[Malacca] 41 Hours of Escapade – Before Coming Home

“Hari 3: tanggal 26 Desember adalah hari terakhir sekaligus hari kepulangan ke Indonesia, jadi waktu yang tersisa harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Then the route would be St. Paul’s HillA FamosaMenara Taming SariBaba Nyonya Heritage HouseKampung Morten”

Sabtu, 26 Desember 2015

Sebagian tempat yang ada dalam daftar kunjungan hari ketiga kami tukar menjadi di hari kedua, dan sebagai gantinya di hari ketiga inilah tempat-tempat yang belum dijamah harus dituntaskan. Dengan pemikiran bahwa kawasan Dutch Square mungkin masih lengang di pagi hari, kami sepakat untuk meninggalkan hostel pukul 8 pagi.

08:30     :

Kenyataannya, kami baru melangkah keluar hostel pukul 08:30, seperti biasa karena gw menggelar acara mandi paling lama *sungkem sama Vika dan Dani*

Tujuan hari ini adalah Dutch Square, A Famosa, dan Baba Nyonya Heritage House. Kampung Morten, yang ternyata cukup jauh dan tidak bisa dikunjungi dalam waktu singkat, sudah dicoret dari itinerary. Sayang sekali, padahal Kampung Morten adalah satu-satunya perkampungan tempat tinggal suku Melayu yang masih mempertahankan adat budaya mereka, terutama bentuk rumah tinggal yang masih berupa rumah panggung.

Dengan harapan kawasan Dutch Square belum padat pengunjung, kami memulai pelancongan hari itu. Tapi ternyata, pukul 08:30 pun komplek bangunan merah bata itu sudah ramai dengan wisatawan dan, tentu saja, becak hias. Harap maklum, Dutch Square mungkin memang tempat wisata paling terkenal di Melaka. Kompleks bersejarah yang dibangun dalam kurun waktu tahun 1660 hingga 1700 inilah yang menjadi magnet wisatawan datang berduyun-duyun setiap harinya tanpa kenal waktu.

Di Dutch Square ini berdiri beberapa landmark Melaka; yang paling terkenal tentu saja Stadthuys, Christ Church, Queen Victoria’s Fountain, dan Menara Jam Tan Beng Swee didepannya.

Stadthuys, dibangun antara tahun 1641 dan 1660, pada awalnya merupakan rumah dinas gubernur jenderal Belanda, dan pada masa penjajahan Inggris dialihfungsikan menjadi alun-alun kota. Sejak tahun 1980, Stadthuys kembali dialihfungsikan menjadi tempat berdirinya berbagai macam museum, seperti Islamic Museum, Architecture Museum, History & Ethnography Museum, dan People’s Museum.

Christ Church, dibangun tahun 1753 untuk memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Melaka, sekaligus menggantikan reruntuhan gereja Portugis saat itu, karena saat pertama kali mendarat di Melaka, Belanda tidak punya tempat untuk beribadah kecuali gereja St. Paul. Pembangunan Christ Church, yang bata merahnya didatangkan langsung dari Belanda, juga menandakan pembangunan gereja Protestan pertama di Malaysia.

Tan Beng Swee Clocktower dibangun tahun 1886 oleh Tan Jiak Kim, putra dari Tan Beng Swee, untuk mengenang sang ayah yang seorang usahawan sukses nan dermawan. Somehow mengingatkan gw pada kisah Tjong A Fie, saudagar asal Medan yang hidup di awal abad ke-20.

dutch square 2

Cita-cita mengunjungi dan hunting foto di Dutch Square pada pagi hari akhirnya terwujud – tapi pukul setengah 9 lewat sedikit pun sudah banyak pengunjung, mungkin perlu datang lebih awal lagi kalau ingin mendapatkan gambar yang tourist-free

dutch square 3

Christ Church di kejauhan – dan Melaka walaupun masih pagi tapi sudah panas menyengat

SAMSUNG CSC

Dutch Square dari sudut pandang lain

queen victorias fountain

Menara Jam Tan Beng Swee & Queen Victoria’s Fountain

christ church 2

Christ Church #1

christ church

Christ Church #2

red wall 2

Red!

red wall 4

Red wall along the way

SAMSUNG CSC

Papan nama jalan

SAMSUNG CSC

Old white window & red door

red wall 3

The stairs & red-white combination

SAMSUNG CSC

Yang berjaga di sekitar Dutch Square

with vika

and still… pose!

09:20     :

Meninggalkan Dutch Square tanpa menginjakkan kaki ke dalam bangunan-bangunannya, kami sampai di A Famosa, benteng pertahanan yang dibangun oleh Alfonso Albuquerque dengan mengerahkan 1500 orang budak, walaupun yang tersisa sekarang hanyalah puing-puing salah satu gerbangnya; Porta de Santiago.

Pada awalnya, A Famosa meliputi pula rumah sakit dan lima bangunan gereja, lengkap dengan benteng yang memagari kota dan empat menara penjaga. Saat ini, pengunjung dapat melihat beberapa meriam di depan reruntuhan Porta de Santiago.

a famosa

Forta de Santiago – sebagian kecil dari sisa-sisa A Famosa

meriam a famosa

[bukan] meriam si jagur

10:30     :

Pembicaraan malam sebelumnya dengan Ms. Lian sang resepsionis hostel tentang kepulangan kami menunjukkan bahwa Mahkota Medical Centre, pick up point bus yang akan membawa kami ke KLIA, terletak di belakang Mahkota Mall, dan dia menyarankan kami untuk datang langsung ke sana untuk bertanya lebih jelas tentang tiket dan jadwal keberangkatan bus.

Dari beberapa blog yang gw baca, bus yang menuju KLIA berangkat dari Mahkota Medical Centre dan Melaka Sentral. Begitu mendengar bahwa Mahkota Medical Centre ternyata masih dalam walking distance yang masuk akal, kami memutuskan untuk naik bus dari Mahkota Medical Centre saja.

Dari A Famosa, kami langsung ke Mahkota Medical Centre. Untuk sampai ke tempat pemesanan tiket bus, masuk saja lewat pintu di sebelah Seven Eleven. Ternyata hanya ada dua bus yang buka konter di rumah sakit ini: Transnasional dan StarMart Express. Sayangnya tidak ada yang menjaga loket Transnasional. Melihat perbedaan harga yang sangat tipis dan mengingat bus StarMart yang kami tumpangi sebelumnya cukup nyaman sementara kami belum tau seperti apa rupa bus Transnasional, kami putuskan untuk membeli tiket StarMart seharga RM 25 per orang.

Sebenernya gw agak gatel pengen tanya kenapa harganya berbeda dengan rute dari KLIA ke Melaka Sentral, tapi gw urungkan.

Penerbangan kami pukul 22:00, maka kami berniat memesan bus untuk keberangkatan pukul 16:00. Dengan estimasi perjalanan memakan waktu 3 jam, masih cukup waktu untuk menyelesaikan proses keberangkatan dan sejenak bersantai di KLIA. Tapi mbak penjaga konter menyarankan kami untuk mengambil bus keberangkatan pukul 13:00, karena saat long weekend seperti ini lalu lintas dan keadaan jalan tidak dapat ditebak, katanya, dikhawatirkan terjadi kemacetan yang berujung ketinggalan pesawat jika kami mengambil bus pukul 16:00. Dia bahkan tidak menyarankan bus pukul 14:00 dengan alasan yang sama. Dengan semboyan locals know best, kami pun patuh kata-katanya. Dan itu berarti mencoret BABA NYONYA HERITAGE HOUSE dari itinerary siang itu, karena rumah khas peranakan itu tutup pukul 11:30 dan kembali buka pukul 14:00.

SAMSUNG CSC

Dan setelah melewati Dutch Square, A Famosa, Dataran Pahlawan Mega Mall, terlihatlah Mahkota Medical Centre – pick up point bus rute Melaka – KLIA

mahkota medical center 2

Lihat tangga kecil itu? Itu pintu masuk menuju konter penjualan tiket bus, letak pintunya persis di sebelah Seven Eleven

jadwal bus 2

Jadwal Bus Transnasional – tapi konter mereka selalu kosong tanpa ada yang melayani

jadwal bus

Jadwal bus Starmart Express – konter bus ini adalah satu-satunya yang ada penjaganya di antara 3 konter yang ada di Mahkota Medical Centre (konter Starmart Express, konter Transnasional, konter Malindo Air)

tiket

The ticket!

Selesai dengan urusan tiket, kami masih berusaha melipir sebentar untuk foto-foto dengan sisa waktu yang ada. Di gabung dengan hasil hunting sekeluarnya dari hostel sebelum ke Dutch Square, inilah sedikit dari apa yang kami lihat sepanjang kaki melangkah:

melaka river 1

Sungai Melaka di pagi hari

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka di pagi hari, di ambil dari jalan kecil di belakang hostel

SAMSUNG CSC

masih Sungai Melaka

SAMSUNG CSC

Sidani – ketika bedak masih menempel sempurna

melaka river 6

sisi lain Sungai Melaka

melaka river 4

Casa del Rio – konon hotel paling mahal seantero Melaka

SAMSUNG CSC

Kincir air Kesultanan Melayu Melaka

SAMSUNG CSC

Heeren House di seberang – salah satu historical place di Melaka

SAMSUNG CSC

Lorong Hang Jebat

dutch square 4

Ducth Square menjelang tengah hari

melaka river 3

Kembali lagi menyusuri jalan kecil di belakang hostel

ala haji lane

satu lorong ala Singapore Haji Lane’s mural

11:30     :

Sesampainya di hostel, kami langsung meminta tolong pada resepsionis untuk memesankan satu taksi. Walaupun jarak ke Mahkota Medical Centre bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi mengingat bawaan kami yang cukup berat, rasanya naik taksi merupakan pilihan bijak, apalagi di siang hari bolong seperti itu. Jadilah resepsionis memesankan taksi untuk kami, sekaligus menetapkan harga, RM 20 untuk sampai ke Mahkota Medical Centre. Gw menegaskan sekali lagi bahwa tujuan kami adalah Mahkota Medical Centre dan bukannya Melaka Sentral.

Mepet dengan pukul 12, kami check out dan segera berhamburan ke dalam taksi. Kali ini seorang paman bermata sipit yang mengemudi, orangnya cukup ramah dan ramai bercerita ini itu. Setelah cukup lama berjalan, gw dalam hati merasa sangsi, kenapa belum sampai juga? Bukankah untuk sampai di Mahkota Medical Centre itu seharusnya tidak perlu berjalan sejauh ini? Belum gw lontarkan keheranan gw, Vika yang duduk di kursi belakang bertanya meyakinkan, “kita ke Mahkota kan, Ke?”

Pertanyaan yang sama langsung gw lempar pada paman supir. Dan dia terkejut. Sempat mengomel sedikit karena kami tidak menyebutkan tempat tujuan, tapi gw membela diri bahwa gw sudah menjelaskan tempat tujuan berkali-kali pada resepsionis yang memesan taksi. Paman supir pun menelpon si resepsionis, dari nada bicaranya gw menangkap bahwa kesalahan memang terletak pada resepsionis. Paman supir akhirnya mencoba mencairkan suasana dan menenangkan kami bahwa masih cukup waktu untuk mengejar bus kami.

Pukul setengah satu lebih beberapa menit, kami sampai di Mahkota Medical Centre. Kami sepakat untuk menambah RM 5 karena si paman bersedia mengantar kami tanpa bersungut-sungut, jadilah ongkos taksi itu RM 25 keseluruhan. Paman taksi tampak terkejut menerima kelebihan RM 5, tapi dia tertawa-tawa juga.

Sekitar 20 menit waktu yang kami punya kami gunakan untuk makan siang di kafetaria rumah sakit itu, tak lupa membeli cemilan bekal di perjalanan. Gw ingin ke toilet tapi jarum jam sudah menunjukkan pukul 13. Kami bergegas ke tempat menunggu bus di halte depan rumah sakit.

13:30     :

Sudah 30 menit lewat dari waktu yang dijanjikan, tapi bakal bus kami belum juga menunjukkan spionnya. Gw dan Vika kadang saling meyakinkan bahwa kami belum ditinggal bus, dan Vika juga sama seperti gw: ingin ke kamar kecil. Kami ragu-ragu untuk mengasingkan diri ke tandas karena khawatir bus akan datang tiba-tiba. Bus jarak jauh ini bukan tipe setia menunggu penumpang, sepertinya.

Dalam keresahan menunggu bus yang tak kunjung muncul, sekonyong-konyong muncul mbak penjaga konter tiket bus dan meminta kami untuk menunggu di dalam rumah sakit saja. Belum ada kepastian jam berapa bus akan tiba, katanya, karena kemacetan di mana-mana. Kembali ke kafetaria rumah sakit, gw langsung terbang ke toilet dan Vika menunaikan shalat. Tapi di kamar kecil pun gw tak tenang karena khawatir bus datang tiba-tiba.

halte bus

Halte bus di depan Mahkota Medical Centre – disinilah sebenarnya tempat kami menunggu bus Starmart Express

14:15     :

Akhirnya StarMart Express tiba juga, dan sesuai perkiraan kami, tak sampai satu menit bus berhenti, hanya untuk menaikkan penumpang yang terdiri dari kami bertiga dan seorang bapak berusia lanjut. Sesampainya di Melaka Sentral, bus juga hanya berhenti sebentar, dan menaikkan seorang penumpang lagi. Total hanya ada 5 orang penumpang dalam perjalanan Melaka – KLIA.

starmart express 2

inside the bus Starmart Express – seandainya bus antar kota di Indonesia senyaman ini

starmart express

inside the bus Starmart Express – still cozy

17:00     :

Setelah menurunkan 2 penumpang di KLIA 2, supir bus tampak heran melihat kami masih berada di bus. “No AirAsia? No AirAsia?” tanyanya. “No,” we replied. Dia tampak bingung dan sangsi. “Then what’s your flight?”

“Malaysia Airlines”

Dia tampak tak yakin. Mungkin tampang lusuh kami tidak cukup meyakinkannya kami mampu membeli tiket maskapai satu itu *which, with all due respect, I personally don’t want to experience it again*

Begitu menjejakkan kaki di KLIA, hal pertama yang kami lakukan adalah makan. Nooodles menjadi pilihan. Gw, yang masih bertahan ingin mencari Laneige, tidak ikut makan demi mempertahankan lembar-lembar terakhir ringgit, apalagi kami masih akan menghabiskan beberapa jam di bandara ini, yang berarti masih ada kemungkinan kami akan kembali mencari pengganjal perut hingga tiba saatnya lepas landas.

Usai makan, sambil menunggu dibukanya konter check in, gw dan Vika berjalan hilir mudik di sekitar island tempat check in. Gw heran melihat pesawat yang sudah mepet waktu terbang tapi konter check in-nya tak kunjung di buka, bahkan gate-nya sudah closed. Penasaran, gw akhirnya menemukan petunjuk bahwa calon penumpang harus melakukan self-check in.

Prosesi selanjutnya adalah drop baggage di island C, dan melenggang lah kami ke Perlepasan Antara Bangsa. Selesai urusan imigrasi, kami melipir sebentar ke mushala yang letaknya tersembunyi di belakang konter Bank Islam. Sementara Vika menunaikan shalat, gw berjalan hilir mudik mencari makanan pengganjal perut. Waktu masih menunjukkan pukul 20:30, masih panjang penantian kami hingga lepas landas pukul 22.

Saat Vika dan Dani bergabung dengan gw yang menyantap cemilan malam di depan gate H2, satu SMS masuk ke HP gw.

Penerbangan kami ditunda menjadi pukul 23:00.

SAMSUNG CSC

a little view of KLIA – when we got bored to death while waiting for the flight

22:20     :

Setelah kebosanan yang mendera cukup lama, kami memutuskan untuk masuk boarding room. Nothing more to do, bandara ini tidak terlalu mengasyikkan untuk di eksplorasi. Beberapa menit menjelang pukul 23:00, calon penumpang dipanggil masuk pesawat.

5 menit menjelang pergantian hari, kami mendarat di Jakarta. Mungkin karena penerbangan kami termasuk dalam penerbangan paling akhir, segala urusan imigrasi dan pengambilan bagasi selesai dalam waktu 30 menit. Pukul 00:30 taksi membawa kami membelah jalanan ibukota.

It’s finally home again, after quite a mess trip :mrgreen:

Alhamdulillah.

SAMSUNG CSC

and thanks to Sipikah whose pictures i use a lot in my posts

Pengeluaran:

.StarMart Express from Mahkota Medical Centre to KLIA RM 25
.Cemilan di Sevel RM 2,30
.Taksi from hostel ke Mahkota Medical Centre RM 25/3 persons
.Paratha Chicken & Hot Milo RM 10,40
.Taksi dari Soetta ke rumah masing-masing IDR 294.000 (includes surcharge zone IDR 7.500 & highway fee)

Advertisements

[Malacca] 41 Hours of Escapade – Day 2

“Hari 2: tanggal 25 Desember harus dimulai dengan semangat membara. Lagi di negeri orang, it’s time to explore! So it should be bangun super pagi dan sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah – Dutch Square – the Stadhuyst – Christ Church – Queen Victoria’s Fountain – souvenir shopping at Hard Rock Café, San Shun Gong, Starbucks, dan Orang Utan House – menimba ilmu di Cheng Ho Cultural – makan lalu shalat di Masjid Kampung Kling – Cheng Hoon Teng Temple – menikmati matahari terbenam dengan menyusuri sungai Melaka lewat Melaka River Cruise – dan menghabiskan malam di Jonker Street Night Market”

peta malaka

Peta Melaka – Map of Historical Site and Tourism Spot in Malacca

Jumat, 25 Desember 2015
Katanya itinerary sih… di hari kedua ini kami harus “bangun super pagi” dan mengacu pada timeline yang gw buat, itu berarti kami harus bangun pukul 6 pagi untuk shalat subuh dan kegiatan lainnya. Sarapan? Wayfarer Guest House tidak menyediakan free breakfast, jadi kami harus mencari sarapan sendiri di kedai makan yang banyak bertebaran di sekitar hostel. Cocok banget sama cita-cita kami yang pengen wisata kuliner makanan local.
Tapiiiii… ketika alarm HP Vika berbunyi nyaring selama satu menit pada pukul 6, alih-alih ada yang bangun, Vika malah tetap terlelap sampai akhirnya si alarm capek sendiri. Gw memaksakan diri bangkit dari peraduan sekitar pukul 8, mencoba membangunkan Vika dan mendapat balasan, “suka-suka lo deh, Ke,” dari yang bersangkutan sambil masih berbalut selimut. Patah hatiku. Ini gimana mau eksplor Melaka? Jam 8 masih pada meringkuk semua. Duh… maklumlah kami memang semakin dewasa.
Dengan mata setengah terpejam, gw turun ke lantai 1 kamar kami. Mandi.

10:00 :
Jadi jam berapa kami mulai keluar hostel, wahai para pembaca?
Yes, jam 10. Mundur 2 jam dari itinerary. Ahey. Uhuhuhu. Ihiks. Sedap jeh.
Lalu apa kabar “sarapan chicken rice ball di Kedai Kopi Chung Wah”? Kedai Kopi Chung Wah mungkin merupakan kedai paling terkenal di Melaka dalam dunia chicken rice ball. Apalagi letaknya sangat dekat dengan hostel kami, hanya 5 menit berjalan kaki. Konon kelezatan rasanya mampu membuat orang berduyun-duyun datang dan rela mengantri demi menikmati kepalan-kepalan nasi ayam nan gurih. Kami pun demikian. Tapi itu sebelum gw membaca review-review di internet yang mengindikasikan bahwa kehalalan chicken rice ball Kedai Kopi Chung Wah diragukan. Setelah menginformasikan hal itu kepada Vika dan Dani, kami pun putar haluan, melupakan si nasi ayam. Lagipula ini sudah lewat dari waktu sarapan. Ini bukan lagi lunch, tapi sudah jadi brunch.

Saat celingak-celinguk mencari tempat makan yang di rasa aman, mata kami tertumbuk pada satu kedai penuh barang antik yang menawarkan nasi lemak, kaya toast, dan laksa. Namanya SAYYID ANTIQUE. Sebagaimana namanya, kedai makan ini dipenuhi barang-barang antik dari jaman yang sudah lama berlalu. Mulai dari majalah-majalah musik dan film sekian dekade yang lalu, hingga radio transistor tua yang menemani kami menyantap hidangan, tak henti mendendangkan lagu-lagu Melayu tempo dulu. Sepasang laki-laki dan perempuan setengah baya yang kami duga sebagai sepasang suami istri, melayani pembeli. Si laki-laki mencatat pesanan, sementara sang perempuan berjilbab meracik bumbu dan menyiapkan makanan. Vika dan Dani sama-sama memesan nasi lemak, dan memilih teh tarik serta ais milo sebagai minuman masing-masing. Sementara gw memesan laksa dan ais milo. Cukup lama kami menunggu pesanan datang. Dan ketika terhidang, yang nampak bukanlah ais milo, tapi milo hangat. Gw dan Dani berpandang-pandangan. Ah sudahlah, rasanya tak tega kalau harus protes atas kesalahan pesanan ini.

Rasa nasi lemaknya tidak istimewa, tapi baik Vika maupun Dani setuju bahwa ikan asinnya yang disajikan sebagai hidangan pendamping rasanya enak. Sementara untuk laksanya… overall gw sih suka. Kuahnya light, tidak terlalu kental tapi pas, segar. Porsi mie kuning dan mie putihnya juga cukup, tidak terlalu sedikit tapi juga tidak berlebih. Vika ikut mencicipi dan langsung menyukai kerang yang cukup banyak dimasukkan sebagai campuran laksa. Kesulitan mencari makanan *yang sepertinya* halal di titik-titik wisata membuat kami sepakat untuk kembali ke kedai ini saat waktu makan berikutnya.

sayyid brunch 2

SAMSUNG CSC

sayyid brunch 4

sayyid brunch 1

10:40 :
Hanya beberapa langkah dari SAYYID ANTIQUE, berdiri CHENG HO CULTURAL MUSEUM yang menjadi salah satu tujuan kami.
It is believed that the present Museum is situated on the original site of Guan Chang built by Cheng Ho, the Ming Grand eunuch, about 600 years ago. His mighty fleet of several hundred ships sailed seven times to the Western Ocean from China from 1405 to 1433.
Sayangnya, Vika dan Dani sedang tidak berminat pada sejarah. Mendengar kami perlu mengeluarkan RM 10 untuk bisa menikmati museum yang dipercaya sebagai kawasan pergudangan yang dibangun oleh Cheng Ho sekitar 600 tahun lalu, Vika dan Dani menyarankan agar kami mencoret bangunan tua bergaya Tiongkok itu dari daftar kunjungan.

Melanjutkan langkah kaki, kami melihat THE ORANG UTAN HOUSE, sebuah toko yang menjual t-shirt dan poster hasil karya seniman Charles Cham sebagai souvenir dari kunjungan ke Melaka. Gw langsung saja menggeret Vika dan Dani, meminta saran mereka desain mana yang oke untuk adik gw si Bayi Gorilla.
T-shirt yang ditawarkan didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, dengan desain sablon yang cukup menarik dan kualitas kaus yang cukup baik, tersedia dalam berbagai ukuran. Selembar t-shirt dihargai RM 39, kecuali untuk ukuran XL diberi harga khusus yaitu RM 42, sementara kaus anak-anak dibanderol RM 20.
Laki-laki berperawakan gemuk yang menjaga toko melayani pengunjung dengan ramah. Jika membeli 10 t-shirt dalam satu struk pembelian akan mendapat gratis 1 t-shirt, katanya. Hehehe… sayangnya tidak banyak orang yang masuk dalam daftar oleh-oleh gw.
Dengan satu t-shirt sebagai buah tangan, kami meninggalkan The Orang Utan House yang mudah dikenali dari jauh lewat lukisan orang utan berwarna oranye didindingnya yang berwarna kuning.

orang utan house

The Orang Utan House | 59, Lorong Hang Jebat, opening hours 10:00 – 18:00, taking photos is not allowed

Di perempatan jalan, berdiri bangunan merah 4 lantai di sisi kanan yang dikenal dengan nama SAN SHU GONG, pusat oleh-oleh makanan khas Melaka, mulai dari dodol rasa durian, selai kaya, selai durian, pineapple tarts, sampai yang katanya must-try food: cendol durian. Gw perhatikan, toko ini tidak pernah sepi pengunjung dan setiap orang yang keluar dari toko ini bisa dipastikan membawa berkantung-kantung belanjaan… kecuali kami, mungkin. Gw, Vika, dan Dani, yang penasaran pun masuk ke dalam, berkeliling sebentar, dan segera keluar lagi karena tidak ada yang menarik hati. Padahal toko ini termasuk ke dalam top list para turis saat akan berburu buah tangan.

Di sisi kiri perempatan, berdiri satu kedai sederhana berjudul KEDAI KOPI CHUNG WAH. Ah… ini tempat yang tadinya jadi target operasi kami! D, seorang rekan kerja gw, sampai mewanti-wanti supaya datang pagi-pagi dan tidak melewatkan chicken rice ball-nya Kedai Kopi Chung Wah ini. Kalau tidak, siap-siap saja kehabisan atau paling bagus harus ikut bersabar dan mengantri dengan calon pembeli lain yang mengular hingga ke depan Hard Rock Café yang terletak disebelahnya.

SAMSUNG CSC

the Red Storey Building: San Shu Gong | 33, Jalan Hang Jebat, opening hours 10:00 – 22:00

san shu gong chung wah

Kedai Kopi Chung Wah: the one which is very very very famous for its chicken rice ball – that able to make people stand in line

11:15 :
Matahari yang semakin tinggi dan garang memaksa kami mempercepat langkah. Vika mengusulkan untuk mengubah itinerary, yang tadinya akan mengunjungi Dutch Square menjadi St. Paul’s Hill. Pertimbangannya, hari sudah sangat siang sehingga Dutch Square pasti sudah penuh sesak. Memang, mungkin karena di Melaka juga sedang musim liburan, ketika melewati Dutch Square kami melihat komplek bangunan merah itu dipenuhi manusia dan becak hias dengan hingar bingar musik yang berdandan begitu rupa. Sering sekali terdengar lirik lagu Cita Citata di mana-mana, “sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku.” Makjleb bener kakaaakk… niat mau piknik kenapa jadi bikin galau begini :mrgreen:

Sebelum mendaki St. Paul’s Hill, dengan sedikit berat hati kami mampir membeli 3 buah topi untuk melindungi wajah dan kepala dari sengatan matahari. Memang pandai si tukang topi ini, dia menggelar dagangannya tepat di pintu masuk St. Paul’s Hill.
Harapan bahwa St. Paul’s Hill akan lebih sepi daripada Dutch Square pupus sudah. Terik matahari sepertinya tidak menghalangi orang-orang datang berduyun-duyun untuk melihat reruntuhan komplek gereja ini.

St. Paul’s Hill memiliki kaitan sejarah dengan zaman kolonialisme Portugis dan Belanda beberapa abad silam. Gereja yang dibangun oleh bangsa Portugis di puncak bukit ini didedikasikan untuk Saint Paul, satu dari 12 Apostles. Di depan gereja didirikan pula patungnya yang berwarna putih. Bagian luar reruntuhan memperlihatkan gaya arsitektur Portugis. Didirikan pada tahun 1521, membuat gereja St. Paul ini sebagai gereja tertua di Asia Tenggara.
Informasi lain mengatakan bahwa gereja ini diperuntukkan bagi Virgin Mary, dibangun oleh Duarte Coelho, seorang bangsawan Portugis, sebagai rasa syukurnya telah selamat dari badai yang menimpanya di Laut Cina Selatan.
Di bagian dalam reruntuhan terletak banyak batu nisan dari tahun 1650-an. Tak mengherankan karena pada tahun 1592 di buka pula komplek pemakaman di bukit ini.

dutch square

Dutch Square yang indah menawan dan tampak anggun bersejarah itu… terhalangi becak hias yang berseliweran ~Huhuhu… remuk bayangan gw akan sebuah kota tua romantis!

SAMSUNG CSC

Another view of Dutch Square

bukit st paul 4

Bukit St. Paul & Gerejanya

bukit st paul 1

Gereja St. Paul, dan disekitarnya bertebaran bangunan tua yang dialihfungsikan menjadi museum

bukit st paul 3

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani

SAMSUNG CSC

Sipikah & Sidani ala ala Eropah

gereja st paul

Sipikah, Sidani, dan Sicantik *kalo diliat dari Monas dan didempul Camera360*

SAMSUNG CSC

Next stop! Sutet *eh*

12:30 :
Dari puncak St. Paul’s hill kita dapat menikmati pemandangan Melaka dan di kejauhan terlihat MENARA TAMING SARI. Memperkirakan jarak dari St. Paul’s Hill ke Menara Taming Sari tidak terlalu jauh, Vika dan Dani setuju untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut.
Dan memang, mungkin hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Menara Taming Sari. Sebagaimana tempat wisata lain di Melaka saat itu, Menara Taming Sari pun dipenuhi pengunjung. Kami pun berbagi tugas: Vika dan Dani membeli tiket sementara gw mengantri untuk masuk ke dalam si gelas kaca. Dengan harga tiket RM 20, pengunjung mendapatkan satu botol kecil air mineral dan satu cup kecil muffin dengan chocolate chips yang ternyata… endeeeuusss sodara-sodara!

Setelah mengantri sekitar 10 hingga 15 menit, akhirnya tiba juga giliran kami memasuki si gelas kaca. Gelas kaca mulai bergerak mengitari tiang menara hingga ke atas, dan kemudian turun lagi, dan itu dilakukan hanya dalam waktu 5 menit! Jadi lebih lama ngantrinya daripada menikmati pemandangan Melaka dari ketinggian. Bandingkan dengan Singapore Flyer yang memberikan waktu 30 menit untuk melihat Singapura dari udara *yaudahsih nggak usah dibandingin*

menara taming sari

Kita mau naik ini. Menara TVRI! *ehbukanyak*

menara taming sari 2

menara taming sari 3

menara taming sari 4

menara taming sari 1

Inside the Menara

menara taming sari 5

Dan di negara orang pun tetap gagal menebar pesona *sicowoklebihmilihngekerpemandangandaripadangekerkita-kita*

menara taming sari view 3

View from the Menara #1

menara taming sari view 4

View from the Menara #2

SAMSUNG CSC

View from the Menara #3

SAMSUNG CSC

View from the Menara #4

Dari Menara Taming Sari, kami memutuskan untuk makan siang. Sejauh mata memandang, menu yang terpampang di hampir semua rumah makan adalah asam pedas dan nasi campur. Kembali gamang dengan pilihan makanan, kami mencoba masuk ke dalam satu kedai makan bernama Asam Pedas Selera Kampung yang tampak sangat ramai sampai-sampai kami harus pasang mata dan berebut tempat duduk dengan pengunjung lain. Asam Pedas Selera Kampung ini menggunakan sistem self-service, jadi satu orang menunggu meja, sementara lainnya mengambil nasi, lauk pauk, dan minuman. Urusan pembayaran dilakukan nanti setelah selesai makan.

Sesuai namanya, yang jadi andalan adalah menu asam pedas ikannya. Sebenarnya asam pedas itu sama saja dengan asam padeh-nya urang awak. Begitu pelayan menuangkan asam pedas ke dalam wajan saji, langsung ludes seketika. Anyway, gw sih merasa ayam goreng yang gw makan biasa-biasa aja tuh rasanya. Mungkin pengaruh makan terburu-buru juga ya saking penuhnya tempat ini.
Satu hal yang menarik, seluruh perempuan pelayan di kedai ini menggunakan gamis dan jilbab panjang berwarna hitam, sebagian diantaranya bahkan bercadar. Gw dan Vika meyakini, yang bercadar pasti cantik. Keliatan dari tangannya *eh*

V: “Ke, yang bercadar tadi pasti cantik deh”
U: “Kayaknya begitu Vik, keliatan dari tangannya. Keren ya, tangannya aja udah kece begitu”
V: “Sepertinya memang cadar yang menutupi wajah itu bikin orang makin penasaran ya”
U: “Hmm.. apa perlu pake cadar aja kita? Siapa tau ada yang mau…”
***
U: “Ah tapi nanti malah takut ketipu suami-suami kita, kirain cantik eh nggak taunyaaa…”
Huhuhu…

Sekelumit percakapan gw dan Vika di depan cermin sambil membersihkan wajah masing-masing sebelum pergi tidur. Please don’t get offended, no bad intention. Sangat absurd, sangat perlu dikesampingkan :mrgreen:

asam pedas 1

Asam Pedas Selera Kampung

14:00 :
Bersebelahan dengan Asam Pedas Selera Kampung, ada sentra oleh-oleh bernama Pahlawan Walk. Ke sana lah kami melipir, siapa tau ada apa gitu yang bisa di bawa pulang. Setelah memilih-milih, kunjungan singkat mendadak itupun menghasilkan beberapa magnet kulkas sebagai souvenir bagi orang-orang di tanah air.

pahlawan walk

Mampir sebentar setelah makan – semacam sentra oleh-oleh Melaka

pahlawan walk 1

Lumayan bagi yang cari-cari magnet kulkas di sini ~cukup variatif

 

14:45 :
Vika memutuskan untuk shalat di hostel. Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan mencicipi coconut shake yang dijajakan di depan San Shu Gong dan kemudian mampir sebentar ke Hard Rock Café. Sempat tergoda untuk membeli gelas cantik dan magnet *yang sungguh keliatan banget ‘harga’nya dibandingkan magnet RM 3 yang kami beli di Pahlawan Walk*, tapi dalam hati masih berpikir ulang dan berharap ada Starbucks di Melaka.

16:15 :
Kembali ke jalanan! Dan kembali menyimpang dari itinerary *sobek-sobek itinerary*
Demi tumbler Starbucks dan lontong instan titipan Nyonya Besar, kami rela berjalan lebih jauh ke dua mall yang ada di jagat Melaka. Mall pertama yang kami sambangi adalah Dataran Pahlawan Mega Mall. Sukses mendapatkan tumbler Starbucks dan diberi kartu keanggotaan Starbucks berbentuk gelas kertas sebagai kenang-kenangan *mbak-mbak Starbucks-nya sungguh ramah! Tapi sejauh ini gw memang belum pernah menemukan orang-orang Starbucks yang jutek sih… thumbs up!*, kami melanjutkan ke Mahkota Mall yang terletak diseberangnya. Tujuan utama adalah Giant, tempat di mana kita bisa menemukan lontong instan dan cemilan lainnya. Untuk sampai ke Giant, kita harus masuk melalui Parkson dan turun dengan eskalator. Sampai di Giant kami langsung kalap mengambil ini itu, dan dengan gembira membawa belanjaan kami ke kasir. Kenapa kah cemilan Malaysia itu enak-enak? Huhuhu…

Kegembiraan itu sirna seketika saat kasir memberi tahu bahwa tidak ada kantung plastik untuk membawa belanjaan. Eh?
Iya, adanya kardus. Dan kita membereskan sendiri belanjaan-belanjaan kita ke dalam kardus. Tidak ada bantuan, tidak ada tali rafia, tidak ada selotip atau isolasi atau gunting apalah apalah. Kami terbengong-bengong. Jadilah kami menenteng kardus dari Giant hingga hostel. Lumayan juga berjalan sekitar 20 menit sambil menggotong-gotong kardus berat. Kami sama sekali tak tampak seperti turis.
Jadi, yang mau belanja di Giant Melaka, siapkan tas belanja sendiri ya!

giant

Mbak Dani sibuk mengatur belanjaan – setelah cemberut sebelumnya

18:45 :
Balada gotong-gotong kardus menyebabkan kami yang tadinya berniat langsung menyusuri Jonker Street dan berlayar mengarungi Sungai Melaka, menjadi kembali lagi ke hotel hanya untuk menaruh belanjaan.
Konon, belum sah ke Melaka kalau belum menikmati akhir pekan di Jalan Hang Jebat… atau yang lebih dikenal dengan nama Jonker Street.

Jonker Street yang merupakan pusat dari kawasan Chinatown terkenal dengan deretan toko-toko yang menjual barang-barang antik, kini telah menjelma menjadi satu kawasan wisata yang mengundang siapapun untuk datang. Setiap akhir pekan, pada Jumat dan Sabtu malam, Jonker Street berubah menjadi kawasan car-free sejak sore; tempat para wisatawan berbaur dengan penduduk lokal, tempat orang-orang menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan dan menjajakan mulai dari makanan hingga barang-barang elektronik. Sudah bisa ditebak, pada saat itu Jonker Street sangat padat hingga untuk berjalan pun susah; kami harus berjalan perlahan-lahan, sambil menikmati keriuhan di sisi kiri dan kanan jalan dan mencari tempat untuk mengisi perut. Kami belum makan malam. Lupakan rencana street photography. Berada di tengah-tengah lautan manusia membuat kami hampir tidak bisa bergerak dan lebih fokus menjaga harta benda masing-masing.

Berjalan dari ujung ke ujung, bukan para penjual yang menarik hati kami, tapi beberapa tempat berarsitektur cina dengan ukiran naga, yang di dalamnya terdapat warga lokal berusia lanjut yang menari dan menyanyi dengan penuh percaya diri. Jangan bayangkan satu ballroom megah atau kamar-kamar karaoke. Tempat menari dan menyanyi itu hanya berupa ruangan yang meja dan benda-benda lainnya dipinggirkan ke dinding. Kursi-kursi plastik ditaruh seadanya untuk menonton para kakek bernyanyi.
Walaupun di sepanjang jalan banyak bertebaran kedai makan, tapi mencari yang halal merupakan kesulitan tersendiri. Kami sempat mampir ke Masjid Kampung Kling, namun disekitarnya pun tidak ada tempat makan. Agak putus asa, kami mampir ke Seven Eleven dan membeli cup noodles untuk diseduh sesampainya kami di hostel nanti.
Ketika Vika mampir ke tandas awam, dia sempat bertanya tempat makan yang halal. Ternyata ada satu tenda kaki lima di belakang makam Hang Kasturi, satu dari 5 bersaudara pahlawan Melayu. Gw tidak berselera melihat nasi lemak dan lauk pauk yang ditawarkan, jadi gw hanya menemani Vika dan Dani menghabiskan makan malam mereka.

22:30 :
Akhirnya kami mencoret Melaka River Cruise dari agenda malam itu. Lepas dari kepadatan Jonker Street, kami memutuskan menyusuri Sungai Melaka lewat jalan kecil di belakang penginapan-penginapan di pinggir sungai. Malam pun ditutup dengan mengemasi barang-barang, besok sudah waktunya kami meninggalkan Melaka.

Dan itinerary pun bubar jalan.

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night 1

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Sungai Melaka at night

melaka river night

Sungai Melaka at night

SAMSUNG CSC

Setelah berjalan menyisiri tepian Sungai Melaka – this is Lorong Hang Jebat, where our hostel took place

Btw, dapet salam dari yang manis… 😆 😆 😆

 

 

 

Pengeluaran:
.Laksa at Sayyid Antique RM 5
.Milo at Sayyid Antique RM 2
.Orangutan House’s t-shirt size XL RM 42
.Topi RM 10
.Tiket Menara Taming Sari RM 20
.Lunch at Asam Pedas Selera Kampung RM 12
.Magnet RM 10/3 pieces
.Coconut Shake RM 4
.Tumbler Starbucks RM 55
.Bourjois Rouge Edition Velvet each RM 39,80
.Shopping at Giant RM 81
.Cemilan at Seven Eleven RM 7,20
Total pengeluaran hari kedua: RM 327,80