[Flores – Sail Komodo] Day 5 – 6: Pulau Rinca, Pulau Padar & Pulau Komodo

Perjalanan dari Desa Dintor hingga ke Labuan Bajo ternyata memakan waktu yang cukup lama juga. Kami meninggalkan Desa Dintor tepat pukul 13:00 dan tiba di penginapan di Labuan Bajo pukul 20:00. Selama perjalanan kami memang sempat mampir beberapa menit untuk memandangi sawah jarring laba-laba dan mampir sekitar 1 jam untuk memenuhi hasrat menikmati semangkuk dua mangkuk indomi rebus kebanggaan bangsa. Kebudayaan aseli Indonesia memang harus dilestarikan.

Kami menurunkan barang-barang dari mobil dan mengucapkan salam perpisahan dengan Pak Gusti dan Mister Steve. Malam ini kami tidur di camping-style hostel dan 2 malam berikutnya kami akan menginap di kapal, atau istilah kerennya live on board.

***

Kamis, 29 September 2016

Saya menikmati scramble eggs sebagai menu sarapan pagi sementara teman-teman lainnya menuntaskan final packing. Tidak semua barang kami bawa, hanya kebutuhan bertualang selama 3 hari; lainnya kami titipkan di Bajo View, tempat kami menginap. Pukul 08:30 kami melangkahkan kaki menuju Pelabuhan Labuan Bajo yang memang berjarak sangat dekat dengan Bajo View. Setelah mencari-cari kapal yang akan membawa kami berkeliling dari pulau ke pulau selama 3 hari ke depan diantara deretan kapal yang parkir berdesak-desakan, akhirnya kami menemukan sebuah kapal kayu bernama “Dua Putra”. Tak lama setelah kami menginjakkan kaki di lantai kapal, Pak Ridwan sang kapten meminta kami untuk mencopot alas kaki.

Lalu datanglah Ibu Kadek sang pemilik kapal dengan mengendarai sepeda motor. Dia membawa beberapa kaki katak alias fin baru untuk kami sewa. Selesai berurusan dengan fin, kami menaruh barang-barang di kamar masing-masing. Ada 2 kamar di kapal itu. Kamar di lantai bawah digunakan oleh Anet dan para cowok, sementara saya, Vika, Didito, dan Fitri memilih kamar di lantai atas; tidak mengapa lebih sempit, yang penting dekat dengan kamar mandi.

09:45 – Kapal membuang sauh dan perlahan menjauhi Pelabuhan Labuan Bajo. Kami naik ke geladak, menikmati semilir angin laut yang membuai mendatangkan kantuk. Cuaca sangat cerah. Langit biru jernih dan awan putih berarak berpadu sempurna dengan warna coklat dan hijau pulau-pulau yang tersebar di perairan. Tidak bosan rasanya memandangi pemandangan yang tidak akan ditemui di ibukota, walaupun sinyal semakin lama semakin hilang. Eksistensi diri terlupakan sejenak.

vika-labuanbajo

Pelabuhan Labuan Bajo #1

SAMSUNG CSC

Pelabuhan Labuan Bajo #2

vika-labuanbajo-2
SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

***

Pulau Rinca

vika-rinca-8

turun dari kapal dan sudah dinantikan oleh mamang ranger ~

12:00 – Matahari sedang bersinar terik-teriknya saat kami merapat di tujuan pertama. Di gerbang bertuliskan Loh Buaya sudah menunggu beberapa laki-laki berseragam hijau kecoklatan. Selamat datang di Pulau Rinca, pulau yang dikukuhkan sebagai UNESCO World’s Heritage pada tahun 1991. Pulau Rinca yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Komodo bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Gili Motang. Konon, komodo yang berada di Pulau Rinca lebih ganas daripada di pulau lainnya, jumlahnya juga lebih banyak dibandingkan yang terdapat di Pulau Komodo.

Khusus untuk para perempuan yang saat berkunjung sedang menstruasi sebaiknya memberitahu ranger saat briefing sebelum memulai trekking, karena komodo sangat menyukai bau termasuk bau darah, dan penciuman mereka mencapai radius 5 kilometer. Apalagi, komodo bisa berlari hingga 18 kilometer per jam. Apalah artinya kemampuan gw lari dari kenyataan *eh*

Dan… hari pertama sail komodo ini tepat dengan hari pertama saya mendapatkan menstruasi, di mana bagi saya hari-hari pertama masa haid adalah hari di mana darah keluar cukup banyak. Sebagai pengunjung yang taat aturan, saya pun lapor diri pada mamang ranger saat briefing setibanya di Pulau Rinca. Setiap pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo memang harus didampingi oleh ranger, sebutan bagi pria-pria perkasa pembawa tongkat penghalau komodo yang dikhawatirkan mengganggu ketenangan wisatawan. Mamang ranger mengatakan tidak perlu khawatir dan jangan mengeluarkan gerakan-gerakan berlebihan, tidak berisik dan tidak panik, selain itu bagi perempuan yang sedang menstruasi diharapkan untuk tidak jauh-jauh dari mamang ranger. Bagaimanapun juga komodo merupakan binatang buas dengan insting pemburu. Di balik sikap malas-malasan dengan mata terkantuk-kantuknya sebenarnya mereka sedang membidik target santapan.

Begitu selesai briefing dan memulai trekking, kami langsung bertemu dengan beberapa ekor komodo yang tampak sedang beristirahat menunggu cemilan di kolong dapur. Saya bersiaga. Tapi nampaknya lima ekor komodo itu sedang kenyang dan senang hatinya. Mereka tidak mengeluarkan reaksi apapun saat rombongan kami mendekat. Selain kami, ada beberapa rombongan turis asing. Kami semua berdiri mengelilingi komodo yang tidur-tiduran, sebagian pengunjung antri berfoto bersama komodo. Mamang ranger selain bertugas menjaga pengunjung, juga mengemban tanggung jawab sebagai fotografer.

vika-rinca-4

pemandangan pertama yang menyambut kami di Pulau Rinca ~gersaaaaannngg dan tandus

SAMSUNG CSC

beberapa contoh sisa makanan komodo yang dipajang di tempat briefing

SAMSUNG CSC

lagi, gersang dan tandus

vika-rinca-5

OOTD ala Vika ~

Di Pulau Rinca kami memilih short trail trekking. Setelah mengamati perilaku komodo di kolong dapur, kami melanjutkan trekking dengan harapan bertemu komodo lainnya di perjalanan; tentu tak lupa berdoa semoga tidak ada komodo yang tiba-tiba menyergap dari belakang. Pulau Rinca, sebagaimana pulau-pulau lain di gugusan Kepulauan Komodo, memiliki kontur berbukit dan berbatu-batu dengan sedikit sekali pepohonan sehingga pemandangan gersang berdebu dengan hawa panas menyengat menjadi hal yang nampaknya biasa. Selalu siap dengan air minum untuk mencegah dehidrasi dan gunakan sunblock untuk menghalau kegosongan.

Selama trekking kami tidak lagi berpapasan dengan komodo. Hanya dengan tulang-belulang mangsanya yang bertebaran di antara ilalang kami bertemu. Itupun hanya tulang bagian kepala. Komodo memang pantang memubazirkan makanan; hingga tulang-tulang mangsanya akan dihabiskan, kecuali tulang bagian kepala. Memakan tulang bagian kepala konon dapat menyebabkan kematian.

Selain komodo, ada hewan liar lain yang patut dicemaskan. Ular hijau daun, ular derik, dan ular kobra. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka tiba-tiba menampakkan diri.

dhana-rinca-1

first family picture with the legendary senior citizen ~Mr. Komodo Dragon

SAMSUNG CSC

finally, Komodo Dragon!

SAMSUNG CSC

hmm… ~

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Pulau Rinca

SAMSUNG CSC

Pulau Rinca

vika-rinca-7

Pulau Rinca

DCIM100GOPROG0260203.

we want to stay bright, they want to get tanned ~

vika-rinca-1

vika-rinca-6

vika-rinca-2

SAMSUNG CSC

vika-rinca-3

salah satu spot foto terbaik di Pulau Rinca

***

Pukul 13:30 kami sudah kembali ke kapal dan langsung disambut oleh para anak buah kapal yang sigap menyajikan hasil karya mereka di dapur. Ini makan siang pertama kami di kapal! Dan tidak menyangka menunya akan sedemikian mewah dengan rasa yang jauh dari kata mengecewakan. Alhamdulillah!

vika-on-board

our very first lunch on board ~fried noodle was the most favorite, no doubt!

welly-on-board

friendship is friendship, food is food

dhana-on-board

and then, sleep!

15:30 – kami merapat di tujuan selanjutnya; sebuah pulau curam dan berbatu yang merupakan pulau terbesar ketiga dalam gugusan Taman Nasional Komodo.

***

Pulau Padar

Kapal yang membawa kami tak bisa merapat terlalu dekat ke bibir pantai karena takut merusak karang disekitarnya. Kamipun mencapai daratan dengan menaiki kasur-perahu; dua orang bergantian hingga seluruh anggota kelompok menapak di pulau tak berpenghuni ini.

Saya, Vika, dan Didito berpandang-pandangan, menatap nanar perbukitan tandus dan gersang yang tampak curam yang terbentang di hadapan. Konon pemandangan yang akan didapat di puncak pendakian nanti akan sungguh sepadan dengan perjalanan menyisir jalan berpasir dan bebatuan itu.

Agak menciut nyali, apalagi saat itu matahari masih bersinar dengan gagah dan tidak mengurangi kegarangannya sedikit pun sepanjang sore. Baru beberapa langkah mendaki, keringat sudah membanjiri baju.

Pulau Padar berkontur berbukit-bukit, dengan sedikitnya pepohonan. Belum lagi dengan matahari yang terus-menerus bersinar, hawa panas menambah tandus dan gersangnya pulau ini. Tidak ada komodo di pulau ini, katanya sih karena rantai makanan yang terputus. Namun beberapa waktu lalu sempat ada berita bahwa terlihat satu sosok seperti komodo yang tertangkap oleh kamera seorang pengunjung yang sedang berpose. Benar atau tidaknya berita itu tidak diketahui sampai sekarang.

SAMSUNG CSC

bersiap merapat ke Pulau Padar

SAMSUNG CSC

vika-padar-2

menuju Pulau Padar

welly-padar-1

vika-padar-3

let’s take a deep breath!

vika-padar-4

anet-padar-1

Selama pendakian kami beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan mengurangi kelelahan. Tapi setelah sekitar 30 menit mendaki, the view was indeed worth seeing and surely worth hiking!

Tiga teluk yang memeluk Pulau Padar membentuk lengkungan garis pantai yang indah, berpadu sempurna dengan gradasi biru dan hijau warna air, putihnya pasir pantai, dan coklat berdebunya perbukitan. Kapal-kapal yang nampak di kejauhan bagaikan aksesori pemanis pada ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasa lelah hilang sudah. Masalah nanti turunnya bagaimana karena harus kembali melewati turunan curam… yasudahlah yaaa nggak usah dipikirin. Mau nggak mau, bisa nggak bisa toh harus kembali ke kapal juga kan? Hihihi…

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

anet-padar-2

SAMSUNG CSC

DCIM100GOPROG0290213.

welly-padar-3

vika-padar-1

Masya Allah, Subhanallah

***

Menjelang terbenamnya matahari, kami pun bergegas kembali ke kapal. Malam ini kami beristirahat di perairan Pulau Padar. Makan malam disajikan sekitar pukul 19:30, kemudian listrik dimatikan pukul 24:00. Kami memejamkan mata dalam kamar sempit, sambil berharap ada sedikit semilir angina untuk menyejukkan malam yang mulai terasa gerah.

vika-padar-5

salah satu cara terpercaya untuk menuruni Pulau Padar, like… seriously ~

vika-padar-6

front: Pak Ridwan sang kapten kapal, back: permintaan tolong dijemput dengan kasur-perahu untuk sampai ke kapal

vika-padar-7

ada juga yang memilih berenang untuk sampai ke kapal; seperti Sura

***

Jumat, 30 September 2016

Saya terbangun pukul 05:30 karena gerungan suara generator untuk menyalakan listrik. Kapal kembali berlayar menuju destinasi berikutnya. Kami bergantian mandi dengan keterbatasan air dan menikmati sarapan. Pukul 07:15 kapal merapat di satu dermaga panjang.

SAMSUNG CSC

anet-komodo-1

SAMSUNG CSC

welly-komodo-1

but first, strike a welcoming pose!

Pulau Komodo

Populasi komodo terbanyak kedua berada di pulau ini. Seperti biasa, sebelum memulai trekking pengunjung harus menghadiri briefing dengan ranger terlebih dahulu. Saya pun tak lupa lapor diri. Belajar dari pengalaman di Pulau Rinca, saya merasa lebih tenang mengingat komodo ternyata lebih kalem daripada yang dibayangkan. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sepertinya.

Pemandangan di Pulau Komodo cenderung lebih bervariasi dibandingkan dengan Pulau Rinca. Kami menemukan lubang tempat komodo menjaga telur-telurnya, melihat satwa liar lainnya yang berkeliaran sebagai calon santapan komodo, mengamati kotoran komodo dari dekat, juga mengintip kerbau yang sedang berkubang lumpur di tengah cuaca yang panasnya membara saat itu.

Selama trekking kami bertemu dengan beberapa komodo yang, sama seperti di Pulau Rinca, tampak keriput dan ogah-ogahan berbaring di tanah. Matanya tampak sayu, ada juga yang terpejam, konon mereka ini komodo-komodo senior yang sudah lanjut usia. Mereka tidak mempedulikan antusiasme pengunjung yang ingin berfoto dengan mereka.

Sesekali saya memperhatikan pohon-pohon, khawatir jika ada bayi komodo yang bersembunyi. Bayi komodo yang baru lahir memang akan langsung naik ke pohon untuk mengamankan diriya dari serangan ibunya. Mereka baru akan turun dari pohon dan hidup di daratan setelah sekitar 3 tahun. Induk komodo yang tampak berjaga di sarang sebenarnta bukan sedang menjaga buah hatinya, tapi sedang menjaga telur yang akan menjadi makanan mereka setelah telur itu menetas. Pagi hingga siang hari komodo-komodo akan berjemur dan jika matahari dirasa sudah cukup panas, mereka akan kembali berteduh di bawah pohon atau di kolong dapur.

SAMSUNG CSC

vika-komodo-1

vika-komodo-2

vika-komodo-3

hayati lelah lahiriah batiniah, kakaaakk…

vika-komodo-5

mana, mana yang menstruasi???

SAMSUNG CSC

vika-komodo-6

this is how the picture is taken

vika-komodo-4

DCIM100GOPROG0460302.

never missed a family picture ~Fregata Hills

Kami hampir mendekati akhir dari 90 menit short trail trekking ketika bertemu dengan 4 ekor komodo di tengah lapang yang cukup terbuka. Dibandingkan dengan komodo-komodo yang kami temui sebelumnya, 4 ekor komodo kali ini tampak lebih segar, lebih besar, dan lebih bersemangat; tentu tetap dengan gaya andalan mereka: bermalasan-malasan.

Tapi satu ekor komodo langsung menaikkan lehernya begitu rombongan kami mendekat. Dan sejak itu kepalanya selalu menoleh dan tatapan matanya tak pernah lepas dari saya. Seriously, itu pengalaman yang berkesan dan cukup menegangkan. Walau konon komodo di Pulau Rinca lebih ganas, tapi yang saya alami justru komodo di Pulau Komodo yang bereaksi terhadap perempuan yang sedang menstruasi.

Blessing in disguise, kehadiran saya yang memancing gerakan komodo menyenangkan teman-teman. Mereka langsung antusias dan giat berfoto karena komodonya akan tampak bagus dalam bingkai kamera: binatang buas yang menciutkan nyali lawan hanya dengan mengangkat kepala, dan sesekali menjulurkan lidah bercabangnya.

Reaksi satu ekor komodo tersebut ternyata juga memancing tiga ekor komodo lain yang ada didekatnya. Mereka pun ikut-ikutan bereaksi walau tidak sampai mengangkat kepala. Alhasil, jadilah saya satu-satunya orang yang tidak berfoto bersama komodo. Saya tidak cukup berani mengambil resiko lebih dekat lagi, karena ke manapun saya bergerak, sang komodo setia mengikuti.

anet-komodo-2

dari pandangan mata si komodo, bisa ditebak kan saya ada di sebelah mana?

Kami bernafas lega setelah tiba kembali di kapal pukul 09:15. Selesai sudah eksplorasi daratan dalam sail komodo ini. Sudah waktunya main air.

Advertisements

[Flores – Sail Komodo] Day 3 & 4: Waerebo

Selasa, 27 September 2016

Saya, Didit, dan Vika membuka mata saat matahari sudah mulai memperlihatkan diri. Setelah shalat subuh yang kesiangan dan selesai mandi, kami segera berkemas-kemas. Medan hari ini sepertinya cukup menantang, kami harus pintar-pintar memisahkan apa yang perlu dibawa dan apa yang bisa ditinggal. Awalnya, saya, Didit, dan Vika akan membawa sendiri keperluan masing-masing. Namun mungkin karena Anet melihat 3 cewek ini agak lemah gemulai tak bertenaga dan bawaannya sudah seperti mau nginep seminggu, diapun mengusulkan agar kami menggunakan jasa porter.

Yang beruntung terpilih adalah Pak Cornelius, yang merangkap sebagai guide kami selama 2 hari ke depan. Kami pun kembali membongkar carrier masing-masing. Semuanya dimasukkan ke dalam carrier Didit, kecuali perlengkapan perang seperti kamera, ransum, air minum, obat-obatan, dan –khusus saya- peralatan menghalau lintah. Sejak sebelum berangkat ke Flores, Anet beberapa kali mengatakan ada kemungkinan kami bertemu lintah dalam perjalanan menuju destinasi hari ini. Saya –sebagai manusia yang takut pada segala yang bergerak secara melata- segera mencari tau apa yang bisa menghalau lintah. Maka selain membalurkan lotion anti nyamuk sebanyak-banyaknya, menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuh rapat-rapat, saya pun menyiapkan tembakau kering yang bisa dibalurkan dengan air jika tim lintah datang menyerbu.

Seharusnya sarapan dimulai pukul 8 pagi, tapi molor hingga pukul 08:30. Setelah menyantap nasi goreng dan telur dadar, kembali kami memeriksa perlengkapan masing-masing, menitipkan koper dan tas yang tidak dibawa, dan akhirnya mobil meninggalkan penginapan pukul 09:15.

vika-waerebo-1

but first, breakfast…

***

Waerebo

This is time for Waerebo.

Pernah dengar Waerebo? Jujur, sebelum berangkat ke Flores, saya belum pernah mendengar nama itu. Waerebo adalah sebuah kampung tradisional Manggarai –bagian dari Desa Satar Lenda- yang letaknya cukup tersembunyi di lembah yang dikelilingi pegunungan. Walaupun sepertinya kurang pamor di kalangan wisatawan lokal, kampung tradisonal yang mendunia karena rumah berbentuk kerucutnya dan eksotismenya ini ternyata populer di kalangan wisatawan asing, khususnya bagi pejalan-pejalan Eropa.

Selain desa Dintor tempat kami bermalam, ada desa lain yang cukup dekat dengan Waerebo, yaitu Desa Denge yang merupakan desa terakhir yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Jarak dari Desa Denge ke Waerebo ada di angka 8 hingga 9 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi itu dulu, saat ini mobil sudah bisa melaju sekitar 3 kilometer lebih jauh lagi, sehingga pejalan tinggal menyelesaikan 5 hingga 6 kilometer sisanya.

Saat itu sedang ada perbaikan jalan, maka Pak Gusti mengantar kami hanya setengah jalan, dan dilanjutkan dengan ojek motor ke titik trekking dimulai. Saya melihat jam. Tepat pukul 10:15, setelah mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa lagi dengan Pak Gusti dan Mister Steve, kami –didampingi Pak Cornelius yang membawa carrier Didito- mulai berjalan kaki.

Yang pertama menyambut kami didepan mata adalah sebuah sungai kecil dengan batu-batu besar dan arus air yang cukup deras. Setelah itu jalan akan terus menanjak dan mulai menyempit hingga hanya bisa dilalui 1 orang; kalau ada orang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi sedikit supaya yang lainnya bisa terus melaju. Sepertinya baru 10 atau 15 menit kami mendaki, tapi nafas sudah ngos-ngosan dan pergerakanpun secara drastic mulai melambat. Fitri bahkan harus berhenti cukup lama karena pandangan yang mulai kabur. Ditemani Welly dan Pak Cornelius, dia pun beristirahat sejenak, sementara kami tetap melanjutkan perjalanan. Bisa dimaklumi jika Fitri langsung drop. Begitu mulai berjalan kami langsung dihadapkan pada medan mendaki yang lumayan menguras tenaga, apalagi tanahnya pun cukup licin dan berbatu-batu, tentu ada effort lebih yang dikeluarkan; tubuh harus bekerja keras menyesuaikan dengan kegiatan yang tidak biasa ini, terutama bagi yang jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga.

Sebenarnya ada 3 titik peristirahatan selama trekking ke Waerebo, yaitu Sungai Wae Lomba, Pocoroko, dan Nampe Bakok. Sungai Wae Lomba sepertinya sungai yang pertama menyambut kami seturunnya dari ojek. Dari situ hingga ke Pocoroko –karena kami sering berhenti untuk mengembalikan nafas dan mengikuti prinsip “pelan-pelan aja ya yang penting sampai” dengan dalih menunggu Fitri, Welly, dan Pak Cornelius yang masih di belakang- kami membutuhkan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Apalagi medan hingga ke Pocoroko memang menanjak diatas tanah licin dan harus melipir ke bukit karena sisi satunya adalah jurang.

Di tengah-tengah perjalanan, setiap kali melihat mata air, kami pasti berhenti dan menyempatkan diri untuk membasuh muka dan mengisi botol air. Rasa air dari sumbernya langsung memang berbeda. Sungguh segar dan rasanya benar-benar memulihkan tenaga. Kami juga sering berpapasan dengan penduduk Waerebo yang sedang “turun kampung” karena ada keperluan di “kota”. Berbeda dengan kami yang bersepatu gunung atau sandal gunung yang “menggigit”, penduduk Waerebo, tak peduli para mama atau bapa –seperti juga Pak Cornelius- hanya bersendal jepit atau bahkan bertelanjang kaki. Urusan trekking sekian jam sekian kilometer ini jelas-jelas bukan perkara besar bagi mereka.

Selepas titik Pocoroko medan trekking sudah lebih mudah karena mulai landai bahkan kadang menurun. Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Rumah Kasih, sebuah pos pemantau yang atapnya terbuat dari ijuk. Kami semua termasuk Pak Cornelius naik ke pos tersebut. Rasa lelah terbayar saat kami melihat hamparan dataran hijau dan rumah-rumah kerucut dikejauhan. Akhirnya kami sampai. Di pos pemantau ini, Pak Cornelius membunyikan kentongan, memberi tanda pada warga kampung Waerebo bahwa ada tamu yang datang. Kami mencoba membunyikan kentongan juga satu persatu, namun suara yang dihasilkan tidak seperkasa Pak Cornelius. Sepertinya tenaga kami cukup terkuras selama trekking tadi.

Sebelum melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi, Pak Cornelius berkali-kali mengingatkan agar kami tidak mengambil foto di sekitar kampung terlebih dahulu sebelum bertemu dan sowan dengan sesepuh kampung.

Tak lama kami di pos pemantau, kami segera berjalan cukup cepat, tak sabar untuk sampai ke Waerebo.

welly-waerebo-7

and the journey begins…

welly-waerebo-8

mendaki bukit, ku takut lintah…

dhana-2

tak selamanya perjalanan mendaki, nyatanya sesekali menurun juga…

vika-waerebo-2

Sura, Dhana, Didito, saya, Vika

vika-waerebo-3

Titik kedua peristirahatan: menunggu kedatangan Welly, Fitri, dan Pak Cornelius. And no, Didito didn’t get paid by Beng-beng…

welly-waerebo-9

yeay! sebentar lagi sampai!

welly-waerebo-1

Rumah Kasih, taken by Pak Cornelius

DCIM100GOPROG0210159.

wefie!

vika-waerebo-13

and finally!

13:30 – Senyum benar-benar terkembang dan kebahagiaan kami terpancar saat kami mempercepat langkah melintasi kebun kopi di kiri kanan kami. Pak Cornelius berjalan paling depan, memimpin garnisun yang mulai kelewat riang ini. Berjalan lurus menuju rumah kerucut yang paling besar yang terletak di tengah-tengah. Setelah melepas alas kaki dan meletakkan tongkat kayu penyangga, kami masuk ke dalam rumah dan duduk bersila bersebelah-sebelahan, dengan Pak Cornelius duduk di tengah di dekat tiang yang diatasnya tampak tergantung benda-benda seperti gendang. Dua orang sesepuh kampung berwajah ramah sudah siap menyambut, duduk berhadap-hadapan dengan kami.

Pak Cornelius membuka percakapan –memulai “upacara” penyambutan kami. Mereka sepertinya berbicara dalam bahasa setempat. Dua bapak itu bernama Pak Rafael (90 tahun) dan Pak Rofinus (78 tahun), warga paling senior yang berdiam di Waerebo. Dengan diterjemahkan Pak Cornelius, Pak Rafael dan Pak Rofinus menjelaskan secara singkat mengenai Mbaru Tembong alias rumah induk tempat kami disambut saat itu. Acara penyambutan diakhiri dengan kata-kata Pak Rafael dan Pak Rofinus, bahwa sejak saat itu hingga esok hari saat kami pulang, kami dianggap sebagai warga asli Waerebo. Maka anggaplah Waerebo sebagai rumah sendiri dengan tetap memperhatikan nilai budaya dan etika yang berlaku di situ.

DCIM100GOPROGOPR0168.

sesaat setelah upacara penyambutan di dalam Mbaru Tembong

welly-waerebo-11

…and outside

Dari Mbaru Tembong, kami dibawa ke rumah lain tempat kami menginap malam itu. Di rumah lain tersebut sudah terhampar sekitar 30 tikar untuk alas tidur. Kami tamu pertama yang tiba, maka kamipun memilih tempat tidur sesuka hati. Setelah menaruh bawaan dan meregangkan tubuh, kamipun duduk ngeriung mendengarkan cerita Pak Cornelius, ditemani secangkir kopi sebagai ucapan selamat datang.

Waerebo terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, terkenal dengan rumah beratap ijuk berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang yang berjumlah 7 buah, tidak kurang dan tidak lebih karena begitulah adat istiadat menentukan. Penduduk Waerebo konon memiliki nenek moyang dari tanah Minang. Entah kenapa dan entah bagaimana caranya orang-orang dari daratan Andalas bisa sampai ke tanah Manggarai dan beranak-pinak hingga melahirkan Waerebo.

Selain ukurannya yang sepertinya lebih besar, Mbaru Tembong maupun Mbaru Niang sebenarnya sama; namun kenapa rumah induk dinamai Mbaru Tembong adalah karena di rumah induklah diletakkan tembong –alias alat-alat musik semacam kendang yang digunakan untuk upacara adat.

Baik Mbaru Niang maupun Mbaru Tembong terdiri dari 5 tingkat yang masing-masing memiliki nama dan fungsinya sendiri-sendiri. Tingkat pertama –tempat pengunjung menginap- adalah lutur atau tenda, tingkat kedua disebut lobo atau loteng tempat menyimpan bahan makanan dan keperluan sehari-hari, tempat ketiga dinamai lentar yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan sehari-hari, tingkat keempat adalah lempa rae yang berfungsi untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan atau gagal panen, dan tingkat lima adalah hekang kode –tempat menyimpan langkar, yaitu anyaman bambu untuk menyimpan sesajian yang digunakan untuk persembahan kepada leluhur.

Yang membedakan Mbaru Tembong dan Mbaru Niang adalah jumlah kamar didalamnya. Mbaru Niang biasanya memiliki 5 hingga 6 kamar, sementara Mbaru Tembong memiliki 8 kamar; masing-masing kamarnya dihuni oleh anak laki-laki tertua dan keluarganya. Selain anak laki-laki tertua semuanya tinggal di Mbaru Niang yang ada di sisi kanan dan kiri Mbaru Tembong, ada juga yang keluar kampung dan menetap di Desa Kombo, salah satu desa yang berdekatan dengan Desa Dintor dan Desa Denge.

Jika ada rumah kerucut yang rusak dan membutuhkan perbaikan, masyarakat akan mengerjakannya secara bergotong-royong. Kayu yang digunakan untuk membangun Mbaru Niang adalah kayu borok yang dijalin satu dan lainnya menggunakan rotan. Atap rumah terbuat dari alang-alang yang dilapisi ijuk dibagian dalamnya. Dengan cara seperti ini, suhu udara didalam rumah tetap nyaman dalam keadaan cuaca apapun. Alang-alang dan ijuk dibeli dari Manggarai dan dijalin saat masih di bawah; jadi saat sampai di Waerebo tinggal dipasang saja. Walaupun materialnya terlihat sederhana, ternyata renovasi Mbaru Niang memakan biaya besar hingga mencapai angka 300 juta rupiah.

Kebersamaan masyarakat Waerebo juga terlihat di dapur. Di Mbaru Tembong, misalnya, ada 8 tungku untuk 8 keluarga. Sudah turun temurun seperti itu dan tidak pernah terjadi keributan karena walaupun memasak bersama-sama, masing-masing tetap menghargai ruang privasi tiap keluarga.

Di Waerebo tidak ada sinyal -jadi singkirkan gadgetmu untuk sementara- dan listrik hanya menyala pukul 6 sore hingga 10 malam. Maka ketika ada tanda listrik menyala, semua perlengkapan segera di-charge. Untuk mandi, ada 2 pilihan: mandi di pancuran bersama penduduk setempat atau di kamar mandi yang memang sengaja dibangun untuk memudahkan wisatawan. Saya pernah membaca bahwa jika berkunjung ke Waerebo alangkah baiknya kita membawa buku-buku bacaan untuk anak-anak yang diserahkan langsung ke perpustakaan di sana. Namun menurut Anet, sebenarnya yang lebih mereka butuhkan adalah tenaga relawan untuk tinggal beberapa waktu lamanya agar bisa mengajar anak-anak Waerebo membaca dan menulis. Memang tidak ada sarana pendidikan di Waerebo. Itulah sebabnya, setiap anak yang memasuki usia sekolah akan turun dan tinggal di Desa Kombo, tempat terdekat dimana ada sekolah. Anak-anak itu akan tinggal dengan saudara-saudara mereka dan pulang saat musim liburan tiba; tentu ditempuh dengan berjalan kaki. Ohya, jika kita ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak di sana, sebaiknya berikan pada orangtuanya instead of memberikan langsung ke anak-anak tersebut; ini untuk menghindari mental peminta-minta pada diri mereka. Larangan-larangan dan anjuran-anjuran lainnya bisa dilihat di banner yang dipasang di Rumah Kasih. Satu yang saya ingat: dilarang mempertontonkan kemesraan di muka umum, dan ini juga berlaku untuk suami istri. Sebagai seorang posesif-baper, saya sangat menghargai nilai budaya ini.

Di Waerebo juga tidak ada fasilitas kesehatan. Karena itu para ibu hamil yang akan melahirkan juga akan turun ke Desa Kombo dimana ada puskesmas keliling, sekitar 1 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir. Bagaimana caranya? Tentu, dengan berjalan kaki. Mereka percaya cara itu justru memudahkan persalinan.

Letak Waerebo yang dikelilingi pegunungan membuat udara selalu sejuk dengan kabut yang cepat turun. Sekitar pukul 5 sore saat kami bermain-main diluar rumah, kabut sudah menyelimuti kampung dan tak lama hujan pun turun walau tak deras. Selepas mandi dan shalat Isya, para mama mulai menyajikan makan malam. Saat itu, selain kami, ada 2 orang wisatawan asal Jerman –Mischa dan Daniela- dan sepasang suami istri asal Spanyol. Ada juga beberapa orang LSM yang katanya akan rapat dengan warga kampung terkait pengembangan potensi pariwisata Waerebo. Suasana yang tadinya kaku mulai mencair sejak Dhana dan Sura mulai berbincang-bincang mengenai pilkada Jakarta –Ahok sungguh terkenal di Waerebo- dengan para pemuda setempat merangkap pemandu yang memandu Mischa dan Daniela serta pemandunya pasangan suami istri Spanyol itu. Dan benar-benar cair ketika Sura dan pasangan Spanyol mempercakapkan klub bola kebanggaan masing-masing; Sura sang Madridista sejati memuji-muji Real Madrid, dan pasangan Spanyol asli urang Catalunya itu membalasnya dengan menyanyikan mars Barcelona sepenuh jiwa. Sepakbola memang mencairkan semuanya.

Sebenarnya mata belum lagi ingin dipejam, tapi pukul 10 malam listrik akan dimatikan total, maka tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Karena tidur hanya beralaskan tikar, selimut yang disediakan pun beralih fungsi menjadi seprai supaya lebih empuk, dan jaket pun kami kenakan untuk menahan dingin. Sebelum tidur, saya tak lupa berdoa supaya tidak ingin ke belakang di malam hari.

vika-waerebo-22

our bedroom for a night!

vika-waerebo-4

taken by Dhana from Mbaru Niang’s 2nd floor

welly-waerebo-6

welly-waerebo-10

vika-waerebo-6

tangga menuju lantai-lantai selanjutnya

welly-waerebo-5

vika-waerebo-5

vika-waerebo-7

vika-waerebo-11

saat kabut masih tinggi…

vika-waerebo-12

…dan saat mulai menyelimuti

vika-waerebo-8

vika-waerebo-9

para bapa from left to right: Pak Cornelius, Pak Rafael, dan Pak Rofinus

vika-waerebo-10

vika-waerebo-17

dinner time!

Rabu, 28 September 2016

Setelah berkali-kali terbangun di malam hari dan menemukan tak ada satupun di antara kami yang bergeming, akhirnya saya benar-benar terjaga sekitar pukul 5 pagi. Matahari sudah menampakkan diri dan beberapa kasur di sebelah saya sudah kosong. Sayup-sayup terdengar suara Welly, Dhana, Sura, Fitri, dan Anet di luar; rupanya mereka mengejar sunrise dan sibuk berfoto. Para bapa berbalut kain khas Waerebo ramai bercengkerama di lapangan rumput di depan Mbaru Niang.

Pukul 07:15 semua orang menghentikan kegiatan masing-masing dan berkumpul untuk menikmati menu sederhana yang disediakan para mama. Walaupun sederhana, sarapan ini penting sebagai tenaga untuk trekking kembali ke “kota” nanti.

Selain sarapan, ternyata ada acara dadakan spesial hari itu. Pak Cornelius berulangtahun! Kontan saja tanpa dikomando semua yang ada di dalam Mbaru Niang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, tak ketinggalan para bule yang turut cengar-cengir dan bertepuk tangan.

08:15 – setelah berpamitan dan menyempatkan diri ‘foto keluarga’ di depan hamparan biji kopi yang sedang dijemur, berbekal tongkat kayu kami pun memulai trekking turun. Oya, tongkat dari dahan pepohonan yang dipilih Pak Cornelius secara seksama di awal perjalanan ini sangat membantu menjaga keseimbangan tubuh lho, selain itu tongkat ini juga membantu ‘menambah’ tenaga saat kita merasa mulai lelah dan berat melangkah.

Berbeda dengan saat kedatangan, perjalanan pulang terasa lebih mudah dan ditempuh dalam waktu 1 jam lebih cepat. Perbedaan lainnya, selama perjalanan kami berpapasan dengan penduduk lokal dan turis-turis asing lebih sering, banyak diantara para turis tersebut sudah berusia separuh baya.

10:30 – Akhirnya kami melihat Pak Gusti dan Mr. Steve lagi. Mereka menjemput kami di titik yang sama dengan saat kami diturunkan saat akan trekking sehari yang lalu. Pukul 11 kami tiba di penginapan dan langsung mandi, packing, shalat, dan makan siang. Pukul 13:00 tepat kami berpisah dengan Pak Cornelius, meninggalkan Desa Dintor, menuju Labuan Bajo.

SAMSUNG CSC

para bapa rumpi pagi

dhana-1

ngopi dulu lah, biar nggak slek *eh

vika-waerebo-18

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Mr. Cornelius!

welly-waerebo-12

wefie with Daniela and Mischa; guess where we met them again?

vika-waerebo-21

lalala yeyeye ~ the boys di depan Waerebo Lodge, left to right: Welly, Sura, Dhana

vika-waerebo-19

Our lodge at Desa Dintor

vika-waerebo-20

Pulau Molas di kejauhan; Molas means ‘beautiful’

vika-waerebo-15

teras penginapan dan cucian kami

anet-1

Pak Cornelius with his favorite man: Sura

vika-waerebo-16

good bye, Mr. Cornelius! good bye, Desa Dintor! good bye, Waerebo!

Let’s have a look on our journey to Labuan Bajo:

vika-spyder-web

Awalnya Anet sempat meminta untuk dimampirkan ke Cancar untuk memperlihatkan sawah jaring laba-laba pada kami; tapi Pak Gusti mengatakan kalau harus ke Cancar maka perjalanan akan memutar jauh dan akibatnya kami akan tiba di Labuan Bajo sangat larut. Sebagai gantinya Pak Gusti berhenti sebentar di satu daerah yang memang kami lewati yang juga memiliki sawah jaring laba-laba

SAMSUNG CSC

a closer, wide enough-look

anet-3

pardon me for the typo; it should be ‘spider’ instead of ‘spyder’ huhuhu…

anet-4

but first, INDOMI selalu di hati ~ i know, i know, we are truly deeply Indonesian

And some additional photos of my favorite:

vika-waerebo-14

good bye, Waerebo! keep shining!

anet-2

JUMP! a mandatory shot of happiness!

vika-waerebo-23

the three that being left

welly-waerebo-3

…and see you again, Waerebo!

[Flores – Sail Komodo] Day 2: Kelimutu, Rumah Pengasingan Bung Karno, Kampung Bena Bajawa & Desa Dintor

Senin, 26 September 2016

Sebelum pergi tidur, Anet mengingatkan bahwa kami akan memulai perjalanan pukul 4 pagi esok hari. Saya dan Didito pun memilih mandi sebelum tidur dan berniat tidak mandi esok pagi, sementara Vika adalah tipe orang yang selalu mandi apapun yang terjadi.

Kami bangun pukul 03:15 dini hari dan bersiap-siap. Pak Agustinus alias Pak Gusti dan Pak Stefanus alias Mister Steve sudah menunggu di depan penginapan. Saat itulah kami melihat seorang cowok bule tampak kebingungan. Rupanya ojek yang dia pesan untuk ke Kelimutu tak juga menampakkan batang hidungnya. Kami setuju untuk mengajak cowok itu menumpang salah satu mobil. Seorang asing datang ke Flores dan ingin ke Kelimutu di subuh hari, dia pasti sama seperti kami, sama-sama mengincar pemandangan matahari terbit dari Danau Kelimutu. Kasihan kalau sampai terlewat. Akhirnya Vincent –nama bule Prancis itu- setuju untuk nebeng di mobil para perempuan. Tentu saja, dia langsung akrab –bukan dengan kami, tapi dengan si cowok pembawa lemari. Oya, saya belum mengenalkan si pria lemari. Namanya Dhana.

04:00 – Dua mobil berjalan menembus gelapnya malam, meninggalkan Desa Moni. 38 menit kemudian, sampailah kami di pelataran parkir tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Untuk menuju Danau Kelimutu kami masih harus berjalan kaki 30 hingga 40 menit. Keadaan sekitar masih gelap, udara pun masih dingin walau tidak menggigit; kecuali bagi Vincent –dia sempat mengeluh kegerahan saat itu *colek Vincent pake cobek*.

Kami turun dari mobil, merapatkan jaket dan menyiapkan senter, tak ketinggalan kamera dan perbekalan untuk mengisi perut dan menghilangkan dahaga. Bagi yang muslim tentu perlu juga membawa perlengkapan shalat, karena kita akan menunaikan shalat subuh saat sampai ditujuan.

Medan pendakian menuju Kelimutu sebenarnya terbilang mudah karena masih cukup landai dan sebagiannya sudah tidak lagi berupa tanah, tapi sudah dibuat jalan setapak dan diberi pagar pengaman di salah satu sisinya. Tapi saya ini sungguh-sungguh bukan olahragawati –kalau olahraga batin mah sering *mulai galau detected* jadi perkara menaklukkan pendakian ke Danau Kelimutu ini lumayan bikin ngos-ngosan setelah 15 menit pertama dan di 15 menit terakhir. Untungnya kami beramai-ramai, jadi bisa mengobrol untuk melupakan rasa lelah. Bagi yang butuh toilet juga jangan khawatir, ada toilet umum di sepanjang rute perjalanan. Hampir tidak ada cahaya terlihat di sekeliling, jadi membawa senter atau alat penerangan lainnya memang suatu keharusan. Saat kami tiba di puncak, langit pun masih sedikit mengeluarkan semburat cahaya.

Saat itu waktu baru menunjukkan sekitar pukul 05:15, tapi sudah cukup banyak pengunjung –sebagian besarnya adalah turis asing- yang duduk setia menunggu kemunculan matahari terbit, ditemani para penjaja popmi dan kopi instan yang dengan ramah menawarkan dagangan mereka. Ketika langit berubah warna perlahan-lahan, mulailah kami para turis domestik ini heboh berfoto di setiap sudut yang memungkinkan. Ini mungkin salah satu perbedaan mencolok antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara dari ras kaukasia. Saat mengunjungi satu tempat, kita cenderung sibuk mengabadikannya dengan kamera, mengambil gambar sebanyak-banyaknya; sementara mereka lebih memilih untuk duduk tenang meresapi semua yang terbentang didepan mata, menikmati momen, menyimpan kenangan –kalaupun mengambil gambar sepertinya tidak sebanyak kita para turis lokal.

Ketika sinar matahari sudah cukup terang, terlihatlah 3 warna Danau Kelimutu pagi itu: hijau lumut muda, biru tosca, dan hitam. Keindahan Danau Kelimutu berpadu kontras dengan kontur berbukit-bukit, sedikit pepohonan dan warna tanah yang coklat tandus. Diamnya air danau menimbulkan kesan mistis sendiri. Kenapa ia begitu tenang?

vika-kelimutu-1

vika-kelimutu-4

vika-kelimutu-3

SAMSUNG CSC

vika-kelimutu-5

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

anet-kelimutu

vika-kelimutu-6

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Kelimutu sebenarnya adalah danau kawah di puncak Gunung Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut. Ditemukan tahun 1915 oleh seorang Belanda bernama B Van Such Telen dan populer melalui tulisan Y Bouman pada 1929. Ada 3 danau dengan warna air yang bisa berubah-ubah, yaitu Tiwu Awa Mbupu (dihuni oleh roh orang tua yang telah meninggal; luasnya 4,5 hektar dengan kedalaman 67 meter), Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (dihuni oleh roh muda-mudi yang berbuat baik semasa hidupnya; luasnya 5,5 hektar dengan kedalaman 127 meter), dan Tiwu Ata Polo (dihuni oleh roh orang yang berbuat jahat semasa hidupnya; luasnya 4 hektar dengan kedalaman 64 meter). Gunung Kelimutu terakhir meletus tahun 1968. Perubahan warna air ketiga danaunya terjadi sejak tahun 1886, yang hingga kini tidak diketahui apa penyebab berubah-ubahnya warna air tersebut.

vika-kelimutu-2

06:30 – Setelah *memaksakan diri* puas berfoto, Anet memutuskan sudah waktunya kami kembali ke tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Dalam 30 menit perjalanan turun kami beberapa kali bertemu turis lain maupun penduduk lokal. Satu hal yang saya suka dan sangat appreciate selama Flores Trip ini adalah penduduk lokal yang murah senyum dan luar biasa ramah. Sapaan-sapaan adalah hal yang selalu keluar dari mulut mereka. Dan entah bagaimana sepertinya hal ini menular pada turis-turis asing –yang kebanyakan yang kami temui datang dari benua biru-  mereka juga tak kalah senangnya berbincang-bincang atau sekedar menebar senyum.

Pukul 07:45 kami tiba di penginapan. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Vincent, kami bersiap-siap packing dan menikmati suguhan yang disajikan. Selembar pancake tebal dan potongan buah pisang, mangga, dan pepaya, menjadi sarapan kami pagi itu.

08:30 – Waktunya melanjutkan perjalanan!

Hari ini kami akan menuju Desa Dintor, tempat bermalam berikutnya. Dalam perjalanan, rencananya kami akan mampir di beberapa tempat. Setelah 1 jam, perjalanan sempat terhenti sebentar karena ada perbaikan jalan dan karenanya diberlakukan sistem buka tutup arus kendaraan. Hampir 30 menit menunggu, akhirnya mobil kembali berjalan. Pukul 11:40 kami sampai di destinasi yang tertunda.

Rumah Pengasingan Bung Karno

vika-rumah-bk

anet-rumah-bk

vika-rumah-bk-2

Pintu didekat sumur itu adalah pintu kamar mandi | Sepertinya kamar mandi tersebut, jika merunut cerita Bung Karno dalam buku karya Cindy Adams, belum ada saat Bung Karno menjalani masa pembuangannya

Tak lama kami berada di rumah tempat Bung Karno dibuang penjajah Belanda. Rumah pengasingan yang beralamat di Jalan Perwira itu tampak sederhana dengan dominasi cat warna putih. Hanya ada dua kamar tidur di rumah itu. Satu kamar ditempati Bung Karno dan Ibu Inggit  Garnasih, sementara kamar lainnya ditempati ibu mertua Bung Karno dan Ratna Djuami, anak angkat sang proklamator. Di rumah itu dipamerkan benda-benda yang digunakan Bung Karno selama masa pembuangannya. Mulai dari biola yang pernah beliau mainkan hingga lukisannya yang turut di pajang di ruang utama.

Bung Karno dibawa ke Ende dengan menggunakan Kapal Jan van Riebeeck dari Surabaya, Jawa Timur pada awal tahun 1934. Di sana beliau diasingkan selama 4 tahun. Pada masa pembuangannya, tidak ada listrik dan air di rumah itu. Jika Bung Karno ingin mandi, beliau akan membawa sabun ke Sungai Wola Wona. Saat itu, rumah pengasingan tersebut dikelilingi kebun pisang, pohon-pohon kelapa, dan jagung. Ende benar-benar kampong nelayan yang terbelakang ditahun 1930-an itu. Tidak ada telepon, tidak ada kantor telegraf. Jika ingin berkabar dengan dunia luar, yang bisa diandalkan hanyalah 2 kapal pos yang masing-masing datang sekali sebulan.

Selama masa pembuangan itu, Bung Karno mengalami banyak hal. Ibu mertuanya, Ibu Amsi meninggal dunia di sana. Bung Karno juga rajin menulis naskah sandiwara dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan. Naskah sandiwara pertamanya berjudul Dr. Setan, terilhami dari Frankenstein karya Mary Shelley. Beliau pun mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi sutradaranya. Setiap pentasnya dihadiri banyak sekali penonton, termasuk orang-orang Belanda. Hasil penjualan karcis digunakan untuk membayar sewa gudang dari gereja yang sengaja disewa Bung Karno untuk mengadakan pertunjukan sandiwara.

Di rumah itu Bung Karno pun terkena malaria. Itulah mengapa Hindia Belanda kemudian memindahkan pembuangannya ke Bengkulu. Pukul 11:00 kami meninggalkan Rumah Pengasingan Bung Karno dan kembali menikmati kelok-kelok jalanan Flores.

DCIM100GOPROG0040043.

15:30 – Setelah mampir ke suatu pantai *yang sayangnya saya lupa namanya* dan makan siang –oya, di sepanjang perjalanan, sejauh yang saya ingat dan saya lihat, agak jarang kami bertemu rumah makan; jadi ketika ada warung kecil tanpa pikir panjang kami pun mampir, apalagi saat itu sudah hampir pukul 14… selain badan sudah pegal-pegal akibat duduk lama di mobil, perut pun sudah menjerit minta diisi- kami tiba di tujuan selanjutnya.

pantai-apa-ini-ya

Perhentian 10 menit ~sekaligus menenangkan Fitri yang mabuk darat

panorama-1

Dari suatu bukit…

Kampung Bena Bajawa

Kampung Bena Bajawa adalah suatu perkampungan tradisional yang ditengarai sudah ada sejak zaman megalitikum 1200 tahun silam. Terletak di Kabupaten Ngada, Kecamatan Aimere, Desa Tiwuriwu, 17,5 kilometer dari Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Di Kampung Bena Bajawa berdiri 45 rumah tradisional dan didalamnya berdiam 9 suku: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Sementara itu Suku Bena, karena dianggap sebagai suku yang paling tua dan pendiri kampung, berada di tengah-tengah kampung. Dan karena itu pulalah, Bena menjadi nama kampung ini.

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dalam pandangan pertama

Rumah-rumahnya berdiri berjejer berhadap-hadapan dengan banyak tanduk kerbau, rahang, dan taring babi dipajang menggantung didepannya sebagai lambang status sosial, di tengah-tengah perkampungan berdiri Bhaga dan Ngadhu. Bhaga yang menyerupai miniatur rumah merupakan representasi perempuan nenek moyang, sementara Ngadhu yang menyerupai payung merupakan representasi laki-laki nenek moyang. Di tiang Ngadhu juga sering diletakkan hewan-hewan kurban persembahan dalam upacara adat. Didekatnya ada susunan batu makam leluhur mereka.

Penduduk Kampung Bena merupakan penganut Katolik dan bermata pencaharian sebagai petani untuk kaum laki-laki, sementara kaum perempuannya wajib memiliki kemampuan menenun. Kain tenun dengan motif kuda dan gajah sebagai ciri khasnya ini digantung didepan rumah mereka dan pengunjung bisa membelinya.

Masyarakat setempat percaya di puncak Gunung Inerie bersemayam Zeta atau Yeta yang dipercaya sebagai dewa pelindung mereka. Gunung Inerie yang berada di ketinggian 2245 mdpl dianggap sebagai ibu, sementara Gunung Surulaki dianggap sebagai ayah. Gunung Inerie sendiri pernah meletus di tahun 1882 dan tahun 1970.

SAMSUNG CSC

Bhaga -representasi perempuan nenek moyang

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

vika-bena-1

vika-bena-2

SAMSUNG CSC

Kapel di ujung kampung | Saat kami datang, ada seorang bapak tua duduk didekatnya dan terus bernyanyi tanpa henti

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dari depan kapel

SAMSUNG CSC

vika-bena-3

vika-bena-4

Kampung Bena Bajawa terbuka untuk dikunjungi sejak pukul 08:00 hingga pukul 17:00. Setiap pengunjung yang datang wajib mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Harap diingat jika ingin memberikan donasi, berikan uang kertas karena penduduk setempat tidak menggunakan uang logam. Setelah mengisi buku tamu, setiap pengunjung akan diberikan semacam tenunan syal atau ikat kepala kecil untuk dipakai sebagai tanda bahwa kita adalah tamu di desa itu. Tanda pengenal ini tentu harus dikembalikan saat kita menyudahi kunjungan, tapi jika ingin kita bisa membelinya.

Saat kami tiba, tampak para laki-laki sedang bergotong-royong membangun entah apa. Gotong-royong memang nilai budaya yang tetap dipegang teguh masyarakat Kampung Bena Bajawa. Sementara para mama duduk-duduk di serambi rumah; entah sekedar bersantai atau sibuk menenun. Anak-anak kecil bermain bola bertelanjang kaki. Anjing-anjing menikmati tidur siang di kolong rumah. Untuk kepentingan pengunjung, telah tersedia toilet umum di ujung tengah kampung.

Sudah 1 jam kami berjalan menyusuri setiap sudut kampung. Pak Gusti mengingatkan agar kami segera menyudahi kunjungan karena perjalanan masih jauh. Masih 10 jam lagi, katanya. Saya tertawa kecil mendengarnya; tidak percaya Desa Dintor sedemikian jauhnya.

anet-bena-1

all the ladies -Anet, Fitri, Vika, saya, Didito

19:00 – Dua setengah jam sejak pukul 16:30 diisi dengan tidur-tidur ayam karena jalannya mobil yang meliuk-liuk mengikuti jalanan yang berkelok-kelok tajam. Setibanya di Kabupaten Manggarai Timur, kami mengisi bahan bakar dan makan malam. Pak Gusti mengatakan agar siapapun yang ingin ke toilet, sebaiknya segera menunaikan hajatnya karena setelah makan malam bisa dipastikan akan kesulitan bagi kami untuk menemukan toilet. Pukul 20:00 kami kembali melanjutkan perjalanan dan saya mencoba memejamkan mata.

Tapi tidak bisa; berjam-jam setelahnya perut seperti dikocok-kocok akibat kontur jalan yang sepertinya buruk. Saya tidak bisa melihat sekeliling karena gelap gulita. Tidak ada penerangan lampu jalan. Penerangan hanya berasal dari mobil. Jalan yang dilalui sepertinya kecil, hanya muat satu mobil dan dikiri-kanannya sepertinya dikelilingi pepohonan. Sungguh sepi dan agak mengerikan. Sungguh membutuhkan keahlian dan pengalaman untuk bisa mengarungi medan itu.

Setiap beberapa saat sekali saya melirik jam, kadang juga mengganti posisi duduk-tidur-duduk-tidur dengan harapan bisa terlelap lebih nyenyak. Jilbab sepertinya sudah berantakan, badan rasanya sudah lepek dan mulutpun rasanya pahit.

***

Waktu terus berjalan. Pukul 21, pukul 22… saya membuang pandangan keluar jendela. Tidak ada perubahan. Tetap gelap, mobil tetap melaju diatas jalan berbatu yang sepertinya rusak parah, kadang disertai kelokan tajam.

Pukul 23… belum, belum ada tanda-tanda perubahan. Saya mulai berpikir, sepertinya Pak Gusti tadi tidak bercanda. Jangan-jangan kami memang akan sampai di Desa Dintor esok subuh!

Pukul 24… keadaan masih tetap sama. Tak ada tanda-tanda kami akan menepi; Pak Gusti terus mengemudi dalam sunyi. Tak terbayang lelahnya beliau. Kami yang duduk manis saja capek, apalagi Pak Gusti. Vika, Didito, dan Anet juga tidur-tidur ayam. Saya antara pasrah dan gelisah memikirkan apakah kami bisa menunaikan agenda esok hari yang sepertinya akan banyak menguras energi.

Dan haripun berganti. Sudah tanggal 27 September, dan kami masih ditengah gulitanya malam di timur Indonesia. Hingga tiba-tiba mobil berhenti. Entah dimana. Sekeliling tetap gelap gulita, benar-benar gelap. Ternyata kami telah sampai. Saya menyempatkan diri melihat jam.

00:20 – Berbekal senter, kami menurunkan barang-barang dan mulai membiasakan diri dengan pekatnya sekeliling. Kami memijak jalan berbatu, berhati-hati hingga ke penginapan. Tidak ada listrik, maka berbekal senter yang terus dinyalakanlah kami membersihkan diri. Untungnya, kamar mandi terletak di dalam kamar.

Drama perjalanan dari Desa Moni di Kabupaten Ende ke Desa Dintor di Kabupaten Manggarai ditutup dengan tidur kami pukul 01:30 dini hari itu.

 

 

 

 

 

 

[Flores – Sail Komodo] Day 1: Desa Moni

Pada suatu hari entah kapan, Vika yang sepertinya sedang gundah gulana saat itu melempar wacana pada saya dan Didito, disertai dengan foto-foto nan kece aduhai sebagai pemanis ajakan jalan-jalan. Ke Flores yuk! katanya. Kami tidak punya agenda year-end traveling, maka tanpa menunggu lama, saya dan Didito meng-iyakan ajakan itu.

SAMSUNG CSC

Flores, dalam bahasa Portugis berarti “bunga”. Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Flores termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat. Konon nama Flores berawal dari seorang pelaut Portugis bernama Antonio de Abreu yang melihat bunga flamboyant berwarna merah bermekaran saat ia menginjakkan kaki di tanah Flores. Tersebutlah daratan itu dengan nama Cabo das Flores atau Tanjung Bunga. Tahun 1636, Hendrik Brouwer –Gubernur Hindia Belanda saat itu- mengesahkan nama Flores untuk pulau ini.

Perjalanan kali ini berbau semi-open trip. Itinerary dan semua urusan diatur oleh Anet, teman Vika sekaligus tour leader. Jadilah saya dan Didito hanya menyetor sejumlah dana dan duduk manis menunggu hingga waktu keberangkatan. Oh ya, saya mungkin yang paling akhir melakukan pembayaran, karena masih maju mundur apakah jadi ikut atau nggak, mengingat di bulan-bulan Oktober biasanya ada acara kantor yang tidak boleh tidak diikuti.

But being me, suka gatel-gatel nggak jelas kalau nggak browsing ini itu. Berdasarkan itinerary dasar berupa daftar tempat yang akan kami kunjungi, gw pun melakukan riset kecil-kecilan di universtas google. Aneh rasanya, jika mengunjungi suatu tempat tanpa mengetahui apapun mengenai tempat tersebut.

Dalam masa menunggu keberangkatan itu, Anet pun membentuk grup WA berisi 5 orang perempuan peserta trip: Anet, Vika, Didito, Fitri, dan saya. Fitri adalah teman Vika semasa bersekolah di Pontianak, dan ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengan saya. Saat hari H semakin dekat, Anet mengabarkan bahwa seorang temannya laki-laki akan bergabung. Beberapa hari kemudian kembali datang berita, teman dari temannya itu ingin turut pula. Terakhir, peserta bertambah seorang lagi: saudaranya si temannya Anet itu ikut memeriahkan trip kali ini.

the-squad

Formasi lengkap feat. Pak Cornelius

Minggu, 25 September 2016

04:45 – Segera setelah shalat subuh, saya meninggalkan rumah menuju meeting point. Didit, Vika, dan Fitri ternyata sudah sampai lebih dulu. Fitri yang berdomisili di Pontianak memang menginap di rumah Vika dan kami berangkat bersama ke bandara dengan menumpang mobil seorang teman yang berprofesi sampingan sebagai driver Uber. Pukul 05:45 kami tiba di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta dan bertemu dengan Anet yang sudah menunggu 2 jam lebih lama *iya, dia memang kuncennya bandara*. Setelah melakukan ritual drop baggage seperti biasa, kami langsung masuk ke boarding room.

07:15 – Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 438 yang akan membawa kami ke Kupang lepas landas tepat waktu. Pukul 09:00, pesawat transit sekitar 30 menit di Bandara Ngurah Rai Bali untuk menaikturunkan penumpang sekaligus mengisi bahan bakar. Kursi-kursi yang tadinya kosong langsung penuh terisi oleh orang-orang yang naik dari Denpasar. Sebagian besar penumpang yang baru naik berperawakan orang-orang dari Indonesia bagian timur, sebagian kecilnya adalah para bule berambut pirang yang kami duga akan berlibur di tempat tujuan.

12:30 – Dari jendela pesawat terlihat tanah kecoklatan yang kering dan tandus. Tapi laut dipinggirnya sungguh cantik dengan warna biru yang jernih dan pasir halus berwarna pink. Setelah penerbangan selama 1,5 jam, pesawat mendarat di Bandara Internasional El Tari Kupang.

Perjalanan belum berakhir. Kupang hanya menjadi tempat transit kami selama 2 jam hingga penerbangan berikutnya. Jangan bayangkan bandara megah dan dingin. Bandara El Tari Kupang kecil dan sederhana, tanpa pendingin ruangan dan saat kami tiba, hiruk pikuk tentara dengan ransel-ranselnya menyambut kami. Tapi kebersihan toilet dan mushalanya cukup untuk diacungi jempol untuk ukuran bandara sekecil itu. Toiletnya bersih, tidak berbau bahkan wangi aromaterapi, air juga mengalir dengan baik.

14:15 – Harusnya kami terbang ke Ende, tapi terjadi delay selama 1 jam. Pesawat Trans Nusa dengan nomor penerbangan IN 9517 baru lepas landas pukul 15:15. Sepertinya pesawat kami ngebut, hanya dalam waktu 30 menit kami sudah mendarat di Bandara H. Hasan Aboeroesman di Ende, satu gedung sederhana dengan satu conveyor belt. Udara panas dan kering yang lembap menyergap begitu turun pesawat, sungguh berbeda dengan Kupang yang diguyur hujan saat lepas landas tadi.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Preparing for landing at Ende

SAMSUNG CSC

Getting closer – i amazed with the rich color!

SAMSUNG CSC

…and closer – the landscape is simply beautiful!

SAMSUNG CSC

a second before touchdown

***

Sambil menunggu conveyor belt mengalirkan koper-koper kami, saya memandang sekeliling. Di luar terlihat 3 orang laki-laki yang nampak berbeda dari penduduk lokal. Itu pasti mereka. Setelah berkenalan, our first prejudice was… nih cowok-cowok tipikal anak gaul ibukota, apalagi yang berkulit putih dengan paras sedikit menyerupai orang-orang timur tengah. Kami sekilas melihat, sepertinya dia membawa lemari pakaiannya. Kopernya besar sekali!

Pak Agustinus –yang meminta dipanggil ‘Gusti’ instead of ‘Agus’- dengan ramah menyambut 8 orang turis ini dan mengantar kami ke mobil yang akan kami pakai selama di Flores. Ada 2 mobil disediakan, dan secara otomatis terbagilah mobil 1 ditumpangi Anet, Vika, Didito, dan saya, sementara Fitri pasrah ditempatkan bersama 3 cowok yang salah satunya membawa lemari. Tapi Fitri bahagia, kami tau itu *lalu saya dibekep Fitri*

Rencananya kami akan singgah di rumah pengasingan Bung Karno, tapi mungkin karena saat itu hari minggu, pagar rumah tampak terkunci. Akhirnya kami singgah di rumah makan padang “Roda Baru” untuk makan siang yang sangat terlambat, dan segera melanjutkan perjalanan untuk bermalam di Desa Moni.

***

19:00 – tepat pukul 7 malam, setelah melewati jalan berkelok-kelok akhirnya kami tiba di Desa Moni dan langsung masuk kamar. Anet tidur bersama Fitri, sementara saya pastinya bersama Vika dan Didito. Jangan membayangkan penginapan ala hotel atau bahkan hostel. Tempat kami beristirahat malam itu adalah kamar-kamar yang dibangun warga Desa Moni di sebelah rumah tempat tinggal mereka menjadi semacam homestay sederhana. Tapi jangan salah, kamarnya bersih dan cukup nyaman. Kamar mandi sekaligus wc ada di dalam kamar, memang tanpa pintu tapi tetap aman dan terlindungi. Ada air panas dan yang terpenting, airnya bersih dan berlimpah. Informasi yang kami terima dari Anet, harga kamar di penginapan “Pondok Hidayah” ini adalah Rp.350.000,- per malam untuk 2 orang, sementara extra bed dihargai Rp.100.000,- per malam.

Desa Moni yang terletak di kaki Gunung Kelimutu ini memang merupakan tempat persinggahan bagi para pejalan yang ingin melihat sunrise di Kelimutu. Sebenarnya ada air terjun juga disini, yang menjadi tempat mandi penduduk desa. Namun karena kami tiba di malam hari, rasanya sudah tidak memungkinkan untuk mengunjungi air terjun tersebut.

Setelah mandi, kami kembali berkumpul untuk makan malam. Udara cukup dingin, berbalut jaket kami menikmati nasi goreng ala Desa Moni yang dimasak dengan daun jeruk. Rasanya unik, tapi segar dan tentu saja enak!

Bintang bertaburan di langit Desa Moni, tampak jelas bersinar terang, tampak seolah dekat sekali dengan bumi. Walau sudah mulai terbuka obrolan, suasana masih belum terlalu cair antara 8 orang pejalan ini. Tapi kami masih punya waktu banyak. Berteman butuh kesabaran.

desa-moni-4

‘sign board’ of our home-stay at Desa Moni – Vika took this picture before we leave for good

desa-moni

Who’s sleeping here? – Vika and Didito and i

desa-moni-2

‘no-door’ toilet

desa-moni-3

foto diambil sepulangnya dari Kelimutu – menikmati suguhan pancake dan buah potong sebagai sarapan kami

[Parapat – Medan] Makan-makan & Cindera Mata

 

Just a short, simple post on what we ate *and shopped* in Medan – Parapat Trip. Enjoy reading!

SAMSUNG CSC

Lontong Sayur Medan – berbeda dengan Lontong Sayur Betawi dan Lontong Sayur Padang yang terbilang minimalis dalam hal isi, Lontong Sayur Medan bisa dibilang cukup meriah dengan irisan labu siam, wortel, kacang panjang, telur balado, rendang daging, kering tempe teri kacang, kacang tanah goreng, dan disiram sayur nangka kuah kuning. Hal lain yang membedakan adalah penggunaan tauco medan dan tiadanya kerupuk merah. Ada banyak modifikasi isi Lontong Sayur Medan, seperti yang gw makan di Warung Alam Ndeso dalam perjalanan dari Bandara Kualanamu ke Parapat. Mi goreng, kering kentang, tekoka, kulit tangkil, buncis, perkedel, dan telur balado adalah racikan Lontong Sayur Medan yang gw santap.

SAMSUNG CSC

Roti Ganda isi selai srikaya IDR 18.000 – toko roti Ganda yang sangat tersohor ini terletak di Jalan Sutomo, Pematang Siantar. Tak sah rasanya jika tak singgah ke toko ini dan mencicipi roti dengan old-school style *coba bayangin roti Tan Ek Tjoan atau Lauw* yang disajikan dengan isian selai srikaya atau mesjes coklat dan krim putih. Begitu memasuki toko, harum roti memenuhi rongga hidung. Kue-kue yang dijual disini pun masih mempertahankan gaya lama, mungkin seperti Sakura Anpan kalau di Jakarta. Sayangnya, toko roti yang berdiri sejak tahun 1979 ini belum mengantongi sertifikat halal.

SAMSUNG CSC

Lemang Pulut Asli Tebing Tinggi IDR 25.000 untuk bambu kecil – masih di Pematang Siantar, Uci mengajak kami membeli lemang pulut di satu sudut pasar. Pulut alias beras ketan, di Tapanuli Selatan dan Pontianak digunakan sebagai pengganti ketupat. Lemang Pulut, adalah beras ketan yang dilapisi daun pisang dan dimasukkan ke dalam wadah bambu alias lemang, kemudian di bakar. Rasanya hampir sama dengan lamang tapai di Minang, sama-sama gurih namun dengan rasa asin yang lebih dominan daripada lamang tapai Minang.

SAMSUNG CSC

Sate Memeng Mang Ayeb – terletak di Jalan Irian Barat, sate yang sudah ada sejak tahun 1945 merupakan salah satu tujuan utama si Tante bernostalgia di Medan. Di warung kecil yang selalu ramai ini ditawarkan sate ayam, sate kambing, sate sapi, dan menu lainnya seperti Mie Rebus Medan. Ada 5 tusuk sate dalam satu porsinya. Yang gw suka, satenya benar-benar terdiri dari daging, daging, dan daging, tanpa jeroan. Potongannya pun besar dan empuk. Tapi yang cukup istimewa adalah bumbu kacangnya. Rasanya beda aja dari bumbu kacang sate pada umumnya, benar-benar enak dan mantap, belum lagi taburan bawang goreng yang melimpah. Such a perfect dinner we had!

Mie Rebus Medan – sementara gw memilih sate ayam, Nyonya Besar berkeingingan mencicipi Mie Rebus Medan yang ada dalam menu Sate Memeng Mang Ayeb. Mie Rebus Medan ini, ternyata disebut juga sebagai Mie Keling karena konon berasal dari peranakan India. Kuahnya hitam pekat dan kental dan terbuat dari udang yang digiling. Sementara untuk mie-nya, mie-nya kenyal dan agak besar, dengan campuran tauge, telur rebus, bawang goreng, irisan daun seledri, tahu cina, kentang kukus (yang kemudian di goreng), dan disajikan dengan kerupuk. Rasanya? Sama seperti sate-nya, Mie Rebus Medan ini pun sama endeuuuss, walaupun porsinya memang nggak terlalu mengenyangkan.

SAMSUNG CSC

Mie Balap – sebenernya ini sama aja dengan bihun goreng dan kwetiau goreng yang bisa kita temui dimanapun. Yang bikin beda itu mungkin pembuatannya ya. Pembuatannya sangat cepat, makanya dikasih nama Mie Balap. Tapi jangan salah, rasanya bener-bener enak. Somehow pas aja gitu racikan bumbu-bumbunya. Tenar sebagai sarapan masyarakat Medan, dan dimakan dengan sate kerang yang ternyata, lumayan enak juga rasanya *but still sate kerang is not my cup of tea* *tapi Jeng Kue Seus suka banget si sate kerang ini* *bukan info penting, abaikan* :mrgreen:

SAMSUNG CSC

Restoran Tiptop – ini mungkin salah satu restoran paling tua di Medan, berdiri sejak tahun 1929 dengan nama Jangkie dan menjadi tempat kongkow kaum ekspatriat pada zamannya. Menu istimewanya adalah bitterballen, bistik, dan ice cream cake *yang mana menurut gw sih nggak ada yang istimewa dengan rasanya*. Hal lain yang menyenangkan adalah, rest room a.k.a toilet mereka bersih!

Soto Sinar Pagi IDR 25.000 – terletak di Jalan Sei Deli, menyajikan soto medan dengan daging sapi ataupun daging ayam yang melimpah lengkap dengan 2 buah perkedel dan peyek udang yang sangat crunchy dan enak. Recommended!

Merdeka Walk – ke sini karena di ajak Uci dan Iqbal, adiknya, nggak makan apa-apa sih kecuali ngemil Roti Tissue dan Pancake Durian, cuma pengen tau tempat gaul paling heits seantero Medan.

Durian Ucok & Pancake Durian Pelawi – mungkin gw datang ke Medan di saat yang kurang tepat ya… tapi bagi gw rasanya durian Bang Ucok ini tidak terlalu istimewa. Anyway kalo untuk pancake durian yang dibawa ke Jakarta, gw beli di Pancake Durian Pelawi sebelum ke Bandara Kualanamu. Soal rasa ya sebelas duabelas lah sama Pancake Durian Nelayan.

Bolu Meranti – siapa yang nggak kenal bolu gulung Meranti? Konon kurang sah berkunjung ke Medan kalau pulang tanpa Bolu Meranti. Bolu gulung sederhana yang buat gw sih nggak istimewa banget ya… ya sebagaimana rasa kue bolu pada umumnya aja, kecuali topping-nya yang gw akui, nggak pelit sama sekali.

Bika Ambon & Lapis Legit Zulaikha – satu lagi makanan khas Medan selain Durian Ucok dan Bolu Meranti yang sering kita lihat ditenteng wisatawan di Bandara Kualanamu atau Polonia dulu. Gw pada dasarnya biasa aja sih sama bika ambon, tapi untuk yang satu ini kekecualian deh. Dan ternyata, lapis legitnyaaa… juga enaaakk!!! Baik bika ambonnya maupun lapis legitnya, rasa manisnya pas dan nggak bikin gatel tenggorokan.

Kaos “Medan Bah” – menjadi satu dengan Durian Ucok, gambar kaos “Medan Bah” cukup menarik dan catchy, pilihannya juga banyak. Harganya reasonable dengan kualitas bahan yang oke. Sayangnya, ownernya *atau penjaga tokonya ya?*, seorang pemuda bertubuh gempal, kurang ramah dalam melayani pembeli.

Kaos “Tauko Medan” – dibandingkan dengan toko tetangga, gambar kaos “Tauko Medan” lebih sederhana dengan bahan yang lebih tipis. Tapi, kebalikan dari toko tetangga, para abang dan kakak “Tauko Medan” ini cukup ramah pada pembeli.

And the last… oleh-oleh yang di beli di pinggir jalan dekat Pasar Peringgan dalam perjalanan ke Bandara Kualanamu: Jambu Bangkok! Super enak dan crunchy! Nyesel banget cuma beli setengah kilo! Maafkan nggak ada fotonya, karena begitu beli langsung habis di santap selama perjalanan ke Bandara :mrgreen:

So it’s a wrap! Mauliate Godang, Medan!

 

 

 

 

[Parapat – Medan] Tjong A Fie Mansion

 

Day 3: Senin, 12 Oktober 2015

Kesepakatan pada malam sebelumnya sih kami akan dijemput oleh Kak Nelly dan Uci pada pukul 9, tapi hingga lebih dari pukul 9:30, sepupu dan keponakan itu belum terdengar pula logat Medan Melayunya. Gw mulai bete. Dalam khasanah dolanan, gw emang paling nggak suka berangkat siang karena bagi gw itu termasuk pembuangan waktu. Ya kan ceritanya lagi di kota orang nih, jadi ya marilah memanfaatkan waktu untuk eksplorasi semaksimal mungkin. Kalo mau tidur mah di rumah juga bisa *mulai galak*

Mendekati pukul 10 barulah kami turun ke lobby hotel setelah mendapat telepon dari Kak Nelly. Tujuan pertama adalah menemani gw sarapan karena gw nggak dapet jatah sarapan dari hotel yang memang hanya menyediakan free breakfast untuk 2 orang/kamar. Sambil menyantap hidangan yang konon legendaris juga bagi trio tante, sepupu, dan keponakan, itu gw ngobrol-ngobrol dengan Uci mengenai rencana keliling Medan hari itu.

Ada 3 tempat tujuan utama: Tjong A Fie Mansion, Istana Maimon, dan Masjid Raya Medan. Buat gw, highlight hari itu nggak lain dan nggak bukan adalah Tjong A Fie Mansion. Tapi sebelum kita cerita-cerita soal salah satu landmark bersejarah di kota Medan itu, gw mau nulis sedikit soal Istana Maimon dan Masjid Raya Medan.

Istana Maimun

Kejayaan ekonomi Kesultanan Deli yang didapat dari hasil perkebunan tembakau membuat Sultan Deli ke-IX, Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, memindahkan ibukota kerajaan ke Medan. Dalam masa pemerintahan Sultan Deli ke-IX inilah Istana Maimun dibangun, dan pada masanya berfungsi selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat perkembangan kebudayaan dan dakwah Islam.

Istana Maimun, dikenal juga dengan nama Istana Putri Hijau, mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891 (sumber lainnya menyebutkan pembangunan istana selesai pada 25 Agustus 1888), dengan memadukan gaya arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda, dan Melayu. Istana terdiri dari dua lantai dan didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran Kesultanan Deli.

Mengapa istana ini disebut juga sebagai Istana Putri Hijau, karena erat hubungannya dengan legenda Putri Hijau, yang konon dipinang oleh Raja Aceh, namun pinangan itu ditolak oleh kedua saudara laki-laki Sang Putri hingga membuat Raja Aceh marah dan menyerang kerajaan. Konon kegagalan rencana perkawinan ini membuat Sang Putri bersumpah bahwa setiap laki-laki maupun perempuan yang belum menikah memasuki istana akan sulit menemukan jodoh mereka atau bahkan tidak menikah seumur hidup. Kepercayaan pada ‘kutukan’ itu membuat Kak Nelly melarang kami singgah di tempat bersejarah itu, khawatir terhadap nasib Uci dan gw. Gw sendiri nggak percaya sama mitos itu, karena yang namanya jodoh itu kan udah ada ketentuannya sejak di Lauhul Mahfuz, dan karenanya kecewa dengan gagalnya rencana menyambangi Istana Maimun. Tapi Nyonya Besar menyarankan lebih baik ikuti saja apa kata tuan rumah, maka gw pun turun dari mobil hanya untuk mengambil gambar istana cantik itu dari luar gerbangnya.

SAMSUNG CSC

Konon, karena belum menikah, gw dan Uci tidak diperbolehkan memasuki area Istana ini. Padahal penasaran banget dalamnya kayak apa *sekaligus gatel pengen pake baju-baju ala putri-putri Kesultanan Melayu*

Masjid Raya Medan

Tidak jauh dari Istana Maimun, berdiri satu bangunan bersejarah lainnya. Masjid Raya Al-Mashun, atau mungkin lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Medan, pada awalnya menjadi satu dengan komplek Istana Maimun. Masjid ini dibangun dengan bentuk simetris segi delapan dengan perpaduan gaya beragam budaya; Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah. Beberapa material untuk keindahan interior didatangkan dari negeri asing. Marmer didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri dari Cina, dan lampu gantung dari Prancis.

Begitu memasuki gerbang masjid, pengunjung akan langsung disambut oleh deretan peminta-minta dan seorang bapak yang duduk di belakang meja menjaga buku tamu. Melihat Uci, Kak Nelly, dan si tante yang tidak berjilbab, sekonyong-konyong bapak tadi langsung menyembur galak. Omelannya semakin panjang ketika kami tidak memberikan donasi. Hmm… gw agak menyesalkan kejadian ini. Sebenarnya maksudnya mungkin bagus, mengingatkan pengunjung untuk menutup aurat dengan baik, tapi sepertinya ada lack of communication skills yang perlu diperbaiki.

SAMSUNG CSCSAMSUNG CSC

Tjong A Fie Mansion

Ini dia highlight jalan-jalan hari ke-3! Seusai menemani gw menyantap mie balap *sebagai pengguna extra bed, gw merelakan jatah sarapan gw untuk para nyonya*, kami langsung menyambangi Tjong A Fie Mansion di kawasan kota tua Medan. Suasana jalan di depan bangunan ini cukup hiruk pikuk, selain jalan yang tidak terlalu lebar, kadang ada saja bus besar membawa rombongan wisatawan, yang kebanyakan wisatawan mancanegara.

SAMSUNG CSC

Gerbang Tjong A Fie Mansion dari depan

SAMSUNG CSC

Tjong A Fie Mansion, tampak serong depan

SAMSUNG CSC

Prasasti di sebelah kanan gerbang masuk

Tjong A Fie, seorang usahawan sukses yang legendaris dari Medan, lahir di Guangdong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam pada tahun 1860. Dengan maksud mengubah nasib, dia merantau ke Medan dalam usia belasan tahun. Di tanah Sumatera dia mulai membangun bisnis di beberapa bidang, yang menonjol adalah perkebunan dan bank; Tjong A Fie memiliki 3 buah bank, yaitu Batavia Bank, Deli Bank, dan Bank Kesawan yang kini diambil alih oleh QNB dan berganti nama menjadi Bank QNB Indonesia. Tapi mengenai Bank Kesawan ini, informasi lain yang gw baca justru mengatakan bahwa Bank Kesawan didirikan oleh Khoe Tjin Tek dan Owh Chooi Eng melalui NV Chunghwa Shangyeh dengan nama Bank Chunghwa Shangyeh, dan berganti nama menjadi Bank Kesawan pada tahun 1965.

Salah satu bukti bahwa Tjong A Fie adalah seorang pebisnis sukses pada masanya adalah dia bahkan memiliki lebih dari 10.000 karyawan. Suatu jumlah yang besar bahkan untuk ukuran saat ini… hmm.. apalagi apada zaman itu ya? Nggak heran sebagai salah satu bukti kesuksesannya (sekaligus mungkin sebagai tanda cintanya) dia membangun Mansion yang diperuntukkan bagi istri ketiganya yang berasal dari Binjai. Mansion dua lantai ini dibangun di atas lahan seluas 6000 m2 di daerah Kesawan, mulai tahun 1895 dan rampung tahun 1900.

Dalam rumahnya yang bagaikan istana kecil itu, Tjong A Fie menerima tamu-tamunya yang berasal dari berbagai kalangan. Dia bahkan memiliki beberapa ruangan untuk para tamunya; ada ruangan khusus untuk menerima tamu dari golongan Tionghoa yang terletak di sisi kanan, sementara ruangan untuk menerima Sultan Deli yang memang terkenal dekat dengan Tjong A Fie terletak di sisi kiri. Ada juga ruangan untuk menerima tamu dari kalangan Belanda, dan kalangan lainnya. Furniture dan tata ruang disesuaikan dengan peruntukan ruangan. Ruang untuk Sultan Deli ditata dengan gaya Melayu dan Timur Tengah, sementara ruang untuk tamu-tamu Tionghoa didominasi warna merah.

SAMSUNG CSC

Ketuk pintu dulu sebelum masuk

SAMSUNG CSC

Pertama kali masuk rumah, disambut foto ini di sisi kiri. Foto saat perayaan ulang tahun Tjong A Fie ke 60

SAMSUNG CSC

Ruang tamu khusus untuk Sultan Deli

SAMSUNG CSC

Ruang untuk menerima tamu selain Sultan Deli dan kaum Tionghoa

SAMSUNG CSC

Ruang Piano yang terletak di sisi kanan pintu masuk

SAMSUNG CSC

Assalamu’alaikum!

SAMSUNG CSC

Lampu gantung di lobby rumah

Kamar tidur Tjong A Fie dan keluarganya pun sangat luas dan terhitung lengkap layaknya kamar hotel, sampe ada mini bar-nya berikut bermacam ragam wine. Satu-satunya yang tidak ada di dalam kamar adalah kamar mandi. Kamar mandi terletak di bagian belakang rumah, berdekatan dengan dapur. Gw tergelitik bertanya soal urusan buang hajat ini. Menurut Desi, pada zaman itu, para penghuni rumah melakukan buang hajat di kamar, kemudian keesokan paginya, tugas para pembantu lah membawa pispot atau semacamnya ke kamar mandi dan membersihkannya. Jadi… silakan disimpulkan sendiri *lap keringet*

Oke, kembali ke kamar dan ruangan-ruangan lainnya, yang membuat gw berdecak kagum adalah, Tjong A Fie tampaknya tidak main-main dalam membangun dan memperindah rumahnya itu. Furniture-furniture didatangkan langsung dari negeri asing; tempat tidur dan lemari Tjong A Fie, misalnya, diimpor dari Yunani. Lampu gantung-lampu gantung yang menghiasi ballroom di lantai dua, didatangkan langsung dari Austria. Lukisan-lukisan yang menghiasi langit-langit rumah dilukis langsung oleh seniman Italia. Tegel kunci yang cantik dijadikan lantai rumah. Pokoknya usahanya maksimal banget, dan menurut gw sih, dia sukses membuat rumahnya tampil kece dan mentereng, bahkan hingga saat ini, lebih dari 100 tahun sejak pertama ditempati. Gw suka sekali melihat buku-buku bacaan Tjong A Fie, sudah menguning dan penuh dengan aksara Cina, belum lagi pakaian Tjong A Fie dan Nyonya yang dipajang, juga koper besar kuno yang sangat kokoh dan pastinya… berat!

Dan yang paling gw suka adalah peralatan makan dari porselen ala Cina Peranakan; cantik-cantik banget! Gw mencoba membayangkan betapa besar usahanya mendatangkan perabot dan perkakas rumahnya dari luar negeri; bayangkan barang-barang besar dan berat yang dibuat dari material pilihan dikirim lewat laut.

SAMSUNG CSC

Kamar tidur utama: peraduan Tjong A Fie dan Nyonya

SAMSUNG CSC

Pakaian Tjong A Fie dan Nyonya, beserta koper yang ia bawa saat merantau dari tanah Tiongkok ke Medan

SAMSUNG CSC

Buku-buku Tjong A Fie semasa hidup

SAMSUNG CSC

Tegel kunci di ruang altar *altar gw blur hitam karena nggak boleh di foto*

SAMSUNG CSC

Hand made-painting di langit-langit ruang altar

SAMSUNG CSC

Another hand made-painting

SAMSUNG CSC

Salah satu papan sekat ruangan

SAMSUNG CSC

Ruang makan dan ruang bersantai. Rantang makanan di zaman itu pun luar biasa beratnya

SAMSUNG CSC

Meja makan di ruang belakang

SAMSUNG CSC

Always love the pink-tosca combination!

SAMSUNG CSC

Tangga menuju lantai 2

SAMSUNG CSC

Ballroom di lantai 2 yang digunakan untuk penyelenggaraan pesta kala itu

SAMSUNG CSC

Lantai 2

SAMSUNG CSC

Gerbang Tjong A Fie Mansion dilihat dari lantai 2; terbayang nggak seperti megahnya di awal abad ke-20 dan bagaimana keadaan sekitarnya saat itu?

SAMSUNG CSC

Kamar tidur salah satu anak Tjong A Fie

SAMSUNG CSC

Salah satu lampu gantung yang menghias langit-langit rumah

Kesuksesan Tjong A Fie membuatnya menjadi salah satu orang terkaya se-Asia Tenggara pada jamannya; tapi tidak hanya kaya, Tjong A Fie terkenal dengan sifatnya yang dermawan, sampai-sampai ia mendapat gelar dari Ratu Belanda, yang untuk bisa menerima gelar khusus tersebut, seseorang haruslah sudah terbukti pengabdian dirinya bagi masyarakat.

Tjong A Fie di angkat menjadi Kapitan Cina pada tahun 1911 menggantikan kakaknya; Kapitan Cina adalah wakil tertinggi golongan Tionghoa. Ia wafat pada tahun 1921, saat pemakamannya ribuan orang ikut mengantar, tak sedikit dari para pelayat itu yang datang dari Singapura dan Malaysia.

SAMSUNG CSC

Potret iring-iringan jenazah saat pemakaman Tjong A Fie

SAMSUNG CSC

Wasiat Tjong A Fie ditulis dalam Bahasa Belanda

SAMSUNG CSC

Silsilah

Tjong A Fie mungkin bisa dibilang sebagai simbol sukses imigran Tionghoa yang memegang teguh nilai-nilai leluhur dan keluhuran, sambil tak lupa berbaur, saling menghargai dan membantu dengan masyarakat lokal tempatnya hidup.

Itu sekelumit cerita tentang Tjong A Fie yang gw dengar dari Desi, tour guide yang menceritakan kisah hidup sosok dermawan asal Medan sambil berkeliling Mansion megah yang dipenuhi barang-barang antik nan mewah, masih asli dari jamannya.

Bagi para pecinta sejarah rasanya kunjungan ke Tjong A Fie Mansion adalah suatu hal yang tidak boleh dilewatkan. Bangunan yang masih terjaga dengan cukup baik dan tata ruang yang masih apik, juga penjelasan dari tour guide bisa dibilang sepadan dengan harga tiket yang kita bayar, apalagi kita bebas foto-foto di ruangan-ruangan yang kita singgahi, kecuali area altar di lantai 1 dan lantai 2. Gw senang sekali akhirnya salah satu tempat dalam bucket list kunjungan ke Medan ini bisa dicoret dengan sempurna. Satu-satunya hal yang gw masih belum cukup puas adalah gw belum puas foto-foto! Apa daya pergi berombongan dengan para tetua, anak bawang mah apa atuh, harus nurut ketika beliau-beliau memanggil meminta menyudahi kunjungan, karena mereka sudah mati gaya menunggu gw dan Uci.

So that’s the highlight for the third day. The rest of the day was spending here and there, termasuk ketemu saudara-saudara dan berburu oleh-oleh.

Pengeluaran di luar makanan & minuman:

  • Tjong A Fie Mansion’s entrance fee IDR 35.000

 

[Parapat – Medan] Toba Lake & Samosir Island

Mengunjungi Medan sudah lama ada dalam bucket list gw. Sempat merencanakan traveling ke sana bersama seorang rekan kerja, udah sampe hunting tiket dan hotel segala, walaupun judulnya gw cuma nemenin dia mengunjungi teman SMA-nya. Nggak tau apa sebabnya rencana itu tinggallah rencana, menguap begitu saja. Terus terang semakin ke sini mood gw untuk solo traveling menguap sedikit demi sedikit. Maunya sih jalan sama Vika, Dani, Nina, dan Didito, tapi percayalah bikin rencana traveling sama mereka itu sama susahnya sama cari jodoh *eh*

Belum lagi masalah klasik pariwisata di negeri ini: minimnya informasi tempat wisata, sulitnya transportasi, dan… ah nggak jadi deh, nanti gw di bully pula. Hahaha… Jadilah mimpi ke Medan ini terlupakan cukup lama.

Sampai suatu ketika, Nyonya Besar ngobrol-ngobrol dengan salah seorang kakak beliau, dan ternyata mereka sepakat untuk ke Medan. Omong punya omong, sepupu gw pun akhirnya memesankan tiket untuk 3 orang: Nyonya Besar, si Tante, dan gw. Jadi, pada dasarnya gw berfungsi sebagai pengawal mereka. Menemani Nyonya Besar mengenal Medan sementara si Tante nostalgia karena saat tinggal di Aceh sering bolak-balik ke Medan.

Selain tiket, hotel pun diurus sang sepupu. Jadi bisa dibilang untuk trip kali ini, gw agak lepas tangan. But being me, I am kinda control freak person, apalagi kalo soal traveling. Itinerary yang kece adalah suatu keharusan buat gw, sayang rasanya kalau waktu terbuang sia-sia. Yeah… gw memang bukan tipe orang yang spontan dalam soal traveling. Tapi sekali lagi, setelah hotel dan tiket, sang sepupu pun dengan percaya diri meyakinkan bahwa itinerary juga sudah dirancang dan dibicarakan dengan sepupunya yang tinggal di Medan. Gw benar-benar tinggal duduk manis dan terima beres menikmati perjalanan. But still, being me, diam-diam gw tetap melanjutkan pencarian informasi, aneh rasanya bila tidak mengetahui apapun tentang tempat tujuan.

Day 1: Sabtu, 10 Oktober 2015

Pukul 3 dini hari, dengan diantar Bayi Gorila dan Mr. Babeh, gw dan Nyonya Besar meluncur ke salah satu titik penjemputan Hiba Bandara di bibir tol Cijago. Sampai di sana ternyata bus baru saja berangkat, jadi deh kami menunggu bus berikutnya. Pukul 3:35 kami berangkat, dan 1 jam kemudian kami sudah mengantri di Terminal 1C Bandara Soekarno Hatta mengikuti prosesi keberangkatan. Check in, x-ray scan, boarding di Gate C4, dan shalat subuh. Pukul 5:45 kami memasuki pesawat. Kali ini gw gagal mendapatkan kursi di sebelah jendela karena sudah diakuisisi si Tante. Jadi mungkin ini pertama kalinya gw nggak mengambil gambar langit sebagaimana biasanya gw lakukan. Sekitar pukul 6, Citilink QG 830 lepas landas sempurna.

Menjelang pukul 8:30, pesawat mendarat dengan sangat mulus, benturan roda pesawat dengan landasan hampir-hampir tak terasa. Finally, Medan!

SAMSUNG CSC

Kualanamu International Airport yang dikelola oleh Angkasa Pura II berhasil membuat gw cukup terkesan. Ini baru bolehlah menyandang predikat bandara internasional. Modern, simple, sleek.

SAMSUNG CSC

Baggage-Drop Island

SAMSUNG CSC

Towards Boarding Room

SAMSUNG CSC

Boarding Room @Kualanamu International Airport. Masih bersih dan rapih, semoga bisa terus terpelihara ya!

SAMSUNG CSC

View from within

Kami dijemput oleh sepupunya sepupu gw dan anaknya, sebut saja mereka Kak Nelly dan Uci. Merekalah yang mengurus masalah sewa mobil beserta supirnya untuk mengantar kami melihat-lihat Medan dan tempat lainnya di Sumatera Utara. Hari pertama ini ternyata kami akan langsung dibawa ke Parapat untuk melihat Danau Toba. Mengingat perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, tak lama keluar dari bandara kami memutuskan untuk menepi dan menikmati sarapan di satu warung pinggir jalan, Warung Alam Ndeso namanya. Lontong Sayur ala Medan, tanpa kerupuk, menjadi menu yang kami santap.

***

Untuk sampai ke Parapat, menghindari macet di satu titik di Deli Serdang, Bang Indra sang supir memilih jalan pintas melalui Galang di daerah Tebing. Pada suatu masa, Galang pernah kesohor sebagai tempat penampungan pengungsi dari Vietnam yang dikenal sebagai manusia perahu.

Sesampainya di daerah Pematang Siantar, kami mampir sebentar di pasar kaget Tebing untuk membeli lemang pulut yang direkomendasikan Uci. Setelahnya kami mampir di toko roti Ganda di jalan Sutomo. Roti Ganda adalah salah satu buah tangan paling terkenal dari Pematang Siantar. Selesai membungkus beberapa potong roti, kami makan siang di rumah makan Miramar, masih di jalan Sutomo. Cari makan di sini susah-susah gampang. Jadi kalau ada tempat makan berlogo halal, tanpa pikir panjang kami langsung masuk.

Pandangan mata selama perjalanan ke Parapat akan dihiasi oleh hamparan persawahan, atau kebun sawit di kanan kiri jalan, kebun karet, atau paduan keduanya. Ada hal yang cukup unik yang sering kami jumpai. Di pekarangan rumah warga atau di sawah dan kebun mereka, sering kali terdapat juga makam-makam. Menurut Uci, jika seseorang ingin membeli tanah, maka tanah yang dibeli mencakup pula makam-makam yang telah ada tersebut, dengan kata lain tidak dibolehkan memindahkan makam. Hmm.. dasar orang bank, seketika gw menghitung untung rugi beserta resiko hukumnya dan berpikir sepertinya sulit untuk menerima tanah-tanah seperti itu sebagai agunan kredit.

SAMSUNG CSC

Salah satu sudut Pematang Siantar

SAMSUNG CSC

Mampir sebentar beli lemang pulut asli Tebing Tinggi

***

Setelah kurang lebih 5 ½ jam perjalanan, kami sampai di Parapat. Pukul 14:30 kami check in di Inna Hotel Parapat. Sepupu gw memesan 2 kamar tipe Superior, 1 kamar untuk gw dan Nyonya Besar, dan 1 kamar lainnya untuk si Tante, Kak Nelly, dan Uci.

Hujan turun tak lama setelah kami sampai. Kami pun memilih untuk mengistirahatkan badan sambil menikmati Danau Toba dari balkon kamar. Sungguh sayang langit yang kelabu mengurangi kecantikan Danau Toba yang saat itu juga tertutup asap tipis imbas bencana asap karena kebakaran hutan yang melingkupi Riau, Jambi, Palembang, dan sebagian pulau Kalimantan.

Hari pertama pun ditutup dengan menikmati makan malam di salah satu rumah makan bernama Islam Murni.

SAMSUNG CSC

First view of Toba Lake from our balcony: cloudy, misty, a little bit cool

SAMSUNG CSC

the boat for tomorrow’s cruise

SAMSUNG CSC

in our way finding some halal meals for dinner

SAMSUNG CSC

Salah satu wajah Parapat di malam hari: mereka memang hidup dari pariwisata Danau Toba

Day 2: Minggu, 11 Oktober 2015

Setelah check out dan sarapan dengan menu dan rasa makanan yang seadanya, kami menuju Pelabuhan Tiga Raja untuk meyeberang ke Pulau Samosir dengan perahu motor. Mobil diparkir di dekat Pelabuhan yang berjarak hanya sekitar 300 meter dari Inna Parapat Hotel. Dipinggir pelabuhan banyak dibangun pondokan semacam bale-bale yang digunakan para pengunjung untuk beristirahat selepas bermain air di Danau Toba atau semata hanya untuk menikmati keindahannya. Di pelabuhan ini, selain tersedia kapal motor yang akan membawa orang yang ingin ke Pulau Samosir, ada juga jetski, atau kapal bebek-bebekan yang harus kita kayuh sendiri, dan sebagian lain memilih untuk berenang-renang tidak jauh dari tepian.

Untuk menumpang kapal motor ke Pulau Samosir, tiap orangnya dikenakan biaya sebesar Rp.25.000. Gw kaget dengan besarnya harga tiket ini, karena dalam satu artikel yang gw baca 3 tahun lalu, harga tiket menumpang kapal motor adalah Rp.7000/orang. Kalaupun harganya naik, kenaikannya luar biasa sekali, jauh di atas angka inflasi. Si abang yang duduk-duduk di pinggir dermaga pun berdalih bahwa harga itu merupakan harga resmi, kita bayar di atas kapal dan akan diberikan tiket resmi sebagai tanda pembayaran. But, living in this country, gw hampir percaya bahwa itu omong kosong. Turns out praduga gw mungkin benar. Para penumpang ditarik bayaran diatas kapal, tapi tiket hanya diberikan SATU lembar untuk masing-masing rombongan. Tiketnya pun bisa lah kita buat sendiri dan difotocopy, nothing fancy. Silakan dikira-kira sendiri berapa banyak hasil tipu-tipunya. Perlu banyak yang dibina di Indonesia ini, memang. Dibinasakan.

SAMSUNG CSC

Pesisir Parapat

SAMSUNG CSC

Titip mobil dulu sebelum menyebrang ke Samosir

SAMSUNG CSC

Salah satu hiburan rakyat – jadi ingat masa kecil main bebek-bebekan di Taman Ria Senayan

SAMSUNG CSC

Sekitar “Pelabuhan Tiga Raja”, Parapat

SAMSUNG CSC

Kapal motor untuk menyeberang ke Pulau Samosir

SAMSUNG CSC

Dari kapal motor, penumpang bisa melihat satu rumah mewah bergaya neo klasik. Itu adalah rumah tempat Bung Karno diasingkan saat terjadi Agresi Militer II oleh Belanda. Selain Bung Karno, turut pula diasingkan di sini Bung Hatta, KH. Agus Salim, dan Sjahrir.

Kapal motor berangkat sekitar pukul 8:50 dan berjalan dengan kecepatan kura-kura malas-malasan. Sebagai akibatnya, hampir 90 menit kemudian kami baru berhasil merapat di Pelabuhan Wisata Siallagan di Pulau Samosir. Di tengah perjalanan, kapal motor kami bahkan sering disalip oleh elang putih yang memang banyak bertengger di pohon-pohon di tepi danau.

SAMSUNG CSC

Danau Toba #1

SAMSUNG CSC

Danau Toba #2

SAMSUNG CSC

Danau Toba #3

SAMSUNG CSC

Ditengah pelayaran, kami dimampirkan ke Batu Gantung yang menceritakan legenda asal muasal nama Parapat. Ada yang bisa menunjukkan yang mana Batu Gantungnya?

SAMSUNG CSC

Danau Toba #4

 ***

Sesampainya di Pelabuhan Wisata Siallagan, para wisatawan kembali harus membayar retribusi memasuki pulau sebesar Rp.2000/orang. Kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Samosir, dan setelah berjalan melewati tenda-tenda tempat para penduduk berjualan cinderamata, kami sampai di tempat pertama: makam tua Raja Siallagan Parhapuran beserta batu kursi persidangannya. Selain melihat makam, pengunjung juga bisa mengenakan selendang dan ikat kepala dari ulos dan berfoto dengan boneka Sigale-gale, sambil tak lupa memberi donasi seikhlasnya setelahnya.

Persinggahan dilanjutkan ke Desa Tomok, dimana terdapat delapan rumah yang bagian depannya masih berbentuk tradisional, sementara bagian belakangnya sudah modern lengkap dengan antenna parabola. Untuk memasuki Desa Tomok ini, kembali para wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp.2000/orang. Di Desa Tomok dapat kita jumpai Batu Kursi Parsidangan, Batu Kursi Eksekusi, patung dan boneka SIgale-gale, gereja, hingga toko souvenir.

Mendekati pukul 11:30 kami kembali ke kapal motor yang memang menunggu di dermaga. Perjalanan pulang ke Parapat ditempuh lebih singkat. Kapal berangkat mendekati pukul 12 siang, dan kami merapat pukul 12:45. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Medan dengan melewati Berastagi, marilah kita singgah di Warung Pak Pos untuk makan siang. Pukul 13:30 tepat barulah kami benar-benar meluncur meninggalkan Parapat.

SAMSUNG CSC

Merapat di Pulau Samosir

SAMSUNG CSC

Persinggahan pertama di Samosir: Boneka Si Gale-gale

SAMSUNG CSC

Batu Kursi Persidangan

SAMSUNG CSC

Huta Siallagan

SAMSUNG CSC

Rumah Adat Desa Tomok

SAMSUNG CSC

Salah satu batu kursi persidangan

SAMSUNG CSC

Pasar souvenir sepanjang perjalanan kembali ke kapal motor

***

Setelah dua jam kami pun meninggalkan Kabupaten Simalungun dan tiba di Kabupaten Tanah Karo. Mampir sejenak untuk menikmati keindahan Air Terjun Sipiso-piso di daerah Tongging. Untuk memasukinya wisatawan dikenakan biaya masuk Rp.4000/orang dan biaya parkir Rp.5000/mobil.

Untuk sampai ke area Air Terjun Sipiso-piso, kita harus melewati semacam pasar terlebih dulu. Ada pengalaman tak terlupakan buat gw dan rombongan. Saat baru saja memasuki pasar, kami mendengar satu suara melengking. Menoleh ke kanan, ternyata… lengkingan itu datang dari seekor babi yang sedang disembelih dengan cara ditusuk dari bagian belakangnya. Darahnya merembes membasahi tanah. Mengerikan.

Ketika kami selesai mengagumi Air Terjun Sipiso-piso sambil berkhayal suatu saat nanti akan ada cable car yang menghubungkan tempat melihat air terjun dengan air terjunnya itu sendiri, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Medan melewati pasar yang sama. Gw penasaran dengan babi yang tadi disembelih. Rupanya hewan malang itu sudah mati kaku, dan sedang dibersihkan bulu-bulunya menggunakan semacam alat las.

Yah… babi atau B2 dan anjing atau B1 memang salah dua hewan yang banyak dijadikan bahan makanan di daerah Simalungun, Tanah Karo, bahkan Medan. Adalah hal yang biasa menemukan jejeran kios-kios di pinggir jalan menjajakan babi panggang, yang terkenal berjuluk Babi Panggang Karo. Bukan hanya menjajakan dalam bentuk masakan matang, daging mentahnya pun dipajang tanpa malu-malu di kios-kios itu.

SAMSUNG CSC

Hujan rintik-rintik, kabut, asap, dan air terjun

SAMSUNG CSC

Air Terjun Sipiso-piso di daerah Tongging

Masih di Kabupaten Tanah Karo, kami memasuki Berastagi sekitar pukul 17:00. Atas permintaan gw, kami singgah ke Taman Alam Lumbini untuk melihat pagoda tertinggi di Indonesia yang dibuat sebagai replika Pagoda Shwedagon yang aslinya terletak di Myanmar. Sayangnya, karena sudah terlampau sore sampai di Taman Alam Lumbini, pagoda tersebut sudah tutup sehingga gw hanya bisa mengambil satu-dua gambar dari balik pintu gerbangnya.

 

Saat menuju Taman Alam Lumbini, gw terkejut juga karena di sisi jalan raya masih ada tenda-tenda pengungsi Sinabung. Selain itu, yang juga mengejutkan adalah jalan menuju Taman Alam Lumbini yang masih tanah dan bebatuan… hujan yang baru selesai mengguyur sore itu membuat perjalanan serasa wisata off road. Seandainya jalan itu mulus, tentu memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung, dan bukan tidak mungkin akan menarik semakin banyak pengunjung.

Kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Medan. Rute yang dilalui benar-benar membutuhkan keterampilan mengemudi tingkat tinggi. Jalan yang tidak terlalu lebar dan tanpa penerangan, berkelok-kelok dengan tikungan-tikungan yang ‘patah’, ditambah truk atau angkutan umum yang mengemudi semaunya.

Pukul 20:00 kami akhirnya memasuki kota Medan. Sebelum mengistirahatkan diri di hotel, kami sempatkan mencicipi sate dan mie rebus Medan yang diidam-idamkan si Tante yang ingin bernostalgia. Alhamdulillah, it’s yummy and it’s a wrap!

SAMSUNG CSC

Kutunggu ko blek Medan! *sambil makan wajik dan nyeruput bandrek*

Pengeluaran di luar makanan & minuman:

  • Tiket pesawat pp IDR 1.908.500/orang
  • HIBA Bandara IDR 60.000/orang
  • Retribusi masuk kawasan wisata Parapat IDR 20.000
  • Tiket kapal motor menyeberang ke Pulau Samosir IDR 25.000/orang
  • Retribusi masuk pulau IDR 2.000/orang
  • Retribusi masuk situs Batu Kursi Siallagan IDR 2.000/orang
  • Retribusi parkir IDR 20.000/mobil
  • Retribusi masuk kawasan wisata Air Terjun Sipiso-piso IDR 4.000/orang
  • Retribusi parkir IDR 5.000/mobil
  • Sewa mobil IDR 250.000/hari, fuel excluded
  • Jasa supir IDR 150.000/hari untuk luar kota Medan
  • Jasa supir IDR 100.000/hari untuk dalam kota
  • Inna Hotel Parapat IDR 402.425/malam
  • The Tiara Hotel IDR 528.400/malam
  • The Tiara Hotel IDR 200.000/malam untuk extra bed

 

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Before Coming Home

“Hari 3: tanggal 26 Desember adalah hari terakhir sekaligus hari kepulangan ke Indonesia, jadi waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Then the route would be St. Paul’s HillA FamosaMenara Taming SariBaba Nyonya Heritage HouseKampung Morten”

Sabtu, 26 Desember 2015

Sebagian tempat yang ada dalam daftar kunjungan hari ketiga kami tukar menjadi di hari kedua, dan sebagai gantinya di hari ketiga inilah tempat-tempat yang belum dijamah harus dituntaskan. Dengan pemikiran bahwa kawasan Dutch Square mungkin masih lengang di pagi hari, kami sepakat untuk meninggalkan hostel pukul 8 pagi.

08:30     :

Kenyataannya, kami baru melangkah keluar hostel pukul 08:30, seperti biasa karena gw menggelar acara mandi paling lama *sungkem sama Vika dan Dani*

Tujuan hari ini adalah Dutch Square, A Famosa, dan Baba Nyonya Heritage House. Kampung Morten, yang ternyata cukup jauh dan tidak bisa dikunjungi dalam waktu singkat, sudah dicoret dari itinerary. Sayang sekali, padahal Kampung Morten adalah satu-satunya perkampungan tempat tinggal suku Melayu yang masih mempertahankan adat budaya mereka, terutama bentuk rumah tinggal yang masih berupa rumah panggung.

Dengan harapan kawasan Dutch Square belum padat pengunjung, kami memulai pelancongan hari itu. Tapi ternyata, pukul 08:30 pun komplek bangunan merah bata itu sudah ramai dengan wisatawan dan, tentu saja, becak hias. Harap maklum, Dutch Square mungkin memang tempat wisata paling terkenal di Melaka. Kompleks bersejarah yang dibangun dalam kurun waktu tahun 1660 hingga 1700 inilah yang menjadi magnet wisatawan datang berduyun-duyun setiap harinya tanpa kenal waktu.

Di Dutch Square ini berdiri beberapa landmark Melaka; yang paling terkenal tentu saja Stadthuys, Christ Church, Queen Victoria’s Fountain, dan Menara Jam Tan Beng Swee didepannya.

Stadthuys, dibangun antara tahun 1641 dan 1660, pada awalnya merupakan rumah dinas gubernur jenderal Belanda, dan pada masa penjajahan Inggris dialihfungsikan menjadi alun-alun kota. Sejak tahun 1980, Stadthuys kembali dialihfungsikan menjadi tempat berdirinya berbagai macam museum, seperti Islamic Museum, Architecture Museum, History & Ethnography Museum, dan People’s Museum.

Christ Church, dibangun tahun 1753 untuk memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Melaka, sekaligus menggantikan reruntuhan gereja Portugis saat itu, karena saat pertama kali mendarat di Melaka, Belanda tidak punya tempat untuk beribadah kecuali gereja St. Paul. Pembangunan Christ Church, yang bata merahnya didatangkan langsung dari Belanda, juga menandakan pembangunan gereja Protestan pertama di Malaysia.

Tan Beng Swee Clocktower dibangun tahun 1886 oleh Tan Jiak Kim, putra dari Tan Beng Swee, untuk mengenang sang ayah yang seorang usahawan sukses nan dermawan. Somehow mengingatkan gw pada kisah Tjong A Fie, saudagar asal Medan yang hidup di awal abad ke-20.

dutch square 2

Cita-cita mengunjungi dan hunting foto di Dutch Square pada pagi hari akhirnya terwujud – tapi pukul setengah 9 lewat sedikit pun sudah banyak pengunjung, mungkin perlu datang lebih awal lagi kalau ingin mendapatkan gambar yang tourist-free

dutch square 3

Christ Church di kejauhan – dan Melaka walaupun masih pagi tapi sudah panas menyengat

SAMSUNG CSC

Dutch Square dari sudut pandang lain

queen victorias fountain

Menara Jam Tan Beng Swee & Queen Victoria’s Fountain

christ church 2

Christ Church #1

christ church

Christ Church #2

red wall 2

Red!

red wall 4

Red wall along the way

SAMSUNG CSC

Papan nama jalan

SAMSUNG CSC

Old white window & red door

red wall 3

The stairs & red-white combination

SAMSUNG CSC

Yang berjaga di sekitar Dutch Square

with vika

and still… pose!

09:20     :

Meninggalkan Dutch Square tanpa menginjakkan kaki ke dalam bangunan-bangunannya, kami sampai di A Famosa, benteng pertahanan yang dibangun oleh Alfonso Albuquerque dengan mengerahkan 1500 orang budak, walaupun yang tersisa sekarang hanyalah puing-puing salah satu gerbangnya; Porta de Santiago.

Pada awalnya, A Famosa meliputi pula rumah sakit dan lima bangunan gereja, lengkap dengan benteng yang memagari kota dan empat menara penjaga. Saat ini, pengunjung dapat melihat beberapa meriam di depan reruntuhan Porta de Santiago.

a famosa

Forta de Santiago – sebagian kecil dari sisa-sisa A Famosa

meriam a famosa

[bukan] meriam si jagur

10:30     :

Pembicaraan malam sebelumnya dengan Ms. Lian sang resepsionis hostel tentang kepulangan kami menunjukkan bahwa Mahkota Medical Centre, pick up point bus yang akan membawa kami ke KLIA, terletak di belakang Mahkota Mall, dan dia menyarankan kami untuk datang langsung ke sana untuk bertanya lebih jelas tentang tiket dan jadwal keberangkatan bus.

Dari beberapa blog yang gw baca, bus yang menuju KLIA berangkat dari Mahkota Medical Centre dan Melaka Sentral. Begitu mendengar bahwa Mahkota Medical Centre ternyata masih dalam walking distance yang masuk akal, kami memutuskan untuk naik bus dari Mahkota Medical Centre saja.

Dari A Famosa, kami langsung ke Mahkota Medical Centre. Untuk sampai ke tempat pemesanan tiket bus, masuk saja lewat pintu di sebelah Seven Eleven. Ternyata hanya ada dua bus yang buka konter di rumah sakit ini: Transnasional dan StarMart Express. Sayangnya tidak ada yang menjaga loket Transnasional. Melihat perbedaan harga yang sangat tipis dan mengingat bus StarMart yang kami tumpangi sebelumnya cukup nyaman sementara kami belum tau seperti apa rupa bus Transnasional, kami putuskan untuk membeli tiket StarMart seharga RM 25 per orang.

Sebenernya gw agak gatel pengen tanya kenapa harganya berbeda dengan rute dari KLIA ke Melaka Sentral, tapi gw urungkan.

Penerbangan kami pukul 22:00, maka kami berniat memesan bus untuk keberangkatan pukul 16:00. Dengan estimasi perjalanan memakan waktu 3 jam, masih cukup waktu untuk menyelesaikan proses keberangkatan dan sejenak bersantai di KLIA. Tapi mbak penjaga konter menyarankan kami untuk mengambil bus keberangkatan pukul 13:00, karena saat long weekend seperti ini lalu lintas dan keadaan jalan tidak dapat ditebak, katanya, dikhawatirkan terjadi kemacetan yang berujung ketinggalan pesawat jika kami mengambil bus pukul 16:00. Dia bahkan tidak menyarankan bus pukul 14:00 dengan alasan yang sama. Dengan semboyan locals know best, kami pun patuh kata-katanya. Dan itu berarti mencoret BABA NYONYA HERITAGE HOUSE dari itinerary siang itu, karena rumah khas peranakan itu tutup pukul 11:30 dan kembali buka pukul 14:00.

SAMSUNG CSC

Dan setelah melewati Dutch Square, A Famosa, Dataran Pahlawan Mega Mall, terlihatlah Mahkota Medical Centre – pick up point bus rute Melaka – KLIA

mahkota medical center 2

Lihat tangga kecil itu? Itu pintu masuk menuju konter penjualan tiket bus, letak pintunya persis di sebelah Seven Eleven

jadwal bus 2

Jadwal Bus Transnasional – tapi konter mereka selalu kosong tanpa ada yang melayani

jadwal bus

Jadwal bus Starmart Express – konter bus ini adalah satu-satunya yang ada penjaganya di antara 3 konter yang ada di Mahkota Medical Centre (konter Starmart Express, konter Transnasional, konter Malindo Air)

tiket

The ticket!

Selesai dengan urusan tiket, kami masih berusaha melipir sebentar untuk foto-foto dengan sisa waktu yang ada. Di gabung dengan hasil hunting sekeluarnya dari hostel sebelum ke Dutch Square, inilah sedikit dari apa yang kami lihat sepanjang kaki melangkah:

melaka river 1

Sungai Melaka di pagi hari

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka di pagi hari, di ambil dari jalan kecil di belakang hostel

SAMSUNG CSC

masih Sungai Melaka

SAMSUNG CSC

Sidani – ketika bedak masih menempel sempurna

melaka river 6

sisi lain Sungai Melaka

melaka river 4

Casa del Rio – konon hotel paling mahal seantero Melaka

SAMSUNG CSC

Kincir air Kesultanan Melayu Melaka

SAMSUNG CSC

Heeren House di seberang – salah satu historical place di Melaka

SAMSUNG CSC

Lorong Hang Jebat

dutch square 4

Ducth Square menjelang tengah hari

melaka river 3

Kembali lagi menyusuri jalan kecil di belakang hostel

ala haji lane

satu lorong ala Singapore Haji Lane’s mural

11:30     :

Sesampainya di hostel, kami langsung meminta tolong pada resepsionis untuk memesankan satu taksi. Walaupun jarak ke Mahkota Medical Centre bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi mengingat bawaan kami yang cukup berat, rasanya naik taksi merupakan pilihan bijak, apalagi di siang hari bolong seperti itu. Jadilah resepsionis memesankan taksi untuk kami, sekaligus menetapkan harga, RM 20 untuk sampai ke Mahkota Medical Centre. Gw menegaskan sekali lagi bahwa tujuan kami adalah Mahkota Medical Centre dan bukannya Melaka Sentral.

Mepet dengan pukul 12, kami check out dan segera berhamburan ke dalam taksi. Kali ini seorang paman bermata sipit yang mengemudi, orangnya cukup ramah dan ramai bercerita ini itu. Setelah cukup lama berjalan, gw dalam hati merasa sangsi, kenapa belum sampai juga? Bukankah untuk sampai di Mahkota Medical Centre itu seharusnya tidak perlu berjalan sejauh ini? Belum gw lontarkan keheranan gw, Vika yang duduk di kursi belakang bertanya meyakinkan, “kita ke Mahkota kan, Ke?”

Pertanyaan yang sama langsung gw lempar pada paman supir. Dan dia terkejut. Sempat mengomel sedikit karena kami tidak menyebutkan tempat tujuan, tapi gw membela diri bahwa gw sudah menjelaskan tempat tujuan berkali-kali pada resepsionis yang memesan taksi. Paman supir pun menelpon si resepsionis, dari nada bicaranya gw menangkap bahwa kesalahan memang terletak pada resepsionis. Paman supir akhirnya mencoba mencairkan suasana dan menenangkan kami bahwa masih cukup waktu untuk mengejar bus kami.

Pukul setengah satu lebih beberapa menit, kami sampai di Mahkota Medical Centre. Kami sepakat untuk menambah RM 5 karena si paman bersedia mengantar kami tanpa bersungut-sungut, jadilah ongkos taksi itu RM 25 keseluruhan. Paman taksi tampak terkejut menerima kelebihan RM 5, tapi dia tertawa-tawa juga.

Sekitar 20 menit waktu yang kami punya kami gunakan untuk makan siang di kafetaria rumah sakit itu, tak lupa membeli cemilan bekal di perjalanan. Gw ingin ke toilet tapi jarum jam sudah menunjukkan pukul 13. Kami bergegas ke tempat menunggu bus di halte depan rumah sakit.

13:30     :

Sudah 30 menit lewat dari waktu yang dijanjikan, tapi bakal bus kami belum juga menunjukkan spionnya. Gw dan Vika kadang saling meyakinkan bahwa kami belum ditinggal bus, dan Vika juga sama seperti gw: ingin ke kamar kecil. Kami ragu-ragu untuk mengasingkan diri ke tandas karena khawatir bus akan datang tiba-tiba. Bus jarak jauh ini bukan tipe setia menunggu penumpang, sepertinya.

Dalam keresahan menunggu bus yang tak kunjung muncul, sekonyong-konyong muncul mbak penjaga konter tiket bus dan meminta kami untuk menunggu di dalam rumah sakit saja. Belum ada kepastian jam berapa bus akan tiba, katanya, karena kemacetan di mana-mana. Kembali ke kafetaria rumah sakit, gw langsung terbang ke toilet dan Vika menunaikan shalat. Tapi di kamar kecil pun gw tak tenang karena khawatir bus datang tiba-tiba.

halte bus

Halte bus di depan Mahkota Medical Centre – disinilah sebenarnya tempat kami menunggu bus Starmart Express

14:15     :

Akhirnya StarMart Express tiba juga, dan sesuai perkiraan kami, tak sampai satu menit bus berhenti, hanya untuk menaikkan penumpang yang terdiri dari kami bertiga dan seorang bapak berusia lanjut. Sesampainya di Melaka Sentral, bus juga hanya berhenti sebentar, dan menaikkan seorang penumpang lagi. Total hanya ada 5 orang penumpang dalam perjalanan Melaka – KLIA.

starmart express 2

inside the bus Starmart Express – seandainya bus antar kota di Indonesia senyaman ini

starmart express

inside the bus Starmart Express – still cozy

17:00     :

Setelah menurunkan 2 penumpang di KLIA 2, supir bus tampak heran melihat kami masih berada di bus. “No AirAsia? No AirAsia?” tanyanya. “No,” we replied. Dia tampak bingung dan sangsi. “Then what’s your flight?”

“Malaysia Airlines”

Dia tampak tak yakin. Mungkin tampang lusuh kami tidak cukup meyakinkannya kami mampu membeli tiket maskapai satu itu *which, with all due respect, I personally don’t want to experience it again*

Begitu menjejakkan kaki di KLIA, hal pertama yang kami lakukan adalah makan. Nooodles menjadi pilihan. Gw, yang masih bertahan ingin mencari Laneige, tidak ikut makan demi mempertahankan lembar-lembar terakhir ringgit, apalagi kami masih akan menghabiskan beberapa jam di bandara ini, yang berarti masih ada kemungkinan kami akan kembali mencari pengganjal perut hingga tiba saatnya lepas landas.

Usai makan, sambil menunggu dibukanya konter check in, gw dan Vika berjalan hilir mudik di sekitar island tempat check in. Gw heran melihat pesawat yang sudah mepet waktu terbang tapi konter check in-nya tak kunjung di buka, bahkan gate-nya sudah closed. Penasaran, gw akhirnya menemukan petunjuk bahwa calon penumpang harus melakukan self-check in.

Prosesi selanjutnya adalah drop baggage di island C, dan melenggang lah kami ke Perlepasan Antara Bangsa. Selesai urusan imigrasi, kami melipir sebentar ke mushala yang letaknya tersembunyi di belakang konter Bank Islam. Sementara Vika menunaikan shalat, gw berjalan hilir mudik mencari makanan pengganjal perut. Waktu masih menunjukkan pukul 20:30, masih panjang penantian kami hingga lepas landas pukul 22.

Saat Vika dan Dani bergabung dengan gw yang menyantap cemilan malam di depan gate H2, satu SMS masuk ke HP gw.

Penerbangan kami ditunda menjadi pukul 23:00.

SAMSUNG CSC

a little view of KLIA – when we got bored to death while waiting for the flight

22:20     :

Setelah kebosanan yang mendera cukup lama, kami memutuskan untuk masuk boarding room. Nothing more to do, bandara ini tidak terlalu mengasyikkan untuk di eksplorasi. Beberapa menit menjelang pukul 23:00, calon penumpang dipanggil masuk pesawat.

5 menit menjelang pergantian hari, kami mendarat di Jakarta. Mungkin karena penerbangan kami termasuk dalam penerbangan paling akhir, segala urusan imigrasi dan pengambilan bagasi selesai dalam waktu 30 menit. Pukul 00:30 taksi membawa kami membelah jalanan ibukota.

It’s finally home again, after quite a mess trip :mrgreen:

Alhamdulillah.

SAMSUNG CSC

and thanks to Sipikah whose pictures i use a lot in my posts

Pengeluaran:

.StarMart Express from Mahkota Medical Centre to KLIA RM 25
.Cemilan di Sevel RM 2,30
.Taksi from hostel ke Mahkota Medical Centre RM 25/3 persons
.Paratha Chicken & Hot Milo RM 10,40
.Taksi dari Soetta ke rumah masing-masing IDR 294.000 (includes surcharge zone IDR 7.500 & highway fee)

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 2

“Hari 2: tanggal 25 Desember harus dimulai dengan semangat membara. Lagi di negeri orang, it’s time to explore! So it should be bangun super pagi dan sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah – Dutch Square – the Stadhuyst – Christ Church – Queen Victoria’s Fountain – souvenir shopping at Hard Rock Café, San Shun Gong, Starbucks, dan Orang Utan House – menimba ilmu di Cheng Ho Cultural – makan lalu shalat di Masjid Kampung Kling – Cheng Hoon Teng Temple – menikmati matahari terbenam dengan menyusuri sungai Melaka lewat Melaka River Cruise – dan menghabiskan malam di Jonker Street Night Market”

peta malaka

Peta Melaka – Map of Historical Site and Tourism Spot in Malacca

Jumat, 25 Desember 2015
Katanya itinerary sih… di hari kedua ini kami harus “bangun super pagi” dan mengacu pada timeline yang gw buat, itu berarti kami harus bangun pukul 6 pagi untuk shalat subuh dan kegiatan lainnya. Sarapan? Wayfarer Guest House tidak menyediakan free breakfast, jadi kami harus mencari sarapan sendiri di kedai makan yang banyak bertebaran di sekitar hostel. Cocok banget sama cita-cita kami yang pengen wisata kuliner makanan local.
Tapiiiii… ketika alarm HP Vika berbunyi nyaring selama satu menit pada pukul 6, alih-alih ada yang bangun, Vika malah tetap terlelap sampai akhirnya si alarm capek sendiri. Gw memaksakan diri bangkit dari peraduan sekitar pukul 8, mencoba membangunkan Vika dan mendapat balasan, “suka-suka lo deh, Ke,” dari yang bersangkutan sambil masih berbalut selimut. Patah hatiku. Ini gimana mau eksplor Melaka? Jam 8 masih pada meringkuk semua. Duh… maklumlah kami memang semakin dewasa.
Dengan mata setengah terpejam, gw turun ke lantai 1 kamar kami. Mandi.

10:00 :
Jadi jam berapa kami mulai keluar hostel, wahai para pembaca?
Yes, jam 10. Mundur 2 jam dari itinerary. Ahey. Uhuhuhu. Ihiks. Sedap jeh.
Lalu apa kabar “sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah”? Kedai Kopi Chung Wah mungkin merupakan kedai paling terkenal di Melaka dalam dunia chicken rice ball. Apalagi letaknya sangat dekat dengan hostel kami, hanya 5 menit berjalan kaki. Konon kelezatan rasanya mampu membuat orang berduyun-duyun datang dan rela mengantri demi menikmati kepalan-kepalan nasi ayam nan gurih. Kami pun demikian. Tapi itu sebelum gw membaca review-review di internet yang mengindikasikan bahwa kehalalan chicken rice ball Kedai Kopi Chung Wah diragukan. Setelah menginformasikan hal itu kepada Vika dan Dani, kami pun putar haluan, melupakan si nasi ayam. Lagipula ini sudah lewat dari waktu sarapan. Ini bukan lagi lunch, tapi sudah jadi brunch.

Saat celingak-celinguk mencari tempat makan yang di rasa aman, mata kami tertumbuk pada satu kedai penuh barang antik yang menawarkan nasi lemak, kaya toast, dan laksa. Namanya SAYYID ANTIQUE. Sebagaimana namanya, kedai makan ini dipenuhi barang-barang antik dari jaman yang sudah lama berlalu. Mulai dari majalah-majalah musik dan film sekian dekade yang lalu, hingga radio transistor tua yang menemani kami menyantap hidangan, tak henti mendendangkan lagu-lagu Melayu tempo dulu. Sepasang laki-laki dan perempuan setengah baya yang kami duga sebagai sepasang suami istri, melayani pembeli. Si laki-laki mencatat pesanan, sementara sang perempuan berjilbab meracik bumbu dan menyiapkan makanan. Vika dan Dani sama-sama memesan nasi lemak, dan memilih teh tarik serta ais milo sebagai minuman masing-masing. Sementara gw memesan laksa dan ais milo. Cukup lama kami menunggu pesanan datang. Dan ketika terhidang, yang nampak bukanlah ais milo, tapi milo hangat. Gw dan Dani berpandang-pandangan. Ah sudahlah, rasanya tak tega kalau harus protes atas kesalahan pesanan ini.

Rasa nasi lemaknya tidak istimewa, tapi baik Vika maupun Dani setuju bahwa ikan asinnya yang disajikan sebagai hidangan pendamping rasanya enak. Sementara untuk laksanya… overall gw sih suka. Kuahnya light, tidak terlalu kental tapi pas, segar. Porsi mie kuning dan mie putihnya juga cukup, tidak terlalu sedikit tapi juga tidak berlebih. Vika ikut mencicipi dan langsung menyukai kerang yang cukup banyak dimasukkan sebagai campuran laksa. Kesulitan mencari makanan *yang sepertinya* halal di titik-titik wisata membuat kami sepakat untuk kembali ke kedai ini saat waktu makan berikutnya.

sayyid brunch 2

SAMSUNG CSC

sayyid brunch 4

sayyid brunch 1

10:40 :
Hanya beberapa langkah dari SAYYID ANTIQUE, berdiri CHENG HO CULTURAL MUSEUM yang menjadi salah satu tujuan kami.
It is believed that the present Museum is situated on the original site of Guan Chang built by Cheng Ho, the Ming Grand eunuch, about 600 years ago. His mighty fleet of several hundred ships sailed seven times to the Western Ocean from China from 1405 to 1433.
Sayangnya, Vika dan Dani sedang tidak berminat pada sejarah. Mendengar kami perlu mengeluarkan RM 10 untuk bisa menikmati museum yang dipercaya sebagai kawasan pergudangan yang dibangun oleh Cheng Ho sekitar 600 tahun lalu, Vika dan Dani menyarankan agar kami mencoret bangunan tua bergaya Tiongkok itu dari daftar kunjungan.

Melanjutkan langkah kaki, kami melihat THE ORANG UTAN HOUSE, sebuah toko yang menjual t-shirt dan poster hasil karya seniman Charles Cham sebagai souvenir dari kunjungan ke Melaka. Gw langsung saja menggeret Vika dan Dani, meminta saran mereka desain mana yang oke untuk adik gw si Bayi Gorilla.
T-shirt yang ditawarkan didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, dengan desain sablon yang cukup menarik dan kualitas kaus yang cukup baik, tersedia dalam berbagai ukuran. Selembar t-shirt dihargai RM 39, kecuali untuk ukuran XL diberi harga khusus yaitu RM 42, sementara kaus anak-anak dibanderol RM 20.
Laki-laki berperawakan gemuk yang menjaga toko melayani pengunjung dengan ramah. Jika membeli 10 t-shirt dalam satu struk pembelian akan mendapat gratis 1 t-shirt, katanya. Hehehe… sayangnya tidak banyak orang yang masuk dalam daftar oleh-oleh gw.
Dengan satu t-shirt sebagai buah tangan, kami meninggalkan The Orang Utan House yang mudah dikenali dari jauh lewat lukisan orang utan berwarna oranye didindingnya yang berwarna kuning.

orang utan house

The Orang Utan House | 59, Lorong Hang Jebat, opening hours 10:00 – 18:00, taking photos is not allowed

Di perempatan jalan, berdiri bangunan merah 4 lantai di sisi kanan yang dikenal dengan nama SAN SHU GONG, pusat oleh-oleh makanan khas Melaka, mulai dari dodol rasa durian, selai kaya, selai durian, pineapple tarts, sampai yang katanya must-try food: cendol durian. Gw perhatikan, toko ini tidak pernah sepi pengunjung dan setiap orang yang keluar dari toko ini bisa dipastikan membawa berkantung-kantung belanjaan… kecuali kami, mungkin. Gw, Vika, dan Dani, yang penasaran pun masuk ke dalam, berkeliling sebentar, dan segera keluar lagi karena tidak ada yang menarik hati. Padahal toko ini termasuk ke dalam top list para turis saat akan berburu buah tangan.

Di sisi kiri perempatan, berdiri satu kedai sederhana berjudul KEDAI KOPI CHUNG WAH. Ah… ini tempat yang tadinya jadi target operasi kami! D, seorang rekan kerja gw, sampai mewanti-wanti supaya datang pagi-pagi dan tidak melewatkan chicken rice ball-nya Kedai Kopi Chung Wah ini. Kalau tidak, siap-siap saja kehabisan atau paling bagus harus ikut bersabar dan mengantri dengan calon pembeli lain yang mengular hingga ke depan Hard Rock Café yang terletak disebelahnya.

SAMSUNG CSC

the Red Storey Building: San Shu Gong | 33, Jalan Hang Jebat, opening hours 10:00 – 22:00

san shu gong chung wah

Kedai Kopi Chung Wah: the one which is very very very famous for its chicken rice ball – that able to make people stand in line

11:15 :
Matahari yang semakin tinggi dan garang memaksa kami mempercepat langkah. Vika mengusulkan untuk mengubah itinerary, yang tadinya akan mengunjungi Dutch Square menjadi St. Paul’s Hill. Pertimbangannya, hari sudah sangat siang sehingga Dutch Square pasti sudah penuh sesak. Memang, mungkin karena di Melaka juga sedang musim liburan, ketika melewati Dutch Square kami melihat komplek bangunan merah itu dipenuhi manusia dan becak hias dengan hingar bingar musik yang berdandan begitu rupa. Sering sekali terdengar lirik lagu Cita Citata di mana-mana, “sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku.” Makjleb bener kakaaakk… niat mau piknik kenapa jadi bikin galau begini :mrgreen:

Sebelum mendaki St. Paul’s Hill, dengan sedikit berat hati kami mampir membeli 3 buah topi untuk melindungi wajah dan kepala dari sengatan matahari. Memang pandai si tukang topi ini, dia menggelar dagangannya tepat di pintu masuk St. Paul’s Hill.
Harapan bahwa St. Paul’s Hill akan lebih sepi daripada Dutch Square pupus sudah. Terik matahari sepertinya tidak menghalangi orang-orang datang berduyun-duyun untuk melihat reruntuhan komplek gereja ini.

St. Paul’s Hill memiliki kaitan sejarah dengan zaman kolonialisme Portugis dan Belanda beberapa abad silam. Gereja yang dibangun oleh bangsa Portugis di puncak bukit ini didedikasikan untuk Saint Paul, satu dari 12 Apostles. Di depan gereja didirikan pula patungnya yang berwarna putih. Bagian luar reruntuhan memperlihatkan gaya arsitektur Portugis. Didirikan pada tahun 1521, membuat gereja St. Paul ini sebagai gereja tertua di Asia Tenggara.
Informasi lain mengatakan bahwa gereja ini diperuntukkan bagi Virgin Mary, dibangun oleh Duarte Coelho, seorang bangsawan Portugis, sebagai rasa syukurnya telah selamat dari badai yang menimpanya di Laut Cina Selatan.
Di bagian dalam reruntuhan terletak banyak batu nisan dari tahun 1650-an. Tak mengherankan karena pada tahun 1592 di buka pula komplek pemakaman di bukit ini.

dutch square

Dutch Square yang indah menawan dan tampak anggun bersejarah itu… terhalangi becak hias yang berseliweran ~Huhuhu… remuk bayangan gw akan sebuah kota tua romantis!

SAMSUNG CSC

Another view of Dutch Square

bukit st paul 4

Bukit St. Paul & Gerejanya

bukit st paul 1

Gereja St. Paul, dan disekitarnya bertebaran bangunan tua yang dialihfungsikan menjadi museum

bukit st paul 3

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani ala ala Eropah

gereja st paul

Sipikah, Sidani, dan Sicantik *kalo diliat dari Monas dan didempul Camera360*

SAMSUNG CSC

Next stop! Sutet *eh*

12:30 :
Dari puncak St. Paul’s hill kita dapat menikmati pemandangan Melaka dan di kejauhan terlihat MENARA TAMING SARI. Memperkirakan jarak dari St. Paul’s Hill ke Menara Taming Sari tidak terlalu jauh, Vika dan Dani setuju untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut.
Dan memang, mungkin hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Menara Taming Sari. Sebagaimana tempat wisata lain di Melaka saat itu, Menara Taming Sari pun dipenuhi pengunjung. Kami pun berbagi tugas: Vika dan Dani membeli tiket sementara gw mengantri untuk masuk ke dalam si gelas kaca. Dengan harga tiket RM 20, pengunjung mendapatkan satu botol kecil air mineral dan satu cup kecil muffin dengan chocolate chips yang ternyata… endeeeuusss sodara-sodara!

Setelah mengantri sekitar 10 hingga 15 menit, akhirnya tiba juga giliran kami memasuki si gelas kaca. Gelas kaca mulai bergerak mengitari tiang menara hingga ke atas, dan kemudian turun lagi, dan itu dilakukan hanya dalam waktu 5 menit! Jadi lebih lama ngantrinya daripada menikmati pemandangan Melaka dari ketinggian. Bandingkan dengan Singapore Flyer yang memberikan waktu 30 menit untuk melihat Singapura dari udara *yaudahsih nggak usah dibandingin*

menara taming sari

Kita mau naik ini. Menara TVRI! *ehbukanyak*

menara taming sari 2

menara taming sari 3

menara taming sari 4

menara taming sari 1

Inside the Menara

menara taming sari 5

Dan di negara orang pun tetap gagal menebar pesona *sicowoklebihmilihngekerpemandangandaripadangekerkita-kita*

menara taming sari view 3

View from the Menara #1

menara taming sari view 4

View from the Menara #2

SAMSUNG CSC

View from the Menara #3

SAMSUNG CSC

View from the Menara #4

Dari Menara Taming Sari, kami memutuskan untuk makan siang. Sejauh mata memandang, menu yang terpampang di hampir semua rumah makan adalah asam pedas dan nasi campur. Kembali gamang dengan pilihan makanan, kami mencoba masuk ke dalam satu kedai makan bernama Asam Pedas Selera Kampung yang tampak sangat ramai sampai-sampai kami harus pasang mata dan berebut tempat duduk dengan pengunjung lain. Asam Pedas Selera Kampung ini menggunakan sistem self-service, jadi satu orang menunggu meja, sementara lainnya mengambil nasi, lauk pauk, dan minuman. Urusan pembayaran dilakukan nanti setelah selesai makan.

Sesuai namanya, yang jadi andalan adalah menu asam pedas ikannya. Sebenarnya asam pedas itu sama saja dengan asam padeh-nya urang awak. Begitu pelayan menuangkan asam pedas ke dalam wajan saji, langsung ludes seketika. Anyway, gw sih merasa ayam goreng yang gw makan biasa-biasa aja tuh rasanya. Mungkin pengaruh makan terburu-buru juga ya saking penuhnya tempat ini.
Satu hal yang menarik, seluruh perempuan pelayan di kedai ini menggunakan gamis dan jilbab panjang berwarna hitam, sebagian diantaranya bahkan bercadar. Gw dan Vika meyakini, yang bercadar pasti cantik. Keliatan dari tangannya *eh*

V: “Ke, yang bercadar tadi pasti cantik deh”
U: “Kayaknya begitu Vik, keliatan dari tangannya. Keren ya, tangannya aja udah kece begitu”
V: “Sepertinya memang cadar yang menutupi wajah itu bikin orang makin penasaran ya”
U: “Hmm.. apa perlu pake cadar aja kita? Siapa tau ada yang mau…”
***
U: “Ah tapi nanti malah takut ketipu suami-suami kita, kirain cantik eh nggak taunyaaa…”
Huhuhu…

Sekelumit percakapan gw dan Vika di depan cermin sambil membersihkan wajah masing-masing sebelum pergi tidur. Please don’t get offended, no bad intention. Sangat absurd, sangat perlu dikesampingkan :mrgreen:

asam pedas 1

Asam Pedas Selera Kampung

14:00 :
Bersebelahan dengan Asam Pedas Selera Kampung, ada sentra oleh-oleh bernama Pahlawan Walk. Ke sana lah kami melipir, siapa tau ada apa gitu yang bisa di bawa pulang. Setelah memilih-milih, kunjungan singkat mendadak itupun menghasilkan beberapa magnet kulkas sebagai souvenir bagi orang-orang di tanah air.

pahlawan walk

Mampir sebentar setelah makan – semacam sentra oleh-oleh Melaka

pahlawan walk 1

Lumayan bagi yang cari-cari magnet kulkas di sini ~cukup variatif

 

14:45 :
Vika memutuskan untuk shalat di hostel. Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan mencicipi coconut shake yang dijajakan di depan San Shu Gong dan kemudian mampir sebentar ke Hard Rock Café. Sempat tergoda untuk membeli gelas cantik dan magnet *yang sungguh keliatan banget ‘harga’nya dibandingkan magnet RM 3 yang kami beli di Pahlawan Walk*, tapi dalam hati masih berpikir ulang dan berharap ada Starbucks di Melaka.

16:15 :
Kembali ke jalanan! Dan kembali menyimpang dari itinerary *sobek-sobek itinerary*
Demi tumbler Starbucks dan lontong instan titipan Nyonya Besar, kami rela berjalan lebih jauh ke dua mall yang ada di jagat Melaka. Mall pertama yang kami sambangi adalah Dataran Pahlawan Mega Mall. Sukses mendapatkan tumbler Starbucks dan diberi kartu keanggotaan Starbucks berbentuk gelas kertas sebagai kenang-kenangan *mbak-mbak Starbucks-nya sungguh ramah! Tapi sejauh ini gw memang belum pernah menemukan orang-orang Starbucks yang jutek sih… thumbs up!*, kami melanjutkan ke Mahkota Mall yang terletak diseberangnya. Tujuan utama adalah Giant, tempat di mana kita bisa menemukan lontong instan dan cemilan lainnya. Untuk sampai ke Giant, kita harus masuk melalui Parkson dan turun dengan eskalator. Sampai di Giant kami langsung kalap mengambil ini itu, dan dengan gembira membawa belanjaan kami ke kasir. Kenapa kah cemilan Malaysia itu enak-enak? Huhuhu…

Kegembiraan itu sirna seketika saat kasir memberi tahu bahwa tidak ada kantung plastik untuk membawa belanjaan. Eh?
Iya, adanya kardus. Dan kita membereskan sendiri belanjaan-belanjaan kita ke dalam kardus. Tidak ada bantuan, tidak ada tali rafia, tidak ada selotip atau isolasi atau gunting apalah apalah. Kami terbengong-bengong. Jadilah kami menenteng kardus dari Giant hingga hostel. Lumayan juga berjalan sekitar 20 menit sambil menggotong-gotong kardus berat. Kami sama sekali tak tampak seperti turis.
Jadi, yang mau belanja di Giant Melaka, siapkan tas belanja sendiri ya!

giant

Mbak Dani sibuk mengatur belanjaan – setelah cemberut sebelumnya

18:45 :
Balada gotong-gotong kardus menyebabkan kami yang tadinya berniat langsung menyusuri Jonker Street dan berlayar mengarungi Sungai Melaka, menjadi kembali lagi ke hotel hanya untuk menaruh belanjaan.
Konon, belum sah ke Melaka kalau belum menikmati akhir pekan di Jalan Hang Jebat… atau yang lebih dikenal dengan nama Jonker Street.

Jonker Street yang merupakan pusat dari kawasan Chinatown terkenal dengan deretan toko-toko yang menjual barang-barang antik, kini telah menjelma menjadi satu kawasan wisata yang mengundang siapapun untuk datang. Setiap akhir pekan, pada Jumat dan Sabtu malam, Jonker Street berubah menjadi kawasan car-free sejak sore; tempat para wisatawan berbaur dengan penduduk lokal, tempat orang-orang menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan dan menjajakan mulai dari makanan hingga barang-barang elektronik. Sudah bisa ditebak, pada saat itu Jonker Street sangat padat hingga untuk berjalan pun susah; kami harus berjalan perlahan-lahan, sambil menikmati keriuhan di sisi kiri dan kanan jalan dan mencari tempat untuk mengisi perut. Kami belum makan malam. Lupakan rencana street photography. Berada di tengah-tengah lautan manusia membuat kami hampir tidak bisa bergerak dan lebih fokus menjaga harta benda masing-masing.

Berjalan dari ujung ke ujung, bukan para penjual yang menarik hati kami, tapi beberapa tempat berarsitektur cina dengan ukiran naga, yang di dalamnya terdapat warga lokal berusia lanjut yang menari dan menyanyi dengan penuh percaya diri. Jangan bayangkan satu ballroom megah atau kamar-kamar karaoke. Tempat menari dan menyanyi itu hanya berupa ruangan yang meja dan benda-benda lainnya dipinggirkan ke dinding. Kursi-kursi plastik ditaruh seadanya untuk menonton para kakek bernyanyi.
Walaupun di sepanjang jalan banyak bertebaran kedai makan, tapi mencari yang halal merupakan kesulitan tersendiri. Kami sempat mampir ke Masjid Kampung Kling, namun disekitarnya pun tidak ada tempat makan. Agak putus asa, kami mampir ke Seven Eleven dan membeli cup noodles untuk diseduh sesampainya kami di hostel nanti.
Ketika Vika mampir ke tandas awam, dia sempat bertanya tempat makan yang halal. Ternyata ada satu tenda kaki lima di belakang makam Hang Kasturi, satu dari 5 bersaudara pahlawan Melayu. Gw tidak berselera melihat nasi lemak dan lauk pauk yang ditawarkan, jadi gw hanya menemani Vika dan Dani menghabiskan makan malam mereka.

22:30 :
Akhirnya kami mencoret Melaka River Cruise dari agenda malam itu. Lepas dari kepadatan Jonker Street, kami memutuskan menyusuri Sungai Melaka lewat jalan kecil di belakang penginapan-penginapan di pinggir sungai. Malam pun ditutup dengan mengemasi barang-barang, besok sudah waktunya kami meninggalkan Melaka.

Dan itinerary pun bubar jalan.

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night 1

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Setelah berjalan menyisiri tepian Sungai Melaka – this is Lorong Hang Jebat, where our hostel took place

Btw, dapet salam dari yang manis… 😆 😆 😆

 

 

 

Pengeluaran:
.Laksa at Sayyid Antique RM 5
.Milo at Sayyid Antique RM 2
.Orangutan House’s t-shirt size XL RM 42
.Topi RM 10
.Tiket Menara Taming Sari RM 20
.Lunch at Asam Pedas Selera Kampung RM 12
.Magnet RM 10/3 pieces
.Coconut Shake RM 4
.Tumbler Starbucks RM 55
.Bourjois Rouge Edition Velvet each RM 39,80
.Shopping at Giant RM 81
.Cemilan at Seven Eleven RM 7,20
Total pengeluaran hari kedua: RM 327,80

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 1

“Hari 1: tanggal 24 Desember akan habis hanya untuk perjalanan, apalagi mengingat yang akan berangkat ini adalah para manula, maka gw nggak memasukkan tujuan apapun di hari pertama ini. Pokoknya begitu sampe hostel, langsung tidur aja lah kita ya bok! Remuk pasti badan ini, seremuk hatiku *maap nyampah*”

Kamis, 24 Desember 2015.
Hari ini merupakan hari pertama libur panjang di Indonesia. Keadaan jalanan Jakarta dan sekitarnya hampir bisa ditebak pasti mengalami kemacetan yang lebih mengesalkan daripada biasanya. Menjaga kemungkinan terjebak kemungkinan terburuk, Vika menyarankan agar kami berangkat lebih pagi dari jadwal semula. Gw dan Vika berangkat menggunakan HIBA Bandara, sedangkan Dani diantar temannya *penting banget di bikin italic yes* :mrgreen:

07:10 :
Gw berangkat diantar Bayi Gorilla ke pick up point HIBA Bandara di pintu tol Cijago. Perjalanan terbilang cukup lancar. Pukul 07:25, setelah membeli tiket bus seharga Rp.60.000, gw sudah menunggu datangnya bus.
07:50 :
HIBA Bandara tiba dan menaikkan beberapa penumpang. HIBA Bandara ini berangkat pukul 07:30 dari terminal Depok dan mengambil penumpang di dua pick up point-nya, yaitu di Hotel Bumi Wiyata dan pintu tol Cijago. Ada untungnya juga berangkat sedikit lebih awal. Begitu mendekati tol Cibubur dan JORR, jalanan sudah ramai dan kendaraan sesekali berjalan merayap.
09:10 :
Kami tiba di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan langsung menuju konter check in untuk baggage drop. Sebelumnya gw sudah melakukan web check in, tapi karena Dani belum dan Vika bermasalah dengan web check in sebelumnya, jadilah gw check in ulang untuk bisa duduk bersama-sama mereka. Kursi gw yang tadinya 8F berubah menjadi 21F, sementara Vika dan Dani masing-masing duduk di kursi 21D dan 21E.
10:00 :
Karena lapar, sambil menunggu waktu terbang yang masih 2 jam lagi, kami pun memutuskan untuk makan dulu. Tempatnya tak lain dan tak bukan, warung BGM yang paling tersohor di dunia perbakmian dan perpangsitgorengan.
11:00 :
Seusai makan, urusan berikutnya adalah melewati imigrasi. Dari situ kami langsung menuju Gate D5 menunggu waktu boarding. Pukul 11:45 kami belum bisa memasuki boarding room karena masih ada antrian penumpang untuk penerbangan sebelumnya. Muncul sedikit kekhawatiran bahwa penerbangan kami yang dijadwalkan pukul 12:15 akan mengalami keterlambatan.
12:00 :
Tanpa melalui proses menunggu di boarding room, para penumpang MH 716 dipanggil untuk menaiki pesawat. Tepat pukul 12:15 pesawat lepas landas dengan hentakan yang tidak halus sama sekali.

SAMSUNG CSC

Off we go! Malaysia Airlines for the first time ~

15:30 :
MH 716 mendarat di KLIA, lagi-lagi dengan guncangan yang kasar. Setelah melewati rangkaian pemeriksaan imigrasi, pengambilan bagasi, dan shalat, kami langsung mencari bus tujuan Melaka. Caranya, dari area arrival di lantai 3, kami turun ke lantai 2 dan mengikuti arah “Stesen Bas ke Terminal KLIA 2/Destinasi lain”. Sampai di Stesen Bas, ada beberapa konter tiket bus, tapi yang menawarkan rute ke Melaka hanya satu, yaitu StarMart Express. Jadwal keberangkatan terdekat saat itu ada di pukul 17:00. Karena tidak ada pilihan, kami pun membeli 3 tiket seharga RM 28/orang.
Gw agak bingung juga saat itu, kenapa tidak ada bus Transnasional di sana, padahal kalau gw baca-baca di internet, bus Transnasional adalah bus paling terkenal yang membawa penumpang dari Kuala Lumpur ke Melaka. Di tengah kebingungan itu, gw melihat satu bus Transnasional datang memasuki platform-nya. Dari hasil wawancara dengan pak supir yang langsung gw berondong pertanyaan, ternyata bus Transnasional memang tidak buka konter tiket di KLIA, tapi penumpang bisa langsung menaiki bus, nah dari KLIA bus akan mengambil penumpang di KLIA 2. Saat di KLIA 2 itulah supir akan mencetak tiket untuk penumpang yang naik dari KLIA.
17:00 :
Bus StarMart Express datang dan kami bertiga segera memasuki bus. Menurut tiket, kursi kami adalah kursi nomor 1, 2, dan 3. Tapi sepertinya nomor kursi itu hanya tulisan biasa tanpa kekuatan hukum apapun, terbukti ketika kami naik, kursi-kursi tersebut sudah ditempati orang lain, sehingga kami harus menerima nasib duduk terisah-pisah di kursi paling belakang.
Bus-nya sendiri sangat nyaman dengan formasi bangku 1 – 2. Total ada 24 kursi dalam satu bus. Kursinya lebar dan empuk, juga bisa di-recline sehingga kita bisa beristirahat dengan nyaman. Hanya AC-nya saja yang terlalu dingin. Karena tidak menyiapkan jaket, gw menghangatkan badan dengan meringkuk sambil memeluk ransel.

SAMSUNG CSC

Ready to landing with ‘kelapa sawit’ everywhere

SAMSUNG CSC

Kuala Lumpur International Airport

SAMSUNG CSC

Spotted Vika & Dani waiting for our baggage

KLIA conveyor belt 2

neat!

kaunter tiket bas

Tempat pembelian tiket bus antar kota antar propinsi

SAMSUNG CSC

Ruang tunggu nan sederhana – bus diparkir sesuai platform masing-masing

jadwal bas

Jadwal StarMart Express – quite on time, i must say

SAMSUNG CSC

Inside the comfy – yet super cold – bus

19:40 :
Akhirnya sampai juga di Melaka Sentral, semacam terminal bus antar kota di Melaka. Kami mengikuti petunjuk untuk sampai ke pangkalan taksi, dengan harapan mendapatkan taksi berargo. Tapi janji tinggal janji, taksi argo hanya mimpi. Nggak ada taksi berargo, ini Malaysia, Bung! Semua main tembak-tembakan dan kami tidak punya pilihan lain. Seketika gw merindukan taksi-taksi Jakarta. Huhuhu…
20:00 :
Setelah di tembak di harga RM 25 untuk sampai di tujuan kami di Lorong Hang Jebat, akhirnya kami mengikuti seorang bapak separuh baya dari ras Melayu. Mobilnya tentu saja sejenis sedan tua yang sempit dan masih kotak-kotak sudut-sudutnya. Sepanjang perjalanan dia banyak bertanya pada kami, termasuk menasehati gw untuk segera menikah *sumpe yaaa diomongin gitu sama orang yang baru pertama ketemu itu rasanyaaa…* *dan diketawain sama Vika dan Dani yang duduk di kursi belakang. Pait, pait, pait…*
Sebenarnya si pak supir taksi ini sudah menunjukkan gejala kurang menyenangkan, dia sepertinya enggan mengantarkan kami sampai ke penginapan. Tapi karena gw langsung pasang tampang memelas, akhirnya dia mau juga mengantar kami sesuai perjanjian awal, walaupun disertai nada-nada tidak ikhlas.
20:30 :
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di depan penginapan. Sebenarnya jarak dari Melaka Sentral ke Lorong Hang Jebat tidaklah jauh. Hanya saja karena untuk sampai ke Wayfarer Guest House kami harus melewati Jonker Street yang kecil dan dipenuhi manusia lalu-lalang, taksi pun tidak bisa melaju kencang.
Kami disambut Mrs. Lian yang ramah namun tegas dan langsung menerangkan peraturan penginapan dan memberikan kunci kamar. Tidak lupa dia juga mengembalikan deposit pembayaran kamar yang berlebih.
Kamar kami terletak di lantai dua dan setelah menaruh koper serta beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam, sekaligus melihat-lihat sekitar penginapan.
21:30 :
Setelah berputar-putar di kawasan Dutch Square yang malam itu tampak berkilauan karena banyaknya becak hias berseliweran, kami berjalan menyusuri Sungai Melaka sambil pasang mata kira-kira mau makan di mana. Bingung menentukan tempat makan, akhirnya kami malah melipir ke satu rumah makan India di kawasan Little India. Makan malam pertama ini tidak bisa dibilang sukses. Rasa makanannya terbilang biasa-biasa saja. Bahkan Milo Malaysia yang terkenal mantap rasa coklatnya pun tidak gw temui. Selepas makan, ternyata sudah pukul 22:00. Mengingat besok kami sudah berencana untuk menjelajahi Melaka habis-habisan, sepertinya lebih baik jika kami kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga yang lelah ini.

baru sampai!

Arrived at hostel happily!

SAMSUNG CSC

a little sneak peak on our hostel *wink*

SAMSUNG CSC

Semacam gerbang memasuki kawasan Little India

dinner

Indian style dinner ~ with Milo ais

SAMSUNG CSC

Our first sight – Dutch Square yang bagai pasar malam saja ramainya

 

SAMSUNG CSC

Another first sight ~ on Melaka River

Nampak seperti hari pertama yang cukup oke dan sangat sesuai dengan itinerary, yes? :mrgreen:

Pengeluaran:
.HIBA Depok – Bandara Rp.60.000,-
.Malaysia Airlines Round Trip Ticket CGK – KLIA Rp.1.920.650,-
.Bakmi GM Rp.42.500,-
.Bus StarMart Express KLIA – Melaka Sentral RM 28/orang
.Jajan Pokka Milk Tea RM 4,75
.Taksi Melaka Sentral – Lorong Hang Jebat RM 25 (approximately RM 8,5/orang)
.Wayfarer Guest House – RM 400/room for 2 nights (approximately RM 134/orang)
.Dinner RM 5

Total pengeluaran hari pertama: Rp.2.023.150,- dan RM 180,25 (Kurs RM 1 equal to IDR 3.200)

[Seoul & Gyeonggi-do] Highlights Day 1 – to the downtown, Seoul

Sabtu, 4 April 2015.
“Menjelang pendaratan, pilot mengumumkan suhu udara di darat. 11 derajat celcius. Pukul 08:30 waktu Korea, kami mendarat di Incheon International Airport.”
Hmm… oke. So it was 11 celcius degree outside and I’ve been forgot how cold it was back then, but I reckon that it shall still be pretty cold for tropical person like me and my mom.

Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, seolah tak sabar para penumpang pun segera berhamburan keluar. Tempat pertama yang kami cari di tengah megahnya Incheon International Airport adalah toilet karena kami harus berganti pakaian. Berangkat dari negeri dengan matahari bersinar sepanjang tahun, kami berangkat tanpa mengenakan baju penahan dingin alias longjohn secara lengkap. Gw hanya mengenakan longjohn bawahan, sementara Nyonya Besar sebaliknya.
Dan begitu sampai di kamar mandi, kami bertemu dengan banyak turis lain, sebagian besar dari Indonesia, dan melakukan hal yang sama dengan kami.

Dengan pakaian perang yang dirasa telah lengkap, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah bangunan utama bandara alias Passenger Terminal. Dari tempat kami mendarat, untuk ke Passenger Terminal kita harus menaiki kereta yang menghubungkan bangunan satu dengan bangunan lainnya. Perjalanan ke Passenger Terminal dengan kereta memakan waktu sekitar 5 menit. Turun dari kereta, kami menyelesaikan urusan imigrasi, kemudian menuju conveyor belt dan mengambil bagasi. Oya… mumpung baru mendarat di Incheon, ada baiknya kita cari tau dulu gimana caranya mencapai pusat kota.

Transportasi dari Incheon International Airport ke Seoul
Sebelum mulai menjelajah Seoul, tentu kita harus sampai di Seoul terlebih dulu kan… nah, terdapat beberapa cara untuk mencapai pusat kota Seoul dari Incheon International Airport. Ini sedikit rangkuman dari beberapa sumber di internet.
Seoul Metropolitan Subway
Seoul Subway, terdiri dari 9 line dan terus berkembang, adalah salah satu yang ternyaman dari semua jenis kereta yang pernah gw coba selama ini. Pengguna Subway dapat memilih menggunakan T-Money, Metropolitan Pass atau M-Pass (khusus untuk wisatawan asing), atau membeli single journey ticket.
T-Money adalah salah satu metode pembayaran untuk penggunaan subway, bus, taksi, dan juga bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa convenience stores seperti 7-Eleven, GS 25, Story Way, Buy the Way, dan convenience stores lainnya yang bertanda logo T-Money. T-Money dapat didapatkan dengan mudah di convenience stores dengan harga KRW 2500 per kartu dan bisa diisi ulang melalui vending machine, di loket-loket yang ada di setiap stasiun subway, atau di convenience stores. Setelah tidak digunakan, T-Money bisa dikembalikan dan saldo tersisa didalamnya bisa di-refund.
Sementara M-Pass dapat digunakan hingga 20 kali dalam sehari selama masa berlakunya kartu sesuai pilihan kita, apakah 1-day, 2-day,3-day, 5-day, atau 7-day pass. Berbeda dengan T-Money yang mengcover Seoul dan kota-kota lainnya di Korea seperti Busan, Daegu, dan Daejeon, M-Pass mengcover hanya wilayah Seoul dan Jeju, termasuk Seoul Subway Lines 1-9, Incheon Subway, AREX’s all stop train, metropolitan trains (kecuali Sinbundang dan Gyeongchun (ITX) Line), dan bus (kecuali bus dengan warna merah).
M-Pass dapat dibeli di Seoul Travel Information Center di Incheon International Airport Passenger Terminal Level 1, Gate 5 & 10, dan di Jeju Tourism Information Center di Jeju International Airport.
Card Type Price
1-day pass 10,000 won
2-day pass 18,000 won
3-day pass 25,500 won
5-day pass 42,500 won
7-day pass 59,500 won

Airport Limousine Bus
Airport buses run from Incheon International Airport to most parts of Seoul. Tickets may be purchased at the ticket booths just outside the passenger terminal (arrival area) on the 1st floor, located next to Gates 4 and 9 inside the arrival floor (1F) and outside next to Gates 4, 6, 7, 8, 11, 13 and 9C. Detailed inquiries on bus routes and bus stops can be made at the Airport Information Desk between Gates 3 and 4 or Gates 11 and 12 on the arrival floor (1F), or the Airport Bus ticket booth, conveniently located on the 1st floor. Night buses (24:00–03:50) are also available.
Bus Types
There are two types of airport buses: deluxe and standard. Deluxe buses are Korea Airlines limousines and other bus companies that operate non-stop or shortened routes to major hotels and destinations. These buses make fewer stops (shorter travel time) and have comfortable seats with more space. Standard buses tend be more crowded with smaller space and make more stops.
Bus Fare (from Incheon Airport)
– Deluxe Limousine Bus:
To Gimpo International Airport: Around KRW 7,500
To downtown Seoul: KRW 14,000-16,000
– Standard Limousine Bus:
To Gimpo International Airport & Songjeong Station: Around KRW 5,000
To downtown Seoul: KRW 9,000-10,000

Taksi
Bagi yang ogah ribet, mungkin taksi bisa dijadikan pilihan. Selain nyaman, hampir seluruh taksi sudah dilengkapi GPS, jadi nggak perlu khawatir nyasar *kalo dibawa muter-muter sih wallahu a’lam lah ya* Tapi tentu ada rupa ada harga, taksi adalah mode transportasi yang paling makan biaya. Selain mahal, penumpang juga harus menanggung biaya tol sebesar KRW 8,000 untuk mobil ukuran kecil.
Untuk mengunakan taksi, you may exit the airport through any gate between Gates 4 and 8 of the passenger terminal (arrival area), cross the street, and go to the taxi stands (4D-8C). It is not unusual to be approached by a taxi driver inside the passenger terminal, but we suggest ignoring them and follow the standard protocol.

In Korea, there are three types of taxis: regular, deluxe, and jumbo. Regular and deluxe taxis can take as many as four passengers at a time, while jumbo taxis have a capacity of up to nine passengers. The base fare for a regular taxi is 3,000 won (for the first 2km) while the base fare for deluxe and jumbo taxis are 5,000 won (for the first 3km). Please also note that regular taxis charge an extra 20% of the base fare after midnight (24:00-4:00), while no such additional fare is applied for deluxe and jumbo taxis.

Airport Railroad Express (AREX)
AREX terbagi menjadi 2 macam: Express Train dan All Stop Train. Sesuai dengan namanya, Express Train melakukan perjalanan non stop dari bandara dan berakhir di Seoul Station. Sementara All Stop Train berhenti di 11 stasiun subway – 6 diantaranya merupakan stasiun transit ke jalur lain – sehingga waktu tempuhnya tentu lebih lama daripada Express Train, yaitu selama 56 menit. Express Train merupakan cara tercepat untuk mencapai pusat kota Seoul, perjalanan hanya memakan waktu selama 43 menit. Untuk keterangan lebih lanjut bisa dibaca di http://www.arex.co.kr
Biaya
– Express Train: Dewasa KRW 14,800 (terdapat special rate hingga 31 Desember 2015, dimana tiket dewasa seharga KRW 8,000 dan anak-anak seharga KRW 6,900)
– All Stop Train: Dewasa KRW 4,250 / Youth KRW 3,040 / Anak-anak KRW 1,900
Untuk menaiki All Stop Train, kita bisa menggunakan T-Money yang bisa dibeli di convenience stores atau M-Pass yang dibeli di Seoul Tourist Information Center yang terletak di depan Gate 5 dan Gate 10 Level 1 Incheon International Airport. Sementara untuk Express Train, kita harus membeli single journey ticket secara terpisah, baik di vending machine atau di konter-konter yang tersebar di level B1 Incheon International Airport.

Kembali ke kisah perjalanan kami, setelah harta benda sudah kembali ke pelukan masing-masing, hal pertama yang harus segera ditunaikan adalah membeli T-Money, kartu sakti yang akan menemani kami berkeliling Seoul dan sekitarnya. Maka gw pun segera memasuki gerai 7-Eleven dan membeli 2 buah T-Money, dan masing-masing gw isi saldo sebesar KRW 50,000. Saran gw, lebih baik isi berlebih daripada tanpa sadar kekurangan di tengah jalan. Kalau ada sisa kan bisa di refund di akhir perjalanan nanti, and that was exactly what we did on our last day in Seoul. Dengan T-Money berwarna abu-abu, gw pun mulai mencari petunjuk arah bertuliskan AREX atau Korail.
Sejak awal, gw dan Nyonya Besar sudah berniat ingin mencoba AREX’s Express Train. Peron untuk AREX terletak di bangunan yang berbeda dari Passenger Terminal, tapi tetap ditempuh dengan berjalan kaki kok, hanya perlu menyeberang berganti gedung saja. Maka kami pun keluar dari Passenger Terminal daaaaannn segera saja angin dingin menerpa. Sedikit kaget karena sudah lupa seperti apa dinginnya 11 derajat celcius.

Sesampainya di dalam, kami bergegas mencari gate untuk AREX’s Express Train karena kami berusaha untuk menaiki Express Train keberangkatan pukul 09:50 pagi. Nah, gate untuk All Stop Train dan Express Train itu berbeda ya teman-teman… gate untuk All Stop Train terletak di sisi kiri, berwarna biru, dan untuk menaiki All Stop Train kita bisa menggunakan T-Money atau M-Pass, sementara untuk Express Train terletak di sisi kanan, berwarna oranye, dan untuk menumpanginya kita harus membeli tiket secara terpisah. Gw pun membeli 2 tiket, masing-masing seharga KRW 8,000 dan menerima 2 tiket untuk tapping beserta sebuah struk pembelian, di mana tertera nomor tempat duduk dan nomor gerbong kereta kita. Setelah tapping, kami menuruni eskalator dan menunggu di peron sesuai dengan nomor gerbong pada struk. Perhatikan saja lantai peron, ada nomor-nomornya kok gerbong mana menunggu di mana. Kebetulan, untuk gerbong 5 itu pas banget setelah turun eskalator, nggak perlu jalan ke mana-mana lagi.

Tidak lama, kereta datang dan kami pun menaikinya. Gw menaruh koper-koper kami pada tempat penyimpanan koper didekat pintu kereta, lalu mencari kursi nomor 4A dan 4B. Pukul 09:50 tepat kereta berangkat. Nyonya Besar tertidur tak lama setelah kereta mulai berjalan, sementara gw tersenyum-senyum sendiri, memperhatikan pemandangan di luar jendela. Rasanya luar biasa dan hampir tak percaya, gw kembali datang ke negeri ini. Diselingi tidur-tidur ayam, mendekati pemberhentian akhir di Seoul Station, gw membangunkan Nyonya Besar. Express Train merapat di Seoul Station tepat pukul 10:35, sesuai dengan waktu yang tercetak di struk pembelian tiket.

Seoul Station merupakan salah satu stasiun besar di pusat kota Seoul, menjadi titik pertemuan beberapa jalur kereta, yaitu Line 1, Line 4, dan Gyeongui Line. Dari Seoul Station ke hostel tempat kami menginap tidak jauh lagi, hanya perlu menyambung subway line 4 dan turun di pemberhentian berikutnya. TOP Hotel & Guesthouse, tempat kami menginap terletak di kawasan Hoehyeon, berdekatan dengan kawasan Myeongdong. Kami bahkan bisa berjalan kaki ke Myeongdong, tinggal menyeberangi jalan raya dan sampailah di Myeongdong yang gegap gempita.
Sesuai petunjuk penginapan, dari Seoul Station kami menyambung subway line 1 dan turun di stasiun Hoehyeon. Lumayan jadi PR juga naik turun tangga stasiun subway sambil membawa koper, Alhamdulillah tanpa diduga seorang ahjussi bertampang beku tergerak hatinya menolong Nyonya Besar membawakan kopernya, dan kemudian pergi lagi dengan tangan di saku celana tanpa berkata apapun seolah tak terjadi apa-apa. Gamsahamnida, ahjussi yang-walaupun-nggak-ganteng-tapi-baik-hati!

Di stasiun Hoehyeon, kami keluar di Exit 1. Kata si penginapan, TOP Hotel & Guesthouse itu cuma 3 menit berjalan kaki dari stasiun. Tapi mengingat 3 menit-nya dan cara jalan kakinya orang Korea itu berbeda dengan kita, gw menduga bahwa we need to multiply 3 menit itu… mungkin jadi 6 menit, atau 9 menit, atau 12 menit. Di depan tangga exit 1 ada 3 jalan: jalan raya, lalu 2 jalan yang lebih kecil berisi deretan toko. Gw memutar kepala mencari tanda-tanda keberadaan si TOP Hotel & Guesthouse. Hei! Ternyata soal 3 menit-berjalan-kaki-dari-exit 1-stasiun Hoehyeon itu benar adanya. Penginapan gw berada di jalan kecil yang paling kanan, kurang dari 50 meter dari exit 1 Stasiun Hoehyeon. Sign board-nya memang kecil, jadi harus pasang mata.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 11:30 kurang atau lebihnya. Kami mendekati seorang wanita paruh baya yang berjaga di meja resepsionis. Setelah mengalami kesulitan komunikasi yang cukup menguras energi, kami perlu menunggu sekitar 30 menit sampai akhirnya diizinkan early check in dan masuk kamar. Hmm… kamarnya lumayan juga. Lumayan mungil, maksudnya… hehehe. Anyway, tetaplah Alhamdulillah.
Mari menghilangkan penat sejenak. Setelahnya kita mulai menikmati Seoul.

T-Money | this! should be your very first thing to buy to getting around Seoul. Each costs KRW 2,500 and you can buy it at any convenience stores bearing the T-Money logo

T-Money | this! should be your very first thing to buy to getting around Seoul. Each costs KRW 2,500 and you can buy it at any convenience stores bearing the T-Money logo


AREX's Express Train Gate

AREX’s Express Train Gate


Ticket Receipt | Pay attention to car number and seat number

Ticket Receipt | Pay attention to car number and seat number


AREX's Express Train single journey ticket KRW 8,000

AREX’s Express Train single journey ticket KRW 8,000


Inside AREX's Express Train

Inside AREX’s Express Train

Pengeluaran per orang sejauh ini:
. T-Money KRW 2,500
. Isi saldo T-Money KRW 50,000
. AREX’s Express Train ticket KRW 8,000
. Penginapan KRW 300,000 untuk 8 malam

Catatan:
Kurs Korean Won terhadap Rupiah saat itu: KRW 1 = IDR 11,95

[Seoul & Gyeonggi-do] Heading Incheon

Jumat, 3 April 2015.
We’ve been planning on Seoul Trip for years. I’ve always wanted for my Mom to see and experience all the beauty and uniqueness of a place I had lived on for 2 years.
Pertama kali tercetus ide untuk keberangkatan adalah di musim gugur 2013, lalu mundur menjadi musim gugur 2014, dan hampir kejadian lagi mundur menjadi musim gugur 2015. Kenapa harus pergi di saat musim gugur? Karena bagi gw, Seoul dan sekitarnya itu paling cantik di penghujung tahun, utamanya bulan November, ketika suhu udara sangat sejuk, daun-daun belum gugur sepenuhnya melainkan berubah warna menjadi kuning dan merah. Tapiii… setiap kali akan memesan tiket gw selalu teringat bahwa di bulan Oktober atau November, ada satu kegiatan kantor yang tidak boleh tidak diikuti. Setelah dua kali mundur, saya pun merelakan Autumn Trip berubah menjadi Spring Trip.

Maka setelah mengamati perkembangan tiket promo maskapai-maskapai full service, ketika Garuda kembali dengan promo early bird-nya gw pun segera membeli 2 tiket pp Jakarta-Incheon untuk keberangkatan bulan April 2015 di harga USD 459/tiket. Saat itu tanggal 12 September 2015 dan nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika belum terjun bebas seperti yang belakangan ini terjadi. Gw mendapatkan rate Rp.11.885/USD 1 sehingga harga 1 tiket setara dengan 5,3 juta rupiah. Bukan harga yang murah, tapi juga tidak berlebihan untuk maskapai full service sekelas Garuda. Once again, Jakarta to Incheon takes about 7 hours in the sky, thus it’s gonna be quite a long flight and I went with my Mom so comfort should be priority.

Fast forward to 7 months later, hari jumat tanggal 3 April 2015 itu gw dan Nyonya Besar berangkat tepat pukul 18:30. Gw teringat kepanikan Vika sehari sebelumnya yang terjebak macet berkepanjangan sementara dia harus mengejar penerbangan ke Jepang. Untuk menghindari hal-hal seperti itu kami pun memutuskan untuk berangkat lebih awal walaupun kami baru akan terbang pukul 23:20. Mengikuti pesan dan nasihat seorang kakak, gw pun meminta Bayi Gorila untuk mengantar kami ke bandara. Dan sudah menjadi tradisi, dalam hal antar-mengantar dan jemput-menjemput, pasukan turun dalam formasi lengkap. Itu artinya, Mr. Babeh selaku komandan perang turut serta. Duduk di samping pak kusir, Mr. Babeh memiliki tanggung jawab agar Bayi Gorila tetap dalam keadaan siaga. Sementara Nyonya Besar, seperti biasa, sepanjang perjalanan langsung larut komat-kamit memanjatkan doa.

Ternyata jalanan benar-benar kosong dan kami melaju mulus tanpa hambatan sehingga 1 jam kemudian kami sudah siap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Setelah Bayi Gorila dan Mr. Babeh meninggalkan kami, gw dan Nyonya Besar segera memulai rangkaian prosesi keberangkatan. Saat tiba di gate keberangkatan, ruang tunggu bahkan belum dibuka. Maklumlah, saat itu bahkan jam baru menunjukkan pukul 21:30. Masih banyak waktu sebelum keberangkatan.

Setelah terkantuk-kantuk tapi tak bisa tidur, sekitar pukul 23:15 para calon penumpang dipersilakan menaiki pesawat. Gw dan Nyonya Besar mendapatkan kursi di bagian kiri pesawat. Tak lama, gw merasakan pesawat mulai ditarik mundur, dan tepat pukul 23:30, pesawat dengan nomor penerbangan GA 878 lepas landas membelah gelapnya langit Jakarta.

Sabtu, 4 April 2015.
Entah berapa lama gw tidur-tidur ayam setelah menyantap snack malam yang dihidangkan kru pesawat, ketika terbangun gw melihat semburat merah tanda terbitnya matahari dari jendela di sisi kanan pesawat. Gw membuka jendela, berbeda dengan pemandangan di sisi kanan, langit di sisi kiri masih diselimuti kegelapan. Penumpang lain pun sebagian besar masih tertidur. Entah ada di langit di atas negara mana kami saat itu. Gw membangunkan Nyonya Besar untuk melaksanakan shalat subuh. Menjelang pendaratan, pilot mengumumkan suhu udara di darat. 11 derajat celcius. Pukul 08:30 waktu Korea, kami mendarat di Incheon International Airport.

Breakfast ala Garuda Indonesia

Breakfast ala Garuda Indonesia

SAMSUNG CSC
SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

It’s good to be back. And this time with Mom. Alhamdulillah.
thenjonja

Siem Reap: Day 3 – Angkor Wat, Ta Phrom, Bayon, Baphuon, Terrace of the Elephant, Cambodian Muslim Restaurant, Angkor Night Market & The Blue Pumpkin

Sabtu, 27 Desember 2014, adalah hari ketiga kami di Siem Reap dan mungkin bisa juga dibilang sebagai ‘it’ day-nya trip kali ini. Tak lain dan tak bukan tentu karena kami akan mengunjungi tempat-tempat paling populer *sekaligus juga paling touristy* di jagad Siem Reap.

Pukul 4 subuh gw dan Didito bangun dengan semangat, seperti biasa Didito langsung terbang ke kamar mandi sementara gw terbang kembali ke alam mimpi. Setelah Didito selesai, giliran gw mandi dan ketika gw keluar kamar mandi, gw melihat Didito sedang menekuri tabletnya. Rupanya dia sedang menunggu konfirmasi dari Bang Ratha.

Awalnya kami memberi tahu Bang Ratha untuk menjemput kami pukul 5 tepat. Namun malam sebelum tidur gw dan Didito sempat ngobrol perihal waktu subuh karena berkaitan erat dengan waktu keberangkatan kami hari ini. Setelah browsing sana sini, kami menyimpulkan bahwa untuk amannya lebih baik kami shalat subuh sekitar pukul 5 lewat 5 menit. Ini berarti terdapat perubahan jadwal keberangkatan, yang awalnya direncanakan pukul 5 tepat menjadi pukul 5 lewat 15 menit. Hasil diskusi itu Didito sampaikan pada Bang Ratha melalui email. Soal komunikasi jadwal dan itinerary dengan Bang Ratha, memang Didito yang banyak in charge karena memang sudah Didito yang menghubungi si abang tuktuk sejak pertama kali kami hunting tuktuk driver. Nah hingga saat gw selesai mandi itu, sepertinya Bang Ratha belum membalas email Didito. Sebenarnya bukan apa-apa sih, cuma kan nggak enak aja kalau dia terlalu lama menunggu. Biarpun dia laki-laki, dia kan juga butuh kepastian *eh* *fokus mulai menyimpang*

Setelah menunaikan shalat subuh, pukul 5:20 kami turun dan langsung disambut senyum manis dan wajah penuh aura kesabaran milik Bang Ratha. Kalimat sambutannya, kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, adalah, “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak? Sudah shalat?”

Pukul 5:25 kami memulai perjalanan. Langit masih gelap dan sekitar hotel masih sepi, namun 10 menit kemudian saat kami sampai di check point alias tempat pemeriksaan tiket, antrian wisatawan baik yang hanya ticket checking ataupun yang baru mau membeli tiket sudah mengular. Tuktuk kami ikut berbaris diantara tuktuk lainnya, mobil berjenis elf, ataupun mobil setipe sedan dan bus-bus pariwisata yang bentuknya masih kotak-kotak semua. Karena kami sudah membeli tiket sehari sebelumnya, kami tidak perlu mengantri lama ataupun turun dari tuktuk. Para pemeriksa tiket mendatangi tuktuk kami, mencocokkan wajah kami dengan foto pada tiket, melubangi tiket dan beralih pada tuktuk berikutnya.

Dari check point, Bang Ratha segera melaju menuju destinasi pertama. Trauma akan lamanya perjalanan ke Banteay Srei yang bagaikan Depok ke Kelapa Gading membuat kami sempat bertanya-tanya berapa lama perjalanan kali ini akan memakan waktu. Alhamdulillah, dengan tetap sabar dan penuh ketenangan, dalam waktu 15 menit Bang Ratha berhasil membawa kami melihat satu bangunan yang dari jauh tampak seperti gunungan dalam dunia perwayangan. Seperti biasa, Bang Ratha mencari parkiran sementara kami segera berhamburan turun dari tuktuk dengan penuh antusias. Saat itu pukul 5:50 dan langit masih tetap gelap. Akhirnya kami sampai di tujuan utama dari seluruh rangkaian Siem Reap Trip ini.

Angkor Wat
Konon, belum sah ke Siem Reap kalau belum ke Angkor Wat dan menyaksikan matahari terbit dari baliknya. Dan itulah yang kami lakukan pagi itu. Turun dari tuktuk, kami bergabung dengan wisatawan lain berjalan menapaki jalan lurus bebatuan di tengah kegelapan. Biarpun hampir pukul 6 pagi, tapi semburat sinar matahari belum juga tampak, sementara turis-turis terus berdatangan. Hati-hatilah melangkah di keramaian tanpa cahaya seperti itu, apalagi kita masih harus beradaptasi dengan suasana sekitar.

Gw dan Didito yang berjalan mendahului Vika dan Dani langsung bereaksi mendengar ada orang selain kami bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Ketika kami menoleh mencari sumber suara, ternyata suara-suara itu datang dari Vika dan Dani yang sedang menjerat mangsa terbaru berbincang-bincang dengan akrabnya dengan seorang laki-laki yang sampai detik ini tidak kami ketahui tampan atau tidaknya *eh* *ya gelap kakaaaaakkk, apa yang mau keliatan sih* *tapi kalau melihat siluet tubuhnya dalam keremangan sih ya kayaknyaaaaa… hmm…* *tibatiba Bang Ratha terlupakan*

Si cowok berinisial H suspect brondong kedemenannya Vika itu ternyata seorang solo traveller yang sampai ke Siem Reap melalui jalur darat dari Phnom Penh. Seperti biasa, default magnet gw adalah ‘cepat akrab sama cowok TAPI cepat dilupakan juga’. Maka tanpa perlu berlama-lama, hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk melewati jalan lurus berbatu memasuki kompleks Angkor Wat dan melewati reruntuhan pertama, kekompakan kami segera terjalin. Terbukti dengan kesamaan jawaban kami ketika Vika bertanya dimanakah spot terbaik untuk mengambil foto, dan dengan penuh keyakinan, gw dan dedek H sama-sama menjawab, “sebelah kiri!”
Dan gw segera dilupakan karena dedek H kembali merapat pada Vika dan Dani. Mungkin dia lelah… atau mungkin dalam kegelapan pun dia bisa melihat mana yang ramping dan mana yang bagaikan logo ban Michelin *pecahkan cermin* *histeris*

Begitu kami keluar dari reruntuhan gerbang Angkor Wat, terpampanglah di hadapan kami siluet Angkor Wat dengan lima menara berundaknya berdiri megah menjulang dengan latar langit mendung abu-abu pagi itu. Sudah terbayang cantiknya pemandangan kala matahari terbit.

Dan bayangan itu pun buyar seketika saat melihat padatnya manusia memenuhi tanah lapang dan pinggiran kolam yang terbentang dihadapan kami. Sama ketika mengejar sunset di Phnom Bakheng sehari sebelumnya, saat itu seluruh sudut terbaik dan titik tertinggi sepertinya sudah ada yang punya, kami hanya bisa bergerilya mencari spot-spot kosong yang tersisa dan berupaya mengambil gambar sebaik yang kami mampu. Vika segera mendirikan tripod dan melupakan sekelilingnya, sementara gw, Didito, dan Dani juga berjuang mencari pijakan sendiri-sendiri dicelah-celah manusia lain yang sibuk dengan kamera atau pasangan masing-masing. Ada yang siap tempur di pinggir kolam lengkap dengan tripod, ada pula yang menggendong pasangannya di pundak agar si pasangan bisa mengambil gambar tanpa terhalang kepala-kepala turis lain yang makin lama makin membludak. Spot terbaik untuk menikmati sunrise memang dipinggir kolam sebelah kiri. Namun tampaknya untuk bisa mendapatkan lokasi itu kita perlu menginap atau setidaknya berangkat dini hari. Langit mendung sehingga matahari yang muncul tampak tak bersemangat, serta pengunjung yang penuh sesak sehingga cantiknya Angkor Wat tertutupi kilatan blitz atau cahaya dari LCD kamera atau bahkan tubuh manusia membuat kami pasrah dan akhirnya menyibukkan diri dengan melakukan wefie atau memperhatikan sekeliling kami di mana banyak sekali pedagang menawarkan dagangannya, mulai dari souvenir berupa magnet kulkas atau syal seharga USD 1 hingga cup noodle dan kopi instan. Sepertinya mereka aware sekali bahwa para turis yang bela-belain nyubuh di Angkor Wat ini kemungkinan besarnya ya belum sarapan dan ngantuk karena lelah dan kurang istirahat. Gw memperhatikan, para pedagang lebih suka menghampiri turis-turis bertampang bule dibandingkan wajah-wajah eksotis nan ayu seperti Vika, Dani, dan Didito, atau yang cantik manis khas Asia Timur seperti gw *eeehh*
Tentu bukan karena para bule lebih cantik atau tampan, tapi karena mereka diduga kuat hampir pasti lebih kaya daripada turis Asia Tenggara yang lebih sering dianggap sebagai turis kismin dari negara berkembang. Kenyataannya kami memang masih butuh nabung berbulan-bulan untuk bisa jalan-jalan itupun dengan budget pas-pasan. Satu hal lain yang lucu dari para pedagang itu, mereka selalu memperkenalkan diri dengan nama-nama fiktif, seperti “Hi! My name is Harry Potter!” atau “Rambo” atau apapun yang terbersit dipikiran mereka.

And finally it’s time to upgrade a little knowledge in brief!
• Angkor Wat yang didirikan pada abad ke-XII merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia. Dibangun oleh King Suryavarman II sebagai candi Hindu dalam waktu kurang dari 40 tahun sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu.
• Nama Angkor Wat berarti ‘City of Temples’, pernah menjadi ibukota Kerajaan Khmer.
• Angkor Wat yang terdiri dari 5 menara yang berbentuk seperti gunung merepresentasikan Gunung Meru yang dipercaya sebagai rumah para dewa dalam kepercayaan Hindu.
• Angkor Wat memiliki 3 tingkatan candi, di mana di tingkat pertama dinding candi berhiaskan relief Apsara, cerita-cerita mitologi Hindu, pembangunan Angkor Wat, dan perang dengan Kerajaan Champa.
• Pada akhir abad ke-XIII atau awal abad ke-XIV diubah menjadi candi Buddha, dan bertahan hingga kini.
• Berbeda dengan sebagian besar candi-candi Khmer yang dibangun menghadap timur, Angkor Wat dibangun menghadap barat.
• Keruntuhan Kerajaan Khmer diduga disebabkan oleh perang dan eksploitasi berlebih atas lahan. Selain itu diduga pula kekeringan berkepanjangan menjadi penyebabnya.
• Indonesia dan Kamboja telah setuju untuk menjadikan Candi Borobudur dan Angkor Wat sebagai sister sites, sementara Yogyakarta dan Siem Reap menjadi sister provinces. Atas dasar tersebut, beberapa maskapai Indonesia mulai mempertimbangkan untuk membuka jalur penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Siem Reap.

Menjelang pukul 6:30 barulah matahari mulai menampakkan wujudnya, itu pun masih malu-malu. Dengan terus-menerus memupuk kesabaran, kami menghabiskan waktu hingga pukul 7 untuk mengabadikan momen-momen bola pijar itu naik ke angkasa.

Angkor Wat #1 - masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung

Angkor Wat #1 – masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung


Angkor Wat #2

Angkor Wat #2


Angkor Wat #3

Angkor Wat #3


Angkor Wat #4

Angkor Wat #4


Angkor Wat #5

Angkor Wat #5


Angkor Wat #6

Angkor Wat #6


Angkor Wat #7

Angkor Wat #7


Angkor Wat #8

Angkor Wat #8


Angkor Wat #9

Angkor Wat #9


Angkor Wat #10

Angkor Wat #10


Angkor Wat #11

Angkor Wat #11


Angkor Wat #12

Angkor Wat #12


Angkor Wat #13

Angkor Wat #13


Angkor Wat #14 - finally us!

Angkor Wat #14 – finally us!


Angkor Wat #15 - us again, black and white this time

Angkor Wat #15 – us again, black and white this time


Angkor Wat #16 - still us...

Angkor Wat #16 – still us…


Angkor Wat #17 - without Vika

Angkor Wat #17 – without Vika


Angkor Wat #18

Angkor Wat #18


Angkor Wat #19 - breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Angkor Wat #19 – breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Pukul 7 tepat, disaat pengunjung semakin dan semakin ramai, kami beringsut meninggalkan pekarangan Angkor Wat. Perjalanan kembali ke parkiran tempat Bang Ratha menunggu pun tidak berjalan cepat karena kami sering berhenti untuk mengambil foto. Menjelang pukul 7:30 kami bersua kembali dengan Bang Ratha yang sedang bersiap-siap menyantap sarapannya. Kami pun ikut membuka bekal yang dibungkuskan pihak hotel. Sambil mengunyah bekal masing-masing, kami berkonsultasi dengan Bang Ratha selaku satu-satunya anggota Dewan Pembina Siem Reap Trip, mana yang sebaiknya didahulukan, kunjungan ke Ta Phrom atau ke komplek Angkor Thom. Tanpa keraguan, Bang Ratha menjawab mantap, “Ta Phrom. Karena masih pagi, belum banyak turis yang datang. Bagus untuk foto-foto.”
So there we went.

Ta Phrom
Perjalanan dari Angkor Wat ke Ta Phrom memakan waktu 15 menit. Dalam perjalanan itu kami sempat melewati satu danau yang sangat cantik, terlihat seolah dalam lukisan karena dihiasi kabut tipis dan pepohonan yang seolah mengambang di atas permukaan air. Sayang kami tak sempat berhenti untuk memotret, tapi kami sepakat nanti saat pulang, kami harus mampir dan mengabadikan pemandangan indah itu.

Benar kata Bang Ratha, Ta Phrom kala pukul 8 pagi masih sepi. Kami bergegas menyusuri jalan tanah merah berdebu menuju reruntuhan kuil yang tampak teduh karena dipayungi banyak pohon rindang. Sebuah pohon dengan warna kulit keputih-putihan berdiri kekar dengan akar-akarnya mencengkram puing-puing reruntuhan candi. Ketika kami memasuki reruntuhan itu, ternyata itulah tempat paling terkenal di Ta Phrom: pohonnya Angelina Jolie. Gw melihat sekeliling dan terkesan, sungguh betapa perkasanya pohon-pohon yang mungkin sudah berusia ratusan tahun itu. Akar-akarnya menghujam tanah dan memeluk candi, seolah Ta Phrom ini dulunya terkubur dan kembali ditemukan. Gw membayangkan seperti apa kehidupan Kerajaan Khmer dulu, membangun begitu banyak monumen megah diatas lahan yang demikian luas, lalu tiba-tiba lenyap ditelan bumi dan baru kembali ke mata dunia berabad-abad kemudian.

Usai berfoto dengan tumbuhannya Lara Croft, kami melanjutkan eksplorasi ke bagian dalam candi yang sepertinya saat itu sedang mengalami pemugaran atau proyek restorasi. Kami bertemu satu lorong dengan langit-langit yang sangat tinggi. Batu-batu penyusunnya berwarna cokelat dan berpadu dengan warna hijau lumut. Kesan dingin, tua, mistis, dan misterius segera menyergap.

Selama berada di Ta Phrom, bisa dibilang kami kejar-kejaran dengan rombongan turis asal Korea. Kami berusaha menghindari mereka karena mereka cenderung ribut dan sering mendominasi spot-spot foto paling mutakhir. Dengan alasan itu pula kami memilih melipir ke satu lorong panjang yang sepertinya diabaikan wisatawan. Lorong atau mungkin lebih tepat dilihat sebagai selasar itu tampak sunyi, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tiang batu penopang candi membuatnya semakin terlihat sepi. Vika menganggap selasar itu sebagai spot yang sangat cantik untuk difoto. Berdasarkan penerawangannya, kami menghabiskan hampir 30 menit berikutnya untuk jepret sana sini.

Tapi selain tenar karena menjadi tempat syutingnya Tomb Raider, ada apa lagi kah tentang Ta Phrom?
• Ta Phrom dibangun oleh King Jayavarman VII sebagai sekolah dan biara Budha pada akhir abad ke-XII atau awal abad ke-XIII dan awalnya bernama Rajavihara.
• Ta Phrom didedikasikan untuk ibunda King Jayavarman VII.
• Ta Phrom dibangun menghadap ke arah timur.
• Dimasukkan ke dalam salah satu Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992.

Ta Phrom #1

Ta Phrom #1


Ta Phrom #2

Ta Phrom #2


Ta Phrom #3

Ta Phrom #3


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4

Ta Phrom #5 - with the Jolie's tree

Ta Phrom #5 – with the Jolie’s tree


Ta Phrom #6

Ta Phrom #6


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #8

Ta Phrom #8


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #9 - photo session

Ta Phrom #9 – photo session


Ta Phrom #10 - photo session

Ta Phrom #10 – photo session


Ta Phrom #11 - Vika took a shot

Ta Phrom #11 – Vika took a shot


Ta Phrom #12

Ta Phrom #12


Ta Phrom #13

Ta Phrom #13

Berminggu-minggu setelah kami sampai kembali ke Indonesia, Vika menyadarkan gw bahwa kami TERNYATA telah MELEWATKAN BEBERAPA pohon Lara Croft lainnya. Jadi selain pohon tempat kami dengan bangganya berfoto sebagai bukti sahih bahwa kami pernah menginjakkan kaki di Ta Phrom, ternyata masih ada tiga atau bahkan lebih *!!!* akar-akar pohon yang melegenda itu dan kami melewatkannya begitu saja karena ketidaktahuan kami. Aaaaarrrggghhh!!! keliatan banget deh kurang risetnya, dan yang jelas itu ya nyesel banget banget banget! Gw pribadi jadi merasa malu selama ini sudah menyandang predikat sebagai ‘itinerary berjalan’. Pada akhirnya, penyesalan ini melahirkan percakapan random antara gw dan Vika:
“Ya udah sih Vik, kita ke sana lagi deh, khusus untuk mendatangi pohon-pohon yang kelewat. Tapi biar mantep sekalian ke Phnom Penh juga.”
“Sewa Bang Ratha sehari cukup kali yeee…”
“Hooh. Ke Siem Reap khusus cuma ke Ta Phrom. Nah kan bisa mampir ke Laos juga.”
“Gw pengen ke Vietnam juga”
“Iiiiihhh… ke Filipina juga bok!. Kedengerannya keren gitu, anti mainstream!”
“Kira-kira butuh berapa hari ya Ke?”
“Ah tapi gw penasaran sama Timor Leste dan Brunei juga, Vik”

Bayon
Hanya sekitar satu jam kami di Ta Phrom, karena niat mulianya memang cuma ingin berfoto bersama tumbuhan Angelina Jolie *mureeeeehhh bener ya tujuannya*
Pukul 9 kami kembali ke pelukan tuktuk Bang Ratha dan 20 menit kemudian Bang Ratha menepikan tuktuknya. Belum sempat kami turun, Bang Ratha dengan sigap mengambil peta Angkor Archaelogical Park yang diselipkan di langit-langit tuktuknya dan segera menjelaskan rute yang harus kami tempuh untuk menuntaskan komplek Angkor Thom ini. “This is East Gate of Angkor Thom,” katanya menerangkan posisi kami saat itu, dan dia mengingatkan kami bahwa dia akan menunggu di dekat Terrace of the Leper King. Itu berarti kami harus keluar di North Gate-nya Bayon. Kenapa dia menunggu kami di sana, karena kalau mengikuti rute yang dia anjurkan, saat kami sampai kembali itu berarti kami sudah khatam keliling komplek Angkor Thom yang berturut-turut dimulai dari Bayon, Baphuon, Royal Palace area, Phimeanakas, Terrace of the Elephant, and last but not least Terrace of the Leper King. Angkor Thom itu sendiri merupakan satu komplek yang berdiri diatas tanah seluas 9 km2 dan terdiri dari beberapa monumen. Didirikan pada akhir abad ke-XII sebagai ibukota kerajaan pada masa King Jayavarman VII.

Seiring masuknya kami ke dalam Bayon, turis-turis pun semakin ramai memenuhi pelataran candi. Di tiap sudut, di tiap puing reruntuhan, di tiap sisi dinding penuh ukiran, seluruh pengunjung berlomba-lomba berpose dan mengabadikan kenangan. Gw berusaha untuk tetap menempel dengan tiga serangkai karena akan sangat merepotkan kalau ada salah seorang diantara kami yang terpisah. Ketika kami naik hingga ke bagian atas Bayon, hal ini agak sedikit menyusahkan karena empat sekawan ini punya selera yang berbeda-beda mengenai objek foto dan bawaannya pengen mencar-mencar aja sih sebenernya.

Bayon mungkin bisa dibilang sebagai candi yang paling unik karena memiliki 37 menara *ada juga yang mengatakan 54 menara* dan beberapa diantaranya berpahatkan empat wajah yang tersenyum. Beberapa kisah meyakini bahwa pahatan wajah itu adalah penggambaran King Jayavarman VII, ada juga yang mengatakan bahwa pahatan itu adalah pahatan wajah Buddha, atau wajah Avalokitesvara atau Lokesvara. Bayon memang dibangun secara khusus untuk Buddha.

Bayon #1

Bayon #1


Bayon #2

Bayon #2


Bayon #3

Bayon #3


Bayon #4

Bayon #4


Bayon #5

Bayon #5


Bayon #6

Bayon #6


Bayon #7

Bayon #7


Bayon #8 - Vika & Uninuna's photo session

Bayon #8 – Vika & Uninuna’s photo session


Bayon #9 - Jendela Rumah 3 Serangkai

Bayon #9 – Jendela Rumah 3 Serangkai


Bayon #10 - how people survive life

Bayon #10 – how people survive life


Bayon #11 - vika

Bayon #11


Bayon #12 - vika

Bayon #12 – vika


Angkor Thom Complex Map

Angkor Thom Complex Map

Selama kurang lebih satu jam kami mengelilingi Bayon dan sepakat untuk mengakhiri kunjungan. Kami pun mencari jalan ke arah North Gate, dan menyempatkan diri berbelok ke kiri. Mengunjungi Baphuon.

Baphuon
Untuk sampai ke Baphuon, pengunjung harus melewati jalan lurus semacam jembatan yang ditopang ratusan pilar batu. Sebelum sampai ke sana, kami melakukan satu hal yang mungkin tidak boleh dilakukan demi menjaga kelestarian candi. Kami sempat berhenti sejenak dan duduk bersender pada salah satu bangunan yang sepertinya merupakan reruntuhan gapura Baphuon. Maafkanlah… cuaca siang itu sangat panas dan setelah berjalan berjam-jam sejak pagi keluar masuk dan mengelilingi candi-candi lainnya, rasa-rasanya kami mulai tumbang, apalagi air minum yang kami bawa sudah habis tak bersisa. Mudah-mudahan saja Bang Ratha membawa air minum cadangan di tuktuknya.

Selang beberapa menit kemudian kami melangkahkan kaki melewati jembatan dan ketika sampai di ujung jembatan, oh… ternyata kami harus kembali menaiki tangga untuk bisa menikmati Baphuon. Vika langsung melipir ke tempat yang agak teduh dan disana kami berdiskusi. Akhirnya disepakati bahwa kami tidak akan mengeksplorasi Baphuon dan sebaiknya langsung ke parkiran mencari Bang Ratha. Bahkan dalam perjalanan kembali ke ujung jembatan di awal pun, kami masih beberapa kali berhenti, entah mengambil foto atau mengistirahatkan kaki sejenak. Saat itu menjelang pukul 12 siang, matahari sedang berada dipuncak kegarangannya.

• Pada masanya dikenal sebagai Menara Perunggu Keemasan yang Menakjubkan, sebagaimana dikisahkan oleh utusan Kaisar Chengzong dari China yang datang pada akhir abad ke-XIII.
• Memiliki sebuah jembatan batu yang ditopang ratusan pilar batu yang ditata secara menakjubkan.
• Beraliran Hindu dan didedikasikan untuk Dewa Siwa, namun disisi barat terdapat patung raksasa Buddha tidur yang ditambahkan pada abad ke-XVI. Hal ini disebabkan oleh dialihkannya Baphuon menjadi candi beraliran Buddha pada akhir abad ke-XV.
• Dibangun oleh King Suryavarman I dan diselesaikan oleh King Udayadityavarman II pada abad ke-XI.
• Walaupun berada di dalam kompleks Angkor Thom, namun Baphuon dibangun sebelum kompleks Angkor Thom didirikan.

Baphuon #1

Baphuon #1


Baphuon #2

Baphuon #2


Baphuon #3

Baphuon #3


Baphuon #4

Baphuon #4


Baphuon #5

Baphuon #5

Keluar dari Baphuon dan berjalan ke arah kiri, gw tertinggal jauh dari Vika, Didito, dan Dani, yang dengan kecepatan ekspres berjalan sambil celingak-celinguk mencari Bang Ratha. Sebenarnya gw tertinggal karena gw masih saja menyempatkan diri berhenti dan memperhatikan reruntuhan candi yang berada di sisi kiri jalan berupa dinding panjang yang dipenuhi relief berbentuk belalai gajah, tak lupa mengambil sedikit gambar dari reruntuhan yang dikenal dengan nama Terrace of the Elephant itu. Terrace of the Elephant digunakan oleh King Jayavarman VII sebagai tempatnya melihat bala tentaranya yang pulang dari medan pertempuran membawa kemenangan.

Terrace of Elephant #1

Terrace of Elephant #1


Terrace of Elephant #2

Terrace of Elephant #2

Selain Terrace of the Elephant, reruntuhan lain yang ada disekitarnya adalah Phimeanakas dan Terrace of the Leper King. Bersama Terrace of the Elephant, mereka menempati satu situs yang dikenal sebagai area Royal Palace.
Secara singkat, Phimeanakas adalah candi Hindu yang dibangun pada akhir abad ke-X pada masa pemerintahan King Rajendravarman, dan dibangun kembali oleh King Suryavarman II. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Phimeanakas dibangun pada awal abad ke-XI oleh King Jayavarman V dan King Udayadityavarman I. Sementara Terrace of the Leper King dibangun pada masa King Jayavarman VII, dan konon dinamai sebagai Terrace of the Leper King karena dua hal. Pertama, lumut yang tumbuh memenuhi bebatuan candi berwarna kehitaman yang mengingatkan pada penderita kusta, dan kedua, ada legenda yang menyebutkan bahwa salah satu raja Angkor yaitu King Yasovarman I mengidap penyakit kusta.

Sementara di sisi kiri jalan adalah reruntuhan kuil, maka sisi kanan jalan adalah tanah lapang yang dijadikan tempat parkirnya tuktuk-tuktuk dan bus-bus pariwisata. Gw menyusul Vika, Didito, dan Dani yang sudah bertemu Bang Ratha dan saat itu sedang sibuk dengan minuman masing-masing. Setelah briefing singkat dengan Bang Ratha, kami meninggalkan kompleks Angkor Thom menuju kota untuk makan siang, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar.

Menuju Parkiran Tuktuk

Menuju Parkiran Tuktuk


Tempat Tuktuk Mangkal

Tempat Tuktuk Mangkal


Keluar dari Komplek Angkor Thom

Keluar dari Komplek Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Mystical Lake #1

Mystical Lake #1


Mystical Lake #2

Mystical Lake #2


Mystical Lake #3

Mystical Lake #3


Map of Angkor Archaeological Park #1

Map of Angkor Archaeological Park #1


Map of Angkor Archaeological Park #2

Map of Angkor Archaeological Park #2

Cambodian Muslim Restaurant
Bang Ratha menjanjikan akan membawa kami ke restoran halal lainnya yang dia tau. Maka siang itu kami berhenti di satu tempat makan yang ternyata berjarak hanya beberapa meter dari restoran yang kami singgahi sehari sebelumnya.
Sama seperti restoran terdahulu, gambar makanan yang terdapat dalam menu Cambodian Muslim Restaurant ini pun tidak menggugah selera makan. Hasil investigasi pada pelayan dan tebak-tebak buah kuncup menghasilkan pesanan-pesanan yang mudah-mudahan saja enak rasanya.

Samlor Korkoh with Beef, Lok Lak Beef, Fried Mixed Vegetable with Shrimp, 3 piring nasi putih, 2 buah kelapa segar, 1 ice milo *udah ketauan ya ini pesenan siapa* dan 1 ice Cambodian tea with milk, cukup untuk mengenyahkan rasa lapar. Kalau dari segi rasa ya sudah sih nggak usah dibahas ya boookkk, Alhamdulillah masih bisa makan, halal pula. Kalau belum puas kan masih bisa makan pisang sepuasnya di hotel nanti :mrgreen:

Cambodian Muslim Restaurant - facade

Cambodian Muslim Restaurant – facade


Cambodian Muslim Restaurant - inside

Cambodian Muslim Restaurant – inside


Fried Mixed Vegetables with Shrimp

Fried Mixed Vegetables with Shrimp


Lok Lak Beef

Lok Lak Beef


Samlor Korkoh Beef

Samlor Korkoh Beef


Kelapa Muda

Kelapa Muda

Sekitar pukul 12:45 kami segera kembali ke hotel. Gw dan Didit langsung tertidur pulas, dan sepertinya begitu pula Vika dan Dani. Dani bahkan membatalkan niatnya untuk mencoba pijat refleksi yang disediakan secara cuma-cuma oleh pihak hotel. Setelah tidur siang selama satu sampai satu setengah jam, gw dan Didito memaksakan diri untuk bangun. Bang Ratha berjanji menjemput kami pukul 15:00. Kami masih belum puas dengan sunrise pagi tadi. Maka ke Angkor Wat kami kembali.

Angkor Wat, sore hari
Jangan dikira Angkor Wat hanya laku saat subuh dan pagi hari. Sore hari pun candi dengan siluet mengagumkan ini tetap menarik para pengunjung. Dan walaupun sudah pukul 15:30, matahari masih tetap terik. Keluar dari hotel masih segar, ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang membelai wajah saat berada di atas tuktuk. Tapi begitu turun dan melangkah ke dalam kompleks Angkor Wat, panas matahari seketika membuat kami kembali kuyup dengan keringat. Di hotel sih udah cuci muka dan bedakan lagi, tapi begitu nyampe depan candi langsung lepek, tak tersisa dempulan bedak sedikit pun. Jadi kalau kami tetap cantik saat di foto, percayalah itu karena kami memang sudah dari lahirnya cantik menarik menawan hati *walaupun sampe saat ini diduga kuat belum berhasil menawan siapapun* *eeehh*

Di Angkor Wat kami melewati area kolam yang saat pagi tadi dipenuhi turis yang berebut ingin melihat terbitnya matahari. Sore hari itu kami memulai dari sebelah kiri, menaiki tangga dan langsung bertemu lorong panjang yang dipenuhi relief. Berbelok ke kanan dan kembali bertemu dengan anak tangga, sementara sisi kanan dan kirinya adalah lahan hijau. Untuk masuk ke dalam area utama Angkor Wat, kami harus naik tangga itu. Setelah menaiki tangga dan berjalan mengikuti arus turis, kita akan bertemu area utama Angkor Wat. Sampai di situ, Vika langsung berkelana sendiri, sementara gw, Didito, dan Dani, kadang bersatu namun lebih sering bercerai. Walaupun begitu, kami tetap berupaya untuk tidak terpisah terlalu jauh atau terlalu lama. Risikonya terlalu besar kalau kami tercerai-berai di kompleks seluas Angkor Wat.

Gw dan Didito berjalan mondar-mandir menyusuri selasar yang mengelilingi menara utama Angkor Wat. Ada satu sudut yang membuat kami merinding. Saat lewat didepannya aura yang terasa sungguh berbeda. Kami cepat-cepat melangkah sambil berdzikir dan membaca Ayat Kursi. Menurut Dani yang memang sensitif, suasana di sekitar arca di sudut itu memang lain dari area lain disekitarnya, seolah bukan patung biasa tapi ada yang menghuninya.

Dari celah antar pilar yang mengelilingi selasar, gw melihat barisan panjang wisatawan yang mengantri untuk bisa menaiki tangga untuk dapat sampai ke puncak menara candi utama. Diperlukan kesabaran, stamina yang kuat, dan tekad yang besar untuk bisa menaklukkan puncak menara, karena sudut kemiringan tangganya tidak main-main. Tapi sepertinya hal itu bukan hambatan bagi para turis, terutama turis bule atau turis Asia Timur. Penuh semangat mereka mendaki, bahkan gw pun melihat banyaknya wisatawan yang sudah lanjut usia menuruni anak tangga setapak demi setapak. Cara turunnya pun, mungkin untuk mengusir kegamangan akan ketinggian, dilakukan sambil mundur. Gw, Didito, dan Dani, lebih memilih untuk duduk di tepi luar selasar sambil minum, kipas-kipas, dan berselonjor kaki. Kami bertekad menunggu Vika yang kabur sendirian entah ke mana. Setelah Alhamdulillah bertemu Vika, kami memutuskan untuk menyudahi acara Evening with Angkor Wat ini dan kembali ke kota. Tapi tentu saja, setiap melihat spot kosong kami selalu mampir, foto-foto, bahkan kembali ke area kolam untuk lagi-lagi mengambil gambar Angkor Wat secara keseluruhan. Saat kami sedang khusyu membidikkan kamera, beberapa anak kecil berambut merah dan berkulit coklat terbakar matahari menghampiri Didito. Penuh antusias mereka mengira bahwa Didito berasal dari Filipina.

Angkor Wat, sore hari #1

Angkor Wat, sore hari #1


Angkor Wat, sore hari #2

Angkor Wat, sore hari #2


Angkor Wat, sore hari #3

Angkor Wat, sore hari #3


Angkor Wat, sore hari #4

Angkor Wat, sore hari #4


Angkor Wat, sore hari #5

Angkor Wat, sore hari #5


Angkor Wat, sore hari #6

Angkor Wat, sore hari #6


Angkor Wat, sore hari #7

Angkor Wat, sore hari #7


Angkor Wat, sore hari #8

Angkor Wat, sore hari #8


Angkor Wat, sore hari #9

Angkor Wat, sore hari #9


Angkor Wat, sore hari #10

Angkor Wat, sore hari #10


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #13

Angkor Wat, sore hari #13


Angkor Wat, sore hari #14

Angkor Wat, sore hari #14

Kembali ke kota
Siang seusai dari Angkor Thom, gw sempat bertanya pada Bang Ratha apakah dia tau di mana Hard Rock Café berada. Niatnya apa lagi kalau bukan mencari oleh-oleh. Kalau ditanya kenapa Hard Rock Café, jawabannya ada dua. Satu, gw tidak menemukan kaus dengan material bahan dan sablon bergambar khas Kamboja dengan kualitas yang oke di Angkor Night Market. Dua, kalau ada starbucks, gw pasti melipir ke sana demi tumbler-nya dan nggak bakalan lirik-lirik Hard Rock Café. Lha emangnya Hard Rock Café ada tumbler-nya? Nggak sih… lalu, cari oleh-oleh untuk siapa kah? Ya untuk our beloved ones laaahh… nggak perlu di mention nama-namanya. Hihihi… Kalo ngerasa, syukur… nggak ngerasa ya… nggak syukur *apa sih apa sih apa sih*

Maka jadilah kami singgah sejenak ke Hard Rock Café yang berlokasi tak jauh dari Old Market. Nggak pake lama kami langsung cabut. Harga t-shirt-nya lumayan bikin mikir berjuta kali buat beli. Rata-rata sehelai kaus dihargai USD 28 hingga USD 35. Bang Ratha, yang ikut mengawal kami hingga ke dalam toko, langsung shock melihat tag price-nya. Sedikit berlari kami menyebrangi jalan raya dan masuk ke satu toko yang menjual kaus dengan merk ‘Papaya’. Di sini, hanya Dani yang sukses menenteng belanjaan. Sayang sekali kaus yang gw taksir tidak tersedia dalam ukuran super besar. Susah juga punya adik ukuran jumbo *eh*

Selesai urusan perkausan, sesuai rencana Bang Ratha pun menurunkan kami di Angkor Night Market. Gw dan Didito sudah bertekad, apapun yang terjadi, kami akan mencoba beberapa makanan yang berjejer di sepanjang Angkor Night Market dan Pub Street. Pokoknya ini waktunya jajaaaaannn!!!

Makanan pertama yang berhasil mencuri perhatian Didito adalah Bok L’Hong. Bok L’Hong adalah salad khas Kamboja yang berisi papaya muda, basil, kol, saus ikan, tomat, jeruk nipis, cabai, dan… kepiting *walaupun gw curiga itu sebangsa cumi-cumi atau gurita*
Rasanya adalah perpaduan antara pedas, gurih, dan asam-asam segar, memang unik! Vika dan Didito seketika jatuh cinta pada makanan ini. Sementara gw? Keberadaan makhluk laut didalamnya membuat gw menolak suapan ke dua.

Gerobak kaki lima berikutnya yang kami singgahi adalah mas-mas penjual Banana Pancake. Biarpun judulnya banana pancake tapi tersedia beberapa topping lainnya dan tidak melulu memakai pisang. Ada topping pisang, telur, coklat, nutella, milo, susu, dan gula. Lumayan juga rasanya untuk makanan seharga USD 1.

Cemilan terakhir adalah Magic Stick Ice Cream. Hal unik dari es krim ini adalah cone-nya yang berbentuk seperti gagang payung. Rasa es krimnya sih biasa saja, malah menurut gw sih kurang terasa susunya. Masih lebih enak es krim cone-nya McDonalds *lho kok*

Berikutnya kami kembali ke Angkor Night Market setelah malam sebelumnya juga mampir ke sini dan gw sempat galau apakah akan membeli beberapa scarf lagi atau tidak. Di kios bagian depan, sehelai syal berbahan sutra palsu dibuka dengan harga USD 10, sementara di lapak bagian belakang ditawarkan seharga USD 5/helai dan mentok di USD 10/3 helai. Masih tetap bingung, gw akhirnya memutuskan untuk tidak membeli syal-syal tersebut. Cukuplah krama hasil perburuan kemarin malam.

Keluar dari Angkor Night Market tanpa tambahan tentengan, kami menemukan pedagang magnet di pinggir jalan yang, berdasarkan pengamatan kami dari lapak ke lapak, menawarkan magnet kulkas dengan kualitas yang agak lumayan. Ada kualitas, ada harga. Si penjual keukeuh tidak mau menurunkan harga jual sebesar USD 1,5 untuk sebuah magnet. Ya sudahlah, terima nasib aja. Kami memang nggak melihat magnet ‘sebagus’ itu selama muter-muter di Angkor Night Market, jadi kami memasrahkan diri mengeluarkan lembaran USD demi seonggok souvenir. Anyway when you’re traveling, do not convert whatsoever into IDR. Walaupun kalo di kurs ke rupiah, agak-agak bikin gondok juga sih *teteuuupp*

Melanjutkan petualangan di malam terakhir di Siem Reap, kami masuk ke Siem Reap Night Market yang berukuran lebih kecil dan lebih rapih daripada Angkor Night Market. Akhirnya disinilah kami berhasil menemukan magnet kulkas yang paling cocok di hati. Magnet berbentuk peta Kamboja ini ditawarkan seharga USD 3/buah dan… cuma bisa turun USD 0,5. Dan di semua toko, si magnet ini mentok di harga USD 2,5/buah. Cakep banget sih kamu, Siem Reap!
Alasan si dedek brondong yang menjaga kios, magnet ini berbeda dari yang lainnya. Produsen magnet ini berasal dari Amerika sehingga harga magnet pun ikut terkatrol walaupun dibuatnya ya di Kamboja Kamboja juga. Sampai sekarang gw masih gagal paham apa hubungan orang Amerika sama harga magnetnya.

Sebelum kembali ke hotel, kami memutuskan untuk ngupi-ngupi cantik di The Blue Pumpkin, yang konon digadang-gadang sebagai salah satu café paling happening di Siem Reap, tempat ngumpulnya para ekspat. Didito, seperti biasa mencoba menu yang tampak aneh: Mango Melba, dengan rasa yang ternyata… juga aneh :mrgreen:
Vika tergoda eclairs yang ternyata biasa saja, sementara gw, karena belum ketemu kopi seharian itu, tentu saja memesan segelas cappuccino dingin. Mmm… kopi Kamboja memang mantap!

Dan akhirnya, kami menamatkan hari itu dengan bersantai sejenak di ruang makan hotel. Sementara Vika dan Dani menyantap cup indomie *seriously it was our indomie!* yang dibeli di salah satu convenience store di Pub Street, Didito menyeruput teh, gw berkali-kali bolak-balik ke mini bar untuk mengambil pisang. Hampir pukul 22:30, kami beranjak ke kemar masing-masing dan memulai packing. Besok sudah saatnya kembali ke tanah air.

Bok L'Hong Seller @Pub Street

Bok L’Hong Seller @Pub Street


Bok L'Hong - Cambodian Salad

Bok L’Hong – Cambodian Salad


Pancake Banana Seller #1

Pancake Banana Seller #1


Pancake Banana Seller #2

Pancake Banana Seller #2


Pancake Banana Seller #3

Pancake Banana Seller #3


Magic Stick Ice Cream

Magic Stick Ice Cream


Vika is feeling ~meh

Vika is feeling ~meh


Didito's Mango Melba @the Blue Pumpkin

Didito’s Mango Melba @the Blue Pumpkin

Pengeluaran:
.Samlor Korkoh Beef USD 4
.Lok Lak Beef USD 4
.Fried Mixed Vegetable with Shrimp USD 3
.Nasi Putih USD 0,50
We shared foods and rice so each shall pay USD 3
.Fresh Coconut USD 1 (Didito’s & Vika’s)
.Ice Cambodian Tea with Milk USD 0,75 (Dani’s)
.Ice Milo USD 0,75
.Magnet bakar USD 1,5
.Rubber fridge magnet USD 2,5
.Ice Cappuccino @the Blue Pumpkin USD 2,25
.Magic Stick Ice Cream USD 2
.Pancake Banana Nutella USD 1

[Mujigae]

Nggak tau kesambet apa-apa tiba-tiba gw kangen si Vika. Alhamdulillah nggak bertepuk sebelah tangan karena si Vika pun ternyata kangen sama gw *eh* *yakan di mana-mana yang namanya ditolak itu nggak enak ya mbaksist*
Jadilah kami mengatur waktu untuk mabuk-mabukan. Tak lupa Didito dan Dani diikutsertakan.

Gw yang paling bersemangat segera bergerak menentukan meeting point, yang seperti biasa hampir pasti selalu di Depok. Ya mau gimana lagi, kantor kami berempat berjauhan, agak susah kalau mau ketemu di Jakarta. Paling mudah memang bertemu di wilayah Depok yang memang sudah jadi wilayah jajahan masing-masing sedari orok. Pilihan kali ini jatuh pada makanan Korea. Maka marilah kita menyambangi Mujigae, yang terhitung baru membuka gerainya di Margo City, mall paling heitz se-Depok Raya.

Begitu memasuki tempat, pelayan langsung menyapa kami dengan salam khas Korea. “Annyeonghasimnika!”

Inside #1

Inside #1

Inside #2

Inside #2

Inside #3

Inside #3

Setelah kami duduk, mbak-mbak pelayan dengan sigap memberikan buku menu dan menerangkan tata cara pemesanan yang sungguh canggih, di setiap meja disediakan iPad dimana pengunjung tinggal memilih menu yang ingin dipesan beserta jumlahnya. Tinggal klik klik klik, order terkirim dan tunggu beberapa menit, pesanan pun segera terhidang di meja. Nggak perlu mencari-cari mbakmas pelayan dan nggak perlu merasa nggak enak kalau lama memilih menu. Efektif dan efisien.

Menu, masih konvensional

Menu, masih konvensional

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Didito on 'How to Order Your Food'

Didito on ‘How to Order Your Food’

Vika on 'How to Order Your Food'

Vika on ‘How to Order Your Food’

Sejak menentukan Mujigae sebagai meeting point, kami langsung kasak-kusuk cari tau soal menu. Nggak heran kami tidak perlu berlama-lama memilih makan malam saat itu. Didito langsung memesan Bulgogi Bibimbap untuk makanannya dan Lemon Sea Salt sebagai minumannya. Vika memilih Classic Ramyeon dan mencoba Choco Banana Milk with Nutella Pudding untuk melepas dahaga. Gw mantap memilih Bibimyeon feat. Tokochi dan ended up dengan Banana Milk with Matcha Pudding untuk minumannya. Kami pun sepakat memesan Original Tteokbokki sebagai cemilan.

Sekitar 10 menit menunggu, pesanan pun datang. So here we go.

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Tteokbokki mungkin bisa dibilang sebagai salah satu cemilan paling terkenal dari Korea. Terbuat dari tepung beras dan disajikan bersama odeng alias fish cake dan saus pedas manis yang kental, enaknya disantap panas-panas.

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Bibimbap adalah makanan khas Korea dimana nasi dihidangkan bersama soy sauce, diberi topping daging yang dicincang, sayur-sayuran, telur ayam setengah matang, dan yang paling penting: gochujang, pasta sambal yang fungsinya membuat enak si bibimbap. Satu lagi yang khas dari Bibimbap adalah cara makannya. Semua diaduk rata jadi satu.

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Sama seperti bibimbap, Bibimyeon dimakan dengan cara mencampur dan mengaduk rata semua yang terhidang di mangkuk. Bedanya, dasar dari bibimbap adalah nasi, sementara dasar bibimyeon adalah mie. Selain itu, pada bibimbap, gochujang adalah elemen penting, sementara bibimyeon tidak menggunakan gochujang. Selain cacahan daging sapi cincang, ada pula topping sayuran, fish cake yang dipotong tipis-tipis dan digoreng garing, dan telur rebus yang dibalut tepung dan digoreng. Sebagai side dish, disajikan tokochi, yaitu kue beras yang digoreng garing. Hmm… I prefer the original tteokbokki to tokochi.

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Bagi gw, Ramyeon tidak ada bedanya dengan mie tektek. Di beberapa tempat di Korea, dalam Ramyeon dimasukkan juga kue beras. Disajikan dalam panci aluminium, Ramyeon nikmat disantap saat dingin. Sayangnya, menurut Vika, Ramyeon pilihannya itu agak sedikit lodoh.

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091" width="768" height="419" /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091″ width=”768″ height=”419″ /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Baik choco banana milk ataupun banana milk, bagi gw rasa susu dan buahnya kurang mantap. Sementara Lemon Sea Salt-nya… menurut Didito, rasanya unik. Asam lemonnya pas dan enak, tapi butiran kasar sea salt-nya sungguh asin. Dan yang mana sea salt-nya? Itu lho, yang menyerupai krim berwarna kuning, yang kami salah duga sebagai es krim pada mulanya.

Dani yang terlambat datang hanya memesan Korean Tea dan memilih menghabiskan tteokbokki kami. Mungkin karena sedang berbahagia, Dani yang biasanya harus makan makanan berat kali ini tidak terlalu ramai soal makanan, dan tetap tampak berseri-seri *silakan ditanyakan langsung ya kenapa-kenapanya*. Terus gimana rasa Korea Tea-nya?
Seruput pertama membuat Dani mengernyit. “Kayak air putih,” katanya. Lalu gelas besar berwarna hijau berisi air sedikit keruh itu pun bergilir pada Didito, Vika, dan terakhir gw.
“Rasanya nggak jelas, aneh!,” bingung si Didito.
“Air perasan daun sirsak,” kata Vika.
“Seperti kuah popmie rasa baso sapi,” gw berpendapat.
“Lah lo dulu apa nggak minum beginian?” tanya mereka bertiga.
“Ya maap, gw bukan penggemar teh. Selama di sana gw cuma minum air putih dan kopi, paling jauh minum banana uyu.” :mrgreen:

Well ya, secara garis besar, Mujigae yang dilengkapi dengan 2 layar tembak dari proyektor yang tak henti menayangkan girl band dan boyband asal Korea, bisa dibilang cukup nyaman sebagai tempat kumpul-kumpul. Harganya masih wajar dan pelayannya pun cukup ramah dan cekatan dalam menjelaskan segala sesuatunya. Mengenai rasa makanannya, I assume rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. It’s lighter yet somehow tastier. No fancy taste yet nice and acceptable. Kimchi yang selalu ada dan dihidangkan sebagai side dish di setiap menu disediakan dalam porsi kecil, dengan rasa asam yang sepertinya lagi-lagi sudah disesuaikan dengan cita rasa lokal.
However, I would like to go back there to taste another menu.

All price are subject to service charge and tax.

Siem Reap: Day 2 – Angkor National Museum, Lamb Climbing Mountain, Banteay Srei, Phnom Bakheng & Angkor Night Market

Terkaget-kaget gw terbangun mendengar bunyi alarm yang semakin lama semakin memekakkan telinga. Didito sudah beranjak ke kamar mandi sementara gw masih berusaha menikmati menit-menit terakhir bergelung dengan selimut. Pukul 01:30 dini hari. Dua jam juga belum ada kami menikmati tidur. Dengan mata terpejam gw berusaha mengumpulkan kesadaran *dan memperkuat niat* untuk bangkit, menyambar handuk dan menyeret langkah menuju kamar mandi.
“Lo mandi nggak, Dit?” gw bertanya pada Didito yang sudah keluar kamar mandi dan mulai membereskan tasnya. Didito menggeleng. Memang cocok kami menjadi teman sekamar. Gw pun sudah berniat tidak mandi. Lagipula gw baru saja mandi kurang dari dua jam yang lalu. At the end terungkap bahwa, di antara kami berempat hanya Vika yang mandi di pagi buta itu.

Pukul 02:30 gw dan Didito turun ke bawah. Ternyata Dani sudah duduk manis di lobby, sementara Vika sibuk mengambil gambar di luar hotel setelah membereskan urusan check out sebelumnya. Kami segera berangkat menuju pangkalan bus di KL Sentral yang akan membawa kami ke KLIA 2. Jalanan masih sangat sepi. Rencananya kami akan menggunakan Skybus keberangkatan pukul 03:00 pagi. Tapi sesampainya di KL Sentral, bus yang berada pada posisi paling depan adalah Aerobus. Tanpa pikir panjang kami pun membeli tiket seharga RM 10 pada abang kondektur yang nongkrong di depan bus dan segera menaiki bus yang tampak masih sepi, namun ternyata sudah ramai di dalam. Seluruh kursi sudah hampir terisi dan masing-masing sudah dalam posisi enak, Dani dan Didito segera mendapatkan kursi di dekat pintu sementara gw dan Vika tidak punya pilihan lain selain duduk di dua kursi terakhir.

Pukul 02:45 tepat, bus mulai melaju membelah gelapnya malam Kuala Lumpur. Gw memperhatikan sekeliling. Hampir seluruh penumpang tidur pulas. Gw melirik ke kanan. Vika tampak berusaha tidur tapi tak bisa. Gw pun sebenarnya mengantuk. Tapi AC yang bolong yang terletak tepat diatas kepala kami sepertinya membuat kami tidak bisa memejamkan mata dengan khusyuk. Dinginnya luar biasa. Perut gw berdenyut-denyut menahan dingin. Jaket tidak cukup menghangatkan.
Setelah siksaan AC bolong yang sepertinya tiada akhir, satu jam kemudian akhirnya gw dan Vika bisa bernafas lega. Pukul 03:45 kami tiba di KLIA 2.

KLIA 2 dini hari itu masih sepi. Sebagian besar toko masih tutup dan calon penumpang pun terlihat bergelimpangan di berbagai sudut. Mungkin mereka hanya sekedar transit untuk sampai pada destinasi sebenarnya dan lebih memilih tidur di bandara untuk menghemat biaya perjalanan. Sambil menggeret koper, gw menyempatkan diri melirik kiri-kanan untuk mencari teh dan kopi titipan orang rumah.

Begitu melihat gerai Starbucks, Vika langsung mengerem mendadak dan jadilah kedai kopi itu sebagai pemberhentian pertama kami pada Jumat, 26 Desember 2014, itu. Gw dan Vika membeli tumblr Starbucks bertuliskan ‘Kuala Lumpur’ seharga RM 38, mengoleh-olehi diri kami masing-masing. Namun, berbeda dengan Starbucks di tempat lain dimana ketika kita membeli tumblr maka kita akan diberikan complimentary drink, Starbucks di KLIA2 itu tidak demikian. Pantas saja harganya agak berbeda dengan rata-rata harga tumblr Starbucks di negara lain. Mungkin harga tumblr Starbucks Malaysia bisa lebih murah karena meniadakan complimentary drink.

 Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Setelah Vika menyelesaikan tegukan terakhir hot chocolate-nya, kami langsung meneruskan perjalanan menuju terminal keberangkatan. KLIA 2 memang luar biasa luasnya. Padahal gaya berjalan kami juga nggak lelet-lelet banget, cuma sering menclok kanan-kini di berbagai duty free shop yang bertebaran, jadi ya tetep aja untuk sampai ke International Transfer/Pertukaran Antarabangsa memakan waktu 30 menit. Ngomong-ngomong apakah yang membuat kami sering mampir? Itu tiada lain dan tiada bukan karena gw yang niat banget nyari lipstick Rimmel by Kate Moss :mrgreen:
Yah… biar kata keperempuanan gw diragukan, tapi timbang lipstick doang mah gw juga doyan *eh* *doyan belinya aja, pakenya nggak* *nggak bisa, maksudnya*
klia2 #1

klia2 #1


klia2 #2

klia2 #2


Kami melewati skybridge, turun satu level dan menemukan ruang tunggu yang terletak di antara Departure Gate P dan Q. Ruang tunggu ini disebut juga Public Lounge atau Ruang Istirahat Awam dalam Bahasa Melayu. Jangan bayangkan ruang tunggu yang kecil dan seadanya ya, Ruang Istirahat Awam ini cukup luas dan yang jelas nyaman dengan banyak sofa empuk dan besar, membuatnya menjadi tempat favorit bagi para penumpang untuk beristirahat atau bahkan bermalam di bandara. Walaupun di kanan-kiri berdiri toko-toko yang menjual barang-barang mewah, namun ruang tunggu itu tetap tenang. Tentu saja, karena belum ada toko yang buka, kecuali beberapa convenience store.
Kami mencari spot tersisa dan harus puas dengan kursi non-sofa di satu pojok. Berdekatan dengan kami, ada satu keluarga sedang tidur dan ternyata ada anggota keluarga lainnya yang tidur di atas karpet, tersembunyi di belakang kursi.

Masih ada waktu satu jam lebih hingga waktu Subuh. Kami sempat bimbang apakah menunggu di ruang tunggu tersebut hingga waktu shalat Subuh tiba, atau langsung menuju Departure Gate Q. Sementara Vika, Didito, dan Dani tidur-tidur ayam, gw menyambangi convenience store yang ada. Membeli beberapa coklat yang menurut gw nggak masuk ke Indonesia, saat membayar gw pun bertanya pada si mbak-mbak kasir, apakah di Departure Gate ada mushala dan di jawab tidak. Jadi, mushala hanya terdapat di dekat ruang tunggu itu saja. Baiklah, berbekal informasi ini, kami mantap berdiam di ruang tunggu menunggu Subuh.
Resah menunggu dan bosan tidur-tidur ayam, gw dan Vika yang mulai gatal kelaparan menyempatkan diri membeli french fries di Burger King, sementara Dani menjaga seluruh bawaan kami dan Didito masih terlelap dalam dunianya. Tepat setelah kami selesai menyantap kentang goreng, tanpa buang waktu kami langsung menuju mushala dan menunaikan shalat Subuh.

Selesai shalat, dengan bergegas kami pun segera menuju Departure Gate Q. Terburu-buru kami berjalan, karena waktu Subuh dan waktu boarding yang memang agak sempit. Dan di sepanjang lorong menuju Departure Gate Q itu, kami misuh-misuh sendiri karena ternyata di sana pun terdapat beberapa tempat makan, toilet, dan tentu saja… mushala. Ketauan ya, first timer di KLIA 2 :mrgreen:

Kaki tangan Air Asia sudah berteriak-teriak “Siem Reap, Siem Reap!” ketika kami tiba. Tidak berlama-lama di boarding room, kami segera digiring menaiki pesawat. Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55. Langit masih gelap, muka masih kayak bantal, mulut *mungkin* masih bau iler, dan Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55.

***

Heavenly Sky #1

Heavenly Sky #1


Heavenly Sky #2

Heavenly Sky #2


Heavenly Sky #3

Heavenly Sky #3


Heavenly Sky #4

Heavenly Sky #4


Tepat pukul 08:30 waktu setempat, burung besi raksasa mendarat sempurna. Gw mengintip keluar jendela, terlihat satu bangunan sederhana. Siem Reap International Airport sungguh berbeda dengan KLIA 2. Akhirnya gw menjejakkan kaki di salah satu destinasi impian gw. Selamat datang di tempat di mana Siam dikalahkan. Siem Reap!

Sementara Vika dan Didito melaju menuju gedung bandara, gw dan Dani menyempatkan berfoto-foto sejenak. Siem Reap International Airport merupakan salah satu dari beberapa bandara yang tersohor yang ada di Kamboja. Dua lainnya adalah Phnom Penh International Airport dan Sihanoukville International Airport. Sihanoukville, biarpun menyandang kata ‘international’, pada kenyataannya hanya melayani rute domestik.

Sebelum memasuki gedung bandara, ternyata kami harus mengisi beberapa form terlebih dahulu. Oya sebagai informasi, ketika di pesawat kami sudah diminta untuk mengisi arrival card dan kartu pernyataan kesehatan. Selesai mengisi lembar-lembar form yang ada, kami menyelesaikan proses imigrasi. Bandara yang tidak terlalu luas dan proses imigrasi yang sederhana, membuat kami dapat dengan cepat meninggalkan bandara. Siem Reap International Airport memang kecil, conveyor belt-nya saja hanya satu atau dua, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung, dengan gaya interior khas Kamboja, mirip seperti bandara Soekarno-Hatta atau bandara Adi Sumarmo di Solo.

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan


Siem Reap International Airport #1

Siem Reap International Airport #1


Siem Reap International Airport #2

Siem Reap International Airport #2


Siem Reap International Airport #3

Siem Reap International Airport #3


Siem Reap International Airport #4

Siem Reap International Airport #4


Siem Reap International Airport #5

Siem Reap International Airport #5


Diluar bandara, seorang laki-laki sudah mengacung-ngacungkan kertas bertuliskan nama Didito. Kami memang menggunakan fasilitas penjemputan gratis yang disediakan oleh hotel. Dengan ramah, laki-laki penjemput itu membawakan tas kami menuju mobilnya: sebuah Toyota Camry *wow!* dengan transmisi matic *wow!* tahun 90-an *ekh*. Ya mobilnya masih kotak-kotak gitu lho bentuknya :mrgreen:

Begitu memasuki mobil, si laki-laki penjemput membuka percakapan, masih tetap ramah. Dia menanyakan asal kami dan sebagainya, dan mulai bertanya bagaimana kami akan menjelajah Siem Reap. Awalnya dia bertanya transportasi apa yang akan kami gunakan dan mulai meminta kami untuk menggunakan jasanya untuk berkeliling selama di Siem Reap. Kami menjawab bahwa kami sudah memesan transportasi lain secara mandiri dan menolak tawarannya secara halus. Disini, keramahannya mulai menguap secara signifikan. Gaya bicara yang awalnya sopan dan ramah berganti dengan nada paksaan. Pada akhirnya dia mengomel, beralasan bahwa dia sudah bela-belain bangun pagi-pagi, menunggu kami di bandara, menjemput kami untuk kemudian mengantar kami ke hotel, kebutuhannya akan uang untuk membeli bensin, maka seharusnya kami menggunakan jasanya untuk berwisata selama di Siem Reap.

Jeritan hati kami sebagai turis kere pun ditangkap oleh Didito yang langsung menyambut ajakan si laki-laki penjemput untuk berperang urat syaraf. Dengan tegas dan penuh wibawa Didito menolak paksaan si laki-laki penjemput, menyatakan bahwa kami hanya meminta fasilitas penjemputan yang memang disediakan pihak hotel dan notabene gratis dan diluar itu adalah urusan antara hotel dan si laki-laki. Kami tidak ada sangkut pautnya dan tidak mau tau. Titik nggak pake koma! Perjalanan selama 15 hingga 20 menit menuju hotel menjadi terasa lama dan menegangkan. Gw mencoba mengalihkan perhatian pada jalanan Siem Reap yang kecil, kering dan berdebu.
Ketika akhirnya sampai di hotel, tanpa basa-basi si laki-laki penjemput menurunkan kami, dan pergi melaju dengan membanting pintu mobilnya.

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?


Jaman masih akur... hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai

Jaman masih akur… hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai


Untunglah kekesalan kami segera terbayar oleh keramahan luar biasa dari para karyawan hotel yang sigap menyambut *yang lebih mirip seperti menyerbu karena mereka berebut membawakan tas-tas dan koper kami* kami turun dari mobil. Dari lobi hotel kami langsung diarahkan menuju satu ruangan penuh sofa dan berpenerangan redup. Ruangan yang didominasi warna oranye yang hangat dan gradasinya itu sepertinya digunakan sebagai ruang tunggu bagi para tamu hotel, disatukan dengan ruang makan dan mini bar.

Sementara Didito mengurus administrasi di resepsionis, kami bersantai sambil sesekali membidikkan kamera ke objek-objek yang entah mengapa seluruhnya terlihat memesona. Tak lupa kami menikmati welcome drink dan menyegarkan diri dengan handuk basah beraroma terapi yang disediakan pihak hotel dalam satu wadah cantik.
Tak lama kamar kami siap, dan kami pun dipersilakan untuk memasuki kamar. Setelah meletakkan barang dan beres-beres, gw dan Didito segera turun karena kami sudah janjian dengan supir tuktuk yang Didito hubungi sejak di tanah air untuk memulai petualangan tepat pukul 10:00.

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in


Siem Reap's Hospitality

Siem Reap’s Hospitality


***
Sesampainya di lobi, gw dan Didito menemukan seorang laki-laki muda berperawakan kecil dan berpakaian putih sedang berdiri sambil memegang sebuah kertas. Wajahnya ramah dan dengan senyum yang selalu terkembang, dia menyapa kami dan memperkenalkan diri sebagai Kloy Ratha. Dengan ‘radar’ yang agak ngadat, gw segera menghubungi Vika dan Dani lewat whatsapp.
‘Oiiiii, Bang Ratha udah ada nih. Lumayan manis cuy, mau di prospek nggak?’ *salah fokus*
Di negara orang pun gw masih berusaha menebarkan senyuman maut :mrgreen:

Dengan antusias, sejak saat itu dengan sok akrabnya gw selalu memanggilnya ‘Bang Ratha’. Dan ternyata, Kamboja pun menyapa laki-laki yang lebih tua dengan sebutan ‘bang’, hanya saja huruf vokal a tidak diucapkan secara jelas, melainkan lebih ke arah pengucapan huruf vokal o. Btw, sebenarnya Bang Ratha berusia di bawah kami, tapi ya being the childish and spoiled me, gw selalu memanggilnya dengan kata sapa ‘bang’.

Tak lama, Vika dan Dani pun turun. Setelah memperkenalkan diri dan mengkonfirmasi tujuan pertama, kami segera menaiki tuktuk yang sudah tersedia didepan hotel. Melihat bentuk tuktuk, kami pun mengatur formasi tempat duduk. Demi keseimbangan tuktuk, gw yang berbadan lebar dan Didito yang tampak kekar tidak boleh duduk pada baris kursi yang sama. Maka pilihan formasi pun terbentuk: Didito dan Vika versus gw dan Dani, atau Didito dan Dani versus gw dan Vika.

Formasi #1: Dani & I

Formasi #1: Dani & I


Formasi #2: Vika & Didito

Formasi #2: Vika & Didito


***
Angkor National Museum
http://www.angkornationalmuseum.com
Operating Hours:
1 April – 30 September: 08:30 – 18:00
1 October – 31 March: 08:30 – 18:30
Admission Fee: USD 12

Angkor National Museum #1

Angkor National Museum #1

Ini tujuan pertama kami. Kenapa kami memilih ke sini? Atau lebih tepatnya, kenapa gw sebagai pembuat itinerary menjadikan museum ini sebagai destinasi pertama?
1. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, Angkor National Museum merupakan satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif dan komprehensif, sehingga ketika mengunjungi Angkor Wat dan candi-candi lainnya, pengunjung diharapkan bisa mengerti dan memahami situs-situs tersebut secara utuh dan menyeluruh.
2. Didito merupakan pecinta museum, sementara gw mengaku (-ngaku) sebagai penikmat museum.
3. Angkor National Museum berfungsi juga sebagai tempat istirahat bagi kami dari kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur.

Begitu kami menaiki tuktuk, Bang Ratha bertanya apakah kami akan membeli tiket masuk museum di agen travel atau langsung di museumnya. Belum sempat menjawab, Bang Ratha sudah langsung menerangkan bahwa tidak ada perbedaan harga antara travel dan museum. Tau aja dia kalo kami adalah turis yang pedit nan perhitungan :mrgreen:
Kami pun setuju dan diantarlah kami ke travel tujuan. Alamatnya? Wah… mohon maaf lahir dan batin, gw pun nggak tau. Kami hanya bermodalkan pasrah dan ikhlas dibawa ke manapun oleh si abang, karena kami terlalu semangat memperhatikan Siem Reap yang eksotis, berkomentar ini itu dan menikmati angin sepoi-sepoi dari tuktuk yang terbuka.
Selesai membeli 4 lembar tiket seharga USD 12 per lembar, kami segera meluncur menuju Angkor National Museum. Tak lupa gw meminta peta Angkor Wat dan diberikan ‘hanya’ satu buah oleh mbak-mbak travel. Ketika gw meminta satu peta tambahan, si mbak menolak lembut. Oh baiklah, penolakan itu memang pedih, Jenderal!

Sekitar 10 menit kemudian, tuktuk kami memasuki satu gedung berdinding putih bertuliskan Angkor National Museum. Kami segera turun sementara Bang Ratha memarkir tuktuknya bersama tuktuk-tuktuk lainnya. Setelah mengeluarkan benda-benda berharga dan menitipkan tas di tempat penitipan (pengunjung tidak diperbolehkan , kami menukarkan tiket masuk, menyempatkan foto di salah satu sudut, dan tur museum pun dimulai.

Ruangan pertama yang kami masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater sederhana di mana pengunjung disuguhi penjelasan selama 15 menit mengenai garis besar museum ini. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, pengunjung bisa mengunjungi galeri selanjutnya. Angkor National Museum memang dibagi menjadi 7 galeri dan 1 galeri eksklusif. Apa saja?
1. Gallery of 1000 Budhha Images: the Gallery of Cambodian Buddhism Reflections. Galeri ini memamerkan koleksi patung Budhha paling prestisius dari berbagai zaman pembuatan. Berbagai bentuk dan posisi tubuh Buddha ditampilkan, sebagian besar memperlihatkan Muchalinda alias Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga.
2. Gallery A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak jaman pre-Angkorian, Angkorian, dan post-Angkorian.
3. Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad.
4. Gallery C: the Great Khmer Kings. Dari namanya, kita sudah bisa mengetahui apa yang akan dijelaskan di galeri ini. Kepemimpinan empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201.
5. Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat.
6. Gallery E: Angkor Thom. Inilah galeri yang menjelaskan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya.
7. Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ yand dijadikan tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor.
8. Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan.

Sebenarnya Angkor National Museum ini cukup menarik dan sungguh informatif. Display museum ditata cukup apik dan pencahayaan yang cenderung redup berhasil membangun kesan misterius yang elegan. Sayangnya, mungkin akibat kelelahan, gw dan Didito malah tertidur di Gallery D ketika ditayangkan film dokumenter. Sementara Vika dan Dani yang memilih untuk menikmati secangkir cappuccino berdua di coffee shop di lantai 1 museum sepertinya lebih bisa meresapi film tersebut. Kuatnya kopi Kamboja sepertinya berhasil membuat mata mereka terbuka lebih lama.

Secara keseluruhan, mengunjungi museum ini sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park sangatlah direkomendasikan. Apalagi, disediakan juga Audio Tour Guide yang bisa disewa dengan harga USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan Bahasa yaitu Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, dan Thailand, serta tak ketinggalan Bahasa Perancis. Satu yang gw sayangkan adalah tidak diperbolehkannya pengunjung untuk mengambil gambar di dalam museum. Penjaga berjaga disetiap tempat dan cctv dipasang disetiap sudut, membuat kami tidak berkutik untuk curi-curi gambar.

Ketika kami tiba kembali di depan tempat penjualan tiket masuk, ternyata Bang Ratha sudah duduk manis menunggu sambil ngadem dari teriknya matahari siang itu. Kebetulan sudah pukul 12 siang, kami sepakat untuk makan siang terlebih dahulu. Alhamdulillah, Bang Ratha mengetahui dengan baik restoran yang kami tuju. Profesinya sebagai supir tuktuk idola wisatawan asal Indonesia sepertinya membuatnya paham seluk beluk konsumennya.

Travel Agent

Travel Agent


Angkor National Museum #2

Angkor National Museum #2


Angkor National Museum #3

Angkor National Museum #3


Coffee Shop inside the Museum

Coffee Shop inside the Museum


Tuktuk Parking Lot

Tuktuk Parking Lot

***
Mengunjungi negara dimana non muslim menjadi mayoritas membuat kami harus lebih berhati-hati memilih makanan. Hasil penelitian mengarahkan kami pada satu restoran yang sepertinya pasti dikunjungi oleh setiap wisatawan muslim yang mengunjungi Siem Reap. Muslim Family Kitchen yang memasang label halal menjadi pilihan kami. Sepertinya restoran ini terletak di perkampungan muslim. Banyak perempuan berjilbab wara-wiri di lingkungan tersebut. Kehadiran sebuah masjid tak jauh dari restoran dan azan yang berkumandang menambah kenyamanan kami. Masjid An Neak Mah alias An-Nikmah siang itu dipenuhi oleh pria-pria muslim untuk menjalankan shalat jumat.

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That's a masjid!

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That’s a masjid!


Muslim Family Kitchen #1

Muslim Family Kitchen #1


This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu'ah Prayer

This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu’ah Prayer


the Masjid

the Masjid


Inside the restaurant. See the sign of 'Prayer Room'?

Inside the restaurant. See the sign of ‘Prayer Room’?


Muslim Family Kitchen berkonsep terbuka dan tampak sederhana. Dihiasi beberapa kaligrafi, gw pun mendengar lagu-lagu musisi Indonesia sebagai hiburan di restoran itu. Setelah melihat-lihat menu, kami memutuskan untuk makan tengah. Ada tiga lauk yang kami pesan: Amok, Fried Spicy Seafood, dan tentunya menu paling kesohor yang konon katanya wajib dicoba oleh setiap pengunjung yang datang: Beef Climbing Mountain alias Daging Lembu Naik Bukit. Untuk minumnya kami memesan masing-masing, dan seperti biasa oseng-oseng tumis-tumis dan jadilah! Daging Lembu Naik Bukit.

Terus, terus, rasanya bagaimana? Kan makanan itu digadang-gadang sebagai a must try food dengan rasa yang mantap endang surindang, tapiiiii kenapakah kenapa, bagi kami kok rasanya biasa aja ya? No fancy taste, no fancy spice. Really nothing special.
Sementara Amok, yang juga disebut sebagai makanan khas Kamboja yang lezat dan wajib dicoba, rasa rempahnya terutama kunyit, kami rasakan terlalu menyengat. Untuk Fried Spicy Seafood-nya gw tidak terlalu bisa berkomentar. Satu hal yang gw rasakan, udangnya kurang segar. Kalau mau tau lebih banyak tentang restoran ini, bisa dilihat di http://www.muslimfamilykitchen.com