Kuala Lumpur: Day 1 – Merdeka Square, KL City Gallery, Suria KLCC, Petronas Twin Towers

Dalam beberapa kali kesempatan, gw dan Vika sering berandai-andai ingin kembali traveling bersama setelah perjalanan pertama kami ke Singapura awal tahun 2014. Gw menawarkan banyak destinasi impian gw, tapi seringkali ditolak mentah-mentah oleh Vika. Alasannya antara tiga hal, kalo nggak dia yang fakir cuti, ya dia udah pernah ke sana, atau merasa bisa ke sana dalam rangka dinas kantor. Lha iya dia sih udah hampir mengunjungi semua opsi yang gw ajukan, sementara gw? Aku mah apa atuh da, hanya butiran Legal Officer yang hampir nggak pernah dinas ke tempat-tempat kece. Kalau diajak meninjau usaha debitur pun paling jauh cuma investigasi kandang ayam di daerah Cianjur *bukan curcol, cuma menceritakan kenyataan hidup :mrgreen:*

Dari sekian banyak tempat yang kami diskusikan, ketemulah satu tempat yang sepertinya cukup menarik untuk dieksplorasi. Untuk menghindari pengambilan jatah cuti yang terbatas, gw dan Vika memilih untuk pergi pada akhir tahun, memanfaatkan long weekend momen Natal selama 4 hari. Sebagai ahli dalam bidang perjalan-jalanan, Vika langsung bergerak sigap mencari tiket promo sejak awal Mei, setelah menghubungi dua pemeran lainnya yang akan gw perkenalkan di bawah ini: seorang ahli matematika dan seorang calon notaris.

Kenapa bulan Mei? Karena kami berusaha mendapatkan tiket dengan harga serendah mungkin. Kami akan terbang pada peak season di mana harga tiket pasti lagi mahal-mahalnya. Dan bagi gw, sejujurnya traveling di akhir tahun tidak masuk ke dalam rencana tahunan gw dimana itu berarti I had no budget for that. Jadi, sangat perlu bagi kami untuk mengatur rencana budget perjalanan secara matang dan ditekan sekecil-kecilnya. Selain tiket pesawat, kami mulai lirik-lirik penginapan dan cari tau soal biaya hidup di negara tujuan. Vika dan gw bekerja sama membuat itinerary lengkap dengan perkiraan biaya dan meneruskannya ke Didito dan Dani.

Rancangan itinerary yang bolak-balik antara anggota trip membuat pembelian tiket agak tersendat. Vika mulai khawatir karena harga tiket beranjak naik. Dengan kemampuannya nge-push orang, akhir Mei, Vika pun membuat kami sepakat dengan satu dari beberapa budget yang dirancang. Tiket dibeli, tugas selanjutnya pun turun pada gw: membuat itinerary secara detail. Sementara Didito mengambil peran sebagai pencari penginapan. Sekitar Agustus atau September, penginapan pun dipesan, sementara gw berhenti sejenak dari berkutat dengan itinerary.

Di saat yang bersamaan, menyisihkan uang tiap bulannya pun mulai dilakukan. Berdasarkan proyeksi asal-asalan gw, sepertinya cash flow bulanan gw tidak terlalu terganggu dan rencana trip kali ini bisa dilaksanakan dengan baik. Semuanya tampak oke sampai pertengahan Desember ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah tajam, sementara gw harus menukar uang untuk bekal bertahan hidup di negeri orang. Budget menjadi terganggu dan cash flow gw pun terguncang *lebaaaaayyy*

Sekitar satu atau dua minggu sebelum keberangkatan, the Funtastic Four mengadakan rapat kecil-kecilan. Salah satu hasil rapat adalah menugaskan Dani untuk melakukan web check in. Kenapa Dani? Karena selain dia yang belum dapat beban moral, Dani juga TERNYATA YA TERNYATA nggak tau gimana caranya web check in. Alhamdulillah ya Dan, sekarang jadi tau kan caranya web check in 😆

Dan sungguh betapa bertanggung-jawabnya Dani, masing-masing boarding pass dilipat rapih dan dimasukkan ke dalam empat amplop terpisah, dibubuhkan nama masing-masing diatasnya, dan diberikan dengan penuh khidmat diatas bus HIBA Depok-Bandara yang membawa kami menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 25 Desember 2014 *kecup Dani*

***

Belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu, menjelang keberangkatan biasanya ada saja hal-hal yang sedikit banyak bisa menghambat kelancaran acara. Menimbang hal itu gw pun memutuskan untuk mengajukan cuti selama 2 hari, masing-masing 1 hari sebelum dan sesudah perjalanan. Again being si Papih’s legal officer, mantan bos gw di Bandung yang sekarang balik lagi jadi bos gw di Kelapa Gading, cuti disetujui dengan mulus. Dan kali ini tanpa embel-embel “kalo kamu cutinya buat kawin, baru saya izinin.” Tau aja deh si Papih kalo cari jodoh itu ternyata tidak semudah yang gw kira walaupun dulu kuliah di tempat di mana 9 dari 11 fakultas ngumpul jadi satu *apa sih* 😆

Pukul 04:30 pagi, dengan diantar bayi gorilla gw pun diantar ke terminal Depok. Tepat pukul 5 bus HIBA Depok-Bandara meninggalkan terminal, dan 1 jam kemudian all the ladies sudah tiba di Soekarno Hatta. Tanpa check in karena sudah web check in sebelumnya, kami langsung menuju satu kedai yang paling kesohor di dunia perbakmian dan perpangsitan. Setelah memenuhi hak perut masing-masing, kami pun memulai rentetan prosedur yang harus dilalui untuk keluar dari perbatasan negara. Pemeriksaan paspor, bayar airport tax, periksa tiket, dan akhirnya masuk boarding room. Sesampainya di boarding room, secara bergiliran kami langsung menuntaskan hajat hidup masing-masing. Tepat saat Vika sedang ‘mencairkan deposito’-nya, terdengar suara petugas Air Asia mengaung-ngaung di udara, memanggil-manggil Vika untuk segera menghadap penghulu petugas maskapai. Ada apa nih? Penuh rasa penasaran dan sambil harap-harap cemas semoga tidak ada masalah dengan penerbangan, gw dan Didito mendekati petugas maskapai, menggantikan Vika yang masih konsentrasi di toilet.

Hasil tatap muka dengan petugas maskapai berakhir dengan persetujuan kami untuk berpindah tempat duduk demi persatuan satu keluarga *eh*

Sebenernya ini blessing in disguise juga sih. Awalnya kami duduk terpisah, tapi karena perubahan tempat duduk malah bisa jadi duduk bareng. Hanya Didito yang terpisah, itu pun masih dalam deret yang sama. So I have my seat changed from 28E to 12B.

Long story short, setelah penantian boarding yang seolah tiada akhir, kami memasuki pesawat. Air Asia AK 383 lepas landas tepat waktu pada pukul 08:30. Foto-foto, take off, tidur, foto-foto lagi, tidur lagi, landing, jalan kaki lamaaaaa sekali mengarungi KLIA 2 yang ternyata keren dan luas sekali, melewati proses imigrasi, so here we were… Malaysia!

Untuk mencapai downtown Kuala Lumpur, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan, tentunya. Ada bus, taksi, KLIA Transit dan KLIA Ekspres. Mengingat budget yang makin terbatas, opsi taksi bahkan tak pernah terpikir dalam benak kami. Untuk menghemat waktu, kami sepakat untuk mengggunakan KLIA Ekspres yang mampu mencapai KL Sentral dalam waktu 33 menit. Penginapan kami memang terletak di KL Sentral, sengaja memilih lokasi tersebut untuk memudahkan mobilitas dari dan ke KLIA 2. Setelah membeli tiket KLIA EKspres seharga RM 35, kami kembali disibukkan dengan persoalan toilet. Berganti-ganti Vika, Didito, dan Dani keluar masuk toilet dan membuat gw cukup senewen juga karena jam sudah menunjukkan pukul 12:30, hanya 5 menit lagi hingga KLIA Ekspres tiba.

Turun ke Platform A, kurang dari satu menit KLIA Ekspres pun tiba. Interiornya sungguh nyaman, kereta api luar kota yang kita punya pun tentu masih kalah jauh 😦

Selain bersih dan kursi yang nyaman, KLIA Ekspres juga menyediakan tempat khusus penyimpanan koper. Dan benar saja, berangkat dari KLIA 2 pukul 12:35, pukul 13:10 kami sudah tiba di KL Sentral. Cukup akurat lama perjalanannya. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa dilirik-lirik www.kliaekspres.com

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

KL Sentral #1

KL Sentral #1


KL Sentral #2

KL Sentral #2

KL Sentral #3

KL Sentral #3

KL Sentral #4

KL Sentral #4

Stasiun KL Sentral di Kuala Lumpur ini mungkin seperti Stasiun Gambir atau Stasiun Manggarai di Jakarta. Namun KL Sentral terasa lebih modern dan dinamis, juga lebih bersih dan tentunya lebih canggih. Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Ada begitu banyak pilihan tempat makan yang membuat kami bingung mau makan apa, dan begitu melihat kedai ayam penyet, Dani serta merta mengajak makan di situ, yang sekonyong-konyong ditolak mentah-mentah dan penuh ketegasan oleh Didito. Rule #1 No fast food dan Rule #2 No makanan yang ada di Indonesia. Tentu saja gw dan Vika mengamini pernyataan Didito ini *kecup Didito*

Walaupun akhirnya kami ended up di satu kedai bernama Meal’s Station dan menyantap makanan yang sebenarnya bisa ditemui juga di Indonesia, tapi paling nggak, nggak seumum ayam penyet lah :mrgreen:

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

Rasa makanannya sih standar, entah karena saat itu gw lapar atau memang sandwichnya enak, tapi buat gw makanannya enak-enak aja. Gw emang sengaja pesan sandwich karena nggak terlalu doyan makanan santan-santanan yang ditawarkan di buku menu. Dan selain itu gw akhirnya berhasil menambah semangat dengan cara… minum kopi, yang rasa kopinya cukup mantap, which is I like it so much 🙂

Beres urusan perut, kini giliran urusan bobo-bobo ayam malam nanti. Langsung ke My Hotel @Sentral yang ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit, karena sudah pukul 14:00 kami pun bisa langsung check in. Karena pemilihan siapa tidur sama siapa sudah dilakukan secara membabi-buta jauh-jauh hari, kami pun langsung menyimpan koper, ransel dan segala antek-anteknya di kamar. Bersih-bersih seadanya lalu shalat, pukul 15:30 kami kembali melanjutkan perjalanan tidak sesuai itinerary :mrgreen:

***
Kenapa tidak sesuai itinerary? Karena gw sebagai perancang itinerary dan pencinta museum memasukkan Muzium Negara sebagai tempat pemberhentian pertama. Namun melihat sempitnya waktu, akhirnya kami sepakat untuk meniadakan rencana tersebut dan langsung ke tujuan kedua yang sudah lama diidam-idamkan Vika.

Untuk mencapai Dataran Merdeka, dari KL Sentral kami menumpang Kelana Jaya Line LRT dan turun di stasiun Masjid Jamek.  Sebelumnya tentu kita harus membeli tiket perjalanan. Kami membeli single tiket seharga RM 1,3 di mesin penjualan tiket. Mesin penjualan tiket dengan layar sentuh ini merupakan sesuatu yang baru bagi gw, tapi pengoperasiannya cukup mudah kok. Cukup tentukan stasiun tujuan dan jumlah tiket yang akan dibeli, masukkan uang ke dalam mesin dan keluarlah token berwarna biru. Tokennya berbentuk seperti koin plastik dalam permainan othelo. Untuk penggunaannya, cukup tempelkan token tersebut pada pintu gate dan ketika akan keluar di stasiun tujuan, masukkan token ke dalam gate. Jadi, tokennya nggak bisa dikoleksi sebagai cindera mata bukti bahwa kita sudah ke Kuala Lumpur *gagal fokus*

Yang mau tau lebih lanjut soal moda transportasi di Malaysia lengkap dengan ongkosnya bisa dilihat di www.myrapid.com.my

Dengan mengikuti petunjuk arah menuju pintu keluar ke Dataran Merdeka atau Masjid Jamek, diseberang kita akan melihat Masjid Jamek. Seberangi jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Tun Perak itu, berjalan ke arah kanan menyusuri jalan dan pada lampu merah pertama berbeloklah ke kiri. Itulah Jalan Raja. Sederetan bangunan tua langsung terlihat disisi kiri jalan, sementara Dataran Merdeka berumput hijau ada di sisi kanan. Lampu-lampu jalan berhias Bunga Raya berkelopak merah berdiri di kedua sisi jalan.

Bagi pecinta sejarah dan bangunan tua, rasanya wajib mengunjungi tempat ini. Dan sepertinya Dataran Merdeka ini memang menjadi salah satu spot wajib kunjung bagi para turis, selain sebagai meeting point warga lokal. Selain Dataran Merdeka, tourism spot lainnya adalah Kuala Lumpur City Gallery yang terkenal dengan tulisan raksasa I LOVE KL berwarna merah didepannya. Nah untuk sampai ke KL City Gallery, kita terlebih dahulu akan melewati bangunan-bangunan bersejarah tadi. Berturut-turut di sisi kiri jalan terdapat Old Sessions & Magistrates Court Building yang dibangun pada tahun 1910, kemudian Panggung Bandaraya KL yang dulunya dikenal sebagai the Old City Hall, lalu Former High Court Building yang dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, selanjutnya Sultan Abdul Samad Building yang kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan, dan Government Office yang terletak persis sebelum perempatan jalan.

Sementara di sisi kanan terbentang Dataran Merdeka dengan tiang bendera setinggi 100 meter, the Cathedral of St. Mary –gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan Royal Selangor Club. Tidak ketinggalan Victoria Fountain yang sudah berusia 100 tahun lebih, berdiri di dekat mural para Bapak Malaysia.

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

the Uninuna

the Uninuna

Heading KL City Gallery

Heading KL City Gallery

KL City Gallery

KL City Gallery

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

PROBLEM?!

PROBLEM?!

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

Mengunjungi KL City Gallery ini sebenarnya tidak dipungut biaya. Tapi kalau kita mau menyaksikan the Spectacular City Model Show, kita harus membeli tiket seharga RM 5. Nantinya tiket ini bisa digunakan untuk membeli sesuatu di toko souvenir Arch atau di café nya. Berhubung seinget gw nggak ada benda seharga RM 5 atau kurang di toko itu, ya paling nggak RM 5 nya bisa dipake untuk diskon dari harga sebenarnya deh. And that’s what I did with the fridge magnet I bought for myself.

Untuk mengelilingi KL City Gallery tidak diperlukan banyak waktu. Sepertinya 1 jam sudah cukup untuk mengetahui sejarah Kuala Lumpur sekaligus melihat the Spectacular City Model Show. Memang didalam galeri ini tidak banyak yang bisa dilihat. Selain sejarah Kuala Lumpur, ada juga penjelasan mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di sekitar Dataran Merdeka lengkap dengan miniatur bangunannya, juga kisah mengenai Dataran Merdeka itu sendiri.

Setelah itu pengunjung bisa langsung menuju ke lantai 2 tempat show diadakan. The Spectacular City Model Show itu sendiri merupakan pertunjukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit yang ditata demikian cantik dan apik yang bercerita tentang perkembangan Kuala Lumpur sejak dulu dan rencana pengembangan di masa depan.

Di depan para pengunjung terhampar miniatur Kuala Lumpur yang terdiri lebih dari 5000 bangunan dengan skala 1:1500, kemudian pertunjukan pun dimulai dengan kecanggihan teknologi, perpaduan permainan lampu dan efek suara yang mampu membuat gw iri terhadap pesatnya kemajuan negara serumpun itu.

Kunjungan ke KL City Gallery kami tutup dengan mendatangi toko souvenir di lantai 1. Ditata dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung, suvenir-suvenir yang ditawarkan pun cukup beragam dan semuanya dibuat dengan detail yang rumit yang gw yakini memerlukan keahlian tingkat tinggi para pengrajinnya. KL City Gallery ini buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 6:30 petang. Lengkapnya bisa dibaca di http://www.klcitygallery.com

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Craftmen Center

Craftmen Center

History of ARCH

History of ARCH

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

Sekitar Merdeka Square

“Bahasa Melayu | I just love it somehow”

 

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #3

ARCH Souvenir Shop #3

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends :lol:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends 😆

A very important photo: Legs | Seriously, we're in Kuala Lumpur!

A very important photo: Legs | Seriously, we’re in Kuala Lumpur!

Selepasnya dari KL City Gallery, kami masih sempat bermain-main sejenak di Dataran Merdeka. Sekitar pukul 5 barulah kami benar-benar meninggalkan kawasan itu. Itu pun masih harus saling mengingatkan satu sama lain agar jangan terlalu lama mengambil foro karena kami masih punya destinasi lainnya.

Kami kembali ke stasiun Masjid Jamek dan kembali mengambil jalur Kelana Jaya Line untuk sampai ke tujuan berikutnya: Petronas Twin Towers. Setelah membeli single tiket seharga RM 1,6 per orang, kami segera menaiki kereta dan turun di stasiun KLCC. Stasiun KLCC penuh sesak dan itu sempat membuat gw terpisah dari rombongan. Untunglah gw segera kembali ke jalan yang benar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan ke Suria KLCC.

Kenapa Suria KLCC? Jawabannya singkat: karena Suria KLCC merupakan shopping mall dan konon saat itu sedang diadakan sale besar-besaran. Namapun perempuan ya bok, denger kata ‘sale’ radar kami langsung mencuat, kecuali radarnya Didito yang sepertinya lebih mencuat kalau menghadapi rumus-rumus matematika. Dan tepat seperti perkiraan gw, saat gw berniat belanja justru saat itu lah gw tidak tertarik pada barang-barang yang ditawarkan, selain karena udah pusing juga melihat padatnya manusia. So it came up I didn’t by anything there.

Selain itu semua orang pasti tau lah kenapa almost all tourist goes to KLCC. Selain Suria KLCC, dibagian atasnya terdapat Petronas Twin Towers, lalu ada Aquaria KLCC, KLCC Park, dan KL Convention Centre, yang saat itu semuanya dipenuhi lautan manusia yang sepertinya memanfaatkan momen natal untuk berlibur.

Menyadari tidak ada yang menarik hati, kami pun memutuskan untuk mencari makan malam dan memilih food court agar dapat memilih makanan sesuai selera masing-masing. Mengitari seluruh kedai makanan yang ada, gw dan Dani ended up dengan makanan ala Italia, sementara Vika dan Didito memilih makanan yang tampak lebih sehat: laksa dan mie organik.

Gw membandingkan harga dan rasa makanan di food court itu dengan harga dan makanan di food court mal-mal di Jakarta. Gelar bahwa Jakarta merupakan salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi sepertinya benar. Harga makanan di food court Suria KLCC lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di food court mal-mal di Jakarta. Rata-rata harga berada di kisaran RM 8 hingga RM 15. Silakan dikonversi ke rupiah. Terbilang masuk akal dan sebanding dengan rasa yang diberikan. Rasanya lumayan enak dan yang jelas porsinya besar. Sementara food court di Jakarta, yaa… harga mungkin sama tapi soal rasa dan porsi, silakan bandingkan sendiri.

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Dengan perut penuh, kami menuju KLCC Park untuk mengabadikan Petronas Twin Towers. Nggak didalam mal, nggak di food court, nggak di taman, rasanya seluruh warga Kuala Lumpur plus turis tumpah ruah malam itu. KLCC Park benar-benar ramai. Pohon natal yang sengaja dipasang sebagai dekorasi dekat pintu keluar mal, juga area sekitar kolam air mancur dipadati pengunjung. Sebagian besar tentu sibuk berfoto ria. Kami beringsut menjauhi keramaian, berusaha mendapatkan spot yang bagus untuk mendapatkan Si Kembar yang menawan.

Masing-masing pengunjung asyik dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sekedar duduk-duduk, ada yang berasyik masyuk, ada yang berpiknik, ada yang penuh keseriusan dan kesabaran duduk dekat tripodnya, siap membidik Menara Kembar. Gw, Vika, dan Didito mulai beraksi dengan kamera masing-masing, sementara Dani, selain sibuk dengan kameranya, juga langsung mengeluarkan senjata andalannya: kertas minyak, bedak tabur, dan tentu saja… gincu.

Sebagai veteran perang, tentu saja Vika sudah sangat berpengalaman mengambil foto pada malam hari. Sementara gw masih dalam tahap mengambil hati anak orang *eh*
Jadilah hasil jepretan gw nggak ada apa-apanya dibandingkan Ibu Pejabat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia *eh* *uhuk*

Pada saat yang bersamaan dengan berpendarnya Petronas Twin Tower yang membuat langit disekitarnya ikut menyala, berlangsung pertunjukan Dancing Fountain. Air mancur menari mengikuti irama lagu disertai warna-warni yang berganti-ganti, merah, hijau, ungu, biru, kuning. Tidak sepanjang hari kita bisa menyaksikan pertunjukan ini, hanya pada pukul 12:00 sampai pukul 14:00 dan pukul 18:00 sampai pukul 23:00 pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan dan hari libur besar, pertunjukan diadakan mulai pukul 10:00 hingga pukul 00:00.

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3


***

Hujan turun sangat deras saat kami kembali ke penginapan dengan menggunakan jalur Kelana Jaya Line, sekitar pukul 9 malam. Untungnya penginapan kami sangat dekat dari stasiun KL Sentral. Sambil berlari-lari di tengah guyuran hujan, dalam 5 menit kami sudah tiba di hotel.

My Hotel @Sentral adalah hotel yang Vika pilih. Hmm… bukankah diatas disebutkan Didito yang in charge soal hotel? Iya, betul, tapi itu untuk hotel di tempat lain, bukan di Kuala Lumpur ini *sok misterius*

My Hotel sendiri merupakan salah satu budget hotel yang terdapat pada beberapa titik di Kuala Lumpur. Selain terletak di lokasi strategis, harga yang terjangkau dengan fasilitas yang cukup nyaman membuat hotel ini menjadi favorit dan pilihan banyak flashpacker. Kami memesan 2 kamar tipe My Twin yang didalamnya terdapat twin bed, lemari, meja rias, sofa dan meja kecil, dan tentu saja toilet lengkap dengan sabun, sampo, dan air panas. Disediakan juga teh, kopi, air mineral, juga mini safe deposit box. My Hotel cukup bersih dan yang jelas dekat dengan kawasan Little India yang terkenal dengan keramaian dan gemerlap lampunya. Di sekitar hotel juga terdapat beberapa restoran yang buka 24 jam. Overall, gw puas dengan hotel ini.

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

Resepsionis

Resepsionis

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

No fancy, yet clean and comfortable toilet

No fancy, yet clean and comfortable toilet


***

How many times I’ve said that I am a fetish for fridge magnet? *belum pernah brooohh, baru kali ini lo ngaku :mrgreen:*

Jadi ke mana pun gw pergi gw selalu mencoba untuk mendapatkan magnet kulkas khas suatu negara. Sebenarnya kebiasaan ini justru baru dimulai ketika gw mulai traveling dengan uang sendiri, sepulangnya dari Korea. Jadi koleksinya memang belum terlalu banyak :mrgreen: dan gw menghindari membeli magnet negeri-negeri asing itu di Indonesia, walaupun gw tau di Mangga Dua juga ada yang menjual magnet kulkas dari berbagai negara.

Dan untuk petualangan di Kuala Lumpur kali ini, gw memutuskan untuk mengoleh-olehi diri sendiri satu buah magnet kulkas seharga RM 4 yang gw beli di Arch, toko souvenir yang terletak di dalam KL City Gallery. Sebenarnya harga sebuah magnet ini adalah RM 9, namun karena gw sudah membeli tiket untuk melihat KL Model seharga RM 5, untuk mendapatkan magnet ini gw cukup menambah RM 4 saja.

Hal lain yang gw suka dari magnet ini, selain detailnya yang cantik dan ciamik, adalah informasi yang disertakan di bagian belakang plastik pembungkusnya. Seperti magnet yang gw beli ini, terdiri dari Bunga R

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

aya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, dan KL Tower.

Bunga Raya, nama lokal dari hibiscus, adalah bunga nasional Malaysia, yang diperkirakan telah dikenalkan sebelum Abad ke 12 dari tempat asalnya di Cina, Jepang, dan Kepulauan Pasifik. Petronas Twin Towers, diperkenalkan sebagai the world’s tallest twin towers dengan tinggi mencapai 452 meter yang kedua menaranya dihubungkan dengan skybridge sepanjang 58 meter. Sultan Abdul Samad Building, yang dibuka secara resmi pada April 1897 oleh Sir Frank Swettenham untuk digunakan sebagai gedung administrasi pemerintahan dan kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan. Yang terakhir, KL Tower, selesai dibangun pada 1996 dan merupakan the world’s fourth tallest tower dengan tinggi 421 meter.

See what you got buying the magnet? Knowledge *ehm* *benerin jilbab*

***
Gw memaksakan diri mandi sebelum tidur malam itu. Kalo diikutin sih sebenernya udah capek banget dan rasanya pengen banget langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tapiiiii mengingat pilihannya adalah mandi malam atau mandi keesokan hari, gw memilih mandi malam aja deh *buka aib sendiri*

Perkiraan gw bahwa setelah mandi justru gw malah akan segar bugar, ternyata benar. Bukannya langsung tidur, gw dan Didito malah sibuk ber-whatsapp ria dengan… Vika dan Dani *etdaaaaahhh* *yaabis yang itu nggak bisa di whatsapp… gimana dooonnngg* juga dengan Nina yang kami tinggal di tanah air. Kami benar-benar tumbang menjelang pergantian hari, disertai keheranan gw melihat Didito yang tidur dengan kaki di atas.

So this is it, all the first day story. Didito and I went to sleep around midnight since we need to catch up for the next day’s adventure. Oh yeah, we really lack of good sleep at the time 😉

Pengeluaran:
.Tiket pesawat Jakarta – Kuala Lumpur pp IDR 1.679.500
.HIBA Depok – Bandara IDR 50.000
.Bakmi GM Bakso IDR 42.000
.Airport tax IDR 150.000
.KLIA Ekspres RM 35
.Hazelnut White Coffee RM 4,3
.Sandwich Tuna Mayo RM 8,5
.My Hotel @Sentral RM 60
.Kelana Jaya Rapid KL St. KL Sentral to St. Masjid Jamek RM 1,3
.Tiket KL Model at KL City Gallery RM 5
.Arch fridge magnet RM 4
.Kelana Jaya Rapid KL St. Masjid Jamek to St. KLCC RM 1,6
.Beef Lasagna RM 8,5
.Iced Milo, regular RM 3
.Kelana Jaya Rapid KL St. KLCC to St. KL Sentral RM 1,6

Advertisements

Calon Manten Jadi Mantan!

*lap keringet*


..
.
.
.
.
.
Buktinya bisa dilihat pada foto dibawah ini.

cium cium cium
Pasangan pengantin yang *tampak* malu-malu | Lama-lama *mungkin* malu-maluin 😆 😆 😆

Yeeeeeeesssss sidang pembaca yang terhormat, terhitung sejak Sabtu, 26 Oktober, yang lalu, Calon Manten RESMI jadi MANTAN. Mantan Calon Manten, maksudnya… alias jadi penganten beneran. Jadi ratu sehari, dengan kebaya panjang berjuntai-juntai menyapu lantai, dengan blink-blink keemasan, dengan bulu mata palsu yang memberatkan mata, dengan long torso yang menyesakkan dada tapi penting demi mendapatkan perut rata, pinggang ramping dan pinggul bagai gitar spanyol.
Calon Manten is finally A BRIDE FOR REAL! *tabuh gendang* *tebar confetti*

***
Jumat malam, gw terbirit-birit ke bandara demi mengejar pesawat yang akan membawa gw kembali ke Jakarta. Lho, ini kok tiba-tiba ganti topik? Nggak juga sih, ceritanya gw mau berkisah dulu perjuangan gw untuk bisa menghadiri akad nikah si Mantan yang digelar pagi-pagi hampir pagi buta.
Kenapa gw bilang hampir pagi buta, karena menurut run down kan akad akan dimulai pukul 8 pagi, tapi karena kesibukan bapak penghulu kita yang terhurmat, doi meminta agar mempelai bersiap di garis depan sejak pukul 7 pagi 😮 *tepuk tangan untuk pak penghulu*

Oke, kembali ke masalah hidup gw, singkat cerita gw pun ALHAMDULILLAAH berhasil mengejar pesawat menuju Jakarta. Malah pesawatnya pake acara delay setengah jam, lumayan bagus mungkin ya untuk maskapai yang terkenal dengan semboyan ‘Late Is Our Nature’ 😆
Gara-gara Garuda Indonesia gak ada jadwal penerbangan yang cukup malam, jadilah gw menggunakan maskapai itu… untuk pertama kalinya.

Penerbangan hampir satu jam itu gw isi dengan tidur, terbangun karena benturan keras roda pesawat dengan landasan saat pendaratan yang tidak terlalu mulus, dan dilanjutkan tidur sebenar-benarnya di rumah. Subuh-subuh gw bangun, dandan secantik yang gw bisa dengan kosmetik seadanya *you know… moisturizer, BB cream, loose powder, compact powder, blush on dan sedikit lip balm*, dan rame-rame nebeng Pichu menuju gedung dilangsungkannya akad dan resepsi.

***
Beberapa bulan sebelum acara, si Mantan memberikan kami masing-masing sebuah kaftan mini warna magenta untuk dipakai sebagai seragam. Untuk bawahannya, kami sepakat untuk menggunakan bahan berwarna krem keemasan pilihan Adedi yang kami beli di Mayestik.

Sabtu pagi itu, sekitar pukul 7, dengan berseragam kaftan magenta kami berkumpul di ruang rias pengantin, namun tidak bertahan lama karena ruangan sungguh gerah. Rupanya AC mati. Kami pun keluar ruangan, duduk-duduk menunggu segalanya siap.

manten sendu dari samping
manten sendu
Ini manten mukanya kok sendu banget? Colek nih *eh*

***
Menjelang pukul 8, semakin banyak orang berkumpul di sekitar meja akad. Sebagian lagi duduk di bawah tenda, atau di kursi-kursi di taman. Acaranya memang diadakan semi-outdoor.
Prosesi akad dimulai dengan petuah-petuah dari pak penghulu. Abah *ayahnya si Mantan* duduk berhadapan dengan calon suami si Mantan, sementara ibunya duduk di barisan depan para hadirin. Tak lama, Abah mendatangi ruang rias pengantin. Melalui pengeras suara, kami mendengar si Mantan meminta maaf dan izin untuk menikah.

Abah kembali ke tempatnya, dan sejurus kemudian, ijab kabul dilaksanakan dengan lancar, dalam satu kali tarikan nafas, tanpa pengulangan. Gw membayangkan si Mantan sedang jungkir balik di ruang rias.

Pak suami pun menjemput si Mantan di ruang rias. Setelah mereka berdua duduk dihadapan Abah, pak penghulu, dan para saksi, prosesi standar kembali dijalankan. Nasihat perkawinan dari pak penghulu, tandatangan para saksi, tandatangan buku nikah, pemberian mahar, pasang cincin, dan tentunyaaa… ciuman pertama *di dahi, maksud gw* :mrgreen:

Prosesi ijab kabul dilanjutkan dengan prosesi adat Sunda, yang rasanya berlangsung lamaaaaa sekali saking bersemangatnya sang pembawa acara. Saking lamanya, sampa-sampai seolah-olah ada dua acara saat itu. Pasangan pengantin sibuk dengan prosesi adat, sementara para hadirin hadirot sibuk sendiri-sendiri, entah menyantap hidangan yang disediakan atau mengobrol.
Sayangnya batere kamera gw habis total tepat setelah selesainya ijab kabul, maka gw pun termasuk ke dalam golongan hadirin yang ramai berceloteh.

mahar
tandatangan
gagah
pasang cincin
Look at the third image, itu mantennya gagah bener yak duduknya :mrgreen:

***
Gw, Pichu, Adedi, Teteh, Dinah, dan Dede pun melipir mencari pojokan adem dan spot oke yang enak buat ngobrol dan pepotoan, sementara pasangan suami istri paling gres berganti baju. Beberapa saat kemudian Nina dan Fathar tiba, dan segera bergabung dengan kami.
Sekitar pukul 11, kami kembali ke tengah-tengah acara karena terdengar kabar burung bahwa mempelai akan segera tiba.

Suasana sudah sangat meriah dan udara siang itu juga sungguh cerah dan gerah, ketika akhirnya sang bintang lapangan dengan berbusana paduan krem keemasan dan merah, muncul dengan menggunakan becak.
Dan kembali dilanjutkan dengan prosesi adat.

Karena beberapa alasan, gw pun undur diri, mohon pamit pada si Mantan tidak bisa menghadiri acara hingga selesai.

the bride and the groom
Kepada si Mantan dan Pak Suami,

Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair
“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Akhirul kalam, semoga hanimumun di pulau dewata dapat mendatangkan hasil yang diharapkan ya boookk… 😆 :mrgreen: 😆

fine ladies
Love,
The Ladies in Line *penting ya bok ditulis* 😆

Cerbon? Kepriben, Je?!

Jumat malam, sekitar pukul 21.30, Nyonya Besar mengirim pesan melalui WhatsApp.

“Udah sampe rumah Nina?”
“Belom, Ma, masih jauuuuuhhh… baru sampe Sumedang.”

Saat itu travel TransRevo yang gw tumpangi untuk sampai ke meeting point dengan Yeni, Pichu, dan Adedi sedang berhenti sejenak di rumah makan Sari Rasa di daerah Sumedang. Bukan hanya TransRevo yang mendinginkan mesin di sini, beberapa travel dan sebuah bus pariwisata juga ada. Kesempatan ini digunakan oleh supir maupun penumpang untuk mengisi ‘bensin’ mereka juga. Ada yang makan, minum kopi, atau sekedar mengisap rokok. Salah seorang penumpang TransRevo yang sama dengan gw juga ikut makan, sementara gw dan para penumpang lainnya melirik jam dengan gelisah. Ada sedikit rasa kesal juga pada ibu pejabat yang sedang makan dengan santainya itu. Supir kami memberi kode bahwa kami hanya menunggu ibu selesai makan saja saat itu. Rasa kesal itu sebenarnya sudah ada sejak penjemputan. Ibu itu satu-satunya yang belum siap ketika dijemput, bahkan setelah menaiki mobil, ada beberapa barangnya yang tertinggal hingga harus diambil kembali.
Kami ingin cepat sampai di tujuan masing-masing. Kalau jam 21.30 aja baru sampai Sumedang, jam berapa mau sampai di meeting point? Rasanya tidak mungkin bisa sampai jam 23.30.

***

Salah seorang sahabat kami, Nina, meninggalkan Depok karena mengikuti suaminya bertugas. Dalam waktu dekat, sepertinya Nina akan berpindah ke daerah lain ke pulau seberang. Gw, Yeni, Pichu, dan Adedi pun sepakat untuk mengunjungi Nina, kami melihat ini sebagai kesempatan jalan-jalan berlima. Judulnya kami ini teman dekat, tapi belum pernah kami melakukan perjalanan keluar kota bersama-sama. Setelah diskusi panjang lebar dengan melibatkan calon tuan rumah, kami sepakat untuk berangkat dari tempat masing-masing pada Jumat, 28 Mei.
Jadilah, Pichu, Yeni, dan Adedi berangkat dari Jakarta menggunakan kereta api. Cirebon Express keberangkatan pukul 20.40 dari stasiun Gambir. Sementara gw memesan TransRevo untuk keberangkatan pukul 18.00. Seperti juga travel lain yang melayani rute ke arah tatar parahyangan timur, TransRevo pun memberikan layanan antar door to door. Dan karena door to door service, ketika dikatakan berangkat pukul 18.00, para penumpang akan dijemput satu persatu ditempat masing-masing satu hingga dua jam sebelumnya. Pukul 18.00, travel diusahakan sudah meninggalkan Bandung.

Waktu Lupita masih di Bandung, gw memperhatikan bahwa setiap mudik ke kampung halamannya di Indramayu, dia selalu grabak-grubuk dijemput travel jam 16.30, pas-pasan sama waktu bubar kantor. Kadang travelnya datang lebih cepat dan Lupita diburu-buru untuk segera berangkat. Belajar dari pengalaman itu, ketika pesan TransRevo, gw berulang kali mewanti-wanti bahwa gw baru bisa dijemput diatas jam 16.45.

Di hari H, sekitar pukul setengah lima kurang, si supir TransRevo menelpon gw, melaporkan posisinya. Saat itu dia masih berada disekitar Pasteur, baru keluar dari pool-nya. Katanya baru sekitar 20 menit lagi akan sampai di tempat gw. Gw pun bersiap-siap. Pukul 16.35, gw sudah siap di lobby kantor, menjadi orang pertama yang keluar ruangan.
Dan setelah lima, sepuluh, duapuluh, tigapuluh… dan akhirnya setelah hampir satu jam menunggu, barulah TransRevo datang. Armadanya berupa kijang innova. Gw adalah orang pertama yang dijemput. “Bandung macet dimana-mana!” kata pak supir ketika gw tanya kenapa lama sekali baru datang, padahal masih ada empat penumpang lain yang harus dijemput dan saat itu sudah pukul 17.45.
Untunglah lokasi penumpang lainnya tidak terlalu jauh. Penumpang terakhir dijemput di Kiara Condong.

***

Jumat sore itu hujan mengguyur Bandung, membuat jalan semakin macet dan ricuh. Mobil bergerak lambat. Gw ingat bertanya jam berapa kira-kira akan sampai di tempat istirahat di Sumedang. Supir menjawab, sekitar jam setengah delapan. Kenyataannya, pukul 19.30 kami bahkan baru keluar tol buahbatu.

Jalan yang basah karena hujan, rute yang berkelok-kelok dan sempit, dan ramainya jalan membuat mobil tidak bisa berjalan cepat. Terakhir kali gw ke Cirebon tahun lalu, gw butuh waktu lima jam untuk sampai tujuan. Kali ini, setelah hampir empat jam, perjalanan baru mencapai restoran Sari Rasa di Sumedang.
Melanjutkan perjalanan, mobil tetap tidak bisa bergerak cepat karena terhalang banyaknya truk pengangkut batubara. Gw mencoba tidur, tapi tak bisa karena jalan yang berkelok-kelok dan pak supir yang berani melakukan manuver-manuver, menyalip kanan-kiri dengan lincah membuat jalannya mobil menjadi sangat terasa goncangannya.

Pukul 00.30 dinihari, gw sampai di perumahan Taman Evakuasi. Nina menunggu gw didepan rumahnya. Pichu ikut menunggu di teras. Yeni sedang dikamar mandi, dan Adedi baru akan mulai menyantap mi goreng instan. Mereka yang datang dari Jakarta tiba di rumah Nina sekitar setengah jam lebih dulu daripada gw yang menempuh hampir 7 jam perjalanan dari Bandung.
Mengingat kata-kata teman satu kos gw yang tinggal di Cirebon, 7 hingga 8 jam perjalanan dari dan menuju Cirebon adalah hal yang biasa saat ini.

***

Rasanya malas sekali membuka mata Sabtu pagi itu. Tapi sudah jauh-jauh ke Cirebon, masa’ cuma bersantai-santai di rumah?
Setelah semuanya berdandan rapih dan wangi, termasuk Fathar, bocah semata wayangnya Nina, kami pun bersempit-sempit didalam swift-nya Nina. Yeni yang paling seksi dapet jatah duduk di depan disamping Nina, tugasnya memangku Fathar. Gw, Adedi, dan Pichu berbagi kursi di belakang. Hari itu juga gw mendapat gelar baru dari Fathar. Perkenalkan, saya si “Tante Cantik” *terharu*
Fathar adalah satu-satunya cowok yang bilang saya cantik *nangis sesegukan* 😆

Sebelum keliling Cirebon, kita sarapan dulu dong. Tujuannya gak lain dan gak bukan. Nasi Jamblang Ibu Nur di jalan Cangkring yang terkenal itu. Tempat makan ini terdiri dari dua lantai, dimana lantai dua merupakan smoking area. Tempat parkirnya lumayan juga, tepat diseberangnya, bersebelahan dengan dapurnya. Musala terletak disamping rumah makan. Menurut Nina, bangunan permanen dengan cat hijau muda yang segar seperti sekarang ini merupakan bangunan baru. Sebelumnya Nasi Jamblang Ibu Nur menempati tempat yang biasa saja.
Saat kami datang, antrian belum terlalu panjang. Konon, semakin siang apalagi di kala libur, antrian bisa mengular bahkan sampai ke pintu.

Nina dan Fathar mengambil meja, sementara gw, Pichu, Yeni, dan Adedi, mengantri makanan. Sama seperti Ampera atau Laksana atau Bancakan di Bandung, di Nasi Jamblang Ibu Nur ini pun para calon pembeli mengantri dan mengambil sendiri lauk pauk yang diinginkan. Diujung meja lauk pauk, bertugas seorang kasir. Jadi abis pilih-pilih makanan, bayar dulu, baru deh kembali ke tempat duduk dan makan. Kalau mau pesan jus juga bisa, tapi bayarnya terpisah kalo gak salah.

Ini yang gw pilih: satu porsi nasi putih dengan pepes jamur, udang asam manis, sebutir telur asin, dan sedikit sambal. Minumnya seperti biasa teh botol sosro dong. Semuanya Rp 22.500.

udang pepes jamur telor asin nasi jamblang
nasi jamblang ibu nur
nasi jamblang ibu nur 1

Makannya menggunakan piring melamin yang diatasnya ditaruh lapisan daun jamblang atau daun jati. Menurut gw sih porsinya pas, terutama kalo niatnya emang buat sarapan. Pepes jamurnya enak, telur asinnya enak, udangnya juga enak. Pichu, Adedi, dan Yeni bahkan sampe nambah. Dan gak heran kalo pengunjungnya membludak. Hingga sore hari saat kami kembali untuk memesan tahu gejrot Ibu Wiwi yang tandem di situ, pengunjung masih saja antri.

Buat penggemar nasi jamblang ini, jangan lupa ya kalo mereka tutup dari tanggal 8-10 Juli ini, dan baru buka lagi tanggal 11 Juli mulai jam 2 siang selama Ramadhan.
Dari nasi jamblang ibu nur, kami melanjutkan perjalanan sesuai itinerary yang Nina tetapkan. Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, tapi untuk dua tempat ini gw akan mencoba menuliskannya secara terpisah ya…

***

Teman kos gw yang asal Cirebon mengingatkan gw untuk tidak lupa mampir ke es duren gagu pasuketan. Pokoknya mantab surantab lah, dia berpromosi. Maka sepulangnya dari Keraton Kanoman, mengikuti permintaan gw, Nina mengantar kami menyusuri jalan Pasuketan yang terletak memang tak jauh dari jalan Kanoman.
Setelah dua kali bolak-balik dari ujung ke ujung dan bertanya pada tukang parkir, akhirnya ketemu juga dengan tukang es durennya. Dia mangkal di depan deretan kios Istana Arloji dan Toko Olahraga Pasuketan, gerobaknya dicat warna pink. Tapi, kok dia bisa bicara? Katanya gagu? Jangan-jangan kami salah gerobak.

Saat gw dan Pichu menyantap es duren, datang seorang laki-laki berbaju hijau muda dengan logo pertamina. Dengan terbata-bata dia bicara pada kami. Ternyata benar, ini memang es duren gagu pasuketan yang kesohor itu. Hanya tadi saat kami baru datang, sepertinya bapak itu sedang shalat. Jadi teman-temannya sesama pedagang kaki lima di situ yang bantu melayani.

es duren gagu pasuketan
Abang es duren gagu, difoto dari dalam mobil

durian ice cream with the real durian fruit
Es Duren Gagu Pasuketan. Es krim rasa duren dan dua buah daging durian, disiram sirup tjampolay khas Cirebon. Hmmm… tidak seperti es puter lainnya yang bertekstur agak kasar, es krim rasa duren ini bertekstur halus. Satu mangkok ini dihargai Rp 9.000. Enaaaaakkk!!! Gw dan Pichu sukaaaaa!

***

“Yang mana yang bagus?” Adedi menghamparkan empat helai kain batik dihadapan gw dan Vika yang sedang sama bingungnya memilih batik diantara begitu banyaknya pilihan yang cantik-cantik.

Trusmi memang tempat yang tepat bagi para pecinta batik, atau bahkan bagi wisatawan yang sekedar cari oleh-oleh. Trusmi adalah satu daerah di kawasan kabupaten Cirebon yang terkenal sebagai sentra batik dengan toko-toko batik di kiri kanan jalan.
Sebenarnya di kami hanya sempat mampir di dua toko. Toko pertama adalah Lebet Sibu, langganan dan kebanggaan ibunya Nina. Suasana tokonya memang nyaman dan sangat homey, tampilan tokonya juga cantik. Mereka menyediakan berbagai macam pilihan kain batik, mulai dari batik print, batik cap, hingga yang paling mahal: batik tulis. Harganya pun bervariasi. Selain itu mereka juga bisa membuat baju customized, bisa dikirim ke pembeli jika si pembeli tinggal di luar kota. Salah satu servis lainnya, mereka juga menyediakan tahu gejrot gratis sebagai compliment.

Kalau Lebet Sibu punya interior seperti rumah tinggal, toko kedua yang kami masuki benar-benar layaknya toko sentra batik, seperti Khrisna di Bali. Disinilah saya dan Vika mulai khilaf :mrgreen:

Bahkan Adedi yang sebelumnya keukeuh sureukeuh akan fokus gak bakal belanja, malah jadi orang pertama yang dengan sigap mengambil berhelai-helai kain batik, dan membelinya.
“Lumayan kan, beli 3 jadi 35.000 sehelai. Kalo beli satu harganya 40.000,” katanya.

batik cantik trusmi 1
Tebak, mana yang punya gw dan mana yang buat mister babeh dan Nyonya Besar?
batik cantik trusmi
***

Sebelum pulang ke rumah Nina, kami mampir dulu di jalan Ir. Juanda untuk makan siang yang super terlambat. Empal Gentong H. Apud jadi pilihan. Tapi biarpun judulnya empal gentong, gw, Pichu, dan Adedi memilih sate kambing muda, sementara Yeni yang udah lemes dan Nina memilih empal gentong yang gak pake jeroan.
Mereka memang hanya menyediakan tiga menu: empal gentong, empal gentong garang asem, dan sate kambing muda. Empal gentongnya sendiri ada yang empal gentong daging, empal gentong kikil, dan satu macam lagi yang gw lupa.

Sate kambing muda yang nikmat, apalagi dimakan pake nasi panas. Nyam nyam nyam!
sate kambing muda haji apud

***

Belanja batik udah, kali ini kami ke toko sentra oleh-oleh “Pangestu” di jalan Sukalila Utara No. 4C. Sasaran utamanya tentu sirup cap buah tjampolay khas Cirebon rasa pisang susu. Sayang, habis. Sebagai gantinya, gw membeli Jenisa: sirup jeruk nipis dengan madu, sementara Pichu membeli Jeniper: sirup jeruk nipis peres, tanpa madu. Selain Jenisa, gw juga membeli beberapa makanan kecil seperti mino rasa durian, gula batu, dan kue satu kesukaan mister babeh. Tak lupa, Yeni juga membeli ikan jambal kesukaan keluarganya.
Masih penasaran dengan sirup cap buah tjampolay rasa pisang susu, akhirnya kami menemukannya di toko oleh-oleh “Sumber Jaya” di jalan Siliwangi nomor 229-231. Satu botol dihargai Rp 20.000, 500 rupiah lebih mahal daripada yang dijual di indomaret :mrgreen:
Sirup cap buah tjampolay ini tersedia dalam banyak rasa, seperti strawberry, rose, mocha, durian, dan lainnya. Tapi yang paling heits memang si pisang susu ini. Jadi deh, bawa pulang satu botol buat bekal buka puasa di Depok. Ramadhan kan sebentar lagi.

Udah selesai ya beli-beli oleh-olehnya, Nina pun mengarahkan mobilnya ke arah Kuningan. Rencananya kami akan makan malam di rumah makan Klapa Manis, yang katanya punya view paling bagus di Cirebon. “Tapi rasa makanannya biasa aja lho ya,” Nina sudah mewanti-wanti. Oke lah gak apa-apa, penasaran juga pengen tau karena baca beberapa reviewnya di internet.

Klapa Manis terdiri dari tiga lantai. Kalau kita datang dan turun dari mobil, lantai yang sejajar dengan kita itu adalah lantai tiga. Konsep ruangannya sendiri semi outdoor. Pemandangannya lumayan lah, penuh dengan kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Mungkin akan lebih bagus kalau datang ke sini saat matahari terbenam.

cirebon viewed from klapa manis
klapa manis
klapa manis lantai 1
klapa manis lantai 2

Menu yang ditawarkan cukup beraneka ragam walau menitikberatkan pada masakan sunda. Kami memesan ayam goreng dabu-dabu, ayam bakar dabu-dabu, nasi tutug oncom, plecing kangkung, iga penyet spesial, dan satu jenis makanan lagi. Plecing kangkungnya tidak seperti yang ada dalam bayangan kami, hingga Adedi memutuskan untuk memesan satu menu lagi.

ayam dabudabu nasi tutug oncom
Ayam Dabu-dabu dan Nasi Tutug Oncom yang gurih dan oncomnya melimpah ruah

plecing kangkung klapa manis
Plecing Kangkung yang tidak tampak seperti plecing kangkung

iga penyet special klapa manis
…dan Iga Penyet Spesial-ku yang dingin, tolong jangan dibandingkan sama Warung Tekko atau Konro Bakar ya! Beda jauh, kakaaaaakkk…

Dan benar kata Nina, rasa makanannya biasa aja. Makanan dihidangkan tidak dalam keadaan panas. Walaupun tidak termasuk kategori ‘tidak enak’, tapi sepertinya Klapa Manis memang menjadikan pemandangan Cirebon dari ketinggian sebagai andalan. Daaann biarpun ‘biasa aja’, justru foto-fotonya yang paling banyak dipajang ya ceuuu… 😆

***

Minggu pagi, setelah mengambil pesanan tahu gejrot ibu wiwi, dengan menumpangi taksi langganan Nina kami menuju stasiun Kejaksan atau yang umum dikenal sebagai stasiun Cirebon. Untuk menuju atau dari stasiun memang hanya ada taksi, itupun tanpa argo. Dari stasiun ke pusat kota rata-rata dikenai tarif Rp 50.000. “Kalau pake argo, mereka rugi. Cirebon kan kota kecil, bisa-bisa semua bayar pake minimum payment,” terang Nina.

Setelah check in dengan menunjukkan KTP masing-masing, kami segera menaiki gerbong A kereta api Cirebon Express. Sebelumnya kami sempatkan dulu foto-foto. Ternyata stasiun Kejaksan itu tidak terlalu besar.

stasiun cirebon
off to jekardah
Keliatan gak tuh Nina dan Fathar di belakang?

***

Sekitar pukul 13.00, gw, Pichu, Yeni, dan Adedi turun di stasiun Jatinegara, sementara Nina dan Fathar melanjutkan perjalanan untuk kemudian turun di stasiun Gambir. Kenapa berbeda, karena Nina dan Fathar masih punya urusan di Jakarta dan dijemput oleh suaminya disana. Sementara gw berempat akan langsung naik kereta commuter line ke arah Depok. Walaupun jadi jauh memutar karena dari Jatinegara kereta harus ke Kampung Bandan, lalu ke Angke, lalu ke Tanah Abang, baru ke Depok, tapi kami dapet tempat duduk karena kami naik dari stasiun paling ujung.

Sementara menunggu kereta yang akan berangkat pukul 13.16, kami memutuskan untuk makan siang dulu di baso malang Oasis, dan Yeni membeli tiket.
Surprisingly, entah karena lapar atau apa, tapi gw merasa si baso malang Oasis ini enak!

last lunch - baso malang oasis stasiun jatinegara
…dan terjangkau! Bihun bakso ini Rp 15.000, Jendral! 😆 dan gak pake tax-tax-an! HURRAAAHH!!!

Dan surprisingly lagi, tiket kereta commuter line AC Jatinegara-Depok itu Rp 3.500 saja! Kami sampai meminta Yeni untuk meyakinkan, apa benar harga tiket kereta demikian murahnya. Ternyata, hari minggu tanggal 30 juli adalah hari percobaan bagi harga tiket progresif yang mulai berlaku tanggal 1 juli keesokan harinya.
Kini untuk pembelian tiket kereta, penumpang diberikan struk. “Ini pasti akan bikin antrian hebat di mana-mana,” kata salah seorang diantara kami. Dan benar, bahkan selain antri, gw dengar kereta hampir tiap hari bermasalah saat ini. Entahlah ada yang mogok, datang terlambat, atau gangguan sinyal, apapun itu, pelayanan kereta api Indonesia saat ini semakin minus saja nilainya.

***

Kami sampai di stasiun Depok pukul 15.00 dan ibunya Pichu sudah menunggu di sana.

Terima kasih ya Tante, udah dianterin sampe depan komplek rumah. Terima kasih juga buat Nina, yang udah jadi tuan rumah yang oke punya walaupun kita nenangganya kurang lama :lol:, dan buat de’ Fathar yang super aktif dan nempel terus sama mama Nina dan udah bilang kalo tante ini cantik *kecups* 😆

momma's boy
closing

Pengeluaran:
.TransRevo Bandung-Cirebon 110.000 (telp. 022-70668222)
.Nasi Jamblang Ibu Nur 22.500
.Es duren gagu Pasuketan 9.000
.Trusmi *ehm.. kasih tau gak yaaa…*
.Sate kambing muda+nasi di Empal Gentong H. Apud *ditraktir Nina*
.Tahu gejrot Ibu Wiwi 6.000/porsi *gw beli lima porsi: satu makan ditempat, empat buat oleh-oleh*
.Oleh-oleh toko Pangestu 49.500 *Jenisa, gula batu, mino rasa durian, dan kue satu*
.Oleh-oleh toko Sumber Jaya 20.000 *sirup cap buah tjampolay rasa pisang susu*
.Iga Penyet Spesial+Cappucino di RM. Klapa Manis 55.000
.Aqua 2.000
.Nutriboost 5.200
.Susu Ultra rasa coklat 250 ml 4.200
.Porter fee 20.000
.Tiket CIREKS executive gerbong A kursi 2A Cirebon-Jakarta 135.000
.Bihun Bakso di Baso Malang OASIS 15.000
.Tiket Commuter Line Jatinegara-Depok 3.500
.Becak 5.000

[Burg’O] Jepangnya Depok

Tiga post berturut-turut tentang kuliner! Gak heran pas ketemu, Vika langsung komentar, “kayaknya lo makin bulet, Ke,” :mrgreen:

Ceritanya kan gw masih terbawa-bawa suasana liburan ya, terus kesepian pula dan lagi ngerasa sepet banget sama kantor karena gw diperdaya sedemikian rupa hanya karena status gw yang masih anak bawang. Jadi lah gw menghubungi Vika ngajak-ngajak ketemuan, sampe maksa-maksa pula. Emang gw agresif sih orangnya 😆
Gak mau tau pokoknya gimana caranya biar bisa ngumpul-ngumpul bareng plus si Calon Manten juga. Tapi tetep pake syarat tempat kongkownya gak boleh jauh-jauh, bahkan sekarang margonda pun gw anggap jauh. Bukan, bukan karena trauma sama kasus starbucks-meet up, tapi karena margonda itu innalillaahi macetnya, terutama pas wiken.
Nah pas banget nih karena ternyata yang mau ketemu bukan hanya gw, tapi Vika dan Calon Manten juga. Vika mau ngasih oleh-oleh, ceritanya. Dan mau balikin long john gw juga yang doi pinjem saat plesir ke ostraliyah.

In short, Vika ngajak nyoba tempat makan baru. Denger cerita dari beberapa orang, tempatnya cukup nyaman dan makanannya juga enak. Dan nilai tambahnya adalah, bukan di margonda dong. Lumayan, macetnya bisa diminimalisasi.

Burg'O at Siliwangi

Burg’O: Jepangnya Depok
Jl. Siliwangi No. 9
Dari arah Jl. Raya Bogor, sebelah kiri jalan setelah RS Hermina
Jam Operasional: 11:00 – 22:00 (malam minggu buka hingga pukul 23:00)

Burg’O ini terhitung baru. Tadinya tagline-nya itu ‘Hamburg & Sweets’, tapi sekarang ganti jadi ‘Jepangnya Depok’. Sebenarnya gw agak bingung dengan tagline-nya ini, karena ketika gw bolak-balik buku menunya, varian makanan yang ditawarkan gak segitu jepangnya. Gw gak melihat adanya sushi atau sashimi atau okonomiyaki atau dorayaki atau makanan jepang lainnya pada daftar menu. Kalaupun ada yang bernafaskan Jepang, itu adalah nasi goreng ayam ala Jepang alias Chicken Omrice [IDR 22.000] dan Chicken Teriyaki [IDR 23.000] untuk makanannya dan Aujiro Latte [IDR 17.000] untuk minumannya. Gw sendiri lupa untuk menanyakan apa itu Aujiro Latte, cuma kalo kata buku menunya sih termasuk recommended drink, selain Dreamy Sunshine in Burg’O [IDR 20.000], Passionade [IDR 21.000], dan Frappucino [IDR 23.000]. Dreamy Sunshine itu mix beberapa buah tapi bukan dalam bentuk juice, salah satunya pineapple, sementara Frappucino itu sendiri blended Arabica coffee. Nah kalo Passionade itu baru deh mixed fruits juice.

the menu

Masih dalam rangka bingungnya gw sama tagline –nya, gw pun mencari-cari apa yang dimaksud dengan Hamburg itu. Hamburger kah atau jenis steak kah?
Nah, berdasarkan googling singkat kecil-kecilan, diketahuilah bahwa Hamburg itu adalah salah satu makanan populer di Jepang. Akarnya memang makanan bule sih, yaitu Salisbury Steak. Nah si Hamburg Steak ini lazim disajikan dengan topping keju atau dikenal dengan nama chizuhanbagu, atau dengan kari ala Jepang.
Sementara di Burg’O, hamburg steak ini disajikan dengan umumnya 3 jenis saus yang bisa kita pilih. Gravy sauce yang kental dan gurih, sour onion sauce yang asam-asam segar, atau teriyaki sauce yang manis gurih. Padahal, penyajian dengan gravy sauce itu sendiri adalah penyajian Salisbury Steak di negeri asalnya alias di amerika sono. Jadi makin bingungin gak sih tagline-nya? Kayak kurang nendang gitu kan jepangnya…

Oke, sebagaimana namanya, Hamburg Steak ala Burg’O ini pun dibuat dari daging ayam dan daging sapi, jadi bukan sirloin atau tenderloin dan kawan-kawannya. Karena seperti daging cincang, steaknya pun sangat lembut dan empuk.

Ini langsung cerita-cerita aja, emang pesen apaan sih? :mrgreen:

Vika pesan ini:

Pichunotes' Hamburg Steak Cheese
200 gr Hamburg Steak Cheese with Gravy Sauce [IDR 33.000]

Calon Manten, karena lagi ngidam sosis, jadi mau yang ini:

Yeni's Hamburg with Sausage and Mozzarella Cheese
150 gr Hamburg with Sausage and Gravy Sauce [37.000], Mozzarella Cheese added on top [IDR 5000]

Dan gw yang datang paling belakang kebagian ini:

My Hamburg with Ebi-Fry and Mozzarella Cheese
150 gr Hamburg with Ebi-Fry and Gravy Sauce [IDR 37.000], Mozzarella Cheese added on top [IDR 5000]

Yang ketika sampai di meja langsung gw komentarin, “kecil amat ya Mbak, gak bisa diperbesar nih?,” dan langsung disambut senyum manis mbak pelayan nan ramah dan penawaran untuk ditambahkan mozzarella cheese on top-nya, yang tentu tidak gw tolak :mrgreen:
Omong-omong soal pelayanan, pramusajinya memang ramah dan cukup sigap. Makin jadi poin plus deh setelah tempat yang nyaman dan cukup asri, fasilitas wifi, dan area parkir yang luas. Area parkir ini pula yang jadi pertimbangan kenapa Burg’O gak buka di margonda.

Kembali ke hidangan, sebenarnya sih rasa makanan gw, Vika, dan Calon Manten itu sama. Pembedaannya cuma di side dish aja. Yeni dikasih sosis, gw dikasih ebi goreng, sementara Vika dari sononya udah dikasih lelehan keju mozzarella. Sayuran pendampingnya pun seragam, frozen veggie standar pendamping steak.
Dan yang jelas, rasanya enaaaaakkk. Ya menurut gw sih enak. Dagingnya lembut, empuk, juicy dan tasty. Gravy sauce-nya pun nikmat. Ebi gorengnya juga kerasa daging udangnya. Emang beneran udang berbalut tepung, bukan udang bertepung tebal. Worth trying, cocok buat kumpul keluarga atau kumpul sahabat. Gw sendiri udah ada niat mau balik lagi ke sini.

Untuk minumannya sendiri, pilihannya ada sejenis chocolate drink, kopi, milkshake, dan jus, selain yang udah gw sebutkan di atas. Tapi, demi nama kekompakan dan penghematan, kami bertiga kompak memesan refillable juice seharga IDR 12.000 yang bisa refill berkali-kali sampe mabok. Pilihannya ada orange juice, mixed fruit juice, iced tea, iced coffee, air mineral, dan satu lagi gw lupa. Rasanya? Ya standar jus kotakan di supermarket lah.

Anyway, seperti biasa lah ya, kapanpun kami kumpul-kumpul pasti lah saling bertanya kabar teman yang lain dan saling bertukar kabar pula. Random blabs sih pastinya, karena kami bertiga itu suka random, jadi kalo membicarakan sesuatu pasti loncat-loncat gak beraturan, ganti topik tiba-tiba dan tanpa arah. Tapi berhubung saat ini sudah ada satu calon manten diantara kami, maka kemarin topiknya pun bertambah. It was ‘how to have your JODOH immediately’ *maap capslock kepencet :mrgreen:*

Dan setelah ngobrol utara selatan timur barat, ternyata kami belum merasa kenyang. Maka dipesanlah Hamburger [IDR 23.900]. Lagi-lagi, gak ada perbedaan signifikan antara hamburg steak dan hamburger. Bedanya ya hamburger pake roti dan keju slice. Dan karena pesan hanya satu hamburger, gw pun meminta supaya si hamburger dipotong tiga. Sungguh kreatif!

the hamburger that just okay

Jadi, kenapa pake tagline ‘Jepangnya Depok’ itu mungkin karena mereka menyajikan Hanbagu alias Hamburg Steak yang ngehits di jepun. Tapi ya teteup IMHO sih akan lebih pas kalo mereka menyajikan pula hidangan lain ala negeri sakura, supaya gak keluar jalur ditengah-tengah menu salad, pasta, dan sandwich yang mereka tawarkan.

Next time, gw pengen nyoba dessert dan aujiro latte-nya ah! 😉
Tentu, bayarnya pake Mandiri Card ya, biar dapet diskon 20%! Tinggal pilih, mau kartu debet atau kartu kridit :mrgreen:

Pichunotes and Calon Manten
Muka bahagia tapi ngantuk *karena dapet diskon 20% dan ditraktir Calon Manten, tapi masih jetlag*

The Proposal

Akhirnyaaa… sebuah lamaran!!! *joget sambil jungkir balik*

Dan sebelum dilanjutkan, untuk mencegah adanya tindak kriminalitas yang mungkin terjadi, gw jelaskan terlebih dahulu bahwa bukan gw yang dilamar. Oke? Jadi gak ada yang perlu bunuh diri atau meratapi nasib karena gw diambil orang *kode* *dibatako* 😆 😆 😆

Rencana lamaran ini sebenarnya udah terendus sejak gw dan gerombolan si berat kumpul-kumpul di awal tahun. Tapi tepatnya kapan belum ketahuan saat itu. Pokoknya tanda-tanda keseriusan udah keliatan banget. Dan tentu kami berbahagia. Akhirnya kutukan jomblowati berakhir juga. Ada yang pecah telor! *jingkrak-jingkrak*

Dan siapakah yang berbahagia dalam postingan gw kali ini?

Gak lain dan gak bukan, doraemon si ulet keket alias Yeni.

candidate bride

Yeni ini temen gw sejak kelas 2 SMA. Waktu itu dia anak baru, dan bisa deket karena gw saat itu sedang dalam masa penyelidikan atas seorang abang gebetan salah satu sahabat gw. Jadi dulu si Yeni ini kan deket gitu sama si abang gebetan itu. Sebagai sahabat solider gw pun melakukan due diligence terhadap si Yeni terkait hubungannya dengan si abang gebetan. Si abang gebetan itu sendiri hingga kini masih setia menjadi tetangga Yeni, dan sudah berstatus sebagai suami dari dokter gigi langganan gw, yang juga teman gw sejak jaman SMP. Baik si abang gebetan dan istri adalah teman sekelas gw saat kelas 3 SMP. Eh gw dan Yeni malah jadi dekat, dan terus bersahabat sampai sekarang. Kebetulan nasibnya sama. Sama-sama telat masuk kuliah, sama-sama nyablak, dan kayaknya sama-sama sering patah hati. Untunglah sekarang sudah ada yang bisa membuat hati Yeni berbunga-bunga melayang di angkasa 😆

Satu minggu sebelum lamaran, Yeni udah wanti-wanti gw supaya datang ke acaranya itu. Katanya sih sengaja dibikin hari sabtu supaya gw bisa datang, karena kalo hari minggu gw kan harus balik ke Bandung. Padahal sih bukan karena itu, tapi karena hari minggunya itu giliran adik laki-laki Yeni yang melangsungkan pernikahan. Gak heran pas gw ketemu Dio, adiknya Yeni, dia keliatan agak-agak gelisah nervous gitu. Mulai keesokan harinya dia akan bertanggung jawab atas seorang perempuan! *tabuh rebana* *lempar buket bunga* *bakar petasan*

Seperti biasa, namanya juga tim geunggeus, jadi sebelum hari H pun gw, Vika, dan tentunya si calon manten udah heboh chatting di whatssapp. Mulai dari nanya warna busana yang bakal di pake calon manten, kompakan pake baju warna putih sama Vika, sampe ngingetin Vika buat bawa kipas karena udah yakin banget pasti pasti pasti bakal gerah banget.

Yeni: “Ukeee… hari sabtu jangan lupa bawa kamera yaaa…”
Gw: “Okeee”
Yeni: “Banyak makanan. Lo wajib dateng”
Gw: “Ada zuppa zuppa? Kebab? Domba maroko? Macaroni schotel?”
Yeni: “Lo kata kawinan?”
Gw: “Gak ada kue-kue pendahuluan?”
Yeni: ‘Buat lo gak ada”
Gw: Buset!”

Vika: “Yeni minta difotoin”
Gw: “Hah! Dia juga minta gitu sama gw. Udah setuju gw tulis di blog juga.”

Gw: “Yeni bilang gak ada kue-kue pendahuluan”
Vika: “Hah! Teman macam apa itu!” 😆

Maka pada sabtu itu sampailah gw di rumah Yeni sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Vika belum datang dan ternyata acara sudah dimulai!

Gw menemui Yeni di kamar.

Gw: “Kata lo jam 10?!”
Yeni: “Iya mereka datengnya kecepetan, terus mau langsung mulai. Masa’ gw larang?”
Gw: “Calon lo semangat 45 ya cuy”
Yeni: “Hah!” 😆

Acara lamaran dibuka dengan sambutan-sambutan dari kedua belah pihak. Sementara gw berbagi tugas dengan Vika untuk dokumentasi. Gw di dalam ruangan dan Vika di luar. Tapi apa daya, keterbatasan peralatan yang didukung keterbatasan kemampuan membuat gw akhirnya hanya duduk di pojok ruangan bersama Dio sambil kipas-kipas. Alhasil, semua foto yang ada di postingan ini diambil dari kamera DSLR-nya Vika. Ketajaman gambar kamera saku dan DSLR memang beda ya :mrgreen:

orangtua yeni
Oom dan Tante yang tampak tegang

record
salah posisi
Salah posisi. Di belakang gw duduk Dio yang juga salah posisi dan akhirnya cuma bisa pasrah jongkok 😆

Yeni, yang sudah rapih jali menunggu panggilan untuk keluar, tidak pernah lepas dari senyum bahagia dan cengiran khasnya. Ketika sampai pada bagian penyampaian maksud dan tujuan kedatangan sang calon suami, Yeni pun ditanya mengenai kesediaannya menerima sang calon. Pertanyaan disampaikan melalui ibunya Yeni, dan dijawab…

“Iya. Mau, katanya”

Dan setelahnya barulah Yeni keluar, duduk ditengah-tengah para ibu dari pihak keluarga laki-laki. Dilanjutkan dengan acara tukar cincin, dimana cincin pada sang calon suami disematkan oleh orangtua Yeni dan cincin pada Yeni disematkan oleh orangtua sang calon suami. Langsung deh, Yeni semakin sumringah. Senyumnya semakin lebar dan cengirannya tiada henti.

pasang cincin
Mamanya Yeni memasangkan cincin ke Mas Ari, calonnya Yeni

cincin yeni
Cakep yaaa cincinku… 😆

cium mama mertua
Ciuman pertama dari calon mama mertua

Saat acara putri cincin yang ditukar ini, begitu banyak fotografer dadakan berkelebat dengan kamera dan blitz, membuat acara dokumentasi menjadi penuh perjuangan. Kebetulan, gw, Vika, dan teman-teman Yeni yang lain punya musuh yang sama saat ngambil poto: seorang cowok yang selalu bergerak ke manapun kamera kami bergerak sehingga pandangan pun tertutupi. Heh! Situ kreatip dikit kenapa, mas? Cari pojokan lain dong, cari angle lain!

Setelah tukar cincin, penyerahan bawaan, tiba waktu yang ditunggu-tunggu oleh gw dan Vika *Vika? Lo aja kali, Ke* :mrgreen:

Waktunya makaaaaannn!!!

Setelah makan siang dan para tamu mulai bubar, gw, Vika, dan Yeni duduk bermalasan di depan panci bakso.

the calon manten

Yeni: “Padahal tadi waktu ditanya mau atau gak, sempat pengen gw bercanda-in dulu tuh. Tadinya gw pengen jawab, diterima gak yaaaaa… tapi ngeliat muka orang-orang pada serius, jadi gak jadi deh”

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

Well, Yeni, congrats anyway! Alhamdulillaah ada kemajuan dalam kelompok rempong geunggeus kita yaaa… 😆

Who’s next? 😉

yang antri
Gw atau Vika?

sisa dua ekor
“Saya nomor dua,” kata Vika. Ooh berarti gw duluan ya Vik? *disambit bumerang dari ostrali* :mrgreen:

tongki yeni oneng
Tongki dan Oneng mengapit Calon Manten

Ketika Kami Booosaaaaannn!!!

Masih dalam rangka kebosanan yang melanda gw dan Neng Erma.

NE: “Aku bosaaaaaaaannnnnnn!!!”
Gw: “Aku super duper bosan luar biasa!!! Tadinya aku mau kongkow-kongkow sama bapak-bapak makan ikan bakar di buah batu, eh si Papih sekonyong-konyong dateng”
Gw: “Nyuruh rapat *jambak-jambak rambut*”
NE: “Trus ngapain ya kita? Harus melakukan sesuatu yang ajaib nih”
Gw: “Oh!”
Gw: “Aku tau!”
Gw: “Kita bikin boneka aja dari bahan flannel!”
NE: “Aku akut banget ini bosennya”
NE: “Ke singapur yuk”
Gw: “Apa kita kabur ke Malaka?”
Gw: “Tiket Jakarta-KL pp dan Jakarta-SG pp semua diatas satu juta”
NE: “Ogah deh. Mahal amir!”
NE: “Apa kita makan kambing?”
Gw: “Apa kita ke singapur trus nongton Die Hard abis itu makan kambing di Kampong Arab?”
NE: “Ide bagus! Okeh kalo gitu itu aja! Yuk capcus!”
NE: “Ke alam mimpi”
Gw: “Okedehkakak, ketemu di alam mimpi ya… kalo gak ketemu di Kampong Arab, coba cari aku di ***, mungkin nyasar di situ :lol:”

Percakapan absurd antara dua orang absurd :mrgreen:

[Ngopi Doeloe] Ngopi Cantik Murah Meriah

Tanpa ada sebab, tiba-tiba aja kemaren gw pengeeeeennn banget ngopi-ngopi cantik. Langsung deh sentuh-sentuh hape dan sempet histeris karena si Neng Erma, partner in crime gw selama di Bandung, diam seribu bahasa. Udah dicolek-colek di whatssapp, facebook, sampe ditilpunin, abis gw dicuekin. Hah! Ternyata gak cuma Mr. Engineer yang nyuekin gw, Neng Erma pun demikian adanya. Dunia sungguh kejam dan ditolak itu pedih, Jendral! *dilempar golok dari negeri seberang*

Tapi, namanya juga gw kan, mana pernah gw menyerah begitu saja. Ditolak sekali mah gampil, dua kali juga gw jabanin *sumpah ini bukan kode*
Jadi deh gw membombardir Neng Erma dengan segala rayuan maut, sampe dikeluarin semua daftar tempat makan yang pengen dicoba, tapi teteup… Neng Erma membisu. Ouch!

Menjelang injury time, alias sekitar jam lima sore, ketika gw merasa gundah gulana galau menerpa apakah pulang ke kos dan bermalas-malasan atau tetap di kantor ngerjain legal review documentation biar keliatan sibuk dan rajin, Neng Erma menyambut ajakan gw dengan sukacita. Dan karena kami ini termasuk ke dalam golongan serba-galau, mau ke mana aja masih ribet dirembukin dulu. Setelah ngalor-ngidul ke sana ke mari, diputuskanlah untuk istiqamah di niat awal. Ngopi-ngopi cantik. Tapi jangan si dewi medusa, mahal bo’! tengah bulan nih!
Yaudin, walaupun sebelumnya udah pernah nongkrong-nongkrong di sini dan agak trauma karena minuman yang gw pesen saat itu rasa deterjennya luar biasa kuat, tapi demi masuk blog, gak apa-apa deh ke sini lagi, dengan harapan kali ini rasa minumannya lebih baik daripada sebelumnya.

Sore itu, gerimis turun membasahi Bandung, jadi kayaknya emang pas banget buat ngopi-ngopi cantik. Sekitar jam enam, gw udah cipika-cipiki sama Neng Erma, yang demi ketemu kali ini kembali menggadaikan janji gak pulang malamnya *sungkem sama ibunya Neng Erma*
Neng Erma yang malang… gw baru bisa keluar kantor paling cepet itu jam setengah lima dan itu pun juaraaaaaaannnnnggg banget bisa pulang jam segitu, sementara dia udah selesai dari jam empat.

Dan gerimis itu kayaknya dihayati banget sama NGOPI DOELOE, tempat gw dan Neng Erma kongkow senja itu, kali ini kami memilih Ngopi Doeloe yang terletak di Jalan Burangrang No. 27,  karena mereka memutar lagu ‘Mencari Alasan’, lagu paling hits dari band paling heitz, Exist!

Ikhlasnya hati seringkali di salah arti
Tulusnya cinta tidak pernah engkau hargai
Berlalu pergi dengan kelukaan ini
Ku mengalah ku bersabar

Berpaling muka bila saling bertatap mata
Seolah kita tiada pernah saling menyinta
Mencari sebab serta mencari alasan
Supaya tercapai hasratmu

Manis di bibir memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena pastikan terpana bujuknya rayunya suaranya
Yang meminta simpati dan harapan…

Pas banget kan! Gerimis, mellow-mellow, galau-galau, ngopi-ngopi… NGOPI DOELOE emang juara deh! :mrgreen:
Suasana adem begitu semakin mendukung gw dan Neng Erma untuk agak kalap pesen makanan. Apalagi gw, mungkin karena efek puasa, bawaannya semua pengen dipesen, padahal sih cuma karena lapar mata 😆
Dan sebanyak-banyaknya Neng Erma makan, gak mungkin dia ngalahin gw, secara dia badannya liliput banget. Gw juga gengsi dong makan banyak-banyak, kan ceritanya lagi diet dan jaga image, masa’ cewek makannya nggragas gak kira-kira? :mrgreen:

Hasilnya, setelah bingung mau pesan apa saking banyaknya pilihan, inilah yang kami pesan:

what we swallowed
Machiato Caramel [IDR 15.000] | Pisang Keju [IDR 14.000] | Fettucine Carbonara [IDR 17.500] | Spaghetti Bolognaise [IDR 17.500] | Banana Split [IDR 16.500] | Frozen Tiramisu [IDR 20.500] *jangan lupa ada pajak 10% dan service 3,5%*

Machiato Caramel yang dipesan Neng Erma menjadi hidangan pertama yang sampai di meja. Rasa kopinya cukup kuat, disajikan bersama dua sachet gula, dan yang jelas tidak menggunakan rum. Abis itu yang dikeluarin adalah Banana Split, padahal udah dibilangin si Banana dikeluarinnya di akhir aja, namanya juga dessert… Neng Erma udah hampir ngamuk, ya maklum ceu… lagi PMS *pengen marah-marah sekali-sekali* doi :mrgreen:
Akhirnya si Banana dimasukin ke kulkas lagi, yang tampaknya membawa efek kurang oke ketika akhirnya dihidangkan pada kami.

Frozen Tiramisu pesanan gw pun datang. Aaaaahhh… I love how they put the cream on top of it. So rich and yummy! Cream-nya berlimpah, gak pelit sama sekali. Gelasnya juga lumayan ukurannya. Endang bambang markondang! Aku sukaaaaa minuman ini! enak enak enaaaaakkk!!! *kalo gak tau malu, sebenernya gw pengen nambah segelas lagi*

Abis itu, secara bersamaan datanglah Pisang Keju dan Fettucine Carbonara, yang terakhir ini pesanannya Neng Erma. Pisang Kejunya ditaburi keju dan diberi sedikit sentuhan susu kental manis. Enak, walaupun pisangnya kurang krispi ya kayaknya, tapi porsinya pas sebagai cemilan. Sementara Fettucine Carbonara-nya, untuk harga segitu, juga enak, tapi porsinya emang kecil ya.

Tadinya gw pengen pesen Honey Chicken Penne, tapi abis. Yaudah Lasagna deh. Eh abis juga *tutup aja mas, tokonya kalo gitu*
Akhirnya dengan berat hati, gw pun memesan Spagheti Bolognaise.
Nah… si Spaghetti ini, selain datangnya lamaaaaaaa banget karena pelayannya lupa *cubit nih* rasanya juga biasa aja. Masih lebih enak si Fettucine. Btw, semua pasta di sini dibandrol harga yang sama. IDR 17.500.

Masih inget si Banana Split yang lagi dipingit di kulkas? Sekarang saatnya doi tampil.
Dan bener, pas dihidangkan, bentuknya udah agak-agak gak karu-karuan. Es krimnya udah hampir mencair, menutupi seluruh badan pisang. Dan selain es krim coklat-vanila-strawberry itu, kan dikasih krim dan syrup lagi ya, makin-makin deh manisnya… fiuh *timbangan mana timbangan*

we are narsisters!
Ketika mati gaya nungguin Spaghetti Bolognaise yang tak kunjung tiba

Kalo ngomongin interiornya, gak ada yang spesial sih, termasuk yang biasa banget kalo dibandingkan dengan café-café yang menjamur di Bandung. Pelayannya pun, meskipun ramah, tapi agak gimana gitu ya… masa’ melayani pengunjung sambil makan sih? 😮
Alhamdulillaahnya, mereka menyediakan mushala. Biarpun alakadarnya, tapi masih lebih baik lah kalo dibandingkan sama beberapa tempat yang pernah gw datengin dan gak nyediain mushala bahkan buat pegawainya.

Terus, mau balik lagi?
Ya mau dong!
Affordable price with good taste; makanannya berada di kisaran harga 14.000 – 40.000, sementara dessert dan minumannya berada di range 5.000 – 23.000; dan tempatnya juga dekat kantor dan kos, cukup satu kali naik angkot cicadas-elang jurusan binong.
Gak ada alasan untuk gak balik 😉

Dan ketemuan itu ditutup dengan bikin undian tentang makan di mana kami berikutnya 😆 dilanjut dengan obrolan di whatssapp, ketika Neng Erma sekonyong-konyong berkata, “Aku bosaaaaannn!!! Weekend ini ke Singapur yuk Ke!”

Singapur?
Gak ada alasan untuk gak ke sana kan? 😉

[Taste of India] Indian Restaurant

Ini late post banget deh. Makan-makannya sendiri udah dari senin minggu lalu sebelum saya main-main ke Lamajan.

Jadi kan sebenernya udah lama ya pengen makan makanan India. Gak tau kenapa deh, mungkin karena lagi kangen Korea #eh iya maksudnya kangen saat-saat jalan ke downtown pas di Korea dulu, kalo mau makan kan nyari yang halal dan kalo pas lagi ngerasa kaya, kadang suka juga icip-icip di restoran-restoran india atau timur tengah.
Nah, biasa lah, kalo udah kepengen gitu langsung buka google dan browsing-browsing, di bandung ada di mana aja ya makanan India itu. Ketemu lah dua nama. Taste of India dan Indian Corner. Nah… gak ngerti kenapa kok bisa ujug-ujug nyampe ke Qahwa yang di jalan Progo sampe akhirnya saya dan partner in crime si Neng Erma malah memutuskan nyobain si Qahwa dulu yang notabene bukan makanan India, tapi Timur Tengah. Ya rada mirip sih bagian roti-rotinya :mrgreen:

Ujung-ujungnya, saya dan Neng Erma pun mengatur jadwal lagi agar bisa kembali ke rencana semula: makan makanan India.
Baca-baca testimoni, kayaknya Indian Corner yang deket jalan Otten itu orisinil banget rasanya. Penasaran sih, tapi karena letaknya kurang oke bagi penggemar angkot kayak saya dan Neng Erma, akhirnya balik lagi ke tujuan paling awal sedari dulu *ini kok kayak judul lagu :lol:* alias Taste of India.
Letaknya tepat di pinggir jalan Pasirkaliki, tepatnya nomor 44, berseberangan sama Indomaret.
Neng Erma yang pertama kali noticed sama letaknya dan bilang bahwa penampakannya biasa banget, gak ada fancy-fancynya deh ini restoran. Dan karena itu, Neng Erma berkeyakinan bahwa rasa makanannya supposed to be good karena ownernya kayaknya lebih mentingin taste daripada interior bangunan. Ya wis lah kita coba aja ya kakak…

Malem-malem pulang kantor, saya dan Neng Erma udah berdiri mematung diseberang Taste of India.

bohlamreklame

Kok itu ada Hritik Roshan sih??? *histeris*
*bagi yang gak tau penampakan abang Hritik, silakan di google. Termasuk demenan aye selain Aamir Khan :mrgreen:* *gak usah ditanya apa sebabnya :mrgreen:*
Oh ternyata… hanya ada di layar tipi.

tampakdepan
Bilangnya sih gak jual minuman beralkohol. Bir bintang gak ada alkoholnya ya? :drinking:

Jadi, interiornya emang gak terlalu ngindihe sih, tapi tengoklah dindingnya yang dihiasi poster Mahatma Gandhi, Indira Gandhi, Manmohan Singh, dan satu orang lagi yang gw gak kenal *curiga itu pemain kriket deh*, atau kain khas India yang dijadikan hiasan dinding… bau Indianya kerasa!

lineofleaders
portrait of gandhi ji
Bagi yang pengen tau tentang Mahatma Gandhi in quite a fun-learning way, coba tonton GANDHI yang diperankan oleh Sir Ben Kingsley deh. Durasinya lama sih, tapi gak akan membosankan bagi yang suka sejarah 🙂

Belom lagi, tivi yang gak berhenti menyiarkan orang-orang India yang gak jauh-jauh dari nyanyi-nyanyi dan nari-nari.

serius amat ngeliatinnya
ini juga serius banget deh
tivi full india

Masih kurang India?
Percayalah, ketika saya dan Neng Erma memasuki restoran itu, pelayannya sempet agak bengong melihat dua pribumi satu bertampang Melayu dan satu lagi model nci-nci dari Tiongkok kuno nyari-nyari kursi. Pas kami melihat sekeliling, baru deh ngeh kenapa si pelayan kok kayak kagok dengan kedatangan kami. Karena tamu yang lain itu orang India semua, sodara-sodara!
Mulai dari yang keling sampe yang cling *berkulit putih, maksudnya*, semua ada!
“Asa lagi di Penang ya, Ke,” kata Neng Erma. Begitu memasuki restoran ini, feel-nya emang langsung beda. Apalagi meja kami bersebelahan dengan dua orang cowok India yang sibuk dengan laptopnya yang mengumandangkan lagu-lagu India. Bayangin aja deh, udahlah tivi nayangin musik-musik India, laptop tetangga sebelah juga saingan dengan lagu-lagu India juga. Dan sempet-sempetnya salah seorang diantara mereka senyum-senyum ke gw. Gw sampe mikir, apa di jidat gw ada tulisan ‘penggemar cowok-cowok bertampang India dan/atau Timur Tengah’ ya? :scratch: :mrgreen:
Nah… kurang India apa, coba, apa???
Beralih ke menu, ini restoran agak gak kompak ya sama buku menunya.
Di neon bar di pinggir jalan, namanya Taste of India, tapi di buku menu, namanya Taste of Indian *masalah ya booo’* :mrgreen:
Taste of India sebenarnya gak cuma menghidangkan masakan India, tapi juga Thai dan Chinese food. Tapi kan sesuai namanya aja ya kakak, saya dan Neng Erma pesen yang India-india aja deh.

Tadinya, demi menghemat, saya dan Neng Erma mau pesen menu student package seharga 30.000 rupiah. Tapi ternyata student package ini cuma tersedia untuk delivery order aja. Oke deh.
Untuk starternya, kami pesan Nacho Special [30.000 rupiah], dan ternyata gak tersedia. Oke, pindah ke Chicken Shasilk [35.000 rupiah] dan Chicken Tika Masala [35.000 rupiah]. Trus, pesen Mutton Rezala [45.000 rupiah] juga, beserta Chapati [5000 rupiah] dan Paratha [5000 rupiah]. Untuk minumnya, Neng Erma memesan Chocolate Lassi [15.000 rupiah], sementara saya pesan Strawberry Lassi [15.000 rupiah].

Yang pertama mendarat di meja adalah dua gelas lassi. Sruputan pertama, iiihh… strawberry lassi-nya enak! Seger-seger manis, gak terlalu kecut gitu. Kalo buat saya sih pas ya rasanya. Dan lebih enak yang strawberry daripada yang chocolate *sempet nyulik punya Neng Erma*. Kayaknya lassi emang lebih hip kalo sama buah-buahan deh *sok tau*
Abis itu, datanglah dua jenis roti yang kami pesan: Chapati dan Paratha. Chapati dan Paratha bentuknya sama-sama pipih, tapi Chapati tampak lebih tipis dan lebih renyah, dengan warna lebih kelabu daripada Paratha. Mungkin karena Chapati dibuat dari tepung gandum, sementara Paratha dibuat dari tepung terigu. Disusul Mutton Rezala. Neng Erma, karena kelaparan, langsung menggasak hidangan yang ada.
Ini pertama kalinya saya makan mbek. Agak reluctant sebenernya, karena dari kecil emang gak dikasih makan ini sama emak babeh, tapi dicoba aja deh.
Gigitan pertama… oke, gak prengus kok, agak mirip sapi, enak. Tapi mungkin karena emang gak pernah makan kambing, selama ngunyah tuh di kepala terus menerus terngiang ‘makan kambing makan kambing makan kambing makan kambing’ :mrgreen:
Tapi bener kok, Mutton Rezala-nya enak. Neng Erma pun bilang gak enak. Eh tapi gak tau sih itu enak karena emang enak atau karena dia lapar, tapi kayaknya emang enak karena terbukti saya gak trauma makan kambing tuh setelahnya 😆

foodsandbeverages
Chicken Shasilk – Mutton Rezala – Chicken Tika Masala – Chocolate Lassi – Strawberry Lassi – Chapati – Paratha
It’s officially NYUUUUUMMM!!!

Gak lama, datang Chicken Tika Masala yang tampak merah membara. Ini kok kayaknya pedes yaaa… dan emang iya pedes. Katanya, chicken tika masala ini potongan ayam dalam tomat dan bawang bombay, tapi kok pedes??? Pedes dan potongan ayamnya gede-gede dengan daging yang tebal. Ini ayam suntik hormon yah? *curiga*
Yang terakhir datang justru hidangan starter: Chicken Shasilk yang satu porsinya terdiri dari 2 tusuk. Tapi gak ngaruh lah ya. Saya dan Neng Erma bukan penganut etiket makan sih, jadi terserah aja mau makan starter jadi hidangan penutup dan sebaliknya.
Chicken Shasilk ini ternyata bentuknya seperti sate dengan tusukan dari besi. Jadi, potongan ayam berselang-seling dengan bawang bombay dan paprika hijau dan merah. Sebagai penggemar bawang, saya sih seneng-seneng aja, cuma sayangnya saat itu tuh udah kenyang banget, dan udah keringetan makan Chicken Tika Masala. Jadilah satu tusuk dibungkus pulang sama Neng Erma.

All in all, seluruh menu yang kami coba sih kami bilang enak. Rempah dan rasanya sangat kuat, tapi tetep acceptable sama lidah kami, dan jelas lebih nikmat daripada makanan Timur Tengah yang cenderung hambar yang kami coba di Qahwa. Gak nyesel deh nyoba makan di Taste of India ini. It’s worth every penny karena harganya pun cukup bersahabat.

Dan saat saya dan Neng Erma beranjak pulang, masuklah sepasang laki-laki dan perempuan, yang bikin saya ngakak dengan percakapan mereka.

Cowok: “Kamu mau nasi biryani?”
Cewek: “Apa? Nasi berani?”

Srimulat bener deh :doh: 😆

Liam Neeson as Bryan Mills Must Be An Aerospace Engineer!

Judul yang aneh *dan tendensius* hihihi… 😆

Jadi ceritanya sudah satu bulan terakhir ini saya agak sedikit menggila bersama Erma. Sebelumnya kan saya jaraaaaannnggg banget hang out sepulang kerja. Pokoknya selesai ngantor langsung merem di kos. Judulnya sih irit dan hemat. Tapi karena ada suatu kejadian yang menyebabkan kesedihan hati yang mendalam, jadi lah saya mencoba menghibur diri seadanya :mrgreen:

Pas banget saya mendengar bahwa TAKEN 2 mulai tayang 3 Oktober lalu. Langsung deh saya dan Erma semangat nonton, dan terwujud keesokan harinya tanggal 4 Oktober, bersamaan dengan ulang tahun Paijo *eh* *salah fokus*
Alhamdulillaah banget saat itu gak ada rapat kridit, gak ada akad kridit, dan sebelum si papih menyadari kegunaan saya di kantor, saya cepet-cepet mengendap-endap, pulang tenggo dan kabur ke BSM. Cuuuuusss!!!

Sampe di BSM yang sekarang udah ganti nama jadi Trans Studio Mall, saya langsung menuju lantai 3. Erma sudah membeli dua tiket di barisan E; barisan favorit saya karena cukup pas dengan aerodinamika leher *apasih apasih*

Saya yang manas-manasin Erma supaya mau nonton TAKEN 2. Alasan standar sih yang dipake. Filmnya genre eksyen, dan karena yang main tuh Liam Neeson, jadi pasti bagus dan seru :mrgreen: Pokoknya Liam Neeson itu ada di urutan kedua dalam list most wanted actor saya setelah Matt Damon. Jyahahahahahaaa…

Dan bener dooonngg, bagi saya yang sangat-sangat awam dan bukan seorang movie freak, TAKEN 2 bisa dibilang seru.
Most memorable scene itu sih waktu mobil penjahatnya nabrak kereta dan terseret sampai hancur. Terus saya juga suka adegan kejar-kejaran dimana anaknya si Bryan yang baru belajar nyetir yang bawa mobilnya. Karena ceritanya masih kagok-kagok gitu, Papa Bryan jadi bantuin pindah gigi juga.

Yang bikin males dari film ini sih ada BANGET. Di awal-awal film, ada adegan di mana para mafia saling bertemu dan mereka berucap, “Assalamu’alaikum”
Oke, catet ya, itu gak relevan banget sama keseluruhan film. Itu maksudnya apa pake dimasukin ucapan salam? Mau menimbulkan perspektif buruk tentang Islam, i guess. Bahwa Islam itu identik dengan kejahatan, tukang culik anak orang dan jual perempuan. Satu adegan itu benar-benar membuat film ini jadi turun derajat.

Dan tetep ya, pasti ada percakapan konyol antara saya dan Erma, ketika ada adegan di mana Papa Bryan yang sedang disekap ngasih instruksi lewat telepon ke putrinya yang berhasil menyelamatkan diri dan ngumpet di hotel tempat mereka menginap selama liburan.

E: “Wuih! untung hape-nya iphone. Jadi tahan lama kan batere-nya? Bayangin kalo kita jadi anaknya, android kita udah semaput duluan karena terus-terusan disedot internet!”
Saya: “Kalo pake smartphone, udah mati dari kapan tau itu batere-nya, Ma”

:mrgreen:

Saya: “Sumpeee!!! Bapaknya pinter banget deh! Pasti dulunya kuliah di penerbangan!” *eh* *sangat tendensius*
E:”Anaknya juga dong tuh! Disuruh ngukur skala, gak pake penggaris bisa akurat gitu. Pasti bukan anak hukum!”

😆 😆 😆

When September Ends

Satu minggu terakhir di bulan September ada banyak hal yang terjadi. Gak ada yang istimewa sih, tapi ya tetap membuat saya merasa sedih dan kehilangan dan semakin kesepian 😉

Senin sore, saya dan Lupita mengusahakan keluar kantor lebih cepat dari biasanya. Pokoknya hari senin itu dipaksa banget deh pulang hampir tenggo. Karena waktu kami yang tersisa untuk bersama tinggal dua setengah hari lagi.
Jam 5 kami udah ngacir, ceritanya mau cari kado buat Lupita. Jadi dia yang pilih, saya tinggal bayar. “Kamu gak romantis banget deh Mbak, masa’ kado buat aku, aku sendiri yang nyari, gak ada surprise-surprise-nya sama sekali,” ceunah. Ya daripada saya yang pilih terus yang bersangkutan gak suka? Kan lebih baik pilih sendiri, everybody’s happy toh? Lagipula, seperti jawaban saya pada Lupita, “Ya sipat romantisku udah dikhususkan buat Mr. Engineer, Lu.” Tetep ya bawa-bawa Mr. Engineer :mrgreen: Selesai cari kado, giliran cari makan malam. Kali ini giliran Lupita yang traktir. Makanannya murah meriah. Javan steak kesukaannya Lupita.

Esoknya, selasa, saya dan seorang RM berangkat ke Ciamis untuk mengurus dokumen-dokumen agunan dalam rangka take over kredit dari suatu bank daerah. Dalam bayangan kami, pihak bank daerah itu udah menyiapkan seluruh dokumen sehingga kami tinggal bikin berita acara serah terima dan bisa langsung cuuuss balik ke Bandung.
Sampai di Ciamis jam 11 siang, disambut debitur dan makan siang dulu sampai jam 1. Jam 1/2 2 kami sudah di bank daerah tersebut, dan terkejut karena mereka ternyata tidak menyiapkan apapun. Dokumen-dokumen berantakan dan berceceran di mana-mana, bahkan ada yang hilang, sistem dokumentasi arsip-arsip mereka luar biasa parah sampai-sampai membuat kami emosi jiwa. Siang dan sore itu kami mengejar-ngejar bank daerah tersebut dan mendesak supaya bisa diselesaikan secepatnya karena batas waktu untuk mencairkan kredit sudah sangat mepet. Kami berusaha untuk tidak menginap, walaupun kami sudah ada persiapan membawa baju ganti, karena esok harinya, hari rabu, akan ada farewell dengan beberapa rekan kerja yang akan resign maupun mutasi. Jam 8 malam, setelah urusan dianggap selesai, kami kembali ke Bandung dan saya sampai di kos jam 1/2 12 malam. Alhamdulillaah gak nginep 😉

Rabu. Akhirnya hari itu tiba juga. Setelah farewell lunch, saya, Lupita, dan Rere keranjingan berfoto dengan kamera iphone kepunyaan Rere.
Jam 3 sore, Lupita akhirnya berpamitan dengan semua orang. Saya dan Rere mengantarnya sampai ke parkiran.
Lupita adalah teman terdekat saya dikantor, dan sejak rabu kemarin, dia dipindahtugaskan ke Cirebon, masih dalam daerah kewenangan Bandung. Kami berpelukan. Kami merasakan kesedihan yang sama, tak ada yang mau menatap mata satu sama lain. Saya takut saya akan menangis kalau melakukannya.
“Sering-sering cek dokumen ke cirebon ya, Mbak, nanti nginep di kos-ku aja. Aku traktir juga deh” | “Traktir apa? nasi jamblang?” | “Ho oh” | “-____-” | “Aku pasti dateng kalo kamu nikah. Tahun depan ya Mbak” | “Aamiin. Gak perlu disebutin ya namanya?” | “Errr…” | “Kamu juga, undang-undang ya Lu” | “Iya Mbak” | “Kalo mau ngadoin aku, jangan sprei. Cari yang lain kek, kreatip dikit” | “-____-”

Lupita pergi. Kubikal sebelah saya kosong. Sendirian lagi.


Our daily with Lupita, and last day with her… and her gifts: a doll, mug, bag, traveling bag, scarf, necklace, brooch… everybody loves her in here 😆

Sorenya, saya menghubungi Erma. “Ma, temenin gw mabok-mabokan yuk, gw lagi patah hati nih”

“Hah? masih patah hati? kok lama banget?” | “Iya gw kan daleeeeemmm”

Patah hati saya berkepanjangan dan berkelanjutan. Agustus menjadi bulan paling menyedihkan. Seorang teman meninggalkan saya *yang bikin makin sedihnya itu karena saya yang dikatakan pengen ninggalin huhuhu*. Lalu September, Lupita dipindahkan ke kota lain.
Kalau ada yang bertanya, apakah saya baik-baik saja? apakah saya menangis?
Tidak, sejujurnya saya tidak baik-baik saja. Saya menangis. Bagaimana saya bisa baik-baik saja saat saya patah hati dan putus cinta?

Saya melihat buku mimpi saya. Sampai hari terakhir di bulan September, tidak ada mimpi saya yang jadi nyata.
Mudah-mudahan ada keajaiban indah di bulan Oktober. Aamiin.

Here, Not There

A light talk at the Pancake Parlour with Yeni and Vika. One of them came up with some sorta bad news which made me speechless.
“How do you want to hear from me?” i asked. “Gw harus berkomentar seperti apa?”
I should be very careful in commenting the news. We girls are really sensitive with our heart. I felt sorry for her.

I really hope that next time we meet, we’ll have lots of good news to share.
Oh and by the way, makanannya sendiri rasanya biasa aja ya. Dengan harga yang bahkan sedikit lebih mahal dari Nanny’s Pavilon atau Pancious, rasanya jauh banget dari yang dua terakhir disebut. Masih acceptable sih, tapi ya gak worth it aja. It should have been better.

That was how i spent last saturday. The day when i should have had a walk at the Gardens by the Bay or perhaps enjoyed a refreshing moment at the Botanical Garden… i gathered with some good friends of mine instead.

Be patient, dear soul. Be patient. Stay prayer

Best Friday

image

Winda and Kandi sent me these pictures *which i edited later on* when they met up to have lunch last friday.

Winda is happy with her little family and is currently struggling in her magister at the law school. While Kandi is still single and apparently stay happy with all she has in life.
And i…
I’m blessed to have best friends like them, who keeps being supportive rather than suggesting me to find another man.
They know me really well.
Alhamdulillaah.

 

 

 

Day Dreaming

“We’ve been separated for quite a long time that i’ve been wondering whether or not we can meet again, so when it comes to any opportunity for us to have some conversation, i just want it to go nicely. We may share some stories of our recent life, or talk about our old memories, keep it save in our hearts, or simply i can hear you talk about anything, i promise you i’ll be a good listener. We may talk about anything. Really. Anything but fighting. Anything but arguing. To see you smile is such a treasure to me. What i want, and i ask, is not much. I just want us to befriend again, just like our old days. Those good old days.
Our time is limited. That’s why i don’t like arguing with you”

My Prayer. Mirror, mirror on the wall…