak-pernik kecil pilihannya jauh lebih banyak dan lebih bagus di Central Market. Apalagi untuk oleh-oleh yang sifatnya ‘common’ seperti magnet atau gantungan kunci, walaupun di Petaling Street harga bisa ditawar, tapi jatuh-jatuhnya gak jauh beda dari Central Market. Saya membeli beberapa magnet untuk penghias kulkas karena memang koleksi, juga tempat kartu nama dan sebuah gantungan henpon berbentuk ikan lumba-lumba yang terbuat dari kain perca berwarna pink dan abu-abu.

Menjelang pukul 10 malam, toko-toko di Central Market bersiap-siap tutup. Kami pun beranjak pulang. Tadinya mau makan malam dulu di es teller 77 yang terletak tepat di depan Central Market, tapi ternyata udah tutup duluan. Akhirnya kami kembali ke hostel sambil berharap bisa menemukan tempat makan yang masih buka pada jam segitu.

Dan ternyata tidak. Daerah sekitar hostel sungguh sepi. Saya hanya menyempatkan diri memotret KL Tower yang terlihat puncaknya dari kejauhan. Setelahnya saya dan Erma segera masuk ke hostel dan, karena tidak diperkenankan membawa makanan dari luar, kami membeli dua buah instant cups noodles, masing-masing seharga RM3. Di ruang duduk hostel yang nyaman itu tersedia air panas. Kami menyeduh mi instan tersebut dan makan di teras, langsung dibawah langit malam yang gelap pekat, memperhatikan puncak KL Tower yang terlihat. Tinggal satu hari lagi libur long weekend yang tersedia. Kami berbincang-bincang membicarakan rencana perjalanan esok hari sambil menyeruput kuah hangat mi masing-masing, dan terhenti ketika seorang cowok keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk menutupi sebagian kecil tubuhnya.
Saya dan Erma terbengong-bengong dan kemudian terkikik.

“Itu sih masih mending,” kata Erma kalem sambil menyendok mi, “Waktu di Penang, aku lihat cewek handukan doang ngobrol di ruang tamu hostel sama cowok-cowok.”

Kami terkekeh lagi. Perjalanan mengantarkan kami melihat banyak hal, yang dalam beberapa hal berbeda, dan tak jarang mengejutkan.

Expenses:
– Hostel BackHome KL RM 55 (1 night, double bed private with shared bathroom)
– Oleh-oleh di Central Market RM 39
– Instant cup noodle di hostel RM 3

So Little Time, So Much To See!

Yak! Cerita tentang saya dan Erma yang bimbang #eh di Penang masih berlanjut, Sodara-sodara!
Masih ada waktu hingga tengah hari sebelum harus minggat ke Kuala Lumpur. Masih banyak yang belum dilihat! Sabar bacanya ya kakaaaaakkk :mrgreen:

***

Sabtu pagi, seperti hari sebelumnya, saya dan Erma berusaha untuk menepati rencana yang kami buat sendiri. Kami masih punya beberapa jam untuk menjelajahi George Town sebelum akhirnya harus bertolak ke Kuala Lumpur.
Sebenarnya, setidaknya ada tiga tempat yang belum kami kunjungi. Wat Chayamangkalaram, sebuah kuil Budha yang memiliki patung Budha Tidur didalamnya, lalu Dharmikarama Burmese Temple, dan rumah seniman Melayu serba-bisa, P. Ramlee. Namun, karena keterbatasan waktu dan fakta bahwa ketiga tempat itu terletak diluar area George Town, yang berarti tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki, kami urung mendatangi tempat-tempat tersebut. Lagipula, bila mengacu pada itinerary, seharusnya kami mengunjungi tempat-tempat itu pada hari sebelumnya, jadi sekali jalan sama Kek Lok Si dan Penang Hill *tipikal orang ambisius, pengennya sekali jebret dapet semua* 😆

Baiklah, maka seperti hari sebelumnya, setelah selesai mandi, tanpa sarapan kami langsung meninggalkan hostel. Acara gak sarapan ini emang disengaja sih… jadi ceritanya pengen menuntaskan hasrat yang sudah luar biasa menggebu-gebu dalam diri ini makan roti canai Argyll Road. Kemarin kan gak jadi tuh ya makan roti canai-nya gara-gara kedainya tutup… atau gak ada? Gak tau juga deh :mrgreen:
Jadi yaaa… dengan penuh semangat, kami menuju Argyll Road, dengan mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Kan ceritanya mau memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menelisik sudut-sudut George Town yang belum terjamah mata.

Begitu keluar hostel, kami langsung menyeberang jalan, masuk ke Lorong Stewart. Melewati Goddess of Mercy Temple yang dibangun tahun 1728 untuk memuja Dewi Kwan Im, kami terus menyusuri Lorong Stewart yang memang tampak tersembunyi. Lorong Stewart ini dulunya tempat tinggal para pelaut deh kalo gak salah. Ada penjelasannya pada papan penunjuk nama jalan yang dipasang di salah satu dinding rumah yang mengapit Lorong Stewart yang berbentuk gang kecil.


Lorong Stewart! Ternyata di luar negeri pun ada gang kecil #eh Hebatnya, gang kecil ini punya sejarah dalam penamaannya lho…

Melewati gang kecil di Lorong Stewart, kami berbelok sebentar ke Lorong Chulia. Pemandangan di sini sungguh khas masyarakat lokal membuka pagi di awal hari.

Melanjutkan ke Love Lane. Di Love Lane, dan Lebuh Muntri yang nantinya akan kami singgahi juga, terletak banyak penginapan-penginapan kelas backpacker. Ciri-cirinya sih hampir sama. Serba mungil tapi dengan fasad dan interior yang unik dan cantik menarik hati. Tiga hostel yang terletak bersebelahan di tikungan Love Lane ini merupakan hostel-hostel yang cukup terkenal dan diminati para pelancong. Setidaknya begitulah yang ada dalam peringkat agoda.com maupun hostelworld.


The Famous Old Penang Guest House, Red Inn Heritage, and Reggae Penang. Kami pernah menimbang-nimbang untuk menginap disini sebelum akhirnya memutuskan hostel yang kami tempati saat itu

Terus ke Lebuh Muntri, kami menyempatkan diri berhenti di Hainan Temple. Hainan Temple adalah sebuah kuil yang dibangun tahun 1866 untuk menghormati Mar Chor, Dewi Para Pelaut. Selain Hainan Temple, bangunan lain yang masuk dalam daftar perlu untuk dikunjungi adalah Benggali Mosque, yang dari namanya aja udah ketahuan kan kalo masjid ini diperuntukkan bagi orang India Muslim yang datang dari Bengal.

Dari Lebuh Muntri, kami menyeberangi Jalan Penang, dan tanpa basa-basi langsung menuju ke Argyll Road. Wah… kali ini, kami tidak salah. Ada sebuah kedai roti canai ramai dipadati para pembeli, walaupun klinik WONG-nya tetap tidak terlihat. Dan kedai roti canainya pun tampak bagus, sebuah bangunan permanen. Saya dan berspekulasi, mungkin klinik WONG-nya bangkrut, tidak bisa bertahan dengan klinik lain yang memang bertebaran di sepanjang Argyll Road, dan malah si roti canai yang dulunya cuma kaki lima, berkembang pesat dan akhirnya mampu membeli sebuah ruko :mrgreen:


“Ais milo one!” teriak si bapak pelayan. One, supposed to be read ‘wan’, bener-bener di baca ‘o-ne’ oleh mereka. Tentunya lengkap dengan goyangan kepala dan gerakan tangan khas orang India 😆

Seikh Usman Gerai Roti Canai, begitu nama yang tercantum didalam kedai. Papan nama diluar bilangnya Roti Canai Argyll Road since 1955. Penampakan kedainya sendiri sih biasa aja. Mirip-mirip dengan kedai roti canai yang kami sambangi malam sebelumnya. Rasanya pun sama. Sama-sama enak, maksudnya. Erma bilang, kuah karinya lebih mantap di kedai ini, sementara bagi saya, roti canai telurnya lebih oke yang di Tajjudin Hussein karena lebih tebal dan telurnya lebih rata. Overall sih, tetep… enak!
Kedai ini buka dari pukul 6 pagi hingga pukul 1 siang. “Pokoknya, waktu shalat kami tutup,” kata salah seorang mas-mas pelayan berkulit keling di sana. Dan setelah dilihat-lihat, roti canai itu memang menu sarapan sehari-hari penduduk lokal. Gak heran jika kedainya tutup lewat tengah hari.
Kami agak takjub melihat bahwa menu seperti roti canai ataupun nasi dengan kuah santan pekat adalah santapan sehari-hari untuk mengawali hari di Penang. Bayangkan berapa banyak kolesterol ditimbun di situ? *tapi teteup dimakan ya cuuuyy*

Lega setelah akhirnya kesampaian makan roti canai Argyll Road, kami segera beranjak ke Lebuh Campbell. Kami berencana untuk melihat-lihat kawasan sekitar Masjid Kapitan Keling dan sekitarnya yang sebenarnya direncanakan untuk dikunjungi di hari pertama kami sampai di Pulau Penang.
Lebuh Campbell merupakan suatu jalan yang dipenuhi toko obat tradisional cina, juga beberapa toko sejenis toko yang menyediakan peralatan konveksi. Berbeda dengan Argyll Road yang didominasi keturunan India, Lebuh Campbell dan sekelilingnya ini dipenuhi oleh mereka yang bermata sipit *termasuk saya dong kalo gitu :mrgreen:*

Setelah Lebuh Campbell, jalan selanjutnya dinamakan Lebuh Buckingham. Berbelok ke kanan, kita bertemu dengan Lebuh Canon. Jalan terus, diujung jalan terlihat menjulang menara masjid. Itu dia Masjid Melayu Lebuh Acheh, sebuah masjid yang didirikan oleh Tengku Syed Hussain bin Abdul Rahman Aideed pada tahun 1808 untuk kaum Arab pendatang dari Hadramaut. Bila kita masuk ke area masjid, kita kan melihat rumah-rumah yang berdiri berdempetan, seolah tanpa batas dengan masjid. Sepertinya itu adalah rumah-rumah tempat tinggal keturunan Arab Hadramaut yang masih berlanjut sejak abad ke 19 hingga kini.


Suatu sudut Lebuh Canon


Masjid Melayu Lebuh Acheh

Tidak lama di masjid ini, kami melanjutkan perjalanan sepanjang Lebuh Acheh dan berbelok ke kiri. Sebenarnya di kawasan ini ada satu lagi tempat wisata layak kunjung. Khoo Kongsi, sebuah kuil yang cukup luas yang dibangun sekitar tahun 1906 yang dimiliki oleh Khoo Kongsi klan. Tapi lagi-lagi, dengan alasan keterbatasan waktu, kami melewatinya.
Di Lebuh Armenian, tak sengaja kami melihat dua orang turis sedang berfoto. Setelah diamati, ternyata mereka berfoto dengan sepeda tua yang sepertinya sengaja dipasang di salah satu dinding bangunan yang ada di situ. Segera saja kami mengikuti langkah turis tersebut, dan segera saja kami diikuti oleh turis-turis lainnya. Ada-ada aja deh, idenya bagus juga ya menaruh sepeda tua dan dilengkapi dengan lukisan didindingnya.


Gowes, Mang! 😆

Kembali ke hostel, kami hanya memastikan bahwa semua barang sudah aman masuk koper dan segera saja check out untuk menuju KOMTAR. Ada dua pilihan untuk bisa mencapai KOMTAR. Pertama, naik Rapid Penang dari Lebuh Chulia. Tentu dengan membayar tarif RM2 seperti biasa. Pilihan kedua, naik bus Hop On CAT yang gratis. Nah… pastinya kami pilih yang haratis dong. Jadilah kami berjalan sedikit ke Lebuh Farquhar, menunggu tumpangan gratis di halte bus di depan St. George’s Church. Lumayan juga nunggunya, 10 menit baru deh kelihatan tanda-tanda ngebutnya. Dan karena ngebut, nyampe di KOMTAR-nya juga cepet. Celangak-celinguk, setelah turun dari bus kami segera menuju tempat penjualan tiket bus luar kota. Counter-nya mudah ditemukan, ada tulisan besar “KONSORTIUM BAS EKSPRESS”. Saat kami sampai di depan mbak-mbak penjaga loket, jam menunjukkan pukul 11:40.
Menurut informasi mereka, ada bus yang berangkat dari KOMTAR menuju Puduraya di Kuala Lumpur tiap satu jam sekali. Sesuai jadwal, bus akan berangkat pukul 1 siang. Itu berarti, kami masih punya waktu sekitar 70 menit untuk makan dan bersantai-santai, ya mungkin mau beli oleh-oleh lagi dari Giant atau Carrefour di mall sekitar :mrgreen:
Setelah menyelesaikan pembayaran sebesar RM 35 *kali ini kami dapet invoice-nya dong ah!* dan memilih tempat duduk persis di belakang pak supir, kami segera masuk ke 1st Avenue, mall yang punya semboyan “when you come first”, yang tampaknya merupakan salah satu mall paling wokeh seantero Pulau 😆
Dan bener ajaaa… kami, setidaknya… saya lah :mrgreen:, tergiur untuk kembali membeli satu bungkus besar teh berperisa.

Setelah dirasa lama berkeliling, dan ternyata baru memakan waktu sekitar 30 menit *ngamuk*, kami duduk-duduk di halte bus CAT yang terletak tepat di depan counter Mustika Ratu, berseberangan dengan counter Konsortium Bas Ekspress.

Mendekati pukul 1, kami pun kembali ke counter bus. Ternyata bus-nya datangnya ngaret, baru muncul sekitar pukul 1:15, dan judul bus-nya pun bukan Konsortium Bas Ekspress, tapi Seasons. Ruang untuk kaki lebih sempit jika dibandingkan dengan KKKL Ekspress, bus yang membawa kami ke Sungai Nibong, tapi masih tetep nyaman kok untuk perjalanan selama 5 jam.
Dari KOMTAR, bus mampir dulu ke terminal Sungai Nibong untuk menaikkan penumpang. Gak lama di terminal tersebut *karena fungsi terminal di Malaysia kayaknya emang cuma buat naik turun penumpang dan bukannya ngetem nunggu sampe penumpang penuh* bus langsung meluncur di atas jalan beraspal mulus, melewati Penang Bridge, meninggalkan Pulau Penang, menuju Kuala Lumpur.

Tips berselancar di Pulau Penang:
– Penang itu panas, Je! Sebelas duabelas sama Cirebon atau Karawang. Jadi jangan lupa pake sunblock, baju berbahan katun yang nyaman, dan kaus kaki… biar gak belang. Senjata lain yang penting adalah kaca mata item. Atau topi besar seperti yang suka dipakai para bangsawan Inggris. Boleh juga kalo mau bawa kipas, dan air khusus untuk nyemprot muka kalo udah mulai kucel.
– Selalu sedia payung. Bukan hanya sebelum hujan, yang turun gak tentu waktu, tapi juga untuk melindungi diri dari terik matahari. Cuaca Penang terkenal cepat berubah.
– Siapkan uang pas buat ongkos Rapid Penang, karena mereka gak sedia kembalian. Atau, kalau masih dalam area George Town, maksimalkan saja penggunaan kaki, atau sabar menunggu Hop On CAT Free Bus. Cara yang agak ekstrem, misalnya cuma punya uang kecil RM 1, ya bilang aja terus terang sama supirnya. Tetep dikasi naik sih *ya masa’ iya mau diturunin lagi* tapi ya gak dapet tiket.
– Selain berjalan kaki ataupun menumpang bus gratis, cara lain untuk menikmati Penang adalah dengan naik becak seperti yang lazim dilakukan oleh turis bule. Lha tapi kalo mau naik becak sih, di komplek rumah aye juga bejibun *sombooooonnnggg* Enihooo, becak di Penang lucu juga sih, penuh hiasan persis kayak becak buat karnaval atau 17 Agustus-an, dan yang jelas lebih lebar daripada becak di Depok #eh
– Balik lagi, Penang itu panas, cuy… maka selalu sedia air mineral dalam tas. Beli aja di toko terdekat. Air keran mereka masih sama kayak air keran Indonesia, gak bisa langsung diminum. Mungkin bisa, tapi ya siap-siap aja kena resiko cacingan atau sakit perut :mrgreen:
– Peta itu penting, Jendral! Oh my… gak usah ditanya lah ya apa gunanya…
– Berdasarkan pengalaman, waktu ideal untuk menikmati Pulau Penang itu setidaknya 3 malam deh. Karena sebenarnya banyak yang bisa dilihat dan dikunjungi. Pulau ini benar-benar kaya akan peninggalan sejarah. Walaupun minim akan penjelasannya. Maka supaya gak sia-sia, sebelum berkunjung alangkah baiknya browsing-browsing dulu mencari informasi-informasi terkait.
– Roti canai itu pagi dan nasi kandar itu malam. Lha siang? Gak tau deh… tidur kali? #eh…

Expenses:
– Sarapan di roti canai Argyll Road RM 8,10
– Tiket Konsortium Bas Ekspress (KOMTAR – Puduraya) RM 35
– Jajan lagi di Carrefour RM 14,50

Saya Pusing, Erma Pusing… Kami Pusing-pusing!!!

Penang, konon, terkenal sebagai daerah yang memiliki kuliner yang kaya dan bercita-rasa lezat. Banyak orang mengatakan, belum ke Penang kalau belum mencicipi nikmatnya nasi kandar dan roti canai, dua makanan yang memiliki akar tradisi mendalam dari para pendatang India. Atas dasar ini pula, saya jadi terobsesi ingin mencoba kedua jenis makanan tersebut. Apalagi, karena rajin browsing segala sesuatu tentang Penang menjelang keberangkatan, saya jadi terperangkap dalam keasyikan membaca sebuah blog milik seorang Indonesia yang sedang menemani suaminya berkarya di Penang. Dari blog-nya, saya mendapatkan referensi tempat makan-tempat makan yang menjual nasi kandar dan roti canai yang patut dicoba.

Ah, ah… tapi sebelum ada yang salah menyangka dengan mengira saya seorang penikmat kuliner, atau seorang budget traveler yang senantiasa mencoba setiap makanan lokal dalam setiap kunjungannya, sebaiknya saya tegaskan sejak awal bahwa saya sama sekali bukan traveler seperti itu.
Kuliner tidak terdapat dalam top list saya ketika melakukan perjalanan. Lebih tepatnya sih, kuliner yang aneh-aneh atau ekstrem tidak pernah masuk dalam to-do-list saya. Pada dasarnya, saya adalah seorang food picker. Tapi bukan berarti saya tidak berani mencoba jenis makanan baru. Sepanjang tidak aneh, tidak ekstrem, dan halal, saya mau-mau saja menjajalnya 😉
Tambahan pula, saya termasuk orang yang tahan tidak makan; saya tidak akan rewel atau mengeluh hanya karena belum makan atau belum makan nasi. Kebetulan, dalam perjalanan kali ini, saya bepergian dengan Erma yang memiliki kesamaan dalam dunia makan-memakan sebagaimana yang saya tegaskan di atas. Jadi, maafkan saya jika cerita-cerita saya sama sekali tidak bisa memberikan petunjuk kuliner lokal :mrgreen:

***
Melanjutkan cerita dari post sebelumnya, masih di hari yang sama, setelah mengunjungi Kek Lok Si dan Penang Hill alias Bukit Bendera, saya dan Erma memutuskan untuk kembali ke George Town. Rencana awal, sebelum makan siang kami ingin mampir sebentar ke Giant di KOMTAR untuk membeli oleh-oleh. Iya, serius, oleh-oleh. Kalau ingin membawa teh tarik atau teh Lipton rasa peach atau MILO Malaysia yang rasa coklatnya terkenal lezat itu sebagai buah tangan ke tanah air memang sebaiknya beli di Giant atau Carrefour saja. Tapi karena Erma tampaknya sudah tidak kuat menahan lapar #eh akhirnya kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.

Sebelum berangkat ke Penang, saya sudah mencatat beberapa tempat makan yang direkomendasikan, salah satunya adalah roti canai Argyll Road. Saya mengusulkan agar kami mencobanya dan Erma pun setuju. Setelah menempuh perjalanan cukup lama *jalan kaki cuuuuuyyy dari KOMTAR ke Argyll Road… dan itu lumayan jauh aja lho! Gara-garanya, kami turun di KOMTAR karena tadinya kan mau beli oleh-oleh ya, eh taunya Erma pengen makan dulu… akhirnya malah balik ke deket hostel. Kebetulan si Argyll Road itu terletak di sekitar hostel – kalo kata peta sih gitu…* ketemu deh yang namanya Argyll Road. Ditelusuri sampe tamat, kok gak ada ya kedai roti canainya?

Ada sih, tapi tutup. Dan bentuknya kedai yang permanen gitu. Saya jadi ragu apakah kedai itu yang dimaksud oleh si pemilik blog? Soalnya di blog tersebut dibilangin kalo roti canainya itu tempatnya seadanya, cuma pake tenda nempel sama sebuah klinik bernama klinik WONG. Lha ini klinik WONG-nya aja gak ada…

Dua kali kami menelusuri Argyll Road dari ujung ke ujung, tetap saja si penjual roti canai tak terlihat batang hidungnya. Kami menyerah. Dan berpaling hati ke… nasi kandar.
Celangak-celinguk, kami tak melihat kedai nasi kandar yang buka. Mungkin karena hari itu Jumat siang, bertepatan dengan waktunya shalat Jumat. Lalu kami teringat bahwa rata-rata nasi kandar baru buka malam hari. Di tengah kebingungan, kami melihat sebuah kedai yang tampak buka. Letaknya persis di sebelah Nasi Kandar Line Clear di Jalan Penang. Nama kedainya: Nasi Kandar Jasmeene.

Erma memesan nasi yang bentuknya mirip dengan nasi biryani dan lauk yang kata penjualnya sih otak ikan. Saya tidak begitu berselera, jadi saya hanya memesan satu gelas ais milo. Hohoho… sepertinya selama di Malaysia, saya tidak pernah minum minuman lain selain ais milo.
Menurut Erma, rasa nasi kandarnya acceptable. “Masih jauh lebih enak daripada nasi biryani yang aku makan di Singapur,” ceunah :mrgreen:
Dan otak ikannya? Apa rasanya?
“Gak beda sama daging ayam,” katanya lagi. Kalo melihat penampakannya sih, saya juga ragu apakah itu memang otak ikan atau bukan. Lebih terlihat seperti dada ayam, terus terang saja!
Nasi kandar sendiri, dalam pendapat saya, mirip dengan Nasi Padang. Hanya bedanya, kalo makan di restoran Padang kan, begitu kita duduk di meja, langsung deh uda-udanya ngegambreng seluruh lauk yang ada ke hadapan kita. Nah… kalo si nasi kandar ini, sebelum ketemu meja, kita harus terlebih dahulu ngomong ke bapak-bapak yang jual, lauk apa aja yang kita mau.

Selesai makan, kami berjalan melalui Lebuh Chulia untuk kembali ke hostel untuk re-charge batere kamera. Tak lama di hostel, kami segera ke tujuan berikutnya. Pinang Peranakan Mansion.
Objek wisata andalan Pulau Penang yang satu ini terletak di Lebuh Gereja, tak jauh dari hostel kami, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Bagi yang menyukai sejarah kaum peranakan, mengunjungi bangunan ber-cat hijau telur asin ini tidak boleh dilewatkan.

Pinang Peranakan Mansion dibangun pada akhir abad ke 19 oleh salah seorang tokoh di daerah setempat. Mansion ini pernah menjadi tempat tinggal sekaligus kantor salah seorang Kapitan Cina yang terkenal, Chung Keng Kwee, walaupun dia bukanlah seorang Baba. Baba dan Nyonya adalah sebutan bagi kaum Peranakan, dan Pinang Peranakan Mansion ini merupakan tipikal rumah kaum Peranakan yang kaya raya saat itu.
Kaum Peranakan dikenal dengan budayanya yang merupakan akulturasi budaya Melayu dan kolonial Inggris dengan budaya dari negeri asal mereka di dataran Tiongkok. Kekayaan budaya ini diwariskan turun temurun dengan yang paling kentara dalam kuliner dan bahasa mereka.

Saya tidak tau apakah Mansion ini merupakan ‘sister museum’ dengan Museum Peranakan yang ada di Singapura, tapi kedua bangunan itu sama-sama di cat dengan warna hijau telur asin yang lembut. Bentuk dan penataan ruangannya pun tidak jauh berbeda. Sama-sama memperlihatkan gaya hidup mewah dan standar selera kaum Peranakan kaya pada zamannya. Porselen dari Inggris dan Itali, pemutar piringan hitam, radio, dan pesawat televisi dari Jerman, bahkan peralatan golf-pun mereka sudah punya. Dan tentu mereka juga senang bepergian, terbukti dengan adanya koper-koper kulit yang tampak mewah, dan pastinya hanya orang kaya yang bisa memilikinya.

Sayangnya, kami tidak meneliti hingga ke lantai dasar. Padahal disitulah terletak dapur dan, sepertinya, ruangan berupa altar tempat pemujaan nenek moyang.

Pinang Peranakan Mansion ini buka pukul 09:30 hingga 17:00 dan dikenakan biaya tiket masuk sebesar RM 10 per orang. Hal yang saya sayangkan adalah, tidak adanya keterangan secara tertulis yang menjelaskan diorama-diorama yang ada. Kalau ingin mengerti Mansion tersebut, sepertinya kita hanya bisa mengandalkan tour guide, itu pun dengan perjanjian terlebih dahulu. Untungnya, saat ke Singapura tahun lalu, saya puas mengelilingi Museum Peranakan. Sehingga sedikit banyak saya bisa paham tentang Mansion beserta isinya.
Oh ya, dalam situs resmi Mansion, disebutkan bahwa pengunjung tidak boleh mengambil gambar di dalam Mansion. Dalam kenyataannya, kami bebas berfoto sebanyak apapun yang kami mau. Kami bahkan duduk di atas properti Mansion. Saat kami datang, kebetulan ada sepasang calon pengantin yang sedang melakukan pre-wedding photo shoot di sana.


Mbak-mbak Bule ini membuat sketsa dari pasangan calon pengantin yang saat itu sedang photo session di Mansion

Rasanya hampir dua jam kami di Mansion ketika batere kamera yang terpasang pun akhirnya habis juga *menyusul batere yang sedang di re-charge di hostel*
Kami pun memutuskan untuk ke Giant KOMTAR sebelum melanjutkan walking tour di pesisir George Town. Berjalan sedikit ke Lebuh Pantai, disana kami menunggu bus yang akan membawa kami ke KOMTAR. Saat itulah kami mengetahui bahwa sebenarnya, kami bisa saja tidak keluar uang sama sekali untuk mengelilingi George Town, asal sabar menunggu shuttle bus yang charge-free bertuliskan CAT alias Central Area Transit yang datang setiap 15 menit sekali!
Sejak saat itu, kami selalu bersabar hati menunggu CAT bus, kecuali jika ingin mengunjungi tempat-tempat yang terletak di luar George Town.

Dari KOMTAR, setelah menaruh belanjaan di hostel dan memasang batere yang sudah *dipaksa* selesai re-charge kembali ke kamera, kami memulai walking tour di pesisir kota dan sekitarnya. Saat itu menjelang sore hari. Walaupun Penang masih membara panasnya, tapi sudah sedikit lebih adem dibandingkan saat tengah hari ketika matahari sedang garang-garangnya tersenyum.

Dan seperti inilah rutenya.
Dari hostel, kami berjalan ke kanan, menyusuri Jalan Masjid Kapitan Keling dan Lebuh Farquhar, dimana terdapat Goddess of Mercy Temple *yang terletak tepat didepan hostel*, St. George’s Church, Penang State Museum *yang tampak tidak terawat dan memprihatinkan*, dan Cathedral of Assumption.


St. George’s Church; gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara, dibangun oleh Sir Francis Light pada tahun 1816 dan selesai pada tahun 1818. Foto yang diatas itu adalah Cathedral of Assumption

Dari Lebuh Farquhar, kami menyeberang ke Lebuh Light. High Court, Dewan Sri Pinang, Penang Art Gallery, Town Hall, dan City Hall, terletak di sini.


Tampak belakang High Court yang terlihat dari Lebuh Farquhar. Pintu masuknya ada di Lebuh Light


Town Hall yang bersisian dengan Esplanade

Kami berdiam lama di area Esplanade yang mencakup Town Hall dan City Hall untuk menunggu matahari terbenam, menikmati memudarnya cahaya langit dari pinggir laut. Tampaknya tempat ini juga merupakan tempat berkumpul favorit masyarakat lokal. Banyak yang menghabiskan waktu menghirup udara sore sambil mendengar gemercik air laut. Mulai dari anak kecil, muda-mudi yang memadu kasih, hingga kakek-nenek yang masih setia saling menautkan tangan mereka.
Tambahan lagi, saat itu di padang, sebutan mereka bagi tanah lapang yang cukup luas, sepertinya sedang ada suatu acara, semacam bazaar atau pentas seni. Banyak stand menjual rupa-rupa barang, mulai dari makanan hingga perkakas lainnya.

Setelah gelap, kami melanjutkan perjalanan, kembali ke Lebuh Light, melewati State Assembly Buildings dan Queen Victoria Memorial Clock Tower yang dibangun pada tahun 1897. Berbelok ke kanan, menapaki Lebuh Pantai, sambil menikmati Penang yang bercahaya dari lampu-lampu yang menerangi berbagai klub dan restoran.


Pengen makan di Subway… tapi belom mampu. Yaudah, nikmati aja dulu fotonya deh ya…


Pengen ngopi di sini juga kakaaakk… tapi yuk ah masih kere… Pandangi saja fotonya :mrgreen:

Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 ketika kami mulai memasuki Jalan Masjid Kapitan Keling, dan ini berarti sudah waktunya makan malam. Sebenarnya kami ingin mencoba Nasi Kandar Beratur yang terletak tepat disebelah Masjid Kapitan Keling, tapi nasi kandar itu baru buka pukul 22:00. Akhirnya kami memutuskan untuk hanya ke Masjid Kapitan Keling saja tanpa menunggu Nasi Kandar Beratur itu.

Masjid Kapitan Keling yang merupakan masjid terbesar seantero Pulau. Masjid cantik berarsitektur khas Moghul ini dibangun tahun 1801. Jam berkunjung bagi turis dibatasi hingga pukul 6 sore saja.


Begini lho, penampakannya kalo siang hari…

Mendekati hostel, kami sengaja berbelok ke Lebuh Queen yang sudah termasuk ke dalam kawasan Little India, suatu kawasan di mana kita bisa melihat segala hal berbau India dan mendengar lengkingan suara para penyanyi India dengan lagu-lagu mereka yang khas yang disetel dalam volume tinggi oleh kios-kios yang berderet memenuhi sisi kanan dan kiri jalan.
Tujuan kami ke sini sih jelas ya… cari makan. Dan seperti biasa, kalau udah urusan mengunyah, kami ini bawaannya suka galau. Bimbang. Gundah gulana. Bingung mau makan apa dan di mana. Lebih dari dua kali kami mondar-mandiri dari ujung ke ujung Lebuh Queen dan sekitarnya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah kedai sambil berdoa semoga makanannya enak. Tajjudin Hussein, namanya. Saya memesan roti canai kosong dan satu gelas ais milo *I always ordered such beverage… I LOOOOOVE the chocolate taste!* sementara Erma memesan roti canai telur dan segelas orange juice, yang percayalah, dibuat dari Sunquick :mrgreen:
Kalo ditanya, enak? Saya akan jawab: enak. Ya buat lidah saya yang gak terlalu peka rasa ini sih, roti canai itu enak-enak aja. Apalagi, pada dasarnya saya emang suka roti canai 😉
Erma pun bilang kalo roti canai pesanannya enak. Jadi sepertinya gak salah kalo saya bilang, the taste is good. Sebelum masuk ke kedai itu kan kami juga mengamati dulu. Cari yang rame, biasanya kalo rame kan makanannya enak. Hihihi…


Dalam perjalanan kembali ke hostel, saya melihat pemandangan ini. Senang dan terharu melihat bapak-bapak ini. Dia memisahkan daging dari tulangnya untuk diberikan kepada kucing-kucing yang mengelilinginya. Jadi inget si emeng di rumah…

Perut kenyang, saatnya menenangkan pikiran. Kami kembali ke hostel, membereskan barang-barang yang berserakan karena esok hari, kami harus kembali ke Kuala Lumpur, menikmati semalam saja di sana.

Hingga Matahari Meninggi Di Penang

Dalam cetak biru itinerary yang kami buat secara ambisius, karena ketidaktahuan kami akan keadaan Penang, kami merencanakan untuk mulai menjelajah Penang sejak pagi buta. Maksudnya sih biar puas keliling seharian. Gak tanggung-tanggung, kami bertekad akan meninggalkan hostel pukul 06:00 pagi! Ambisius banget kan? Hihihi… Semangat pagi itu adalah menaklukkan Penang Hill ketika matahari masih mengintip malu-malu, lalu menyelesaikan Kek Lok Si Temple, dilanjutkan dengan menikmati Khoo Kongsi di tengah hari, dan seterusnya, dan seterusnya.

Oh ya, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita tahu sedikit tentang Penang. Informasi yang saya himpun menyatakan bahwa Pulau Penang adalah tempat mendaratnya Kapten Francis Light di Malaysia pertama kali. Pada pertengahan abad ke-18 terjadi pertempuran antara Siam dan Burma. Entah apa relevansinya dengan Kesultanan Kedah, tapi Sultan Kedah saat itu meminta pertolongan Inggris untuk menghindari pertempuran tersebut. Sebagai balas jasa, Sultan Kedah setuju untuk menyewakan Pulau Penang kepada Inggris.
Mungkin sebagai langkah awal, Kapten Francis Light pun datang ke Pulau Penang. Mau lihat-lihat kali ya… Tapi mungkin emang dasarnya Inggris saat itu wataknya watak penjajah ya, belum juga ada kata sepakat antara para pihak, eh udah langsung dikuasain aja tuh pulau… dan segera saja, Pulau Penang menjadi pusat administrasi kolonial Inggris untuk wilayah Timur Jauh. Pulau Penang saat itu terkenal dengan rempah-rempahnya seperti cengkeh dan pala, dan segera mahsyur sebagai pelabuhan pusat kegiatan ekspor berbagai macam barang dari dataran-dataran disekitarnya. Kilaunya memudar ketika Singapura mulai digunakan sebagai pelabuhan dan jalur penghubung perdagangan.

Oke, kembali ke kebimbangan kami akan tempat tujuan wisata yang pertama ingin dikunjungi, sebenarnya keinginan menikmati Penang dari titik tertingginya di atas permukaan laut timbul karena membaca blog seorang ekspatriat Pinoy yang tinggal dan bekerja di Penang. Melihat indahnya Penang saat pagi masih berkabut membuat kami juga ingin merasakan keindahan itu.
Tapi lelah yang mendera #eaaa setelah perjalanan panjang dari Kuala Lumpur membuat kami bahkan baru membuka mata pukul 6 lewat. Hihihi… kebetulan baik saya maupun Erma tidak sedang shalat saat itu. Jadilah kami memaksa mata untuk terbuka dan setengah hati menyeret langkah ke kamar mandi. Pukul 07:30 kami meninggalkan hostel, dan bimbang memutuskan, mana yang lebih dulu dikunjungi. Penang Hill atau Kek Lok Si?

***
Jumat pagi itu kami mulai menemukan kenyataan bahwa… membutuhkan kesabaran yang tinggi untuk menunggu Rapid Penang yang datang paling cepat 15 menit sekali. Juga kesabaran untuk menolak peminta-minta yang mendatangi kami berkali-kali. Juga kesabaran menghadapi cuaca Penang yang berubah-ubah dalam waktu singkat. Saat itu langit mendung dan tak lama gerimis kecil mulai meningkahi Penang. Tapi sesaat kemudian dan siang harinya sungguh membuat kami mandi keringat. Rasanya matahari Penang tak kalah panas dan garangnya dengan Cirebon! Teriknya sungguh membuat gerah. Tak ada angin sama sekali.

Sambil menunggu Rapid Penang, saya dan Erma berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Kek Lok Si Temple terlebih dahulu, baru kemudian menuju Penang Hill. Keputusan kami ini dipengaruhi juga oleh kenyataan bahwa lebih banyak Rapid Penang yang menuju Kek Lok Si, daripada yang menuju Penang Hill. Dalam peta yang kami ambil gratisan dari hostel tempat menginap, tertulis hanya ada satu Rapid Penang yang menuju Penang Hill, yaitu Rapid Penang nomor 204. Sementara ada beberapa pilihan jika kita ingin mengunjungi Kek Lok Si. Ada Rapid Penang nomor 201, 203, 204, atau 502. Kami naik Rapid Penang nomor 201 yang datang lebih cepat, dan meminta pada pak supir untuk menurunkan kami di jalan terdekat dengan Kek Lok Si Temple. Sayang sekali, saya lupa nama jalannya. Yang jelas, setelah turun dari bus, kami hanya tinggal menyusuri jalan yang ramai dengan pedagang buah dan alat-alat sembahyang di kedua sisi jalan.


Lihat deh nama tokonya. Menohok hati banget ya 😆

Dari kejauhan sudah terlihat Kek Lok Si yang menjulang tinggi. Tapi benar kata orang. Yang tinggi itu biasanya menipu. Terlihat dekat padahal sebenarnya masih jauh, je!
Setelah beberapa menit berjalan, kami agak sedikit bertanya-tanya kenapa jalan yang kami susuri semakin sepi. Apakah kami salah jalan? Sepertinya sih tidak, karena Kek Lok Si tampak makin jelas di depan mata. Tapi kenapa jalanan begitu sepi?
Apakah karena matahari yang bersinar terik? Atau kami datang terlalu pagi? Saat itu memang baru pukul 08:30. Tapi pertanyaan kami juga bertambah tentang pintu masuk ke Kek Lok Si. Mana tangga menuju kuil yang disucikan dan sangat sakral bagi umat Budha tersebut?


Kek Lok Si Temple dari kejauhan. Masuk lewat mana ya?

Sedikit mencari-cari, kami berhasil menemukan tangga menuju Kek Lok Si. Dalam pikiran saya, karena Kek Lok Si ini merupakan tempat ibadah umat Budha dan juga dijadikan salah satu daya tarik pariwisata Penang, maka pintu masuk menuju Kek Lok Si ini akan terpampang jelas sebagaimana Candi Borobudur. Ternyata tidak. Tangga menuju Kek Lok Si berbentuk gang kecil dengan penunjuk arah seadanya, tersembunyi dikelilingi lautan toko yang menjajakan souvenir dan makanan lokal. Karena kami datang agak pagi, saat itu masih sedikit sekali toko yang buka. Suasana menuju kuil jadi sedikit menyeramkan. Tangga yang terbuat dari beton tampak sederhana dan seadanya saja. Tidak mulus dan tidak terawat tampaknya.


Begini lho tangga menuju Kek Lok Si. Gambar ini diambil ketika kami usai mengunjungi kuil tersebut


Salah satu area taman yang pertama kali menyambut mata di Kek Lok Si. Penuh warna dan indah

Kek Lok Si dikenal juga sebagai Pagoda 10 Ribu Budha, atau Temple of Supreme Bliss, atau Temple of Sukhavati. Dibangun oleh seorang penganut Budha yang taat kelahiran Provinsi Fujian, Beow Lean, yang juga merupakan kepala biksu pertama di kuil tersebut. Kuil yang merupakan kuil terbesar di Asia Tenggara ini mulai dibangun pada tahun 1890 dan selesai sempurna pada tahun 1930. Arsitekturnya merupakan perpaduan seni bangunan dan falsafah ala China, Thai, dan Burma. Hal ini memperlihatkan harmoni antara Budha Mahayana dan budha Theravada.
Tahun 2002 dibangunlah patung Dewi Kwan Im setinggi 30,2 meter yang terbuat dari perunggu. Untuk melihat patung dewi yang terkenal welas asih ini, bisa menggunakan lift dengan tiket RM 4 untuk pulang-pergi.


Lift yang bergerak dengan estimasi kemiringan 45 derajat. Tak sampai 5 menit kita pun akan sampai di area Statuta Dewi Kwan Im. Sebenarnya, kita bisa juga menggunakan mobil untuk sampai ke puncak ini. Tapi ini khusus bagi yang mengendarai mobil pribadi.


Itu Dewi Kwan Im-nya yang ada di belakang. Yang sibuk pose di depan abaikan aja lah ya :mrgreen:


Penang dari puncak Kek Lok Si. Matahari sudah menyengat, padahal baru pukul 09:30

Kek Lok Si merupakan kuil yang dibangun apik dan cantik dengan biara, aula tempat berdoa, candi, pagoda, dan taman-taman yang indah. Di kuil ada sebuah pohon yang digantungi pita warna-warni bertuliskan aksara cina yang berisi doa-doa dan harapan-harapan para pendoa. Ada yang memohon kebahagiaan dan perlindungan bagi keluarga, ada pula yang meminta kedamaian dunia.
Berkeliling agak lama, kami merasa cukup menikmati indahnya Kek Lok Si, dan memutuskan untuk tidak mengunjungi pagodanya karena kami ingin segera ke Penang Hill dan menghindari panas matahari yang semakin ganas. Ngomong-ngomong, kalau mau masuk ke pagodanya, ada retribusi yangharus kita bayar. Saya lupa berapa tepatnya. Entah RM 2 atau RM 6, tapi seingat saya, saya melihat tulisan RM 12 di pintu masuknya.

Dalam perjalanan turun, kami melewati sebuah kolam. Sepintas lalu, terlihat kolam itu penuh sekali dengan batu. Kami terperanjat ketika melihat batu-batu itu bergerak!
Ternyata benda-benda itu bukan batu. Tetapi banyak kura-kura yang sedang bersantai dan berjemur. Banyak sekali kura-kura! Saya bergidik melihat begitu banyak kura-kura bertumpuk-tumpuk dalam satu tempat. Geli rasanya.
Mungkin inilah Sacred Turtle Pond atau kolam pembebasan kura-kura. Dalam kepercayaan cina, kura-kura memang melambangkan umur panjang, kekuatan, dan daya tahan.


Kura-kura ninja membuka penyamarannya! #eh *kriiikk*

Dari Kek Lok Si, kami meneruskan perjalanan ke Penang Hill, atau nama lainnya Bukit Bendera. Agak jauh memang, beberapa penduduk lokal yang kami temui menyarankan untuk naik taksi karena Rapid Penang nomor 204 agak jarang, tapi kami ingat dengan taksi Penang yang terkenal dengan argo tembak, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Lumayan juga, kurang lebih 1 kilo kami berjalan menyusuri Jalan Balik Pulau ketika akhirnya sampai di Penang Hill. Dengan ketinggian 830 meter diatas permukaan laut, kami menerka Penang Hill adalah titik tertinggi di Pulau Penang. Untuk mencapai puncaknya, kita dapat menggunakan trem atau mengeluarkan sedikit keringat dengan ber-hiking-ceria. Tiket trem adalah RM 30 bagi warga negara asing, berkali-kali lipat dari yang harus dibayarkan oleh warga Malaysia. Saya pribadi merasa tiket seharga itu termasuk mahal jika hanya untuk menikmati Penang beberapa saat saja.


This… costs RM 30 each! Oh my…

Trem pertama berangkat setiap pukul 06:30 pagi, dan secara teratur berangkat setiap 30 menit sekali. Di puncak, ada beberapa fasilitas, termasuk Owl Museum yang baru dibuka dengan tiket seharga RM 10. Ada pula teropong untuk melihat Penang lebih jelas. Kita harus memasukkan dua koin 50 sen ringgit Malaysia untuk bisa menggunakannya.

Sudah tengah hari ketika kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan kami di Penang Hill. Kami pun kembali ke George Town dengan menumpangi Rapid Penang nomor 204 yang berbaris di depan Penang Hill. Misi kali ini, selain harus re-charge batere kamera yang udah teriak-teriak semaput, juga karena sudah waktunya makan siang. Sejak saya rajin update informasi tentang Penang, saya jadi penasaran terhadap ‘signature’ dishes-nya. Gak lain dan gak bukan, nasi kandar dan roti canai!

Expenses:
– Snack & air mineral di Seven Eleven RM 3
– Rapid Penang #201 RM 2
– Lift ke Statue Dewi Kwan Im PP RM 4
– Trem di Penang Hill RM 30
– Rapid Penang #204 RM 2
– Ais Milo di Nasi Kandar Jasmeene RM 1,80
– Paket Double Cheese Burger McD RM 11,35
– Belanja oleh-oleh di GIANT KOMTAR RM 65,65
– Tiket Pinang Peranakan Mansion RM 10
– Makan malam di Tajjudin Hussein: roti canai kosong & ais milo RM 2,50

Di Penang Aku Dengan Bismillaah

Agak-agak mirip sama judul sinetron ya, tapi sumpedeh gak ada niat untuk melanggar hak cipta kok. Kalo niat niru sih ya ada lah sedikit #eh
Dan jelas bukan typo juga. Memang PENANG, bukan PINANG. Kalo yang disebut terakhir itu masih agak burem kayaknya. Coba saya lihat list dulu, belom ada yang daftar tuh #galaumenerpa #eh 😆

Sebelum kegalauan saya menjadi-jadi, sebaiknya dihentikan saja kata pengantar gak nyambung ini, dan langsung masuk ke inti cerita. Ini akan jadi postingan yang panjang. Sabar yuk dibaca ya kakaaaaakkk…

***
Sejak beberapa bulan yang lalu, saya dan Erma berencana untuk mengunjungi Pulau Penang di Malaysia. Kami memang punya kegemaran yang sama. Senang belajar sejarah dan mengetahui budaya lain dengan cara terjun langsung berbaur dengan masyarakatnya dengan budget sederhana. Hihihi…
Nah, maka direncanakanlah perjalanan ke Pulau Penang ini karena penasaran dengan George Town-nya yang dinobatkan sebagai UNESCO World Cultural Heritage City sejak 7 Juli 2008. Kalau melihat segala informasi yang ada sih, sepertinya kota ini cukup menarik karena penuh dengan warisan sejarah dan kaya dengan akulturasi budaya.
Saat kami berburu tiket promo sekitar 8 bulan yang lalu, belum ada penerbangan langsung Air Asia dari Bandung ke Penang. Jadi kami memesan penerbangan Bandung ke Kuala Lumpur, dan untuk mencapai Pulau Penang akan digunakan jalan darat.

Saya dan Erma sepakat untuk ketemu di depan Optik Internasional yang terletak di perempatan Lengkong Besar-Lengkong Kecil pukul 06:15. Walaupun judulnya budget travelers, tapi menuju bandara Husein Sastranegara teteup pake teksi ya booo… secara akika bawaannya koper, dan bukannya ransel :mrgreen: *dan mumpung bandaranya masih di dalam kota ya, belom dipindah ke Majalengka seperti yang saat ini mengemuka*
Pagi itu, walaupun sudah menjelang pukul 7, Bandung masih berkabut lumayan tebal. Gak seperti biasanya memang. Saya berdoa dalam hati semoga pesawat bisa lepas landas dengan sempurna dan aman selama perjalanan. Kecelakaan pesawat Sukhoi sedikit banyak menerbitkan rasa khawatir dalam benak saya.

Ini pertama kalinya saya berangkat dari Husein Sastranegara. Pas sampai pertama kali… doeeeeennnggg!!! Kaget deh karena bandaranya mungil sekali :mrgreen: kayaknya kok kurang cucok gitu karena kan katanya bandara internasional…
Karena saya dan Erma udah melakukan web check in sebelumnya, kami langsung menunaikan kewajiban membayar airport tax. Rp 75.000 untuk tujuan internasional, sementara untuk tujuan domestik dikenakan tax sebesar Rp 25.000.

Air Asia yang kami tumpangi berangkat tepat waktu: pukul 08:30. Kalau waktu ke Singapur tahun lalu dandanan para awak pesawat saya rasakan bertema gothic, kali ini saya melihat mereka bergaya vampire-look #eh

Selama perjalanan, saya hampir mati gaya. Saya yang biasanya duduk dekat jendela dan menghabiskan waktu dengan membidik langit yang cantik, kali ini harus gigit jari karena kebagian duduk di tengah. Erma duduk di bagian aisle. Dekat jendela, duduk seorang anak kecil yang heboh ketakutan sendiri ketika akan take off dan selepasnya malah sibuk dengan playstationnya.

Kami tiba di Low Cost Carrier Terminal atau LCCT Kuala Lumpur pukul 11:10 waktu Malaysia yang satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat, 20 menit lebih awal dari yang dijadwalkan. LCCT berjarak 20 km dari KLIA. Ada shuttle bus khusus yang menghubungkan LCCT dengan KLIA.


Oh… ini toh LCCT yang katanya cocok menyandang predikat terminal budget airlines 😆


Antri menunggu pemeriksaan imigresen di LCCT

Ketika saya menyerahkan paspor, petugas imigrasi mengamati dengan seksama, dan bertanya:

Petugas Imigresen LCCT: “Are you Chinese?”
Saya: “Nope”
Petugas Imigresen LCCT: “Tapi ibu kau Chinese?”
Saya: “Bukan”
Petugas Imigresen LCCT: “Tapi kau sangat mirip dengan Chinese”

Eh… kok si mas-nya ngeyel ya :mrgreen:


Antri ke tandas sambil foto-foto :mrgreen:
Si bapak-bapak ini pasti bingung kenapa gak ada ATM M*ND*R* di situ #eh

Sesuai dengan petunjuk internet, untuk menuju Pulau Penang kami harus mencapai Terminal Puduraya terlebih dahulu. Terminal Puduraya sekarang bernama Pudu Sentral. Sebelum keluar dari LCCT, ada beberapa booth penjual tiket bus dengan beragam tujuan. Ada yang ke KLIA, Ipoh, Melaka, maupun Puduraya. Para penjual tiket di booth-booth itu ramai berteriak-teriak menarik pembeli. Hampir gak ada bedanya dengan di Indonesia sih.

Saya dan Erma membeli tiket bis Star Shuttle seharga RM 8/seat dari LCCT ke Puduraya. Menurut waktu yang tertera di tiket, bus akan berangkat pukul 12:45. Tapi dalam kenyataannya, bus baru berangkat pukul 13:02.
Untuk menemukan bus-bus yang akan membawa kita ke berbagai tujuan dari LCCT ini tidak sulit. Setelah keluar dari terminal, jalan sebentar saja kita akan menemukan barisan bus-bus tersebut.

Selain tidak tepat waktu, tampilan bus Star Shuttle ini pun biasa aja. Gak cakep-cakep banget. Mungkin seperti DAMRI ya. Sebelas duabelas deh sama MGI atau Primajasa #eh
Hanya jarak antara kursi lebih besar sehingga membuat ruang untuk kaki lebih nyaman.


Pandangan pertama pada Kuala Lumpur. Gak jauh beda sama Jakarta kan? 😉

Baru 20 menit berjalan, Star Shuttle ternyata memasuki kawasan KLIA. Mampir dulu ternyata untuk menaikkan penumpang. Tapi gak lama sih. Kurang dari 5 menit, bus sudah kembali bertolak menuju Puduraya. Sampai di Puduraya pukul 14:15 dan oh oh… ternyata bus tidak masuk ke terminal Puduraya, melainkan hanya melewatinya. Ketika kondektur bus meneriakkan “Pudu! Pudu!”, kami pun harus turun dan langsung dikelilingi calo bus antar kota-antar propinsi.
Para calo itu tidak kalah agresifnya dengan calo bus di tanah air. Salah satunya bahkan mengaku dari Medan dan sudah tinggal bertahun-tahun di negeri orang, ceunah. Si calo membawa saya dan Erma ke terminal Pudu dan mengarahkan kami ke bus bernama Sri Maju.
Satu hal yang penting saat melakukan perjalanan adalah, percayalah pada kata hati. Saat itu baik saya dan Erma enggan menaiki bus berbadan biru itu. Entah kenapa kami merasa tidak nyaman dan tidak yakin terhadap tampilan bus ataupun calonya. Apalagi mereka ngotot bahwa bus Sri Maju itu hanya sampai Butterworth, sehingga untuk sampai ke Pulau Penang kami harus menyambung perjalanan lagi menggunakan ferry. Akhirnya saya dan Erma menetapkan hati untuk mencari bus lain, dan bertemulah kami dengan bus KKKL Ekspress.
Awak bus mengiyakan ketika kami bertanya apakah bus itu berakhir di terminal Sungai Nibong Pulau Penang. Dengan sedikit ragu dan mengucap basmalah, kami pun memilih KKKL Ekspress. Kami bayar tiket RM 35/seat, dan gak dikasih tiket walaupun kami sudah berkali-kali memintanya pada pak supir dan kondektur. Mereka dengan kalemnya keukeuh menjawab, “Yang penting kan udah duduk dan nanti nyampe ke Penang.”
Saya dan Erma khawatir kalau tiba-tiba kami diturunkan di tengah jalan #eh


KKKL Ekspress yang cukup nyaman. Kursi bisa direbahkan, demikian juga dengan bagian kakinya

Di dalam bus, kami bertemu dengan seorang TKW asal Indonesia yang ingin ke Penang mengunjungi suaminya. Kami sedikit tenang karena setidaknya ada yang bisa dijadikan tempat bertanya.
KKKL Ekspress berangkat pukul 14:45 dan mampir dulu ke terminal Duta untuk menurunkan penumpang.
Sekitar pukul 16 lebih sedikit, bus berhenti di rest area yang terletak di daerah Slim River, negeri bagian Perak, tidak lama setelah lepas dari negeri bagian Selangor.
Bentuk rest area-nya sedikit mengejutkan, mungkin karena saya membayangkan bentuk rest area seperti rest area km 97 tol cipularang :mrgreen:
Menurut Erma, rest area yang kami singgahi itu lebih mirip dengan rest area yang ada di perjalanan mudik ke kampung-kampung di Jawa.
Oya, bus tidak menyediakan toilet. Jadi kalau mau buang hajat, tersedia tandas di rest area yang dikenakan bayaran. Hajat kecil bayar RM 0,20, beli tisu barter dengan uang RM 0,50. Kalau hajat besar? Gak tau juga ya karena gak ada di daftar harga. Yang jelas, pastinya gak bisa hajatan di sana #eh


Salah satu fasilitas di rest area: ini adalah bentuk telepon umum yang lazim dan berfungsi dengan baik di Malaysia

Setelah 30 menit di rest area, kami melanjutkan perjalanan. Pak supir yang tadi memegang kendali setir kali ini meringkuk di kursi khusus driver, dan digantikan oleh pak kondektur selaku rekannya.


“Saya tidur dulu ya,” kata Pak supir baik hati yang mungkin capek

Saya dan Erma sebenarnya agak lapar, tapi kami menahan diri untuk tidak jajan di rest area tersebut. Padahal lumayan lho, ada pisang goreng dan donat yang bisa mengganjal perut. Tapi kayaknya sayang aja, ke Malaysia kok beli pisang goreng dan donat.
Ketika bus akan berangkat, pak kondektur membawa satu plastik pisang goreng dan roti. Saya dan Erma berandai-andai, seandainya makanan itu untuk kami.
Dan ternyata makanan itu memang untuk kami lhooo… ihikihikihik…

Pak supir dan pak kondektur memaksa kami menerima makanan itu. Dan karena kami cukup waspada, maka yang pertama makan adalah Erma. Ditunggu-tunggu, setelah beberapa saat tampaknya tidak terjadi apapun yang mengkhawatirkan kepada Erma, maka saya pun tanpa ragu-ragu langsung mengembat pisang goreng yang ada.
Pisang goreng dan donat ini menjadi pembicaraan saya dan Erma ketika kami menyadari bahwa kami adalah satu-satunya orang asing di dalam bus itu.

Kenapa kami diberi makanan?
A. Karena kami terlihat kelaparan
B. Karena kami satu-satunya orang asing yang ada di situ
C. Karena kami duduk tepat dibelakang supir
D. Karena mereka baik hati
E. Lainnya
Apakah kami akan tetap diberi makanan seandainya kami duduk di belakang?
A. Ya
B. Tidak
Apakah kami akan tetap diberi makanan seandainya kami bukan satu-satunya orang asing di bus tersebut?
A. Ya
B. Tidak
Dan pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda lainnya yang tak pernah terjawab

Perjalanan dari Puduraya ke Sungai Nibong sedianya memakan waktu 5 jam. Kami melewati Selangor, dimana Kuala Lumpur yang merupakan federal territory terletak. Setelah Selangor, giliran Perak yang beribukota di Ipoh. Tidak banyak yang bisa dilihat selama perjalanan. Pemandangan berganti-ganti antara pepohonan kelapa sawit atau bebatuan kapur yang mirip dengan yang ada di lintas Sumatera. Pemandangan yang itu-itu saja bukan masalah, saya dan Erma menghabiskan waktu berjam-jam dengan mengobrol banyak hal, sementara penumpang lain tertidur pulas.


Ipoh


Sudah sore. Perjalanan semakin dekat dengan Jembatan Penang


Penang Bridge, eventually…

Waktu menunjukkan pukul 19:30 dan matahari sudah hampir terbenam sempurna ketika kami melewati Penang Bridge. Pak supir dan pak kondektur terlihat senang melihat kami yang tampak gembira melihat kerlap-kerlip Penang Bridge dan hebohnya kami mengambil gambar. Menurut mereka, tidak akan cukup 2 hari kami habiskan untuk mengelilingi Pulau Penang. Mereka terbukti benar later on.

Tak lama, kami sampai di Terminal Bas Ekspress Sungai Nibong.


Terminalnya sepi. Mungkin karena udah malem. Tapi, jadinya malah serem…

Kesan pertama, pulau ini benar-benar pulau yang sepi ya. Bus ada jadwalnya. Mulai dari 15 menit hingga 30 menit sekali. Pak supir dan pak kondektur tidak menyarankan kami menggunakan taksi karena taksi di Penang tidak menggunakan argo. Mereka menyarankan kami untuk menunggu bus di dalam terminal.
Mungkin karena kami orang asing sehingga tidak terbiasa, mungkin juga karena saya terbiasa dengan Depok yang angkotnya siap sedia 24 jam tanpa jadwal tanpa jeda. Ketika butuh angkot tinggal nongkrong di pinggir jalan tanpa perlu khawatir. Keadaan Penang yang sudah mulai sepi padahal baru pukul 20:00 membuat kami was-was. Apalagi terminal Sungai Nibong tampak sepi. Hanya ada sedikit orang yang lewat.

Informasi yang saya dapatkan, dari terminal Sungai Nibong ke hostel tempat kami menginap bisa ditempuh dengan Rapid Penang nomor 401 jurusan Jetty. Tapi mbak-mbak TKW bilang bahwa kami harus ke KOMTAR dulu. Karena merasa dia lebih paham urusan per-Penang-an, kami pun menurut.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, datanglah Rapid Penang No. 401.


Ini dia dalamnya Rapid Penang. Kalah deh Metromini, Miniarta, atau Kopaja-nya Indonesia :mrgreen:

Rapid Penang bisa dibilang sebagai moda transportasi utama untuk mengelilingi Pulau Penang. Tarifnya berbeda-beda, tergantung jarak yang ditempuh. Bayarlah dengan uang pas, karena supir tidak menyediakan kembalian. Karena jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya tidak terlalu jauh, biasanya saya mengeluarkan RM 2 untuk satu kali perjalanan.

Dari Sungai Nibong, sesuai arahan mbak-mbak TKW, kami turun di KOMTAR. KOMTAR ini sebenarnya singkatan dari Komplek Tun Abdul Razak. Selain sebagai terminal, ada beberapa pusat perbelanjaan di KOMTAR. Ada 1st Avenue, Parkson Mall, Giant, Carrefour, dan lainnya yang saya gak hafal. KOMTAR juga merupakan bangunan tertinggi seantero Pulau Penang.
Ternyata keputusan kami untuk mendengarkan kata-kata mbak-mbak TKW adalah keputusan yang kurang tepat. Dengan bus yang kami naiki dari Sungai Nibong, seharusnya kami gak perlu turun di KOMTAR, melainkan bisa langsung ke hostel kami di jalan Masjid Kapitan Keling atau dikenal juga dengan nama Pitt Street.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kami duduk termangu menunggu bus yang tak kunjung datang di terminal KOMTAR. Jangan bayangkan terminal KOMTAR seperti terminal bus di Indonesia ya. Terminal di sini murni hanya disinggahi beberapa menit bus-bus, gak ada yang ngetem.
Setelah bertanya sana-sini dan tak ada yang tau bus menuju jalan Masjid Kapitan Keling, kami akhirnya mendapatkan petunjuk bahwa kami harus menunggu bus di luar terminal KOMTAR. Ketika sedang menunggu bus, kami bertemu dengan seorang ibu yang tampaknya berasal dari ras cina, dan dia membantu kami memilih bus yang tepat.

Kami akhirnya naik Rapid Penang No. 101 dan turun di Lebuh Chulia. Nyasar-nyasar sedikit, pukul 21:40 akhirnya sampai juga kami di hostel pilihan kami: Red Inn Court.
Acara muter-muter sekitar penginapan yang kami rencanakan sebelumnya terpaksa dibatalkan karena kami lelah luar biasa. Lebih baik tenaga kami disimpan untuk esok hari mengelilingi Penang sampai hati puas. Kamis, 17 Mei, itu ditutup dengan duduk selonjoran di kamar kami yang nyaman dan makan pisang goreng pemberian pak supir sisa siang hari tadi.

Expenses:
– Tiket Bandung – Kuala Lumpur PP IDR 550.000
– Taksi dari lengkong besar ke bandara IDR 28.000 (termasuk parkir taksi di bandara IDR 3.000)
– Airport tax untuk tujuan internasional IDR 75.000 (kalau yang domestic itu IDR 25.000)
– AQUA di ruang tunggu boarding IDR 4.000 (yang ukuran paling kecil)
– Kitkat di ruang tunggu boarding IDR 13.000 (bahkan lebih mahal daripada harga di dalam pesawat!)
– Beng-beng di ruang tunggu boarding IDR 3.000
– Tiket bus Star Shuttle LCCT – Puduraya RM 8
– Tiket bus KKKL Ekspress Puduraya – Sungai Nibong RM 35
– Rapid Penang #401 RM 2
– Rapid Penang #101 RM 2
– Hostel Red Inn Court RM 70 (2 nights, standard 2 bed mixed dorm with shared bathroom)

To The Land The British First Landed

Saya dan Erma menghabiskan waktu liburan long weekend 17-20 Mei kemarin dengan menuntaskan rencana jalan-jalan yang sudah kami gadang-gadang sejak saya ditempatkan di Bandung.
Sejujurnya ya, saya sebenarnya lebih suka menghabiskan long weekend di rumah, sehingga kalau urusan traveling itu seharusnya sih emang ngambil jatah cuti yang ada. Tapiiiii… karena tahun ini dihitung sebagai tahun kedua saya bekerja, maka jatah cuti saya pun dihitung secara proporsional. Setelah dihitung-hitung dan dipotong cuti bersama, ternyata saya hanya punya 6 hari cuti, yang tentunya harus digunakan secara bijaksana :mrgreen:
Erma pun, sebagai seorang guru, harus pintar-pintar menyesuaikan dengan jadwal siswa-siswa ciliknya. Thus, jelaslah bahwa kami harus menggunakan long weekend kalau emang pingin traveling.

Nah… seperti yang saya tulis di post sebelumnya, tiga hari sebelum long weekend kan penuh dengan rkk dan tanda tangan pk ya…
2 hari pertama sih aman, saya masih bisa main petak umpet sama pak bos; saya lebih banyak di luar ruangan rapat dengan alasan mengurus tanda tangan pk. Tapi di hari ketiga, gak bisa lagi dong ah kayak gitu, karena udah gak ada pk yang harus ditandatangani lagi.
Maka terjebaklah saya dalam rkk yang berlangsung seharian, dan baru sampai ke kos jam 21.30.

Seketika saya jadi malaaaaasss sekali untuk traveling esok harinya. Apalagi Erma, yang sedang sakit, gak juga membalas kicauan saya. Entah kenapa, saya gak ngerasa sreg aja untuk menjelajah tempat itu sendirian. Padahal persiapan sudah dilakukan jauh hari dan bisa dibilang sudah cukup matang. Bhihikhik…

Ah tapi Alhamdulillaah… menjelang tidur, Erma mengirim pesan, dan kami menyepakati jam ketemuan esok pagi.

***
So, here we go, berangkat dengan budget airlines, Air Asia AK 1329, dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, tepat pukul 08.30.

Stories are about to come. Insha Allaah.
Ngumpulin mood dan tenaga dulu nih, ini baru preambule-nya aja ya karena masih siwer mata gara-gara ngedit foto segambreng :mrgreen: