[Flores – Sail Komodo] Day 3 & 4: Waerebo

Selasa, 27 September 2016

Saya, Didit, dan Vika membuka mata saat matahari sudah mulai memperlihatkan diri. Setelah shalat subuh yang kesiangan dan selesai mandi, kami segera berkemas-kemas. Medan hari ini sepertinya cukup menantang, kami harus pintar-pintar memisahkan apa yang perlu dibawa dan apa yang bisa ditinggal. Awalnya, saya, Didit, dan Vika akan membawa sendiri keperluan masing-masing. Namun mungkin karena Anet melihat 3 cewek ini agak lemah gemulai tak bertenaga dan bawaannya sudah seperti mau nginep seminggu, diapun mengusulkan agar kami menggunakan jasa porter.

Yang beruntung terpilih adalah Pak Cornelius, yang merangkap sebagai guide kami selama 2 hari ke depan. Kami pun kembali membongkar carrier masing-masing. Semuanya dimasukkan ke dalam carrier Didit, kecuali perlengkapan perang seperti kamera, ransum, air minum, obat-obatan, dan –khusus saya- peralatan menghalau lintah. Sejak sebelum berangkat ke Flores, Anet beberapa kali mengatakan ada kemungkinan kami bertemu lintah dalam perjalanan menuju destinasi hari ini. Saya –sebagai manusia yang takut pada segala yang bergerak secara melata- segera mencari tau apa yang bisa menghalau lintah. Maka selain membalurkan lotion anti nyamuk sebanyak-banyaknya, menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuh rapat-rapat, saya pun menyiapkan tembakau kering yang bisa dibalurkan dengan air jika tim lintah datang menyerbu.

Seharusnya sarapan dimulai pukul 8 pagi, tapi molor hingga pukul 08:30. Setelah menyantap nasi goreng dan telur dadar, kembali kami memeriksa perlengkapan masing-masing, menitipkan koper dan tas yang tidak dibawa, dan akhirnya mobil meninggalkan penginapan pukul 09:15.

vika-waerebo-1

but first, breakfast…

***

Waerebo

This is time for Waerebo.

Pernah dengar Waerebo? Jujur, sebelum berangkat ke Flores, saya belum pernah mendengar nama itu. Waerebo adalah sebuah kampung tradisional Manggarai –bagian dari Desa Satar Lenda- yang letaknya cukup tersembunyi di lembah yang dikelilingi pegunungan. Walaupun sepertinya kurang pamor di kalangan wisatawan lokal, kampung tradisonal yang mendunia karena rumah berbentuk kerucutnya dan eksotismenya ini ternyata populer di kalangan wisatawan asing, khususnya bagi pejalan-pejalan Eropa.

Selain desa Dintor tempat kami bermalam, ada desa lain yang cukup dekat dengan Waerebo, yaitu Desa Denge yang merupakan desa terakhir yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Jarak dari Desa Denge ke Waerebo ada di angka 8 hingga 9 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi itu dulu, saat ini mobil sudah bisa melaju sekitar 3 kilometer lebih jauh lagi, sehingga pejalan tinggal menyelesaikan 5 hingga 6 kilometer sisanya.

Saat itu sedang ada perbaikan jalan, maka Pak Gusti mengantar kami hanya setengah jalan, dan dilanjutkan dengan ojek motor ke titik trekking dimulai. Saya melihat jam. Tepat pukul 10:15, setelah mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa lagi dengan Pak Gusti dan Mister Steve, kami –didampingi Pak Cornelius yang membawa carrier Didito- mulai berjalan kaki.

Yang pertama menyambut kami didepan mata adalah sebuah sungai kecil dengan batu-batu besar dan arus air yang cukup deras. Setelah itu jalan akan terus menanjak dan mulai menyempit hingga hanya bisa dilalui 1 orang; kalau ada orang dari arah berlawanan, salah satu harus menepi sedikit supaya yang lainnya bisa terus melaju. Sepertinya baru 10 atau 15 menit kami mendaki, tapi nafas sudah ngos-ngosan dan pergerakanpun secara drastic mulai melambat. Fitri bahkan harus berhenti cukup lama karena pandangan yang mulai kabur. Ditemani Welly dan Pak Cornelius, dia pun beristirahat sejenak, sementara kami tetap melanjutkan perjalanan. Bisa dimaklumi jika Fitri langsung drop. Begitu mulai berjalan kami langsung dihadapkan pada medan mendaki yang lumayan menguras tenaga, apalagi tanahnya pun cukup licin dan berbatu-batu, tentu ada effort lebih yang dikeluarkan; tubuh harus bekerja keras menyesuaikan dengan kegiatan yang tidak biasa ini, terutama bagi yang jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga.

Sebenarnya ada 3 titik peristirahatan selama trekking ke Waerebo, yaitu Sungai Wae Lomba, Pocoroko, dan Nampe Bakok. Sungai Wae Lomba sepertinya sungai yang pertama menyambut kami seturunnya dari ojek. Dari situ hingga ke Pocoroko –karena kami sering berhenti untuk mengembalikan nafas dan mengikuti prinsip “pelan-pelan aja ya yang penting sampai” dengan dalih menunggu Fitri, Welly, dan Pak Cornelius yang masih di belakang- kami membutuhkan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Apalagi medan hingga ke Pocoroko memang menanjak diatas tanah licin dan harus melipir ke bukit karena sisi satunya adalah jurang.

Di tengah-tengah perjalanan, setiap kali melihat mata air, kami pasti berhenti dan menyempatkan diri untuk membasuh muka dan mengisi botol air. Rasa air dari sumbernya langsung memang berbeda. Sungguh segar dan rasanya benar-benar memulihkan tenaga. Kami juga sering berpapasan dengan penduduk Waerebo yang sedang “turun kampung” karena ada keperluan di “kota”. Berbeda dengan kami yang bersepatu gunung atau sandal gunung yang “menggigit”, penduduk Waerebo, tak peduli para mama atau bapa –seperti juga Pak Cornelius- hanya bersendal jepit atau bahkan bertelanjang kaki. Urusan trekking sekian jam sekian kilometer ini jelas-jelas bukan perkara besar bagi mereka.

Selepas titik Pocoroko medan trekking sudah lebih mudah karena mulai landai bahkan kadang menurun. Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Rumah Kasih, sebuah pos pemantau yang atapnya terbuat dari ijuk. Kami semua termasuk Pak Cornelius naik ke pos tersebut. Rasa lelah terbayar saat kami melihat hamparan dataran hijau dan rumah-rumah kerucut dikejauhan. Akhirnya kami sampai. Di pos pemantau ini, Pak Cornelius membunyikan kentongan, memberi tanda pada warga kampung Waerebo bahwa ada tamu yang datang. Kami mencoba membunyikan kentongan juga satu persatu, namun suara yang dihasilkan tidak seperkasa Pak Cornelius. Sepertinya tenaga kami cukup terkuras selama trekking tadi.

Sebelum melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi, Pak Cornelius berkali-kali mengingatkan agar kami tidak mengambil foto di sekitar kampung terlebih dahulu sebelum bertemu dan sowan dengan sesepuh kampung.

Tak lama kami di pos pemantau, kami segera berjalan cukup cepat, tak sabar untuk sampai ke Waerebo.

welly-waerebo-7

and the journey begins…

welly-waerebo-8

mendaki bukit, ku takut lintah…

dhana-2

tak selamanya perjalanan mendaki, nyatanya sesekali menurun juga…

vika-waerebo-2

Sura, Dhana, Didito, saya, Vika

vika-waerebo-3

Titik kedua peristirahatan: menunggu kedatangan Welly, Fitri, dan Pak Cornelius. And no, Didito didn’t get paid by Beng-beng…

welly-waerebo-9

yeay! sebentar lagi sampai!

welly-waerebo-1

Rumah Kasih, taken by Pak Cornelius

DCIM100GOPROG0210159.

wefie!

vika-waerebo-13

and finally!

13:30 – Senyum benar-benar terkembang dan kebahagiaan kami terpancar saat kami mempercepat langkah melintasi kebun kopi di kiri kanan kami. Pak Cornelius berjalan paling depan, memimpin garnisun yang mulai kelewat riang ini. Berjalan lurus menuju rumah kerucut yang paling besar yang terletak di tengah-tengah. Setelah melepas alas kaki dan meletakkan tongkat kayu penyangga, kami masuk ke dalam rumah dan duduk bersila bersebelah-sebelahan, dengan Pak Cornelius duduk di tengah di dekat tiang yang diatasnya tampak tergantung benda-benda seperti gendang. Dua orang sesepuh kampung berwajah ramah sudah siap menyambut, duduk berhadap-hadapan dengan kami.

Pak Cornelius membuka percakapan –memulai “upacara” penyambutan kami. Mereka sepertinya berbicara dalam bahasa setempat. Dua bapak itu bernama Pak Rafael (90 tahun) dan Pak Rofinus (78 tahun), warga paling senior yang berdiam di Waerebo. Dengan diterjemahkan Pak Cornelius, Pak Rafael dan Pak Rofinus menjelaskan secara singkat mengenai Mbaru Tembong alias rumah induk tempat kami disambut saat itu. Acara penyambutan diakhiri dengan kata-kata Pak Rafael dan Pak Rofinus, bahwa sejak saat itu hingga esok hari saat kami pulang, kami dianggap sebagai warga asli Waerebo. Maka anggaplah Waerebo sebagai rumah sendiri dengan tetap memperhatikan nilai budaya dan etika yang berlaku di situ.

DCIM100GOPROGOPR0168.

sesaat setelah upacara penyambutan di dalam Mbaru Tembong

welly-waerebo-11

…and outside

Dari Mbaru Tembong, kami dibawa ke rumah lain tempat kami menginap malam itu. Di rumah lain tersebut sudah terhampar sekitar 30 tikar untuk alas tidur. Kami tamu pertama yang tiba, maka kamipun memilih tempat tidur sesuka hati. Setelah menaruh bawaan dan meregangkan tubuh, kamipun duduk ngeriung mendengarkan cerita Pak Cornelius, ditemani secangkir kopi sebagai ucapan selamat datang.

Waerebo terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, terkenal dengan rumah beratap ijuk berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang yang berjumlah 7 buah, tidak kurang dan tidak lebih karena begitulah adat istiadat menentukan. Penduduk Waerebo konon memiliki nenek moyang dari tanah Minang. Entah kenapa dan entah bagaimana caranya orang-orang dari daratan Andalas bisa sampai ke tanah Manggarai dan beranak-pinak hingga melahirkan Waerebo.

Selain ukurannya yang sepertinya lebih besar, Mbaru Tembong maupun Mbaru Niang sebenarnya sama; namun kenapa rumah induk dinamai Mbaru Tembong adalah karena di rumah induklah diletakkan tembong –alias alat-alat musik semacam kendang yang digunakan untuk upacara adat.

Baik Mbaru Niang maupun Mbaru Tembong terdiri dari 5 tingkat yang masing-masing memiliki nama dan fungsinya sendiri-sendiri. Tingkat pertama –tempat pengunjung menginap- adalah lutur atau tenda, tingkat kedua disebut lobo atau loteng tempat menyimpan bahan makanan dan keperluan sehari-hari, tempat ketiga dinamai lentar yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan sehari-hari, tingkat keempat adalah lempa rae yang berfungsi untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan atau gagal panen, dan tingkat lima adalah hekang kode –tempat menyimpan langkar, yaitu anyaman bambu untuk menyimpan sesajian yang digunakan untuk persembahan kepada leluhur.

Yang membedakan Mbaru Tembong dan Mbaru Niang adalah jumlah kamar didalamnya. Mbaru Niang biasanya memiliki 5 hingga 6 kamar, sementara Mbaru Tembong memiliki 8 kamar; masing-masing kamarnya dihuni oleh anak laki-laki tertua dan keluarganya. Selain anak laki-laki tertua semuanya tinggal di Mbaru Niang yang ada di sisi kanan dan kiri Mbaru Tembong, ada juga yang keluar kampung dan menetap di Desa Kombo, salah satu desa yang berdekatan dengan Desa Dintor dan Desa Denge.

Jika ada rumah kerucut yang rusak dan membutuhkan perbaikan, masyarakat akan mengerjakannya secara bergotong-royong. Kayu yang digunakan untuk membangun Mbaru Niang adalah kayu borok yang dijalin satu dan lainnya menggunakan rotan. Atap rumah terbuat dari alang-alang yang dilapisi ijuk dibagian dalamnya. Dengan cara seperti ini, suhu udara didalam rumah tetap nyaman dalam keadaan cuaca apapun. Alang-alang dan ijuk dibeli dari Manggarai dan dijalin saat masih di bawah; jadi saat sampai di Waerebo tinggal dipasang saja. Walaupun materialnya terlihat sederhana, ternyata renovasi Mbaru Niang memakan biaya besar hingga mencapai angka 300 juta rupiah.

Kebersamaan masyarakat Waerebo juga terlihat di dapur. Di Mbaru Tembong, misalnya, ada 8 tungku untuk 8 keluarga. Sudah turun temurun seperti itu dan tidak pernah terjadi keributan karena walaupun memasak bersama-sama, masing-masing tetap menghargai ruang privasi tiap keluarga.

Di Waerebo tidak ada sinyal -jadi singkirkan gadgetmu untuk sementara- dan listrik hanya menyala pukul 6 sore hingga 10 malam. Maka ketika ada tanda listrik menyala, semua perlengkapan segera di-charge. Untuk mandi, ada 2 pilihan: mandi di pancuran bersama penduduk setempat atau di kamar mandi yang memang sengaja dibangun untuk memudahkan wisatawan. Saya pernah membaca bahwa jika berkunjung ke Waerebo alangkah baiknya kita membawa buku-buku bacaan untuk anak-anak yang diserahkan langsung ke perpustakaan di sana. Namun menurut Anet, sebenarnya yang lebih mereka butuhkan adalah tenaga relawan untuk tinggal beberapa waktu lamanya agar bisa mengajar anak-anak Waerebo membaca dan menulis. Memang tidak ada sarana pendidikan di Waerebo. Itulah sebabnya, setiap anak yang memasuki usia sekolah akan turun dan tinggal di Desa Kombo, tempat terdekat dimana ada sekolah. Anak-anak itu akan tinggal dengan saudara-saudara mereka dan pulang saat musim liburan tiba; tentu ditempuh dengan berjalan kaki. Ohya, jika kita ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak di sana, sebaiknya berikan pada orangtuanya instead of memberikan langsung ke anak-anak tersebut; ini untuk menghindari mental peminta-minta pada diri mereka. Larangan-larangan dan anjuran-anjuran lainnya bisa dilihat di banner yang dipasang di Rumah Kasih. Satu yang saya ingat: dilarang mempertontonkan kemesraan di muka umum, dan ini juga berlaku untuk suami istri. Sebagai seorang posesif-baper, saya sangat menghargai nilai budaya ini.

Di Waerebo juga tidak ada fasilitas kesehatan. Karena itu para ibu hamil yang akan melahirkan juga akan turun ke Desa Kombo dimana ada puskesmas keliling, sekitar 1 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir. Bagaimana caranya? Tentu, dengan berjalan kaki. Mereka percaya cara itu justru memudahkan persalinan.

Letak Waerebo yang dikelilingi pegunungan membuat udara selalu sejuk dengan kabut yang cepat turun. Sekitar pukul 5 sore saat kami bermain-main diluar rumah, kabut sudah menyelimuti kampung dan tak lama hujan pun turun walau tak deras. Selepas mandi dan shalat Isya, para mama mulai menyajikan makan malam. Saat itu, selain kami, ada 2 orang wisatawan asal Jerman –Mischa dan Daniela- dan sepasang suami istri asal Spanyol. Ada juga beberapa orang LSM yang katanya akan rapat dengan warga kampung terkait pengembangan potensi pariwisata Waerebo. Suasana yang tadinya kaku mulai mencair sejak Dhana dan Sura mulai berbincang-bincang mengenai pilkada Jakarta –Ahok sungguh terkenal di Waerebo- dengan para pemuda setempat merangkap pemandu yang memandu Mischa dan Daniela serta pemandunya pasangan suami istri Spanyol itu. Dan benar-benar cair ketika Sura dan pasangan Spanyol mempercakapkan klub bola kebanggaan masing-masing; Sura sang Madridista sejati memuji-muji Real Madrid, dan pasangan Spanyol asli urang Catalunya itu membalasnya dengan menyanyikan mars Barcelona sepenuh jiwa. Sepakbola memang mencairkan semuanya.

Sebenarnya mata belum lagi ingin dipejam, tapi pukul 10 malam listrik akan dimatikan total, maka tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Karena tidur hanya beralaskan tikar, selimut yang disediakan pun beralih fungsi menjadi seprai supaya lebih empuk, dan jaket pun kami kenakan untuk menahan dingin. Sebelum tidur, saya tak lupa berdoa supaya tidak ingin ke belakang di malam hari.

vika-waerebo-22

our bedroom for a night!

vika-waerebo-4

taken by Dhana from Mbaru Niang’s 2nd floor

welly-waerebo-6

welly-waerebo-10

vika-waerebo-6

tangga menuju lantai-lantai selanjutnya

welly-waerebo-5

vika-waerebo-5

vika-waerebo-7

vika-waerebo-11

saat kabut masih tinggi…

vika-waerebo-12

…dan saat mulai menyelimuti

vika-waerebo-8

vika-waerebo-9

para bapa from left to right: Pak Cornelius, Pak Rafael, dan Pak Rofinus

vika-waerebo-10

vika-waerebo-17

dinner time!

Rabu, 28 September 2016

Setelah berkali-kali terbangun di malam hari dan menemukan tak ada satupun di antara kami yang bergeming, akhirnya saya benar-benar terjaga sekitar pukul 5 pagi. Matahari sudah menampakkan diri dan beberapa kasur di sebelah saya sudah kosong. Sayup-sayup terdengar suara Welly, Dhana, Sura, Fitri, dan Anet di luar; rupanya mereka mengejar sunrise dan sibuk berfoto. Para bapa berbalut kain khas Waerebo ramai bercengkerama di lapangan rumput di depan Mbaru Niang.

Pukul 07:15 semua orang menghentikan kegiatan masing-masing dan berkumpul untuk menikmati menu sederhana yang disediakan para mama. Walaupun sederhana, sarapan ini penting sebagai tenaga untuk trekking kembali ke “kota” nanti.

Selain sarapan, ternyata ada acara dadakan spesial hari itu. Pak Cornelius berulangtahun! Kontan saja tanpa dikomando semua yang ada di dalam Mbaru Niang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, tak ketinggalan para bule yang turut cengar-cengir dan bertepuk tangan.

08:15 – setelah berpamitan dan menyempatkan diri ‘foto keluarga’ di depan hamparan biji kopi yang sedang dijemur, berbekal tongkat kayu kami pun memulai trekking turun. Oya, tongkat dari dahan pepohonan yang dipilih Pak Cornelius secara seksama di awal perjalanan ini sangat membantu menjaga keseimbangan tubuh lho, selain itu tongkat ini juga membantu ‘menambah’ tenaga saat kita merasa mulai lelah dan berat melangkah.

Berbeda dengan saat kedatangan, perjalanan pulang terasa lebih mudah dan ditempuh dalam waktu 1 jam lebih cepat. Perbedaan lainnya, selama perjalanan kami berpapasan dengan penduduk lokal dan turis-turis asing lebih sering, banyak diantara para turis tersebut sudah berusia separuh baya.

10:30 – Akhirnya kami melihat Pak Gusti dan Mr. Steve lagi. Mereka menjemput kami di titik yang sama dengan saat kami diturunkan saat akan trekking sehari yang lalu. Pukul 11 kami tiba di penginapan dan langsung mandi, packing, shalat, dan makan siang. Pukul 13:00 tepat kami berpisah dengan Pak Cornelius, meninggalkan Desa Dintor, menuju Labuan Bajo.

SAMSUNG CSC

para bapa rumpi pagi

dhana-1

ngopi dulu lah, biar nggak slek *eh

vika-waerebo-18

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Mr. Cornelius!

welly-waerebo-12

wefie with Daniela and Mischa; guess where we met them again?

vika-waerebo-21

lalala yeyeye ~ the boys di depan Waerebo Lodge, left to right: Welly, Sura, Dhana

vika-waerebo-19

Our lodge at Desa Dintor

vika-waerebo-20

Pulau Molas di kejauhan; Molas means ‘beautiful’

vika-waerebo-15

teras penginapan dan cucian kami

anet-1

Pak Cornelius with his favorite man: Sura

vika-waerebo-16

good bye, Mr. Cornelius! good bye, Desa Dintor! good bye, Waerebo!

Let’s have a look on our journey to Labuan Bajo:

vika-spyder-web

Awalnya Anet sempat meminta untuk dimampirkan ke Cancar untuk memperlihatkan sawah jaring laba-laba pada kami; tapi Pak Gusti mengatakan kalau harus ke Cancar maka perjalanan akan memutar jauh dan akibatnya kami akan tiba di Labuan Bajo sangat larut. Sebagai gantinya Pak Gusti berhenti sebentar di satu daerah yang memang kami lewati yang juga memiliki sawah jaring laba-laba

SAMSUNG CSC

a closer, wide enough-look

anet-3

pardon me for the typo; it should be ‘spider’ instead of ‘spyder’ huhuhu…

anet-4

but first, INDOMI selalu di hati ~ i know, i know, we are truly deeply Indonesian

And some additional photos of my favorite:

vika-waerebo-14

good bye, Waerebo! keep shining!

anet-2

JUMP! a mandatory shot of happiness!

vika-waerebo-23

the three that being left

welly-waerebo-3

…and see you again, Waerebo!

[Flores – Sail Komodo] Day 2: Kelimutu, Rumah Pengasingan Bung Karno, Kampung Bena Bajawa & Desa Dintor

Senin, 26 September 2016

Sebelum pergi tidur, Anet mengingatkan bahwa kami akan memulai perjalanan pukul 4 pagi esok hari. Saya dan Didito pun memilih mandi sebelum tidur dan berniat tidak mandi esok pagi, sementara Vika adalah tipe orang yang selalu mandi apapun yang terjadi.

Kami bangun pukul 03:15 dini hari dan bersiap-siap. Pak Agustinus alias Pak Gusti dan Pak Stefanus alias Mister Steve sudah menunggu di depan penginapan. Saat itulah kami melihat seorang cowok bule tampak kebingungan. Rupanya ojek yang dia pesan untuk ke Kelimutu tak juga menampakkan batang hidungnya. Kami setuju untuk mengajak cowok itu menumpang salah satu mobil. Seorang asing datang ke Flores dan ingin ke Kelimutu di subuh hari, dia pasti sama seperti kami, sama-sama mengincar pemandangan matahari terbit dari Danau Kelimutu. Kasihan kalau sampai terlewat. Akhirnya Vincent –nama bule Prancis itu- setuju untuk nebeng di mobil para perempuan. Tentu saja, dia langsung akrab –bukan dengan kami, tapi dengan si cowok pembawa lemari. Oya, saya belum mengenalkan si pria lemari. Namanya Dhana.

04:00 – Dua mobil berjalan menembus gelapnya malam, meninggalkan Desa Moni. 38 menit kemudian, sampailah kami di pelataran parkir tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Untuk menuju Danau Kelimutu kami masih harus berjalan kaki 30 hingga 40 menit. Keadaan sekitar masih gelap, udara pun masih dingin walau tidak menggigit; kecuali bagi Vincent –dia sempat mengeluh kegerahan saat itu *colek Vincent pake cobek*.

Kami turun dari mobil, merapatkan jaket dan menyiapkan senter, tak ketinggalan kamera dan perbekalan untuk mengisi perut dan menghilangkan dahaga. Bagi yang muslim tentu perlu juga membawa perlengkapan shalat, karena kita akan menunaikan shalat subuh saat sampai ditujuan.

Medan pendakian menuju Kelimutu sebenarnya terbilang mudah karena masih cukup landai dan sebagiannya sudah tidak lagi berupa tanah, tapi sudah dibuat jalan setapak dan diberi pagar pengaman di salah satu sisinya. Tapi saya ini sungguh-sungguh bukan olahragawati –kalau olahraga batin mah sering *mulai galau detected* jadi perkara menaklukkan pendakian ke Danau Kelimutu ini lumayan bikin ngos-ngosan setelah 15 menit pertama dan di 15 menit terakhir. Untungnya kami beramai-ramai, jadi bisa mengobrol untuk melupakan rasa lelah. Bagi yang butuh toilet juga jangan khawatir, ada toilet umum di sepanjang rute perjalanan. Hampir tidak ada cahaya terlihat di sekeliling, jadi membawa senter atau alat penerangan lainnya memang suatu keharusan. Saat kami tiba di puncak, langit pun masih sedikit mengeluarkan semburat cahaya.

Saat itu waktu baru menunjukkan sekitar pukul 05:15, tapi sudah cukup banyak pengunjung –sebagian besarnya adalah turis asing- yang duduk setia menunggu kemunculan matahari terbit, ditemani para penjaja popmi dan kopi instan yang dengan ramah menawarkan dagangan mereka. Ketika langit berubah warna perlahan-lahan, mulailah kami para turis domestik ini heboh berfoto di setiap sudut yang memungkinkan. Ini mungkin salah satu perbedaan mencolok antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara dari ras kaukasia. Saat mengunjungi satu tempat, kita cenderung sibuk mengabadikannya dengan kamera, mengambil gambar sebanyak-banyaknya; sementara mereka lebih memilih untuk duduk tenang meresapi semua yang terbentang didepan mata, menikmati momen, menyimpan kenangan –kalaupun mengambil gambar sepertinya tidak sebanyak kita para turis lokal.

Ketika sinar matahari sudah cukup terang, terlihatlah 3 warna Danau Kelimutu pagi itu: hijau lumut muda, biru tosca, dan hitam. Keindahan Danau Kelimutu berpadu kontras dengan kontur berbukit-bukit, sedikit pepohonan dan warna tanah yang coklat tandus. Diamnya air danau menimbulkan kesan mistis sendiri. Kenapa ia begitu tenang?

vika-kelimutu-1

vika-kelimutu-4

vika-kelimutu-3

SAMSUNG CSC

vika-kelimutu-5

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

anet-kelimutu

vika-kelimutu-6

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Kelimutu sebenarnya adalah danau kawah di puncak Gunung Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut. Ditemukan tahun 1915 oleh seorang Belanda bernama B Van Such Telen dan populer melalui tulisan Y Bouman pada 1929. Ada 3 danau dengan warna air yang bisa berubah-ubah, yaitu Tiwu Awa Mbupu (dihuni oleh roh orang tua yang telah meninggal; luasnya 4,5 hektar dengan kedalaman 67 meter), Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (dihuni oleh roh muda-mudi yang berbuat baik semasa hidupnya; luasnya 5,5 hektar dengan kedalaman 127 meter), dan Tiwu Ata Polo (dihuni oleh roh orang yang berbuat jahat semasa hidupnya; luasnya 4 hektar dengan kedalaman 64 meter). Gunung Kelimutu terakhir meletus tahun 1968. Perubahan warna air ketiga danaunya terjadi sejak tahun 1886, yang hingga kini tidak diketahui apa penyebab berubah-ubahnya warna air tersebut.

vika-kelimutu-2

06:30 – Setelah *memaksakan diri* puas berfoto, Anet memutuskan sudah waktunya kami kembali ke tempat Pak Gusti dan Mister Steve menunggu. Dalam 30 menit perjalanan turun kami beberapa kali bertemu turis lain maupun penduduk lokal. Satu hal yang saya suka dan sangat appreciate selama Flores Trip ini adalah penduduk lokal yang murah senyum dan luar biasa ramah. Sapaan-sapaan adalah hal yang selalu keluar dari mulut mereka. Dan entah bagaimana sepertinya hal ini menular pada turis-turis asing –yang kebanyakan yang kami temui datang dari benua biru-  mereka juga tak kalah senangnya berbincang-bincang atau sekedar menebar senyum.

Pukul 07:45 kami tiba di penginapan. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Vincent, kami bersiap-siap packing dan menikmati suguhan yang disajikan. Selembar pancake tebal dan potongan buah pisang, mangga, dan pepaya, menjadi sarapan kami pagi itu.

08:30 – Waktunya melanjutkan perjalanan!

Hari ini kami akan menuju Desa Dintor, tempat bermalam berikutnya. Dalam perjalanan, rencananya kami akan mampir di beberapa tempat. Setelah 1 jam, perjalanan sempat terhenti sebentar karena ada perbaikan jalan dan karenanya diberlakukan sistem buka tutup arus kendaraan. Hampir 30 menit menunggu, akhirnya mobil kembali berjalan. Pukul 11:40 kami sampai di destinasi yang tertunda.

Rumah Pengasingan Bung Karno

vika-rumah-bk

anet-rumah-bk

vika-rumah-bk-2

Pintu didekat sumur itu adalah pintu kamar mandi | Sepertinya kamar mandi tersebut, jika merunut cerita Bung Karno dalam buku karya Cindy Adams, belum ada saat Bung Karno menjalani masa pembuangannya

Tak lama kami berada di rumah tempat Bung Karno dibuang penjajah Belanda. Rumah pengasingan yang beralamat di Jalan Perwira itu tampak sederhana dengan dominasi cat warna putih. Hanya ada dua kamar tidur di rumah itu. Satu kamar ditempati Bung Karno dan Ibu Inggit  Garnasih, sementara kamar lainnya ditempati ibu mertua Bung Karno dan Ratna Djuami, anak angkat sang proklamator. Di rumah itu dipamerkan benda-benda yang digunakan Bung Karno selama masa pembuangannya. Mulai dari biola yang pernah beliau mainkan hingga lukisannya yang turut di pajang di ruang utama.

Bung Karno dibawa ke Ende dengan menggunakan Kapal Jan van Riebeeck dari Surabaya, Jawa Timur pada awal tahun 1934. Di sana beliau diasingkan selama 4 tahun. Pada masa pembuangannya, tidak ada listrik dan air di rumah itu. Jika Bung Karno ingin mandi, beliau akan membawa sabun ke Sungai Wola Wona. Saat itu, rumah pengasingan tersebut dikelilingi kebun pisang, pohon-pohon kelapa, dan jagung. Ende benar-benar kampong nelayan yang terbelakang ditahun 1930-an itu. Tidak ada telepon, tidak ada kantor telegraf. Jika ingin berkabar dengan dunia luar, yang bisa diandalkan hanyalah 2 kapal pos yang masing-masing datang sekali sebulan.

Selama masa pembuangan itu, Bung Karno mengalami banyak hal. Ibu mertuanya, Ibu Amsi meninggal dunia di sana. Bung Karno juga rajin menulis naskah sandiwara dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan. Naskah sandiwara pertamanya berjudul Dr. Setan, terilhami dari Frankenstein karya Mary Shelley. Beliau pun mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu dan menjadi sutradaranya. Setiap pentasnya dihadiri banyak sekali penonton, termasuk orang-orang Belanda. Hasil penjualan karcis digunakan untuk membayar sewa gudang dari gereja yang sengaja disewa Bung Karno untuk mengadakan pertunjukan sandiwara.

Di rumah itu Bung Karno pun terkena malaria. Itulah mengapa Hindia Belanda kemudian memindahkan pembuangannya ke Bengkulu. Pukul 11:00 kami meninggalkan Rumah Pengasingan Bung Karno dan kembali menikmati kelok-kelok jalanan Flores.

DCIM100GOPROG0040043.

15:30 – Setelah mampir ke suatu pantai *yang sayangnya saya lupa namanya* dan makan siang –oya, di sepanjang perjalanan, sejauh yang saya ingat dan saya lihat, agak jarang kami bertemu rumah makan; jadi ketika ada warung kecil tanpa pikir panjang kami pun mampir, apalagi saat itu sudah hampir pukul 14… selain badan sudah pegal-pegal akibat duduk lama di mobil, perut pun sudah menjerit minta diisi- kami tiba di tujuan selanjutnya.

pantai-apa-ini-ya

Perhentian 10 menit ~sekaligus menenangkan Fitri yang mabuk darat

panorama-1

Dari suatu bukit…

Kampung Bena Bajawa

Kampung Bena Bajawa adalah suatu perkampungan tradisional yang ditengarai sudah ada sejak zaman megalitikum 1200 tahun silam. Terletak di Kabupaten Ngada, Kecamatan Aimere, Desa Tiwuriwu, 17,5 kilometer dari Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Di Kampung Bena Bajawa berdiri 45 rumah tradisional dan didalamnya berdiam 9 suku: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Sementara itu Suku Bena, karena dianggap sebagai suku yang paling tua dan pendiri kampung, berada di tengah-tengah kampung. Dan karena itu pulalah, Bena menjadi nama kampung ini.

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dalam pandangan pertama

Rumah-rumahnya berdiri berjejer berhadap-hadapan dengan banyak tanduk kerbau, rahang, dan taring babi dipajang menggantung didepannya sebagai lambang status sosial, di tengah-tengah perkampungan berdiri Bhaga dan Ngadhu. Bhaga yang menyerupai miniatur rumah merupakan representasi perempuan nenek moyang, sementara Ngadhu yang menyerupai payung merupakan representasi laki-laki nenek moyang. Di tiang Ngadhu juga sering diletakkan hewan-hewan kurban persembahan dalam upacara adat. Didekatnya ada susunan batu makam leluhur mereka.

Penduduk Kampung Bena merupakan penganut Katolik dan bermata pencaharian sebagai petani untuk kaum laki-laki, sementara kaum perempuannya wajib memiliki kemampuan menenun. Kain tenun dengan motif kuda dan gajah sebagai ciri khasnya ini digantung didepan rumah mereka dan pengunjung bisa membelinya.

Masyarakat setempat percaya di puncak Gunung Inerie bersemayam Zeta atau Yeta yang dipercaya sebagai dewa pelindung mereka. Gunung Inerie yang berada di ketinggian 2245 mdpl dianggap sebagai ibu, sementara Gunung Surulaki dianggap sebagai ayah. Gunung Inerie sendiri pernah meletus di tahun 1882 dan tahun 1970.

SAMSUNG CSC

Bhaga -representasi perempuan nenek moyang

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

vika-bena-1

vika-bena-2

SAMSUNG CSC

Kapel di ujung kampung | Saat kami datang, ada seorang bapak tua duduk didekatnya dan terus bernyanyi tanpa henti

SAMSUNG CSC

Kampung Bena Bajawa dari depan kapel

SAMSUNG CSC

vika-bena-3

vika-bena-4

Kampung Bena Bajawa terbuka untuk dikunjungi sejak pukul 08:00 hingga pukul 17:00. Setiap pengunjung yang datang wajib mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Harap diingat jika ingin memberikan donasi, berikan uang kertas karena penduduk setempat tidak menggunakan uang logam. Setelah mengisi buku tamu, setiap pengunjung akan diberikan semacam tenunan syal atau ikat kepala kecil untuk dipakai sebagai tanda bahwa kita adalah tamu di desa itu. Tanda pengenal ini tentu harus dikembalikan saat kita menyudahi kunjungan, tapi jika ingin kita bisa membelinya.

Saat kami tiba, tampak para laki-laki sedang bergotong-royong membangun entah apa. Gotong-royong memang nilai budaya yang tetap dipegang teguh masyarakat Kampung Bena Bajawa. Sementara para mama duduk-duduk di serambi rumah; entah sekedar bersantai atau sibuk menenun. Anak-anak kecil bermain bola bertelanjang kaki. Anjing-anjing menikmati tidur siang di kolong rumah. Untuk kepentingan pengunjung, telah tersedia toilet umum di ujung tengah kampung.

Sudah 1 jam kami berjalan menyusuri setiap sudut kampung. Pak Gusti mengingatkan agar kami segera menyudahi kunjungan karena perjalanan masih jauh. Masih 10 jam lagi, katanya. Saya tertawa kecil mendengarnya; tidak percaya Desa Dintor sedemikian jauhnya.

anet-bena-1

all the ladies -Anet, Fitri, Vika, saya, Didito

19:00 – Dua setengah jam sejak pukul 16:30 diisi dengan tidur-tidur ayam karena jalannya mobil yang meliuk-liuk mengikuti jalanan yang berkelok-kelok tajam. Setibanya di Kabupaten Manggarai Timur, kami mengisi bahan bakar dan makan malam. Pak Gusti mengatakan agar siapapun yang ingin ke toilet, sebaiknya segera menunaikan hajatnya karena setelah makan malam bisa dipastikan akan kesulitan bagi kami untuk menemukan toilet. Pukul 20:00 kami kembali melanjutkan perjalanan dan saya mencoba memejamkan mata.

Tapi tidak bisa; berjam-jam setelahnya perut seperti dikocok-kocok akibat kontur jalan yang sepertinya buruk. Saya tidak bisa melihat sekeliling karena gelap gulita. Tidak ada penerangan lampu jalan. Penerangan hanya berasal dari mobil. Jalan yang dilalui sepertinya kecil, hanya muat satu mobil dan dikiri-kanannya sepertinya dikelilingi pepohonan. Sungguh sepi dan agak mengerikan. Sungguh membutuhkan keahlian dan pengalaman untuk bisa mengarungi medan itu.

Setiap beberapa saat sekali saya melirik jam, kadang juga mengganti posisi duduk-tidur-duduk-tidur dengan harapan bisa terlelap lebih nyenyak. Jilbab sepertinya sudah berantakan, badan rasanya sudah lepek dan mulutpun rasanya pahit.

***

Waktu terus berjalan. Pukul 21, pukul 22… saya membuang pandangan keluar jendela. Tidak ada perubahan. Tetap gelap, mobil tetap melaju diatas jalan berbatu yang sepertinya rusak parah, kadang disertai kelokan tajam.

Pukul 23… belum, belum ada tanda-tanda perubahan. Saya mulai berpikir, sepertinya Pak Gusti tadi tidak bercanda. Jangan-jangan kami memang akan sampai di Desa Dintor esok subuh!

Pukul 24… keadaan masih tetap sama. Tak ada tanda-tanda kami akan menepi; Pak Gusti terus mengemudi dalam sunyi. Tak terbayang lelahnya beliau. Kami yang duduk manis saja capek, apalagi Pak Gusti. Vika, Didito, dan Anet juga tidur-tidur ayam. Saya antara pasrah dan gelisah memikirkan apakah kami bisa menunaikan agenda esok hari yang sepertinya akan banyak menguras energi.

Dan haripun berganti. Sudah tanggal 27 September, dan kami masih ditengah gulitanya malam di timur Indonesia. Hingga tiba-tiba mobil berhenti. Entah dimana. Sekeliling tetap gelap gulita, benar-benar gelap. Ternyata kami telah sampai. Saya menyempatkan diri melihat jam.

00:20 – Berbekal senter, kami menurunkan barang-barang dan mulai membiasakan diri dengan pekatnya sekeliling. Kami memijak jalan berbatu, berhati-hati hingga ke penginapan. Tidak ada listrik, maka berbekal senter yang terus dinyalakanlah kami membersihkan diri. Untungnya, kamar mandi terletak di dalam kamar.

Drama perjalanan dari Desa Moni di Kabupaten Ende ke Desa Dintor di Kabupaten Manggarai ditutup dengan tidur kami pukul 01:30 dini hari itu.