[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 1

“Hari 1: tanggal 24 Desember akan habis hanya untuk perjalanan, apalagi mengingat yang akan berangkat ini adalah para manula, maka gw nggak memasukkan tujuan apapun di hari pertama ini. Pokoknya begitu sampe hostel, langsung tidur aja lah kita ya bok! Remuk pasti badan ini, seremuk hatiku *maap nyampah*”

Kamis, 24 Desember 2015.
Hari ini merupakan hari pertama libur panjang di Indonesia. Keadaan jalanan Jakarta dan sekitarnya hampir bisa ditebak pasti mengalami kemacetan yang lebih mengesalkan daripada biasanya. Menjaga kemungkinan terjebak kemungkinan terburuk, Vika menyarankan agar kami berangkat lebih pagi dari jadwal semula. Gw dan Vika berangkat menggunakan HIBA Bandara, sedangkan Dani diantar temannya *penting banget di bikin italic yes* :mrgreen:

07:10 :
Gw berangkat diantar Bayi Gorilla ke pick up point HIBA Bandara di pintu tol Cijago. Perjalanan terbilang cukup lancar. Pukul 07:25, setelah membeli tiket bus seharga Rp.60.000, gw sudah menunggu datangnya bus.
07:50 :
HIBA Bandara tiba dan menaikkan beberapa penumpang. HIBA Bandara ini berangkat pukul 07:30 dari terminal Depok dan mengambil penumpang di dua pick up point-nya, yaitu di Hotel Bumi Wiyata dan pintu tol Cijago. Ada untungnya juga berangkat sedikit lebih awal. Begitu mendekati tol Cibubur dan JORR, jalanan sudah ramai dan kendaraan sesekali berjalan merayap.
09:10 :
Kami tiba di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan langsung menuju konter check in untuk baggage drop. Sebelumnya gw sudah melakukan web check in, tapi karena Dani belum dan Vika bermasalah dengan web check in sebelumnya, jadilah gw check in ulang untuk bisa duduk bersama-sama mereka. Kursi gw yang tadinya 8F berubah menjadi 21F, sementara Vika dan Dani masing-masing duduk di kursi 21D dan 21E.
10:00 :
Karena lapar, sambil menunggu waktu terbang yang masih 2 jam lagi, kami pun memutuskan untuk makan dulu. Tempatnya tak lain dan tak bukan, warung BGM yang paling tersohor di dunia perbakmian dan perpangsitgorengan.
11:00 :
Seusai makan, urusan berikutnya adalah melewati imigrasi. Dari situ kami langsung menuju Gate D5 menunggu waktu boarding. Pukul 11:45 kami belum bisa memasuki boarding room karena masih ada antrian penumpang untuk penerbangan sebelumnya. Muncul sedikit kekhawatiran bahwa penerbangan kami yang dijadwalkan pukul 12:15 akan mengalami keterlambatan.
12:00 :
Tanpa melalui proses menunggu di boarding room, para penumpang MH 716 dipanggil untuk menaiki pesawat. Tepat pukul 12:15 pesawat lepas landas dengan hentakan yang tidak halus sama sekali.

SAMSUNG CSC

Off we go! Malaysia Airlines for the first time ~

15:30 :
MH 716 mendarat di KLIA, lagi-lagi dengan guncangan yang kasar. Setelah melewati rangkaian pemeriksaan imigrasi, pengambilan bagasi, dan shalat, kami langsung mencari bus tujuan Melaka. Caranya, dari area arrival di lantai 3, kami turun ke lantai 2 dan mengikuti arah “Stesen Bas ke Terminal KLIA 2/Destinasi lain”. Sampai di Stesen Bas, ada beberapa konter tiket bus, tapi yang menawarkan rute ke Melaka hanya satu, yaitu StarMart Express. Jadwal keberangkatan terdekat saat itu ada di pukul 17:00. Karena tidak ada pilihan, kami pun membeli 3 tiket seharga RM 28/orang.
Gw agak bingung juga saat itu, kenapa tidak ada bus Transnasional di sana, padahal kalau gw baca-baca di internet, bus Transnasional adalah bus paling terkenal yang membawa penumpang dari Kuala Lumpur ke Melaka. Di tengah kebingungan itu, gw melihat satu bus Transnasional datang memasuki platform-nya. Dari hasil wawancara dengan pak supir yang langsung gw berondong pertanyaan, ternyata bus Transnasional memang tidak buka konter tiket di KLIA, tapi penumpang bisa langsung menaiki bus, nah dari KLIA bus akan mengambil penumpang di KLIA 2. Saat di KLIA 2 itulah supir akan mencetak tiket untuk penumpang yang naik dari KLIA.
17:00 :
Bus StarMart Express datang dan kami bertiga segera memasuki bus. Menurut tiket, kursi kami adalah kursi nomor 1, 2, dan 3. Tapi sepertinya nomor kursi itu hanya tulisan biasa tanpa kekuatan hukum apapun, terbukti ketika kami naik, kursi-kursi tersebut sudah ditempati orang lain, sehingga kami harus menerima nasib duduk terisah-pisah di kursi paling belakang.
Bus-nya sendiri sangat nyaman dengan formasi bangku 1 – 2. Total ada 24 kursi dalam satu bus. Kursinya lebar dan empuk, juga bisa di-recline sehingga kita bisa beristirahat dengan nyaman. Hanya AC-nya saja yang terlalu dingin. Karena tidak menyiapkan jaket, gw menghangatkan badan dengan meringkuk sambil memeluk ransel.

SAMSUNG CSC

Ready to landing with ‘kelapa sawit’ everywhere

SAMSUNG CSC

Kuala Lumpur International Airport

SAMSUNG CSC

Spotted Vika & Dani waiting for our baggage

KLIA conveyor belt 2

neat!

kaunter tiket bas

Tempat pembelian tiket bus antar kota antar propinsi

SAMSUNG CSC

Ruang tunggu nan sederhana – bus diparkir sesuai platform masing-masing

jadwal bas

Jadwal StarMart Express – quite on time, i must say

SAMSUNG CSC

Inside the comfy – yet super cold – bus

19:40 :
Akhirnya sampai juga di Melaka Sentral, semacam terminal bus antar kota di Melaka. Kami mengikuti petunjuk untuk sampai ke pangkalan taksi, dengan harapan mendapatkan taksi berargo. Tapi janji tinggal janji, taksi argo hanya mimpi. Nggak ada taksi berargo, ini Malaysia, Bung! Semua main tembak-tembakan dan kami tidak punya pilihan lain. Seketika gw merindukan taksi-taksi Jakarta. Huhuhu…
20:00 :
Setelah di tembak di harga RM 25 untuk sampai di tujuan kami di Lorong Hang Jebat, akhirnya kami mengikuti seorang bapak separuh baya dari ras Melayu. Mobilnya tentu saja sejenis sedan tua yang sempit dan masih kotak-kotak sudut-sudutnya. Sepanjang perjalanan dia banyak bertanya pada kami, termasuk menasehati gw untuk segera menikah *sumpe yaaa diomongin gitu sama orang yang baru pertama ketemu itu rasanyaaa…* *dan diketawain sama Vika dan Dani yang duduk di kursi belakang. Pait, pait, pait…*
Sebenarnya si pak supir taksi ini sudah menunjukkan gejala kurang menyenangkan, dia sepertinya enggan mengantarkan kami sampai ke penginapan. Tapi karena gw langsung pasang tampang memelas, akhirnya dia mau juga mengantar kami sesuai perjanjian awal, walaupun disertai nada-nada tidak ikhlas.
20:30 :
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di depan penginapan. Sebenarnya jarak dari Melaka Sentral ke Lorong Hang Jebat tidaklah jauh. Hanya saja karena untuk sampai ke Wayfarer Guest House kami harus melewati Jonker Street yang kecil dan dipenuhi manusia lalu-lalang, taksi pun tidak bisa melaju kencang.
Kami disambut Mrs. Lian yang ramah namun tegas dan langsung menerangkan peraturan penginapan dan memberikan kunci kamar. Tidak lupa dia juga mengembalikan deposit pembayaran kamar yang berlebih.
Kamar kami terletak di lantai dua dan setelah menaruh koper serta beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam, sekaligus melihat-lihat sekitar penginapan.
21:30 :
Setelah berputar-putar di kawasan Dutch Square yang malam itu tampak berkilauan karena banyaknya becak hias berseliweran, kami berjalan menyusuri Sungai Melaka sambil pasang mata kira-kira mau makan di mana. Bingung menentukan tempat makan, akhirnya kami malah melipir ke satu rumah makan India di kawasan Little India. Makan malam pertama ini tidak bisa dibilang sukses. Rasa makanannya terbilang biasa-biasa saja. Bahkan Milo Malaysia yang terkenal mantap rasa coklatnya pun tidak gw temui. Selepas makan, ternyata sudah pukul 22:00. Mengingat besok kami sudah berencana untuk menjelajahi Melaka habis-habisan, sepertinya lebih baik jika kami kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga yang lelah ini.

baru sampai!

Arrived at hostel happily!

SAMSUNG CSC

a little sneak peak on our hostel *wink*

SAMSUNG CSC

Semacam gerbang memasuki kawasan Little India

dinner

Indian style dinner ~ with Milo ais

SAMSUNG CSC

Our first sight – Dutch Square yang bagai pasar malam saja ramainya

 

SAMSUNG CSC

Another first sight ~ on Melaka River

Nampak seperti hari pertama yang cukup oke dan sangat sesuai dengan itinerary, yes? :mrgreen:

Pengeluaran:
.HIBA Depok – Bandara Rp.60.000,-
.Malaysia Airlines Round Trip Ticket CGK – KLIA Rp.1.920.650,-
.Bakmi GM Rp.42.500,-
.Bus StarMart Express KLIA – Melaka Sentral RM 28/orang
.Jajan Pokka Milk Tea RM 4,75
.Taksi Melaka Sentral – Lorong Hang Jebat RM 25 (approximately RM 8,5/orang)
.Wayfarer Guest House – RM 400/room for 2 nights (approximately RM 134/orang)
.Dinner RM 5

Total pengeluaran hari pertama: Rp.2.023.150,- dan RM 180,25 (Kurs RM 1 equal to IDR 3.200)

[Snapshots] From Singapore

I’ve given some notice to a friend of mine that I’ll be spending the three days and two nights during the long weekend visiting Singapore with colleagues. I was expecting for us to have some meetings and have fun together. It remains a dream. I’ve received no replies ever since.

So I used the free time to walk around Clarke Quay, accompanying Lupita finding some stuffs in Bugis area, and at the last day, I’ve had solo walk to the Gardens by the Bay, one of many places that I actually dream to visit with my friend.

Singapore was in its dry, humid and sweating temperature at the time. And they always have some beautiful, splendid, nice corner or anything else new to capture. With all the glamorous and blended things of traditional and modern sides, I’ve always loved to explore every step of the country. I enjoyed taking pictures here and there, I adore the lamps and lightening on Diwali that has just finished one week before, and I was surprised to see Sesame Street character at Universal Studios; I love Elmo and Mr. Cookies! I also experienced the Transformers, the queue took 2 hours before we started to play, though. And I instantly feel happy when I watched the Monster of Rock; the show has replaced the bad mood I had when I saw how crowded Universal Studios at the time *that successfully hold me from playing games*

Yet, with all the things I know, the walk has never been the same. Every step of mine flew my mind to a friend of mine, someone I love. We’ve been so close in term of distance; we’re far separated in fact.

So I left Singapore with my heart left behind, Mr. Engineer.

I don’t think that I can go there again in a near future. To me, there’s too much sadness in Singapore 😉

Tour Guide: “Coba di periksa sekali lagi, masih ada yang tertinggal atau tidak…”
Saya: “Saya, saya! ‘Hati’ saya ketinggalan nih di Singapur”

It’s Done!

Senin, 7 November 2011, hari keenam di Singapura mungkin adalah hari paling tidak terencana selama perjalanan 7 hari itu.
Awalnya, saya merencanakan akan bermain-main ke Little India dan Singapore Botanical Garden. Namun pertemuan saya dengan Saodah dan Markonah yang tidur satu kamar dengan saya telah membuat kami bertiga menggalau dan akhirnya memutuskan untuk memuaskan nafsu dasar perempuan: belanja 😆

Jadi ceritanya, Minggu malam saat kami baru saja sampai dari tujuan masing-masing pada hari itu dan berkumpul sambil ngobrol ringan di kamar, kami saling bercerita dan memamerkan apa-apa saja yang telah kami lakukan hari itu. Saya memamerkan temuan-temuan lucu yang saya dapatkan saat menggalau di sekitar hostel, dan mereka memamerkan benda-benda yang mereka dapatkan ketika mengunjungi Bugis, termasuk teh Dilmah yang mereka beli di Mustafa Centre. Karena saya ini orangnya iri hati dan dengki, maka saya meminta mereka untuk mengantar saya ke tempat-tempat itu, tempat di mana akhirnya saya khilaf melihat kalung dan belt yang lucu-lucu dan yang terpenting… murah! :mrgreen:
Sebagai balasannya, Saodah dan Markonah meminta saya untuk menjadi guide mereka di Orchard, dan saya sanggupi. Akhirnya terciptalah itinerary saya yang baru: Mustafa Centre – Bugis – Orchard *lagi!*

Pagi-pagi kami menuju Mustafa, sengaja berangkat sepagi yang kami bisa karena kami pingin berbelanja dengan tenang, lagipula jadwal hari itu cukup padat karena Saodah dan Markonah akan langsung menuju bandara segera setelah selesai urusan di Orchard. Di Mustafa cuma sebentar, karena udah tau apa yang diincar. Dilmah tea dan Ahmad tea. Saya curious aja, seperti apa sih rasa teh-nya… karena kan kayaknya happening banget gitu ya… ngalah-ngalahin Sariwangi atau teh Tong Tji. Di sana beli 3 varian teh, dan langsung menuju tujuan berikutnya: Bugis street.
Sampai di toko tujuan, eh bukan saya aja yang kalap, Saodah dan Markonah pun menggalau lagi dan akhirnya beli-beli lagi. Tapi saya akui, kalung dan belt-nya memang lucu-lucu banget! Dan murahnya itu lho… gak akan dapet aksesoris selucu itu hanya dengan harga 20.000 rupiah! Di Ambassador aja gak ada! Bahagia banget rasanya bisa *sedikit* borong aksesoris tanpa ngerasa miskin *sombooooonnnggg* :mrgreen:
Dari Bugis street kami langsung lulumpatan ke Orchard. Lagi-lagi Saodah dan Markonah menggalau di Charles & Keith, biarpun pada akhirnya cuma Saodah yang belanja, dan kami pun meneruskan petualangan alay kami ke Forever 21 karena Markonah mau cari kacamata item. Sampai di Forever 21, ternyata kegalauan saya kumat lagi, dan dengan akhirnya dengan alasan toleransi dengan Markonah, saya pun turut merelakan beberapa SGD untuk kembali beli… aksesoris. Beberapa bulan terakhir ini saya emang agak-agak banci aksesoris, walaupun jarang banget makenya… 😆
Setelah bertekad untuk meredam kegalauan yang menjadi-jadi, kami memutuskan untuk makan siang dengan menu Indonesia. Saodah dan Markonah memelas ingin makan nasi, maka kami pun mampir ke ayam penyet RIA di kawasan Lucky Plaza. Selesai makan, kami segera kembali ke hostel dengan tujuan yang berbeda. Saodah dan Markonah akan packing untuk yang terakhir kali, sementara saya karena suatu hal khas perempuan yang menyebabkan ketidaknyaman *apa deh*
Sampe hostel, packing, terus bertangis-tangisan karena akan berpisah #eaaa saya pun mengantar Saodah dan Markonah ke MRT station, dan sesudahnya saya melanjutkan kembali perjalanan saya. Kali ini, seperti biasa, walking tour di kawasan Little India.

Emang dasarnya saya senang dengan kawasan Chinatown, selesai dengan Little India saya kembali melakukan walking tour di Chinatown untuk kedua kalinya. Hari itu saya tutup dengan packing, mengingat esoknya saya harus kembali ke Jakarta, dan setelah berhari-hari hidup tanpa sambungan internet, Senin malam itu adalah pertama kalinya saya pergi ke lounge hostel yang ada di lantai empat dan berakhirlah saya di depan komputer, ngecek email, blog-walking, dan lain-lain hal yang biasa saya lakukan dengan internet tersayang 😆

Dan akhirnya ya sodara-sodara… It’s time to go back home!!! Yaaaaayyy!!!
Dan derita single backpacker kembali mengharuskan saya untuk mencet-mencet tombol timer, mengusir kebosanan yang melanda di Changi.

Well, i’ve said a little something once ago, rite? That i’ll fly to… hum… a friend of mine. So it been done 😉

Expenses:
– Air minum SGD 0,70
– Brunch Fillet-o-fish & Milo McDonald Bugis SGD 3,95
– Perlengkapan wanita SGD 9 😮
– Gado-gado & Milo di Ayam Penyet Ria Lucky Plaza SGD 7,80
– Rootbeer SGD 1
– Makan siang terakhir sebelum ke changi SGD 3,70 *fillet-o-fish McDonald chinatown*
– Taksi dari Soetta ke rumah *highway fee included* IDR 205.000