[Parapat – Medan] Toba Lake & Samosir Island

Mengunjungi Medan sudah lama ada dalam bucket list gw. Sempat merencanakan traveling ke sana bersama seorang rekan kerja, udah sampe hunting tiket dan hotel segala, walaupun judulnya gw cuma nemenin dia mengunjungi teman SMA-nya. Nggak tau apa sebabnya rencana itu tinggallah rencana, menguap begitu saja. Terus terang semakin ke sini mood gw untuk solo traveling menguap sedikit demi sedikit. Maunya sih jalan sama Vika, Dani, Nina, dan Didito, tapi percayalah bikin rencana traveling sama mereka itu sama susahnya sama cari jodoh *eh*

Belum lagi masalah klasik pariwisata di negeri ini: minimnya informasi tempat wisata, sulitnya transportasi, dan… ah nggak jadi deh, nanti gw di bully pula. Hahaha… Jadilah mimpi ke Medan ini terlupakan cukup lama.

Sampai suatu ketika, Nyonya Besar ngobrol-ngobrol dengan salah seorang kakak beliau, dan ternyata mereka sepakat untuk ke Medan. Omong punya omong, sepupu gw pun akhirnya memesankan tiket untuk 3 orang: Nyonya Besar, si Tante, dan gw. Jadi, pada dasarnya gw berfungsi sebagai pengawal mereka. Menemani Nyonya Besar mengenal Medan sementara si Tante nostalgia karena saat tinggal di Aceh sering bolak-balik ke Medan.

Selain tiket, hotel pun diurus sang sepupu. Jadi bisa dibilang untuk trip kali ini, gw agak lepas tangan. But being me, I am kinda control freak person, apalagi kalo soal traveling. Itinerary yang kece adalah suatu keharusan buat gw, sayang rasanya kalau waktu terbuang sia-sia. Yeah… gw memang bukan tipe orang yang spontan dalam soal traveling. Tapi sekali lagi, setelah hotel dan tiket, sang sepupu pun dengan percaya diri meyakinkan bahwa itinerary juga sudah dirancang dan dibicarakan dengan sepupunya yang tinggal di Medan. Gw benar-benar tinggal duduk manis dan terima beres menikmati perjalanan. But still, being me, diam-diam gw tetap melanjutkan pencarian informasi, aneh rasanya bila tidak mengetahui apapun tentang tempat tujuan.

Day 1: Sabtu, 10 Oktober 2015

Pukul 3 dini hari, dengan diantar Bayi Gorila dan Mr. Babeh, gw dan Nyonya Besar meluncur ke salah satu titik penjemputan Hiba Bandara di bibir tol Cijago. Sampai di sana ternyata bus baru saja berangkat, jadi deh kami menunggu bus berikutnya. Pukul 3:35 kami berangkat, dan 1 jam kemudian kami sudah mengantri di Terminal 1C Bandara Soekarno Hatta mengikuti prosesi keberangkatan. Check in, x-ray scan, boarding di Gate C4, dan shalat subuh. Pukul 5:45 kami memasuki pesawat. Kali ini gw gagal mendapatkan kursi di sebelah jendela karena sudah diakuisisi si Tante. Jadi mungkin ini pertama kalinya gw nggak mengambil gambar langit sebagaimana biasanya gw lakukan. Sekitar pukul 6, Citilink QG 830 lepas landas sempurna.

Menjelang pukul 8:30, pesawat mendarat dengan sangat mulus, benturan roda pesawat dengan landasan hampir-hampir tak terasa. Finally, Medan!

SAMSUNG CSC

Kualanamu International Airport yang dikelola oleh Angkasa Pura II berhasil membuat gw cukup terkesan. Ini baru bolehlah menyandang predikat bandara internasional. Modern, simple, sleek.

SAMSUNG CSC

Baggage-Drop Island

SAMSUNG CSC

Towards Boarding Room

SAMSUNG CSC

Boarding Room @Kualanamu International Airport. Masih bersih dan rapih, semoga bisa terus terpelihara ya!

SAMSUNG CSC

View from within

Kami dijemput oleh sepupunya sepupu gw dan anaknya, sebut saja mereka Kak Nelly dan Uci. Merekalah yang mengurus masalah sewa mobil beserta supirnya untuk mengantar kami melihat-lihat Medan dan tempat lainnya di Sumatera Utara. Hari pertama ini ternyata kami akan langsung dibawa ke Parapat untuk melihat Danau Toba. Mengingat perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, tak lama keluar dari bandara kami memutuskan untuk menepi dan menikmati sarapan di satu warung pinggir jalan, Warung Alam Ndeso namanya. Lontong Sayur ala Medan, tanpa kerupuk, menjadi menu yang kami santap.

***

Untuk sampai ke Parapat, menghindari macet di satu titik di Deli Serdang, Bang Indra sang supir memilih jalan pintas melalui Galang di daerah Tebing. Pada suatu masa, Galang pernah kesohor sebagai tempat penampungan pengungsi dari Vietnam yang dikenal sebagai manusia perahu.

Sesampainya di daerah Pematang Siantar, kami mampir sebentar di pasar kaget Tebing untuk membeli lemang pulut yang direkomendasikan Uci. Setelahnya kami mampir di toko roti Ganda di jalan Sutomo. Roti Ganda adalah salah satu buah tangan paling terkenal dari Pematang Siantar. Selesai membungkus beberapa potong roti, kami makan siang di rumah makan Miramar, masih di jalan Sutomo. Cari makan di sini susah-susah gampang. Jadi kalau ada tempat makan berlogo halal, tanpa pikir panjang kami langsung masuk.

Pandangan mata selama perjalanan ke Parapat akan dihiasi oleh hamparan persawahan, atau kebun sawit di kanan kiri jalan, kebun karet, atau paduan keduanya. Ada hal yang cukup unik yang sering kami jumpai. Di pekarangan rumah warga atau di sawah dan kebun mereka, sering kali terdapat juga makam-makam. Menurut Uci, jika seseorang ingin membeli tanah, maka tanah yang dibeli mencakup pula makam-makam yang telah ada tersebut, dengan kata lain tidak dibolehkan memindahkan makam. Hmm.. dasar orang bank, seketika gw menghitung untung rugi beserta resiko hukumnya dan berpikir sepertinya sulit untuk menerima tanah-tanah seperti itu sebagai agunan kredit.

SAMSUNG CSC

Salah satu sudut Pematang Siantar

SAMSUNG CSC

Mampir sebentar beli lemang pulut asli Tebing Tinggi

***

Setelah kurang lebih 5 ½ jam perjalanan, kami sampai di Parapat. Pukul 14:30 kami check in di Inna Hotel Parapat. Sepupu gw memesan 2 kamar tipe Superior, 1 kamar untuk gw dan Nyonya Besar, dan 1 kamar lainnya untuk si Tante, Kak Nelly, dan Uci.

Hujan turun tak lama setelah kami sampai. Kami pun memilih untuk mengistirahatkan badan sambil menikmati Danau Toba dari balkon kamar. Sungguh sayang langit yang kelabu mengurangi kecantikan Danau Toba yang saat itu juga tertutup asap tipis imbas bencana asap karena kebakaran hutan yang melingkupi Riau, Jambi, Palembang, dan sebagian pulau Kalimantan.

Hari pertama pun ditutup dengan menikmati makan malam di salah satu rumah makan bernama Islam Murni.

SAMSUNG CSC

First view of Toba Lake from our balcony: cloudy, misty, a little bit cool

SAMSUNG CSC

the boat for tomorrow’s cruise

SAMSUNG CSC

in our way finding some halal meals for dinner

SAMSUNG CSC

Salah satu wajah Parapat di malam hari: mereka memang hidup dari pariwisata Danau Toba

Day 2: Minggu, 11 Oktober 2015

Setelah check out dan sarapan dengan menu dan rasa makanan yang seadanya, kami menuju Pelabuhan Tiga Raja untuk meyeberang ke Pulau Samosir dengan perahu motor. Mobil diparkir di dekat Pelabuhan yang berjarak hanya sekitar 300 meter dari Inna Parapat Hotel. Dipinggir pelabuhan banyak dibangun pondokan semacam bale-bale yang digunakan para pengunjung untuk beristirahat selepas bermain air di Danau Toba atau semata hanya untuk menikmati keindahannya. Di pelabuhan ini, selain tersedia kapal motor yang akan membawa orang yang ingin ke Pulau Samosir, ada juga jetski, atau kapal bebek-bebekan yang harus kita kayuh sendiri, dan sebagian lain memilih untuk berenang-renang tidak jauh dari tepian.

Untuk menumpang kapal motor ke Pulau Samosir, tiap orangnya dikenakan biaya sebesar Rp.25.000. Gw kaget dengan besarnya harga tiket ini, karena dalam satu artikel yang gw baca 3 tahun lalu, harga tiket menumpang kapal motor adalah Rp.7000/orang. Kalaupun harganya naik, kenaikannya luar biasa sekali, jauh di atas angka inflasi. Si abang yang duduk-duduk di pinggir dermaga pun berdalih bahwa harga itu merupakan harga resmi, kita bayar di atas kapal dan akan diberikan tiket resmi sebagai tanda pembayaran. But, living in this country, gw hampir percaya bahwa itu omong kosong. Turns out praduga gw mungkin benar. Para penumpang ditarik bayaran diatas kapal, tapi tiket hanya diberikan SATU lembar untuk masing-masing rombongan. Tiketnya pun bisa lah kita buat sendiri dan difotocopy, nothing fancy. Silakan dikira-kira sendiri berapa banyak hasil tipu-tipunya. Perlu banyak yang dibina di Indonesia ini, memang. Dibinasakan.

SAMSUNG CSC

Pesisir Parapat

SAMSUNG CSC

Titip mobil dulu sebelum menyebrang ke Samosir

SAMSUNG CSC

Salah satu hiburan rakyat – jadi ingat masa kecil main bebek-bebekan di Taman Ria Senayan

SAMSUNG CSC

Sekitar “Pelabuhan Tiga Raja”, Parapat

SAMSUNG CSC

Kapal motor untuk menyeberang ke Pulau Samosir

SAMSUNG CSC

Dari kapal motor, penumpang bisa melihat satu rumah mewah bergaya neo klasik. Itu adalah rumah tempat Bung Karno diasingkan saat terjadi Agresi Militer II oleh Belanda. Selain Bung Karno, turut pula diasingkan di sini Bung Hatta, KH. Agus Salim, dan Sjahrir.

Kapal motor berangkat sekitar pukul 8:50 dan berjalan dengan kecepatan kura-kura malas-malasan. Sebagai akibatnya, hampir 90 menit kemudian kami baru berhasil merapat di Pelabuhan Wisata Siallagan di Pulau Samosir. Di tengah perjalanan, kapal motor kami bahkan sering disalip oleh elang putih yang memang banyak bertengger di pohon-pohon di tepi danau.

SAMSUNG CSC

Danau Toba #1

SAMSUNG CSC

Danau Toba #2

SAMSUNG CSC

Danau Toba #3

SAMSUNG CSC

Ditengah pelayaran, kami dimampirkan ke Batu Gantung yang menceritakan legenda asal muasal nama Parapat. Ada yang bisa menunjukkan yang mana Batu Gantungnya?

SAMSUNG CSC

Danau Toba #4

 ***

Sesampainya di Pelabuhan Wisata Siallagan, para wisatawan kembali harus membayar retribusi memasuki pulau sebesar Rp.2000/orang. Kami diberi waktu sekitar 1 jam untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Samosir, dan setelah berjalan melewati tenda-tenda tempat para penduduk berjualan cinderamata, kami sampai di tempat pertama: makam tua Raja Siallagan Parhapuran beserta batu kursi persidangannya. Selain melihat makam, pengunjung juga bisa mengenakan selendang dan ikat kepala dari ulos dan berfoto dengan boneka Sigale-gale, sambil tak lupa memberi donasi seikhlasnya setelahnya.

Persinggahan dilanjutkan ke Desa Tomok, dimana terdapat delapan rumah yang bagian depannya masih berbentuk tradisional, sementara bagian belakangnya sudah modern lengkap dengan antenna parabola. Untuk memasuki Desa Tomok ini, kembali para wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp.2000/orang. Di Desa Tomok dapat kita jumpai Batu Kursi Parsidangan, Batu Kursi Eksekusi, patung dan boneka SIgale-gale, gereja, hingga toko souvenir.

Mendekati pukul 11:30 kami kembali ke kapal motor yang memang menunggu di dermaga. Perjalanan pulang ke Parapat ditempuh lebih singkat. Kapal berangkat mendekati pukul 12 siang, dan kami merapat pukul 12:45. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Medan dengan melewati Berastagi, marilah kita singgah di Warung Pak Pos untuk makan siang. Pukul 13:30 tepat barulah kami benar-benar meluncur meninggalkan Parapat.

SAMSUNG CSC

Merapat di Pulau Samosir

SAMSUNG CSC

Persinggahan pertama di Samosir: Boneka Si Gale-gale

SAMSUNG CSC

Batu Kursi Persidangan

SAMSUNG CSC

Huta Siallagan

SAMSUNG CSC

Rumah Adat Desa Tomok

SAMSUNG CSC

Salah satu batu kursi persidangan

SAMSUNG CSC

Pasar souvenir sepanjang perjalanan kembali ke kapal motor

***

Setelah dua jam kami pun meninggalkan Kabupaten Simalungun dan tiba di Kabupaten Tanah Karo. Mampir sejenak untuk menikmati keindahan Air Terjun Sipiso-piso di daerah Tongging. Untuk memasukinya wisatawan dikenakan biaya masuk Rp.4000/orang dan biaya parkir Rp.5000/mobil.

Untuk sampai ke area Air Terjun Sipiso-piso, kita harus melewati semacam pasar terlebih dulu. Ada pengalaman tak terlupakan buat gw dan rombongan. Saat baru saja memasuki pasar, kami mendengar satu suara melengking. Menoleh ke kanan, ternyata… lengkingan itu datang dari seekor babi yang sedang disembelih dengan cara ditusuk dari bagian belakangnya. Darahnya merembes membasahi tanah. Mengerikan.

Ketika kami selesai mengagumi Air Terjun Sipiso-piso sambil berkhayal suatu saat nanti akan ada cable car yang menghubungkan tempat melihat air terjun dengan air terjunnya itu sendiri, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Medan melewati pasar yang sama. Gw penasaran dengan babi yang tadi disembelih. Rupanya hewan malang itu sudah mati kaku, dan sedang dibersihkan bulu-bulunya menggunakan semacam alat las.

Yah… babi atau B2 dan anjing atau B1 memang salah dua hewan yang banyak dijadikan bahan makanan di daerah Simalungun, Tanah Karo, bahkan Medan. Adalah hal yang biasa menemukan jejeran kios-kios di pinggir jalan menjajakan babi panggang, yang terkenal berjuluk Babi Panggang Karo. Bukan hanya menjajakan dalam bentuk masakan matang, daging mentahnya pun dipajang tanpa malu-malu di kios-kios itu.

SAMSUNG CSC

Hujan rintik-rintik, kabut, asap, dan air terjun

SAMSUNG CSC

Air Terjun Sipiso-piso di daerah Tongging

Masih di Kabupaten Tanah Karo, kami memasuki Berastagi sekitar pukul 17:00. Atas permintaan gw, kami singgah ke Taman Alam Lumbini untuk melihat pagoda tertinggi di Indonesia yang dibuat sebagai replika Pagoda Shwedagon yang aslinya terletak di Myanmar. Sayangnya, karena sudah terlampau sore sampai di Taman Alam Lumbini, pagoda tersebut sudah tutup sehingga gw hanya bisa mengambil satu-dua gambar dari balik pintu gerbangnya.

 

Saat menuju Taman Alam Lumbini, gw terkejut juga karena di sisi jalan raya masih ada tenda-tenda pengungsi Sinabung. Selain itu, yang juga mengejutkan adalah jalan menuju Taman Alam Lumbini yang masih tanah dan bebatuan… hujan yang baru selesai mengguyur sore itu membuat perjalanan serasa wisata off road. Seandainya jalan itu mulus, tentu memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung, dan bukan tidak mungkin akan menarik semakin banyak pengunjung.

Kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Medan. Rute yang dilalui benar-benar membutuhkan keterampilan mengemudi tingkat tinggi. Jalan yang tidak terlalu lebar dan tanpa penerangan, berkelok-kelok dengan tikungan-tikungan yang ‘patah’, ditambah truk atau angkutan umum yang mengemudi semaunya.

Pukul 20:00 kami akhirnya memasuki kota Medan. Sebelum mengistirahatkan diri di hotel, kami sempatkan mencicipi sate dan mie rebus Medan yang diidam-idamkan si Tante yang ingin bernostalgia. Alhamdulillah, it’s yummy and it’s a wrap!

SAMSUNG CSC

Kutunggu ko blek Medan! *sambil makan wajik dan nyeruput bandrek*

Pengeluaran di luar makanan & minuman:

  • Tiket pesawat pp IDR 1.908.500/orang
  • HIBA Bandara IDR 60.000/orang
  • Retribusi masuk kawasan wisata Parapat IDR 20.000
  • Tiket kapal motor menyeberang ke Pulau Samosir IDR 25.000/orang
  • Retribusi masuk pulau IDR 2.000/orang
  • Retribusi masuk situs Batu Kursi Siallagan IDR 2.000/orang
  • Retribusi parkir IDR 20.000/mobil
  • Retribusi masuk kawasan wisata Air Terjun Sipiso-piso IDR 4.000/orang
  • Retribusi parkir IDR 5.000/mobil
  • Sewa mobil IDR 250.000/hari, fuel excluded
  • Jasa supir IDR 150.000/hari untuk luar kota Medan
  • Jasa supir IDR 100.000/hari untuk dalam kota
  • Inna Hotel Parapat IDR 402.425/malam
  • The Tiara Hotel IDR 528.400/malam
  • The Tiara Hotel IDR 200.000/malam untuk extra bed

 

Advertisements

[Mujigae]

Nggak tau kesambet apa-apa tiba-tiba gw kangen si Vika. Alhamdulillah nggak bertepuk sebelah tangan karena si Vika pun ternyata kangen sama gw *eh* *yakan di mana-mana yang namanya ditolak itu nggak enak ya mbaksist*
Jadilah kami mengatur waktu untuk mabuk-mabukan. Tak lupa Didito dan Dani diikutsertakan.

Gw yang paling bersemangat segera bergerak menentukan meeting point, yang seperti biasa hampir pasti selalu di Depok. Ya mau gimana lagi, kantor kami berempat berjauhan, agak susah kalau mau ketemu di Jakarta. Paling mudah memang bertemu di wilayah Depok yang memang sudah jadi wilayah jajahan masing-masing sedari orok. Pilihan kali ini jatuh pada makanan Korea. Maka marilah kita menyambangi Mujigae, yang terhitung baru membuka gerainya di Margo City, mall paling heitz se-Depok Raya.

Begitu memasuki tempat, pelayan langsung menyapa kami dengan salam khas Korea. “Annyeonghasimnika!”

Inside #1

Inside #1

Inside #2

Inside #2

Inside #3

Inside #3

Setelah kami duduk, mbak-mbak pelayan dengan sigap memberikan buku menu dan menerangkan tata cara pemesanan yang sungguh canggih, di setiap meja disediakan iPad dimana pengunjung tinggal memilih menu yang ingin dipesan beserta jumlahnya. Tinggal klik klik klik, order terkirim dan tunggu beberapa menit, pesanan pun segera terhidang di meja. Nggak perlu mencari-cari mbakmas pelayan dan nggak perlu merasa nggak enak kalau lama memilih menu. Efektif dan efisien.

Menu, masih konvensional

Menu, masih konvensional

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Hi-tech way to order your food | Hi dear iPad!

Didito on 'How to Order Your Food'

Didito on ‘How to Order Your Food’

Vika on 'How to Order Your Food'

Vika on ‘How to Order Your Food’

Sejak menentukan Mujigae sebagai meeting point, kami langsung kasak-kusuk cari tau soal menu. Nggak heran kami tidak perlu berlama-lama memilih makan malam saat itu. Didito langsung memesan Bulgogi Bibimbap untuk makanannya dan Lemon Sea Salt sebagai minumannya. Vika memilih Classic Ramyeon dan mencoba Choco Banana Milk with Nutella Pudding untuk melepas dahaga. Gw mantap memilih Bibimyeon feat. Tokochi dan ended up dengan Banana Milk with Matcha Pudding untuk minumannya. Kami pun sepakat memesan Original Tteokbokki sebagai cemilan.

Sekitar 10 menit menunggu, pesanan pun datang. So here we go.

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Our Classic Tteokbokki | IDR 28.182

Tteokbokki mungkin bisa dibilang sebagai salah satu cemilan paling terkenal dari Korea. Terbuat dari tepung beras dan disajikan bersama odeng alias fish cake dan saus pedas manis yang kental, enaknya disantap panas-panas.

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Didito’s Bulgogi Bibimbap | IDR 39.091

Bibimbap adalah makanan khas Korea dimana nasi dihidangkan bersama soy sauce, diberi topping daging yang dicincang, sayur-sayuran, telur ayam setengah matang, dan yang paling penting: gochujang, pasta sambal yang fungsinya membuat enak si bibimbap. Satu lagi yang khas dari Bibimbap adalah cara makannya. Semua diaduk rata jadi satu.

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Uninuna’s Bibimyeon feat. Tokochi | IDR 38.182

Sama seperti bibimbap, Bibimyeon dimakan dengan cara mencampur dan mengaduk rata semua yang terhidang di mangkuk. Bedanya, dasar dari bibimbap adalah nasi, sementara dasar bibimyeon adalah mie. Selain itu, pada bibimbap, gochujang adalah elemen penting, sementara bibimyeon tidak menggunakan gochujang. Selain cacahan daging sapi cincang, ada pula topping sayuran, fish cake yang dipotong tipis-tipis dan digoreng garing, dan telur rebus yang dibalut tepung dan digoreng. Sebagai side dish, disajikan tokochi, yaitu kue beras yang digoreng garing. Hmm… I prefer the original tteokbokki to tokochi.

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Vika’s Classic Ramyeon |IDR 32.728

Bagi gw, Ramyeon tidak ada bedanya dengan mie tektek. Di beberapa tempat di Korea, dalam Ramyeon dimasukkan juga kue beras. Disajikan dalam panci aluminium, Ramyeon nikmat disantap saat dingin. Sayangnya, menurut Vika, Ramyeon pilihannya itu agak sedikit lodoh.

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091" width="768" height="419" /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091″ width=”768″ height=”419″ /> Drinks | Vika’s Choco Banana Milk feat. Nutella Pudding – Uninuna’s Banana Milk feat. Matcha Pudding – Didito’s Lemon Sea Salt | each IDR 20.909 – IDR 19.091 – IDR 19.091

Baik choco banana milk ataupun banana milk, bagi gw rasa susu dan buahnya kurang mantap. Sementara Lemon Sea Salt-nya… menurut Didito, rasanya unik. Asam lemonnya pas dan enak, tapi butiran kasar sea salt-nya sungguh asin. Dan yang mana sea salt-nya? Itu lho, yang menyerupai krim berwarna kuning, yang kami salah duga sebagai es krim pada mulanya.

Dani yang terlambat datang hanya memesan Korean Tea dan memilih menghabiskan tteokbokki kami. Mungkin karena sedang berbahagia, Dani yang biasanya harus makan makanan berat kali ini tidak terlalu ramai soal makanan, dan tetap tampak berseri-seri *silakan ditanyakan langsung ya kenapa-kenapanya*. Terus gimana rasa Korea Tea-nya?
Seruput pertama membuat Dani mengernyit. “Kayak air putih,” katanya. Lalu gelas besar berwarna hijau berisi air sedikit keruh itu pun bergilir pada Didito, Vika, dan terakhir gw.
“Rasanya nggak jelas, aneh!,” bingung si Didito.
“Air perasan daun sirsak,” kata Vika.
“Seperti kuah popmie rasa baso sapi,” gw berpendapat.
“Lah lo dulu apa nggak minum beginian?” tanya mereka bertiga.
“Ya maap, gw bukan penggemar teh. Selama di sana gw cuma minum air putih dan kopi, paling jauh minum banana uyu.” :mrgreen:

Well ya, secara garis besar, Mujigae yang dilengkapi dengan 2 layar tembak dari proyektor yang tak henti menayangkan girl band dan boyband asal Korea, bisa dibilang cukup nyaman sebagai tempat kumpul-kumpul. Harganya masih wajar dan pelayannya pun cukup ramah dan cekatan dalam menjelaskan segala sesuatunya. Mengenai rasa makanannya, I assume rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. It’s lighter yet somehow tastier. No fancy taste yet nice and acceptable. Kimchi yang selalu ada dan dihidangkan sebagai side dish di setiap menu disediakan dalam porsi kecil, dengan rasa asam yang sepertinya lagi-lagi sudah disesuaikan dengan cita rasa lokal.
However, I would like to go back there to taste another menu.

All price are subject to service charge and tax.

Siem Reap: Day 2 – Angkor National Museum, Lamb Climbing Mountain, Banteay Srei, Phnom Bakheng & Angkor Night Market

Terkaget-kaget gw terbangun mendengar bunyi alarm yang semakin lama semakin memekakkan telinga. Didito sudah beranjak ke kamar mandi sementara gw masih berusaha menikmati menit-menit terakhir bergelung dengan selimut. Pukul 01:30 dini hari. Dua jam juga belum ada kami menikmati tidur. Dengan mata terpejam gw berusaha mengumpulkan kesadaran *dan memperkuat niat* untuk bangkit, menyambar handuk dan menyeret langkah menuju kamar mandi.
“Lo mandi nggak, Dit?” gw bertanya pada Didito yang sudah keluar kamar mandi dan mulai membereskan tasnya. Didito menggeleng. Memang cocok kami menjadi teman sekamar. Gw pun sudah berniat tidak mandi. Lagipula gw baru saja mandi kurang dari dua jam yang lalu. At the end terungkap bahwa, di antara kami berempat hanya Vika yang mandi di pagi buta itu.

Pukul 02:30 gw dan Didito turun ke bawah. Ternyata Dani sudah duduk manis di lobby, sementara Vika sibuk mengambil gambar di luar hotel setelah membereskan urusan check out sebelumnya. Kami segera berangkat menuju pangkalan bus di KL Sentral yang akan membawa kami ke KLIA 2. Jalanan masih sangat sepi. Rencananya kami akan menggunakan Skybus keberangkatan pukul 03:00 pagi. Tapi sesampainya di KL Sentral, bus yang berada pada posisi paling depan adalah Aerobus. Tanpa pikir panjang kami pun membeli tiket seharga RM 10 pada abang kondektur yang nongkrong di depan bus dan segera menaiki bus yang tampak masih sepi, namun ternyata sudah ramai di dalam. Seluruh kursi sudah hampir terisi dan masing-masing sudah dalam posisi enak, Dani dan Didito segera mendapatkan kursi di dekat pintu sementara gw dan Vika tidak punya pilihan lain selain duduk di dua kursi terakhir.

Pukul 02:45 tepat, bus mulai melaju membelah gelapnya malam Kuala Lumpur. Gw memperhatikan sekeliling. Hampir seluruh penumpang tidur pulas. Gw melirik ke kanan. Vika tampak berusaha tidur tapi tak bisa. Gw pun sebenarnya mengantuk. Tapi AC yang bolong yang terletak tepat diatas kepala kami sepertinya membuat kami tidak bisa memejamkan mata dengan khusyuk. Dinginnya luar biasa. Perut gw berdenyut-denyut menahan dingin. Jaket tidak cukup menghangatkan.
Setelah siksaan AC bolong yang sepertinya tiada akhir, satu jam kemudian akhirnya gw dan Vika bisa bernafas lega. Pukul 03:45 kami tiba di KLIA 2.

KLIA 2 dini hari itu masih sepi. Sebagian besar toko masih tutup dan calon penumpang pun terlihat bergelimpangan di berbagai sudut. Mungkin mereka hanya sekedar transit untuk sampai pada destinasi sebenarnya dan lebih memilih tidur di bandara untuk menghemat biaya perjalanan. Sambil menggeret koper, gw menyempatkan diri melirik kiri-kanan untuk mencari teh dan kopi titipan orang rumah.

Begitu melihat gerai Starbucks, Vika langsung mengerem mendadak dan jadilah kedai kopi itu sebagai pemberhentian pertama kami pada Jumat, 26 Desember 2014, itu. Gw dan Vika membeli tumblr Starbucks bertuliskan ‘Kuala Lumpur’ seharga RM 38, mengoleh-olehi diri kami masing-masing. Namun, berbeda dengan Starbucks di tempat lain dimana ketika kita membeli tumblr maka kita akan diberikan complimentary drink, Starbucks di KLIA2 itu tidak demikian. Pantas saja harganya agak berbeda dengan rata-rata harga tumblr Starbucks di negara lain. Mungkin harga tumblr Starbucks Malaysia bisa lebih murah karena meniadakan complimentary drink.

 Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Beristirahat sejenak menemani Vika menyeruput hot chocolate-nya dan Dani menikmati bekalnya


Setelah Vika menyelesaikan tegukan terakhir hot chocolate-nya, kami langsung meneruskan perjalanan menuju terminal keberangkatan. KLIA 2 memang luar biasa luasnya. Padahal gaya berjalan kami juga nggak lelet-lelet banget, cuma sering menclok kanan-kini di berbagai duty free shop yang bertebaran, jadi ya tetep aja untuk sampai ke International Transfer/Pertukaran Antarabangsa memakan waktu 30 menit. Ngomong-ngomong apakah yang membuat kami sering mampir? Itu tiada lain dan tiada bukan karena gw yang niat banget nyari lipstick Rimmel by Kate Moss :mrgreen:
Yah… biar kata keperempuanan gw diragukan, tapi timbang lipstick doang mah gw juga doyan *eh* *doyan belinya aja, pakenya nggak* *nggak bisa, maksudnya*
klia2 #1

klia2 #1


klia2 #2

klia2 #2


Kami melewati skybridge, turun satu level dan menemukan ruang tunggu yang terletak di antara Departure Gate P dan Q. Ruang tunggu ini disebut juga Public Lounge atau Ruang Istirahat Awam dalam Bahasa Melayu. Jangan bayangkan ruang tunggu yang kecil dan seadanya ya, Ruang Istirahat Awam ini cukup luas dan yang jelas nyaman dengan banyak sofa empuk dan besar, membuatnya menjadi tempat favorit bagi para penumpang untuk beristirahat atau bahkan bermalam di bandara. Walaupun di kanan-kiri berdiri toko-toko yang menjual barang-barang mewah, namun ruang tunggu itu tetap tenang. Tentu saja, karena belum ada toko yang buka, kecuali beberapa convenience store.
Kami mencari spot tersisa dan harus puas dengan kursi non-sofa di satu pojok. Berdekatan dengan kami, ada satu keluarga sedang tidur dan ternyata ada anggota keluarga lainnya yang tidur di atas karpet, tersembunyi di belakang kursi.

Masih ada waktu satu jam lebih hingga waktu Subuh. Kami sempat bimbang apakah menunggu di ruang tunggu tersebut hingga waktu shalat Subuh tiba, atau langsung menuju Departure Gate Q. Sementara Vika, Didito, dan Dani tidur-tidur ayam, gw menyambangi convenience store yang ada. Membeli beberapa coklat yang menurut gw nggak masuk ke Indonesia, saat membayar gw pun bertanya pada si mbak-mbak kasir, apakah di Departure Gate ada mushala dan di jawab tidak. Jadi, mushala hanya terdapat di dekat ruang tunggu itu saja. Baiklah, berbekal informasi ini, kami mantap berdiam di ruang tunggu menunggu Subuh.
Resah menunggu dan bosan tidur-tidur ayam, gw dan Vika yang mulai gatal kelaparan menyempatkan diri membeli french fries di Burger King, sementara Dani menjaga seluruh bawaan kami dan Didito masih terlelap dalam dunianya. Tepat setelah kami selesai menyantap kentang goreng, tanpa buang waktu kami langsung menuju mushala dan menunaikan shalat Subuh.

Selesai shalat, dengan bergegas kami pun segera menuju Departure Gate Q. Terburu-buru kami berjalan, karena waktu Subuh dan waktu boarding yang memang agak sempit. Dan di sepanjang lorong menuju Departure Gate Q itu, kami misuh-misuh sendiri karena ternyata di sana pun terdapat beberapa tempat makan, toilet, dan tentu saja… mushala. Ketauan ya, first timer di KLIA 2 :mrgreen:

Kaki tangan Air Asia sudah berteriak-teriak “Siem Reap, Siem Reap!” ketika kami tiba. Tidak berlama-lama di boarding room, kami segera digiring menaiki pesawat. Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55. Langit masih gelap, muka masih kayak bantal, mulut *mungkin* masih bau iler, dan Air Asia AK 542 lepas landas tepat waktu pukul 06:55.

***

Heavenly Sky #1

Heavenly Sky #1


Heavenly Sky #2

Heavenly Sky #2


Heavenly Sky #3

Heavenly Sky #3


Heavenly Sky #4

Heavenly Sky #4


Tepat pukul 08:30 waktu setempat, burung besi raksasa mendarat sempurna. Gw mengintip keluar jendela, terlihat satu bangunan sederhana. Siem Reap International Airport sungguh berbeda dengan KLIA 2. Akhirnya gw menjejakkan kaki di salah satu destinasi impian gw. Selamat datang di tempat di mana Siam dikalahkan. Siem Reap!

Sementara Vika dan Didito melaju menuju gedung bandara, gw dan Dani menyempatkan berfoto-foto sejenak. Siem Reap International Airport merupakan salah satu dari beberapa bandara yang tersohor yang ada di Kamboja. Dua lainnya adalah Phnom Penh International Airport dan Sihanoukville International Airport. Sihanoukville, biarpun menyandang kata ‘international’, pada kenyataannya hanya melayani rute domestik.

Sebelum memasuki gedung bandara, ternyata kami harus mengisi beberapa form terlebih dahulu. Oya sebagai informasi, ketika di pesawat kami sudah diminta untuk mengisi arrival card dan kartu pernyataan kesehatan. Selesai mengisi lembar-lembar form yang ada, kami menyelesaikan proses imigrasi. Bandara yang tidak terlalu luas dan proses imigrasi yang sederhana, membuat kami dapat dengan cepat meninggalkan bandara. Siem Reap International Airport memang kecil, conveyor belt-nya saja hanya satu atau dua, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung, dengan gaya interior khas Kamboja, mirip seperti bandara Soekarno-Hatta atau bandara Adi Sumarmo di Solo.

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan

Kartu Kedatangan dan Kartu Keterangan Riwayat Kesehatan


Siem Reap International Airport #1

Siem Reap International Airport #1


Siem Reap International Airport #2

Siem Reap International Airport #2


Siem Reap International Airport #3

Siem Reap International Airport #3


Siem Reap International Airport #4

Siem Reap International Airport #4


Siem Reap International Airport #5

Siem Reap International Airport #5


Diluar bandara, seorang laki-laki sudah mengacung-ngacungkan kertas bertuliskan nama Didito. Kami memang menggunakan fasilitas penjemputan gratis yang disediakan oleh hotel. Dengan ramah, laki-laki penjemput itu membawakan tas kami menuju mobilnya: sebuah Toyota Camry *wow!* dengan transmisi matic *wow!* tahun 90-an *ekh*. Ya mobilnya masih kotak-kotak gitu lho bentuknya :mrgreen:

Begitu memasuki mobil, si laki-laki penjemput membuka percakapan, masih tetap ramah. Dia menanyakan asal kami dan sebagainya, dan mulai bertanya bagaimana kami akan menjelajah Siem Reap. Awalnya dia bertanya transportasi apa yang akan kami gunakan dan mulai meminta kami untuk menggunakan jasanya untuk berkeliling selama di Siem Reap. Kami menjawab bahwa kami sudah memesan transportasi lain secara mandiri dan menolak tawarannya secara halus. Disini, keramahannya mulai menguap secara signifikan. Gaya bicara yang awalnya sopan dan ramah berganti dengan nada paksaan. Pada akhirnya dia mengomel, beralasan bahwa dia sudah bela-belain bangun pagi-pagi, menunggu kami di bandara, menjemput kami untuk kemudian mengantar kami ke hotel, kebutuhannya akan uang untuk membeli bensin, maka seharusnya kami menggunakan jasanya untuk berwisata selama di Siem Reap.

Jeritan hati kami sebagai turis kere pun ditangkap oleh Didito yang langsung menyambut ajakan si laki-laki penjemput untuk berperang urat syaraf. Dengan tegas dan penuh wibawa Didito menolak paksaan si laki-laki penjemput, menyatakan bahwa kami hanya meminta fasilitas penjemputan yang memang disediakan pihak hotel dan notabene gratis dan diluar itu adalah urusan antara hotel dan si laki-laki. Kami tidak ada sangkut pautnya dan tidak mau tau. Titik nggak pake koma! Perjalanan selama 15 hingga 20 menit menuju hotel menjadi terasa lama dan menegangkan. Gw mencoba mengalihkan perhatian pada jalanan Siem Reap yang kecil, kering dan berdebu.
Ketika akhirnya sampai di hotel, tanpa basa-basi si laki-laki penjemput menurunkan kami, dan pergi melaju dengan membanting pintu mobilnya.

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?

Jalan raya di depan Siem Reap International Airport. Seperti melihat Jakarta tempo dulu nggak sih?


Jaman masih akur... hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai

Jaman masih akur… hanya beberapa saat sebelum perang urat syaraf dimulai


Untunglah kekesalan kami segera terbayar oleh keramahan luar biasa dari para karyawan hotel yang sigap menyambut *yang lebih mirip seperti menyerbu karena mereka berebut membawakan tas-tas dan koper kami* kami turun dari mobil. Dari lobi hotel kami langsung diarahkan menuju satu ruangan penuh sofa dan berpenerangan redup. Ruangan yang didominasi warna oranye yang hangat dan gradasinya itu sepertinya digunakan sebagai ruang tunggu bagi para tamu hotel, disatukan dengan ruang makan dan mini bar.

Sementara Didito mengurus administrasi di resepsionis, kami bersantai sambil sesekali membidikkan kamera ke objek-objek yang entah mengapa seluruhnya terlihat memesona. Tak lupa kami menikmati welcome drink dan menyegarkan diri dengan handuk basah beraroma terapi yang disediakan pihak hotel dalam satu wadah cantik.
Tak lama kamar kami siap, dan kami pun dipersilakan untuk memasuki kamar. Setelah meletakkan barang dan beres-beres, gw dan Didito segera turun karena kami sudah janjian dengan supir tuktuk yang Didito hubungi sejak di tanah air untuk memulai petualangan tepat pukul 10:00.

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in

Ruang makan yang berfungsi juga jadi ruang tunggu sementara Didito mengurus administrasi untuk check in


Siem Reap's Hospitality

Siem Reap’s Hospitality


***
Sesampainya di lobi, gw dan Didito menemukan seorang laki-laki muda berperawakan kecil dan berpakaian putih sedang berdiri sambil memegang sebuah kertas. Wajahnya ramah dan dengan senyum yang selalu terkembang, dia menyapa kami dan memperkenalkan diri sebagai Kloy Ratha. Dengan ‘radar’ yang agak ngadat, gw segera menghubungi Vika dan Dani lewat whatsapp.
‘Oiiiii, Bang Ratha udah ada nih. Lumayan manis cuy, mau di prospek nggak?’ *salah fokus*
Di negara orang pun gw masih berusaha menebarkan senyuman maut :mrgreen:

Dengan antusias, sejak saat itu dengan sok akrabnya gw selalu memanggilnya ‘Bang Ratha’. Dan ternyata, Kamboja pun menyapa laki-laki yang lebih tua dengan sebutan ‘bang’, hanya saja huruf vokal a tidak diucapkan secara jelas, melainkan lebih ke arah pengucapan huruf vokal o. Btw, sebenarnya Bang Ratha berusia di bawah kami, tapi ya being the childish and spoiled me, gw selalu memanggilnya dengan kata sapa ‘bang’.

Tak lama, Vika dan Dani pun turun. Setelah memperkenalkan diri dan mengkonfirmasi tujuan pertama, kami segera menaiki tuktuk yang sudah tersedia didepan hotel. Melihat bentuk tuktuk, kami pun mengatur formasi tempat duduk. Demi keseimbangan tuktuk, gw yang berbadan lebar dan Didito yang tampak kekar tidak boleh duduk pada baris kursi yang sama. Maka pilihan formasi pun terbentuk: Didito dan Vika versus gw dan Dani, atau Didito dan Dani versus gw dan Vika.

Formasi #1: Dani & I

Formasi #1: Dani & I


Formasi #2: Vika & Didito

Formasi #2: Vika & Didito


***
Angkor National Museum
http://www.angkornationalmuseum.com
Operating Hours:
1 April – 30 September: 08:30 – 18:00
1 October – 31 March: 08:30 – 18:30
Admission Fee: USD 12

Angkor National Museum #1

Angkor National Museum #1

Ini tujuan pertama kami. Kenapa kami memilih ke sini? Atau lebih tepatnya, kenapa gw sebagai pembuat itinerary menjadikan museum ini sebagai destinasi pertama?
1. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, Angkor National Museum merupakan satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif dan komprehensif, sehingga ketika mengunjungi Angkor Wat dan candi-candi lainnya, pengunjung diharapkan bisa mengerti dan memahami situs-situs tersebut secara utuh dan menyeluruh.
2. Didito merupakan pecinta museum, sementara gw mengaku (-ngaku) sebagai penikmat museum.
3. Angkor National Museum berfungsi juga sebagai tempat istirahat bagi kami dari kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur.

Begitu kami menaiki tuktuk, Bang Ratha bertanya apakah kami akan membeli tiket masuk museum di agen travel atau langsung di museumnya. Belum sempat menjawab, Bang Ratha sudah langsung menerangkan bahwa tidak ada perbedaan harga antara travel dan museum. Tau aja dia kalo kami adalah turis yang pedit nan perhitungan :mrgreen:
Kami pun setuju dan diantarlah kami ke travel tujuan. Alamatnya? Wah… mohon maaf lahir dan batin, gw pun nggak tau. Kami hanya bermodalkan pasrah dan ikhlas dibawa ke manapun oleh si abang, karena kami terlalu semangat memperhatikan Siem Reap yang eksotis, berkomentar ini itu dan menikmati angin sepoi-sepoi dari tuktuk yang terbuka.
Selesai membeli 4 lembar tiket seharga USD 12 per lembar, kami segera meluncur menuju Angkor National Museum. Tak lupa gw meminta peta Angkor Wat dan diberikan ‘hanya’ satu buah oleh mbak-mbak travel. Ketika gw meminta satu peta tambahan, si mbak menolak lembut. Oh baiklah, penolakan itu memang pedih, Jenderal!

Sekitar 10 menit kemudian, tuktuk kami memasuki satu gedung berdinding putih bertuliskan Angkor National Museum. Kami segera turun sementara Bang Ratha memarkir tuktuknya bersama tuktuk-tuktuk lainnya. Setelah mengeluarkan benda-benda berharga dan menitipkan tas di tempat penitipan (pengunjung tidak diperbolehkan , kami menukarkan tiket masuk, menyempatkan foto di salah satu sudut, dan tur museum pun dimulai.

Ruangan pertama yang kami masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater sederhana di mana pengunjung disuguhi penjelasan selama 15 menit mengenai garis besar museum ini. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, pengunjung bisa mengunjungi galeri selanjutnya. Angkor National Museum memang dibagi menjadi 7 galeri dan 1 galeri eksklusif. Apa saja?
1. Gallery of 1000 Budhha Images: the Gallery of Cambodian Buddhism Reflections. Galeri ini memamerkan koleksi patung Budhha paling prestisius dari berbagai zaman pembuatan. Berbagai bentuk dan posisi tubuh Buddha ditampilkan, sebagian besar memperlihatkan Muchalinda alias Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga.
2. Gallery A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak jaman pre-Angkorian, Angkorian, dan post-Angkorian.
3. Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad.
4. Gallery C: the Great Khmer Kings. Dari namanya, kita sudah bisa mengetahui apa yang akan dijelaskan di galeri ini. Kepemimpinan empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201.
5. Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat.
6. Gallery E: Angkor Thom. Inilah galeri yang menjelaskan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya.
7. Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ yand dijadikan tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor.
8. Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan.

Sebenarnya Angkor National Museum ini cukup menarik dan sungguh informatif. Display museum ditata cukup apik dan pencahayaan yang cenderung redup berhasil membangun kesan misterius yang elegan. Sayangnya, mungkin akibat kelelahan, gw dan Didito malah tertidur di Gallery D ketika ditayangkan film dokumenter. Sementara Vika dan Dani yang memilih untuk menikmati secangkir cappuccino berdua di coffee shop di lantai 1 museum sepertinya lebih bisa meresapi film tersebut. Kuatnya kopi Kamboja sepertinya berhasil membuat mata mereka terbuka lebih lama.

Secara keseluruhan, mengunjungi museum ini sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park sangatlah direkomendasikan. Apalagi, disediakan juga Audio Tour Guide yang bisa disewa dengan harga USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan Bahasa yaitu Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, dan Thailand, serta tak ketinggalan Bahasa Perancis. Satu yang gw sayangkan adalah tidak diperbolehkannya pengunjung untuk mengambil gambar di dalam museum. Penjaga berjaga disetiap tempat dan cctv dipasang disetiap sudut, membuat kami tidak berkutik untuk curi-curi gambar.

Ketika kami tiba kembali di depan tempat penjualan tiket masuk, ternyata Bang Ratha sudah duduk manis menunggu sambil ngadem dari teriknya matahari siang itu. Kebetulan sudah pukul 12 siang, kami sepakat untuk makan siang terlebih dahulu. Alhamdulillah, Bang Ratha mengetahui dengan baik restoran yang kami tuju. Profesinya sebagai supir tuktuk idola wisatawan asal Indonesia sepertinya membuatnya paham seluk beluk konsumennya.

Travel Agent

Travel Agent


Angkor National Museum #2

Angkor National Museum #2


Angkor National Museum #3

Angkor National Museum #3


Coffee Shop inside the Museum

Coffee Shop inside the Museum


Tuktuk Parking Lot

Tuktuk Parking Lot

***
Mengunjungi negara dimana non muslim menjadi mayoritas membuat kami harus lebih berhati-hati memilih makanan. Hasil penelitian mengarahkan kami pada satu restoran yang sepertinya pasti dikunjungi oleh setiap wisatawan muslim yang mengunjungi Siem Reap. Muslim Family Kitchen yang memasang label halal menjadi pilihan kami. Sepertinya restoran ini terletak di perkampungan muslim. Banyak perempuan berjilbab wara-wiri di lingkungan tersebut. Kehadiran sebuah masjid tak jauh dari restoran dan azan yang berkumandang menambah kenyamanan kami. Masjid An Neak Mah alias An-Nikmah siang itu dipenuhi oleh pria-pria muslim untuk menjalankan shalat jumat.

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That's a masjid!

Muslim Family Kitchen #2: Do you see the dome? That’s a masjid!


Muslim Family Kitchen #1

Muslim Family Kitchen #1


This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu'ah Prayer

This is how the surrounding looked like: it was Friday so Muslim men went to the masjid to perform Jumu’ah Prayer


the Masjid

the Masjid


Inside the restaurant. See the sign of 'Prayer Room'?

Inside the restaurant. See the sign of ‘Prayer Room’?


Muslim Family Kitchen berkonsep terbuka dan tampak sederhana. Dihiasi beberapa kaligrafi, gw pun mendengar lagu-lagu musisi Indonesia sebagai hiburan di restoran itu. Setelah melihat-lihat menu, kami memutuskan untuk makan tengah. Ada tiga lauk yang kami pesan: Amok, Fried Spicy Seafood, dan tentunya menu paling kesohor yang konon katanya wajib dicoba oleh setiap pengunjung yang datang: Beef Climbing Mountain alias Daging Lembu Naik Bukit. Untuk minumnya kami memesan masing-masing, dan seperti biasa oseng-oseng tumis-tumis dan jadilah! Daging Lembu Naik Bukit.

Terus, terus, rasanya bagaimana? Kan makanan itu digadang-gadang sebagai a must try food dengan rasa yang mantap endang surindang, tapiiiii kenapakah kenapa, bagi kami kok rasanya biasa aja ya? No fancy taste, no fancy spice. Really nothing special.
Sementara Amok, yang juga disebut sebagai makanan khas Kamboja yang lezat dan wajib dicoba, rasa rempahnya terutama kunyit, kami rasakan terlalu menyengat. Untuk Fried Spicy Seafood-nya gw tidak terlalu bisa berkomentar. Satu hal yang gw rasakan, udangnya kurang segar. Kalau mau tau lebih banyak tentang restoran ini, bisa dilihat di http://www.muslimfamilykitchen.com

the Menu

the Menu


Lamb Climbing Mountain's ingredients

Lamb Climbing Mountain’s ingredients


Lamb Climbing Mountain #1: Cook the meat

Lamb Climbing Mountain #1: Cook the meat


Lamb Climbing Mountain #2: Added the veggies and done!

Lamb Climbing Mountain #2: Added the veggies and done!


Lamb Climbing Mountain is ready to serve

Lamb Climbing Mountain is ready to serve


left: Amok right: Fried Spicy Seafood

left: Amok
right: Fried Spicy Seafood

Saat kami hampir menyelesaikan santap siang, datang seorang bapak berpeci dan bergamis. Perawakannya tidak seperti orang Kamboja pada umumnya. Ternyata dia adalah pemilik restoran tersebut. Kami sempat berbincang-bincang sejenak dengannya, ditimpali dengan komentar-komentar dari Bang Ratha yang sudah menyelesaikan makan siangnya di tempat lain dan dari seorang tour guide lain yang pandai berbahasa Melayu. Mulai dari asal-usul nama Daging Lembu Naik Bukit, mengenai wisatawan Indonesia yang jarang mereka temui, hingga topik yang agak berat seperti kehidupan muslim Kamboja. Sebenarnya Daging Lembu Naik Bukit merupakan makanan khas Kamboja, namun untuk lebih mengundang pengunjung untuk mencicipi, diberilah nama yang unik seperti itu yang diusulkan oleh seorang warga negara Malaysia teman si pemilik restoran. Sepertinya Kamboja memang memiliki hubungan emosional lebih dekat dengan Malaysia dibandingkan dengan Indonesia. Para bapak teman mengobrol kami ini pun awalnya mengira kami berasal dari Malaysia. Menurut mereka, sedikit wisatawan yang berasal dari Indonesia. Kebanyakan yang mengunjungi Siem Reap berasal dari China atau Korea, atau orang bule sekalian.
Hmm… apakah orang Indonesia memang lebih memilih wisata belanja daripada wisata sejarah yang kurang gemerlap seperti kami?

Sembari mengobrol, secara bergantian kami menunaikan shalat dzuhur dan asar. Tampilan restoran boleh saja sederhana, tapi mereka menyediakan mushala yang cukup nyaman untuk digunakan beribadah. Dan jangan salah, toilet yang ada pun bersih, lengkap dengan toilet duduk dan shower, serta terpisah antara toilet laki-laki dan perempuan.

***
Banteay Srei

Dengan melihat peta Angkor Archaelogical Park di internet, gw menempatkan Banteay Srei sebagai tujuan pertama. Diikuti dengan Ta Keo, lalu Preah Khan, dan terakhir Phnom Bakheng. Phnom Bakheng gw tempatkan di pos terakhir, karena konon Phnom Bakheng merupakan tempat terbaik untuk menikmati matahari tenggelam. Sebelum ke Banteay Srei, kami menuju tempat penjualan tiket terlebih dahulu. Karena kami akan menjelajah komplek Angkor ini selama 2 hari, maka kami memilih untuk membeli 3 day pass seharga USD 40. Ketika kita sampai didepan loket, petugas akan meminta kita untuk menatap satu titik yang merupakan kamera kecil dan dalam sedetik kita pun akan difoto tanpa aba-aba. Foto ini dicetak diatas tiket masuk. Jadi jangan lupa pasang senyum paling manis dan pose paling aduhai, lumayan kan tiketnya bisa dibawa pulang jadi kenang-kenangan dan bukti kita pernah menjejakkan kaki di tanah Siem Reap :mrgreen:
Tiket masuk ini diperiksa setiap kali kita memasuki candi dan akan dibolongi kalau kita sudah mengambil jatah satu hari dari 3 hari yang tersedia di 3 day pass itu.

Angkor Archaelogical Park TICKET!

Angkor Archaelogical Park TICKET!


Melanjutkan perjalanan ke Banteay Srei, kami menikmati pemandangan di kiri kanan yang masih alami. Danau, pematang sawah, kerbau, rumah penduduk yang seperti rumah panggung dan berjarak cukup jauh antara satu rumah dengan rumah lainnya… rasanya kok seperti di desa ya… memang sih jalanannya selalu beraspal mulus, tidak ada jalanan yang berlubang. Tapi kesan sederhana itu sungguh terasa, bahkan gedung bioskop pun hanya seperti rumah biasa yang sangat sederhana. Belum lagi warga lokal yang berpapasan dengan kami. Raut wajah mereka sama dengan pemandangan disepanjang perjalanan: tampak polos dan sederhana.

Setelah hampir 30 menit, satu demi satu diantara kami mulai merasa mengantuk. Angin sepoi-sepoi sepertinya berkontribusi besar meninabobokan kami. Sambil menahan kantuk kami mulai bertanya-tanya, kenapa kami belum sampai juga? Lalu kenapa jalanan semakin sepi? Apakah Bang Ratha benar-benar tidak berniat jahat pada kami? Harus ke mana kami pergi jika terjadi sesuatu, mengingat betapa sepi dan sunyinya jalan yang kami lewati?
Ujung dari pertanyaan-pertanyaan kami bermuara pada satu pertanyaan. Apakah ada blog yang bercerita berapa lama perjalanan ke Banteay Srei? Atau bagaimana kondisi perjalanannya? Dan kami sepakat, tidak ada! Ya kalaupun ada, berarti kami tidak membacanya 😆
Tidak kuat menahan kantuk, gw pun tertidur dengan harapan bisa segera sampai di tujuan. Hampir satu jam kemudian gw bangun, dan kami belum juga sampai. Astaga. Mengapa tidak ada blog yang menceritakan betapa lamanya perjalanan ke Banteay Srei ini??? Gw dan Vika pun sepakat untuk mengabarkan berita ini pada dunia *apa sih apa sih*

Ketika akhirnya terlihat kerumunan tuktuk dan Bang Ratha menepi, kami pun mendapatkan keterangan berapa jarak dari lokasi penjualan tiket ke Banteay Srei. “40 km”, kata Bang Ratha tetap dengan senyum manisnya yang melelehkan hati *eh* *salah fokus lagi* *hatinya Dani sih sebenernya, bukan hati gw*
“Hah!” gw menimpali, “itu sih jarak dari rumah gw ke Kelapa Gading!”
Niat mau liburan tapi kenapa berasa berangkat ke kantor gini ya? 😆

Iya sih kami tau bahwa komplek Angkor Archaelogical Park itu besar, but we never thought it was THAT big!

On the way to Banteay Srei

On the way to Banteay Srei


On the way to Banteay Srei: masih semangat ~~

On the way to Banteay Srei: masih semangat ~~

Lalu apakah Banteay Srei itu?

Dalam Bahasa Khmer, Banteay Srei berarti Kota Para Wanita. Mungkin dinamakan seperti ini karena pahatannya yang halus dan warna bebatuannya yang tampak seperti warna merah muda. Namun konon nama sebenarnya adalah Isvarapura, dalam Bahasa Sansekerta berarti Kota Shiwa. Banteay Srei memang dibangun untuk menghormati Dewa Shiwa, satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu.

Banteay Srei mungkin merupakan candi yang paling kecil dalam Komplek Angkor Archaelogical Park, tapi candi jelas merupakan salah satu masterpiece peradaban Khmer. Tidak lain karena kehalusan pahatannya diatas batu pasir merah muda. Dibangun pada abad ke 10 oleh penasihat Raja Rajendrawarman: Yajnyavahara. Namun, candi ini baru berdiri dengan sempurna di masa pemerintahan Raja Jayawarman V.

Ketika kami memasuki komplek Banteay Srei, hujan rintik-tintik mulai turun. Tapi tak lama segera berhenti, matahari kembali bersinar dan langit pun kembali biru. Konon memang seperti inilah cuaca di komplek Angkor Archaelogical Park, cepat berubah-ubah.

Hanya sekitar satu jam kami didalam dan segera menyudahi kunjungan agar bisa ke tujuan selanjutnya. Sesampainya di parkiran tuktuk, Bang Ratha segera mengangsurkan botol air mineral dingin dan handuk basah untuk menyegarkan wajah yang rasanya sudah sangat lengket dan berminyak.

Banteay Srei #1

Banteay Srei #1


Banteay Srei #2

Banteay Srei #2


Banteay Srei #3

Banteay Srei #3


Banteay Srei #4

Banteay Srei #4


Banteay Srei #5

Banteay Srei #5


Banteay Srei #6

Banteay Srei #6


Banteay Srei #7

Banteay Srei #7


Banteay Srei #8

Banteay Srei #8


Banteay Srei #9

Banteay Srei #9


Banteay Srei #10

Banteay Srei #10


Banteay Srei #11

Banteay Srei #11


Banteay Srei #12

Banteay Srei #12


One of my darlings | Vika

One of my darlings | Vika


***
Phnom Bakheng

Setelah berdiskusi dengan Bang Ratha selaku penasihat tunggal, kami memutuskan mencoret Ta Keo dan Preah Khan dari wish list dan langsung menuju Phnom Bakheng untuk mengejar matahari tenggelam. Saat itu sudah pukul 16:15. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami tidak tau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Phnom Bakheng. “Tenang saja,” kata Bang Ratha, “tidak selama tadi kok, itu tadi sudah yang paling lama,” katanya mendengar kekhawatiran kami. Dia betul. Butuh waktu sekitar 45 hingga 50 menit dari Banteay Srei ke Phnom Bakheng. Pukul 17:00 kami turun dari tuktuk, berbaur dengan pengunjung lain. Dan gw serta Vika kembali bertugas menuliskan hal ini karena setau kami belum ada blog yang menuliskan lamanya waktu tempuh antara kedua candi itu.

Tanggung jawab gw dan Vika bertambah ketika kami menyadari bahwa untuk sampai ke Phnom Bakheng ternyata kami harus berjalan cukup cepat di jalanan dengan kontur yang terus menanjak dengan kemiringan 40 hingga 50 derajat selama kurang lebih 15 hingga 20 menit untuk sampai ke area Phnom Bakheng, dan sejauh ini kami tidak pernah membaca informasi ini di blog-blog orang.

Ketika akhirnya kami bertemu kembali dengan tanah yang datar, itulah tanda kami sudah sampai di Phnom Bakheng. Tapi jangan senang dulu, saudara-saudara. Kita masih harus menaiki tangga Phnom Bakheng untuk dapat melihat keindahan matahari tenggelam. Kami pun turut mengantri bersama pengunjung lain dan dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke puncak candi. Total waktu skitar 30 menit dibutuhkan sejak turun tuktuk hingga menapak di anak tangga terakhir Phnom Bakheng.
Dan sesampainya di atas… oh la la… nawaitunya sih mau lihat sunset tapi kenapa jadi lihat lautan manusia begini ya?

Berjalan menanjak menuju Phnom Bakheng

Berjalan menanjak menuju Phnom Bakheng


Antri menunggu giliran menaiki tangga Phnom Bakheng

Antri menunggu giliran menaiki tangga Phnom Bakheng


Masih antri... masih antri...

Masih antri… masih antri…


Phnom Bakheng, viewed from the queue

Phnom Bakheng, viewed from the queue

Awalnya gw dan Vika masih berjuang mendapatkan foto sunset nan ciamik buat bahan pamer di blog *eh*, tapi sesaknya manusia, ditambah kalah saing dengan bule-bule berbadan tinggi besar dan kalah agresif dengan turis-turis asia timur yang agak nggak sopan berseliweran di depan lensa kamera, membuat gw dan Vika akhirnya menyibukkan diri dengan objek foto lainnya.

So how could we took the sunset?

So how could we took the sunset?


Phnom Bakheng #1

Phnom Bakheng #1


Phnom Bakheng #2

Phnom Bakheng #2


Phnom Bakheng #3

Phnom Bakheng #3


Phnom Bakheng #4

Phnom Bakheng #4


Phnom Bakheng #5

Phnom Bakheng #5


Phnom Bakheng #6

Phnom Bakheng #6

Sedikit cerita untuk menambah wawasan, Phnom Bakheng dibangun pada masa Raja Yasowarman untuk memuja Dewa Shiwa. Dibangun dengan bentuk menyerupai gunung, Phnom Bakheng adalah symbol dari Gunung Meru yang dipercaya menjadi rumah dari dewa-dewa Hindu.

Mendekati pukul 18:00, para petugas penjaga candi mulai menggiring para pengunjung untuk turun dan keluar dari area candi. Mereka cukup tegas, dan tidak segan berteriak jika ada pengunjung yang ngeyel belum mau turun. Hanya karena kemampuan Bahasa Inggris mereka yang mungkin masih terbatas, terkadang kemarahan mereka malah jadi satu hal yang lucu. Contohnya ketika mereka berusaha ‘mengusir’ beberapa turis yang masih bertahan dan si turis berupaya memberikan alasan, petugas penjaga candi langsung berkata ‘I don’t know! I don’t know!’. Maksudnya mungkin ‘saya nggak mau tau alasanmu’ tapi ya itu tadi, mereka mengatakan ‘I don’t know’ instead of ‘I don’t care’ atau ‘I don’t wanna know your reason’.

Perjalanan dari puncak Phnom Bakheng ke parkiran tuktuk sepertinya lebih menantang dari perjalanan saat pergi. Tak lain dan tak bukan karena tiadanya penerangan sepanjang perjalanan. Dengan berbekal cahaya dari handphone, kami pun menuruni jalan berdebu. Tak lupa dalam hati membaca Ayat Kursi.

Kegelapan itu terus berlanjut bahkan hingga ke tanah lapang tempat parkirnya puluhan tuktuk yang menunggu konsumen masing-masing. Bagaimana kami bisa menemukan Bang Ratha ditengah lautan tuktuk dengan bermodalkan penerangan hanya dari bus pariwisata ataupun motor yang lewat?
Celingak-celinguk kanan-kiri, akhirnya tampak Bang Ratha melambai-lambaikan tangannya memanggil-manggil kami. Entah bagaimana dia bisa mengenali kami di tengah kegelapan itu. Yang jelas kami sangat lega dan senang bertemu si abang. Kalau menurut Vika dan Dani, senangnya bertemu Bang Ratha saat itu seperti ketemu pacar, nah berhubung gw belum pernah ketemu pacar *ataupun mantan pacar* *eh* maka bagi gw rasa bahagia ketika bertemu Bang Ratha itu seperti bahagianya ketemu gebetan *apa sih Keee*.

Perjalanan dari Phnom Bakheng ke hotel memakan waktu sekitar 30 menit. Pukul 19:10 kami tiba di hotel dan setelah berjanji untuk esok pagi, Bang Ratha pun undur diri. Kami menaruh tas di kamar dan segera turun. Waktunya mencari makan malam.

***
Angkor Night Market

Saat perjalanan pulang tadi, Bang Ratha sengaja mengambil rute yang agak berbeda karena dia ingin menunjukkan letak Old Market yang ternyata memang tidak jauh dari Angkor Night Market dan itu artinya juga tidak jauh dari hotel kami. Maka pencarian makan malam pun berawal dari Old Market. Gagal menemukan restoran berlabel halal di Old Market, kami berpindah sasaran ke Angkor Night Market. Diawali di Pub Street, kami akhirnya berlabuh di sebuah restoran India berjudul Namaste (Taste of India).

Pada awalnya Dani mengusulkan untuk kembali makan tengah, tapi langsung di tolak oleh Didito. Akhirnya kami memesan makanan masing-masing. Gw memesan chicken biryani dan banana milkshake. Soal porsi jangan ditanya, tapi citarasanya sepertinya kurang mantap jika dibandingkan dengan makanan India di Indonesia, Malaysia, atau Singapura. Mungkin takaran bumbunya sudah disesuaikan dengan lidah lokal yang sepertinya memang lebih malu-malu menggunakan bumbu.

Chicken Biryani for dinner

Chicken Biryani for dinner


Dani's choice for dinner: some kind of chicken fried rice

Dani’s choice for dinner: some kind of chicken fried rice

Didito's Fish Thali

Didito’s Fish Thali


Vika's fried rice

Vika’s fried rice


Selesai makan, kami kembali menyusuri Angkor Night Market dan berakhir dengan kegiatan tawar menawar krama di satu sudut pasar. Krama adalah kain khas Kamboja yang tersedia sepertinya hanya dalam dua pilihan motif: kotak-kotak atau garis-garis. Krama biasa digunakan sebagai syal atau selendang. Sungguh berbanggalah dengan batik yang kaya motif dalam balutan warna menarik, atau tenun rangrang dengan warna-warna neonnya, kain jumputan yang cantik, songket dan tapis yang mewah, atau kain lurik yang unik, dan banyak jenis kain khas Indonesia lainnya.

Kami berjalan pulang dengan tentengan masing-masing. Judul boleh sih traveling irit, tapi naluri belanja perempuan kadang memang susah ditahan, mungkin memang sudah bawaan orok.
Sekitar pukul 22:00 kami sampai di hotel. Saatnya berpisah dan mengucapkan selamat tidur pada Vika dan Dani.

Krama: kain tradisional khas Kamboja

Krama: kain tradisional khas Kamboja

Pengeluaran:
.Aerobus Bus KL Sentral – klia2 RM 10
.Tumblr Starbucks RM 38
.Coklat-coklat di convenience store klia2 RM 56,70
.Burger King french fries & mineral water RM 4,20
.Angkor National Museum USD 12
.Beef Climbing Mountain USD 7
.Amok USD 4,5
.Ice Milo USD 1
.Angkor 3 days pass USD 40
.Chicken Biryani USD 5,25
.Banana Milkshake USD 2
.Krama Cotton each USD 2,7
.Krama non-cotton each USD 2

[LOOBIE LOBSTER] Lobsters & Shrimps

The Lobster greets you, beauty! *eh*

The Lobster greets you, beauty! *eh*


Hello! Finally a ‘proper’ writing! :mrgreen:

Couple months ago, Pichu and Adedi celebrated their birthday and brought us to eat out. They chose LOOBIE LOBSTER at Gunawarman and there we were at this minimalist white and blue restaurant.

SAMSUNG CSC

The Platter

The Platter


And this was what we got with Whole Lobster Platter 250 – 300 gr: Grilled Lobster *of course!* | Fried Calamari | Sambal Garlic & their signature Sambal Matah | IDR 115.000

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:

Apapun makanannya, minumnya MILO saja *ya itu sih elo aja kali, Ke* :mrgreen:


I’m a diehard fans of Milo, so here was my drink | IDR 17.500

Fin!

Fin!


The food was good, there was nothing so special though. Yet, the affordable price which makes lobster is for everyone, well that one really hits the crowd. Best deal for a tasty and creamy Borneo’s lobster, I must say.

Just try to come earlier before lunch time to avoid the line. We arrived several minutes to 11 am, which they were about to open, and we were the first customer came at the time.
Well, the place is tiny and they serve approximately 20 seats so that’s the one that makes line and not because of any other causes. And the ambience itself surely not for you who want to sit back and relax.
Finish your meal and grab your belongings and go. There are people waiting for your seat.

A gentleman & para shalihah

A gentleman & para shalihah


The Lobster Eater: Didito | Adedi | Tante Cantik #1 | Pichu | Ninong feat. Fathar

Thank you, Tante Ikan & Tante Cantik #2!

LOOBIE LOBSTER
http://www.loobielobster.com | Jl. Gunawarman No. 32 Jakarta Selatan | Open 11:00 – 22:00

[Milan Pizzeria Cafe]

About centuries ago, when dinosaurs still playing soccer with mammoth, I and Pichu tried a new chill out place at Margonda. Yeah we grew up in Depok so where else would we go? 😆
Nice ambience, good location with affordable price, yet no fancy taste.

Pictures only, please. Bear with me :mrgreen:

???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
??????????????????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????

[Sunny Side Up] Perfect Eggs Everytime!

Such a late post!
Alasannya, karena ingin menamatkan cerita Hong Kong Trip dulu kan… tapi seperti biasa, ketika lagi semangat-semangatnya menulis, eh ya ndilalah laptop akika ngambek. Layarnya mati tiba-tiba dan tak hidup-hidup lagi hingga kini. Bapak-bapak ahli servis segala jenis kerusakan komputer yang biasa datang ke kantor, entah kenapa mendadak jadi susah sekali dihubungi. Jadilah banyak calon tulisan terlantar. Sampai-sampai skype pun lewat hape lho bok! *kode*

Dan karena terlalu lama hiatus menulis, mood Hong Kong Trip ikut menguap diterjang legal review dan pelototan si Bapak *alesyaaaaannn*
Yaudindeh, kita coba aja cerita soal tempat makan yang gw coba bersama Nyonya Besar sebelum gw capcus ke Hong Kong. Motif lain selain makan-makan adalah, membiasakan diri dengan baby S, maksudnya supaya saat di Hong Kong gw bisa menghasilkan foto yang ciamik :mrgreen:

Tapiiiii… karena acara memamah biak ini pun sudah berlalu cukup lama, mohon maaf gw tidak bisa bawel seperti biasanya karena daya ingat gw mulai melemah *uhuk!*. Sedikit foto dan keterangan seadanya saja ya!

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal. Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan  Omega-3  lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat. Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Dalam kesempatan mengunjungi Kota Kasablanka beberapa bulan lalu *tuh kan, udah lama!*, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan siang di Sunny Side Up yang menawarkan hidangan serba telur yang menggunakan telur ayam arab instead of telur ayam negeri atau telur ayam kampung seperti yang selama ini kita kenal.
Konon, telur ayam arab memiliki kandungan betakaroten dan Omega-3 lebih tinggi dibanding telur ayam kampung, ini ditandai dengan bagian kuning telurnya yang berwarna orange, juga lebih besar dan lebih kenyal, jika dibandingkan telur ayam kampung yang kuning. Nah, Omega-3 itu sendiri kan sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Selain itu, telur ayam arab juga tidak menimbulkan alergi, bisul, dan jerawat.
Yang unik dari telur ayam arab ini, walaupun namanya ayam arab, tapi sebenarnya berasal dari Belgia.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk... dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Sunny Side Up didominasi warna kuning dan putih ala telur dan biru langit yang lembut sehingga mengesankan suasana makan yang nyaman dan akrab. Kursinya didominasi warna oranye menyala, bagian langit-langitnya pun dihiasa seolah telur mata sapi, ada juga sudut yang dibentuk menyerupai telur. Seragam para pelayannya juga lucuuuuukkk… dan supervisor on duty-nya *atau managernya ya?* saat itu super ramah. Entah mungkin karena saat gw dan Nyonya Besar sampai, pengunjung belum banyak walaupun sudah jam makan siang, atau karena dia melihat gw membawa baby S.

Ouch!

Ouch!

The Menu. Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah. Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, karena dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung.

The Menu.
Lanjutin sedikit soal jagoan kita kali ini ya. Walaupun berasal dari Belgia, tapi kenapa si ayam disebut sebagai ayam arab? well, no offense ya, gw juga dapetnya dari internet, tapi konon pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi *ouch!* dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah.
Ayam arab pun fungsinya hanya sebagai ayam petelur saja, namun dagingnya lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging.

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500 Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef's recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

Mine: Egg Benedict Barbeque Sauce | IDR 45.500
Verdict: mashed potatonya lumayan, telurnya not bad, daging burgernya nggak lembut tapi juga nggak alot. Sayang disajikannya kurang hangat dan saus barbequenya juga terlalu manis kalo di lidah gw. Overall, biarpun ini chef’s recommendation, bagi gw menu pilihan gw ini biasa-biasa aja, nggak ada yang istimewa

My Mom's: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000 Ini juga salah satu chef's recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

My Mom’s: Creamy Salmon Omurice | IDR 49.000
Verdict: ini juga salah satu chef’s recommendation. And as it names, nasi goreng tanpa kecap yang dibungkus telur dadar ini sangat creamy dan good news, mereka nggak pelit ngasih potongan daging ikan salmonnya. Overall, menurut gw menu Nyonya besar ini lebih oke daripada egg benedict gw,. tapi kenapa ya, ada kulit pangsit ditancapkan diatasnya?

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000 Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya... tapi porsinya sungguh mantab lah!

Appetizer: Cheese Finger | IDR 22.000
Standar gw sebagai penggemar keju, untuk appetizer gw memilih Cheese Finger. Cheese Finger ini sebenernya Mozzarella Cheese yang digoreng, tapi kok rasanya kurang melted ya… tapi porsinya sungguh mantab lah!

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000 Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk... trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah... mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa :lol: Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm... Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa... keliatan kan dari gelasnya *hihihi* Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

Drinks: Cappuccino White Yolk Juice & Strawberry white Yolk Juice each IDR 33.000
Kesan pertama: gelasnya besar ya kakaaaaakkk… trus bagian handlenya itu kan berupa otot bisep/trisep/whatever gitu, cucok lah… mungkin setelah minum jus putih telur berperisa ini kita diharapkan bisa langsung kekar perkasa 😆
Gw memilih cappuccino sementara Nyonya besar memilih strawberry. Hmm… Cappuccino White Yolk Juice-nya biasa aja sih menurut gw, cappuccinonya nanggung dan putih telurnya pun nggak terlalu berasa. Sementara Strawberry White Yolk Juicenya juga hampir sama, strawberrynya kurang mantap dan secara keseluruhan rasanya kurang manis. Point plus-nya; amis putih telurnya tidak tercium sama sekali, dan porsinya besar yaaa… keliatan kan dari gelasnya *hihihi*
Oya, konon, untuk membuat satu gelas white yolk juice ini dibutuhkan 5 hingga 6 butir putih telur.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.

And here she is. Nyonya Besar. My Mom.

My Two Favorites Guy

“My two favorites guy juggling in bloody game”

Begitu bunyi status whatsapp gw kemarin sore yang gw tulis langsung dari pinggir lapangan sepakbola stadion Siliwangi. Kemarin dan hari ini memang ada acara-acara ‘ekstrakurikuler’ yang rutindiadakan setiap tahun. Kalau hari ini sedikit lebih ‘serius’ karena full workshop *yang gw tidak ikuti karena harus mengurus akad* *yang sayangnya bukan akad nikah* *eh* maka acara kemarin lebih fun dan santai. Pagi hingga siang menjelang sore kami dibekali wejangan-wejangan yang diharapkan menginspirasi dari jajaran direksi, selepasnya kami menjadi penggembira menonton para direktur dan group heads itu bertanding bola.

Beberapa hari sebelumnya gw sempat mengintip daftar tamu VVIP dan VIP yang hadir. Gw langsung girang gembira ketika melihat nama Group Head Legal ada di daftar undangan. Sudah jadi rahasia di blog ini kalau gw sangat mengagumi dan sukaaaaa sekali sama Group Head Legal yang tiada tandingnya itu.

Maka kemarin sejak awal acara, gw sudah rajin memutar kepala mencari-cari sang Group Head Legal. Hingga menjelang pertandingan bola, gw belum menemukan beliau dan berkesimpulan bahwa mungkin beliau batal hadir. Sampai akhirnya LO wilayah menghampiri gw dan berkata kalau dia bertemu sang Group Head Legal! Woooww… gw histeris dong seketika *memang lebay tapi biarkanlah* langsung semangat mencari lagi, dan tetap nggak ketemu 😆

Akhirnya gw dan LO wilayah duduk dipinggir lapangan, tepatnya di bench tim kuning. Sebagai informasi, Bapak merupakan salah seorang anggota tim biru, sebagai gelandang dengan nomor punggung 17. Ngomong-ngomong, masih pada inget Bapak kan?

Sekonyong-konyong, ketika gw sedang bengong memandangi rumput hijau dikejauhan, datanglah Pak Group Head Legal mendekati.
“Mbak, apa kabar?” katanya sambil menyebut nama gw dan menjabat erat tangan gw. Wajahnya selalu terlihat tersenyum seperti biasa. Kind of surprise to me karena beliau ingat nama gw, ingat kalau gw salah satu LO, ingat gw LO di unit mana. Maksud gw, woooooiiiii… dia aja yang ketemu gw paling setahun dua kali, masih inget nama gw. Lha ini kok yang ketemu tiap hari seringnya malah ”siapa namamu?” *curhat ini emang*
Dan masih maksud gw, dia aja yang secara jabatan jauuuuuhhh diatas gw masih mau nyebut nama gw, lha ini yang temen sendiri kok setiap ngobrol nggak pernah sekalipun nyebut nama gw… hati-hati nama gw ketuker sama boeing atau airbus deh.

Balik lagi ke masalah persepakbolaan, Pak Group Head Legal ternyata masuk ke tim kuning, sebagai penyerang dengan nomor punggung 4. Jadi, tau dong man to man nya sama siapa? Yesssss pemirsa… sama Bapak 😆

Dan bagi yang belum tau, gw adalah fans Bapak garis keras :mrgreen:

So yes… it was me watching ’my two favorites guy juggling in bloody game.’

Bloody karena ada kecelakaan kemarin itu, yang membutuhkan 5 jahitan di pelipis.

Dan gw memang senang melihat cowok yang gemar olahraga *kalo jago, ya itu bonus yang bikin tambah keren*… sepertinya memang seperti itulah cowok seharusnya. Yatapi kalo lebih jago bikin pesawat terbang nggak apa-apa juga sih… :mrgreen:

***
Malamnya, seusai olahraga, giliran tiap unit kerja menampilkan apa saja yang bisa dibanggakan, dan ditutup dengan live band dimana para direktur dan group heads menjadi vokalis utamanya. Dan lagi-lagi gw senang sekali dengan Pak Group Head yang keren tiada dua karena dia sungguh-sungguh membaur dengan semuanya dan tanpa ragu-ragu bernyanyi penuh semangat dan keriaan.

Dan ketika akhir acara dia kembali menyalami gw, mengucapkan terimakasih dan harapannya, gw sungguh merasa dihargai.
Gw nggak peduli dia basa-basi atau mungkin baru menghafalkan nama gw, tapi dia menunjukkan kepedulian sehingga gw merasa keberadaan gw diakui, walaupun gw bukan LO jagoan, gw masih junior, gw lebih banyak diam dalam diskusi antar LO, dan kredit bisa tetap jalan tanpa kehadiran gw.

Snow White and Seven Dwarfs

I am alone in solitude.
I have no team, i have unusual and unclear organisation line on to whom i am actually belong. I am easily and even often forgotten.

Thanks to Allaah, however, i have my corps.
It is not snow white and seven dwarfs. It is simply me and seven Sirs. Seven crazy guys in Sumatera and Borneo and West Java.

I love them 😉

Kick Off!

So as I promised Vika to post something vulgar tonight… this is it!
Tetapi yaaa… kevulgarannya cukup Vika yang tau dong ah :mrgreen: jadi cukup menikmati foto-foto aja beserta komentar seadanya tanpa alur cerita ya…

Anyway all pictures belong to Mr. Adil, one of my colleagues.

Kisahnya, jumat dan sabtu kemarin unit kerja tempat gw dipinjamkan oleh Legal Group *apasih apasih* mengadakan acara penandatanganan target tahun 2014 sekaligus kickoff program budaya. Yes sodara-sodara, institusi gw emang agak banci acara-acara ekstrakurikuler diluar pekerjaan yang diharapkan akan melekat nilainya dalam kehidupan sehari-hari dan bisa meningkatkan level engagement dan kinerja karyawannya. Sebenernya kita udah pengen bikin kickoff ini beberapa minggu yang lalu, tapi dirasa kurang matang persiapannya. Untunglah Bapak paham dan malah oke-oke aja kalo kickoff diundur hingga kami dirasa siap. Maklumlah, namapun saingan sama tetangga sebelah *yang notabene satu lantai satu ruangan tanpa sekat ya cyiiiiinnn* jadi semua-semuanya harus lebih bagus dari sodara tiri itu. Pokoknya kompetitif abis lah. Senggol bacok :mrgreen:

Kami berangkat jumat sore, kecuali tim Cerbon Je! yang berangkat langsung dari Cirebon dan langsung menuju tempat acara di Gracia Resort & Spa di Lembang agak coret. Acara perdana adalah tandatangan target dan komitmen. Seperti biasa, karena tiada tim gw pun bergabung ke tim HPM. Selesai tandatangan, langsung berendam di kolam air hangat. Sampe kisut.
Terus balik ke kamar masing-masing dan langsung terbang ke singapur tidur. Foto-foto penandatanganan target dan komitmen belom bisa di share karena gw belom minta ke H.

H
Ini si H, ketua tim budaya yang lagi kasih wejangan sebelum kami berangkat ke pos permainan pertama

Sabtu pagi, sebelum kickoff panitia mengadakan games seru lucu-lucuan gitu. Lumayan juga karena saat itu *dan sampe sekarang* kaki gw dalam keadaan terkilir. Agak nggak enak sama teman-teman satu tim karena memperlambat pergerakan. Untunglah kami selalu menang disetiap permainan :mrgreen:

first task
Tim-nya Bapak. Ceritanya serius diskusi di pos pertama. Tapi tetep lah yang menang kelompok gw dong ah! *ketawa genit* *digoreng*

ieu teh ngapain atulah
Ini kenapa kaaahh berpelukan dengan ekspresi ketakutan gini? :mrgreen: seinget gw ini pos permainan ketiga deh, dimana kami harus buat lingkaran dari koran tanpa terputus dan seluruh anggota tim harus bisa masuk di dalam lingkaran itu.

menang lagi yeaaayy!!!
Dan selalu yang menang ya kelompok gw laaaaahhh *jumawa*

priza anggara
Dan kami berutang kemenangan sama Priza nih, yang sejak hari ini sudah tidak bergabung di institusi ini lagi. Priza was an incredible additional player of our team. Meskipun pada akhirnya kelompok gw harus puas di tempat kedua *cuma karena kalah di game ke lima cyiiiiinnn!*…tapi di rentetan kemenangan tiap game itu Priza punya andil luar biasa.

Dan setelah selesai games, kami kembali nyemplung ke kolam, tapi kali ini setengah badan aja ya… kecuali para perempuan palang merah yang harus ikhlas berdiri dipinggir kolam.

#1
Formasi lengkap

ruined the picture hahaha
And I ruined the picture 😆

all female with Bapak
All ladies and a gentleman. Bapak, maksud gw.

Sekian random blabs malam ini.

And guess what?
Well, I reckon the honeymoon seems to be over and now we start the phase of ‘perpisahan meja makan dan tempat tidur’. I hope not 😉

[Marugame Udon] Udon & Tempura

Asal muasalnya adalah ketika sepulang gw mengadopsi baby S, gw dan Vika memutuskan untuk cari makan di mall terdekat sambil cuci mata, ya siapa tau ada yang lain yang bisa diadopsi gitu kan. Nah sementara Vika shalat, gw melihat-lihat sekeliling mencari-cari tempat makan karena emang udah waktunya makan siang. Sekonyong-konyong mata gw tertumbuk pada satu gerai yang terlihat rame banget. Antriannya mengular naga panjangnya and when it comes to food, queue should be a good sign, iya nggak sih? Iya aja lah kakak… :mrgreen:

Sempat terpikir apa mau makan di tempat itu aja, tapi karena pas nanya Vika sebagai ratu mall dan ternyata dia juga belum pernah makan di sana, niat itu gw urungkan. Tapi satu hal jelas, sepulangnya gw langsung cari info sana-sini, kasak-kusuk di internet dan menemukan banyak review yang buagus banget dan menggiurkan soal si tempat itu. Bahkan tempat itu sampai digadang-gadang sebagai the best place to eat that kind of … *sengaja dikosongin biar penasaran* *yakaleee penasaran* 😆
Nah… jadi kepikiran kan, makin mupeng kan… *so easy to seduce me yaaa*

Kesempatan datang ketika gw dan Nyonya Besar cari-cari bahan di Mayestik. Dari sebelum berangkat gw emang udah meminta Nyonya Besar untuk makan di sana.
Doh! Emangnya makan apa sih Ke? Kok ribet banget prolognya? :mrgreen:

Makan ini lhooo…
.
.
.
.
.
*hening*
*ditinggal pembaca* *yakalo ada* *kalo ada yang ninggalin, maksudnya*
.
.
.
.
.
Oke, sebelumnya kita lihat dulu apa kata Wikipedia mengenai santapan kali ini.

Udon (饂飩?, usually written as うどん) is a type of thick wheat flour noodle of Japanese cuisine.Udon is often served hot as a noodle soup in its simplest form, as kake udon, in a mildly flavoured broth called kakejiru, which is made of dashi, soy sauce (shōyu), and mirin. It is usually topped with thinly chopped scallions. Other common toppings include tempura, often prawn or kakiage (a type of mixed tempura fritter), or aburaage, a type of deep-fried tofu pockets seasoned with sugar, mirin, and soy sauce. A thin slice of kamaboko, a halfmoon-shaped fish cake, is often added. Shichimi can be added to taste.

Dan melihat bentuk mie-nya yang tebal, gw teringat pada jjambbong atau champong, salah satu hidangan Korea berupa mie yang disajikan dengan kuah merah yang pedas dengan beberapa jenis makanan laut dan sedikit sayuran didalamnya. Hanya sepertinya tekstur mie pada udon lebih tebal dan kenyal. Jjambbong sendiri diperkirakan berasal dari Jepang, masuk ke Korea dan mendapat pengaruh dari Cina.
Jadi jelas dong makan apa gw dan Nyonya Besar kali ini. Dan di mana lagi makannya kalo bukan di meja makan tempat makan udon paling hip di jagat Jakarta!

???????????

Kebetulan gw masuk dari South Gate-nya Gandaria City, jadi begitu masuk langsung naik eskalator di sisi kanan kita dan sampailah kita di Upper Ground. Begitu menjejakkan kaki di Upper Ground, tanpa perlu mencari-cari kita bisa langsung menemukan posisi Marugame Udon karena letaknya yang memang mencolok mata. Tepat di tengah, dan dengan huruf-huruf neon ukuran besar yang berpendar terang benderang. Dari jauh terlihat antrian pengunjung yang ingin memesan makanan.
Dan ternyata, kalo gw nggak salah membandingkan dengan tempat lainnya yang sejenis di sana, Marugame Udon menempati area yang lebih luas. Konsepnya open kitchen, dimana pengunjuang harus memesan terlebih dahulu baru boleh memilih tempat duduk. Itupun ditentukan, ada area untuk pengunjung yang datang hanya berdua dan area lain untuk pengunjung yang datang dengan kelompok lebih dari dua orang. Pengunjung yang hanya dua orang ditempatkan di depan open kitchen. Jadi sambil makan, kita bisa melihat lalu lalang orang dengan leluasa, juga melihat-lihat ada apa di Ground Floor.

???????????
???????????
???????????

Konsep open kitchen ini entah bagaimana memberikan energi dan semangat tersendiri bagi pengunjung, paling tidak itu yang saya rasakan. Melihat para petugas meracik makanan dengan sigap di belakang tumpukan mangkok, panci berisi kuah panas, ataupun barisan tempura, membuat kita merasa senang dan bersemangat juga. Sikap cekatan mereka membuat saya berpikir bahwa mereka well trained dan nggak hanya itu, mereka juga melayani dengan hati. They smiled, nggak ada tuh yang namanya cemberut. Bahkan mereka menjelaskan dengan sabar hal-hal yang ditanyakan pengunjung. Wajar kan konsumen ingin tau tentang segala sesuatu yang dibelinya? Dan jempol juga buat pengunjung lain yang antri, nggak ada yang mengomel karena antrian jadi berjalan pelan.

Kami melihat-lihat menu yang terbagi menjadi dua bagian besar yang terdiri dari 8 pilihan udon dan 4 pilihan nasi dengan harga tertinggi ada di angka IDR 50.000. Nyonya Besar memilih Tori Baitang Udon [IDR 40.909], udon yang disajikan dengan kuah kaldu kental berwarna putih pucat dan tiga buah bola-bola ayam dengan ukuran yang cukup besar. Sementara gw dari awal tak tergoyahkan memesan Mentai Kamatama Udon [IDR 45.455], udon yang disajikan dengan saus spesial, diberi topping telur ikan mentaiko dan telur ayam ½ matang *kayaknya banyakan mentahnya sebenarnya* yang dipecahkan didepan gw. Nyonya Besar mengernyit.

???????????

Untuk minumannya, yang jelas tertera ada 3 pilihan. Ocha dingin, ocha panas, dan air mineral. Tapi ada juga pilihan minuman soda kalengan, yang ini gw tau begitu melihat isi lemari pendingin didepan kasir. Ocha dingin dan sebotol kecil air mineral sama-sama dihargai IDR 9.091, dan khusus untuk ocha kita bisa refill sesuka hati.

Sebagai pelengkap makanan utama, kita bisa memilih Inari *sejenis nasi dipadatkan trus dibungkus tofu goreng gitu ya* dan Tempura yang tersedia dalam berbagai varian. Mulai dari kakiage alias tempura sayur, broccoli tempura, ebi tempura, cuttlefish tempura alias tempura sotong, tori tempura alias tempura ayam, dan lainnya. Ada 2 harga yang dibandrol untuk inaki dan tempura ini, yang dibedakan dari warna papan nama yang ditaruh di depan tempura-tempura itu. Kecuali Inari yang papan namanya berwarna putih dan dihargai kisaran IDR 10.000, tempura terbagi menjadi tempura dengan papan nama warna hitam dan warna merah. Mungkin papan hitam itu kelas premium ya, karena dihargai lebih mahal daripada yang papan merah. Tempura berpapan nama warna hitam, seperti ebi tempura dihargai kisaran IDR 12.000/pieces, sementara tempura berpapan nama warna merah, seperti broccoli tempura dihargai IDR 10.000/pieces. Kami memilih 1 buah ebi tempura [IDR 12.727], 1 buah tori tempura [IDR 10.909], dan 1 buah cuttlefish tempura [IDR 10.909].

???????????

Poin plusnya, gw pernah baca pada suatu sumber, konon katanya, tempura yang dihidangkan sangat-sangat segar ‘baru matang dari penggorengan’. Jadi kalau sudah lewat beberapa menit sesuai standar mereka dan tidak ada yang mengambil tempura tersebut, tempura itu akan dikembalikan ke dalam dan tidak akan dihidangkan.
Nah setelah kelar urusan pesan makanan comot tempura dan bayar-membayar, kita bisa menambahkan topping sesuai keinginan. Mulai dari wijen, cacahan jahe, sampai irisan cabe, lengkap disediakan di satu konter berbarengan dengan sumpit dan sendok.

Lalu gimana rasa si udon? Is the udon really that good?
Something claimed really good usually turned out that it wasn’t that good.

But not for this one.
Honestly, the udon is really GOOD!!!

???????????
???????????
Enough speaking. The review said it right. Mentai Kamatama Udon pilihan gw was superb! S.U.P.E.R.B.
Walaupun setengah matang, tapi nggak ada amis-amisnya sama sekali. Oh, cara makannya, you ask? Di aduk jadi satu dong, sehingga merata semuanya. Dan ya, disantap panas-panas. I assume kalo rasa lezatnya mungkin akan berkurang sedikit kalau dimakan saat sudah mendingin. Sementara Tori Baitang Udon-nya Nyonya Besar juga mantaaaaappp!!! Kuah kaldunya gurih dan bola-bola daging ayamnya pun cihui. Apalagi porsinya juga mengenyangkan. Sampe makan tempuranya pun harus pelan-pelan saking kenyangnya :mrgreen:

Dan apa kabar tempura?
???????????
Kebetulan saus khusus tempura disediakan di tiap meja. Kalo gw dan Nyonya Besar kan makan tempura sebagai makanan penutup, jadi setelah udon habis, tiba waktunya makan gorengan yang dicocol ke saus tersebut. And it was good! Tempuranya besar-besar dan itu memang tempura, maksud gw, bukan tepung goreng ala tempura-tempuraan dimana yang tebel itu justru tepungnya :mrgreen:

Tapi teteuplah, paling juara itu udonnya.
Sekarang jadi ketagihan, dan pengen ke sana lagi buat nyobain varian lainnya. Marugame Udon the best place to eat udon they said…

???????????
???????????

They said the truth 😉

[Golden Egg] Tart & Bakery

Setiap kali jalan-jalan, ada semacam tradisi untuk membawa buah tangan bagi orang rumah. Tidak harus, tapi diusahakan ada sesuatu yang disuguhkan. Kali ini, gw mengajak Nyonya Besar untuk mencoba egg tart ala Portugis yang tersohor itu.

Langsung menuju lantai 2 Gandaria City, agak sedikit ke pojok kita bisa menemukan Golden Egg Tart & Bakery. Dari namanya aja udah ketebak ya apa saja yang mereka jajakan. Jagoan utamanya tentu egg tart dengan berbagai macam pilihan filling. Selain egg tart, mereka juga menawarkan berbagai jenis muffin, blueberry cheese cake, dan custard pie. Ada juga roti-roti selayaknya toko bakery lainnya, juga kue kering yang dibungkus manis kertas pembungkus berwarna pink dan tosca.

???????????
???????????
???????????

Kalau dilihat dari penampakannya, egg tart ini mirip-mirip sama pai susu khas Bali yang juga terkenal itu ya… tapiii, tentu egg tart ini jauuuuuhhh lebih lembut dan creamy. Dan, kalo egg tart ini kuningnya mengkilap. Dan kayak ada gosong-gosongnya gitu kalo yang Portugese Egg Tart dan Durian Portugese Egg Tart.

Nyonya Besar membeli satu lusin egg tart dengan variasi filling. Ada Portugese Egg Tart, Almond Tart, Cheese Tart, Chocolate & Cheese Tart, Chocolate Egg Tart, Traditional Egg Tart, daaannn… konon jagoannya, Durian Portugese Egg Tart. Harganya cukup terjangkau, IDR 8.500 untuk satu buah egg tart. Kecuali Durian Portugese Egg Tart yang dihargai 400 rupiah lebih tinggi, jadi IDR 8.900.

Sementara untuk dimakan di tempat, kami memilih Brioche Cheese Bread alias Blueberry Cheese Cake. Kue seharga IDR 9.900 ini sangat padat, ngenyangin banget pokoknya… walaupun dari segi rasa tidak ada yang terlalu istimewa. Teksturnya lembut tapi tidak selembut cheese cake lainnya, cukup creamy dan manisnya tidak berlebihan.
???????????

Ini salah satu belanjaan: empat buah Durian Portugese Egg Tart, Portugese Egg Tart, dan Cheese Tart.
???????????

Durian Portugese Egg Tart dan Portugese Egg Tart ini mirip banget tampilannya. Tapi kalo soal rasa, ternyata gw lebih suka Portugese Egg Tart daripada yang durian karena… menurut gw sih Durian Portugese Egg Tart-nya kurang kerasa duriannya, jadi kayak Portugese Egg Tart yang dikasih aroma atau essence durian, bukan dari daging durian asli. Agak kecewa juga tapi ya at least we gave it a try.

Lalu… Almond Tart-nya… muaniiiiisss buangeeeeettt!!! Saking manisnya, gw yang biasanya kalo makan kue tuh langsung abis seketika, untuk si Almond Tart ini gw makannya dikit-dikit. Satu gigitan, masukin kulkas. Satu gigitan, masukin kulkas lagi. Begitu aja terus.
Tapi ternyata, juara diatas juaranya ya Traditional Egg Tart-nya dooonnnggg. Itu enak banget sumpah! Enyaaaaakkk… enyak enyak enyak… Moist, lembut, creamy, manisnya pas, dan nggak amis! Ya semuanya juga nggak amis sih :mrgreen:

Dan, selain rasa yang enak, pelayanan di Golden Egg Tart & Bakery ini ramah dan informatif. Tempatnya sih biasa aja, bukan tipikal tempat buat kongkow lama, ya kan konsepnya emang bakery, tapi bersih dan sofanya juga nyaman kok. Dan walaupun sedikit, beberapa racikan minuman juga tersedia di gerai mereka.

Sudahlah enak, harga terjangkau, pelayanan oke, ternyata si egg tart ini tahan berjam-jam di luar lemari es, tahan sampe 2 hari apa gitu… cakep kan?

Jadi, rekomen nih? Ya cencu dyong qaqaaa… :mrgreen:

[Warung Pasta]

Sekonyong-konyong tanpa ada api ataupun asap, Neng Erma menghubungi gw dan mengajak bertemu. It was a surprised to be frank, karena gw melihat si Neng yang satu ini bagai tenggelam dalam indahnya mahligai cinta setelah berstatus sebagai istri orang *dikekep Neng Erma*
Neng Erma bilang mau traktir, tentunya penawaran ini pantang ditolak dong. Setelah ada titik temu, pada hari yang ditentukan gw pun melenggang tenggo dari kantor. Dan dari kata-kata ‘tenggo’, bisa ditebak ya kalo saat itu si Bapak tentu tak nampak kehadirannya di kantor *sungkem sama Bapake* :mrgreen:

Ini kesannya kok kayak gw nggak bisa keluar kantor sesuai kontrak kerja ya selama si Bapak ada di tempat? Hmm… ya sebenernya bisa nggak bisa sih. Dan banyakan nggak bisanya karena, seperti yang pernah gw tulis beberapa waktu lalu, entah kenapa di zaman Sang Pemimpin Muda yang konon hanif ini kok rasanya seluruh perhatian dan pikiran gw tersita ke pekerjaan, seolah-olah tiba-tiba gw ditimbun dokumen-dokumen dan rapat-rapat yang tak berkesudahan. Maka ketika si Bapak out of office, gw kadang turut melemaskan otot sejenak.

***
“Ke Warung Pasta aja ya,” Neng Erma menentukan tujuan. Maka gw pun menyetop angkot Kalapa-Dago dari perempatan karapitan, dan turun tak jauh dari Warung Pasta. Ketika sampai, Neng Erma ternyata sudah menunggu di meja dekat toilet *penting ya penting ditulis* 😆

Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke sini, tapi baru kali ini berkesempatan mengabadikan dalam bentuk gambar sehingga akhirnya yaaa akhirnya bisa mejeng di blog *penting banget emang* :mrgreen:
menu warung pasta

Neng Erma memesan Baked Meat Lovers ukuran medium dengan pilihan pasta penne, sementara gw memesan Mac n Cheese. Salah satu keunikan makan di Warung Pasta memang pengunjung bisa memilih jenis pasta yang akan digunakan dalam olahan dan ukuran porsi itu sendiri, ada yang medium atau bisa juga pilih large. Tapi dalam kasus gw kali ini, karena gw memilih Mac n Cheese, ya jenis pastanya nggak bisa dipilih lagi karena udah disesuaikan dengan judul makanan, yaitu macaroni.
Untuk cemilan bersama, kami memilih BBQ Crusty Pizza, homemade pizza dengan adonan roti yang tipis dan topping yang cukup crunchy, dan Durian Calzone sebagai pencuci mulut.

erma meatlovers
my mac n cheese
Atas: Baked Meat Lovers-Penne [IDR 25.000, medium size], konon pasta yang dipanggang bersama saus daging, sosis, dan smoked beef. Menurut Neng Erma, rasanya lebih gurih dan lebih ‘ramai’ daripada Bawah: Mac n Cheese [IDR 33.500], pasta yang dicampur dan dipanggang bersama smoked beef, sosis, keju cheddar dan mozzarella. Mac n Cheese sangat ‘keju’ dan ‘creamy’.

beverages and the pizza
Our drinks: Lemon Mint Splash [IDR 17.500], frozen mix dari jus lemon, daun mint, dan es. Banana Milkshake [IDR 15.000]. Entah kenapa setiap kali ke Warung Pasta, gw selalu memesan Banana Milkshake ini. Buat gw rasanya pas, nggak terlalu manis dan rasa pisangnya juga nggak terlalu berat.

bbq crunchy pizza
durian calzone
BBQ Crusty Pizza [IDR 29.900] yang jadi cemilan kali ini adalah thin pizza dengan topping daging ayam asap dicampur saus bbq dan sedikit keju cheddar dan mozzarella sebagai taburan penambah gurih cita rasa. Rasanya average, not that good tapi acceptable. Sementara Durian Calzone [IDR 19.500] si pencuci mulut adalah calzone yang divariasikan lain. Kalau biasanya kita mengenal calzone dengan isi daging atau sayur, kali ini vla durian yang jadi jagoannya. Dan ketika gw bilang ‘vla’, rasanya memang seperti kue sus, lezat daging duriannya kurang terasa. Jadi kayak makan kue sus biasa dengan vla durian.

Varian lain dari calzone yang ditawarkan adalah Cheese Calzone [IDR 21.000]: pastel panggang isi keju cheddar, mozzarella, dan cream cheese. Pertemuan berbagai jenis keju ini membuatnya terasa sangat ‘creamy’, sangat ‘keju’, tapi juga ‘plain’ di satu sisi. Dan… walaupun terlihat ‘gemuk’ seperti ini, tapi sesungguhnya si Cheese Calzone ini sangat ngempos.
cheese calzone

Ngomong-ngomong, selain salad yang biasa jadi hidangan pembuka, boleh juga dicoba Cheese Ball [IDR 15.000]. Satu porsi Cheese Ball terdiri dari 3 buah nasi yang dibentuk seperti bola, digoreng dengan tepung panir, dengan isi keju mozzarella yang meleleh di dalam.
cheese ball

Well then, menurut gw rasa dan harga yang ditawarkan Warung Pasta berada dalam garis lurus yang seimbang, dalam arti, rasa yang ditawarkan cukup sesuai dengan harga yang dipatok. Dengan harga yang sepertinya disesuaikan dengan kantong mahasiswa, pengunjung juga jangan berharap terlalu banyak lah atas rasa yang tersaji. Poin pentingnya kan tetap tercapai kalo menurut gw sih… bisa kumpul berlama-lama bersama sahabat dan teman, entah sekedar cerita atau mengerjakan tugas, ditemani makanan dan minuman dengan rasa yang lumayan dan harga yang nyaman di dompet masing-masing. Apalagi, Warung Pasta sepertinya sering juga mengadakan program promo. Guess that’s enough?

Oiya… dapet salam dari Manten Baru 😆
???????????

[Gampoeng Aceh]

Ada yang kangen sama gw setelah beberapa tulisan terakhir mostly gw protect? Nggak ada? Ya nggak apa-apa juga sih… *terpuruk*
Tapi mari bersyukur, gw akhirnya bisa kembali menulis setelah akhir-akhir ini merasa sangaaaaattt…terkuras habis energinya hilang moodnya terbang semangatnya dan pengennya cuma meriksa dokumen-dokumen trus leyeh-leyeh begitu sampe kos *lirik si Bapak* *abaikan* :mrgreen:

***
Awalnya, senin pagi menjelang siang, gw menghubungi seorang rekan sesama caleg dari partai dugem alias dunia gembul alias lagi dudul & gembira *krik krik krik*. Seperti biasa kalo lagi sok sedih, gw langsung cari teman untuk melampiaskan perasaan yang berkecamuk di hati *eciyeciyeee*.
Btw kenapa gw sedih lo tanya?
Gara-garanya di senin pagi itu terjadilah sesuatu peristiwa yang membuat gw bersenandung, “and you treat me like a stranger and that feels so rough…” sambil sesegukan di kubikal. Ujung-ujungnya ketebak kan, gw pun whatsapp Neng Erma.
“Cuuuyy… gw lagi sedih nih. Mabok-mabokan yuk!”
Neng Erma yang tumben-tumbennya lumayan prompt response dalam membalas whatsapp pun mengusulkan hari kamis sebagai hari mabok-mabokan. Tentu gw setujui seketika.
“Cucok bo! Kamis Bapake nggak ada” *tipikal karyawan teladan* :mrgreen:

Tapi karena gw ‘cheap and freak and obvious like that’, masih dalam hari yang sama gw kembali bergembira. Walaupun rabu pagi menjelang siang, hati gw kembali drop, tapiiiii ya karena gw ‘cheap and freak and obvious like that’, rabu sore gw kembali cerah ceria.
Ditambah lagi, kamis siang gw berhasil menelepon si Papih. Padahal kangen juga nggak sih 😆 *denial* *nooo!!!*

Daaann karena lagi seneng, rencana mabok-mabokan pun berubah menjadi… mabok-mabokan karena lagi gumbira *eh* dan dengan jumawanya gw berkata pada Neng Erma, “on me ya!”, hanya untuk menemukan setelahnya, tempat yang kami tuju… tutup!!! 😆

Stick to our itinerary, kami pun mampir ke riau junction. Neng Erma mencari baju, sementara gw karena lagi ganjen dan lagi niat melet orang, ended up dengan kantong etude house ditangan.
Lihat-lihat foodcourt-nya, kayaknya kok tidak memancing salero basamo. Akhirnya Neng Erma mengusulkan agar kami makan di…

???????????
Gampoeng Aceh
Jl. Ir. H. Djuanda No. 37 Dago
Salah satu yang kami incar sejak lama sebenarnya, hanya saja entah kenapa selalu disalip oleh tempat makan lainnya dan malah keduluan nyicipin Kedai Aceh Cie RASA Loom

Gampoeng Aceh didesain semi terbuka, tampak mukanya memperlihatkan berderet-deret meja dan kursi yang disediakan bagi pengunjung untuk menyantap makanan. Kursinya seperti kursi-kursi di pesta pernikahan; kursi besi dengan bantalan merah. Nama sebuah produk rokok terpampang besar-besar di beberapa bagian dinding. Sepertinya tidak ada pemisahan bagian smoking dan non smoking, karena kami melihat beberapa pengunjung bebas merokok dimanapun. Hampir sama dengan Kedai Aceh Cie RASA Loom, interior Gampoeng Aceh didominasi warna merah dengan cahaya temaram.
???????????
???????????

Neng Erma memutuskan untuk memesan Mie Rebus Biasa [IDR 15.000] dan segelas Es Timun [IDR 9.000] kesukaannya. Sementara gw memesan Mie Goreng Biasa [IDR 15.000] dan segelas Teh Tarik dingin [IDR 15.000]. Tadinya kami ingin mencicipi cane durian, sayang saat itu segala sesuatu yang mengandung durian sedang habis. Akhirnya kami memesan Cane Keju Susu [IDR 20.000] sebagai selingan.
???????????
???????????
???????????
???????????

Entah karena kami saat itu sangat lapar atau memang citarasa hidangan yang disajikan memang enak, tapi baik gw maupun Neng Erma merasa makanan dan minuman yang kami pesan sungguh pas rasanya di lidah kami. Bumbu mie rebus dan mie gorengnya pas, rempahnya terasa dan pedasnya menyatu dengan baik. Sementara es timun dan teh tarik dingin pun sungguh menyegarkan dahaga. Tidak terlalu manis, tidak terlalu machtig… gw memang menyukai teh tarik dingin yang light, yang tidak terlalu pekat rasa susunya.
Jangan ditanya mana yang lebih enak, Kedai Aceh Cie RASA Loom atau Gampoeng Aceh, karena kami sudah lupa citarasa di tempat yang pertama.
Gw cuma bisa bilang, gw dan Neng Erma suka dengan Gampoeng Aceh ini. Makanan dan minumannya pas dengan indera pencecap kami, porsinya pas tidak kurang dan tidak berlebih, harganya bersahabat dan tanpa pajak. Mengenai tempatnya? Yah… ini kan bukan café tempat nongkrong berlama-lama, jadi interiornya pun seadanya. Selama bersih sih gw nggak masalah.

Ow… hampir lupa satu hal.
Cane Keju Susu-nya punya tampilan yang sama dengan cane keju susu di Kedai Aceh Cie RASA Loom. Sama –sama diberi topping keju cheddar parut dan didampingi satu gelas kecil seukuran gelas sloki berisi susu kental manis. Hanya saja, topping keju di Gampoeng Aceh lebih murah hati, dan kami lebih menyukai Cane Keju Susu keluaran Gampoeng Aceh daripada yang kami coba di Kedai Aceh Cie RASA Loom.
???????????
***
Seperti biasa, acara mabok-mabokan selalu kami isi dengan bertukar cerita. Dan saat itu *sampai sekarang juga sih* gw sedang semangat-semangatnya berceloteh tentang apa-apa yang baru dalam hidup gw. Dan itu membuat Neng Erma melontarkan pernyataan yang membekas di pikiran gw.

“Aku senang melihat kamu sedih bukan karena dia, Ke”

Super sekali, Neng Erma!

Tapi tapi tapi…
Ini sedihnya lebih nggak bener lagi, Maaa!!! :mrgreen: