[Seoul & Gyeonggi-do] Highlights Day 1 – to the downtown, Seoul

Sabtu, 4 April 2015.
“Menjelang pendaratan, pilot mengumumkan suhu udara di darat. 11 derajat celcius. Pukul 08:30 waktu Korea, kami mendarat di Incheon International Airport.”
Hmm… oke. So it was 11 celcius degree outside and I’ve been forgot how cold it was back then, but I reckon that it shall still be pretty cold for tropical person like me and my mom.

Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, seolah tak sabar para penumpang pun segera berhamburan keluar. Tempat pertama yang kami cari di tengah megahnya Incheon International Airport adalah toilet karena kami harus berganti pakaian. Berangkat dari negeri dengan matahari bersinar sepanjang tahun, kami berangkat tanpa mengenakan baju penahan dingin alias longjohn secara lengkap. Gw hanya mengenakan longjohn bawahan, sementara Nyonya Besar sebaliknya.
Dan begitu sampai di kamar mandi, kami bertemu dengan banyak turis lain, sebagian besar dari Indonesia, dan melakukan hal yang sama dengan kami.

Dengan pakaian perang yang dirasa telah lengkap, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah bangunan utama bandara alias Passenger Terminal. Dari tempat kami mendarat, untuk ke Passenger Terminal kita harus menaiki kereta yang menghubungkan bangunan satu dengan bangunan lainnya. Perjalanan ke Passenger Terminal dengan kereta memakan waktu sekitar 5 menit. Turun dari kereta, kami menyelesaikan urusan imigrasi, kemudian menuju conveyor belt dan mengambil bagasi. Oya… mumpung baru mendarat di Incheon, ada baiknya kita cari tau dulu gimana caranya mencapai pusat kota.

Transportasi dari Incheon International Airport ke Seoul
Sebelum mulai menjelajah Seoul, tentu kita harus sampai di Seoul terlebih dulu kan… nah, terdapat beberapa cara untuk mencapai pusat kota Seoul dari Incheon International Airport. Ini sedikit rangkuman dari beberapa sumber di internet.
Seoul Metropolitan Subway
Seoul Subway, terdiri dari 9 line dan terus berkembang, adalah salah satu yang ternyaman dari semua jenis kereta yang pernah gw coba selama ini. Pengguna Subway dapat memilih menggunakan T-Money, Metropolitan Pass atau M-Pass (khusus untuk wisatawan asing), atau membeli single journey ticket.
T-Money adalah salah satu metode pembayaran untuk penggunaan subway, bus, taksi, dan juga bisa digunakan untuk berbelanja di beberapa convenience stores seperti 7-Eleven, GS 25, Story Way, Buy the Way, dan convenience stores lainnya yang bertanda logo T-Money. T-Money dapat didapatkan dengan mudah di convenience stores dengan harga KRW 2500 per kartu dan bisa diisi ulang melalui vending machine, di loket-loket yang ada di setiap stasiun subway, atau di convenience stores. Setelah tidak digunakan, T-Money bisa dikembalikan dan saldo tersisa didalamnya bisa di-refund.
Sementara M-Pass dapat digunakan hingga 20 kali dalam sehari selama masa berlakunya kartu sesuai pilihan kita, apakah 1-day, 2-day,3-day, 5-day, atau 7-day pass. Berbeda dengan T-Money yang mengcover Seoul dan kota-kota lainnya di Korea seperti Busan, Daegu, dan Daejeon, M-Pass mengcover hanya wilayah Seoul dan Jeju, termasuk Seoul Subway Lines 1-9, Incheon Subway, AREX’s all stop train, metropolitan trains (kecuali Sinbundang dan Gyeongchun (ITX) Line), dan bus (kecuali bus dengan warna merah).
M-Pass dapat dibeli di Seoul Travel Information Center di Incheon International Airport Passenger Terminal Level 1, Gate 5 & 10, dan di Jeju Tourism Information Center di Jeju International Airport.
Card Type Price
1-day pass 10,000 won
2-day pass 18,000 won
3-day pass 25,500 won
5-day pass 42,500 won
7-day pass 59,500 won

Airport Limousine Bus
Airport buses run from Incheon International Airport to most parts of Seoul. Tickets may be purchased at the ticket booths just outside the passenger terminal (arrival area) on the 1st floor, located next to Gates 4 and 9 inside the arrival floor (1F) and outside next to Gates 4, 6, 7, 8, 11, 13 and 9C. Detailed inquiries on bus routes and bus stops can be made at the Airport Information Desk between Gates 3 and 4 or Gates 11 and 12 on the arrival floor (1F), or the Airport Bus ticket booth, conveniently located on the 1st floor. Night buses (24:00–03:50) are also available.
Bus Types
There are two types of airport buses: deluxe and standard. Deluxe buses are Korea Airlines limousines and other bus companies that operate non-stop or shortened routes to major hotels and destinations. These buses make fewer stops (shorter travel time) and have comfortable seats with more space. Standard buses tend be more crowded with smaller space and make more stops.
Bus Fare (from Incheon Airport)
– Deluxe Limousine Bus:
To Gimpo International Airport: Around KRW 7,500
To downtown Seoul: KRW 14,000-16,000
– Standard Limousine Bus:
To Gimpo International Airport & Songjeong Station: Around KRW 5,000
To downtown Seoul: KRW 9,000-10,000

Taksi
Bagi yang ogah ribet, mungkin taksi bisa dijadikan pilihan. Selain nyaman, hampir seluruh taksi sudah dilengkapi GPS, jadi nggak perlu khawatir nyasar *kalo dibawa muter-muter sih wallahu a’lam lah ya* Tapi tentu ada rupa ada harga, taksi adalah mode transportasi yang paling makan biaya. Selain mahal, penumpang juga harus menanggung biaya tol sebesar KRW 8,000 untuk mobil ukuran kecil.
Untuk mengunakan taksi, you may exit the airport through any gate between Gates 4 and 8 of the passenger terminal (arrival area), cross the street, and go to the taxi stands (4D-8C). It is not unusual to be approached by a taxi driver inside the passenger terminal, but we suggest ignoring them and follow the standard protocol.

In Korea, there are three types of taxis: regular, deluxe, and jumbo. Regular and deluxe taxis can take as many as four passengers at a time, while jumbo taxis have a capacity of up to nine passengers. The base fare for a regular taxi is 3,000 won (for the first 2km) while the base fare for deluxe and jumbo taxis are 5,000 won (for the first 3km). Please also note that regular taxis charge an extra 20% of the base fare after midnight (24:00-4:00), while no such additional fare is applied for deluxe and jumbo taxis.

Airport Railroad Express (AREX)
AREX terbagi menjadi 2 macam: Express Train dan All Stop Train. Sesuai dengan namanya, Express Train melakukan perjalanan non stop dari bandara dan berakhir di Seoul Station. Sementara All Stop Train berhenti di 11 stasiun subway – 6 diantaranya merupakan stasiun transit ke jalur lain – sehingga waktu tempuhnya tentu lebih lama daripada Express Train, yaitu selama 56 menit. Express Train merupakan cara tercepat untuk mencapai pusat kota Seoul, perjalanan hanya memakan waktu selama 43 menit. Untuk keterangan lebih lanjut bisa dibaca di http://www.arex.co.kr
Biaya
– Express Train: Dewasa KRW 14,800 (terdapat special rate hingga 31 Desember 2015, dimana tiket dewasa seharga KRW 8,000 dan anak-anak seharga KRW 6,900)
– All Stop Train: Dewasa KRW 4,250 / Youth KRW 3,040 / Anak-anak KRW 1,900
Untuk menaiki All Stop Train, kita bisa menggunakan T-Money yang bisa dibeli di convenience stores atau M-Pass yang dibeli di Seoul Tourist Information Center yang terletak di depan Gate 5 dan Gate 10 Level 1 Incheon International Airport. Sementara untuk Express Train, kita harus membeli single journey ticket secara terpisah, baik di vending machine atau di konter-konter yang tersebar di level B1 Incheon International Airport.

Kembali ke kisah perjalanan kami, setelah harta benda sudah kembali ke pelukan masing-masing, hal pertama yang harus segera ditunaikan adalah membeli T-Money, kartu sakti yang akan menemani kami berkeliling Seoul dan sekitarnya. Maka gw pun segera memasuki gerai 7-Eleven dan membeli 2 buah T-Money, dan masing-masing gw isi saldo sebesar KRW 50,000. Saran gw, lebih baik isi berlebih daripada tanpa sadar kekurangan di tengah jalan. Kalau ada sisa kan bisa di refund di akhir perjalanan nanti, and that was exactly what we did on our last day in Seoul. Dengan T-Money berwarna abu-abu, gw pun mulai mencari petunjuk arah bertuliskan AREX atau Korail.
Sejak awal, gw dan Nyonya Besar sudah berniat ingin mencoba AREX’s Express Train. Peron untuk AREX terletak di bangunan yang berbeda dari Passenger Terminal, tapi tetap ditempuh dengan berjalan kaki kok, hanya perlu menyeberang berganti gedung saja. Maka kami pun keluar dari Passenger Terminal daaaaannn segera saja angin dingin menerpa. Sedikit kaget karena sudah lupa seperti apa dinginnya 11 derajat celcius.

Sesampainya di dalam, kami bergegas mencari gate untuk AREX’s Express Train karena kami berusaha untuk menaiki Express Train keberangkatan pukul 09:50 pagi. Nah, gate untuk All Stop Train dan Express Train itu berbeda ya teman-teman… gate untuk All Stop Train terletak di sisi kiri, berwarna biru, dan untuk menaiki All Stop Train kita bisa menggunakan T-Money atau M-Pass, sementara untuk Express Train terletak di sisi kanan, berwarna oranye, dan untuk menumpanginya kita harus membeli tiket secara terpisah. Gw pun membeli 2 tiket, masing-masing seharga KRW 8,000 dan menerima 2 tiket untuk tapping beserta sebuah struk pembelian, di mana tertera nomor tempat duduk dan nomor gerbong kereta kita. Setelah tapping, kami menuruni eskalator dan menunggu di peron sesuai dengan nomor gerbong pada struk. Perhatikan saja lantai peron, ada nomor-nomornya kok gerbong mana menunggu di mana. Kebetulan, untuk gerbong 5 itu pas banget setelah turun eskalator, nggak perlu jalan ke mana-mana lagi.

Tidak lama, kereta datang dan kami pun menaikinya. Gw menaruh koper-koper kami pada tempat penyimpanan koper didekat pintu kereta, lalu mencari kursi nomor 4A dan 4B. Pukul 09:50 tepat kereta berangkat. Nyonya Besar tertidur tak lama setelah kereta mulai berjalan, sementara gw tersenyum-senyum sendiri, memperhatikan pemandangan di luar jendela. Rasanya luar biasa dan hampir tak percaya, gw kembali datang ke negeri ini. Diselingi tidur-tidur ayam, mendekati pemberhentian akhir di Seoul Station, gw membangunkan Nyonya Besar. Express Train merapat di Seoul Station tepat pukul 10:35, sesuai dengan waktu yang tercetak di struk pembelian tiket.

Seoul Station merupakan salah satu stasiun besar di pusat kota Seoul, menjadi titik pertemuan beberapa jalur kereta, yaitu Line 1, Line 4, dan Gyeongui Line. Dari Seoul Station ke hostel tempat kami menginap tidak jauh lagi, hanya perlu menyambung subway line 4 dan turun di pemberhentian berikutnya. TOP Hotel & Guesthouse, tempat kami menginap terletak di kawasan Hoehyeon, berdekatan dengan kawasan Myeongdong. Kami bahkan bisa berjalan kaki ke Myeongdong, tinggal menyeberangi jalan raya dan sampailah di Myeongdong yang gegap gempita.
Sesuai petunjuk penginapan, dari Seoul Station kami menyambung subway line 1 dan turun di stasiun Hoehyeon. Lumayan jadi PR juga naik turun tangga stasiun subway sambil membawa koper, Alhamdulillah tanpa diduga seorang ahjussi bertampang beku tergerak hatinya menolong Nyonya Besar membawakan kopernya, dan kemudian pergi lagi dengan tangan di saku celana tanpa berkata apapun seolah tak terjadi apa-apa. Gamsahamnida, ahjussi yang-walaupun-nggak-ganteng-tapi-baik-hati!

Di stasiun Hoehyeon, kami keluar di Exit 1. Kata si penginapan, TOP Hotel & Guesthouse itu cuma 3 menit berjalan kaki dari stasiun. Tapi mengingat 3 menit-nya dan cara jalan kakinya orang Korea itu berbeda dengan kita, gw menduga bahwa we need to multiply 3 menit itu… mungkin jadi 6 menit, atau 9 menit, atau 12 menit. Di depan tangga exit 1 ada 3 jalan: jalan raya, lalu 2 jalan yang lebih kecil berisi deretan toko. Gw memutar kepala mencari tanda-tanda keberadaan si TOP Hotel & Guesthouse. Hei! Ternyata soal 3 menit-berjalan-kaki-dari-exit 1-stasiun Hoehyeon itu benar adanya. Penginapan gw berada di jalan kecil yang paling kanan, kurang dari 50 meter dari exit 1 Stasiun Hoehyeon. Sign board-nya memang kecil, jadi harus pasang mata.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 11:30 kurang atau lebihnya. Kami mendekati seorang wanita paruh baya yang berjaga di meja resepsionis. Setelah mengalami kesulitan komunikasi yang cukup menguras energi, kami perlu menunggu sekitar 30 menit sampai akhirnya diizinkan early check in dan masuk kamar. Hmm… kamarnya lumayan juga. Lumayan mungil, maksudnya… hehehe. Anyway, tetaplah Alhamdulillah.
Mari menghilangkan penat sejenak. Setelahnya kita mulai menikmati Seoul.

T-Money | this! should be your very first thing to buy to getting around Seoul. Each costs KRW 2,500 and you can buy it at any convenience stores bearing the T-Money logo

T-Money | this! should be your very first thing to buy to getting around Seoul. Each costs KRW 2,500 and you can buy it at any convenience stores bearing the T-Money logo


AREX's Express Train Gate

AREX’s Express Train Gate


Ticket Receipt | Pay attention to car number and seat number

Ticket Receipt | Pay attention to car number and seat number


AREX's Express Train single journey ticket KRW 8,000

AREX’s Express Train single journey ticket KRW 8,000


Inside AREX's Express Train

Inside AREX’s Express Train

Pengeluaran per orang sejauh ini:
. T-Money KRW 2,500
. Isi saldo T-Money KRW 50,000
. AREX’s Express Train ticket KRW 8,000
. Penginapan KRW 300,000 untuk 8 malam

Catatan:
Kurs Korean Won terhadap Rupiah saat itu: KRW 1 = IDR 11,95

[Seoul & Gyeonggi-do] Heading Incheon

Jumat, 3 April 2015.
We’ve been planning on Seoul Trip for years. I’ve always wanted for my Mom to see and experience all the beauty and uniqueness of a place I had lived on for 2 years.
Pertama kali tercetus ide untuk keberangkatan adalah di musim gugur 2013, lalu mundur menjadi musim gugur 2014, dan hampir kejadian lagi mundur menjadi musim gugur 2015. Kenapa harus pergi di saat musim gugur? Karena bagi gw, Seoul dan sekitarnya itu paling cantik di penghujung tahun, utamanya bulan November, ketika suhu udara sangat sejuk, daun-daun belum gugur sepenuhnya melainkan berubah warna menjadi kuning dan merah. Tapiii… setiap kali akan memesan tiket gw selalu teringat bahwa di bulan Oktober atau November, ada satu kegiatan kantor yang tidak boleh tidak diikuti. Setelah dua kali mundur, saya pun merelakan Autumn Trip berubah menjadi Spring Trip.

Maka setelah mengamati perkembangan tiket promo maskapai-maskapai full service, ketika Garuda kembali dengan promo early bird-nya gw pun segera membeli 2 tiket pp Jakarta-Incheon untuk keberangkatan bulan April 2015 di harga USD 459/tiket. Saat itu tanggal 12 September 2015 dan nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika belum terjun bebas seperti yang belakangan ini terjadi. Gw mendapatkan rate Rp.11.885/USD 1 sehingga harga 1 tiket setara dengan 5,3 juta rupiah. Bukan harga yang murah, tapi juga tidak berlebihan untuk maskapai full service sekelas Garuda. Once again, Jakarta to Incheon takes about 7 hours in the sky, thus it’s gonna be quite a long flight and I went with my Mom so comfort should be priority.

Fast forward to 7 months later, hari jumat tanggal 3 April 2015 itu gw dan Nyonya Besar berangkat tepat pukul 18:30. Gw teringat kepanikan Vika sehari sebelumnya yang terjebak macet berkepanjangan sementara dia harus mengejar penerbangan ke Jepang. Untuk menghindari hal-hal seperti itu kami pun memutuskan untuk berangkat lebih awal walaupun kami baru akan terbang pukul 23:20. Mengikuti pesan dan nasihat seorang kakak, gw pun meminta Bayi Gorila untuk mengantar kami ke bandara. Dan sudah menjadi tradisi, dalam hal antar-mengantar dan jemput-menjemput, pasukan turun dalam formasi lengkap. Itu artinya, Mr. Babeh selaku komandan perang turut serta. Duduk di samping pak kusir, Mr. Babeh memiliki tanggung jawab agar Bayi Gorila tetap dalam keadaan siaga. Sementara Nyonya Besar, seperti biasa, sepanjang perjalanan langsung larut komat-kamit memanjatkan doa.

Ternyata jalanan benar-benar kosong dan kami melaju mulus tanpa hambatan sehingga 1 jam kemudian kami sudah siap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Setelah Bayi Gorila dan Mr. Babeh meninggalkan kami, gw dan Nyonya Besar segera memulai rangkaian prosesi keberangkatan. Saat tiba di gate keberangkatan, ruang tunggu bahkan belum dibuka. Maklumlah, saat itu bahkan jam baru menunjukkan pukul 21:30. Masih banyak waktu sebelum keberangkatan.

Setelah terkantuk-kantuk tapi tak bisa tidur, sekitar pukul 23:15 para calon penumpang dipersilakan menaiki pesawat. Gw dan Nyonya Besar mendapatkan kursi di bagian kiri pesawat. Tak lama, gw merasakan pesawat mulai ditarik mundur, dan tepat pukul 23:30, pesawat dengan nomor penerbangan GA 878 lepas landas membelah gelapnya langit Jakarta.

Sabtu, 4 April 2015.
Entah berapa lama gw tidur-tidur ayam setelah menyantap snack malam yang dihidangkan kru pesawat, ketika terbangun gw melihat semburat merah tanda terbitnya matahari dari jendela di sisi kanan pesawat. Gw membuka jendela, berbeda dengan pemandangan di sisi kanan, langit di sisi kiri masih diselimuti kegelapan. Penumpang lain pun sebagian besar masih tertidur. Entah ada di langit di atas negara mana kami saat itu. Gw membangunkan Nyonya Besar untuk melaksanakan shalat subuh. Menjelang pendaratan, pilot mengumumkan suhu udara di darat. 11 derajat celcius. Pukul 08:30 waktu Korea, kami mendarat di Incheon International Airport.

Breakfast ala Garuda Indonesia

Breakfast ala Garuda Indonesia

SAMSUNG CSC
SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

It’s good to be back. And this time with Mom. Alhamdulillah.
thenjonja

[Daebak] Experience Korean Taste

Awalnya gw nanya-nanya soal sop durian di pertigaan ramanda yang konon lagi femeus-femeusnya karena rasanya yang nyam-nyam banget dan duriannya yang nendang. Eh pichunotes malah ngajak gw untuk nyoba sop durian itu. Eh ndilalah kok malah jadi end up di tempat ini :mrgreen:
Nggak juga sih… bisa sampai ke tempat ini juga atas usul gw.
Sebenernya gw melemparkan opsi pada Vika, mau makanan arab atau korea. Ternyata Vika preferred Korean taste, dan gw, karena emang udah lama pengen nyoba tempat ini, ya hayuk aja lah.

Terletak persis diseberang perumahan Pesona Khayangan di jalan Margonda nomor 239, Daebak Fan Café tampil tidak mencolok dibandingkan dengan ruko-ruko di sisi kanan dan kirinya.
Daebak sendiri bisa dibilang merupakan bahasa korea slang untuk mengungkapkan kekaguman. Kira-kira bisa diartikan sebagai ‘wow!’ atau ‘awesome!’

tampak depan

front banner

Dipintu masuk, dipasang banner yang sepertinya memuat hampir seluruh informasi mengenai Daebak. Dan disitu ditulis juga kalo mau makan atau takeaway, langsung aja naik ke lantai dua. Bener aja, begitu buka pintu, langsung ketemu sama lorong sempit. Kenapa sempit, karena sebagian besar ruangan digunakan sebagai dapur. Jadi, dapur tempat menyiapkan makanan ada di lantai satu, sementara tempat menyantap ada di lantai dua.

Lantai dua sendiri terbagi menjadi dua ruangan, yaitu Hongdae room dan Bukchon room. Tidak ada yang membedakan kedua ruangan itu, kecuali hiburan yang disuguhkan di masing-masing TV yang dipasang diujung ruangan. Namapun café korea ya, yang dipertontonkan ya nggak jauh-jauh dari boyband dan girlband yang, dalam pandangan mata gw, mukanya sama semua *ya maap deh Korean fans*

daebak inside

bukcheon room

Kalaupun ada perbedaan lain, itu adalah interior kedua ruangan. Bukchon room lebih kalem dan damai dengan gambar-gambar alam dan kuil-kuil korea menghiasi dinding, sementara Hongdae room jauh lebih berwarna, penuh dengan poster artis korea dan tempelan post it dengan warna-warni mencolok mata. Post it-nya sendiri berisi macam-macam pesan, mulai dari yang biasa berisi testimoni tentang Daebak, sampai yang abege banget yang berisi salam penuh cinta untuk artis-artis korea *yang percayalah, dibaca juga nggak sama si artis… ya menurut ngana???*, bahkan ada juga yang menulis menagih janji dinikahi oleh pacarnya, minta dilamar, dan lain sebagainya yang bikin gw dan Vika ngakak miris membacanya. Maklumlah kalo banyak ucapan-ucapan untuk para mega bintang korea, konon Daebak memang café pertama di Indonesia yang dijadikan *atau menjadikan diri sendiri?* base bagi para pemuja K-pop.

doh! ababil to the max

wallcover

Yah… baik gw maupun Vika mengakui bahwa cewek-cewek Korea memang cantik-cantik, dengan penampilan yang begitu seragam. Tubuh semampai, kaki panjang, kulit berkilau bagai porselen, rambut panjang terurai, dan make up melapisi wajah tanpa cela. Mereka semua bagai boneka yang dengan mudah ditemui di mana saja. Di mal, di dalam subway, di area pendidikan…
Cowok-cowoknya pun cantik. Iya, cantik, bukan ganteng. Tak terhitung berapa banyak lapisan yang mereka pakai untuk melapisi wajah. Cowok korea pun senang berdandan. Gw jarang sekali menemukan cowok korea yang ‘cowok’ banget tampilannya. Mengamini Vika, gw setuju ketika dia bilang bahwa kalau mau melihat wajah asli artis korea, lihatlah ketika mereka masih kecil. Itulah wajah asli mereka.

Gw dan Vika memilih duduk di pojok Hongdae room. Selain kami, saat itu dua meja lain terisi dengan remaja-remaja perempuan yang ramai menyantap hidangan sambil berfoto. Gaya berfotonya? Pastinya dengan gaya yang dianggap akan membuat mereka terlihat ‘imut’ dan ‘lucu’.

Kami melihat-lihat buku menu, yang sama seperti post it yang menutupi dinding, juga penuh warna. Menu yang ditawarkan adalah menu yang cukup populer, seperti kimchi, ramyeon, yukgaejang, sundubu jjigae, bibimbab, kimbab, tteokpokki, kimchi jeon, dan kimchi jigae.
Gw mencari albab diantara menu-menu itu, dan tidak menemukannya. Nggak terlalu heran juga sih, lha di korea aja agak sulit menemukan rumah makan yang menyediakan albab.

menu1

menu

Membaca daftar makanan yang tertera di buku menu, gw jadi tersenyum-senyum sendiri dalam hati. Konon, kimchi, ramyeon, yukgaejang, kimchi jeon, dan tteokpokki adalah hidangan yang paling populer diantara pengujung Daebak. Gw mencoba mengingat rasa makanan-makanan tersebut di negeri asalnya. Gw pernah mencicipi ramyeon yang enak di daerah byeokje, rasanya persis seperti mie tek-tek, hanya ada tambahan potongan kue beras dan kue ikan didalamnya. Tak lama sesudah itu, gw mendengar bahwa bahan yang digunakan untuk membuat mie pada ramyeon mengandung sesuatu yang kehalalannya diragukan. Sejak itu gw tidak lagi makan ramyeon.

Cafeteria kampus dulu sering sekali menyediakan masakan berbahan dasar daging babi. Maka pilihan makanan gw jatuh pada sayur-sayurannya, plus sebungkus gim atau nori, alias lembaran rumput laut yang dikeringkan dan bercita rasa gurih. Kadang gw makan hanya kimchi jeon dan nori, atau miyeokguk dan nori. Kimchi jeon itu semacam pancake atau omelet tipis ala korea, disajikan dengan saus asam gurih encer seperti pada saus pendamping sushi, sementara miyeokguk adalah sup bening dengan rumput laut dengan rasa yang cenderung hambar.

Lalu tteokpokki, ah… kue beras dan sedikit potongan kue ikan dengan saus pedas dan sedikit rasa manis, gw tidak terlalu menggilainya. Biasa saja, bagi gw tidak terlalu istimewa. Sementara kimchi, kimchi selalu ada disediakan di restoran korea dan seinget gw, kita tidak perlu membayar untuk menikmati kimchi ini.

Kemudian yukgaejang, sup pedas gurih berisi daging sapi, jamur, dan somyeon yang dimasak dengan kaldu sapi, gw ingat ini adalah makanan ‘spesial’ yang disediakan oleh cafeteria saat kami wisuda.

Ada pula jjampong. Jjampong, selain albab, punya tempat tersendiri di hati gw. Walau hanya satu kali makan jjampong di daerah konkuk, tapi nostalgianya luar biasa.

Vika memesan sundubu jjigae, atau sup tahu semacam tahu sutra, dimasak dengan kaldu sapi, dan didalamnya ada telur yang tidak terlalu matang. Gw mencoba sedikit makanan Vika. Kuah sundubu jjigae-nya segar, gurih kaldunya terasa dan lebih ‘nendang’ daripada yang pernah gw coba di negara asal. Gw cukup yakin cita rasa makanan korea di Daebak ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia yang terbiasa dengan makanan berbumbu ‘berani’. Sejauh yang gw ingat, cita rasa makanan korea yang sebenarnya jauh lebih hambar.
Sejak awal, gw berniat memesan chamci kimbab alias kimbab isi tuna. Ternyata Daebak menyediakan hanya kimbab biasa berisi sayuran. Satu porsi terdiri dari 11 potong kimbab. Bersama-sama dengan sundubu jjigae, chamci kimbab termasuk makanan ‘aman’ yang sering juga gw pesan saat sedang jalan ke downtown Seoul.

sundubu jjigae & kimbab

korean tea peach & apple
atas: Sundubu Jjigae IDR 34.545 | Kimbab IDR 26.363
bawah: Korean Tea Peach IDR 16.363 | Korean Tea Apple IDR 16.363
and all are subject to 10% tax

Untuk minumannya sendiri, ada Korean Tea dengan berbagai pilihan rasa, Choco Uyu alias susu coklat, cappuccino, Patbingsu yang berubah nama jadi Podengbinsu karena disajikan dengan es podeng asli Indonesia, dan ada yang unik yang dinamakan fandom punch, minuman racikan yang hanya Daebak yang punya. Sayang, dengan fandom punch yang cukup banyak ragamnya itu, tidak satupun yang diberikan deskripsi, minuman ini dibuat dari campuran apa atau bagaimana rasanya.
Vika memesan Korean Tea dengan rasa peach, sementara gw memesan Korean Tea dengan rasa apel. Rasanya sungguh segar, apalagi dengan adanya potongan buah asli didalamnya.

Menurut gw, rasa makanannya so-so, tapi masih worth the price kok. Tempatnya pun demikian. Biarpun ada AC, tapi ruangan tetap terasa gerah. Yang dingin hanya bagian dibawah AC saja. Walaupun tidak terlalu spesial, pecinta Kpop pasti senang berada di sini. Mungkin, poster sang idola yang menutupi dinding akan membuatnya merasa berada di negara yang sama dengan yang dipuja.

Eniho, nge-date sama Vika ini membuatku merasa minder. Yaabeeess… biasa kan kalo sama Neng Erma, I’m the one who controlled everything, I’m such a control freak, you know…terutama dalam hal foto-memfoto, walaupun gw amateur. Tapi kali ini gw jalan sama Vika, boookk… yang emang beneran fotografer dengan peralatan perang yang juga canggih *elus-elus kamera saku gw* 😆

pichu
ini si pichu

A Hello. A Hi. Priceless Meaning

“Hun”
“Are you there?”

“I’m on meeting, Hun. W’sup?”

“Nothing. Just wanna ask how are you. Are you doing well?”

“Quite okay. How about you and your adorable little princess?”

“She’s doing fine. I love her so much. Don’t work too hard, hun. Please take care of yourself”

It was my conversation with Vy, my Vietnamese classmate, yesterday.
Adalah suatu hal yang biasa bagi kami, saya dan Vy – maksudnya, memanggil ‘honey’ satu sama lain. Sudah sejak di Korea dulu seperti itu dan tidak ada yang mempermasalahkan hingga kini karena siapapun tau bagaimana sebenarnya pertemanan saya dan Vy.

Tapi bukan itu yang ingin saya tulis saat ini.

It’s about friendship.
Suatu hal yang menyenangkan bukan, ada seorang teman lama yang bahkan kita tidak tau seperti apa rupanya sekarang, yang lama tak bersua, lama tak terdengar kabarnya, namun masih menyempatkan diri menyapa kita di tengah-tengah kesibukannya?
Walau hanya sekedar satu kata sederhana, satu kalimat pendek, tapi keinginannya mengetahui kabar kita sungguh tak ternilai harganya.
Beruntunglah saya yang masih punya teman seperti Vy, beruntunglah teman-teman yang punya teman seperti Vy. Ini mungkin yang sebenarnya jauh di mata tapi dekat di hati.

Saya pikir, adalah suatu hal yang menyedihkan bila ada orang yang menolak uluran silaturahim yang dipersembahkan kepadanya. Sungguh disayangkan bagi yang diminta, sungguh menyakitkan bagi yang meminta. Kenapa bisa ada orang yang menolak uluran pertemanan, apapun motifnya, ketika bagi beberapa orang menjalin persahabatan adalah hal yang sangat sulit dilakukan?

Officially Missed Them

Teman-teman TLBU. Saudara senasib sepenanggungan di Korea. Termasuk tentu saja seorang teman, whose picture i dare not to put in here :mrgreen: Bisa diamuk massa. Ahak. Sedih. Ihik.

Rindu mereka semua.
Sedang apakah mereka… bagaimana kabarnya sekarang… kapan bisa bertemu lagi?

Happy Birthday!

September empat tahun yang lalu adalah kali pertama saya bertemu dengannya. Tampak seperti seorang ayah, namun perjalanan waktu menempatkan kami seolah-olah seperti saling tidak menyukai. Saat kegalauan menerpa #eaaa ada kalanya saya merasakan kebencian yang berlebihan padanya. Tapi lewat dirinya juga lah saya bisa mengecap sedikit indahnya Eropa dan uniknya Cina juga tak lupa cantiknya Korea.

Jauh di lubuk hati *eh kok jadi kayak lagu ya? :mrgreen: * saya tetap menghormatinya sebagai seorang guru. Hari ini sekian puluh tahun yang lalu, dia dilahirkan di sudut negara tempat dia mendirikan sekolah dan mengejar ambisinya.

Happy Birthday, Dear President, Professor Lyou Byung-Hwa!

*kecup* #eh?