Siem Reap: Day 4 – Golden Temple Villa, Kloy Ratha the Tuktuk Driver & Heading Home through Kuala Lumpur

Minggu, 28 Desember 2014. Last day in Siem Reap and practically we didn’t visit any place. Agenda hari ini cuma satu: kembali ke Jakarta. Sama seperti saat keberangkatan, untuk sampai ke Jakarta kami harus transit di Kuala Lumpur.

***
The Hotel: Golden Temple Villa
Pagi hari dimulai dengan ritual seperti biasa. Mandi udah, packing beres, intip-intip kolong tempat tidur untuk lihat-lihat siapa tau ada barang yang ketinggalan juga udah, investigasi menyeluruh terhadap kamar mandi pun udah tamat. Maka jadilah sekitar pukul 5:30 gw dan Didito turun ke lobby untuk mengurus persoalan check out dan lain-lain yang diperlukan. Tak lupa pihak hotel menyerahkan paket sarapan kami berempat yang sudah tersedia dalam dua kantung plastik besar. Selesai check out, tiba-tiba mbak resepsionis mengangsurkan sebuah nampan yang diatasnya terdapat beberapa gulungan krama dalam berbagai pilihan warna. Ada hijau lemon, pink coral, merah marun, dan biru.
“Apa ini, Mbak?”
“Ini kenang-kenangan dari kami, silakan masing-masing ambil satu,” katanya.

Ooooohhh… gw dan Didito berpandang-pandangan, tak bisa berkata apa-apa. Hotel ini keren bin jempolan banget siiiiihhh!!! Udahlah kami selalu disediakan sarapan dalam kapasitas besar, eh ini pake acara kasih souvenir segala. Seumur-umur gw nginep di hotel atau hostel manapun belum pernah dikasih kenang-kenangan. Nggak peduli souvenir itu murah atau mahal, tapi usaha hotel itu memberikan pelayanan dan keramahan terbaik bagi para tamunya patut diacungi jempol. Seolah mereka mau menunjukkan ini lho keramahan rakyat Kamboja, soal harta mungkin kami kalah dengan negara ASEAN lainnya tapi soal keramahtamahan warganya boleh diadu.
Masih excited dengan kejutan krama, mbak-mbak resepsionis mengajak gw dan Didito untuk berfoto bersama. Aaaaawww… speechless lagiiiii…

Sejak awal menginjakkan kaki di hotel tempat kami menginap ini, gw sudah langsung jatuh hati terutama pada keramahan para petugas hotel. Mereka menyapa kami dengan semangat dan selalu tersenyum. Pada titik tertentu gw merasa cara mereka melayani kami terlalu berlebihan. Mungkin itu memang sudah standar prosedur operasional mereka atau pengaruh unsure budaya juga, tapi somehow kami merasa tidak enak hati diperlakukan seolah-olah kami adalah para raja dan mereka ‘jongos’nya. Gimana gw nggak bilang begitu coba, saat menerangkan segala sesuatunya pada kami, mereka akan berlutut di lantai sementara kami duduk di kursi.
Sementara mereka menjelaskan aturan-aturan hotel, keluarlah minuman lemon tea yang segar dan sepiring kecil kacang yang dihidangkan dalam wadah cantik, tak lupa disiapkan juga handuk kecil dengan wangi aroma terapi untuk menenangkan fisik kami yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Tidak lama kemudian, kami sudah dipersilakan check in dan memasuki kamar masing-masing.

Kamar yang gw dan Didito tempati merupakan kamar yang diperuntukkan untuk 3 orang. Nuansa tradisional dengan warna oranye mendominasi ruangan. Tempat tidur diberi kelambu, dan dinding kamar dihiasi kerajinan tangan khas Kamboja.
Sebuah tv dan dvd player ditempatkan diatas meja kecil disamping lemari baju di samping pintu. Lemari bajunya pun sederhana, terbuat dari kayu biasa dan terdapat beberapa gantungan baju didalamnya. Gantungan bajunya pun bukan yang fancy, tapi gantungan baju rumahan yang terbuat dari kawat atau plastik. Diatas meja yang berfungsi sebagai meja rias, ditaruh beberapa informasi mengenai tur yang tersedia, juga kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa Kamboja.
Untuk kamar mandinya sendiri, cukup bersih walaupun, lagi-lagi, tidak berfasilitas semewah hotel pada umumnya dan terlihat sudah cukup tua usianya. Selain kloset duduk terdapat pula bath tub. Soal toilet, concern gw memang lumayan riweuh. Gw harus bisa membersihkan diri seusai buang hajat dan itu harus bersih. Alhamdulillah kedua hal ini terpenuhi.

Golden Temple Villa merupakan hotel yang kami pilih setelah melalui diskusi dan penilaian yang cukup lama berdasarkan review dan testimoni para pejalan di internet. Seingat gw, selain Golden Temple Villa saat itu kami mempertimbangkan Golden Mango Inn yang juga punya rating tinggi. Namun setelah acara berpikir yang panjang, kami sepakat untuk menjatuhkan pilihan pada Golden Temple Villa, kalo nggak salah inget sih karena harga yang sedikit lebih murah daripada kandidat lainnya.
Dan terbukti pilihan kami sungguh tepat. Selain selisih harga, lokasi Golden Temple Villa termasuk bagus banget. Ke Angkor Night Market dan Pub Street tinggal jalan kaki sekitar 10 menit, itu juga jalannya jalan lumayan santai. Ke Angkor Archaelogical Park –tepatnya ke Angkor Wat- sekitar 30 hingga 35 menit dengan menumpang tuktuk. Ke Old Night Market sekitar 10 hingga 15 menit dengan tuktuk. Ke perkampungan muslim juga butuh waktu kurang dari 30 menit saja. Mereka juga menyediakan peminjaman sepeda dan pijat gratis selama satu jam.

Satu hal lain yang cihuy adalah sarapan yang mereka sediakan itu melimpah ruah banyaknya, walaupun soal rasa memang biasa aja. Model sarapannya cenderung bertipe western breakfast dan kita boleh memilih paket sarapan. Contohnya di hari ketiga ketika kami akan mengeksplor Angkor Wat, gw memilih telur mata sapi sementara Dani meminta scramble egg. Dan entah apakah ini efek jajahan Prancis, tapi mereka tak pernah absen menyertakan roti tongkat alias baguette dalam paket sarapan kami.
Sarapan ini pun bisa dibungkus untuk dinikmati di perjalanan. Kita tinggal bilang ke petugas hotel pada malam sebelumnya untuk menyediakan sarapan berisi apa saja *sesuai paket yang bisa dipilih*, esok harinya kita terima beres dan tinggal berangkat karena mereka sudah mengemas sarapan dalam styrofoam dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Begitu pula di hari terakhir ketika kami akan melaju ke bandara.

Dan setelah berfoto bersama mbak-mbak resepsionis dengan krama tersampir di pundak masing-masing, mbak resepsionis pun berkomentar mengenai penampakan fisik gw.
“Seperti orang Jepang,” katanya.
“Oya?” gw tidak heran dengan perkataannya, “Mata saya ya, Mbak?” karena mata gw memang sipit dan itu seringkali membuat orang-orang salah menduga.
“Bukan,” katanya. Lalu apa dong? “Giginya,” yakin si mbak resepsionis, “giginya seperti gigi orang Jepang.”

Golden Temple Villa #1

Golden Temple Villa #1


Golden Temple Villa #2

Golden Temple Villa #2


Golden Temple Villa #3

Golden Temple Villa #3


Golden Temple Villa #4

Golden Temple Villa #4


Golden Temple Villa #5

Golden Temple Villa #5


Golden Temple Villa #6

Golden Temple Villa #6


Golden Temple Villa #7

Golden Temple Villa #7


Golden Temple Villa #8

Golden Temple Villa #8


Golden Temple Villa #9

Golden Temple Villa #9


Golden Temple Villa #10

Golden Temple Villa #10


Golden Temple Villa #11

Golden Temple Villa #11

***
The Tuktuk Driver: Kloy Ratha
Menjelang pukul 6 pagi, Vika dan Ade turun dan setelah menerima krama masing-masing, kami pun berpamitan untuk yang terakhir kalinya pada staff hotel. Bang Ratha, yang sudah siap dengan tuktuk andalannya, dengan sigap membantu kami mengangkat koper, ransel, dan segala bentuk bawaan lainnya ke atas tuktuknya, dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga keseimbangan tuktuk tetap terjaga. Oh ya, untuk menuju Siem Reap International Airport, kami masih tetap menggunakan jasa baik Bang Ratha, dan ini atas kemauan dia sendiri lho, gratis pula!

Hmm… bener-bener nggak salah pilih tuktuk driver merangkap tour guide selama di Siem Reap ini deh. Jauh sebelum keberangkatan, kami memang sempat bingung mau pake jasa siapa untuk berkeliling Siem Reap. Ada beberapa tuktuk driver yang direkomendasikan para travel blogger yang bertebaran di internet. Selain itu, hotel tempat kami menginap pun menawarkan jasa paket tur yang cukup menggoda. Didito yang mendapat tugas untuk mengurus soal hotel dan tour guide selama di Siem Reap beberapa kali email-emailan dengan pihak hotel, hasilnya pihak hotel tidak bisa menyediakan customized tour sesuai itinerary kami. Masih sempat bingung apa mau ngikutin itinerary-nya hotel atau gimana, nggak tau kenapa kok gw *karena gw yang dapet jatah cari tour guide, Didito bagian bookingnya aja* balik lagi balik lagi ke Bang Ratha. Tiap buka google nyari tuktuk driver pasti nyampenya ke doi deh. Yasuds lah, mungkin ini namanya jodoh, akhirnya gw pun menyodorkan Bang Ratha ke forum. Karena udah punya tanggung jawab masing-masing dan udah mulai males cari-cari lagi, akhirnya diputuskanlah untuk pake si Bang Ratha ini. Didito pun buru-buru email si Abang, takut dia keburu di booking orang secara dia kan laris banget kayaknya yaaa…

Setiap saat di grup whatsapp, kami pasti menanyakan perkembangan si Abang pada Didito, udah ada jawaban atau belum, udah kayak nanya lamaran diterima atau ditolak *eh*
Ketika email pertama dibalas dan Didito melaporkan pada kami, we were like… yaudah Dit, sikat kabeh!!! *agak barbar memang, tapi terimalah kenyataan*
Dan terpilihlah Kloy Ratha sebagai tuktuk driver sekaligus tour guide kami.

Pertama kali ketemu, gw agak amazed dengan ekspresi wajahnya yang kelihatan polos. Dia menunggu kami di depan lobby hotel, mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna putih agak kusam, tubuhnya tidak tinggi, bahkan sedikit lebih pendek daripada gw. Wajah polos dan perawakannya yang kecil dengan cepat mencuri hati kami, ditambah lagi senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya dan mata yang – menurut Dani- melelehkan batu yang paling keras sekalipun *asikasikasik*
Sambil memperkenalkan diri dia berkata bahwa sebenarnya dia sudah ada di depan hotel sejak pukul 08:30 pagi, padahal kami janjian pukul 10:00. Thus, dia sudah melihat kami yang tergopoh-gopoh menurunkan barang dari mobil dan ditinggalkan si supir penjemput yang cemberut.

Bang Ratha bicara bahasa inggris tidak terlalu lancar, tapi cukup untuk bisa berkomunikasi. Dia selalu antusias menanyakan apakah kami puas dengan hidangan Kamboja dan selalu bergabung bersama kami saat dia sudah menyelesaikan makan siangnya. Dia bahkan bertanya apakah kami dapat tidur dan beribadah dengan nyaman, dan tidak pernah terlihat kesal dengan tingkah polah kami. Sambil tertawa dia meminta agar kami mempromosikannya pada teman-teman sesama Indonesia dan kami menyemangatinya untuk belajar sedikit kata-kata dalam Bahasa Indonesia karena menurut kami itu bagus untuk bisnisnya. Kalimat pertamanya adalah ‘selamat pagi’ dan dia menyerah saat itu juga.

Dan seluruh kebaikannya itu terus berlanjut hingga saat-saat terakhir kami di Siem Reap.

Sebelum kami naik ke atas tuktuk, Bang Ratha memberikan kepada kami masing-masing sehelai krama dan kartu namanya. Tak lupa berpesan agar kami jangan melihat pemberiannya dari harganya dan syukur-syukur kalau kami mau membantu mempromosikannya pada pelancong lain. Oh tentu sajaaaaa, Kakak Rathaaa!!! Tanpa keraguan sedikit pun kami pasti sangat merekomendasikan orang Indonesia yang ke Siem Reap untuk menggunakan jasamu yang tiada tara!

Kami langsung sibuk dengan krama masing-masing, dan pastinya nggak lupa berfoto bersama Bang Ratha: the best tuktuk driver ever.

Dengan riang gembira kami memulai perjalanan pagi itu. Jalanan utama Siem Reap masih sepi, udara masih segar, dan Bang Ratha pun mengemudikan tuktuknya dengan kecepatan sedang. 20 menit kemudian kami sudah tiba di gerbang bandara. Dan Bang Ratha tetap melajukan tuktuknya masuk ke area bandara.
“Bang, serius nih boleh masuk?”
“Iye neng, neng tenang aje ye! Abang udah paham bener dah dimari.”
Dan benarlah, kami diturunkan persis didepan pintu keberangkatan. Beneran cakep deh Siem Reap!

Setelah menurunkan barang-barang, kami pun mengucapkan salam sampai jumpa lagi dengan Bang Ratha. Sungguh deh, nggak bakal nyesel pake jasanya si abang ini. USD 35 nett untuk pelayanan selama 2 hari yang memuaskan ditambah dianterin ke bandara gratis? Dan dilayani dengan penuh senyum, keramahan, dan kesabaran? More than worth it!

And this was us with Mr. Kloy Ratha or we addressed him ‘Bang Ratha’, yang selama perjalanan selalu kami sebut sebagai ‘temannya Didito, pilihannya Uke, persetujuannya Vika, demenannya Dani’ semata-mata karena Didito yang selalu kontak dengan Bang Ratha, gw yang memilih dia, Vika yang menyetujui, dan Dani yang ngegebet *eh*
Gw pribadi menganggapnya sebagai ‘nan cie pamainan mato’, alias orang yang dengan melihatnya timbul rasa sayang.

Before heading airport, with our tuktuk driver Mr. Kloy Ratha | highly recommended!

Before heading airport, with our tuktuk driver Mr. Kloy Ratha | highly recommended!


Mr. Kloy Ratha's name card | satisfaction guaranteed!

Mr. Kloy Ratha’s name card | satisfaction guaranteed!


Cambodian's Krama from Mr. Kloy Ratha & Hotel (the green-coral one)

Cambodian’s Krama from Mr. Kloy Ratha & Hotel (the green-coral one)

***
Sama seperti jalan raya yang kami lalui, Siem Reap International Airport pagi pukul 7:25 itu pun masih tampak lengang. Berhubung ini bandara mungil banget, dari tempat kami diturunkan Bang Ratha, hanya beberapa langkah saja kami sudah sampai di konter check in. Kami sebenarnya sudah melakukan web check in sebelumnya, jadi tujuan kami menghadap konter hanya untuk dropped baggage. Biarpun barang-barang kami bisa masuk kabin, tapi karena kami memang prepare membeli bagasi 20 kg, kami lebih memilih untuk memasukkan barang ke bagasi supaya langkah terasa lebih ringan.

Dari konter dropped baggage kami melipir sejenak mencari kursi untuk bisa menyantap sarapan yang dibungkuskan pihak hotel. Mine was a slice of banana pancake, grilled potato, baguette *and they put some butter too, of course* and fruit slices. Banana pancake-nya sendiri lebih mirip okonomiyaki daripada pancake karena tebal banget, sumpah deh makan pancake-nya aja udah kenyang banget itu. Belum lagi fruit slices-nya yang terdiri bukan dari sejenis buah aja, tapi lima jenis sekaligus! Nanas, papaya, buah naga, pisang, dan apel. Gw dan tiga serangkai berjuang keras berusaha menghabiskan makanan yang disediakan. Dan ditengah upaya memamah itu, tiba-tiba Vika berkata,
“Ya ampun, Ke! Tripod lo ketinggalan di hotel!”

Kesunyian tiba-tiba menyergap.

“Ya udah, Vik, lo ganti aja sama Joby Gorilla Pod,” I grinned.

Siem Reap, pagi hari - sepi

Siem Reap, pagi hari – sepi


Siem Reap, pagi hari - tenang

Siem Reap, pagi hari – tenang


Siem Reap International Airport

Siem Reap International Airport


Breakfast at Airport

Breakfast at Airport


Selesai sarapan, kami bergegas menuju pemeriksaan x-ray dan imigrasi. Berbeda dengan saat dropped baggage yang lancar jaya, proses x-ray dan imigrasi terhitung lama. Mengikuti ukuran bandara yang memang petite, pemeriksaan x-ray dilaksanakan hanya pada 2 konter. And what’ve took us so long adalah karena seluruh calon penumpang harus melepas semua yang melekat di badan, kecuali pakaian, tentu saja. And when I’m saying ‘semua’ that includes our shoes and belt. Sabuk pinggang oke lah, tapi sepatu? Soetta aja nggak begini-begini amat deh… berasa mau masuk Amerika aja *kata orang-orang yang pernah ke sono*.
Setelah mengantri pemeriksaan x-ray yang bener-bener makan waktu itu, kami langsung berhadapan dengan petugas imigrasi. Paspor diperiksa dan dicap, akhirnyaaa kami pun melenggang dengan terburu-buru menuju boarding room yang sebenarnya berjarak kurang dari 100 meter dari konter imigrasi. Jadi, jangan salah kira negara kecil seperti Kamboja punya tata cara cukai yang juga enteng ya… pengalaman membuktikan bahwa untuk mengantri pemeriksaan x-ray saja kami butuh waktu sekitar 20 menit karena mereka berupaya menjalankan semua prosedur sesuai aturan mereka.

Hanya menunggu beberapa menit di boarding room, panggilan untuk memasuki pesawat yang akan membawa kami ke Kuala Lumpur pun menggema. Pukul 08:35, pesawat Air Asia AK 543 lepas landas tepat waktu.

Siem Reap International Airport

Siem Reap International Airport


***
Siem Reap's sky

Siem Reap’s sky


Kuala Lumpur's sky

Kuala Lumpur’s sky


Kuala Lumpur's

Kuala Lumpur’s


Pesawat mendarat sempurna mendekati pukul 12 local time di klia2. Berhubung penerbangan kami bukanlah connecting flight, maka kami harus mengeluarkan bagasi dulu dan kemudian kembali mengulangi proses keberangkatan seperti biasa, mulai dari check in dan seterusnya. Kami punya waktu sekitar 3 jam hingga penerbangan kami berikutnya yang menurut jadwal akan lepas landas pukul 14:55. Secara teori, 3 jam harusnya cukup untuk melalui semua proses yang diperlukan. Nah prakteknya gimana? Ya pada prakteknya juga cukup kok… cukup untuk membuat kami rushing dari satu titik ke titik lain, berlari-lari kecil sradak-sruduk sambil geret-geret barang, hampir menyerupai peserta Amazing Race :mrgreen:

Seperti yang sudah banyak orang bilang, klia2 itu luas dan luasnya itu bener-bener yang bisa bikin kita agak panik kalau harus mengejar pesawat. Begitu turun dari pesawat yang membawa kami dari Siem Reap ke Kuala Lumpur, untuk menyelesaikan urusan imigrasi memakan waktu sekitar 30 menit. Mengambil bagasi dan drop baggage lagi kembali memakan waktu sekitar 30 menit. Menunggu Didito dan Dani ke kamar kecil ada kali sekitar 15 hingga 20 menit karena seluruh toilet penuh sehingga mereka harus mencari toilet yang nggak terlalu mengular antriannya. Begitu melihat Didito dan Dani muncul dari kerumunan orang, gw dan Vika serta merta bertanya mau makan siang di mana. Kami mengedarkan pandang ke seluruh penjuru level 3 klia2 dan akhirnya, karena Didito juga sangat ingin makan nasi lemak, pilihan pun jatuh pada Bibik Heritage yang menyediakan hidangan-hidangan peranakan.

Nggak mau mikir lama-lama, gw dan Vika memilih makanan dan minuman yang sama: Nasi Goreng Nyonya dan Teh Tarik hangat. Entah memang enak rasanya atau karena kami lapar, bagi kami nasi goreng berporsi besar dengan lauk yang mantap dan kuah gurih itu terasa pas di lidah. Teh tariknya pun terasa pas manisnya. Begitu pula dengan Didito dan Dani, sepertinya mereka juga merasa puas dengan menu masing-masing.

Nasi Goreng Nyonya & Teh Tarik @Bibik Heritage

Nasi Goreng Nyonya & Teh Tarik @Bibik Heritage

Kami berusaha menuntaskan makan siang secepat mungkin, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju boarding room. Niat masih mau cari-cari oleh-oleh sama sekali nggak bisa dijalankan karena kami benar-benar sudah berkejaran dengan waktu. Dalam perjalanan menuju boarding room yang entah kenapa terletak di ujung dunia, karena belum mendirikan shalat kami pun segera berbelok ke mushala terdekat. Seusai shalat kami langsung berlarian lagi ke boarding room. Kami baru bisa bernafas lega setelah bergabung dengan calon penumpang lain yang sudah siap di boarding room. Sambil menunggu, Vika membuka-buka handphone dan masuklah bertubi-tubi whatsapp ataupun sms yang menanyakan posisi, keberadaan dan kabar kami. Nina bahkan sempat whatsapp dengan Vika, dan mengingat kondisi Nina yang sedang hamil tua, gw pun mengusulkan agar kami berfoto di boarding room dan mengunduhnya pada media sosial sekedar untuk menenangkan hati sahabat kami yang satu itu.

Hari kepulangan kami ke Jakarta memang bertepatan dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 yang melayani rute Surabaya – Singapura. Pemberitaan massif di media membuat kami dan orang-orang terdekat merasa cukup khawatir dengan penerbangan kali ini. Apalagi di luar tampak awan tebal dan langit mendung, bahkan pesawat kami pun harus menunda penerbangan hingga hampir 40 menit lamanya hingga cuaca dirasa cukup baik.
Ketika akhirnya pesawat lepas landas, kalimat Senior Flight Attendant -seorang perempuan bersuara berat- saat menutup sesi penjelasan keselamatan penerbangan pun cukup membuat kami menciut. Baru kali itu gw mendengar seorang pramugari menyelipkan doa dalam kalimatnya.
“May God bless us all!”
Gw dan Dani berpandang-pandangan dan saling nyengir kikuk. Selama berada di ruang udara gw berusaha untuk tidak tidur tetapi fokus membaca doa. Kursi gw yang tepat berada di sebelah jendela tidak membantu, karena sepanjang perjalanan yang gw lihat adalah awan tebal berwarna kelabu, dan sepanjang perjalanan itu pula penumpang diminta untuk tetap memasang sabuk pengaman karena hampir selama berada di atas kami mengalami turbulence, sambil Senior Flight Attendant yang tadi terus menerus menutup kalimatnya dengan ‘may God bless us all’.

Alhamdulillah Allah be with us

Alhamdulillah Allah be with us


***
Setelah 2 jam mengarungi ruang udara antara Kuala Lumpur dan Jakarta, Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di Soekarno-Hatta. Begitu sampai di gedung utama bandara langsung saja kami mengabari our beloved ones bahwa kami sudah kembali safe and sound. Dan ternyata, yang merasa ciut nyali karena kalimat ibu-ibu Senior Flight Attendant bukan hanya gw dan Dani, Vika dan Didito pun merasakan hal yang sama. Walaupun untuk Dani punya cerita tambahan tersendiri.

Dani: “Itu mas-mas-nya yang ngomong ‘ai-ai yang lainnya’ ganteng!”, lapornya ketika sudah kembali mengenakan sabuk pengaman.
Gw: “Kok tau?”
Dani: “Kan dia ngetemnya deket wc”

Saat di pesawat Dani memang beberapa kali bolak-balik ke toilet. Dan memang beberapa kali kami mendengar permintaan dari kru pesawat agar penumpang mematikan ‘aipad, aifun, aipod, dan ai-ai lainnya’. Setibanya di darat, Dani pun antusias kembali menceritakan penemuannya pada Vika dan Didito.

Siem Reap Map

Siem Reap Map


the Travelling stuff

the Travelling stuff


Siem Reap & Kuala Lumpur souvenir beside the krama: Starbucks tumbler, Cambodian money and stamps, fridge magnets

Siem Reap & Kuala Lumpur souvenir beside the krama: Starbucks tumbler, Cambodian money and stamps, fridge magnets

Pengeluaran:
.Uang & perangko Kamboja for collection USD 13
.Hot Milo on board RM 6
.Nasi Goreng Nyonya @Bibik Heritage klia2 RM 13
.Teh Tarik @Bibik Heritage klia2 RM 4,5
.Taksi from Soetta to home IDR 75.000 (and I don’t know the rest because I was the one who was being dropped off first)

Siem Reap: Day 3 – Angkor Wat, Ta Phrom, Bayon, Baphuon, Terrace of the Elephant, Cambodian Muslim Restaurant, Angkor Night Market & The Blue Pumpkin

Sabtu, 27 Desember 2014, adalah hari ketiga kami di Siem Reap dan mungkin bisa juga dibilang sebagai ‘it’ day-nya trip kali ini. Tak lain dan tak bukan tentu karena kami akan mengunjungi tempat-tempat paling populer *sekaligus juga paling touristy* di jagad Siem Reap.

Pukul 4 subuh gw dan Didito bangun dengan semangat, seperti biasa Didito langsung terbang ke kamar mandi sementara gw terbang kembali ke alam mimpi. Setelah Didito selesai, giliran gw mandi dan ketika gw keluar kamar mandi, gw melihat Didito sedang menekuri tabletnya. Rupanya dia sedang menunggu konfirmasi dari Bang Ratha.

Awalnya kami memberi tahu Bang Ratha untuk menjemput kami pukul 5 tepat. Namun malam sebelum tidur gw dan Didito sempat ngobrol perihal waktu subuh karena berkaitan erat dengan waktu keberangkatan kami hari ini. Setelah browsing sana sini, kami menyimpulkan bahwa untuk amannya lebih baik kami shalat subuh sekitar pukul 5 lewat 5 menit. Ini berarti terdapat perubahan jadwal keberangkatan, yang awalnya direncanakan pukul 5 tepat menjadi pukul 5 lewat 15 menit. Hasil diskusi itu Didito sampaikan pada Bang Ratha melalui email. Soal komunikasi jadwal dan itinerary dengan Bang Ratha, memang Didito yang banyak in charge karena memang sudah Didito yang menghubungi si abang tuktuk sejak pertama kali kami hunting tuktuk driver. Nah hingga saat gw selesai mandi itu, sepertinya Bang Ratha belum membalas email Didito. Sebenarnya bukan apa-apa sih, cuma kan nggak enak aja kalau dia terlalu lama menunggu. Biarpun dia laki-laki, dia kan juga butuh kepastian *eh* *fokus mulai menyimpang*

Setelah menunaikan shalat subuh, pukul 5:20 kami turun dan langsung disambut senyum manis dan wajah penuh aura kesabaran milik Bang Ratha. Kalimat sambutannya, kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, adalah, “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak? Sudah shalat?”

Pukul 5:25 kami memulai perjalanan. Langit masih gelap dan sekitar hotel masih sepi, namun 10 menit kemudian saat kami sampai di check point alias tempat pemeriksaan tiket, antrian wisatawan baik yang hanya ticket checking ataupun yang baru mau membeli tiket sudah mengular. Tuktuk kami ikut berbaris diantara tuktuk lainnya, mobil berjenis elf, ataupun mobil setipe sedan dan bus-bus pariwisata yang bentuknya masih kotak-kotak semua. Karena kami sudah membeli tiket sehari sebelumnya, kami tidak perlu mengantri lama ataupun turun dari tuktuk. Para pemeriksa tiket mendatangi tuktuk kami, mencocokkan wajah kami dengan foto pada tiket, melubangi tiket dan beralih pada tuktuk berikutnya.

Dari check point, Bang Ratha segera melaju menuju destinasi pertama. Trauma akan lamanya perjalanan ke Banteay Srei yang bagaikan Depok ke Kelapa Gading membuat kami sempat bertanya-tanya berapa lama perjalanan kali ini akan memakan waktu. Alhamdulillah, dengan tetap sabar dan penuh ketenangan, dalam waktu 15 menit Bang Ratha berhasil membawa kami melihat satu bangunan yang dari jauh tampak seperti gunungan dalam dunia perwayangan. Seperti biasa, Bang Ratha mencari parkiran sementara kami segera berhamburan turun dari tuktuk dengan penuh antusias. Saat itu pukul 5:50 dan langit masih tetap gelap. Akhirnya kami sampai di tujuan utama dari seluruh rangkaian Siem Reap Trip ini.

Angkor Wat
Konon, belum sah ke Siem Reap kalau belum ke Angkor Wat dan menyaksikan matahari terbit dari baliknya. Dan itulah yang kami lakukan pagi itu. Turun dari tuktuk, kami bergabung dengan wisatawan lain berjalan menapaki jalan lurus bebatuan di tengah kegelapan. Biarpun hampir pukul 6 pagi, tapi semburat sinar matahari belum juga tampak, sementara turis-turis terus berdatangan. Hati-hatilah melangkah di keramaian tanpa cahaya seperti itu, apalagi kita masih harus beradaptasi dengan suasana sekitar.

Gw dan Didito yang berjalan mendahului Vika dan Dani langsung bereaksi mendengar ada orang selain kami bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Ketika kami menoleh mencari sumber suara, ternyata suara-suara itu datang dari Vika dan Dani yang sedang menjerat mangsa terbaru berbincang-bincang dengan akrabnya dengan seorang laki-laki yang sampai detik ini tidak kami ketahui tampan atau tidaknya *eh* *ya gelap kakaaaaakkk, apa yang mau keliatan sih* *tapi kalau melihat siluet tubuhnya dalam keremangan sih ya kayaknyaaaaa… hmm…* *tibatiba Bang Ratha terlupakan*

Si cowok berinisial H suspect brondong kedemenannya Vika itu ternyata seorang solo traveller yang sampai ke Siem Reap melalui jalur darat dari Phnom Penh. Seperti biasa, default magnet gw adalah ‘cepat akrab sama cowok TAPI cepat dilupakan juga’. Maka tanpa perlu berlama-lama, hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk melewati jalan lurus berbatu memasuki kompleks Angkor Wat dan melewati reruntuhan pertama, kekompakan kami segera terjalin. Terbukti dengan kesamaan jawaban kami ketika Vika bertanya dimanakah spot terbaik untuk mengambil foto, dan dengan penuh keyakinan, gw dan dedek H sama-sama menjawab, “sebelah kiri!”
Dan gw segera dilupakan karena dedek H kembali merapat pada Vika dan Dani. Mungkin dia lelah… atau mungkin dalam kegelapan pun dia bisa melihat mana yang ramping dan mana yang bagaikan logo ban Michelin *pecahkan cermin* *histeris*

Begitu kami keluar dari reruntuhan gerbang Angkor Wat, terpampanglah di hadapan kami siluet Angkor Wat dengan lima menara berundaknya berdiri megah menjulang dengan latar langit mendung abu-abu pagi itu. Sudah terbayang cantiknya pemandangan kala matahari terbit.

Dan bayangan itu pun buyar seketika saat melihat padatnya manusia memenuhi tanah lapang dan pinggiran kolam yang terbentang dihadapan kami. Sama ketika mengejar sunset di Phnom Bakheng sehari sebelumnya, saat itu seluruh sudut terbaik dan titik tertinggi sepertinya sudah ada yang punya, kami hanya bisa bergerilya mencari spot-spot kosong yang tersisa dan berupaya mengambil gambar sebaik yang kami mampu. Vika segera mendirikan tripod dan melupakan sekelilingnya, sementara gw, Didito, dan Dani juga berjuang mencari pijakan sendiri-sendiri dicelah-celah manusia lain yang sibuk dengan kamera atau pasangan masing-masing. Ada yang siap tempur di pinggir kolam lengkap dengan tripod, ada pula yang menggendong pasangannya di pundak agar si pasangan bisa mengambil gambar tanpa terhalang kepala-kepala turis lain yang makin lama makin membludak. Spot terbaik untuk menikmati sunrise memang dipinggir kolam sebelah kiri. Namun tampaknya untuk bisa mendapatkan lokasi itu kita perlu menginap atau setidaknya berangkat dini hari. Langit mendung sehingga matahari yang muncul tampak tak bersemangat, serta pengunjung yang penuh sesak sehingga cantiknya Angkor Wat tertutupi kilatan blitz atau cahaya dari LCD kamera atau bahkan tubuh manusia membuat kami pasrah dan akhirnya menyibukkan diri dengan melakukan wefie atau memperhatikan sekeliling kami di mana banyak sekali pedagang menawarkan dagangannya, mulai dari souvenir berupa magnet kulkas atau syal seharga USD 1 hingga cup noodle dan kopi instan. Sepertinya mereka aware sekali bahwa para turis yang bela-belain nyubuh di Angkor Wat ini kemungkinan besarnya ya belum sarapan dan ngantuk karena lelah dan kurang istirahat. Gw memperhatikan, para pedagang lebih suka menghampiri turis-turis bertampang bule dibandingkan wajah-wajah eksotis nan ayu seperti Vika, Dani, dan Didito, atau yang cantik manis khas Asia Timur seperti gw *eeehh*
Tentu bukan karena para bule lebih cantik atau tampan, tapi karena mereka diduga kuat hampir pasti lebih kaya daripada turis Asia Tenggara yang lebih sering dianggap sebagai turis kismin dari negara berkembang. Kenyataannya kami memang masih butuh nabung berbulan-bulan untuk bisa jalan-jalan itupun dengan budget pas-pasan. Satu hal lain yang lucu dari para pedagang itu, mereka selalu memperkenalkan diri dengan nama-nama fiktif, seperti “Hi! My name is Harry Potter!” atau “Rambo” atau apapun yang terbersit dipikiran mereka.

And finally it’s time to upgrade a little knowledge in brief!
• Angkor Wat yang didirikan pada abad ke-XII merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia. Dibangun oleh King Suryavarman II sebagai candi Hindu dalam waktu kurang dari 40 tahun sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu.
• Nama Angkor Wat berarti ‘City of Temples’, pernah menjadi ibukota Kerajaan Khmer.
• Angkor Wat yang terdiri dari 5 menara yang berbentuk seperti gunung merepresentasikan Gunung Meru yang dipercaya sebagai rumah para dewa dalam kepercayaan Hindu.
• Angkor Wat memiliki 3 tingkatan candi, di mana di tingkat pertama dinding candi berhiaskan relief Apsara, cerita-cerita mitologi Hindu, pembangunan Angkor Wat, dan perang dengan Kerajaan Champa.
• Pada akhir abad ke-XIII atau awal abad ke-XIV diubah menjadi candi Buddha, dan bertahan hingga kini.
• Berbeda dengan sebagian besar candi-candi Khmer yang dibangun menghadap timur, Angkor Wat dibangun menghadap barat.
• Keruntuhan Kerajaan Khmer diduga disebabkan oleh perang dan eksploitasi berlebih atas lahan. Selain itu diduga pula kekeringan berkepanjangan menjadi penyebabnya.
• Indonesia dan Kamboja telah setuju untuk menjadikan Candi Borobudur dan Angkor Wat sebagai sister sites, sementara Yogyakarta dan Siem Reap menjadi sister provinces. Atas dasar tersebut, beberapa maskapai Indonesia mulai mempertimbangkan untuk membuka jalur penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Siem Reap.

Menjelang pukul 6:30 barulah matahari mulai menampakkan wujudnya, itu pun masih malu-malu. Dengan terus-menerus memupuk kesabaran, kami menghabiskan waktu hingga pukul 7 untuk mengabadikan momen-momen bola pijar itu naik ke angkasa.

Angkor Wat #1 - masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung

Angkor Wat #1 – masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung


Angkor Wat #2

Angkor Wat #2


Angkor Wat #3

Angkor Wat #3


Angkor Wat #4

Angkor Wat #4


Angkor Wat #5

Angkor Wat #5


Angkor Wat #6

Angkor Wat #6


Angkor Wat #7

Angkor Wat #7


Angkor Wat #8

Angkor Wat #8


Angkor Wat #9

Angkor Wat #9


Angkor Wat #10

Angkor Wat #10


Angkor Wat #11

Angkor Wat #11


Angkor Wat #12

Angkor Wat #12


Angkor Wat #13

Angkor Wat #13


Angkor Wat #14 - finally us!

Angkor Wat #14 – finally us!


Angkor Wat #15 - us again, black and white this time

Angkor Wat #15 – us again, black and white this time


Angkor Wat #16 - still us...

Angkor Wat #16 – still us…


Angkor Wat #17 - without Vika

Angkor Wat #17 – without Vika


Angkor Wat #18

Angkor Wat #18


Angkor Wat #19 - breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Angkor Wat #19 – breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Pukul 7 tepat, disaat pengunjung semakin dan semakin ramai, kami beringsut meninggalkan pekarangan Angkor Wat. Perjalanan kembali ke parkiran tempat Bang Ratha menunggu pun tidak berjalan cepat karena kami sering berhenti untuk mengambil foto. Menjelang pukul 7:30 kami bersua kembali dengan Bang Ratha yang sedang bersiap-siap menyantap sarapannya. Kami pun ikut membuka bekal yang dibungkuskan pihak hotel. Sambil mengunyah bekal masing-masing, kami berkonsultasi dengan Bang Ratha selaku satu-satunya anggota Dewan Pembina Siem Reap Trip, mana yang sebaiknya didahulukan, kunjungan ke Ta Phrom atau ke komplek Angkor Thom. Tanpa keraguan, Bang Ratha menjawab mantap, “Ta Phrom. Karena masih pagi, belum banyak turis yang datang. Bagus untuk foto-foto.”
So there we went.

Ta Phrom
Perjalanan dari Angkor Wat ke Ta Phrom memakan waktu 15 menit. Dalam perjalanan itu kami sempat melewati satu danau yang sangat cantik, terlihat seolah dalam lukisan karena dihiasi kabut tipis dan pepohonan yang seolah mengambang di atas permukaan air. Sayang kami tak sempat berhenti untuk memotret, tapi kami sepakat nanti saat pulang, kami harus mampir dan mengabadikan pemandangan indah itu.

Benar kata Bang Ratha, Ta Phrom kala pukul 8 pagi masih sepi. Kami bergegas menyusuri jalan tanah merah berdebu menuju reruntuhan kuil yang tampak teduh karena dipayungi banyak pohon rindang. Sebuah pohon dengan warna kulit keputih-putihan berdiri kekar dengan akar-akarnya mencengkram puing-puing reruntuhan candi. Ketika kami memasuki reruntuhan itu, ternyata itulah tempat paling terkenal di Ta Phrom: pohonnya Angelina Jolie. Gw melihat sekeliling dan terkesan, sungguh betapa perkasanya pohon-pohon yang mungkin sudah berusia ratusan tahun itu. Akar-akarnya menghujam tanah dan memeluk candi, seolah Ta Phrom ini dulunya terkubur dan kembali ditemukan. Gw membayangkan seperti apa kehidupan Kerajaan Khmer dulu, membangun begitu banyak monumen megah diatas lahan yang demikian luas, lalu tiba-tiba lenyap ditelan bumi dan baru kembali ke mata dunia berabad-abad kemudian.

Usai berfoto dengan tumbuhannya Lara Croft, kami melanjutkan eksplorasi ke bagian dalam candi yang sepertinya saat itu sedang mengalami pemugaran atau proyek restorasi. Kami bertemu satu lorong dengan langit-langit yang sangat tinggi. Batu-batu penyusunnya berwarna cokelat dan berpadu dengan warna hijau lumut. Kesan dingin, tua, mistis, dan misterius segera menyergap.

Selama berada di Ta Phrom, bisa dibilang kami kejar-kejaran dengan rombongan turis asal Korea. Kami berusaha menghindari mereka karena mereka cenderung ribut dan sering mendominasi spot-spot foto paling mutakhir. Dengan alasan itu pula kami memilih melipir ke satu lorong panjang yang sepertinya diabaikan wisatawan. Lorong atau mungkin lebih tepat dilihat sebagai selasar itu tampak sunyi, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tiang batu penopang candi membuatnya semakin terlihat sepi. Vika menganggap selasar itu sebagai spot yang sangat cantik untuk difoto. Berdasarkan penerawangannya, kami menghabiskan hampir 30 menit berikutnya untuk jepret sana sini.

Tapi selain tenar karena menjadi tempat syutingnya Tomb Raider, ada apa lagi kah tentang Ta Phrom?
• Ta Phrom dibangun oleh King Jayavarman VII sebagai sekolah dan biara Budha pada akhir abad ke-XII atau awal abad ke-XIII dan awalnya bernama Rajavihara.
• Ta Phrom didedikasikan untuk ibunda King Jayavarman VII.
• Ta Phrom dibangun menghadap ke arah timur.
• Dimasukkan ke dalam salah satu Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992.

Ta Phrom #1

Ta Phrom #1


Ta Phrom #2

Ta Phrom #2


Ta Phrom #3

Ta Phrom #3


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4

Ta Phrom #5 - with the Jolie's tree

Ta Phrom #5 – with the Jolie’s tree


Ta Phrom #6

Ta Phrom #6


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #8

Ta Phrom #8


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #9 - photo session

Ta Phrom #9 – photo session


Ta Phrom #10 - photo session

Ta Phrom #10 – photo session


Ta Phrom #11 - Vika took a shot

Ta Phrom #11 – Vika took a shot


Ta Phrom #12

Ta Phrom #12


Ta Phrom #13

Ta Phrom #13

Berminggu-minggu setelah kami sampai kembali ke Indonesia, Vika menyadarkan gw bahwa kami TERNYATA telah MELEWATKAN BEBERAPA pohon Lara Croft lainnya. Jadi selain pohon tempat kami dengan bangganya berfoto sebagai bukti sahih bahwa kami pernah menginjakkan kaki di Ta Phrom, ternyata masih ada tiga atau bahkan lebih *!!!* akar-akar pohon yang melegenda itu dan kami melewatkannya begitu saja karena ketidaktahuan kami. Aaaaarrrggghhh!!! keliatan banget deh kurang risetnya, dan yang jelas itu ya nyesel banget banget banget! Gw pribadi jadi merasa malu selama ini sudah menyandang predikat sebagai ‘itinerary berjalan’. Pada akhirnya, penyesalan ini melahirkan percakapan random antara gw dan Vika:
“Ya udah sih Vik, kita ke sana lagi deh, khusus untuk mendatangi pohon-pohon yang kelewat. Tapi biar mantep sekalian ke Phnom Penh juga.”
“Sewa Bang Ratha sehari cukup kali yeee…”
“Hooh. Ke Siem Reap khusus cuma ke Ta Phrom. Nah kan bisa mampir ke Laos juga.”
“Gw pengen ke Vietnam juga”
“Iiiiihhh… ke Filipina juga bok!. Kedengerannya keren gitu, anti mainstream!”
“Kira-kira butuh berapa hari ya Ke?”
“Ah tapi gw penasaran sama Timor Leste dan Brunei juga, Vik”

Bayon
Hanya sekitar satu jam kami di Ta Phrom, karena niat mulianya memang cuma ingin berfoto bersama tumbuhan Angelina Jolie *mureeeeehhh bener ya tujuannya*
Pukul 9 kami kembali ke pelukan tuktuk Bang Ratha dan 20 menit kemudian Bang Ratha menepikan tuktuknya. Belum sempat kami turun, Bang Ratha dengan sigap mengambil peta Angkor Archaelogical Park yang diselipkan di langit-langit tuktuknya dan segera menjelaskan rute yang harus kami tempuh untuk menuntaskan komplek Angkor Thom ini. “This is East Gate of Angkor Thom,” katanya menerangkan posisi kami saat itu, dan dia mengingatkan kami bahwa dia akan menunggu di dekat Terrace of the Leper King. Itu berarti kami harus keluar di North Gate-nya Bayon. Kenapa dia menunggu kami di sana, karena kalau mengikuti rute yang dia anjurkan, saat kami sampai kembali itu berarti kami sudah khatam keliling komplek Angkor Thom yang berturut-turut dimulai dari Bayon, Baphuon, Royal Palace area, Phimeanakas, Terrace of the Elephant, and last but not least Terrace of the Leper King. Angkor Thom itu sendiri merupakan satu komplek yang berdiri diatas tanah seluas 9 km2 dan terdiri dari beberapa monumen. Didirikan pada akhir abad ke-XII sebagai ibukota kerajaan pada masa King Jayavarman VII.

Seiring masuknya kami ke dalam Bayon, turis-turis pun semakin ramai memenuhi pelataran candi. Di tiap sudut, di tiap puing reruntuhan, di tiap sisi dinding penuh ukiran, seluruh pengunjung berlomba-lomba berpose dan mengabadikan kenangan. Gw berusaha untuk tetap menempel dengan tiga serangkai karena akan sangat merepotkan kalau ada salah seorang diantara kami yang terpisah. Ketika kami naik hingga ke bagian atas Bayon, hal ini agak sedikit menyusahkan karena empat sekawan ini punya selera yang berbeda-beda mengenai objek foto dan bawaannya pengen mencar-mencar aja sih sebenernya.

Bayon mungkin bisa dibilang sebagai candi yang paling unik karena memiliki 37 menara *ada juga yang mengatakan 54 menara* dan beberapa diantaranya berpahatkan empat wajah yang tersenyum. Beberapa kisah meyakini bahwa pahatan wajah itu adalah penggambaran King Jayavarman VII, ada juga yang mengatakan bahwa pahatan itu adalah pahatan wajah Buddha, atau wajah Avalokitesvara atau Lokesvara. Bayon memang dibangun secara khusus untuk Buddha.

Bayon #1

Bayon #1


Bayon #2

Bayon #2


Bayon #3

Bayon #3


Bayon #4

Bayon #4


Bayon #5

Bayon #5


Bayon #6

Bayon #6


Bayon #7

Bayon #7


Bayon #8 - Vika & Uninuna's photo session

Bayon #8 – Vika & Uninuna’s photo session


Bayon #9 - Jendela Rumah 3 Serangkai

Bayon #9 – Jendela Rumah 3 Serangkai


Bayon #10 - how people survive life

Bayon #10 – how people survive life


Bayon #11 - vika

Bayon #11


Bayon #12 - vika

Bayon #12 – vika


Angkor Thom Complex Map

Angkor Thom Complex Map

Selama kurang lebih satu jam kami mengelilingi Bayon dan sepakat untuk mengakhiri kunjungan. Kami pun mencari jalan ke arah North Gate, dan menyempatkan diri berbelok ke kiri. Mengunjungi Baphuon.

Baphuon
Untuk sampai ke Baphuon, pengunjung harus melewati jalan lurus semacam jembatan yang ditopang ratusan pilar batu. Sebelum sampai ke sana, kami melakukan satu hal yang mungkin tidak boleh dilakukan demi menjaga kelestarian candi. Kami sempat berhenti sejenak dan duduk bersender pada salah satu bangunan yang sepertinya merupakan reruntuhan gapura Baphuon. Maafkanlah… cuaca siang itu sangat panas dan setelah berjalan berjam-jam sejak pagi keluar masuk dan mengelilingi candi-candi lainnya, rasa-rasanya kami mulai tumbang, apalagi air minum yang kami bawa sudah habis tak bersisa. Mudah-mudahan saja Bang Ratha membawa air minum cadangan di tuktuknya.

Selang beberapa menit kemudian kami melangkahkan kaki melewati jembatan dan ketika sampai di ujung jembatan, oh… ternyata kami harus kembali menaiki tangga untuk bisa menikmati Baphuon. Vika langsung melipir ke tempat yang agak teduh dan disana kami berdiskusi. Akhirnya disepakati bahwa kami tidak akan mengeksplorasi Baphuon dan sebaiknya langsung ke parkiran mencari Bang Ratha. Bahkan dalam perjalanan kembali ke ujung jembatan di awal pun, kami masih beberapa kali berhenti, entah mengambil foto atau mengistirahatkan kaki sejenak. Saat itu menjelang pukul 12 siang, matahari sedang berada dipuncak kegarangannya.

• Pada masanya dikenal sebagai Menara Perunggu Keemasan yang Menakjubkan, sebagaimana dikisahkan oleh utusan Kaisar Chengzong dari China yang datang pada akhir abad ke-XIII.
• Memiliki sebuah jembatan batu yang ditopang ratusan pilar batu yang ditata secara menakjubkan.
• Beraliran Hindu dan didedikasikan untuk Dewa Siwa, namun disisi barat terdapat patung raksasa Buddha tidur yang ditambahkan pada abad ke-XVI. Hal ini disebabkan oleh dialihkannya Baphuon menjadi candi beraliran Buddha pada akhir abad ke-XV.
• Dibangun oleh King Suryavarman I dan diselesaikan oleh King Udayadityavarman II pada abad ke-XI.
• Walaupun berada di dalam kompleks Angkor Thom, namun Baphuon dibangun sebelum kompleks Angkor Thom didirikan.

Baphuon #1

Baphuon #1


Baphuon #2

Baphuon #2


Baphuon #3

Baphuon #3


Baphuon #4

Baphuon #4


Baphuon #5

Baphuon #5

Keluar dari Baphuon dan berjalan ke arah kiri, gw tertinggal jauh dari Vika, Didito, dan Dani, yang dengan kecepatan ekspres berjalan sambil celingak-celinguk mencari Bang Ratha. Sebenarnya gw tertinggal karena gw masih saja menyempatkan diri berhenti dan memperhatikan reruntuhan candi yang berada di sisi kiri jalan berupa dinding panjang yang dipenuhi relief berbentuk belalai gajah, tak lupa mengambil sedikit gambar dari reruntuhan yang dikenal dengan nama Terrace of the Elephant itu. Terrace of the Elephant digunakan oleh King Jayavarman VII sebagai tempatnya melihat bala tentaranya yang pulang dari medan pertempuran membawa kemenangan.

Terrace of Elephant #1

Terrace of Elephant #1


Terrace of Elephant #2

Terrace of Elephant #2

Selain Terrace of the Elephant, reruntuhan lain yang ada disekitarnya adalah Phimeanakas dan Terrace of the Leper King. Bersama Terrace of the Elephant, mereka menempati satu situs yang dikenal sebagai area Royal Palace.
Secara singkat, Phimeanakas adalah candi Hindu yang dibangun pada akhir abad ke-X pada masa pemerintahan King Rajendravarman, dan dibangun kembali oleh King Suryavarman II. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Phimeanakas dibangun pada awal abad ke-XI oleh King Jayavarman V dan King Udayadityavarman I. Sementara Terrace of the Leper King dibangun pada masa King Jayavarman VII, dan konon dinamai sebagai Terrace of the Leper King karena dua hal. Pertama, lumut yang tumbuh memenuhi bebatuan candi berwarna kehitaman yang mengingatkan pada penderita kusta, dan kedua, ada legenda yang menyebutkan bahwa salah satu raja Angkor yaitu King Yasovarman I mengidap penyakit kusta.

Sementara di sisi kiri jalan adalah reruntuhan kuil, maka sisi kanan jalan adalah tanah lapang yang dijadikan tempat parkirnya tuktuk-tuktuk dan bus-bus pariwisata. Gw menyusul Vika, Didito, dan Dani yang sudah bertemu Bang Ratha dan saat itu sedang sibuk dengan minuman masing-masing. Setelah briefing singkat dengan Bang Ratha, kami meninggalkan kompleks Angkor Thom menuju kota untuk makan siang, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar.

Menuju Parkiran Tuktuk

Menuju Parkiran Tuktuk


Tempat Tuktuk Mangkal

Tempat Tuktuk Mangkal


Keluar dari Komplek Angkor Thom

Keluar dari Komplek Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Mystical Lake #1

Mystical Lake #1


Mystical Lake #2

Mystical Lake #2


Mystical Lake #3

Mystical Lake #3


Map of Angkor Archaeological Park #1

Map of Angkor Archaeological Park #1


Map of Angkor Archaeological Park #2

Map of Angkor Archaeological Park #2

Cambodian Muslim Restaurant
Bang Ratha menjanjikan akan membawa kami ke restoran halal lainnya yang dia tau. Maka siang itu kami berhenti di satu tempat makan yang ternyata berjarak hanya beberapa meter dari restoran yang kami singgahi sehari sebelumnya.
Sama seperti restoran terdahulu, gambar makanan yang terdapat dalam menu Cambodian Muslim Restaurant ini pun tidak menggugah selera makan. Hasil investigasi pada pelayan dan tebak-tebak buah kuncup menghasilkan pesanan-pesanan yang mudah-mudahan saja enak rasanya.

Samlor Korkoh with Beef, Lok Lak Beef, Fried Mixed Vegetable with Shrimp, 3 piring nasi putih, 2 buah kelapa segar, 1 ice milo *udah ketauan ya ini pesenan siapa* dan 1 ice Cambodian tea with milk, cukup untuk mengenyahkan rasa lapar. Kalau dari segi rasa ya sudah sih nggak usah dibahas ya boookkk, Alhamdulillah masih bisa makan, halal pula. Kalau belum puas kan masih bisa makan pisang sepuasnya di hotel nanti :mrgreen:

Cambodian Muslim Restaurant - facade

Cambodian Muslim Restaurant – facade


Cambodian Muslim Restaurant - inside

Cambodian Muslim Restaurant – inside


Fried Mixed Vegetables with Shrimp

Fried Mixed Vegetables with Shrimp


Lok Lak Beef

Lok Lak Beef


Samlor Korkoh Beef

Samlor Korkoh Beef


Kelapa Muda

Kelapa Muda

Sekitar pukul 12:45 kami segera kembali ke hotel. Gw dan Didit langsung tertidur pulas, dan sepertinya begitu pula Vika dan Dani. Dani bahkan membatalkan niatnya untuk mencoba pijat refleksi yang disediakan secara cuma-cuma oleh pihak hotel. Setelah tidur siang selama satu sampai satu setengah jam, gw dan Didito memaksakan diri untuk bangun. Bang Ratha berjanji menjemput kami pukul 15:00. Kami masih belum puas dengan sunrise pagi tadi. Maka ke Angkor Wat kami kembali.

Angkor Wat, sore hari
Jangan dikira Angkor Wat hanya laku saat subuh dan pagi hari. Sore hari pun candi dengan siluet mengagumkan ini tetap menarik para pengunjung. Dan walaupun sudah pukul 15:30, matahari masih tetap terik. Keluar dari hotel masih segar, ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang membelai wajah saat berada di atas tuktuk. Tapi begitu turun dan melangkah ke dalam kompleks Angkor Wat, panas matahari seketika membuat kami kembali kuyup dengan keringat. Di hotel sih udah cuci muka dan bedakan lagi, tapi begitu nyampe depan candi langsung lepek, tak tersisa dempulan bedak sedikit pun. Jadi kalau kami tetap cantik saat di foto, percayalah itu karena kami memang sudah dari lahirnya cantik menarik menawan hati *walaupun sampe saat ini diduga kuat belum berhasil menawan siapapun* *eeehh*

Di Angkor Wat kami melewati area kolam yang saat pagi tadi dipenuhi turis yang berebut ingin melihat terbitnya matahari. Sore hari itu kami memulai dari sebelah kiri, menaiki tangga dan langsung bertemu lorong panjang yang dipenuhi relief. Berbelok ke kanan dan kembali bertemu dengan anak tangga, sementara sisi kanan dan kirinya adalah lahan hijau. Untuk masuk ke dalam area utama Angkor Wat, kami harus naik tangga itu. Setelah menaiki tangga dan berjalan mengikuti arus turis, kita akan bertemu area utama Angkor Wat. Sampai di situ, Vika langsung berkelana sendiri, sementara gw, Didito, dan Dani, kadang bersatu namun lebih sering bercerai. Walaupun begitu, kami tetap berupaya untuk tidak terpisah terlalu jauh atau terlalu lama. Risikonya terlalu besar kalau kami tercerai-berai di kompleks seluas Angkor Wat.

Gw dan Didito berjalan mondar-mandir menyusuri selasar yang mengelilingi menara utama Angkor Wat. Ada satu sudut yang membuat kami merinding. Saat lewat didepannya aura yang terasa sungguh berbeda. Kami cepat-cepat melangkah sambil berdzikir dan membaca Ayat Kursi. Menurut Dani yang memang sensitif, suasana di sekitar arca di sudut itu memang lain dari area lain disekitarnya, seolah bukan patung biasa tapi ada yang menghuninya.

Dari celah antar pilar yang mengelilingi selasar, gw melihat barisan panjang wisatawan yang mengantri untuk bisa menaiki tangga untuk dapat sampai ke puncak menara candi utama. Diperlukan kesabaran, stamina yang kuat, dan tekad yang besar untuk bisa menaklukkan puncak menara, karena sudut kemiringan tangganya tidak main-main. Tapi sepertinya hal itu bukan hambatan bagi para turis, terutama turis bule atau turis Asia Timur. Penuh semangat mereka mendaki, bahkan gw pun melihat banyaknya wisatawan yang sudah lanjut usia menuruni anak tangga setapak demi setapak. Cara turunnya pun, mungkin untuk mengusir kegamangan akan ketinggian, dilakukan sambil mundur. Gw, Didito, dan Dani, lebih memilih untuk duduk di tepi luar selasar sambil minum, kipas-kipas, dan berselonjor kaki. Kami bertekad menunggu Vika yang kabur sendirian entah ke mana. Setelah Alhamdulillah bertemu Vika, kami memutuskan untuk menyudahi acara Evening with Angkor Wat ini dan kembali ke kota. Tapi tentu saja, setiap melihat spot kosong kami selalu mampir, foto-foto, bahkan kembali ke area kolam untuk lagi-lagi mengambil gambar Angkor Wat secara keseluruhan. Saat kami sedang khusyu membidikkan kamera, beberapa anak kecil berambut merah dan berkulit coklat terbakar matahari menghampiri Didito. Penuh antusias mereka mengira bahwa Didito berasal dari Filipina.

Angkor Wat, sore hari #1

Angkor Wat, sore hari #1


Angkor Wat, sore hari #2

Angkor Wat, sore hari #2


Angkor Wat, sore hari #3

Angkor Wat, sore hari #3


Angkor Wat, sore hari #4

Angkor Wat, sore hari #4


Angkor Wat, sore hari #5

Angkor Wat, sore hari #5


Angkor Wat, sore hari #6

Angkor Wat, sore hari #6


Angkor Wat, sore hari #7

Angkor Wat, sore hari #7


Angkor Wat, sore hari #8

Angkor Wat, sore hari #8


Angkor Wat, sore hari #9

Angkor Wat, sore hari #9


Angkor Wat, sore hari #10

Angkor Wat, sore hari #10


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #13

Angkor Wat, sore hari #13


Angkor Wat, sore hari #14

Angkor Wat, sore hari #14

Kembali ke kota
Siang seusai dari Angkor Thom, gw sempat bertanya pada Bang Ratha apakah dia tau di mana Hard Rock Café berada. Niatnya apa lagi kalau bukan mencari oleh-oleh. Kalau ditanya kenapa Hard Rock Café, jawabannya ada dua. Satu, gw tidak menemukan kaus dengan material bahan dan sablon bergambar khas Kamboja dengan kualitas yang oke di Angkor Night Market. Dua, kalau ada starbucks, gw pasti melipir ke sana demi tumbler-nya dan nggak bakalan lirik-lirik Hard Rock Café. Lha emangnya Hard Rock Café ada tumbler-nya? Nggak sih… lalu, cari oleh-oleh untuk siapa kah? Ya untuk our beloved ones laaahh… nggak perlu di mention nama-namanya. Hihihi… Kalo ngerasa, syukur… nggak ngerasa ya… nggak syukur *apa sih apa sih apa sih*

Maka jadilah kami singgah sejenak ke Hard Rock Café yang berlokasi tak jauh dari Old Market. Nggak pake lama kami langsung cabut. Harga t-shirt-nya lumayan bikin mikir berjuta kali buat beli. Rata-rata sehelai kaus dihargai USD 28 hingga USD 35. Bang Ratha, yang ikut mengawal kami hingga ke dalam toko, langsung shock melihat tag price-nya. Sedikit berlari kami menyebrangi jalan raya dan masuk ke satu toko yang menjual kaus dengan merk ‘Papaya’. Di sini, hanya Dani yang sukses menenteng belanjaan. Sayang sekali kaus yang gw taksir tidak tersedia dalam ukuran super besar. Susah juga punya adik ukuran jumbo *eh*

Selesai urusan perkausan, sesuai rencana Bang Ratha pun menurunkan kami di Angkor Night Market. Gw dan Didito sudah bertekad, apapun yang terjadi, kami akan mencoba beberapa makanan yang berjejer di sepanjang Angkor Night Market dan Pub Street. Pokoknya ini waktunya jajaaaaannn!!!

Makanan pertama yang berhasil mencuri perhatian Didito adalah Bok L’Hong. Bok L’Hong adalah salad khas Kamboja yang berisi papaya muda, basil, kol, saus ikan, tomat, jeruk nipis, cabai, dan… kepiting *walaupun gw curiga itu sebangsa cumi-cumi atau gurita*
Rasanya adalah perpaduan antara pedas, gurih, dan asam-asam segar, memang unik! Vika dan Didito seketika jatuh cinta pada makanan ini. Sementara gw? Keberadaan makhluk laut didalamnya membuat gw menolak suapan ke dua.

Gerobak kaki lima berikutnya yang kami singgahi adalah mas-mas penjual Banana Pancake. Biarpun judulnya banana pancake tapi tersedia beberapa topping lainnya dan tidak melulu memakai pisang. Ada topping pisang, telur, coklat, nutella, milo, susu, dan gula. Lumayan juga rasanya untuk makanan seharga USD 1.

Cemilan terakhir adalah Magic Stick Ice Cream. Hal unik dari es krim ini adalah cone-nya yang berbentuk seperti gagang payung. Rasa es krimnya sih biasa saja, malah menurut gw sih kurang terasa susunya. Masih lebih enak es krim cone-nya McDonalds *lho kok*

Berikutnya kami kembali ke Angkor Night Market setelah malam sebelumnya juga mampir ke sini dan gw sempat galau apakah akan membeli beberapa scarf lagi atau tidak. Di kios bagian depan, sehelai syal berbahan sutra palsu dibuka dengan harga USD 10, sementara di lapak bagian belakang ditawarkan seharga USD 5/helai dan mentok di USD 10/3 helai. Masih tetap bingung, gw akhirnya memutuskan untuk tidak membeli syal-syal tersebut. Cukuplah krama hasil perburuan kemarin malam.

Keluar dari Angkor Night Market tanpa tambahan tentengan, kami menemukan pedagang magnet di pinggir jalan yang, berdasarkan pengamatan kami dari lapak ke lapak, menawarkan magnet kulkas dengan kualitas yang agak lumayan. Ada kualitas, ada harga. Si penjual keukeuh tidak mau menurunkan harga jual sebesar USD 1,5 untuk sebuah magnet. Ya sudahlah, terima nasib aja. Kami memang nggak melihat magnet ‘sebagus’ itu selama muter-muter di Angkor Night Market, jadi kami memasrahkan diri mengeluarkan lembaran USD demi seonggok souvenir. Anyway when you’re traveling, do not convert whatsoever into IDR. Walaupun kalo di kurs ke rupiah, agak-agak bikin gondok juga sih *teteuuupp*

Melanjutkan petualangan di malam terakhir di Siem Reap, kami masuk ke Siem Reap Night Market yang berukuran lebih kecil dan lebih rapih daripada Angkor Night Market. Akhirnya disinilah kami berhasil menemukan magnet kulkas yang paling cocok di hati. Magnet berbentuk peta Kamboja ini ditawarkan seharga USD 3/buah dan… cuma bisa turun USD 0,5. Dan di semua toko, si magnet ini mentok di harga USD 2,5/buah. Cakep banget sih kamu, Siem Reap!
Alasan si dedek brondong yang menjaga kios, magnet ini berbeda dari yang lainnya. Produsen magnet ini berasal dari Amerika sehingga harga magnet pun ikut terkatrol walaupun dibuatnya ya di Kamboja Kamboja juga. Sampai sekarang gw masih gagal paham apa hubungan orang Amerika sama harga magnetnya.

Sebelum kembali ke hotel, kami memutuskan untuk ngupi-ngupi cantik di The Blue Pumpkin, yang konon digadang-gadang sebagai salah satu café paling happening di Siem Reap, tempat ngumpulnya para ekspat. Didito, seperti biasa mencoba menu yang tampak aneh: Mango Melba, dengan rasa yang ternyata… juga aneh :mrgreen:
Vika tergoda eclairs yang ternyata biasa saja, sementara gw, karena belum ketemu kopi seharian itu, tentu saja memesan segelas cappuccino dingin. Mmm… kopi Kamboja memang mantap!

Dan akhirnya, kami menamatkan hari itu dengan bersantai sejenak di ruang makan hotel. Sementara Vika dan Dani menyantap cup indomie *seriously it was our indomie!* yang dibeli di salah satu convenience store di Pub Street, Didito menyeruput teh, gw berkali-kali bolak-balik ke mini bar untuk mengambil pisang. Hampir pukul 22:30, kami beranjak ke kemar masing-masing dan memulai packing. Besok sudah saatnya kembali ke tanah air.

Bok L'Hong Seller @Pub Street

Bok L’Hong Seller @Pub Street


Bok L'Hong - Cambodian Salad

Bok L’Hong – Cambodian Salad


Pancake Banana Seller #1

Pancake Banana Seller #1


Pancake Banana Seller #2

Pancake Banana Seller #2


Pancake Banana Seller #3

Pancake Banana Seller #3


Magic Stick Ice Cream

Magic Stick Ice Cream


Vika is feeling ~meh

Vika is feeling ~meh


Didito's Mango Melba @the Blue Pumpkin

Didito’s Mango Melba @the Blue Pumpkin

Pengeluaran:
.Samlor Korkoh Beef USD 4
.Lok Lak Beef USD 4
.Fried Mixed Vegetable with Shrimp USD 3
.Nasi Putih USD 0,50
We shared foods and rice so each shall pay USD 3
.Fresh Coconut USD 1 (Didito’s & Vika’s)
.Ice Cambodian Tea with Milk USD 0,75 (Dani’s)
.Ice Milo USD 0,75
.Magnet bakar USD 1,5
.Rubber fridge magnet USD 2,5
.Ice Cappuccino @the Blue Pumpkin USD 2,25
.Magic Stick Ice Cream USD 2
.Pancake Banana Nutella USD 1

[Mujigae]

Nggak tau kesambet apa-apa tiba-tiba gw kangen si Vika. Alhamdulillah nggak bertepuk sebelah tangan karena si Vika pun ternyata kangen sama gw *eh* *yakan di mana-mana yang namanya ditolak itu nggak enak ya mbaksist*
Jadilah kami mengatur waktu untuk mabuk-mabukan. Tak lupa Didito dan Dani diikutsertakan.

Gw yang paling bersemangat segera bergerak menentukan meeting point, yang seperti biasa hampir pasti selalu di Depok. Ya mau gimana lagi, kantor kami berempat berjauhan, agak susah kalau mau ketemu di Jakarta. Paling mudah memang bertemu di wilayah Depok yang memang sudah jadi wilayah jajahan masing-masing sedari orok. Pilihan kali ini jatuh pada makanan Korea. Maka marilah kita menyambangi Mujigae, yang terhitung baru membuka gerainya di Margo City, mall paling heitz se-Depok Raya.

Begitu memasuki tempat, pelayan langsung menyapa kami dengan salam khas Korea. “Annyeonghasimnika!”

Inside #1

Inside #1

Inside #2

Inside #2

Inside #3

Inside #3

Setelah kami duduk, mbak-mbak pelayan dengan sigap memberikan buku menu dan menerangkan tata cara pemesanan yang sungguh canggih, di setiap meja disediakan iPad dimana pengunjung tinggal memilih menu yang ingin dipesan beserta jumlahnya. Tinggal klik klik klik, order terkirim dan tunggu beberapa menit, pesanan pun segera terhidang di meja. Nggak perlu mencari-cari mbakmas pelayan dan nggak perlu merasa nggak enak kalau lama memilih menu. Efektif dan efisien.

Menu, masih konvensional

Menu, masih konvensional

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Didito on 'How to Order Your Food'

Didito on ‘How to Order Your Food’

Vika on 'How to Order Your Food'

Vika on ‘How to Order Your Food’

Sejak menentukan Mujigae sebagai meeting point, kami langsung kasak-kusuk cari tau soal menu. Nggak heran kami tidak perlu berlama-lama memilih makan malam saat itu. Didito langsung memesan Bulgogi Bibimbap untuk makanannya dan Lemon Sea Salt sebagai minumannya. Vika memilih Classic Ramyeon dan mencoba Choco Banana Milk with Nutella Pudding untuk melepas dahaga. Gw mantap memilih Bibimyeon feat. Tokochi dan ended up dengan Banana Milk with Matcha Pudding untuk minumannya. Kami pun sepakat memesan Original Tteokbokki sebagai cemilan.

Sekitar 10 menit menunggu, pesanan pun datang. So here we go.

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Tteokbokki mungkin bisa dibilang sebagai salah satu cemilan paling terkenal dari Korea. Terbuat dari tepung beras dan disajikan bersama odeng alias fish cake dan saus pedas manis yang kental, enaknya disantap panas-panas.

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Bibimbap adalah makanan khas Korea dimana nasi dihidangkan bersama soy sauce, diberi topping daging yang dicincang, sayur-sayuran, telur ayam setengah matang, dan yang paling penting: gochujang, pasta sambal yang fungsinya membuat enak si bibimbap. Satu lagi yang khas dari Bibimbap adalah cara makannya. Semua diaduk rata jadi satu.

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Sama seperti bibimbap, Bibimyeon dimakan dengan cara mencampur dan mengaduk rata semua yang terhidang di mangkuk. Bedanya, dasar dari bibimbap adalah nasi, sementara dasar bibimyeon adalah mie. Selain itu, pada bibimbap, gochujang adalah elemen penting, sementara bibimyeon tidak menggunakan gochujang. Selain cacahan daging sapi cincang, ada pula topping sayuran, fish cake yang dipotong tipis-tipis dan digoreng garing, dan telur rebus yang dibalut tepung dan digoreng. Sebagai side dish, disajikan tokochi, yaitu kue beras yang digoreng garing. Hmm… I prefer the original tteokbokki to tokochi.

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Bagi gw, Ramyeon tidak ada bedanya dengan mie tektek. Di beberapa tempat di Korea, dalam Ramyeon dimasukkan juga kue beras. Disajikan dalam panci aluminium, Ramyeon nikmat disantap saat dingin. Sayangnya, menurut Vika, Ramyeon pilihannya itu agak sedikit lodoh.

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091" width="768" height="419" /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091″ width=”768″ height=”419″ /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Baik choco banana milk ataupun banana milk, bagi gw rasa susu dan buahnya kurang mantap. Sementara Lemon Sea Salt-nya… menurut Didito, rasanya unik. Asam lemonnya pas dan enak, tapi butiran kasar sea salt-nya sungguh asin. Dan yang mana sea salt-nya? Itu lho, yang menyerupai krim berwarna kuning, yang kami salah duga sebagai es krim pada mulanya.

Dani yang terlambat datang hanya memesan Korean Tea dan memilih menghabiskan tteokbokki kami. Mungkin karena sedang berbahagia, Dani yang biasanya harus makan makanan berat kali ini tidak terlalu ramai soal makanan, dan tetap tampak berseri-seri *silakan ditanyakan langsung ya kenapa-kenapanya*. Terus gimana rasa Korea Tea-nya?
Seruput pertama membuat Dani mengernyit. “Kayak air putih,” katanya. Lalu gelas besar berwarna hijau berisi air sedikit keruh itu pun bergilir pada Didito, Vika, dan terakhir gw.
“Rasanya nggak jelas, aneh!,” bingung si Didito.
“Air perasan daun sirsak,” kata Vika.
“Seperti kuah popmie rasa baso sapi,” gw berpendapat.
“Lah lo dulu apa nggak minum beginian?” tanya mereka bertiga.
“Ya maap, gw bukan penggemar teh. Selama di sana gw cuma minum air putih dan kopi, paling jauh minum banana uyu.” :mrgreen:

Well ya, secara garis besar, Mujigae yang dilengkapi dengan 2 layar tembak dari proyektor yang tak henti menayangkan girl band dan boyband asal Korea, bisa dibilang cukup nyaman sebagai tempat kumpul-kumpul. Harganya masih wajar dan pelayannya pun cukup ramah dan cekatan dalam menjelaskan segala sesuatunya. Mengenai rasa makanannya, I assume rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. It’s lighter yet somehow tastier. No fancy taste yet nice and acceptable. Kimchi yang selalu ada dan dihidangkan sebagai side dish di setiap menu disediakan dalam porsi kecil, dengan rasa asam yang sepertinya lagi-lagi sudah disesuaikan dengan cita rasa lokal.
However, I would like to go back there to taste another menu.

All price are subject to service charge and tax.

Siem Reap: Day 2 – Angkor National Museum, Lamb Climbing Mountain, Banteay Srei, Phnom Bakheng & Angkor Night Market

Terkaget-kaget gw terbangun mendengar bunyi alarm yang semakin lama semakin memekakkan telinga. Didito sudah beranjak ke kamar mandi sementara gw masih berusaha menikmati menit-menit terakhir bergelung dengan selimut. Pukul 01:30 dini hari. Dua jam juga belum ada kami menikmati tidur. Dengan mata terpejam gw berusaha mengumpulkan kesadaran *dan memperkuat niat* untuk bangkit, menyambar handuk dan menyeret langkah menuju kamar mandi.
“Lo mandi nggak, Dit?” gw bertanya pada Didito yang sudah keluar kamar mandi dan mulai membereskan tasnya. Didito menggeleng. Memang cocok kami menjadi teman sekamar. Gw pun sudah berniat tidak mandi. Lagipula gw baru saja mandi kurang dari dua jam yang lalu. At the end terungkap bahwa, di antara kami berempat hanya Vika yang mandi di pagi buta itu.

Pukul 02:30 gw dan Didito turun ke bawah. Ternyata Dani sudah duduk manis di lobby, sementara Vika sibuk mengambil gambar di luar hotel setelah membereskan urusan check out sebelumnya. Kami segera berangkat menuju pangkalan bus di KL Sentral yang akan membawa kami ke KLIA 2. Jalanan masih sangat sepi. Rencananya kami akan menggunakan Skybus keberangkatan pukul 03:00 pagi. Tapi sesampainya di KL Sentral, bus yang berada pada posisi paling depan adalah Aerobus. Tanpa pikir panjang kami pun membeli tiket seharga RM 10 pada abang kondektur yang nongkrong di depan bus dan segera menaiki bus yang tampak masih sepi, namun ternyata sudah ramai di dalam. Seluruh kursi sudah hampir terisi dan masing-masing sudah dalam posisi enak, Dani dan Didito segera mendapatkan kursi di dekat pintu sementara gw dan Vika tidak punya pilihan lain selain duduk di dua kursi terakhir.

Pukul 02:45 tepat, bus mulai melaju membelah gelapnya malam Kuala Lumpur. Gw memperhatikan sekeliling. Hampir seluruh penumpang tidur pulas. Gw melirik ke kanan. Vika tampak berusaha tidur tapi tak bisa. Gw pun sebenarnya mengantuk. Tapi AC yang bolong yang terletak tepat diatas kepala kami sepertinya membuat kami tidak bisa memejamkan mata dengan khusyuk. Dinginnya luar biasa. Perut gw berdenyut-denyut menahan dingin. Jaket tidak cukup menghangatkan.
Setelah siksaan AC bolong yang sepertinya tiada akhir, satu jam kemudian akhirnya gw dan Vika bisa bernafas lega. Pukul 03:45 kami tiba di KLIA 2.

KLIA 2 dini hari itu masih sepi. Sebagian besar toko masih tutup dan calon penumpang pun terlihat bergelimpangan di berbagai sudut. Mungkin mereka hanya sekedar transit untuk sampai pada destinasi sebenarnya dan lebih memilih tidur di bandara untuk menghemat biaya perjalanan. Sambil menggeret koper, gw menyempatkan diri melirik kiri-kanan untuk mencari teh dan kopi titipan orang rumah.

Begitu melihat gerai Starbucks, Vika langsung mengerem mendadak dan jadilah kedai kopi itu sebagai pemberhentian pertama kami pada Jumat, 26 Desember 2014, itu. Gw dan Vika membeli tumblr Starbucks bertuliskan ‘Kuala Lumpur’ seharga RM 38, mengoleh-olehi diri kami masing-masing. Namun, berbeda dengan Starbucks di tempat lain dimana ketika kita membeli tumblr maka kita akan diberikan complimentary drink, Starbucks di KLIA2 itu tidak demikian. Pantas saja harganya agak berbeda dengan rata-rata harga tumblr Starbucks di negara lain. Mungkin harga tumblr Starbucks Malaysia bisa lebih murah karena meniadakan complimentary drink.

 Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Setelah Vika menyelesaikan tegukan terakhir hot chocolate-nya, kami langsung meneruskan perjalanan menuju terminal keberangkatan. KLIA 2 memang luar biasa luasnya. Padahal gaya berjalan kami juga nggak lelet-lelet banget, cuma sering menclok kanan-kini di berbagai duty free shop yang bertebaran, jadi ya tetep aja untuk sampai ke International Transfer/Pertukaran Antarabangsa memakan waktu 30 menit. Ngomong-ngomong apakah yang membuat kami sering mampir? Itu tiada lain dan tiada bukan karena gw yang niat banget nyari lipstick Rimmel by Kate Moss :mrgreen:
Yah… biar kata keperempuanan gw diragukan, tapi timbang lipstick doang mah gw juga doyan *eh* *doyan belinya aja, pakenya nggak* *nggak bisa, maksudnya*
klia2 #1

klia2 #1


klia2 #2

klia2 #2


Kami melewati skybridge, turun satu level dan menemukan ruang tunggu yang terletak di antara Departure Gate P dan Q. Ruang tunggu ini disebut juga Public Lounge atau Ruang Istirahat Awam dalam Bahasa Melayu. Jangan bayangkan ruang tunggu yang kecil dan seadanya ya, Ruang Istirahat Awam ini cukup luas dan yang jelas nyaman dengan banyak sofa empuk dan besar, membuatnya menjadi tempat favorit bagi para penumpang untuk beristirahat atau bahkan bermalam di bandara. Walaupun di kanan-kiri berdiri toko-toko yang menjual barang-barang mewah, namun ruang tunggu itu tetap tenang. Tentu saja, karena belum ada toko yang buka, kecuali beberapa convenience store.
Kami mencari spot tersisa dan harus puas dengan kursi non-sofa di satu pojok. Berdekatan dengan kami, ada satu keluarga sedang tidur dan ternyata ada anggota keluarga lainnya yang tidur di atas karpet, tersembunyi di belakang kursi.

Masih ada waktu satu jam lebih hingga waktu Subuh. Kami sempat bimbang apakah menunggu di ruang tunggu tersebut hingga waktu shalat Subuh tiba, atau langsung menuju Departure Gate Q. Sementara Vika, Didito, dan Dani tidur-tidur ayam, gw menyambangi convenience store yang ada. Membeli beberapa coklat yang menurut gw nggak masuk ke Indonesia, saat membayar gw pun bertanya pada si mbak-mbak kasir, apakah di Departure Gate ada mushala dan di jawab tidak. Jadi, mushala hanya terdapat di dekat ruang tunggu itu saja. Baiklah, berbekal informasi ini, kami mantap berdiam di ruang tunggu menunggu Subuh.
Resah menunggu dan bosan tidur-tidur ayam, gw dan Vika yang mulai gatal kelaparan menyempatkan diri membeli french fries di Burger King, sementara Dani menjaga seluruh bawaan kami dan Didito masih terlelap dalam dunianya. Tepat setelah kami selesai menyantap kentang goreng, tanpa buang waktu kami langsung menuju mushala dan menunaikan shalat Subuh.

Selesai shalat, dengan bergegas kami pun segera menuju Departure Gate Q. Terburu-buru kami berjalan, karena waktu Subuh dan waktu boarding yang memang agak sempit. Dan di sepanjang lorong menuju Departure Gate Q itu, kami misuh-misuh sendiri karena ternyata di sana pun terdapat beberapa tempat makan, toilet, dan tentu saja… mushala. Ketauan ya, first timer di KLIA 2 :mrgreen:

Kaki tangan Air Asia sudah berteriak-teriak “Siem Reap, Siem Reap!” ketika kami tiba. Tidak berlama-lama di boarding room, kami segera digiring menaiki pesawat. Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55. Langit masih gelap, muka masih kayak bantal, mulut *mungkin* masih bau iler, dan Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55.

***

Heavenly Sky #1

Heavenly Sky #1


Heavenly Sky #2

Heavenly Sky #2


Heavenly Sky #3

Heavenly Sky #3


Heavenly Sky #4

Heavenly Sky #4


Tepat pukul 08:30 waktu setempat, burung besi raksasa mendarat sempurna. Gw mengintip keluar jendela, terlihat satu bangunan sederhana. Siem Reap International Airport sungguh berbeda dengan KLIA 2. Akhirnya gw menjejakkan kaki di salah satu destinasi impian gw. Selamat datang di tempat di mana Siam dikalahkan. Siem Reap!

Sementara Vika dan Didito melaju menuju gedung bandara, gw dan Dani menyempatkan berfoto-foto sejenak. Siem Reap International Airport merupakan salah satu dari beberapa bandara yang tersohor yang ada di Kamboja. Dua lainnya adalah Phnom Penh International Airport dan Sihanoukville International Airport. Sihanoukville, biarpun menyandang kata ‘international’, pada kenyataannya hanya melayani rute domestik.

Sebelum memasuki gedung bandara, ternyata kami harus mengisi beberapa form terlebih dahulu. Oya sebagai informasi, ketika di pesawat kami sudah diminta untuk mengisi arrival card dan kartu pernyataan kesehatan. Selesai mengisi lembar-lembar form yang ada, kami menyelesaikan proses imigrasi. Bandara yang tidak terlalu luas dan proses imigrasi yang sederhana, membuat kami dapat dengan cepat meninggalkan bandara. Siem Reap International Airport memang kecil, conveyor belt-nya saja hanya satu atau dua, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung, dengan gaya interior khas Kamboja, mirip seperti bandara Soekarno-Hatta atau bandara Adi Sumarmo di Solo.

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan


Siem Reap International Airport #1

Siem Reap International Airport #1


Siem Reap International Airport #2

Siem Reap International Airport #2


Siem Reap International Airport #3

Siem Reap International Airport #3


Siem Reap International Airport #4

Siem Reap International Airport #4


Siem Reap International Airport #5

Siem Reap International Airport #5


Diluar bandara, seorang laki-laki sudah mengacung-ngacungkan kertas bertuliskan nama Didito. Kami memang menggunakan fasilitas penjemputan gratis yang disediakan oleh hotel. Dengan ramah, laki-laki penjemput itu membawakan tas kami menuju mobilnya: sebuah Toyota Camry *wow!* dengan transmisi matic *wow!* tahun 90-an *ekh*. Ya mobilnya masih kotak-kotak gitu lho bentuknya :mrgreen:

Begitu memasuki mobil, si laki-laki penjemput membuka percakapan, masih tetap ramah. Dia menanyakan asal kami dan sebagainya, dan mulai bertanya bagaimana kami akan menjelajah Siem Reap. Awalnya dia bertanya transportasi apa yang akan kami gunakan dan mulai meminta kami untuk menggunakan jasanya untuk berkeliling selama di Siem Reap. Kami menjawab bahwa kami sudah memesan transportasi lain secara mandiri dan menolak tawarannya secara halus. Disini, keramahannya mulai menguap secara signifikan. Gaya bicara yang awalnya sopan dan ramah berganti dengan nada paksaan. Pada akhirnya dia mengomel, beralasan bahwa dia sudah bela-belain bangun pagi-pagi, menunggu kami di bandara, menjemput kami untuk kemudian mengantar kami ke hotel, kebutuhannya akan uang untuk membeli bensin, maka seharusnya kami menggunakan jasanya untuk berwisata selama di Siem Reap.

Jeritan hati kami sebagai turis kere pun ditangkap oleh Didito yang langsung menyambut ajakan si laki-laki penjemput untuk berperang urat syaraf. Dengan tegas dan penuh wibawa Didito menolak paksaan si laki-laki penjemput, menyatakan bahwa kami hanya meminta fasilitas penjemputan yang memang disediakan pihak hotel dan notabene gratis dan diluar itu adalah urusan antara hotel dan si laki-laki. Kami tidak ada sangkut pautnya dan tidak mau tau. Titik nggak pake koma! Perjalanan selama 15 hingga 20 menit menuju hotel menjadi terasa lama dan menegangkan. Gw mencoba mengalihkan perhatian pada jalanan Siem Reap yang kecil, kering dan berdebu.
Ketika akhirnya sampai di hotel, tanpa basa-basi si laki-laki penjemput menurunkan kami, dan pergi melaju dengan membanting pintu mobilnya.

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?


Jaman masih akur... hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai

Jaman masih akur… hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai


Untunglah kekesalan kami segera terbayar oleh keramahan luar biasa dari para karyawan hotel yang sigap menyambut *yang lebih mirip seperti menyerbu karena mereka berebut membawakan tas-tas dan koper kami* kami turun dari mobil. Dari lobi hotel kami langsung diarahkan menuju satu ruangan penuh sofa dan berpenerangan redup. Ruangan yang didominasi warna oranye yang hangat dan gradasinya itu sepertinya digunakan sebagai ruang tunggu bagi para tamu hotel, disatukan dengan ruang makan dan mini bar.

Sementara Didito mengurus administrasi di resepsionis, kami bersantai sambil sesekali membidikkan kamera ke objek-objek yang entah mengapa seluruhnya terlihat memesona. Tak lupa kami menikmati welcome drink dan menyegarkan diri dengan handuk basah beraroma terapi yang disediakan pihak hotel dalam satu wadah cantik.
Tak lama kamar kami siap, dan kami pun dipersilakan untuk memasuki kamar. Setelah meletakkan barang dan beres-beres, gw dan Didito segera turun karena kami sudah janjian dengan supir tuktuk yang Didito hubungi sejak di tanah air untuk memulai petualangan tepat pukul 10:00.

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in


Siem Reap's Hospitality

Siem Reap’s Hospitality


***
Sesampainya di lobi, gw dan Didito menemukan seorang laki-laki muda berperawakan kecil dan berpakaian putih sedang berdiri sambil memegang sebuah kertas. Wajahnya ramah dan dengan senyum yang selalu terkembang, dia menyapa kami dan memperkenalkan diri sebagai Kloy Ratha. Dengan ‘radar’ yang agak ngadat, gw segera menghubungi Vika dan Dani lewat whatsapp.
‘Oiiiii, Bang Ratha udah ada nih. Lumayan manis cuy, mau di prospek nggak?’ *salah fokus*
Di negara orang pun gw masih berusaha menebarkan senyuman maut :mrgreen:

Dengan antusias, sejak saat itu dengan sok akrabnya gw selalu memanggilnya ‘Bang Ratha’. Dan ternyata, Kamboja pun menyapa laki-laki yang lebih tua dengan sebutan ‘bang’, hanya saja huruf vokal a tidak diucapkan secara jelas, melainkan lebih ke arah pengucapan huruf vokal o. Btw, sebenarnya Bang Ratha berusia di bawah kami, tapi ya being the childish and spoiled me, gw selalu memanggilnya dengan kata sapa ‘bang’.

Tak lama, Vika dan Dani pun turun. Setelah memperkenalkan diri dan mengkonfirmasi tujuan pertama, kami segera menaiki tuktuk yang sudah tersedia didepan hotel. Melihat bentuk tuktuk, kami pun mengatur formasi tempat duduk. Demi keseimbangan tuktuk, gw yang berbadan lebar dan Didito yang tampak kekar tidak boleh duduk pada baris kursi yang sama. Maka pilihan formasi pun terbentuk: Didito dan Vika versus gw dan Dani, atau Didito dan Dani versus gw dan Vika.

Formasi #1: Dani & I

Formasi #1: Dani & I


Formasi #2: Vika & Didito

Formasi #2: Vika & Didito


***
Angkor National Museum
http://www.angkornationalmuseum.com
Operating Hours:
1 April – 30 September: 08:30 – 18:00
1 October – 31 March: 08:30 – 18:30
Admission Fee: USD 12

Angkor National Museum #1

Angkor National Museum #1

Ini tujuan pertama kami. Kenapa kami memilih ke sini? Atau lebih tepatnya, kenapa gw sebagai pembuat itinerary menjadikan museum ini sebagai destinasi pertama?
1. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, Angkor National Museum merupakan satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif dan komprehensif, sehingga ketika mengunjungi Angkor Wat dan candi-candi lainnya, pengunjung diharapkan bisa mengerti dan memahami situs-situs tersebut secara utuh dan menyeluruh.
2. Didito merupakan pecinta museum, sementara gw mengaku (-ngaku) sebagai penikmat museum.
3. Angkor National Museum berfungsi juga sebagai tempat istirahat bagi kami dari kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur.

Begitu kami menaiki tuktuk, Bang Ratha bertanya apakah kami akan membeli tiket masuk museum di agen travel atau langsung di museumnya. Belum sempat menjawab, Bang Ratha sudah langsung menerangkan bahwa tidak ada perbedaan harga antara travel dan museum. Tau aja dia kalo kami adalah turis yang pedit nan perhitungan :mrgreen:
Kami pun setuju dan diantarlah kami ke travel tujuan. Alamatnya? Wah… mohon maaf lahir dan batin, gw pun nggak tau. Kami hanya bermodalkan pasrah dan ikhlas dibawa ke manapun oleh si abang, karena kami terlalu semangat memperhatikan Siem Reap yang eksotis, berkomentar ini itu dan menikmati angin sepoi-sepoi dari tuktuk yang terbuka.
Selesai membeli 4 lembar tiket seharga USD 12 per lembar, kami segera meluncur menuju Angkor National Museum. Tak lupa gw meminta peta Angkor Wat dan diberikan ‘hanya’ satu buah oleh mbak-mbak travel. Ketika gw meminta satu peta tambahan, si mbak menolak lembut. Oh baiklah, penolakan itu memang pedih, Jenderal!

Sekitar 10 menit kemudian, tuktuk kami memasuki satu gedung berdinding putih bertuliskan Angkor National Museum. Kami segera turun sementara Bang Ratha memarkir tuktuknya bersama tuktuk-tuktuk lainnya. Setelah mengeluarkan benda-benda berharga dan menitipkan tas di tempat penitipan (pengunjung tidak diperbolehkan , kami menukarkan tiket masuk, menyempatkan foto di salah satu sudut, dan tur museum pun dimulai.

Ruangan pertama yang kami masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater sederhana di mana pengunjung disuguhi penjelasan selama 15 menit mengenai garis besar museum ini. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, pengunjung bisa mengunjungi galeri selanjutnya. Angkor National Museum memang dibagi menjadi 7 galeri dan 1 galeri eksklusif. Apa saja?
1. Gallery of 1000 Budhha Images: the Gallery of Cambodian Buddhism Reflections. Galeri ini memamerkan koleksi patung Budhha paling prestisius dari berbagai zaman pembuatan. Berbagai bentuk dan posisi tubuh Buddha ditampilkan, sebagian besar memperlihatkan Muchalinda alias Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga.
2. Gallery A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak jaman pre-Angkorian, Angkorian, dan post-Angkorian.
3. Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad.
4. Gallery C: the Great Khmer Kings. Dari namanya, kita sudah bisa mengetahui apa yang akan dijelaskan di galeri ini. Kepemimpinan empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201.
5. Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat.
6. Gallery E: Angkor Thom. Inilah galeri yang menjelaskan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya.
7. Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ yand dijadikan tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor.
8. Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan.

Sebenarnya Angkor National Museum ini cukup menarik dan sungguh informatif. Display museum ditata cukup apik dan pencahayaan yang cenderung redup berhasil membangun kesan misterius yang elegan. Sayangnya, mungkin akibat kelelahan, gw dan Didito malah tertidur di Gallery D ketika ditayangkan film dokumenter. Sementara Vika dan Dani yang memilih untuk menikmati secangkir cappuccino berdua di coffee shop di lantai 1 museum sepertinya lebih bisa meresapi film tersebut. Kuatnya kopi Kamboja sepertinya berhasil membuat mata mereka terbuka lebih lama.

Secara keseluruhan, mengunjungi museum ini sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park sangatlah direkomendasikan. Apalagi, disediakan juga Audio Tour Guide yang bisa disewa dengan harga USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan Bahasa yaitu Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, dan Thailand, serta tak ketinggalan Bahasa Perancis. Satu yang gw sayangkan adalah tidak diperbolehkannya pengunjung untuk mengambil gambar di dalam museum. Penjaga berjaga disetiap tempat dan cctv dipasang disetiap sudut, membuat kami tidak berkutik untuk curi-curi gambar.

Ketika kami tiba kembali di depan tempat penjualan tiket masuk, ternyata Bang Ratha sudah duduk manis menunggu sambil ngadem dari teriknya matahari siang itu. Kebetulan sudah pukul 12 siang, kami sepakat untuk makan siang terlebih dahulu. Alhamdulillah, Bang Ratha mengetahui dengan baik restoran yang kami tuju. Profesinya sebagai supir tuktuk idola wisatawan asal Indonesia sepertinya membuatnya paham seluk beluk konsumennya.

Travel Agent

Travel Agent


Angkor National Museum #2

Angkor National Museum #2


Angkor National Museum #3

Angkor National Museum #3


Coffee Shop inside the Museum

Coffee Shop inside the Museum


Tuktuk Parking Lot

Tuktuk Parking Lot

***
Mengunjungi negara dimana non muslim menjadi mayoritas membuat kami harus lebih berhati-hati memilih makanan. Hasil penelitian mengarahkan kami pada satu restoran yang sepertinya pasti dikunjungi oleh setiap wisatawan muslim yang mengunjungi Siem Reap. Muslim Family Kitchen yang memasang label halal menjadi pilihan kami. Sepertinya restoran ini terletak di perkampungan muslim. Banyak perempuan berjilbab wara-wiri di lingkungan tersebut. Kehadiran sebuah masjid tak jauh dari restoran dan azan yang berkumandang menambah kenyamanan kami. Masjid An Neak Mah alias An-Nikmah siang itu dipenuhi oleh pria-pria muslim untuk menjalankan shalat jumat.

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That's a masjid!

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That’s a masjid!


Muslim Family Kitchen #1

Muslim Family Kitchen #1


This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu'ah Prayer

This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu’ah Prayer


the Masjid

the Masjid


Inside the restaurant. See the sign of 'Prayer Room'?

Inside the restaurant. See the sign of ‘Prayer Room’?


Muslim Family Kitchen berkonsep terbuka dan tampak sederhana. Dihiasi beberapa kaligrafi, gw pun mendengar lagu-lagu musisi Indonesia sebagai hiburan di restoran itu. Setelah melihat-lihat menu, kami memutuskan untuk makan tengah. Ada tiga lauk yang kami pesan: Amok, Fried Spicy Seafood, dan tentunya menu paling kesohor yang konon katanya wajib dicoba oleh setiap pengunjung yang datang: Beef Climbing Mountain alias Daging Lembu Naik Bukit. Untuk minumnya kami memesan masing-masing, dan seperti biasa oseng-oseng tumis-tumis dan jadilah! Daging Lembu Naik Bukit.

Terus, terus, rasanya bagaimana? Kan makanan itu digadang-gadang sebagai a must try food dengan rasa yang mantap endang surindang, tapiiiii kenapakah kenapa, bagi kami kok rasanya biasa aja ya? No fancy taste, no fancy spice. Really nothing special.
Sementara Amok, yang juga disebut sebagai makanan khas Kamboja yang lezat dan wajib dicoba, rasa rempahnya terutama kunyit, kami rasakan terlalu menyengat. Untuk Fried Spicy Seafood-nya gw tidak terlalu bisa berkomentar. Satu hal yang gw rasakan, udangnya kurang segar. Kalau mau tau lebih banyak tentang restoran ini, bisa dilihat di http://www.muslimfamilykitchen.com

the Menu

the Menu


Lamb Climbing Mountain's ingredients

Lamb Climbing Mountain’s ingredients


Lamb Climbing Mountain #1: Cook the meat

Lamb Climbing Mountain #1: Cook the meat


Lamb Climbing Mountain #2: Added the veggies and done!

Lamb Climbing Mountain #2: Added the veggies and done!


Lamb Climbing Mountain is ready to serve

Lamb Climbing Mountain is ready to serve


left: Amok right: Fried Spicy Seafood

left: Amok
right: Fried Spicy Seafood

Saat kami hampir menyelesaikan santap siang, datang seorang bapak berpeci dan bergamis. Perawakannya tidak seperti orang Kamboja pada umumnya. Ternyata dia adalah pemilik restoran tersebut. Kami sempat berbincang-bincang sejenak dengannya, ditimpali dengan komentar-komentar dari Bang Ratha yang sudah menyelesaikan makan siangnya di tempat lain dan dari seorang tour guide lain yang pandai berbahasa Melayu. Mulai dari asal-usul nama Daging Lembu Naik Bukit, mengenai wisatawan Indonesia yang jarang mereka temui, hingga topik yang agak berat seperti kehidupan muslim Kamboja. Sebenarnya Daging Lembu Naik Bukit merupakan makanan khas Kamboja, namun untuk lebih mengundang pengunjung untuk mencicipi, diberilah nama yang unik seperti itu yang diusulkan oleh seorang warga negara Malaysia teman si pemilik restoran. Sepertinya Kamboja memang memiliki hubungan emosional lebih dekat dengan Malaysia dibandingkan dengan Indonesia. Para bapak teman mengobrol kami ini pun awalnya mengira kami berasal dari Malaysia. Menurut mereka, sedikit wisatawan yang berasal dari Indonesia. Kebanyakan yang mengunjungi Siem Reap berasal dari China atau Korea, atau orang bule sekalian.
Hmm… apakah orang Indonesia memang lebih memilih wisata belanja daripada wisata sejarah yang kurang gemerlap seperti kami?

Sembari mengobrol, secara bergantian kami menunaikan shalat dzuhur dan asar. Tampilan restoran boleh saja sederhana, tapi mereka menyediakan mushala yang cukup nyaman untuk digunakan beribadah. Dan jangan salah, toilet yang ada pun bersih, lengkap dengan toilet duduk dan shower, serta terpisah antara toilet laki-laki dan perempuan.

***
Banteay Srei

Dengan melihat peta Angkor Archaelogical Park di internet, gw menempatkan Banteay Srei sebagai tujuan pertama. Diikuti dengan Ta Keo, lalu Preah Khan, dan terakhir Phnom Bakheng. Phnom Bakheng gw tempatkan di pos terakhir, karena konon Phnom Bakheng merupakan tempat terbaik untuk menikmati matahari tenggelam. Sebelum ke Banteay Srei, kami menuju tempat penjualan tiket terlebih dahulu. Karena kami akan menjelajah komplek Angkor ini selama 2 hari, maka kami memilih untuk membeli 3 day pass seharga USD 40. Ketika kita sampai didepan loket, petugas akan meminta kita untuk menatap satu titik yang merupakan kamera kecil dan dalam sedetik kita pun akan difoto tanpa aba-aba. Foto ini dicetak diatas tiket masuk. Jadi jangan lupa pasang senyum paling manis dan pose paling aduhai, lumayan kan tiketnya bisa dibawa pulang jadi kenang-kenangan dan bukti kita pernah menjejakkan kaki di tanah Siem Reap :mrgreen:
Tiket masuk ini diperiksa setiap kali kita memasuki candi dan akan dibolongi kalau kita sudah mengambil jatah satu hari dari 3 hari yang tersedia di 3 day pass itu.

Angkor Archaelogical Park TICKET!

Angkor Archaelogical Park TICKET!


Melanjutkan perjalanan ke Banteay Srei, kami menikmati pemandangan di kiri kanan yang masih alami. Danau, pematang sawah, kerbau, rumah penduduk yang seperti rumah panggung dan berjarak cukup jauh antara satu rumah dengan rumah lainnya… rasanya kok seperti di desa ya… memang sih jalanannya selalu beraspal mulus, tidak ada jalanan yang berlubang. Tapi kesan sederhana itu sungguh terasa, bahkan gedung bioskop pun hanya seperti rumah biasa yang sangat sederhana. Belum lagi warga lokal yang berpapasan dengan kami. Raut wajah mereka sama dengan pemandangan disepanjang perjalanan: tampak polos dan sederhana.

Setelah hampir 30 menit, satu demi satu diantara kami mulai merasa mengantuk. Angin sepoi-sepoi sepertinya berkontribusi besar meninabobokan kami. Sambil menahan kantuk kami mulai bertanya-tanya, kenapa kami belum sampai juga? Lalu kenapa jalanan semakin sepi? Apakah Bang Ratha benar-benar tidak berniat jahat pada kami? Harus ke mana kami pergi jika terjadi sesuatu, mengingat betapa sepi dan sunyinya jalan yang kami lewati?
Ujung dari pertanyaan-pertanyaan kami bermuara pada satu pertanyaan. Apakah ada blog yang bercerita berapa lama perjalanan ke Banteay Srei? Atau bagaimana kondisi perjalanannya? Dan kami sepakat, tidak ada! Ya kalaupun ada, berarti kami tidak membacanya 😆
Tidak kuat menahan kantuk, gw pun tertidur dengan harapan bisa segera sampai di tujuan. Hampir satu jam kemudian gw bangun, dan kami belum juga sampai. Astaga. Mengapa tidak ada blog yang menceritakan betapa lamanya perjalanan ke Banteay Srei ini??? Gw dan Vika pun sepakat untuk mengabarkan berita ini pada dunia *apa sih apa sih*

Ketika akhirnya terlihat kerumunan tuktuk dan Bang Ratha menepi, kami pun mendapatkan keterangan berapa jarak dari lokasi penjualan tiket ke Banteay Srei. “40 km”, kata Bang Ratha tetap dengan senyum manisnya yang melelehkan hati *eh* *salah fokus lagi* *hatinya Dani sih sebenernya, bukan hati gw*
“Hah!” gw menimpali, “itu sih jarak dari rumah gw ke Kelapa Gading!”
Niat mau liburan tapi kenapa berasa berangkat ke kantor gini ya? 😆

Iya sih kami tau bahwa komplek Angkor Archaelogical Park itu besar, but we never thought it was THAT big!

On the way to Banteay Srei

On the way to Banteay Srei


On the way to Banteay Srei: masih semangat ~~

On the way to Banteay Srei: masih semangat ~~

Lalu apakah Banteay Srei itu?

Dalam Bahasa Khmer, Banteay Srei berarti Kota Para Wanita. Mungkin dinamakan seperti ini karena pahatannya yang halus dan warna bebatuannya yang tampak seperti warna merah muda. Namun konon nama sebenarnya adalah Isvarapura, dalam Bahasa Sansekerta berarti Kota Shiwa. Banteay Srei memang dibangun untuk menghormati Dewa Shiwa, satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu.

Banteay Srei mungkin merupakan candi yang paling kecil dalam Komplek Angkor Archaelogical Park, tapi candi jelas merupakan salah satu masterpiece peradaban Khmer. Tidak lain karena kehalusan pahatannya diatas batu pasir merah muda. Dibangun pada abad ke 10 oleh penasihat Raja Rajendrawarman: Yajnyavahara. Namun, candi ini baru berdiri dengan sempurna di masa pemerintahan Raja Jayawarman V.

Ketika kami memasuki komplek Banteay Srei, hujan rintik-tintik mulai turun. Tapi tak lama segera berhenti, matahari kembali bersinar dan langit pun kembali biru. Konon memang seperti inilah cuaca di komplek Angkor Archaelogical Park, cepat berubah-ubah.

Hanya sekitar satu jam kami didalam dan segera menyudahi kunjungan agar bisa ke tujuan selanjutnya. Sesampainya di parkiran tuktuk, Bang Ratha segera mengangsurkan botol air mineral dingin dan handuk basah untuk menyegarkan wajah yang rasanya sudah sangat lengket dan berminyak.

Banteay Srei #1

Banteay Srei #1


Banteay Srei #2

Banteay Srei #2


Banteay Srei #3

Banteay Srei #3


Banteay Srei #4

Banteay Srei #4


Banteay Srei #5

Banteay Srei #5


Banteay Srei #6

Banteay Srei #6


Banteay Srei #7

Banteay Srei #7


Banteay Srei #8

Banteay Srei #8


Banteay Srei #9

Banteay Srei #9


Banteay Srei #10

Banteay Srei #10


Banteay Srei #11

Banteay Srei #11


Banteay Srei #12

Banteay Srei #12


One of my darlings | Vika

One of my darlings | Vika


***
Phnom Bakheng

Setelah berdiskusi dengan Bang Ratha selaku penasihat tunggal, kami memutuskan mencoret Ta Keo dan Preah Khan dari wish list dan langsung menuju Phnom Bakheng untuk mengejar matahari tenggelam. Saat itu sudah pukul 16:15. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami tidak tau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Phnom Bakheng. “Tenang saja,” kata Bang Ratha, “tidak selama tadi kok, itu tadi sudah yang paling lama,” katanya mendengar kekhawatiran kami. Dia betul. Butuh waktu sekitar 45 hingga 50 menit dari Banteay Srei ke Phnom Bakheng. Pukul 17:00 kami turun dari tuktuk, berbaur dengan pengunjung lain. Dan gw serta Vika kembali bertugas menuliskan hal ini karena setau kami belum ada blog yang menuliskan lamanya waktu tempuh antara kedua candi itu.

Tanggung jawab gw dan Vika bertambah ketika kami menyadari bahwa untuk sampai ke Phnom Bakheng ternyata kami harus berjalan cukup cepat di jalanan dengan kontur yang terus menanjak dengan kemiringan 40 hingga 50 derajat selama kurang lebih 15 hingga 20 menit untuk sampai ke area Phnom Bakheng, dan sejauh ini kami tidak pernah membaca informasi ini di blog-blog orang.

Ketika akhirnya kami bertemu kembali dengan tanah yang datar, itulah tanda kami sudah sampai di Phnom Bakheng. Tapi jangan senang dulu, saudara-saudara. Kita masih harus menaiki tangga Phnom Bakheng untuk dapat melihat keindahan matahari tenggelam. Kami pun turut mengantri bersama pengunjung lain dan dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke puncak candi. Total waktu skitar 30 menit dibutuhkan sejak turun tuktuk hingga menapak di anak tangga terakhir Phnom Bakheng.
Dan sesampainya di atas… oh la la… nawaitunya sih mau lihat sunset tapi kenapa jadi lihat lautan manusia begini ya?

Berjalan menanjak menuju Phnom Bakheng

Berjalan menanjak menuju Phnom Bakheng


Antri menunggu giliran menaiki tangga Phnom Bakheng

Antri menunggu giliran menaiki tangga Phnom Bakheng


Masih antri... masih antri...

Masih antri… masih antri…


Phnom Bakheng, viewed from the queue

Phnom Bakheng, viewed from the queue

Awalnya gw dan Vika masih berjuang mendapatkan foto sunset nan ciamik buat bahan pamer di blog *eh*, tapi sesaknya manusia, ditambah kalah saing dengan bule-bule berbadan tinggi besar dan kalah agresif dengan turis-turis asia timur yang agak nggak sopan berseliweran di depan lensa kamera, membuat gw dan Vika akhirnya menyibukkan diri dengan objek foto lainnya.

So how could we took the sunset?

So how could we took the sunset?


Phnom Bakheng #1

Phnom Bakheng #1


Phnom Bakheng #2

Phnom Bakheng #2


Phnom Bakheng #3

Phnom Bakheng #3


Phnom Bakheng #4

Phnom Bakheng #4


Phnom Bakheng #5

Phnom Bakheng #5


Phnom Bakheng #6

Phnom Bakheng #6

Sedikit cerita untuk menambah wawasan, Phnom Bakheng dibangun pada masa Raja Yasowarman untuk memuja Dewa Shiwa. Dibangun dengan bentuk menyerupai gunung, Phnom Bakheng adalah symbol dari Gunung Meru yang dipercaya menjadi rumah dari dewa-dewa Hindu.

Mendekati pukul 18:00, para petugas penjaga candi mulai menggiring para pengunjung untuk turun dan keluar dari area candi. Mereka cukup tegas, dan tidak segan berteriak jika ada pengunjung yang ngeyel belum mau turun. Hanya karena kemampuan Bahasa Inggris mereka yang mungkin masih terbatas, terkadang kemarahan mereka malah jadi satu hal yang lucu. Contohnya ketika mereka berusaha ‘mengusir’ beberapa turis yang masih bertahan dan si turis berupaya memberikan alasan, petugas penjaga candi langsung berkata ‘I don’t know! I don’t know!’. Maksudnya mungkin ‘saya nggak mau tau alasanmu’ tapi ya itu tadi, mereka mengatakan ‘I don’t know’ instead of ‘I don’t care’ atau ‘I don’t wanna know your reason’.

Perjalanan dari puncak Phnom Bakheng ke parkiran tuktuk sepertinya lebih menantang dari perjalanan saat pergi. Tak lain dan tak bukan karena tiadanya penerangan sepanjang perjalanan. Dengan berbekal cahaya dari handphone, kami pun menuruni jalan berdebu. Tak lupa dalam hati membaca Ayat Kursi.

Kegelapan itu terus berlanjut bahkan hingga ke tanah lapang tempat parkirnya puluhan tuktuk yang menunggu konsumen masing-masing. Bagaimana kami bisa menemukan Bang Ratha ditengah lautan tuktuk dengan bermodalkan penerangan hanya dari bus pariwisata ataupun motor yang lewat?
Celingak-celinguk kanan-kiri, akhirnya tampak Bang Ratha melambai-lambaikan tangannya memanggil-manggil kami. Entah bagaimana dia bisa mengenali kami di tengah kegelapan itu. Yang jelas kami sangat lega dan senang bertemu si abang. Kalau menurut Vika dan Dani, senangnya bertemu Bang Ratha saat itu seperti ketemu pacar, nah berhubung gw belum pernah ketemu pacar *ataupun mantan pacar* *eh* maka bagi gw rasa bahagia ketika bertemu Bang Ratha itu seperti bahagianya ketemu gebetan *apa sih Keee*.

Perjalanan dari Phnom Bakheng ke hotel memakan waktu sekitar 30 menit. Pukul 19:10 kami tiba di hotel dan setelah berjanji untuk esok pagi, Bang Ratha pun undur diri. Kami menaruh tas di kamar dan segera turun. Waktunya mencari makan malam.

***
Angkor Night Market

Saat perjalanan pulang tadi, Bang Ratha sengaja mengambil rute yang agak berbeda karena dia ingin menunjukkan letak Old Market yang ternyata memang tidak jauh dari Angkor Night Market dan itu artinya juga tidak jauh dari hotel kami. Maka pencarian makan malam pun berawal dari Old Market. Gagal menemukan restoran berlabel halal di Old Market, kami berpindah sasaran ke Angkor Night Market. Diawali di Pub Street, kami akhirnya berlabuh di sebuah restoran India berjudul Namaste (Taste of India).

Pada awalnya Dani mengusulkan untuk kembali makan tengah, tapi langsung di tolak oleh Didito. Akhirnya kami memesan makanan masing-masing. Gw memesan chicken biryani dan banana milkshake. Soal porsi jangan ditanya, tapi citarasanya sepertinya kurang mantap jika dibandingkan dengan makanan India di Indonesia, Malaysia, atau Singapura. Mungkin takaran bumbunya sudah disesuaikan dengan lidah lokal yang sepertinya memang lebih malu-malu menggunakan bumbu.

Chicken Biryani for dinner

Chicken Biryani for dinner


Dani's choice for dinner: some kind of chicken fried rice

Dani’s choice for dinner: some kind of chicken fried rice

Didito's Fish Thali

Didito’s Fish Thali


Vika's fried rice

Vika’s fried rice


Selesai makan, kami kembali menyusuri Angkor Night Market dan berakhir dengan kegiatan tawar menawar krama di satu sudut pasar. Krama adalah kain khas Kamboja yang tersedia sepertinya hanya dalam dua pilihan motif: kotak-kotak atau garis-garis. Krama biasa digunakan sebagai syal atau selendang. Sungguh berbanggalah dengan batik yang kaya motif dalam balutan warna menarik, atau tenun rangrang dengan warna-warna neonnya, kain jumputan yang cantik, songket dan tapis yang mewah, atau kain lurik yang unik, dan banyak jenis kain khas Indonesia lainnya.

Kami berjalan pulang dengan tentengan masing-masing. Judul boleh sih traveling irit, tapi naluri belanja perempuan kadang memang susah ditahan, mungkin memang sudah bawaan orok.
Sekitar pukul 22:00 kami sampai di hotel. Saatnya berpisah dan mengucapkan selamat tidur pada Vika dan Dani.

Krama: kain tradisional khas Kamboja

Krama: kain tradisional khas Kamboja

Pengeluaran:
.Aerobus Bus KL Sentral – klia2 RM 10
.Tumblr Starbucks RM 38
.Coklat-coklat di convenience store klia2 RM 56,70
.Burger King french fries & mineral water RM 4,20
.Angkor National Museum USD 12
.Beef Climbing Mountain USD 7
.Amok USD 4,5
.Ice Milo USD 1
.Angkor 3 days pass USD 40
.Chicken Biryani USD 5,25
.Banana Milkshake USD 2
.Krama Cotton each USD 2,7
.Krama non-cotton each USD 2

Kuala Lumpur: Day 1 – Merdeka Square, KL City Gallery, Suria KLCC, Petronas Twin Towers

Dalam beberapa kali kesempatan, gw dan Vika sering berandai-andai ingin kembali traveling bersama setelah perjalanan pertama kami ke Singapura awal tahun 2014. Gw menawarkan banyak destinasi impian gw, tapi seringkali ditolak mentah-mentah oleh Vika. Alasannya antara tiga hal, kalo nggak dia yang fakir cuti, ya dia udah pernah ke sana, atau merasa bisa ke sana dalam rangka dinas kantor. Lha iya dia sih udah hampir mengunjungi semua opsi yang gw ajukan, sementara gw? Aku mah apa atuh da, hanya butiran Legal Officer yang hampir nggak pernah dinas ke tempat-tempat kece. Kalau diajak meninjau usaha debitur pun paling jauh cuma investigasi kandang ayam di daerah Cianjur *bukan curcol, cuma menceritakan kenyataan hidup :mrgreen:*

Dari sekian banyak tempat yang kami diskusikan, ketemulah satu tempat yang sepertinya cukup menarik untuk dieksplorasi. Untuk menghindari pengambilan jatah cuti yang terbatas, gw dan Vika memilih untuk pergi pada akhir tahun, memanfaatkan long weekend momen Natal selama 4 hari. Sebagai ahli dalam bidang perjalan-jalanan, Vika langsung bergerak sigap mencari tiket promo sejak awal Mei, setelah menghubungi dua pemeran lainnya yang akan gw perkenalkan di bawah ini: seorang ahli matematika dan seorang calon notaris.

Kenapa bulan Mei? Karena kami berusaha mendapatkan tiket dengan harga serendah mungkin. Kami akan terbang pada peak season di mana harga tiket pasti lagi mahal-mahalnya. Dan bagi gw, sejujurnya traveling di akhir tahun tidak masuk ke dalam rencana tahunan gw dimana itu berarti I had no budget for that. Jadi, sangat perlu bagi kami untuk mengatur rencana budget perjalanan secara matang dan ditekan sekecil-kecilnya. Selain tiket pesawat, kami mulai lirik-lirik penginapan dan cari tau soal biaya hidup di negara tujuan. Vika dan gw bekerja sama membuat itinerary lengkap dengan perkiraan biaya dan meneruskannya ke Didito dan Dani.

Rancangan itinerary yang bolak-balik antara anggota trip membuat pembelian tiket agak tersendat. Vika mulai khawatir karena harga tiket beranjak naik. Dengan kemampuannya nge-push orang, akhir Mei, Vika pun membuat kami sepakat dengan satu dari beberapa budget yang dirancang. Tiket dibeli, tugas selanjutnya pun turun pada gw: membuat itinerary secara detail. Sementara Didito mengambil peran sebagai pencari penginapan. Sekitar Agustus atau September, penginapan pun dipesan, sementara gw berhenti sejenak dari berkutat dengan itinerary.

Di saat yang bersamaan, menyisihkan uang tiap bulannya pun mulai dilakukan. Berdasarkan proyeksi asal-asalan gw, sepertinya cash flow bulanan gw tidak terlalu terganggu dan rencana trip kali ini bisa dilaksanakan dengan baik. Semuanya tampak oke sampai pertengahan Desember ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah tajam, sementara gw harus menukar uang untuk bekal bertahan hidup di negeri orang. Budget menjadi terganggu dan cash flow gw pun terguncang *lebaaaaayyy*

Sekitar satu atau dua minggu sebelum keberangkatan, the Funtastic Four mengadakan rapat kecil-kecilan. Salah satu hasil rapat adalah menugaskan Dani untuk melakukan web check in. Kenapa Dani? Karena selain dia yang belum dapat beban moral, Dani juga TERNYATA YA TERNYATA nggak tau gimana caranya web check in. Alhamdulillah ya Dan, sekarang jadi tau kan caranya web check in 😆

Dan sungguh betapa bertanggung-jawabnya Dani, masing-masing boarding pass dilipat rapih dan dimasukkan ke dalam empat amplop terpisah, dibubuhkan nama masing-masing diatasnya, dan diberikan dengan penuh khidmat diatas bus HIBA Depok-Bandara yang membawa kami menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 25 Desember 2014 *kecup Dani*

***

Belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu, menjelang keberangkatan biasanya ada saja hal-hal yang sedikit banyak bisa menghambat kelancaran acara. Menimbang hal itu gw pun memutuskan untuk mengajukan cuti selama 2 hari, masing-masing 1 hari sebelum dan sesudah perjalanan. Again being si Papih’s legal officer, mantan bos gw di Bandung yang sekarang balik lagi jadi bos gw di Kelapa Gading, cuti disetujui dengan mulus. Dan kali ini tanpa embel-embel “kalo kamu cutinya buat kawin, baru saya izinin.” Tau aja deh si Papih kalo cari jodoh itu ternyata tidak semudah yang gw kira walaupun dulu kuliah di tempat di mana 9 dari 11 fakultas ngumpul jadi satu *apa sih* 😆

Pukul 04:30 pagi, dengan diantar bayi gorilla gw pun diantar ke terminal Depok. Tepat pukul 5 bus HIBA Depok-Bandara meninggalkan terminal, dan 1 jam kemudian all the ladies sudah tiba di Soekarno Hatta. Tanpa check in karena sudah web check in sebelumnya, kami langsung menuju satu kedai yang paling kesohor di dunia perbakmian dan perpangsitan. Setelah memenuhi hak perut masing-masing, kami pun memulai rentetan prosedur yang harus dilalui untuk keluar dari perbatasan negara. Pemeriksaan paspor, bayar airport tax, periksa tiket, dan akhirnya masuk boarding room. Sesampainya di boarding room, secara bergiliran kami langsung menuntaskan hajat hidup masing-masing. Tepat saat Vika sedang ‘mencairkan deposito’-nya, terdengar suara petugas Air Asia mengaung-ngaung di udara, memanggil-manggil Vika untuk segera menghadap penghulu petugas maskapai. Ada apa nih? Penuh rasa penasaran dan sambil harap-harap cemas semoga tidak ada masalah dengan penerbangan, gw dan Didito mendekati petugas maskapai, menggantikan Vika yang masih konsentrasi di toilet.

Hasil tatap muka dengan petugas maskapai berakhir dengan persetujuan kami untuk berpindah tempat duduk demi persatuan satu keluarga *eh*

Sebenernya ini blessing in disguise juga sih. Awalnya kami duduk terpisah, tapi karena perubahan tempat duduk malah bisa jadi duduk bareng. Hanya Didito yang terpisah, itu pun masih dalam deret yang sama. So I have my seat changed from 28E to 12B.

Long story short, setelah penantian boarding yang seolah tiada akhir, kami memasuki pesawat. Air Asia AK 383 lepas landas tepat waktu pada pukul 08:30. Foto-foto, take off, tidur, foto-foto lagi, tidur lagi, landing, jalan kaki lamaaaaa sekali mengarungi KLIA 2 yang ternyata keren dan luas sekali, melewati proses imigrasi, so here we were… Malaysia!

Untuk mencapai downtown Kuala Lumpur, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan, tentunya. Ada bus, taksi, KLIA Transit dan KLIA Ekspres. Mengingat budget yang makin terbatas, opsi taksi bahkan tak pernah terpikir dalam benak kami. Untuk menghemat waktu, kami sepakat untuk mengggunakan KLIA Ekspres yang mampu mencapai KL Sentral dalam waktu 33 menit. Penginapan kami memang terletak di KL Sentral, sengaja memilih lokasi tersebut untuk memudahkan mobilitas dari dan ke KLIA 2. Setelah membeli tiket KLIA EKspres seharga RM 35, kami kembali disibukkan dengan persoalan toilet. Berganti-ganti Vika, Didito, dan Dani keluar masuk toilet dan membuat gw cukup senewen juga karena jam sudah menunjukkan pukul 12:30, hanya 5 menit lagi hingga KLIA Ekspres tiba.

Turun ke Platform A, kurang dari satu menit KLIA Ekspres pun tiba. Interiornya sungguh nyaman, kereta api luar kota yang kita punya pun tentu masih kalah jauh 😦

Selain bersih dan kursi yang nyaman, KLIA Ekspres juga menyediakan tempat khusus penyimpanan koper. Dan benar saja, berangkat dari KLIA 2 pukul 12:35, pukul 13:10 kami sudah tiba di KL Sentral. Cukup akurat lama perjalanannya. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa dilirik-lirik www.kliaekspres.com

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

KL Sentral #1

KL Sentral #1


KL Sentral #2

KL Sentral #2

KL Sentral #3

KL Sentral #3

KL Sentral #4

KL Sentral #4

Stasiun KL Sentral di Kuala Lumpur ini mungkin seperti Stasiun Gambir atau Stasiun Manggarai di Jakarta. Namun KL Sentral terasa lebih modern dan dinamis, juga lebih bersih dan tentunya lebih canggih. Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Ada begitu banyak pilihan tempat makan yang membuat kami bingung mau makan apa, dan begitu melihat kedai ayam penyet, Dani serta merta mengajak makan di situ, yang sekonyong-konyong ditolak mentah-mentah dan penuh ketegasan oleh Didito. Rule #1 No fast food dan Rule #2 No makanan yang ada di Indonesia. Tentu saja gw dan Vika mengamini pernyataan Didito ini *kecup Didito*

Walaupun akhirnya kami ended up di satu kedai bernama Meal’s Station dan menyantap makanan yang sebenarnya bisa ditemui juga di Indonesia, tapi paling nggak, nggak seumum ayam penyet lah :mrgreen:

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

Rasa makanannya sih standar, entah karena saat itu gw lapar atau memang sandwichnya enak, tapi buat gw makanannya enak-enak aja. Gw emang sengaja pesan sandwich karena nggak terlalu doyan makanan santan-santanan yang ditawarkan di buku menu. Dan selain itu gw akhirnya berhasil menambah semangat dengan cara… minum kopi, yang rasa kopinya cukup mantap, which is I like it so much 🙂

Beres urusan perut, kini giliran urusan bobo-bobo ayam malam nanti. Langsung ke My Hotel @Sentral yang ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit, karena sudah pukul 14:00 kami pun bisa langsung check in. Karena pemilihan siapa tidur sama siapa sudah dilakukan secara membabi-buta jauh-jauh hari, kami pun langsung menyimpan koper, ransel dan segala antek-anteknya di kamar. Bersih-bersih seadanya lalu shalat, pukul 15:30 kami kembali melanjutkan perjalanan tidak sesuai itinerary :mrgreen:

***
Kenapa tidak sesuai itinerary? Karena gw sebagai perancang itinerary dan pencinta museum memasukkan Muzium Negara sebagai tempat pemberhentian pertama. Namun melihat sempitnya waktu, akhirnya kami sepakat untuk meniadakan rencana tersebut dan langsung ke tujuan kedua yang sudah lama diidam-idamkan Vika.

Untuk mencapai Dataran Merdeka, dari KL Sentral kami menumpang Kelana Jaya Line LRT dan turun di stasiun Masjid Jamek.  Sebelumnya tentu kita harus membeli tiket perjalanan. Kami membeli single tiket seharga RM 1,3 di mesin penjualan tiket. Mesin penjualan tiket dengan layar sentuh ini merupakan sesuatu yang baru bagi gw, tapi pengoperasiannya cukup mudah kok. Cukup tentukan stasiun tujuan dan jumlah tiket yang akan dibeli, masukkan uang ke dalam mesin dan keluarlah token berwarna biru. Tokennya berbentuk seperti koin plastik dalam permainan othelo. Untuk penggunaannya, cukup tempelkan token tersebut pada pintu gate dan ketika akan keluar di stasiun tujuan, masukkan token ke dalam gate. Jadi, tokennya nggak bisa dikoleksi sebagai cindera mata bukti bahwa kita sudah ke Kuala Lumpur *gagal fokus*

Yang mau tau lebih lanjut soal moda transportasi di Malaysia lengkap dengan ongkosnya bisa dilihat di www.myrapid.com.my

Dengan mengikuti petunjuk arah menuju pintu keluar ke Dataran Merdeka atau Masjid Jamek, diseberang kita akan melihat Masjid Jamek. Seberangi jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Tun Perak itu, berjalan ke arah kanan menyusuri jalan dan pada lampu merah pertama berbeloklah ke kiri. Itulah Jalan Raja. Sederetan bangunan tua langsung terlihat disisi kiri jalan, sementara Dataran Merdeka berumput hijau ada di sisi kanan. Lampu-lampu jalan berhias Bunga Raya berkelopak merah berdiri di kedua sisi jalan.

Bagi pecinta sejarah dan bangunan tua, rasanya wajib mengunjungi tempat ini. Dan sepertinya Dataran Merdeka ini memang menjadi salah satu spot wajib kunjung bagi para turis, selain sebagai meeting point warga lokal. Selain Dataran Merdeka, tourism spot lainnya adalah Kuala Lumpur City Gallery yang terkenal dengan tulisan raksasa I LOVE KL berwarna merah didepannya. Nah untuk sampai ke KL City Gallery, kita terlebih dahulu akan melewati bangunan-bangunan bersejarah tadi. Berturut-turut di sisi kiri jalan terdapat Old Sessions & Magistrates Court Building yang dibangun pada tahun 1910, kemudian Panggung Bandaraya KL yang dulunya dikenal sebagai the Old City Hall, lalu Former High Court Building yang dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, selanjutnya Sultan Abdul Samad Building yang kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan, dan Government Office yang terletak persis sebelum perempatan jalan.

Sementara di sisi kanan terbentang Dataran Merdeka dengan tiang bendera setinggi 100 meter, the Cathedral of St. Mary –gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan Royal Selangor Club. Tidak ketinggalan Victoria Fountain yang sudah berusia 100 tahun lebih, berdiri di dekat mural para Bapak Malaysia.

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

the Uninuna

the Uninuna

Heading KL City Gallery

Heading KL City Gallery

KL City Gallery

KL City Gallery

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

PROBLEM?!

PROBLEM?!

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

Mengunjungi KL City Gallery ini sebenarnya tidak dipungut biaya. Tapi kalau kita mau menyaksikan the Spectacular City Model Show, kita harus membeli tiket seharga RM 5. Nantinya tiket ini bisa digunakan untuk membeli sesuatu di toko souvenir Arch atau di café nya. Berhubung seinget gw nggak ada benda seharga RM 5 atau kurang di toko itu, ya paling nggak RM 5 nya bisa dipake untuk diskon dari harga sebenarnya deh. And that’s what I did with the fridge magnet I bought for myself.

Untuk mengelilingi KL City Gallery tidak diperlukan banyak waktu. Sepertinya 1 jam sudah cukup untuk mengetahui sejarah Kuala Lumpur sekaligus melihat the Spectacular City Model Show. Memang didalam galeri ini tidak banyak yang bisa dilihat. Selain sejarah Kuala Lumpur, ada juga penjelasan mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di sekitar Dataran Merdeka lengkap dengan miniatur bangunannya, juga kisah mengenai Dataran Merdeka itu sendiri.

Setelah itu pengunjung bisa langsung menuju ke lantai 2 tempat show diadakan. The Spectacular City Model Show itu sendiri merupakan pertunjukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit yang ditata demikian cantik dan apik yang bercerita tentang perkembangan Kuala Lumpur sejak dulu dan rencana pengembangan di masa depan.

Di depan para pengunjung terhampar miniatur Kuala Lumpur yang terdiri lebih dari 5000 bangunan dengan skala 1:1500, kemudian pertunjukan pun dimulai dengan kecanggihan teknologi, perpaduan permainan lampu dan efek suara yang mampu membuat gw iri terhadap pesatnya kemajuan negara serumpun itu.

Kunjungan ke KL City Gallery kami tutup dengan mendatangi toko souvenir di lantai 1. Ditata dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung, suvenir-suvenir yang ditawarkan pun cukup beragam dan semuanya dibuat dengan detail yang rumit yang gw yakini memerlukan keahlian tingkat tinggi para pengrajinnya. KL City Gallery ini buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 6:30 petang. Lengkapnya bisa dibaca di http://www.klcitygallery.com

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Craftmen Center

Craftmen Center

History of ARCH

History of ARCH

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

Sekitar Merdeka Square

“Bahasa Melayu | I just love it somehow”

 

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #3

ARCH Souvenir Shop #3

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends :lol:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends 😆

A very important photo: Legs | Seriously, we're in Kuala Lumpur!

A very important photo: Legs | Seriously, we’re in Kuala Lumpur!

Selepasnya dari KL City Gallery, kami masih sempat bermain-main sejenak di Dataran Merdeka. Sekitar pukul 5 barulah kami benar-benar meninggalkan kawasan itu. Itu pun masih harus saling mengingatkan satu sama lain agar jangan terlalu lama mengambil foro karena kami masih punya destinasi lainnya.

Kami kembali ke stasiun Masjid Jamek dan kembali mengambil jalur Kelana Jaya Line untuk sampai ke tujuan berikutnya: Petronas Twin Towers. Setelah membeli single tiket seharga RM 1,6 per orang, kami segera menaiki kereta dan turun di stasiun KLCC. Stasiun KLCC penuh sesak dan itu sempat membuat gw terpisah dari rombongan. Untunglah gw segera kembali ke jalan yang benar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan ke Suria KLCC.

Kenapa Suria KLCC? Jawabannya singkat: karena Suria KLCC merupakan shopping mall dan konon saat itu sedang diadakan sale besar-besaran. Namapun perempuan ya bok, denger kata ‘sale’ radar kami langsung mencuat, kecuali radarnya Didito yang sepertinya lebih mencuat kalau menghadapi rumus-rumus matematika. Dan tepat seperti perkiraan gw, saat gw berniat belanja justru saat itu lah gw tidak tertarik pada barang-barang yang ditawarkan, selain karena udah pusing juga melihat padatnya manusia. So it came up I didn’t by anything there.

Selain itu semua orang pasti tau lah kenapa almost all tourist goes to KLCC. Selain Suria KLCC, dibagian atasnya terdapat Petronas Twin Towers, lalu ada Aquaria KLCC, KLCC Park, dan KL Convention Centre, yang saat itu semuanya dipenuhi lautan manusia yang sepertinya memanfaatkan momen natal untuk berlibur.

Menyadari tidak ada yang menarik hati, kami pun memutuskan untuk mencari makan malam dan memilih food court agar dapat memilih makanan sesuai selera masing-masing. Mengitari seluruh kedai makanan yang ada, gw dan Dani ended up dengan makanan ala Italia, sementara Vika dan Didito memilih makanan yang tampak lebih sehat: laksa dan mie organik.

Gw membandingkan harga dan rasa makanan di food court itu dengan harga dan makanan di food court mal-mal di Jakarta. Gelar bahwa Jakarta merupakan salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi sepertinya benar. Harga makanan di food court Suria KLCC lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di food court mal-mal di Jakarta. Rata-rata harga berada di kisaran RM 8 hingga RM 15. Silakan dikonversi ke rupiah. Terbilang masuk akal dan sebanding dengan rasa yang diberikan. Rasanya lumayan enak dan yang jelas porsinya besar. Sementara food court di Jakarta, yaa… harga mungkin sama tapi soal rasa dan porsi, silakan bandingkan sendiri.

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Dengan perut penuh, kami menuju KLCC Park untuk mengabadikan Petronas Twin Towers. Nggak didalam mal, nggak di food court, nggak di taman, rasanya seluruh warga Kuala Lumpur plus turis tumpah ruah malam itu. KLCC Park benar-benar ramai. Pohon natal yang sengaja dipasang sebagai dekorasi dekat pintu keluar mal, juga area sekitar kolam air mancur dipadati pengunjung. Sebagian besar tentu sibuk berfoto ria. Kami beringsut menjauhi keramaian, berusaha mendapatkan spot yang bagus untuk mendapatkan Si Kembar yang menawan.

Masing-masing pengunjung asyik dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sekedar duduk-duduk, ada yang berasyik masyuk, ada yang berpiknik, ada yang penuh keseriusan dan kesabaran duduk dekat tripodnya, siap membidik Menara Kembar. Gw, Vika, dan Didito mulai beraksi dengan kamera masing-masing, sementara Dani, selain sibuk dengan kameranya, juga langsung mengeluarkan senjata andalannya: kertas minyak, bedak tabur, dan tentu saja… gincu.

Sebagai veteran perang, tentu saja Vika sudah sangat berpengalaman mengambil foto pada malam hari. Sementara gw masih dalam tahap mengambil hati anak orang *eh*
Jadilah hasil jepretan gw nggak ada apa-apanya dibandingkan Ibu Pejabat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia *eh* *uhuk*

Pada saat yang bersamaan dengan berpendarnya Petronas Twin Tower yang membuat langit disekitarnya ikut menyala, berlangsung pertunjukan Dancing Fountain. Air mancur menari mengikuti irama lagu disertai warna-warni yang berganti-ganti, merah, hijau, ungu, biru, kuning. Tidak sepanjang hari kita bisa menyaksikan pertunjukan ini, hanya pada pukul 12:00 sampai pukul 14:00 dan pukul 18:00 sampai pukul 23:00 pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan dan hari libur besar, pertunjukan diadakan mulai pukul 10:00 hingga pukul 00:00.

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3


***

Hujan turun sangat deras saat kami kembali ke penginapan dengan menggunakan jalur Kelana Jaya Line, sekitar pukul 9 malam. Untungnya penginapan kami sangat dekat dari stasiun KL Sentral. Sambil berlari-lari di tengah guyuran hujan, dalam 5 menit kami sudah tiba di hotel.

My Hotel @Sentral adalah hotel yang Vika pilih. Hmm… bukankah diatas disebutkan Didito yang in charge soal hotel? Iya, betul, tapi itu untuk hotel di tempat lain, bukan di Kuala Lumpur ini *sok misterius*

My Hotel sendiri merupakan salah satu budget hotel yang terdapat pada beberapa titik di Kuala Lumpur. Selain terletak di lokasi strategis, harga yang terjangkau dengan fasilitas yang cukup nyaman membuat hotel ini menjadi favorit dan pilihan banyak flashpacker. Kami memesan 2 kamar tipe My Twin yang didalamnya terdapat twin bed, lemari, meja rias, sofa dan meja kecil, dan tentu saja toilet lengkap dengan sabun, sampo, dan air panas. Disediakan juga teh, kopi, air mineral, juga mini safe deposit box. My Hotel cukup bersih dan yang jelas dekat dengan kawasan Little India yang terkenal dengan keramaian dan gemerlap lampunya. Di sekitar hotel juga terdapat beberapa restoran yang buka 24 jam. Overall, gw puas dengan hotel ini.

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

Resepsionis

Resepsionis

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

No fancy, yet clean and comfortable toilet

No fancy, yet clean and comfortable toilet


***

How many times I’ve said that I am a fetish for fridge magnet? *belum pernah brooohh, baru kali ini lo ngaku :mrgreen:*

Jadi ke mana pun gw pergi gw selalu mencoba untuk mendapatkan magnet kulkas khas suatu negara. Sebenarnya kebiasaan ini justru baru dimulai ketika gw mulai traveling dengan uang sendiri, sepulangnya dari Korea. Jadi koleksinya memang belum terlalu banyak :mrgreen: dan gw menghindari membeli magnet negeri-negeri asing itu di Indonesia, walaupun gw tau di Mangga Dua juga ada yang menjual magnet kulkas dari berbagai negara.

Dan untuk petualangan di Kuala Lumpur kali ini, gw memutuskan untuk mengoleh-olehi diri sendiri satu buah magnet kulkas seharga RM 4 yang gw beli di Arch, toko souvenir yang terletak di dalam KL City Gallery. Sebenarnya harga sebuah magnet ini adalah RM 9, namun karena gw sudah membeli tiket untuk melihat KL Model seharga RM 5, untuk mendapatkan magnet ini gw cukup menambah RM 4 saja.

Hal lain yang gw suka dari magnet ini, selain detailnya yang cantik dan ciamik, adalah informasi yang disertakan di bagian belakang plastik pembungkusnya. Seperti magnet yang gw beli ini, terdiri dari Bunga R

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

aya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, dan KL Tower.

Bunga Raya, nama lokal dari hibiscus, adalah bunga nasional Malaysia, yang diperkirakan telah dikenalkan sebelum Abad ke 12 dari tempat asalnya di Cina, Jepang, dan Kepulauan Pasifik. Petronas Twin Towers, diperkenalkan sebagai the world’s tallest twin towers dengan tinggi mencapai 452 meter yang kedua menaranya dihubungkan dengan skybridge sepanjang 58 meter. Sultan Abdul Samad Building, yang dibuka secara resmi pada April 1897 oleh Sir Frank Swettenham untuk digunakan sebagai gedung administrasi pemerintahan dan kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan. Yang terakhir, KL Tower, selesai dibangun pada 1996 dan merupakan the world’s fourth tallest tower dengan tinggi 421 meter.

See what you got buying the magnet? Knowledge *ehm* *benerin jilbab*

***
Gw memaksakan diri mandi sebelum tidur malam itu. Kalo diikutin sih sebenernya udah capek banget dan rasanya pengen banget langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tapiiiii mengingat pilihannya adalah mandi malam atau mandi keesokan hari, gw memilih mandi malam aja deh *buka aib sendiri*

Perkiraan gw bahwa setelah mandi justru gw malah akan segar bugar, ternyata benar. Bukannya langsung tidur, gw dan Didito malah sibuk ber-whatsapp ria dengan… Vika dan Dani *etdaaaaahhh* *yaabis yang itu nggak bisa di whatsapp… gimana dooonnngg* juga dengan Nina yang kami tinggal di tanah air. Kami benar-benar tumbang menjelang pergantian hari, disertai keheranan gw melihat Didito yang tidur dengan kaki di atas.

So this is it, all the first day story. Didito and I went to sleep around midnight since we need to catch up for the next day’s adventure. Oh yeah, we really lack of good sleep at the time 😉

Pengeluaran:
.Tiket pesawat Jakarta – Kuala Lumpur pp IDR 1.679.500
.HIBA Depok – Bandara IDR 50.000
.Bakmi GM Bakso IDR 42.000
.Airport tax IDR 150.000
.KLIA Ekspres RM 35
.Hazelnut White Coffee RM 4,3
.Sandwich Tuna Mayo RM 8,5
.My Hotel @Sentral RM 60
.Kelana Jaya Rapid KL St. KL Sentral to St. Masjid Jamek RM 1,3
.Tiket KL Model at KL City Gallery RM 5
.Arch fridge magnet RM 4
.Kelana Jaya Rapid KL St. Masjid Jamek to St. KLCC RM 1,6
.Beef Lasagna RM 8,5
.Iced Milo, regular RM 3
.Kelana Jaya Rapid KL St. KLCC to St. KL Sentral RM 1,6

Hong Kong: Day 4 & Day 5 – the Avenue of Stars, A Symphony of Lights, Pearl Guest House & Heading Home

Selesai menyantap pop mie sebagai makan siang yang sangat terlambat pukul 17:30 sore itu, gw kembali melanjutkan perjalanan. Saat itu sudah bisa dibilang memasuki detik-detik terakhir wisata di Hong Kong, gw sudah tidak terlalu rushing ke sana kemari dan destinasi selanjutnya memang terletak tidak jauh dari Mirador Mansion, kurang dari 15 menit berjalan kaki.

Keluar dari Mirador Mansion, gw kembali menempuh rute yang sama dengan hari ke-dua ketika gw menuju Tsim Sha Tsui pier. Begitu keluar dari tunnel bawah tanah dan berjalan ke arah kanan, kita akan melihat satu bangunan cantik yang mulai bermandikan cahaya lampu karena senja yang mulai datang.

1881 Heritage, Canton Road. Bangunan ini pada awalnya difungsikan sebagai kantor pusat the Hong Kong Marine Police sejak tahun 1880-an hingga tahun 1996. Kini, bangunan bergaya Victoria ini digunakan sebagai pusat perbelanjaan barang-barang mewah, hotel, dan exhibition hall

1881 Heritage, Canton Road. Bangunan ini pada awalnya difungsikan sebagai kantor pusat the Hong Kong Marine Police sejak tahun 1880-an hingga tahun 1996. Kini, bangunan bergaya Victoria ini digunakan sebagai pusat perbelanjaan barang-barang mewah, hotel, dan exhibition hall

Selepas 1881 Heritage, seberangi jalan dan kita akan melihat terminal bus atau semacamnya ini di sisi kanan

Selepas 1881 Heritage, seberangi jalan dan kita akan melihat terminal bus atau semacamnya ini di sisi kanan

(sepertinya semacam) Terminal bus #2

(sepertinya semacam) Terminal bus #2

Clock Tower yang tersohor, beroperasi sejak tahun 1921. Menurut buku panduan wisata “Hong Kong: Walks – Exploring the City’s Living Culture” yang dikeluarkan oleh Hong Kong Tourism Board, Clock Tower merupakan ‘part of the original Kowloon-Canton Railway terminus and was completed and came into operation in 1921. This is a landmark from the Age of Steam.’

Clock Tower yang tersohor, beroperasi sejak tahun 1921. Menurut buku panduan wisata “Hong Kong: Walks – Exploring the City’s Living Culture” yang dikeluarkan oleh Hong Kong Tourism Board, Clock Tower merupakan ‘part of the original Kowloon-Canton Railway terminus and was completed and came into operation in 1921. This is a landmark from the Age of Steam.’

Melewati Clock Tower, kita akan mulai menemukan area the Avenue of Stars, yang sesuai dengan namanya, sepanjang jalan itu dipenuhi oleh cetakan telapak tangan pada lempengan logam insan perfilman Hong Kong, yang tentu saja sebagian besarnya tidak familiar dengan gw :mrgreen:
Selain itu, yang paling populer dari Avenue of Stars adalah patung perunggu bintang kung fu legendaris Bruce Lee, yang sudah gw niatkan sejak awal akan jadi spot foto tanda sah sudah menjejakkan kaki di Hong Kong.

Gw berjalan menyusuri Avenue of Stars, mulai dari Clock Tower hingga ke ujung satunya, mencari patung Bruce Lee dengan gaya khasnya.

Yang setelah berjalan dari ujung ke ujung, tidak gw temukan juga.
Kok bisa siiiiihhh??? Apakah apakah apakah statutanya raib dalam semalam? Atau mata hati gw ditutup dan dibutakan?
Hingga dua kali gw mengulang perjalanan menyusuri pesisir Avenue of Stars yang mulai dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati Symphony of Lights, tetap saja gw gagal menemukan jagoan Asia yang berhasil menembus hollywood itu. Akhirnya gw memutuskan untuk duduk bersama pengunjung lain, berusaha menikmati senja yang semakin turun dan menunggu dimulainya A Symphony of Lights.

A Symphony of Lights diselenggarakan tiap pukul 8 malam dan dapat dinikmati secara gratis. Disebut-sebut sebagai pertunjukan cahaya dan suara terbesar di dunia, konon belum lengkap ke Hong Kong kalau belum menyaksikan pertunjukan ini. Pertunjukan ini sendiri melibatkan lebih dari 40 gedung yang berada di kedua sisi Victoria Harbour, dimana gedung-gedung ini memancarkan cahaya lampu berwarna-warni seirama dengan musik yang mengiringi. Bersamaan dengan permainan musik dan cahaya, kapal-kapal tradisional dengan layar merah khas Hong Kong sebagaimana yang sering gw lihat di film-film mandarin pun berseliweran.
Sepanjang pertunjukan yang berlangsung sekitar 15 menit itu, gw berusaha mengambil gambar dari segala sisi, tapi keterbatasan kemampuan membuat gw menampilkan hanya 2 gambar dari sekian kali hasil jepretan itu :mrgreen:

A Symphony of Lights: It’s good but to me it’s neither fancy nor spectacular

A Symphony of Lights: It’s good but to me it’s neither fancy nor spectacular

A Symphony of Lights #2

A Symphony of Lights #2

Pertunjukan bubar jalan sekitar pukul 20:30. Seperti yang sudah diniatkan sebelumnya, sebagai pecinta durian gw pun melangkah masuk ke dalam gerai Hui Lau Shan untuk mencoba Durian Mochi mereka. Hui Lau Shan ini mungkin seperti Hong Tang atau Honeymoon Dessert di Jakarta ya, kedai khusus menjual dessert yang selalu saja dibanjiri pengunjung, tak terkecuali malam itu.

Dengan segera satu mangkok kecil berisi tiga durian mochi seukuran bola bekel kecil pun terhidang. Daaaaannn… oh sebagai penggemar durian saya sungguh tak terpuaskan lho *garuk-garuj tembok*. Seriously bagi saya masih lebih mantap bin nendang pancake duriannya Honeymoon Dessert yang lembut banget itu. Durian Mochi made in hong kong ini, bagi saya, udah nggak segar karena ya masuk ke dalam lemari pendingin sebelum dihidangkan. Kulit mochinya tidak terlalu lembut, rasa duriannya pun kurang mantap dan daging duriannya pun tidak tebal dan tidak terlalu manis. Entah karena sedang tidak musim durian atau apa, I have no idea.
Eh tapi kita bicara Durian Mochi ya, jadi mungkin kurang tepat kalau membandingkannya dengan Pancake Durian Honeymoon Dessert atau pancake durian asli medan yang sangat heavenly itu :mrgreen:

Setelah menyelesaikan suapan terakhir Durian Mochi tanpa hasrat, gw pun menyeret langkah menuju seven eleven terdekat, membeli lagi-lagi tuna fish egg mayo sandwich untuk makan malam di hostel, sebotol kopi untuk mood booster, dan beberapa kotak pocky bakal timbunan cemilan di tanah air nanti :mrgreen:

***
Let’s have a little break on the trip.

So after finished packing my things to two big luggages, I laid my back on the bed and looked at the ceiling.
This is ‘Pearl Guest House’, penginapan yang gw pilih sebagai tempat beristrahat selama petualangan 5 hari 4 malam mengitari sebagian kecil Hong Kong. Pearl Guest House hanya satu dari banyak penginapan yang menempati 16 lantai Mirador Mansion ini. Di salah satu gedung yang tersohor sebagai tempat menginapnya para turis dengan kondisi keuangan pas-pasan, memang banyak sekali bertebaran penginapan dengan harga terjangkau. Sebenarnya kalau dibilang penginapan, mungkin kurang tepat juga. Sepertinya lebih tepat kalau disebut sebagai kamar-kamar apartemen yang disewakan. Karena selama gw menginap di sana, sering sekali gw bertemu dengan warga lokal yang tinggal di lantai yang sama dengan tempat hostel gw berada.

Pertama kali sampai di Mirador Mansion, sesuai petunjuk yang ada di bukti pemesanan hostel, gw langsung menuju lantai 10. Sebelumnya hostel memang sudah menginformasikan, begitu memasuki Mirador Mansion pasti akan banyak orang menawarkan hostel. Lebih baik jangan pedulikan mereka dan langsung saja menuju hostel yang sudah kita pilih. Dan itulah yang gw lakukan. Sesampainya di lantai 10, gw langsung celingak-celinguk mencari ruang resepsionis. Lantai 10 itu sepi, sesekali gw berpapasan dengan warga lokal yang tidak nampak ramah. Rasanya seperti dalam film-film bandar judi mandarin.

Mirador Mansion di kala dini hari. Ada benarnya juga bila ada yang mengatakan perempuan harus lebih berhati-hati di kawasan ini. Gw sempat juga didekati beberapa laki-laki berkulit gelap yang mengaku berasal dari Ethiopia dan ditanya dari mana asal gw, di mana gw menginap dan dengan siapa gw mengunjungi Hong Kong. "Don't be scared," they said, "you're my sister."

Mirador Mansion di kala dini hari. Ada benarnya juga bila ada yang mengatakan perempuan harus lebih berhati-hati di kawasan ini. Gw sempat juga didekati beberapa laki-laki berkulit gelap yang mengaku berasal dari Ethiopia dan ditanya dari mana asal gw, di mana gw menginap dan dengan siapa gw mengunjungi Hong Kong. “Don’t be scared,” they said, “you’re my sister.”

Terletak agak di pojok, gw akhirnya menemukan ruang resepsionis yang tertutup rapat. Setelah membunyikan bel, nampaklah seorang laki-laki berparas India. Setelah memperlihatkan lembaran booking hostel dan paspor, tanpa banyak bicara si cowok India segera memberi isyarat agar gw mengikutinya.
Menuju lift.
Hm? Bukankah Pearl Guest House terletak di lantai 10? Lalu kenapa gw harus ke lift lagi?
Si cowok India terduga resepsionis menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tetap pelit bicara, kami sampai di lantai 16, lantai paling atas di Mirador Mansion. Begitu keluar lift, deretan jemuran seprai terpampang di hadapan. Seperti lantai 10, lantai 16 ini pun sepi dari tanda-tanda kehidupan.
Mas-mas tersangka resepsionis berjalan mendahului gw, membuka satu pintu dan ketika gw melongok dari belakangnya, gw melihat satu lorong kecil yang didalamnya terdapat beberapa pintu. Gw menduga pintu-pintu itu adalah pintu kamar, dan dugaan gw benar.

Dia membuka pintu sebelah kiri yang terdekat dengan pintu utama tadi. That would be my room during my stay. Beberapa pertanyaan sempat gw lontarkan. Apakah ini hostel yang benar sebagaimana yang gw pesan? Kenapa tidak ada papan nama? Kenapa letaknya di lantai 16? Kenapa berbeda dari tampilan yang ada di website mereka ataupun di website booking.com?
Tapi abang-abang India itu menjawab singkat bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan nikmati saja kunjungan ke Hong Kong ini. Setelah menjelaskan segala sesuatunya, dia mengucapkan salam perpisahan dan tinggallah gw sendiri di kamar yang tidak terlalu luas yang didominasi warna putih, masih mencerna apakah gw sampai di hostel yang benar atau tidak.
Dan sampai hari ini, gw masih meragukan kebenaran letak Pearl Guest House itu :mrgreen:

Konon, this is Pearl Guest House. 10/F Flat F2, Block F Mirador Mansion, 58 Nathan Rd, Tsim Sha Tsui

Konon, this is Pearl Guest House. 10/F Flat F2, Block F Mirador Mansion, 58 Nathan Rd, Tsim Sha Tsui

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Kamar yang gw pilih adalah single room untuk satu orang, gw pesan melalui Booking.com dan dihargai HKD 1036. Kamarnya tidak besar, mungkin hanya seluas 5 meter persegi dengan kamar mandi didalamnya. Hanya ada satu tempat tidur spring bed ukuran single dan sebuah meja kecil untuk meletakkan perkakas. Ada juga lemari besi yang disediakan untuk menyimpan benda-benda berharga. Kamar mandinya pun kecil, semua serba mini. Tapi itu tidak membuat hostel ini kehilangan kenyamanannya. Bagi yang terbiasa traveling dengan dana yang mumpuni, tinggal di kamar kecil yang terletak di satu mansion yang bisa dibilang agak kumuh mungkin satu perkara. Tapi bagi saya, sepanjang mereka bisa menyediakan kamar tidur dan kamar mandi yang nyaman dan bersih lengkap dengan air panas, itu sudah cukup. Dan, karena ukuran yang mini itu pula serta bentuk kamar yang tidak mendukung arah kiblat, saya selalu melaksanakan shalat sambil duduk. Tapi bagi yang cukup rajin, mungkin bisa merasakan shalat bersama warga lokal di Masjid Kowloon yang letaknya berseberangan dengan Mirador Mansion, hanya 5 menit berjalan kaki. Oiya, tentu saja untuk arah kiblat dan waktu shalat, saya mengandalkan http://www.islamicfinder.org

***
And finally, it’s time to go home.

Kamis, 29 Mei 2014. Gw bangun pukul 03:30 pagi dan segera bersiap-siap. Berbeda dengan saat kedatangan di mana gw menaiki bus A21 dari bandara untuk sampai ke Mirador Mansion, kali ini gw akan menggunakan bus N21 untuk menuju Hong Kong International Airport. Kenapa berbeda? Karena sesuai website http://www.hongkongairport.com dan papan informasi di bandara, bus A21 hanya beroperasi hingga pukul 00:00. Selanjutnya, bus N21 yang akan mengambil alih hingga pukul 04:40 pagi. Untuk menumpang bus N21 ini, gw hanya perlu menyeberangi jalan dan menunggu di halte yang telah ditentukan, tepat diseberang Mirador Mansion. Sesuai dengan informasi yang gw kumpulkan, gw harus siap di halte tersebut sebelum pukul 04:40. Okesip.

Pukul 04:30 gw keluar kamar dan segera memencet tombol lift, untuk kemudian menemukan bahwa saat itu lift ‘out of service’. Hmm… seriously, out of service di saat seperti ini? 10 menit sebelum bus N21 tiba?
Gw mencoba menghubungi resepsionis tapi tidak ada jawaban. Tidak ada seorang pun terlihat di lantai 16 subuh itu, hanya gw yang mulai panik karena perkara lift yang entah kenapa ‘out of service’ di saat-saat penting. Time is ticking.

Melihat tidak ada perkembangan dengan lift di lantai 16 itu, gw mencoba turun ke lantai 15. Berharap lift untuk lantai-lantai ganjil berfungsi sebagaimana mestinya.

And it did. NOT! *garuk-garuk tembok*

Gw terbengong beberapa saat. Lift untuk lantai-lantai ganjil pun secara mengejutkan ‘out of service’. Jadi seluruh lift tidak bisa digunakan. Oke… apakah memang ada jam operasional lift di Mirador Mansion ini? Tapi kenapa tidak ada informasi mengenai hal ini di internet?
Sementara waktu terus bergulir. Kurang dari 10 menit menuju pukul 04:40.

Gw berjalan menuju pintu darurat, melongok ke bawah melalui jendela yang terbuka. Di luar tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa laki-laki berkulit gelap menikmati sisa-sisa kehidupan malam. Selintas terpikir, apa gw teriak aja ya minta pertolongan? Mungkin ada yang bisa memperbaiki lift? Atau gw lompat dari lantai 15 ini? Atau gw lempar koper gw untuk menarik perhatian? Hell. Tidak ada pilihan yang bagus sepertinya. Dan tinggal 5 menit lagi menuju pukul 04:40.

Ok. Seriously I had no choice other than running down stairs, one floor by one floor. Jadi itulah yang gw lakukan. Berlari menuruni tangga sebanyak 16 lantai sambil membawa 1 koper dan 1 tas besar, secepat yang gw bisa dalam waktu 5 sampai 7 menit. Gw tidak boleh ketinggalan bus N21.

Ngos-ngosan, rasanya lega sekali ketika gw sampai di halte dan bus N21 belum datang. I made it. Walaupun mandi pagi gw jadi percuma karena keringetan lagi.

Sekitar pukul 04:45, bus N21 pun datang. Satu jam kemudian, gw tiba di Hong Kong International Airport.

***
Belum juga pukul 06:00 pagi, Hong Kong International Airport sudah ramai. Dan lucu juga, dikeramaian itu sering sekali gw mendengar celoteh dalam Bahasa Indonesia, atau bahkan beberapa kali gw didekati dan dengan penuh percaya diri mereka – para tenaga kerja wanita asal Indonesia- meminta gw untuk pulang bersama ke tanah air. Beberapa diantaranya menanyakan perihal majikan gw, berapa lama gw bekerja di Hong Kong, atau apakah gw akan kembali ke Hong Kong atau selamanya di Indonesia. Semua ditanyakan tanpa merasa perlu bertanya apakah gw pekerja atau bukan :mrgreen:
Bahkan hingga gw mendarat di tanah air, masih saja gw dikira TKW dan sempat dipepet calo bandara sampai-sampai gw sempat adu urat juga. Dan ya… mungkin ada benarnya juga kalau ada yang mengatakan bahwa kita bisa membedakan mana yang TKW dan mana yang bukan. Selintas dari cara berpakaian pun sudah terlihat. Dari cara bicara pun terbaca.

Setelah menyelesaikan urusan kebandaraan, kini saatnya mengisi perut. Gw sudah tau mau makan di mana: Popeye’s. Alasannya sederhana. They’re halal certified.
Menyantap makanan dengan sigap, gw langsung menuju satu tempat yang sudah gw niatkan banget harus dikunjungi.

Hong Kong Disneyland store.
*penting ya bok… banget* :mrgreen:

I really regret i didn't by any of those mugs! *tears*

I really regret i didn’t by any of those mugs! *tears*

Gw bukan Disneyland or Disney-thingy freak. TAPIIIII gw tergila-gila souvenirnya. Lebih khusus lagi gw kepengen banget punya payungnya.
So there… gw merelakan beberapa lembar dollar Hong Kong demi mendapatkan payung idaman gw. Beserta satu buah magnet kulkas dan satu buah pin. Kalo ditanya kenapa cuma satu, ya karena mihil kakaaaaakkk!!!
Kalo ngikutin kemauan kan maunya ya dibeli semua. Tapi apa daya antara dompet dan keinginan belum sejalan.

I'm a fridge-magnet collector. Jadi satu-satunya alasan kenapa gw beli pin Minnie Mouse instead of beli 2 magnet kulkas adalah karena, ternyata Minnie Mouse berulang tahun di hari yang sama dengan gw! *agak nggak penting sih yes*

I’m a fridge-magnet collector. Jadi satu-satunya alasan kenapa gw beli pin Minnie Mouse instead of beli 2 magnet kulkas adalah karena, ternyata Minnie Mouse berulang tahun di hari yang sama dengan gw! *agak nggak penting sih yes*

And that’s it. My Hong Kong and Macau trip.

***

GA 0873. I love it when the stewardess went strict on safety. "Safety first ya mbak, kita tidak ada kompromi dalam hal keamanan," katanya sambil mengambil handphone dan mematikannya dari tangan seorang perempuan yang masih cuek menelepon saat pesawat akan lepas landas.

GA 0873. I love it when the stewardess went strict on safety. “Safety first ya mbak, kita tidak ada kompromi dalam hal keamanan,” katanya sambil mengambil handphone dan mematikannya dari tangan seorang perempuan yang masih cuek menelepon saat pesawat akan lepas landas.

Hey, Jakarta! I can see you!

Hey, Jakarta! I can see you!

SAMSUNG CSC

Jakarta, eventually

Jakarta, eventually

Pengeluaran:
.7-11 Pocky cookies & cream HKD 12,90
.7-11 Pocky strawberry HKD 18,2
.7-11 Mr. Brown caramel macchiato 9,5
.7-11 Tuna fish egg mayo sandwich HKD 11,9
.Durian mochi HKD 33
.Pearl Guest House HKD 1036
.Airport bus N21 HKD 23 (using octopus)
.Popeye’s paket E HKD 34
.Disneyland umbrella HKD 168
.Disneyland pin HKD 68
.Disneyland magnet HKD 58
.DAMRI Bandara – Pasar Minggu IDR 30.000

[LOOBIE LOBSTER] Lobsters & Shrimps

The Lobster greets you, beauty! *eh*

The Lobster greets you, beauty! *eh*


Hello! Finally a ‘proper’ writing! :mrgreen:

Couple months ago, Pichu and Adedi celebrated their birthday and brought us to eat out. They chose LOOBIE LOBSTER at Gunawarman and there we were at this minimalist white and blue restaurant.

SAMSUNG CSC

The Platter

The Platter


And this was what we got with Whole Lobster Platter 250 – 300 gr: Grilled Lobster *of course!* | Fried Calamari | Sambal Garlic & their signature Sambal Matah | IDR 115.000

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:


I’m a diehard fans of Milo, so here was my drink | IDR 17.500

Fin!

Fin!


The food was good, there was nothing so special though. Yet, the affordable price which makes lobster is for everyone, well that one really hits the crowd. Best deal for a tasty and creamy Borneo’s lobster, I must say.

Just try to come earlier before lunch time to avoid the line. We arrived several minutes to 11 am, which they were about to open, and we were the first customer came at the time.
Well, the place is tiny and they serve approximately 20 seats so that’s the one that makes line and not because of any other causes. And the ambience itself surely not for you who want to sit back and relax.
Finish your meal and grab your belongings and go. There are people waiting for your seat.

A gentleman & para shalihah

A gentleman & para shalihah


The Lobster Eater: Didito | Adedi | Tante Cantik #1 | Pichu | Ninong feat. Fathar

Thank you, Tante Ikan & Tante Cantik #2!

LOOBIE LOBSTER
http://www.loobielobster.com | Jl. Gunawarman No. 32 Jakarta Selatan | Open 11:00 – 22:00

[Milan Pizzeria Cafe]

About centuries ago, when dinosaurs still playing soccer with mammoth, I and Pichu tried a new chill out place at Margonda. Yeah we grew up in Depok so where else would we go? 😆
Nice ambience, good location with affordable price, yet no fancy taste.

Pictures only, please. Bear with me :mrgreen:

???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
??????????????????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????

Solo: My Shoe Box

Solo, November 2014.

Forum National Legal Officer keempat yang saya ikuti, and most likely the most beautiful and joyful event of it this far. I kept my camera in my bag so these all aren’t my property. I’m busy with other things, living my dreams and pouring my mind with lovely moments and splendid times.

I remember every single detail, every single word of it. The memory stays. And other thing grows.

blog SOLO
blog SOLO1
blog SOLO2
materi day 2
dinner 5a
materi day 2 2

I’ll keep my package as it is a very blissful gift from God: beautifully wrapped and perfectly presented.
I’ll keep you save in my dreams, like you keep me in yours, my wish. Dream is the only place we could be together.

My shoe box.

[Koffie Warung Tinggi] d/h Tek Soen Hoo

Assalamu’alaykum!

I’m back with a super late post. Oh finally. And yet, no my computer is still broken, jadi gw menulis seadanya saja mencuri senggangnya office’s PC bisa dibajak sejenak untuk posting ini itu *plus, writing mood gw yang nggak balik-balik ya, seolah berbanding lurus dengan lamanya opname si laptop*.

***
Hampir 6 bulan yang lalu, gw dan Nyonya Besar berkesempatan mengunjungi sebuah warung kopi yang lagi happening banget di Jakarta. Koffie Warung Tinggi baru saja memang menjejakkan kaki di mall yang nyaman dan sejuk hasil pendingin udara, tapi warung kopi yang satu ini ternyata sudah eksis sejak tahun 1878 dan merupakan warung kopi tertua di Indonesia. Wow! Berdiri sejak lebih dari satu abad yang lalu dan masih bertahan hingga saat ini, bahkan berkembang dari warung kopi tradisional biasa menjadi warung kopi yang dikemas secara modern dan berkelas, they must have something really good!

Koffie Warung Tinggi d/h Tek Soen Hoo

Koffie Warung Tinggi d/h Tek Soen Hoo

Coffee Bar sekaligus tempat menghirup aroma harum biji kopi, dan tempat memesan makanan

Coffee Bar sekaligus tempat menghirup aroma harum biji kopi, dan tempat memesan makanan

??????????????????????image-2045″ />
Pada awal pendiriannya, Koffie Warung Tinggi bernama Tek Soen Hoo, bertempat di Jalan Moolen Vhiet Oost atau sekarang dikenal dengan nama Jalan Hayam Wuruk. Dalam perjalanannya, penamaan dalam bahasa asing menemui kendala sehingga Tek Soen Hoo pun mengubah nama mereka menjadi Warung Tinggi dikarenakan letak toko mereka saat itu lebih tinggi dibandingkan bangunan lain disekitarnya. Sekarang, mereka bahkan punya situs sendiri. Silakan menjelajahi warungtinggi.com

Koffie Warung Tinggi kini dibuka di Grand Indonesia, West Mall lantai 5, berdekatan dengan mushala. Jadilah ketika Nyonya Besar shalat, gw masuk duluan dan mengambil tempat duduk, lalu mulai mengarahkan kamera ke beberapa sudut menarik.

Koffie Warung Tinggi menempati area yang cukup luas dan terbagi menjadi smoking area dan non smoking area, di mana non smoking area ditempatkan didepan coffee bar. Sayang, tidak ada penyekat antara smoking dan non smoking area, sehingga asap rokok masih tercium dengan jelas di non smoking area.

Kedua area didesain dengan mempertahankan suasana tempo dulu, dipadu dengan sedikit sentuhan modern. Sofa-sofa minimalis, lemari kayu antik berisikan piring-piring porselen masa lalu, rak-rak kopi dari elemen kayu, penggiling kopi tradisional, semuanya menimbulkan nuansa vintage dan klasik yang cantik, apalagi dipadukan dengan penerangan yang temaram dan elemen kayu yang digunakan pada jendela dan pintu. Suasana yang dihadirkan memang menimbulkan rasa nyaman, cocok untuk bersantai-santai bersama teman dan keluarga.

antique

antique

keep down to earth and drink good coffee

keep down to earth and drink good coffee

???????????

topping price list

topping price list

it's limited!

it’s limited!

Mungkin, hal ini pula yang mempengaruhi menu yang ditawarkan. Selain mengusung kopi sebagai jagoannya, Koffie Warung Tinggi juga menawarkan makanan-makanan ringan dari masa kecil, seperti kue cubit, atau kudapan yang sudah mendapat citarasa eropa seperti pannekoek dengan berbagai topping dan bitterballen, juga yang sudah mendapat sentuhan cina, apalagi kalau bukan martabak. Karena kue cubitnya naik level masuk ke mall, harganya pun tentu di upgrade juga. Memang selain penganan ringan, disediakan pula makanan ’berat’. Tapi pilihannya memang tidak terlalu banyak.

Untuk memesan makanan dan minuman, pengunjung dapat langsung mendatangi coffee bar. Di coffee bar juga diletakkan berbagai macam jenis biji kopi dengan disertai pula penjelasannya, dan biji kopi-biji kopi ini untuk dijual lho. Mereka bahkan menerima pesanan biji kopi customized sesuai permintaan pelanggan. Banyaknya variasi minuman dari kopi yang ditawarkan membuat gw sempat bingung ketika akan memesan minuman. Berdasarkan rekomendasi dari pelayan, gw pun memesan Snickers Mochaccino yang merupakan signature drink mereka. Untuk Nyonya Besar, gw memesankan Juice Orange kesukaannya.

Selain itu, gw pun memesan Nasi Goreng Kampung dan dua buah Martabak Manis Plain ukuran kecil berdiameter sekitar 10-12 cm, masing-masing diberi topping pilihan gw, yaitu durian dan ovomaltine.

So here we go!

Nasi Goreng Kampung

Nasi Goreng Kampung

Nasi Goreng Kampung yang dibandrol harga IDR 48.000 ini porsinya pas, dan rasanya pun enak. Simply nasi goreng kampung ala rumahan tanpa rasa yang aneh-aneh, lengkap dengan telur mata sapi, acar timun dan kerupuk melarat, namun entah bagaimana semua bumbu dan bahan sepertinya diracik dan menyatu dengan sempurna. One thing my mom couldn’t stop complaining about was, she thought it was overpriced. Yeah, I’m agree.
Sementara, Juice Orange yang asam tapi menyegarkan, selayaknya juice orange pada umumnya, dibuat benar-benar dari jeruk asli, bahkan bulir-bulirnya pun ada. IDR 34.000, still overpriced. We thought.

Snickers Mochaccino

Snickers Mochaccino

Snickers Mochaccino. This one is good! IDR 38.000 and totally worth it! Kopi, whipped cream, aroma moka, dan cacahan halus biji kopi, ditambah potongan-potongan snickers… endeuuuuusss kakak! I want more!

Your Highness MARTABAK DURIAN

Your Highness MARTABAK DURIAN

Martabak Manis dengan topping Durian. Martabak manis plain ukuran kecil dihargai IDR 15.000 dan topping duriannya dihargai IDR 35.000. Total jadi IDR 50.000 tapi gw nggak peduli karena ini E.N.A.K B.A.N.G.E.T sumpah! Martabaknya lembut, topping duriannya benar-benar tebal dan manis dan itu dibuat dari daging buah durian asli! Hhhmmmm.. bukan sekedar ekstrak dan aroma. Surgawi!

Save the Best: MARTABAK OVOMALTINE

Save the Best: MARTABAK OVOMALTINE

Martabak Manis dengan topping Ovomaltine, yang konon limited edition. Sama seperti martabak manis durian, martabak manis plain ukuran kecil dihargai IDR 15.000 dan topping Ovomaltine dihargai IDR 40.000. IDR 55.000 untuk sepotong kecil martabak, overpriced yes tapi bodo amat karena ini E.N.A.K.N.Y.A K.E.L.E.W.A.T.A.N. Selain martabaknya yang udah lembut, coklatnya si ovomaltine kan maniiiiisss dan lekoh banget dan crunchy-crunchy-nya itu lho astagaaaaa… Must try. Banget! Tapi bagi yang kurang suka makanan manis, atau mengidap diabetes, sebaiknya hindari saja ya.

***
Overall, walaupun ada keluhan overpriced disana-sini dan keluarnya martabak yang lamaaaaa banget *Nasi Goreng Kampung-nya Nyonya Besar udah ludes dan martabak gw belum terhidang!* it was a good experience of tasting good food. Pelayannya ramah dan cukup menguasai menu, suasana nyaman, makanan minuman ENAAAKK *penting*, sangat direkomendasikan untuk kembali lagi. Dan bagi yang belum berkesempatan mencicipi, sangat disarankan untuk mengunjungi.

[Sunny Side Up] Perfect Eggs Everytime!

Such a late post!
Alasannya, karena ingin menamatkan cerita Hong Kong Trip dulu kan… tapi seperti biasa, ketika lagi semangat-semangatnya menulis, eh ya ndilalah laptop akika ngambek. Layarnya mati tiba-tiba dan tak hidup-hidup lagi hingga kini. Bapak-bapak ahli servis segala jenis kerusakan komputer yang biasa datang ke kantor, entah kenapa mendadak jadi susah sekali dihubungi. Jadilah banyak calon tulisan terlantar. Sampai-sampai skype pun lewat hape lho bok! *kode*

Dan karena terlalu lama hiatus menulis, mood Hong Kong Trip ikut menguap diterjang legal review dan pelototan si Bapak *alesyaaaaannn*
Yaudindeh, kita coba aja cerita soal tempat makan yang gw coba bersama Nyonya Besar sebelum gw capcus ke Hong Kong. Motif lain selain makan-makan adalah, membiasakan diri dengan baby S, maksudnya supaya saat di Hong Kong gw bisa menghasilkan foto yang ciamik :mrgreen:

Tapiiiii… karena acara memamah biak ini pun sudah berlalu cukup lama, mohon maaf gw tidak bisa bawel seperti biasanya karena daya ingat gw mulai melemah *uhuk!*. Sedikit foto dan keterangan seadanya saja ya!

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal. Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan  Omega-3  lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat. Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal.
Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan Omega-3 lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat.
Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk... dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk… dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Ouch!

Ouch!

The Menu. Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah. Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, karena dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung.

The Menu.
Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah.
Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, namun dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging.

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500 Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef's recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500
Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef’s recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

My Mom's: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000 Ini juga salah satu chef's recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

My Mom’s: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000
Verdict: ini juga salah satu chef’s recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000 Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya... tapi porsinya sungguh mantab lah!

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000
Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya… tapi porsinya sungguh mantab lah!

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000 Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk... trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah... mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa :lol: Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm... Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa... keliatan kan dari gelasnya *hihihi* Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000
Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk… trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah… mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa 😆
Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm… Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa… keliatan kan dari gelasnya *hihihi*
Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.